Showing posts with label Da'wah. Show all posts
Showing posts with label Da'wah. Show all posts

Friday, September 7, 2012

Diskusi Kemarin

 Tulisan ini terinspirasi dari diskusi saya kemarin.

Kami sedang membahas kata-kata Imam Syahid Hasan Al-Banna dalam Hadist Tsulasa hal 629, "Kehidupan rumah tangga adalah "hayatul 'amal". Ia diwarnai oleh beban-beban dan kewajiban. Landasan kehidupan rumah tangga bukan semata kesenangan dan romantika, melainkan tolong menolong dalam memikul beban kehidupan dan beban da'wah..."

Tentu berbeda kehidupan rumah tangga sepasang manusia yang menikah karena 'cinta' dengan mereka yang menikah karena Allah, yang dipertemukan di jalan da'wah, yang kalau boleh kita sebut mereka sepasang da'iyah. Seperti yang dikatakan Imam syahid, mereka punya beban tambahan, yakni beban da'wah. Inilah yang membedakannya dengan pasangan pada umumnya yang mungkin hanya memikirkan anak, istri, dan keluarganya saja, pasangan da'iyah juga harus memikirkan ummat.

Bersatunya dua orang mujahid seharusnya menjadikan rumah tangga itu menjadi rumah tangga yang produktif dengan kontribusi maksimal, yang insyaAllah juga menjadikan rumah tangga yang berberkah. Saling ta'awun menyebabkan orang tua yang sibuk mengurus ummat tidak mengabaikan da'wah kepada keluarga sendiri, terutama anak-anak. Berbagi tugas, saling mengerti dan memahami, saling bantu, wajib hukumnya agar da'wah keluarga dan da'wah masyarakat bisa berjalan seiring, tidak harus mengorbankan satu sama lain.

Baiklah, sebenernya bukan ini yang mau saya bahas ^_^ ...

Kemarin dalam diskusi, tiba-tiba kami menyadari sebuah fenomena yang mungkin banyak melanda keluarga da'iyah. Yang terjadi malah bertentangan dengan ungkapan Imam Syahid di atas. Entah karena terlalu memahami maksud ungkapan tersebut atau karena tidak memahaminya sama sekali.

Mereka tidak bermasalah dengan pembagian beban da'wah, namun justru berkendala dengan "kesenangan dan romantika". Saking sibuknya ngurusin ummat, ber-romantis-romantis ria dengan istri/suami malah sering terlupakan. Bagaimanapun istri/suami juga orang yang senang akan hal-hal yang romantis. Bukannya mereka tidak ridha akan sibuknya pasangannya dalam da'wah masyarakat, tapi sesekali perlu refreshing juga.

Suami/istri adalah orang yang akan menemani hidup kita sepanjang sisa umur kita. Anak mungkin hanya akan bersama kita ketika mereka kecil. Saat mulai sekolah maka dunianya sudah berpindah ke teman-temannya, begitu juga ketika menikah maka dunianya adalah suami/istri dan anak-anaknya. Tapi suami/istri akan menemani kita menghabiskan seluruh episode hidup kita.

Maka cinta itu harus dipelihara. Jangan biarkan ia berlalu seiring berlalunya waktu. Mungkin cinta bermetamorfosis menjadi 'tanggung jawab', 'kesetiaan', 'pengabdian', tapi tidak menjadikannya lelah untuk selalu dipupuk, disegarkan, diperbaharui.

Keromantisan tidak selalu berbentuk bunga, kata-kata puitis, atau candle light dinner. Dia bisa berupa ikut menemani masak di dapur, membuatkan secangkir teh, atau mendengarkan ceritanya tentang hal-hal yang tidak begitu penting. Perhatian kecil sangan berarti bagi pasangan.

Kadang dengan bertambahnya usia permikahan, psangan merasa tidak perlu lagi mengungkapkan rasa sayang seperti pasangan yang masih baru. Padahal justru itulah yang harus diusahakan, merasa selalu seperti pengantin baru.

Jangan pelit dengan kata 'sayang', jangan kikir dengan perhatian kecil, yang sungguh, jika ia senantiasa kita pelihara, maka semakin lama, semakin lanjut usia pernikahan, semakin berkobar juga cinta kita.

Kalau boleh saya meralat sedikit kata-kata di atas, "Landasan kahidupan rumah tangga bukan semata berbagi beban kehidupan dan beban da'wah, melainkan juga kesenangan dan romantika."

(Tulisan ini khusus untuk yang mungkin mulai layu cintanya, dan sungguh, sebenarnya saya juga masih terus belajar untuk menjadi romantis dan semoga mampu mampu terus memelihara cinta saya dan mengobarkannya. Wallahu a'lam)

Mba Atiya

Tak seperti Ramadhan-ramadhan sebelumnya, Ramadhan tahun ini di kompleks kami tidak lagi ada tenda dadakan yang dipakai untuk shalat tarwih. Biasanya disamping aula kompleks kami selalu ada tenda yang akan dipakai untuk shalat tarwih bagi warga kompleks, meskipun di depan kompleks ada masjid. Pesertanya ya semua warga kompleks yang pengen shalat deket rumah, baik bapak-bapak maupun ibu-ibu. Yang paling banyak adalah ibu-ibu tua (karena susah jalan ke masjid) atau ibu-ibu muda yang ga bisa shalat tanpa buntut (anak-anak kecil, yang kadang suka lari-larian atau ribut di masjid). Untuk tahun ini, dengan berbagai pertimbangan akhirnya diputuskan bahwa hanya aula yang dipakai untuk shalat tarwih, dan hanya diikuti oleh ibu-ibu. Untuk yang bapak-bapak, silakan shalat di masjid saja.

Sehubungan dengan itu, ada sebuah pe-er yang tidak sengaja diberikan ke saya, yaitu mencari imam tarwih perempuan. Nah, kalo ini sih, sebenernya, ada banyak temen yang bisa dimintai tolong. Alhamdulillah sebulan ini sudah ada banyak imam tarwih yang bersedia datang ke kompleks kami.

Malam ke-3 Ramadhan, kompleks kami kedatangan imam tarwih yang istimewa. Ketika diimami beliau, ada yang berbeda rasanya. Tibalah waktu kultum (tausiyah singkat) yang biasa dilakukan setelah tarwih sebelum witir. Dan seperti imam-imam sebelumnya, sang imam diminta untuk memperkenalkan diri.

Namanya Atiya, umurnya baru 26 tahun (masih tua-an saya ^_^), asal Banjarmasin. Ternyata beliau sudah hafidz 30 juz, lulusan universitas Mesir (tidak dikatakan universitas apa), dan sekarang sedang lanjut S2-nya di perguruan tinggi di bilangan Ciputat. Aktifitas sekarang (selain kuliah) adalah ngajar qur’an dan tahfidz di salah satu lembaga tahfidz di pondok cabe. “Silakan bu yang mau belajar ngaji sama saya. Gratis bu. Karena saya dulu juga sekolahnya gratis.” Begitu katanya sambil tersenyum. Beliau juga belajar ngajinya dengan metode … (klo ga salah ‘al ashim’, saya lupa namanya) dari ustadz yang ‘tersambung’ hingga ke Rasulullah saw.

Saya memandangnya dengan takjub ketika dia memperkenalkan diri. Selama ini orang-orang seperti mba ini hanya ada dalam imajinasi saya ketika saya membaca novel-novelnya Kang Abik (seperti Ana Althafunnisa ‘Ketika Cinta Bertasbih’). Tapi sekarang saya bertemu muka langsung. Bacaan ketika ia mengimami kami pun berbeda. ‘Lagu’-nya tak mendayu-dayu seperti Ghomidi, tapi lancar seperti dia membaca alqur’an di depan matanya. Dibanding saya, yang surat pendek saya kadang ada ayat-ayat yang masih tertukar, atau harus diam sebentar untuk mengingatkan lanjutan ayat. Dia sudah hafal 30 juz, sedang saya? Juz 30 saja masih sering hilang timbul… hehehe…

Ada api membara yang ada dalam dada saya ketika pulang ke rumah. Selain ingin memperbaiki bacaan dan hafalan saya, ingin sekali rasanya ada anak-anak saya yang mengikuti jejaknya. Sekolah di universitas islam tertua di dunia, universitas Al-Azhar di Mesir, kemudian pulang untuk membagi gratis ilmu-ilmu agamanya untuk ummat ini… Seperti Ana Althafunnisa atau Atiya :)

Aamiiin ya Rabb…

Thursday, September 6, 2012

Aku Rindu Zaman

Aku Rindu Dengan Zaman Itu

Aku rindu zaman
ketika “halaqoh” adalah kebutuhan,
bukan sekedar sambilan apalagi hiburan

Aku rindu zaman
ketika “membina” adalah kewajiban,
bukan pilihan apalagi beban dan paksaan

Aku rindu zaman
ketika “dauroh” menjadi kebiasaan,
bukan sekedar pelengkap pengisi program yang dipaksakan

Aku rindu zaman
ketika “tsiqoh” menjadi kekuatan,
bukan keraguan apalagi kecurigaan

Aku rindu zaman
ketika “tarbiyah” adalah pengorbanan,
bukan tuntutan dan hujatan

Aku rindu zaman
ketika “nasihat” menjadi kesenangan,
bukan su'udzon atau menjatuhkan

Aku rindu zaman
ketika kita semua memberikan segalanya untuk da'wah ini

Aku rindu zaman
ketika “nasyid ghuroba” menjadi lagu kebangsaan

Aku rindu zaman
ketika hadir di “liqo” adalah kerinduan,
dan terlambat adalah kelalaian

Aku rindu zaman
ketika malam gerimis pergi ke puncak mengisi dauroh
dengan ongkos ngepas dan peta tak jelas

Aku rindu zaman
ketika seorang ikhwah benar-benar jalan kaki 2 jam di malam buta
sepulang tabligh dawah di desa sebelah

Aku rindu zaman
ketika akan pergi liqo selalu membawa uang infak, alat tulis, buku catatan dan Qur'an terjemahan ditambah sedikit hafalan

Aku rindu zaman
ketika seorang binaan menangis karena tak bisa hadir di liqo

Aku rindu zaman
ketika tengah malam pintu depan diketok untuk mendapat berita kumpul subuh harinya

Aku rindu zaman
ketika seorang ikhwah berangkat liqo dengan ongkos jatah belanja esok hari untuk keluarganya

Aku rindu zaman
ketika seorang murobbi sakit dan harus dirawat, para binaan patungan mengumpulkan dana apa adanya

Aku rindu zaman itu,

Aku rindu...

Ya ALLAH,

Jangan Kau buang kenikmatan berda'wah dari hati-hati kami

Jangan Kau jadikan hidup ini hanya berjalan di tempat yang sama

[Rahmat Abdullah]


dan saya menangis untuk ke sekian kalinya setiap membaca lagi puisi ini
pun ketika posting ini
semoga diakhirat kelak kita bisa bertemu dengan beliau
aku mencintaimu karena Allah, ya ustadz...

Ikhlas

Sudah 2 pekan-an ini saya berusaha menyampaikan materi tentang ikhlas kepada hampir semua kelompok binaan. Materi dasar yang memang harus disampaikan, penting, bahkan sangat penting. Separuh syarat dari diterimanya amal, adalah ikhlas.

Betapa berat sebenarnya membahas materi ini. Alhamdulillah, semoga Allah tak henti memberikan taufikNya kepada DR Yusuf Al Qardhawy yang telah menulis buku sarat ilmu, Niat dan Ikhlas. Membaca buku ini memberikan gambaran yang sangat jelas dan terang mengenai apa itu ikhlas. Setiap kalimat dalam setiap halamannya adalah inti pokok dari pembahasannya. Setiap kata-katanya adalah hikmah. Hanya dengan membaca dan memahami setiap katanya baru kita bisa betul-betul memahami apa itu ikhlas. Buku ini sudah saya baca berulang kali, namun selalu setiap membaca selalu kemudian termenung, menghela nafas, berpikir, dan merasakan sedemikian beratnya materi ini.

'Ala kulli hal, dari semua hal, maka yang paaaaling sulit untuk dilakukan adalah mengamalkannya. Betapa sulitnya untuk menjadi ikhlas. Betapa sulitnya memurnikan niat dari hal-hal yang selain Allah SWT. Benar-benar sulit... (semoga saya tidak termasuk yang mendapat 'kaburo maqtan' ketika saya memberikan materi ikhlas sementara saya sendiri belum ikhlas...)

Ikhlas. Semakin paham, semakin sulit untuk melakukannya...
Terutama ketika harus berada di barisan depan. Meski tidak diminta, namun hal-hal duniawi begitu lekat mengganggu kemurnian niat. Ada saja niat untuk ingin di kenang, ingin diingat sebagai qiyadah yang baik, untuk meninggalkan hal-hal yang baik, ingin diingat manusia sebagai orang yang sukses membawa organisasi menuju kemajuan.

Yang sering menghinggapi, adalah keinginan 'meninggalkan sesuatu agar diingat'. (Ah, padahal pandangan manusia tidak ada artinya dibanding pandangan Allah. Cukuplah Allah ridha, tak perlu yang lain...). Ketika dulu masih D3, ketika akan meninggalkan gorontalo, juga sekarang saat kembali ke kampus. Ketenaran menjadi racun. Ingin rasanya menjadi yang di 'belakang layar' saja. Tak pernah disebut namanya, tak dianggap, tidak dicari, berkarya dari kejauhan saja.

Ya, Allah telah menakdirkan, maka tinggal kita berusaha untuk ridha atas semua ketentuannya, sembari senantiasa membersihkan hati dari ketidakmurnian keikhlasan, agar diakhir kelak kita mendapatkan keridhaanNya...

Hhhhh....

Ya Allah yang menguasai hati-hati kami, jadikanlah kami termasuk kedalam hamba-hambaMu yang mukhlis...

Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepadaMu untuk (tidak) menyekutukan sesuatu yang kami ketahui denganMu dan kami memohon kepadaMu dari sesuatu yang tidak kami ketahui...

Inconsistency

Ketika merasakan betapa indahnya kehidupan da'wah kampus, saya berkata dalam hati, tidak akan ada kehidupan lain yang lebih indah, kondusif, da'wah dengan semangat yang seperti di kampus. Tak akan kulupakan kenangan bersama akhawat dan semua penghuni kampus (kambing, ilalang, kebon tebu ponjay ^_^).

Menginjak bumi hulontalo (gorontalo) dan merasakan cinta yang tak terperi dari ikhwah disana, saya menemukan tambatan hati lain. Ternyata ada yang lebih indah, lingkungan yang lebih kondusif, da'wah yang lebih semarak, semangat yang begitu luar biasa, ukhuwah yang tiada dua. Saya pun berikrar tidak ada tempat seindah gorontalo.

Kuliah tidak serius, lulus dengan IP pas-pasan, dan senang dengan kehidupan kantor, membuat saya memproklamirkan diri 'lebih suka kerja ketimbang belajar'. Memutuskan kuliah D4 demi waktu dan kebersamaan dengan anak-anak menjadi alasan karena 'ketidaksukaan' akan aktivitas b-e-l-a-j-a-r.

Nyatanya?

Ah, sesungguhnya saya malu mengatakan saya (ternyata) suka sekali belajar. Suka berbagi ilmu lewat forum-forum diskusi di kelas, mempelajari ilmu-ilmu yang lebih 'make sense' dan aplikatif (ketimbang dulu waktu D3, ga ngerti melajarin apa), senang berbicara di depan kelas (presentasi) berbagi wawasan, membaca (dan beli) buku-buku akademis yang ga pernah disentuh, ilmu nambah, juga temen-temen...

Kuliah lagi membuat saya pengen kuliah terus (lanjut S2-S3). Motivasi dari dosen-dosen memang bikin pengen sekolah setinggi-tingginya. Pernyataan 'lebih seneng kerja ketimbang belajar' ga tau ilang kemana. Pengen belajar lebih banyak, untuk berbagi ke yang lain. Ternyata belajar lebih enak... hehehe...

Hmmm... ternyata saya sering ga konsisten ya.... ?

Mereka yang Mencintai

"...Jaga adek ane nggeh... Syukron"
"...Ana sangat mengharapkan beliau tidak terputus tarbiyahnya di STAN, dan semoga beliau dapat menjadi lebih baik lagi. Jazakillah kheir katsiir ukhti, anak sangat berterima kasih atas bantuan antunna sekalian dalam mentarbiyah beliau."
"...Nitip ya dek..."

Begitu kira-kira beberapa pesan dari murabbi beberapa akhwat 'baru' ketika saya melakukan konfirmasi mengenai adik-adik kesayangan mereka.

Murabbi. Dia adalah orang lain. Bukan saudara, tidak ada ikatan darah. Hanya ikatan aqidah dan Allah berkenan mempertemukan kita dengan mereka dalam sebuah majelis ilmu guna meng-upgrade diri menuju keshalihan.

Murabbi. Orang asing yang kemudian menjadi guru kita, sahabat, kakak, orang tua, motivator, konsultan, syekh, psikolog, pemimpin, pembimbing, juga mak comblang :)

Murabbi. Orang yang kemudian begitu besar cintanya kepada kita -binaannya- yang mengingat kita dalam shalat-shalat malamnya, yang peduli dengan keshalihan kita, yang ikut menangis ketika kita menangis, yang khawatir ketika ada masalah dalam diri kita, yang ikut pusing mencarikan jodoh kita, yang senantiasa berdoa untuk kebaikan kita...

Saya merinding membaca pesan-pesan di atas. Pesan dari seorang murabbi yang begitu cintanya kepada mutarabbinya, yang peduli terhadap keberlangsungan proses tarbiyah mutarabbinya, yang tak peduli bagaimana perlakukan mutarabbinya terhadapnya selalu mengharapkan yang terbaik, menitipkan dengan kekhawatiran wajar layaknya orang tua yang akan melepas anaknya pergi jauh darinya...

"...Jaga adek ane nggeh... Syukron"

Dada saya bergetar, air mata menggenang ketika membaca pesan ini. Betapa besar cinta ukhti ini kepada binaannya.

InsyaAllah ukh, doakan kami juga agar mampu menjaga amanah ini dengan baik.

...

Samara atau Samarada?

(Samara = Sakinah mawaddah wa rahmah; Samarada = Sakinah mawaddah wa rahmah wa Da'wah)

Membicarakan tentang pernikahan, saya teringat sebuah fenomena yang terus terjadi. Seorang akhawat/ikhwan yang tadinya aktif berda'wah, kemudian 'tinggal kenangan' (aktifitas da'wahnya) sesaat setelah ia menikah dan punya anak. "Ga ada bekas-bekasnya," istilah suami saya. Seolah da'wah tidak pernah melekat dalam dirinya.

Ketika hendak menikah, semua orang pasti merindukan rumah tangga yang samara. Namun bagi da'i seharusnya samara saja tidaklah cukup. Ada impian menjadikan keluarganya menjadi keluarga da'wah. Namun tidak demikian ternyata bagi sebagian ikhwah, terutama ikhwah STAN yang ketika lulus, kemudian penempatan dan bekerja sebagai birokrat pagi hingga petang, menikah, berkeluarga dan punya anak, tampaknya lupa dengan keni'matan berda'wah. Senin hingga jumat tersita waktunya untuk pekerjaan. Sabtu Ahad kemudian menjadi waktu spesial untuk keluarga semata.

Apalagi bagi akhwat yang kemudian perannya bertambah menjadi istri dan ibu. Sibuk mengurus anak menjadi alasan yang pamungkas sekali untuk menghindari amanah-amanah da'wah yang ditawarkan padanya. Anak begitu menyita perhatian dan waktunya. Tidak ada lagi tempat untuk ummat. Ditambah lagi jika kemudian suamipun menitahkan untuk 'serius' mendidik anak saja.

Rumah tangga apa yang hendak dibangun seharusnya dikomunikasikan ketika hendak menikah. Saat taaruf dengan calon pendamping, kedua belah pihak hendaknya sepakat akan memilih keluarga yang samara atau samarada. Hal ini hendaknya disepakati kedua belah pihak. Da'wah akan menjadi berkah ketika dilakukan dengan keridhaan istri/suami. Terutama bagi istri, tidak mungkin ia berangkat berda'wah tanpa ijin sang suami.

Mungkin perlu digali ketika taaruf, apakah sang suami tipe samara atau samarada? -ini bagi akhwat yang mendamba keluarga samarada, kecuali jika ia memang berniat untuk menjadi keluarga samara saja- Apakah suami akan mengijinkan istrinya memberikan sebagian waktu, tenaga, pikiran, juga hartanya untuk ummat?

Makanya ketika menulis biodata, saya mencantumkan 2 kriteria yang harus dipenuhi calon suami saya. Pertama, ikhwah tarbiyah. Karena saya memilih jalan tarbiyah untuk menyebar kebaikan, dan tentunya menemukan orang yang memilih jalan yang sama akan mempercepat langkah dan sampai kepada tujuan. Kedua, mencintai da'wah. Ya, karena saya juga mencintainya. Mencintai hal yang sama bisa mendekatkan 2 orang asing, ya kan? Dan karena juga saya memimpikan untuk terus berda'wah sepanjang hayat dan masuk jannahNya melalui pintu jihad (amiiiiin...)

Teruslah berda'wah saudaraku, percayalah ia senantiasa memberi keberkahan.
Apa yang kita berikan untuk da'wah sesungguhnya adalah juga untuk keluarga kita.
Betapa banyak keberkahan yang saya rasakan meski sering 'meninggalkan' anak dan keluarga demi ummat. Banyak hal yang mungkin tidak bisa kita dapatkan ketika kita tidak berda'wah.

"Jagalah Allah niscaya Ia akan menjagamu..."

Percayakan yang kita tinggalkan pada yang Maha Menjaga, dan semoga Ia terus mengalirkan keberkahan kedalam keluarga kita.

Ketika jaman berganti

Ya, jaman telah berganti.
Waktu berjalan tak peduli kita berhenti, jalan di tempat, atau mundur.
Seringnya kita baru tersadar ketika ia meninggalkan kita, 
karena waktu tak pernah menunggu.

Ya, jaman berganti.
Banyak yang berubah...
Semua berubah.

Dulu, jaman saya kuliah, telepon seluler masih barang mewah. Cuma orang-orang mampu yang punya HP. Ga ada tuh yang namanya jarkom. Kelas juga ga pernah pindah, kalo dapet kelas itu ya pasti akan disitu terus. Kalo dosen ga dateng ya kecele sama-sama. Dulu taman CD masih jadi tempat nongkrong satu kelas, kalo dosen ga dateng langsung pada main bola. Pagi hingga siang hampir tak pernah kosong taman CD oleh mahasiswa yang main sepak bola. Sekarang? Belum pernah liat ada yang main bola di taman CD....

Dulu internet masih 'barang baru', sampe-sampe waktu Dinamika disuruh bikin email sendiri. Untuk pertama kalinya bikin email gara-gara tugas Dinamika. Diajarin chatting juga beberapa hari setelah hari-hari pertama masuk kuliah. Belum ada Facebook, twitter, blog, dimana ikhwan-akhwat bisa narsis dan komen-komen-an tanpa batas (kecuali malu). Ah, tentu saja setiap fasilitas dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemaslahatan atau juga kemudharatan, tinggal bagaimana yang menggunakan...

Mengingat kembali ketika pertama kali masuk STAN. Rambut yang masih terurai dengan celana panjang dan sepatu kets masuk ke kampus bertemu mba-mba yang jilbabnya lebar-lebar. Satu angkatan mahasiswinya tidak sampai 30 orang (semua spesialisasi).... hehe, lagi membayangkan harap-harap cemas mba-mba panitia menunggu adik kelasnya yang tidak datang-datang. Cuma 3 orang (kalo ga salah) yang pake jilbab, itu juga pendek. Belum ada yang sudah tarbiyah sebelumnya.Terbayang kebingungan kakak kelas gimana beratnya melakukan kaderisasi agar tongkat estafet da'wah dapat diberikan tepat pada waktunya...

Sekarang? Bahagia juga ketika menyaksikan keberhasilan da'wah di seluruh pelosok Indonesia sehingga memberikan aktivis-aktivis da'wah 'siap terjun' alias 'udah jadi' kepada STAN. Mereka masih muda sekali. Malu kalau membandingkan diri ini ketika masih seusia mereka... 'Ala kulli hal, selalu bersyukur menjadi seperti sekarang. Setidaknya saya lebih baik dari yang kemarin. InsyaAllah...

Banyak yang berubah, ya tentu saja semua berubah kecuali satu, ya perubahan itu sendiri.
InsyaAllah berubah ke arah yang lebih baik. Meski ada 'rasa yang berbeda' di banyak hal. Entah mungkin karena saya yang kolot dan tidak mau menerima perubahan itu sendiri. Wallahu a'lam.

Semoga kita selalu dapat beradaptasi dengan berubahan, dengan tetap mempertahankan prinsip-prinsip yang tentunya masih sama, tujuan yang sama, cuma mungkin caranya yang berbeda.

Gorontalo dalam kenangan

Entah kenapa tiba-tiba saya teringat akan gorontalo.

Dua tahun di bumi hulontalo memberikan kenangan yang tak terlupakan. KPP gorontalo berikut semua krunya berikut  kisah kaburnya saya untuk ngurus mutasi ke jakarta.

Kisah pertama kalinya saya berkeluarga, tinggal serumah dengan suami untuk yang pertama kalinya, hamil si kembar berikut lahirannya, suka duka jauh dari keluarga besar...

Ikhwahfillah gorontalo yang penuh semangat, berjumpa mereka untuk yang pertama kalinya seperti sudah mengenal mereka bertahun-tahun, bersama kisah-kisah da'wah saya disana, misalnya waktu ngisi kajian ibu-ibu malem-malem yang jauhnya setengah jam perjalanan naik motor sampe pernah dibilang aliran sesat di suatu kajian ta'lim keluarga gara-gara mbahas sesuatu yang kurang tepat cara penyampaiannya (masih trauma sama yang ini...hehehehe)
Ada pengalaman buruk juga, ketika pertama kalinya saya betul-betul ingin keluar dari tarbiyah. Alhamdulillah niat itu tidak terealisasi :)

Gorontalo, salah satu tempat ketika jiwa dan da'wah saya ditempa.
Banyak yang saya dapat dari gorontalo, tidak sepadan dengan apa yang sudah saya berikan untukmu, gorontalo...
Semoga rahmat dan barokah Allah senantiasa menaungimu...
I really miss you...

Semoga kita dipertemukan kembali dalam jannahNya kelak... Amiiin...

Teko yang Kosong

Sebuah teko merasa dirinya kosong. Di sisinya ada gelas-gelas yang siap diisi.

Namun si teko merasa tak bisa, tidak pantas, mengisi gelas-gelas yang kehausan minta diisi.

"Teko yang kosong mana mungkin bisa mengisi gelas?" dalihnya ketika ditanya kenapa gelas-gelas itu tidak diisi.

Ah, teko, jika merasa kosong, kenapa tidak diisi saja?

Menjadi teko mungkin sebuah konsekuensi. Merupakan tugasnya untuk mengisi gelas-gelas. Apa jadinya kalau teko tak mau menjalankan tugasnya?

Bisa saja gelas-gelas disisinya akhirnya diisi teko-teko lain yang ada isinya.

Ah, dari tadi ngomongin teko. Sebenernya saya hanya mau meng-analogi-kan teko dengan diri kita sendiri.

Ketika kita menolak untuk memberi, yang dalam hal ini, menolak untuk "membina", dengan alasan 'teko yang kosong tidak bisa mengisi gelas', maka saya kira jawabannya adalah 'kenapa tidak diisi saja tekonya?'

Sampai kapan kita akan menghindar dari tugas ini? Karena dalam tarbiyah, mengisi dan diisi adalah proses berkesinambungan, lingkaran yang tak pernah putus.

Kader yang baik adalah kader yang bisa menghasilkan kader-kader baru.
Murabbi yang baik adalah murabbi yang bisa menghasilkan murabbi-murabbi baru.
Sebuah halaqoh dikatakan muntijah, apabila mereka mampu menghasilkan halaqoh-halaqoh muntijah baru.
Dikatakan paham kita terhadap sesuatu, apabila kita bisa memahamkan orang lain.

Tidakkah kita merasa ilmu yang kita dapat juga bermanfaat bagi orang lain?
Tidakkah kita ingin orang lain merasakan indahnya Iman dan Islam sebagaimana yang kita rasakan?
Tidakkah kita merindukan syurga yang Allah janjikan jika hidayah Allah mengalir lewat kerja, kata-kata, dan tindakan kita?

Ah, pisau yang tajam hanya pisau yang sering diasah, saudaraku...
Maka asahlah pisau itu selalu, jika tidak maka sungguh, ia akan cepat berkarat.

Janganlah takut membina, jangan pernah merasa tidak pantas (baca:sempurna), karena sesungguhnya tidak ada yang pantas kecuali murabbi kita yang mulia, Rasulullah SAW.

"Sampaikanlah, meskipun satu ayat"

Mari kita isi teko-teko kita, kemudian mari kita isi gelas-gelas disekitar kita.
Bismillah...

dan biarkan hidayah menjadi urusan Allah semata...

Dejavu

Rasanya seperti lebih dari 7 tahun yang lalu...

Merasakan lagi harap-harap cemas (peserta banyak yang dateng ga yaaa...?)
Melakukan lagi operasi gelar tiker di lobby gedung D
Cek perlengkapan, cek konsumsi, cek acara, cek persiapan pengisi acara...

Hhhhh...
Ada rasa yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata...
Kegembiraan kembali menjalani hari-hari yang penuh dengan hati dan pikiran yang bersemangat-menggelora-menggebu-gebu-excited-senang-puas, meski badan letih...
Ada rasa yang luar biasa berinteraksi dengan akhawat-akhawat yang luar biasa dengan semangat yang tak kalah luar biasa... Ikatkanlah hati-hati ini ya Allah...
Perasaan yang sama dengan ketika dulu saya pernah menginjakkan kaki dan meninggalkan jejak-jejak 'kerja' yang semoga bermanfaat...

Meski kondisi tak lagi sama...
Tubuh yang menua...
Amanah yang bertambah (rumah, anak-anak, juga anak mertua, merekalah pusat da'wah saya sekarang)
Akses ke kampus yang lumayan jauh (setengah jam kalo naik motor)
Semoga tidak menyurutkan langkah saya agar terus istiqomah...

Ini bukan dejavu -seolah-olah pernah mengalami,
sebab saya benar-benar pernah mengalaminya :)
Semoga masih bisa meninggalkan jejak-jejak kebaikan di kampus dan dimanapun..

Manusia yang paling baik adalah manusia yang paling memberi manfaat...

Kembali ke kampus, Kembali ke da'wah kampus

Satu lagi cerita untuk hari ini...

Sebagaimana kebanyakan anak D3 STAN yang kemudian masuk D4 rata-rata berazzam untuk SO alias study oriented alias pengen belajar-belajar-dan belajar aja. Berhubung juga dosen-dosen lebih 'galak' dibanding waktu D3, juga tugas yang bejibun, bikin waktu di rumah habis di depan komputer terus.

Pengen curhat dikit tentang awal-awal kuliah saya. Betapa saya stress dan... entahlah, pokoknya perjuangan saaaangat berat setelah 7 tahun ngga bertemu dengan dunia kampus. Tugas yang masyaAllah, membuat saya sering marah di rumah (emang dari dulu hobi marah ^_^), ga bisa tidur, capek, bahkan untuk pertama kalinya kena gejala typus (karena kecapekan dan bela-belain masuk kelas padahal lagi panas tinggi... hehehe...).

Beberapa minggu pertama saya berusaha sekuat tenaga melakukan semaksimal mungkin apa yang dosen minta. Saya merasa saya sudah berusaha saaaangat keras. Tapi ternyata...temen-temen saya berusaha lebih keras dibanding saya. Hiks! Akhirnya semangat pun menurun, karena merasa, well... saya emak-emak beranak 3 ga bakalan bisa menyamai hasil yang dikerjakan sama temen-temen saya yang bujangan. Mereka punya waktu seharian internetan, nyari bahan paper, dan sebagainya, sementara saya harus nyuri-nyuri waktu dengan intermezzo (anak-anak yang pengen main laptop juga) yang tiap 5 menit dateng... Terus terang saya memang menyerah. (maksudnya ngga se-ngoyo dulu... Yah, biasa-biasa aja lah... hehehe... Maaf ya bukan hal yang pantas untuk ditiru. Maaf karena dari 'sono'nya saya bukan orang 'akademis'... jadi untuk temen-temen yang 'akademis', maafkan saya ^_^)

Nah...
Sampai akhirnya panggilan itu tiba.
Apalagi kalo bukan panggilan da'wah?
Ketika ia memanggil, maka tak ada kata lain, selain "Labbaiiik..."

Hhhh... sebenernya kalo boleh memilih, pengennya mah ya ngga begitu ingin berkecimpung lagi terlalu 'dalam' di da'wah kampus. (emang pikiran emak-emak sama yang bujang jadi beda ya?) Tapi sepertinya realita tidak seperti keinginan kita. Sekarang meski libur jadi sering bolak balik kampus, sering syuro lagi, mikirin keputrian lagi, mikirin kajian lagi. Hmmm... Capek sih, sebel juga kalo ada perubahan jadwal (soalnya lebak bulus-bintaro kan lumayan jauh juga), tapi dijalani dengan enjoy aja... Kapan lagi punya kesempatan sebagus ini, ya ngga? Ikut serta dalam kaderisasi da'i nasional (ikhwah STAN kan tersebar di seluruh Indonesia ^_^).

Memang sudah menjadi konsekuensi ketika kita sudah terlibat dalam da'wah untuk memberikan semua yang kita punya (yang sebenernya adalah karena Allah jua yang memberikan) demi tegaknya kalimat Allah. Ketika kita mengucapkan kata,"Sungguh, saya mencintai da'wah." maka sekarang saya dituntut untuk membuktikan seberapa besar cinta saya kepadaNya. Lebih besar mana dengan cinta saya kepada IP yang tinggi? Atau kepada anak-anak yang Dia juga yang menjaga mereka?

"Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu..." (hadist)

"Berangkatlah kamu dalam keadaan ringan maupun berat ... yang demikian itu adalah lebih baik bagimu" (At Taubah:11)

"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul ... dan sesungguhnya kepadaNyalah kamu akan dikumpulkan" (Al Anfal:24)

"Katakanlah,"Jika ..., anak-anak, ..., adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya dan (dari) berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq (At Taubah: 24)

Perintah Allah dan Rasul di atas lah yang membuat saya kemudian bersemangat menyambut seruan da'wah. Meski berat, namun Allah akan membeli kerja-kerja saya dengan syurgaNya, insyaAllah -kalo saya ikhlas tentu saja ^_^

Buat temen-temen pencinta da'wah, sampe ketemu di syurga yaaa... ^_^ (gaya banget yak? Afwan, tapi Allah kan sesuai persangkaan hambaNya... ya ngga? hehehe...)

Membangun Persepsi

Jum'at kemarin saya kuliah gabungan sama kelas sebelah. Karena dosen kami sama, mungkin buat efisiensi waktu, sang dosen menggabung dua kelas yang diajarnya. Hampir semua penghuni kelas sebelah saya ngga kenal, nama pun tidak. Mereka rata-rata adik kelas 3 tahun di bawah saya (emang paling tua satu angkatan... Hiks!). Berkenalan dengan seorang teman yang duduk di depan, dia pun berkomentar,"Udah siap dibantai, mba?"

Well, memang dosen kami yang satu ini agak unik. Lulusan S2 Amerika ini punya kebiasaan suka 'membantai' mahasiswanya. Bukan marah, hanya nanya mendadak, dan apabila ngga bisa jawab, segera akan terdengar komentar-komentar agak sinis dari si Bapak. Ngga ada yang suka duduk di depan (padahal si Bapak nanyanya random koq, ngga suka nembak yang di depan aja).

Sebelum pertemuan pertama kami dalam kelas perkuliahan, saya udah survey ke beberapa orang (kakak kelas or yang pernah diajar oleh dosen tersebut). Istilah kerennya, membangun persepsi. Saya melakukannya untuk semua dosen. Ada yang baik, ada yang biasa-biasa aja, ada yang suka curhat, de el el. Untuk dosen yang satu ini, seorang teman mengaku tangannya berkeringat sepanjang pelajaran, bahkan udah deg-degan sebelum Pak Dosen masuk ke kelas (pas lagi nunggu dosen). Teman yang lain ngasih tau bahwa si Bapak suka membantai. Kata inilah yang paling sering digunakan orang-orang.

Bahkan setelah setengah semester kami lalui, saya ngga menyangka masih akan mendengar pertanyaan ini. "Udah siap dibantai, Mba?" Kebetulan saya orang yang memakai pendekatan "pembuktian terbalik", ketika saya diberi tau seseorang yang belum saya temui begini-begitu (yang jelek-jelek), maka saya selalu berniat membuktikan bahwa orang itu sebenarnya tidak demikian. Begitu juga dengan dosen satu ini. Dan saya berhasil membuktikan bahwa Pak Dosen enak sekali ngajarnya, tidak pernah saya stress, bahkan saya enjoy sekali. Kalo boleh dibilang, mungkin mata kuliah yang diajarnya adalah mata kuliah yang paling saya mengerti dibanding mata kuliah lain.

Membangun persepsi itu penting menurut saya sebelum kita menjalani sesuatu. Ibarat rambu, dia memberi tahu di depan akan ada apa. Begitu nama saya keluar sebagai salah satu yang lulus D4 STAN kemarin, saya langsung nanya-nanya ke mantan-mantan D4 atau yang sekarang sedang D4, apa dan bagaimana kuliah D4 yang tentunya sangat berbeda dengan ketika D3. Tentu saja saya mendapatkan jawaban yang berbeda-beda. Sebagian bilang, enak banyak liburnya, ga enak banyak tugasnya (nyampe rumah langsung nyalain komputer buat ngerjain tugas), dan sebagainya. Minimal dalam benak saya sudah tergambar -meskipun mungkin baru sebagian kecil- apa yang akan saya jalani nantinya. Kesiapan mental, itu yang dicari. Supaya kita siap menghadapi, pun ketika gambaran yang sudah ada ternyata tidak sama dengan yang terjadi kemudian.

Begitu juga dengan da'wah. Ketika saya pertama kali bergabung dengan da'wah, saya diberi gambaran bahwa da'wah itu jalan yang panjang, terjal, penuh onak dan duri (saya rasa sebagian besar kita diberi gambaran seperti ini. Betul?). Tapi tidak menurut Ust. Ahmad Ar-Rasyid. Dalam bukunya 'Hambatan di Jalan Da'wah', ustadz menggambarkan bahwa jalan da'wah adalah jalan yang luas dan tenang, hanya saja dalam perjalanan kadang ada rambu-rambu. (Ada yang pernah diberi tahu seperti ini?)

Mendapat gambaran yang berbeda tentang sebuah jalan yang sama adalah wajar, tergantung pandangan orang yang ditanya. Orang yang baru menjalani sebagian jalan, tentu akan berbeda pendapatnya dengan orang yang sudah menjalani semuanya, bahkan berkali-kali melaluinya. Bertanya pada orang yang tepat adalah kuncinya.

Tidak salah menggambarkan jalan yang 'susah' kepada calon yang terbiasa 'enak', dengan maksud agar kita tidak kaget, kecewa, mundur, ketika yang ditemui adalah yang ngga enak mlulu, karena kita sudah siap dengan keadaan itu sebelumnya, karena kita sudah diberi gambaran akan ke-tidakenak-an itu sebelumnya. Orang yang belum 'matang' apalagi masih new comer, biasanya akan diberi gambaran yang jelek-jelek dulu. Ketika dia memutuskan akan ikut dalam jalan ini, maka dia seharusnya siap dengan yang 'ngga enak' tadi.

Saya bersyukur mendapatkan 'pandangan lain' ketika saya sudah sekian tahun menjalani jalan ini. Persepsi saya juga berubah ketika mendengar ungkapan Ust. Rasyid di atas. Dalam hati saya membenarkan, sesungguhnya jalan ini luas dan tenang, hanya beberapa kali ada rambu. Dengan penggambaran seperti ini saya bisa merasakan ni'matnya berda'wah, meski saya belum ada apa-apanya dibanding dengan ikhwah yang lain, mungkin juga pembaca sekalian. Dengan pernyataan tadi, saya teringat betapa Allah begitu menyayangi saya sehingga berkenan memasukkan saya ke dalam kelompok orang-orang yang memilih jalan ini. Meski di awal saya memang menemukan onak dan duri, namun di sebagian besar perjalanan, sesungguhnya ada jalan yang luas dan tenang itu. Indahnya ukhuwah, bertambahnya keimanan, khusyu'nya shalat, air mata yang jatuh karena takut kepada Allah, cinta kepada saudara-saudara seiman, yang -mungkin- tidak akan saya temui jika saya tidak bergabung dengan jalan ini. Onak dan duri hanya sebagian kecil dari perjalanan, dibanding keni'matan ketika ada orang lain yang berubah ke arah yang lebih baik, ketika da'wah mencapai kemenangan, ketika titik-titik keshalihan semakin membesar dalam masyarakat.

Ah, saya lagi ngomongin apa sih?

Ketika Jalan telah dipilih

Suatu ketika, saya berniat mengajak suami jalan-jalan, entah berdua saja atau sekalian sama anak-anak. Sabtu jelas tidak bisa, banyak jadwal rutin... Kuliah, ngaji, kadang arisan kompleks sesekali, dsb... Jadi kemungkinan besar ya harus hari Ahad.

Sabtu pagi saya konfirmasi,"Abi besok ada acara?"
"Ngga... kosong" jawab suami.

Tapi sabtu malam, saat ngobrol menjelang tidur, si abi bawa berita buruk (buat saya)
"Mi, besok abi ada acara xxx di yyy seharian..." (seharian maksudnya dari pagi sampai sore)
Langsung ilfil mendengar berita tidak baik itu, saya pun komentar dengan nada tidak 'manis'
"Ya udah, sana!"
Seperti mengerti isi kepala saya (memang dia selalu bisa menebak hanya dengan mendengar intonasi suara saya), imam saya itu kemudian berkata dengan lembut,
"Lho, kan kita udah pilih jalan ini mi..." (lanjutannya saya lupa...)
Astaghfirullaaahal'adzhiiiim....

Ya, kadang (bukan kadang tapi sering) saya lupa, tidak berniat melupakan, jalan yang sudah saya pilih ini. Jalan yang mempertemukan saya dengan suami tercinta. Jalan yang saya yakin akan mempertemukan saya dengan Rasulullah SAW dalam jannah-Nya kelak. Jalan yang saya yakin akan membawa saya dan keluarga kepada ridha-Nya. ...

Jalan yang saya cintai namun sering saya lupa sedang menjalaninya terutama ketika panggilan dunia begitu menggoda. (padahal ketika masih lajang dulu, salah satu momen romantis yang saya bayangkan bersama suami adalah ketika melepasnya pergi demi ummat, demi da'wah, dan menunggunya di rumah demi dunia dan akhirat keluarga kami... ketika sudah menikah, koq sering lupa ya? hmmm...)

Ketika ada dua panggilan memanggil, maka mau tidak mau kita harus memilih. Sebenarnya -seringnya- pilihan itu adalah pilihan yang mudah, satu untuk dunia dan satu lagi untuk akhirat (malah sebenarnya yang kedua ini pada hakikatnya adalah untuk mendapatkan keduanya, akhirat dan dunia mengikuti). Namun entah karena ruhiyah sedang yang tidak kuat, iman yang sedang turun, atau memang tarikan dunia itu begitu menggoda, kadang kita sering dibutakan, dilupakan, dan dipalingkan. Maka itulah gunanya pasangan, juga saudara (untuk yang belum punya pasangan), dalam fungsi mereka sebagai pengingat.

Alhamdulillah, ketika saya lupa, ada suami yang mengingatkan saya. Terimakasih sayang, semoga Allah senantiasa menaungi langkahmu menapaki jalanNya, umi ridha engkau pergi demi Dia. Semoga Dia ridha kepadaku karena aku meridhaimu...

Ya Allah, syukur tak terhingga karena Engkau memperkenankan kami ikut serta dalam kereta da'wah ini. Jadikan kami istiqomah ya Allah, hingga kereta sampai pada stasiun terakhir, dalam jannah-Mu ya Allah...

Aaamiiiin...

Diskusi Kemarin

Tulisan ini terinspirasi dari diskusi saya kemarin.

Kami sedang membahas kata-kata Imam Syahid Hasan Al-Banna dalam Hadist Tsulasa hal 629, "Kehidupan rumah tangga adalah "hayatul 'amal". Ia diwarnai oleh beban-beban dan kewajiban. Landasan kehidupan rumah tangga bukan semata kesenangan dan romantika, melainkan tolong menolong dalam memikul beban kehidupan dan beban da'wah..."

Tentu berbeda kehidupan rumah tangga sepasang manusia yang menikah karena 'cinta' dengan mereka yang menikah karena Allah, yang dipertemukan di jalan da'wah, yang kalau boleh kita sebut mereka sepasang da'iyah. Seperti yang dikatakan Imam syahid, mereka punya beban tambahan, yakni beban da'wah. Inilah yang membedakannya dengan pasangan pada umumnya yang mungkin hanya memikirkan anak, istri, dan keluarganya saja, pasangan da'iyah juga harus memikirkan ummat.

Bersatunya dua orang mujahid seharusnya menjadikan rumah tangga itu menjadi rumah tangga yang produktif dengan kontribusi maksimal, yang insyaAllah juga menjadikan rumah tangga yang berberkah. Saling ta'awun menyebabkan orang tua yang sibuk mengurus ummat tidak mengabaikan da'wah kepada keluarga sendiri, terutama anak-anak. Berbagi tugas, saling mengerti dan memahami, saling bantu, wajib hukumnya agar da'wah keluarga dan da'wah masyarakat bisa berjalan seiring, tidak harus mengorbankan satu sama lain.

Baiklah, sebenernya bukan ini yang mau saya bahas ^_^ ...

Kemarin dalam diskusi, tiba-tiba kami menyadari sebuah fenomena yang mungkin banyak melanda keluarga da'iyah. Yang terjadi malah bertentangan dengan ungkapan Imam Syahid di atas. Entah karena terlalu memahami maksud ungkapan tersebut atau karena tidak memahaminya sama sekali.

Mereka tidak bermasalah dengan pembagian beban da'wah, namun justru berkendala dengan "kesenangan dan romantika". Saking sibuknya ngurusin ummat, ber-romantis-romantis ria dengan istri/suami malah sering terlupakan. Bagaimanapun istri/suami juga orang yang senang akan hal-hal yang romantis. Bukannya mereka tidak ridha akan sibuknya pasangannya dalam da'wah masyarakat, tapi sesekali perlu refreshing juga.

Suami/istri adalah orang yang akan menemani hidup kita sepanjang sisa umur kita. Anak mungkin hanya akan bersama kita ketika mereka kecil. Saat mulai sekolah maka dunianya sudah berpindah ke teman-temannya, begitu juga ketika menikah maka dunianya adalah suami/istri dan anak-anaknya. Tapi suami/istri akan menemani kita menghabiskan seluruh episode hidup kita.

Maka cinta itu harus dipelihara. Jangan biarkan ia berlalu seiring berlalunya waktu. Mungkin cinta bermetamorfosis menjadi 'tanggung jawab', 'kesetiaan', 'pengabdian', tapi tidak menjadikannya lelah untuk selalu dipupuk, disegarkan, diperbaharui.

Keromantisan tidak selalu berbentuk bunga, kata-kata puitis, atau candle light dinner. Dia bisa berupa ikut menemani masak di dapur, membuatkan secangkir teh, atau mendengarkan ceritanya tentang hal-hal yang tidak begitu penting. Perhatian kecil sangan berarti bagi pasangan.

Kadang dengan bertambahnya usia permikahan, psangan merasa tidak perlu lagi mengungkapkan rasa sayang seperti pasangan yang masih baru. Padahal justru itulah yang harus diusahakan, merasa selalu seperti pengantin baru.

Jangan pelit dengan kata 'sayang', jangan kikir dengan perhatian kecil, yang sungguh, jika ia senantiasa kita pelihara, maka semakin lama, semakin lanjut usia pernikahan, semakin berkobar juga cinta kita.

Kalau boleh saya meralat sedikit kata-kata di atas, "Landasan kahidupan rumah tangga bukan semata berbagi beban kehidupan dan beban da'wah, melainkan juga kesenangan dan romantika."

(Tulisan ini khusus untuk yang mungkin mulai layu cintanya, dan sungguh, sebenarnya saya juga masih terus belajar untuk menjadi romantis dan semoga mampu mampu terus memelihara cinta saya dan mengobarkannya. Wallahu a'lam)

Mencintai Jalan Ini

"Jazakillah bu atas bantuan ibu selama ini"

Pesan ini saya di hp saya tadi siang. Beliau berterima kasih karena sudah lebih dari setahun saya dimintai tolong membina mahasiswi-mahasiswinya, dan insyaAllah akan terus berlanjut entah sampai kapan.

Tidak perlu berterima kasih pak. Seharusnya saya yang berterimakasih kepada bapak karena sudah mencarikan saya ladang amal untuk saya bina, menambah tabungan saya untuk akhirat saya.

Tidak perlu karena saya melakukannya karena saya mencintai jalan ini, mencintai da'wah, sejak kali pertama diperkenalkan dengannya. Love at the first sight, kata orang. Bahkan ketika mencari pasangan hidup pun, saya memilih orang yang juga sama-sama mencintai da'wah. Jika tidak, saya takut suatu saat harus berpisah dengan da'wah.

Tidak, saya takut menjadi orang yang kelak hanya memandang di kejauhan, dengan hati penuh penyesalan, hanya bisa bersedih hati ketika menyaksikan kereta da'wah penuh pejuang-pejuang yang istiqomah memasuki stasiun terakhir yang kekal, tak lain tak bukan adalah jannah-Nya.

Ah, jalan ini berat. Tapi tak mengapa. Karena cinta adalah memberi, karena cinta adalah berkorban...

Jika kemudian ada yang bertambah amalannya, berubah cara pandangnya, bertambah ilmunya, juga keimanannya, bahkan kemudian meneguhkan diri untuk berhijrah dan berhijab, maka itu adalah bayaran yang lebih besar dari uang berapapun. Kegembiraan yang tak kan dapat digambarkan dengan kata apapun. Meskipun saya tau itu semua bukan karena saya...

Hanya berharap Allah saja yang membalas semua yang saya lakukan untuk da'wah karena saya mencintaiNya, hanya karenaNya...

Ah, semoga saya dan ikhwah semua bisa menjalani jalan ini, bersama-sama dalam kereta da'wah ini, ikhlas dan istiqomah, hingga kelak kita bisa bergembira, berkumpul bersama Murabbi terbaik sepanjang masa, Rasulullah saw, serta para sahabat dan syuhada, dalam jannahNya kelak yang kekal...

Aaamiiiin ya Rabb...

Kabulkanlah doa kami...

Selamat datang kampus biru

Akhirnya saya bisa bercerita tentang perjuangan saya lulus D4.

Awalnya saya tidak tertarik ikut tes, biasalah, emak-emak mikirin berkurangnya take home pay... Tapi entah kenapa suami begitu mendorong saya untuk mencoba. Bahkan sesaat sebelum mengisi e-registration USM D4 STAN di www.stan.ac.id, saya masih bimbang tapi suami tetap mendorong.

Membeli waktu dengan uang...
Begitu kira-kira alasan kenapa akhirnya saya kemudian berusaha sekuat tenaga saya, menjalani tes tahap 1 (tes kemampuan akademik) dan tes tahap 2 (psikotest), yang alhamdulillah Allah meridhai sehingga meluluskan saya.

Ini kali kedua saya mencoba. Kali pertama, seminggu setelah melahirkan si kembar saya bersama suami berangkat ke jurangmangu untuk ikut tes. Sangat berharap lulus kala itu. Berharap bisa membesarkan si kembar dekat orang tua, bukan di Gorontalo tempat kami mengabdi saat itu. Namun Allah menentukan lain. Baik saya maupun suami tidak lulus.

Tahun berikutnya saya tidak mencoba lagi, saya lupa apa alasannya. Begitu juga tahun kemarin, karena saat tes STAN bersamaan dengan proses mengurus mutasi saya ke Jakarta ikut suami yang lebih dulu di mutasi.
Sekarang si kembar sudah 3 tahun, insyaAllah tahun depan masuk TK. Ingiiiin sekali mengantarkan mereka ke sekolah di hari-hari pertamanya, menemani sampai pulang, kalo bisa setiap hari. Si dede juga sudah setahun lebih. Umur dua bulanan sudah saya tinggal bekerja, meski alhamdulillah sertifikat ASI Eksklusif sudah saya pegang dan insyaAllah ingin menggenapkannya hingga 2 tahun.

Ya, membeli waktu dengan uang. Menghabiskan waktu lebih banyak dengan anak-anak, juga suami, dengan konsekuensi uang berkurang. Ah, waktu tidak akan kembali, dan tidak dapat tergantikan dengan uang berapa pun. Semoga saya dapat menggunakan lebih kurang dua tahun ini dengan maksimal...

Hmm... sesungguhnya saya juga kangen sama da'wah kampus. Tempat yang memperkenalkan dengan indahnya da'wah dan ukhuwah. Ingin juga merasakan kembali serunya da'wah kampus, memberikan kontribusi untuk da'wah kampus apa yang bisa saya berikan. (karena kaya'nya saya memang lebih cocok sama kampus/sekolah. Pun saat di Gorontalo sampai sekarang saya masih berkutat dengan da'wah kampus dan sekolah)

Apapun, semoga Allah meridhoi...

Semoga Allah memberi kekuatan dan kesabaran hingga saya mampu menyelesaikan D4 dengan nilai yang memuaskan (asli serius nih , janji ngga tidur di kelas lagi... hehehe...)

Monday, September 3, 2012

{Sahabat} Tentang Rindu


Lagi-lagi saya malu sama ukhti saya yang satu ini. Maluuu sekali…
Lihatlah sms yang masuk ke inbox hp saya dini hari tadi.
Umar pernah mengimami shalat subuh,
Kemudian berpaling kepada makmum dan bertanya,
“Mana Muadz?”
“Ini saya wahai Amirul Mu’minin”
Umar berkata,”Saya tidak lihat kamu tadi malam. Saya jadi gelisah karena cinta dan rinduku kepadamu!”
Lalu keduanya berpelukan dan saling menangis…
Betapa indahnya luapan hati yang tulus…
Ana rindu bertemu ka Nina sebagaimana rindunya Umar terhadap Muadz…
Uhibbukifillah.
(01-Apr-2009 4:10 am)
(Tuh kan, mata saya berkaca-kaca lagi T_T)
Ahabbakalladzi ahbabtani lahu ukhtiy… Semoga Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya…
I miss you so much too ukhtiy…
Kapaaaan ya kita bisa ketemu lagi? Terpisah laut dan pulau, tapi hati kita begiiiitu dekat.
Rasanya ana merasakan pelukan anti saat ana membaca pesan cinta itu…
Ada satu orang istimewa lagi yang ingin saya ceritain di sini. Seorang ukhti cantik yang miscall-nya di dini hari saya temukan saat saya bangun tidur (ngga denger karena hp di taruh di dalam tas). Waktu saya balas dengan permohonan maaf karena tidak mengangkat telponnya dan menanyakan ada apa gerangan menelpon malam-malam, dibalas dengan ‘cuma membangunkan qiyamullail’. Padahal kami sudah tak bertemu muka lagi sejak 4 tahun yang lalu.
Ah, orang lain mungkin bersedia menukarkan dunia dan seisinya untuk memiliki saudara seperti mereka.
Ya Allah, jika tidak di dunia ini, pertemukanlah kami dalam jannah-Mu di istana cahaya, yang dipenuhi orang-orang yang mukanya bercahaya, yang pakaiannya bercahaya, yaitu mereka yang saling mencintai karena-Mu ya Allah…
Aaamiiiiiinnn…
Teruntuk ukhtiku fillah Dewi Rosliani di Ternate dan Teh Iceu dimanapun dirimu berada, semoga Allah selalu melindungi, menjaga, dan meridhoimu.

Thursday, August 30, 2012

Ketika harus berpisah jalan

Beberapa bulan yang lalu, saya dan suami berkesempatan menghadiri pernikahan seorang teman SMA suami yang dulunya sama-sama 'anak rohis'. Permikahannya cukup 'megah', karena teman suami yang sudah bergelar dokter menikah dengan dokter (juga) yang anak profesor (keliatan dari undangannya). Bukan resepsinya yang akan saya bahas. Cuma komentar suami saya yang membuat saya sesaat tertegun,”Ngga ada sisa-sisa (tarbiyah)nya.”

Well, istrinya tidak berkerudung (menutup aurat), mungkin itu yang membuat suami saya berkomentar demikian, selain juga informasi bahwa sahabatnya itu sudah tidak tarbiyah lagi. Setelah peristiwa itu suami cerita bahwa dulu sahabatnya itu termasuk ikhwan tangguh yang sama-sama berjuang di da’wah sekolah, membuat tim nasyid bersama-sama, dan kenangan-kenangan lain bersama ikhwan-ikhwan lainnya.

Saya jadi teringat beberapa sahabat saya yang dulu saat di kampus bersama-sama bekerja untuk da’wah (semoga memang begitu). Kerja-kerja da’wah yang membuat kami yang berasal dari daerah yang berbeda menjadi dekat, bahkan saaangat dekat. Hampir setiap minggu menginap di kamar salah satu dari kami, untuk bertaaruf dan mengeratkan ta’liful qulb (selain membahas masalah tarbiyah di kampus tentunya). Pernah saya ceritakan di sini. Tidur seperti sarden, shalat bersama, makan disatu piring, tertawa dan menangis juga bersama.
Sampai saat harus berpisah karena kelulusan dan penempatan di tempat yang berbeda. Sebagian masih istiqomah, namun sayang sebagian lainnya memilih ‘jalan’ lain.

Masih terpatri dalam pikiran saya, saat salah seorang ukhti tercinta saya mengucapkan kalimat itu,”Kavling surga bukan hanya milik orang tarbiyah”

Ah, saya memang harus menghargai keputusannya. Apapun itu. Meskipun tentu saya tidak menginginkannya. Saya masih rindu membicarakan strategi da’wah bersama mereka. Saya masih kangen bertukar pikiran tentang apa yang bisa kita lakukan untuk da’wah ini.

Ah, kereta da’wah akan berjalan terus menuju syurga, tak peduli orang-orang di dalamnya masuk dan keluar.
Tentu saja anti 100% benar ukhti, kavling surga (tentu saja) bukan hanya milik pejuang-pejuang tarbiyah. 

Mari kita kejar ridha Allah dengan cara masing-masing. Semoga kita bisa berkumpul kembali dalam syurgaNya kelak meski sudah berpisah jalan.

Ala kulli hal, ana uhibbuki fillah ukhtiy...

Cinta dari Gorontalo

Pertama kali saya mengenal da'wah itu di kampus. Sebagaimana orang yang menemukan mainan baru dan langsung menyukainya, saya sangat menikmati hal baru itu dengan semangat menggebu-gebu. Jadi pengurus masjid kampus, ikut ngurusin masjid di sekitar kos-kosan, sempet jadi guru TPA, membina adik-adik kelas, ikut ngajar di 'masjid yang jauh' (alumni ponjay pasti ngerti nih), amanah disini - amanah disitu, dst...

Saya pikir saya sudah melakukan suatu pekerjaan besar...
Lepas dari kampus, saya gamang. Dunia kerja dan masyarakat menanti saya... Terus terang saya belum siap. Saya terlalu nyaman dengan gemerlap da'wah kampus. Comfortable zone (zona nyaman) saya ada di kampus...

Tapi waktu tidak bisa menunggu.
Mati-matian saya berusaha menyesuaikan diri dengan da'wah profesi dan da'wah sya'bi. Dan seperti yang sudah saya duga semula, tantangannya jauh lebih besar. Apalagi saya memulai perjuangan ini di ujung sulawesi, di Bumi Hulontalo (Gorontalo). Karakter dan budaya yang berbeda, betul-betul penyesuaian yang tidak mudah.

Tahukah Anda apa yang membuat saya bisa melewatinya?
Ukhuwah, jawabannya.

Pernahkah Anda mendapatkan cinta dari orang yang sama sekali tidak Anda kenal, belum pernah berjumpa, berasal dari tempat yang jauh? Cinta itu saya dapat dari mereka, pejuang-pejuang da'wah Gorontalo. Berkenalan dengan mereka seperti sudah mengenal lama. Dekat seperti sahabat yang tak terpisahkan. Berbagi, memberi, itsar, hal yang hampir tiap hari ditemui...

Bahwa ikatan aqidah itu lebih kuat dari ikatan darah, saya sendiri sudah membuktikan!
Ah, sebetulnya saya belum 'berhasil' dalam menjalani da'wah ini. Masih belum bisa dibandingkan dengan ikhwah Gorontalo yang semangatnya luar biasa itu. Juga tidak bisa dibandingkan dengan ikhwah Jakarta yang subhanallah...

Ah, semakin saya mengenal para ikhwah, semakin saya merasa sangat kecil...

Semoga keberkahan selalu menaungi mereka semua, dimana pun mereka berada...
Semoga saya masih bisa berkumpul bersama mereka dalam jannah-Nya kelak...
Ana uhibbukum fillah...