Setelah sebelumnya saya cerita tentang practise essay, kali ini saya pengen cerita tentang (nasib) essays saya, the real version. Maksudnya yang bener-bener dinilai dan menjadi penentu saya lulus atau tidak di term ini.
Essay pertama, saya disuruh memilih satu dari lima pertanyaan dan menjawabnya dalam 5000 kata. Saya kemudian memutuskan memilih pertanyaan tentang implementasi kebijakan, karena saya suka. Saya sudah menemukan jawabannya dan tinggal menuliskannya. Meski sudah practice sebelumnya, tapi menuliskan ide dalam bahasa inggris sungguh sulit bagi saya. Yang lebih sulit lagi (dan ternyata saya memang banyak salah disini) adalah mereferensikan sesuatu. Ketika kita menukil perkataan seseorang, banyak hal yang perlu diperhatikan. Bagaimana meng-quote langsung, bagaimana menuliskan kembali dengan bahasa sendiri alias paraphrase, dan sebagainya. Sebenernya saya lebih pede dengan essay yang ini, tapi dosen penilai menentukan lain.
Essay kedua, tentang perbandingan antarnegara. Jadi saya disuruh membuat kalkulasi atau suatu perhitungan dengan membandingkan keadaan di beberapa negara dan membuat analisa tentang hal tersebut. Topiknya terserah. Dan ini yang membuat saya galau. Saya ga terlalu suka milih ternyata :D hahaha. Ketika saya disuruh milih, malah terlalu banyak pertimbangan akhirnya susah banget untuk mutusin yang mana yang akan diambil. Finally, setelah minta advise dari seorang teman yang sudah menyelesaikan essaynya jauh hari sebelum due date, 4 hari sebelum deadline saya ambil topik tentang anak. Ga begitu pede dengan essay yang ini sebenernya, apalagi diakhir essay ada hipotesis yang 'perlu penelitian lanjutan' karena saya ga bisa ambil kesimpulan.
Well, surprisingly, ternyata begitu nilai keluar, essay kedua saya nilainya jauh diatas nilai essay pertama. Karena banyak kesalahan di referensing dan bad paraphrasing, dan terutama karena paragraf-paragrafnya kek berdiri sendiri alias ga terintegrasi dan ngga ngalir, saya harus rela dikasih nilai slightly diatas batas 'Pass'. But I am very happy though, yang penting pass lah hahaha :D :D :D
Kecewa? Ga juga sih...
Ya tentu saja saya pengen dapet nilai lebih tinggi, tapi harus legowo dengan nilai yang dikasih dosen. Ada banyak pelajaran yang semoga saya ga ulangin lagi di assessment berikutnya...
Nasib anak kost... eh maksudnya nasib student :D :)
Showing posts with label S2. Show all posts
Showing posts with label S2. Show all posts
Friday, March 18, 2016
Saturday, November 14, 2015
(Practice) Essay Pertamaku
Di term pertama ini ada practice essay di salah satu mata kuliah yang harus
dikumpulkan di week 6. Setengah relax (toh cuma practice doang inih)
tapi intimidating juga (karena ini tugas bikin essay pertama). Di satu
sisi pengen ga terlalu serius-serius amat, tapi disisi lain ada
keinginan untuk perfect juga.
Ngerjain tugas pertama ini benar-benar membuat tegang. Pertanyaannya sebenernya cukup simpel, kita disuruh memilih 1 dari 3 pilihan dan buktikan kenapa itu yang kita pilih. Tapi ya itu, malah jadi susah, karena kita harus membandingkan ketiga-tiganya untuk membuktikan mana yang terbaik. Bahkan sampe sepekan sebelum deadline, saya masih bingung mau milih mana... hahaha... Meski kurang puas dengan hasilnya, alhamdulillah saya berhasil mengunggah hasil akhir sehari sebelum deadline.
Untuk menyelesaikan essay ini, saya harus membaca banyak sekali buku. Dan trus baru sadar bahwa membaca saja saya sulit hehehe... Pertama, keterbatasan perbendaharaan kata (vocabulary). Tiap kali buka buku, kamus oxford juga harus dibuka. Selain bahasanya yang tingkat tinggi, mereka juga banyak sekali menggunakan terminologi baru (yang ga ada di kamus). Hadeeuuuh...
Membaca satu paragraf saja bisa memakan waktu berjam-jam (karena berkali-kali nyari arti kata-kata yang sulit). Pun setelah selesai membaca, masih belum paham juga maksudnya. Akhirnya paragraf yang sama diulang berkali-kali.Waktu tinggal sedikit sementara buku yang harus dibaca masih banyak banget. Ngga (belum) bisa memisahkan mana yang penting/prioritas mana yang ga begitu penting. Akhirnya harus puas dengan bahan yang apa adanya.
Ketika mengerjakan juga sering seperti yang kehabisan ide. Tiap kali habis nulis selalu melihat sudah berapa kata yang dihasilkan. Baru 300... udah 1000... baru 2000... tinggal 500 kata lagi... masih 300 kata lagi... hadeeeeuh...
Kesalahan saya kemarin adalah ga bikin outline. Ya karena masih bingung tadi makanya bingung juga mau bikin outline yang seperti apa. Tapi yang paling utama adalah karena belum banyak baca. Intinya baca, baca, baca. Kalo ngga baca ya gitu, bingung terus. Semakin banyak yang dibaca kan akan semakin tergambar apa yang mau ditulis. Tapi trus balik lagi, membaca saja saya sulit hehehe...
Mungkin juga karena saya agak memaksakan seperti yang dosen mau. Dia membolehkan kami (misalnya) menjelaskan A, kemudian B, dan terakhir menjelaskan C dan kenapa kita memilih C. Tapi dia juga menyarankan untuk membandingkan masing-masing untuk topik tertentu. Jadi maksudnya, ambil satu topik kemudian banding ketiganya dan jelaskan mengapa C yang paling benar. Pilih lagi topik kedua lalu bandingkan lagi ketiganya, bagaimana argumen A dan B menjadi lemah dan C memberikan teori yang valid. Begitu seterusnya. Setidaknya ada 2 atau 3 topik yang bisa dibandingkan. Nah, saya berusaha membuat essay saya seperti yang diharapkan. Jadinya ya ribet sendiri... hahaha...
Ya, setidaknya jadi tau, pengalaman lah untuk tugas-tugas berikutnya. Berapa waktu yang dibutuhkan untuk menuntaskan essay sekian ribu kata itu, gimana menyiasati kesulitan membaca dan kemudian menuliskannya kembali.
Wish me luck :)
Ngerjain tugas pertama ini benar-benar membuat tegang. Pertanyaannya sebenernya cukup simpel, kita disuruh memilih 1 dari 3 pilihan dan buktikan kenapa itu yang kita pilih. Tapi ya itu, malah jadi susah, karena kita harus membandingkan ketiga-tiganya untuk membuktikan mana yang terbaik. Bahkan sampe sepekan sebelum deadline, saya masih bingung mau milih mana... hahaha... Meski kurang puas dengan hasilnya, alhamdulillah saya berhasil mengunggah hasil akhir sehari sebelum deadline.
Untuk menyelesaikan essay ini, saya harus membaca banyak sekali buku. Dan trus baru sadar bahwa membaca saja saya sulit hehehe... Pertama, keterbatasan perbendaharaan kata (vocabulary). Tiap kali buka buku, kamus oxford juga harus dibuka. Selain bahasanya yang tingkat tinggi, mereka juga banyak sekali menggunakan terminologi baru (yang ga ada di kamus). Hadeeuuuh...
Membaca satu paragraf saja bisa memakan waktu berjam-jam (karena berkali-kali nyari arti kata-kata yang sulit). Pun setelah selesai membaca, masih belum paham juga maksudnya. Akhirnya paragraf yang sama diulang berkali-kali.Waktu tinggal sedikit sementara buku yang harus dibaca masih banyak banget. Ngga (belum) bisa memisahkan mana yang penting/prioritas mana yang ga begitu penting. Akhirnya harus puas dengan bahan yang apa adanya.
Ketika mengerjakan juga sering seperti yang kehabisan ide. Tiap kali habis nulis selalu melihat sudah berapa kata yang dihasilkan. Baru 300... udah 1000... baru 2000... tinggal 500 kata lagi... masih 300 kata lagi... hadeeeeuh...
Kesalahan saya kemarin adalah ga bikin outline. Ya karena masih bingung tadi makanya bingung juga mau bikin outline yang seperti apa. Tapi yang paling utama adalah karena belum banyak baca. Intinya baca, baca, baca. Kalo ngga baca ya gitu, bingung terus. Semakin banyak yang dibaca kan akan semakin tergambar apa yang mau ditulis. Tapi trus balik lagi, membaca saja saya sulit hehehe...
Mungkin juga karena saya agak memaksakan seperti yang dosen mau. Dia membolehkan kami (misalnya) menjelaskan A, kemudian B, dan terakhir menjelaskan C dan kenapa kita memilih C. Tapi dia juga menyarankan untuk membandingkan masing-masing untuk topik tertentu. Jadi maksudnya, ambil satu topik kemudian banding ketiganya dan jelaskan mengapa C yang paling benar. Pilih lagi topik kedua lalu bandingkan lagi ketiganya, bagaimana argumen A dan B menjadi lemah dan C memberikan teori yang valid. Begitu seterusnya. Setidaknya ada 2 atau 3 topik yang bisa dibandingkan. Nah, saya berusaha membuat essay saya seperti yang diharapkan. Jadinya ya ribet sendiri... hahaha...
Ya, setidaknya jadi tau, pengalaman lah untuk tugas-tugas berikutnya. Berapa waktu yang dibutuhkan untuk menuntaskan essay sekian ribu kata itu, gimana menyiasati kesulitan membaca dan kemudian menuliskannya kembali.
Wish me luck :)
Labels:
Inggris,
Kuliah,
My Life,
Pendidikan,
S2,
Study Abroad,
UK,
York
Tentang kuliah di York
Sekarang sudah masuk week 7 autumn term dan saya baru sempet (halah) nulis lagi.
Ohya, mengenai term. Term (week) adalah sebutan untuk waktu (minggu-minggu) perkuliahan. Di UK (dan sepertinya di kebanyakan universitas di luar negeri juga) terdapat 3 term dalam setahun. Autumn Term, Spring Term, dan Summer Term. Khususnya di University of York, tiap term terdiri dari 10 weeks. (So, dari total 52 pekan dalam setahun kita 'hanya' kuliah 30 pekan).
Di week 1 kemarin jadwalnya 'hanya' induction alias orientasi. Jadi kita mahasiswa baru diperkenalkan dengan lingkungan kampus. Tak hanya itu, dipertemuan pertama, kita juga diperkenankan saling kenalan dengan mahasiswa yang mengambil departemen yang sama. Jadi saya setidaknya kenal minimal teman-teman jurusan lain dari Departemen of Social Policy and Social Work (SPSW).
Selain lingkungan kampus, seperti gedung perkuliahan, perpustakaan, dan fasilitas-fasilitas fisik lainnya, kami juga dikenalkan dengan 'aplikasi mahasiswa' yang berisi segala macam informasi terkait perkuliahan. Mulai dari overview modul, bahan slide presentasi dosen tiap pekan yang bisa dilihat bahkan sebelum kelas dimulai, bahan bacaan terkait modul dimaksud (baik buku maupun jurnal yang bisa diakses via perpustakaan atau elektronik/ebook), panduan tugas (assessment/assignment), info dosen terkait, hingga peng-unggah-an tugas (disini semua tugas diunggah di aplikasi tersebut, tidak dikumpulkan ke dosen atau hardcopy. Enak ga usah print dan ngabisin kertas). Saya sangat takjub dengan aplikasi ini. Tiap pekan daftar bahan bacaan sudah tersedia, ga perlu nyari sendiri bacaan terkait karena yang disediakan sudah lebih dari cukup. Meski ada yang harus rebutan buku perpus dengan mahasiswa lain, tapi resourse dalam bentuk elektronik juga melimpah. Tinggal download, trus baca. Itu juga ga habis-habis...
Dalam setiap term, saya dikasih 2 mata kuliah (module). Setiap modul ada lecture (dimana dosennya menjelaskan materi di depan kelas) dan seminar (presentasi mahasiswa). Jadi total sepekan ada 4 kali pertemuan. Di akhir setiap mata kuliah ada tugas, yang kali ini dua-duanya berupa essay (ga ada exam). Essay itu tulisan sekian ribu kata. Kalo exam itu seperti ujian seperti pas di S1, hanya saja dengan jawaban yang lebih panjang lebar.
Sementara itu dulu ya...
Yang lain nanti nyusul ceritanya :)
Ohya, mengenai term. Term (week) adalah sebutan untuk waktu (minggu-minggu) perkuliahan. Di UK (dan sepertinya di kebanyakan universitas di luar negeri juga) terdapat 3 term dalam setahun. Autumn Term, Spring Term, dan Summer Term. Khususnya di University of York, tiap term terdiri dari 10 weeks. (So, dari total 52 pekan dalam setahun kita 'hanya' kuliah 30 pekan).
Di week 1 kemarin jadwalnya 'hanya' induction alias orientasi. Jadi kita mahasiswa baru diperkenalkan dengan lingkungan kampus. Tak hanya itu, dipertemuan pertama, kita juga diperkenankan saling kenalan dengan mahasiswa yang mengambil departemen yang sama. Jadi saya setidaknya kenal minimal teman-teman jurusan lain dari Departemen of Social Policy and Social Work (SPSW).
Selain lingkungan kampus, seperti gedung perkuliahan, perpustakaan, dan fasilitas-fasilitas fisik lainnya, kami juga dikenalkan dengan 'aplikasi mahasiswa' yang berisi segala macam informasi terkait perkuliahan. Mulai dari overview modul, bahan slide presentasi dosen tiap pekan yang bisa dilihat bahkan sebelum kelas dimulai, bahan bacaan terkait modul dimaksud (baik buku maupun jurnal yang bisa diakses via perpustakaan atau elektronik/ebook), panduan tugas (assessment/assignment), info dosen terkait, hingga peng-unggah-an tugas (disini semua tugas diunggah di aplikasi tersebut, tidak dikumpulkan ke dosen atau hardcopy. Enak ga usah print dan ngabisin kertas). Saya sangat takjub dengan aplikasi ini. Tiap pekan daftar bahan bacaan sudah tersedia, ga perlu nyari sendiri bacaan terkait karena yang disediakan sudah lebih dari cukup. Meski ada yang harus rebutan buku perpus dengan mahasiswa lain, tapi resourse dalam bentuk elektronik juga melimpah. Tinggal download, trus baca. Itu juga ga habis-habis...
Dalam setiap term, saya dikasih 2 mata kuliah (module). Setiap modul ada lecture (dimana dosennya menjelaskan materi di depan kelas) dan seminar (presentasi mahasiswa). Jadi total sepekan ada 4 kali pertemuan. Di akhir setiap mata kuliah ada tugas, yang kali ini dua-duanya berupa essay (ga ada exam). Essay itu tulisan sekian ribu kata. Kalo exam itu seperti ujian seperti pas di S1, hanya saja dengan jawaban yang lebih panjang lebar.
Sementara itu dulu ya...
Yang lain nanti nyusul ceritanya :)
Monday, October 12, 2015
Hari-hari Pertama di York
Tentu saja jalan-jalan... hahaha...
Sabtu nyampe rumah, hari Minggu udah jalan-jalan ke kampus. Kebetulan yang ngajakin mau ke perpustakaan, jadi sekalian diajakin ke beberapa gedung di kampus. Cuacanya dingin banget. Kalo di rumah masih agak mendingan, tapi begitu keluar langsung brrrrr....
Ini salah satu sudut kampus. Gambar diambil dari jembatan penyeberangan yang menuju ke perpustakaan.
Dan ini dia perpustakaan University of York. Ini pintu masuk ke perpus. Sebenernya perpus ada beberapa gedung yang saling tersambung. Yang dibawah ini gedung utamanya.
Sabtu nyampe rumah, hari Minggu udah jalan-jalan ke kampus. Kebetulan yang ngajakin mau ke perpustakaan, jadi sekalian diajakin ke beberapa gedung di kampus. Cuacanya dingin banget. Kalo di rumah masih agak mendingan, tapi begitu keluar langsung brrrrr....
Ini salah satu sudut kampus. Gambar diambil dari jembatan penyeberangan yang menuju ke perpustakaan.
Dan ini dia perpustakaan University of York. Ini pintu masuk ke perpus. Sebenernya perpus ada beberapa gedung yang saling tersambung. Yang dibawah ini gedung utamanya.
Ini rak bukunya
Berikut foto-foto beberapa tempat di kampus.
Di information center
Ini departemen saya ^_^
Di salah satu jembatan di kampus.
Wednesday, October 7, 2015
Perjalanan Manchester - York
Tim penjemputan dari kampus sudah menyediakan bus jemputan, sebuah coach. Coach tampaknya adalah sebuah semi-bus, bus tapi ukurannya lebih kecil. Perjalanan Manchester - York ditempuh dalam waktu kurang dari 2 jam. Kami berangkat pukul 15.15 waktu setempat dan tiba di lingkungan kampus pukul 17.00.
Kalian bisa lihat di foto di atas, dipinggir danau hanya ada beberapa rumah saja. Bukitnya juga rapi, bukan? Tidak terlalu banyak pohon, tapi sudah menjadi ladang atau area persawahan. Bukan sawah maksudnya. Saya juga kurang tau mereka menanam apa disana, seperti baru saja panen. Mungkin gandum, mungkin juga jagung. Well... ini musim gugur tentu saja. Masa tanam sudah usai...
Saya juga melihat sapi atau domba yang sedang merumput, Terlihat jelas dari kejauhan. Tidak sempat terfoto, karena saya mengambil foto dari bus yang sedang melaju kencang.
Mohon maaf jika pengambilan gambarnya tidak memuaskan. Maklum belum pernah ikut kelas fotografi hehehe...
Saya memilih duduk di bangku paling depan di sebelah kiri supir. Yang menarik perhatian saya, selain pemandangan di luar -tentu saja, adalah supir coach ini. Kalian bisa melihat tempat duduk supir tidak seperti tempat duduk supir di Indonesia. Ada per dibawahnya sehingga bangku bisa naik-turun menyesuaikan dengan kondisi jalan, terlihat sangat nyaman.
Selain itu, tepat di depan setir mobil, ada layar GPS untuk memandu supir selama perjalanan. Saya selalu memperhatikan jalur bus di layar tampak berwarna pink terang. Supir tinggal mengikuti kemana jalur pink di depan itu memandunya. Very interesting, right?
Sepanjang perjalanan banyak lampu merah, tapi tidak pernah macet (hahaha... maklum biasa kena macet di Jakarta :P )
Sepanjang perjalanan, saya terkagum-kagum dengan pemandangannya. Terlihat begitu rapi, bersih, seperti ga ada sampah. Ini beberapa gambar yang sempat saya ambil...
Hampir di sepanjang perjalanan, selalu ada pepohonan di kiri dan kanan jalan. Asri dan hijau. Jarang ketemu daerah perumahan juga, hanya beberapa rumah yang bentuknya hampir sama dengan bata coklat atau merah.
Saya juga menjumpai beberapa danau di sepanjang perjalanan.
Saya juga melihat sapi atau domba yang sedang merumput, Terlihat jelas dari kejauhan. Tidak sempat terfoto, karena saya mengambil foto dari bus yang sedang melaju kencang.
Mohon maaf jika pengambilan gambarnya tidak memuaskan. Maklum belum pernah ikut kelas fotografi hehehe...
My First International Travel (2)
Kemarin sudah cerita mengenai perjalanan saya dari Jakarta ke Dubai. Well... belum nyampe Dubai sih ya :D
Okay,.. Sesaat sebelum landing, pramugari (as I said before) membagikan lagi handuk kecil basah hangat ke semua penumpang (ini tanda juga bahwa pesawat dah mau nyampe). Setelah itu, pramugari mulai ngingetin untuk menegakkan sandaran kursi, ngumpulin sampah-sampah, dan lain-lain. Saya lalu mengganti tampilan tv di depan saya dengan tampilan informasi pesawat.
Maka mendaratlah saya di Dubai. Turun melalui pintu belakang pesawat, di bawah tangga sudah menunggu bus tanpa kursi yang akan mengantar penumpang ke terminal.
Bandara Dubai gede banget. Bus yang mengantar kami melewati bagian pinggir bandara. Saya berharap dapat melihat gedung-gedung yang tinggi dan mewah kebanggaan Dubai seperti gambar di bawah ini, tapi apa daya ga bisa liat apa-apa :D
Okay,.. Sesaat sebelum landing, pramugari (as I said before) membagikan lagi handuk kecil basah hangat ke semua penumpang (ini tanda juga bahwa pesawat dah mau nyampe). Setelah itu, pramugari mulai ngingetin untuk menegakkan sandaran kursi, ngumpulin sampah-sampah, dan lain-lain. Saya lalu mengganti tampilan tv di depan saya dengan tampilan informasi pesawat.
Maka mendaratlah saya di Dubai. Turun melalui pintu belakang pesawat, di bawah tangga sudah menunggu bus tanpa kursi yang akan mengantar penumpang ke terminal.
Bandara Dubai gede banget. Bus yang mengantar kami melewati bagian pinggir bandara. Saya berharap dapat melihat gedung-gedung yang tinggi dan mewah kebanggaan Dubai seperti gambar di bawah ini, tapi apa daya ga bisa liat apa-apa :D
Ada sekitar 10-15 menit bus berjalan mengantar kami ke terminal. Turun dari bus, masuk ke terminal, ada layar besar yang berisi info penerbangan, di gate mana kami harus menunggu untuk penerbangan selanjutnya (ke Manchester). Kami pun mencari gate B21.
Ada 50-an gate hanya untuk kode B (B1 hingga B50). Ada A, C, D juga, saya ga perhatiin sampe huruf apa. Ya... semoga bisa menggambarkan betapa besarnya bandara Dubai ini... :D
Ga terlalu susah nyari gate-nya. Sign board dengan tanda panah ada dimana-mana.
Ohya, ga usah bingung ya kalo nemu toilet atau keran air yang ga ada tuas atau tombol atau puterannya. Banyak keran yang nyala sendiri ketika kita meletakkan tangan di bawahnya atau toilet yang menyiram sendiri. Mereka menggunakan sensor :D
Begitu menemukan ruang tunggu, kami pun duduk. Saya berusaha menghubungi suami dan keluarga di Jakarta untuk mengabarkan kalo saya sudah sampai di Dubai. Meski udah ngisi pulsa 200rb lebih, tapi cuma bisa dipake nelpon beberapa menit, trus pulsa abis :D
Teman-teman cowok saya mencoba melakukan setting ini-itu untuk panggilan internasional, tapi saya ga cukup sabar untuk itu. Biarin deh abis pulsa, yang penting orang rumah dah tenang saya dah nyampe... hehehe...
Teman-teman cowok saya mencoba melakukan setting ini-itu untuk panggilan internasional, tapi saya ga cukup sabar untuk itu. Biarin deh abis pulsa, yang penting orang rumah dah tenang saya dah nyampe... hehehe...
Next, speaker mulai mengumumkan section-section mana aja yang dipanggil untuk naik pesawat terlebih dahulu. Dan section saya dipanggil terakhir (entah karena kami ga denger waktu dipanggil, atau memang belum... ga tau hehehe). Jangan khawatir bakalan ditinggal karena ga dipanggil, karena panggilan terakhir adalah untuk 'sapu bersih'. Ya buat yang tadi ga denger atau telat dateng hahaha...
Naik pesawat, nyari tempat duduk, seperti penerbangan sebelumnya di tempat duduk sudah disediakan bantal kecil, selimut dan headset. Tak lama pesawat pun take-off.
Cerita perjalanan hampir sama seperti yang sebelumnya. Setelah take-off pramugari membagikan handuk kecil basah dingin (kali ini dingin karena suhu diluar ketika itu panas). Makan dua kali (kali ini saya nyobain menu mediteranian, salah satunya salad yang berisi buah zaitun yang bentuknya seperti anggur tapi rasanya asem pahit kecut ga jelas hehehe, keju warna oren yang ga berani saya coba, termasuk mayones yang dari baunya juga saya ga berani nyoba hahaha). Ada juga crackers dengan sambel (yang ketika saya coba asem bukan main) dan cokelat (yang ga saya makan, cuman dimasukin ke saku buat dimakan nanti). Ditawarin teh (saya minta tanpa susu, hanya gula) yang ternyata rasanya pahit banget (jauh lebih enak teh celup lah pokoknya -apalagi teh tubruk hehehe).
Mencoba tidur meski ga bisa (entah karena dingin atau posisi duduk yang kurang nyaman). Sekali lagi saya sangat merekomendasikan pake baju hangat double dan bantal duduk (yang bentuknya 'U' dipake di leher).
Alhamdulillah, meski jadwal penerbangan baru akan sampai 11.55 waktu setempat, kami sudah landing pukul 11.45.
Bandara Manchester tak sebesar Dubai tentunya. Bahkan sangat kecil, jika dibanding Dubai atau Soetta. Meski begitu, jalan turun dari pesawat hingga masuk ke terminal cukup jauh juga.
Ohya, ada form yang diberikan pramugari menjelang turun pesawat yang harus diisi. Meski ternyata ketika hendak masuk ke bagian imigrasi form ini disediakan lagi. Form ini berisi data diri yang nanti diberikan kepada petugas imigrasi.
Antrian di bagian imigrasi puanjang buanget. Antrian khusus students. Kami disuruh nyiapin form yang tadi disuruh isi, passport, dan CAS (tertulis juga di banner yang ada di tempat itu). Ketika tiba waktunya menuju loket, si petugas hanya meminta saya menempelkan ibu jari dan jari telunjuk di alat perekam untuk mengambil sidik jari saya, and done. Beberapa orang sempet diajak ngobrol dulu (baca: diinterogasi alias ditanya-tanya) sama petugas, seperti mau kemana, ngapain, ambil program apa, berapa lama, de el el.
Selanjutnya tentunya ngambil koper bagasi. Ga terlalu lama, koper ungu saya pun lewat. Kami bertiga pun beranjak keluar.
Seperti yang sudah diperkirakan, di luar sudah ada tim penjemputan dari University of York, para panitia dengan baju kaos berwarna kuning terang. Karena kami sudah booking penjemputan via web kampus, kami tinggal setor nama dan mereka tinggal cocokkan dengan list nama yang mereka pegang. Kami pun dipandu oleh salah seorang panitia ke sebuah tempat di salah satu sudut bandara tempat panitia lain sudah menunggu. Disediakan minuman dan permen/cokelat, juga kertas stiker berwarna yang ditempel di koper untuk memudahkan pengambilan koper nantinya.
Sekitar pukul 3 sore waktu setempat saya naik bus yang sudah disediakan panitia. Sempat foto di depan bandara selagi menunggu.
Well, cukup untuk perjalanan hingga Manchester ya. Perjalanan Manchester - York akan kembali setelah yang satu ini ^_^
Well, cukup untuk perjalanan hingga Manchester ya. Perjalanan Manchester - York akan kembali setelah yang satu ini ^_^
Wednesday, September 30, 2015
My First International Travel (1)
Alhamdulillah akhirnya bisa mulai nulis lagi...
Saya langsung kontak 2 orang rekan yang barengan berangkat ke York, Iskandar (alias Babeh) dan Nugie. Mereka tiba tak lama kemudian. Kami lalu memutuskan untuk check-in dulu (ngasih koper utk bagasi) dan dapat boarding-pass, baru kemudian keluar lagi untuk pamitan.
Sekitar pukul 10-an, akhirnya saya pamit ke suami dan ibu mertua. Masuk lagi ke Gate 1, dan memulai perjalanan bersama rekan seperjuangan.
Ukuran kursi relatif hampir sama dengan maskapai nasional. Di masing-masing kursi sudah tersedia headset, selimut dan bantal kecil. Di depan masing-masing kursi (ditempel di punggung kursi depan) ada tv dengan ribuan channel plus game.
Biasanya sih favorit penumpang (saya maksudnya :D ) adalah channel film. Tinggal pilih banyak film terbaru, film seri, film anak-anak, film lama juga ada, dari hollywood, bollywood, film-film timur tengah atau eropa juga ada.
Selain itu, ada info tentang perjalanan juga. Di channel informasi tersedia semua info yang kira-kira dibutuhkan penumpang, seperti ketinggian pesawat, jarak tempuh, waktu tempuh, hingga temperatur. Kita juga bisa memilih view/penampakan sisi mana yang ingin kita lihat selama perjalanan. Di bagian-bagian tertentu di luar pesawat dipasang kamera sehingga penumpang bisa melihat langsung kondisinya. Ada yg dipasang tepat dihidung depan pesawat, di roda depan (untuk melihat pemandangan di bawah pesawat), dan di ekor pesawat. Kita bisa memilih view mana yang kita suka. (Ketika take-off dan landing saya lebih suka lihat channel ini. Setelah itu baru nonton film).
Sangat banyak yang sudah terjadi sepekan terakhir. Hari-hari paling mengaduk emosi. Nanti mungkin akan saya ceritakan masa-masa galau itu :D
Tapi sekarang (sebelum lupa detail-detailnya), baiknya saya share dulu cerita perjalanan internasional pertama saya.
Jumat siang, 25 September 2015
Saya masih sibuk dengan bongkar-susun-bongkar-susun koper. Ada aja yang rasanya belum dimasukkan, ada juga yang -ketika dilihat-lihat lagi- harusnya ga perlu-perlu amat untuk dibawa nyebrang lautan. (tentunya karena kapasitas koper yang terbatas. Maskapai hanya mengizinkan berat maksimal untuk bagasi hanya 30 kg). Selain itu, juga baru sadar kalo belum print tiket. Akhirnya siang-siang itu terpaksa keluar lagi untuk print tiket dan beli gembok.
Sore, di rumah udah ngumpul adik-adik saya, ibu mertua, adik ipar, dan ponakan-ponakan. Jam 7 malam itu saya pun pamit ke semuanya. Pamitan, selalu jadi momen yang paling mengharukan. Terutama ke my little Shofi yang... (ah, kalo inget itu saya jadi pengen nangis lagi...)
So, jam 7 lewat taksi datang. Saya say goodbye ke semuanya dan malam itu diantar suami dan ibu mertua, saya berangkat ke bandara.
Jumat malam
Belum jam 9 dan kami sudah sampai Terminal 2D Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng, tempat keberangkatan saya. Saya dan teman-teman naik Emirates, maskapai milik Uni Emirat Arab, yang transit di Dubai (berharap bisa melihat sekilas kota Dubai yang fantastik, meski harus kecewa ga bisa lihat apa-apa dari bandaranya hehehe).
Saya langsung kontak 2 orang rekan yang barengan berangkat ke York, Iskandar (alias Babeh) dan Nugie. Mereka tiba tak lama kemudian. Kami lalu memutuskan untuk check-in dulu (ngasih koper utk bagasi) dan dapat boarding-pass, baru kemudian keluar lagi untuk pamitan.Sekitar pukul 10-an, akhirnya saya pamit ke suami dan ibu mertua. Masuk lagi ke Gate 1, dan memulai perjalanan bersama rekan seperjuangan.
(Mulai dari sini, akan sangat baik kalo passport dan boarding pass dipegang saja hingga ke ruang tunggu. Ga perlu dimasukkan ke tas.)
Oke, pertama, ngasih koper buat bagasi dan dapet boarding pass.
Selanjutnya, loket imigrasi. Seharusnya sebentar saja jika saya ga masukin passport dan boarding-pass ke tas -_-"
Kemudian passport akan dicap sama petugas imigrasi.
Next, jalan lumayan jauh ke Gate B-4 (kalo ga salah). Sebelum masuk Gate, petugas akan meminta lagi passport dan boarding pass. Disini juga saya merasa bodoh karena bawa aqua 2 botol yang akhirnya harus disita petugas karena memang tidak diperbolehkan dibawa ke dalam pesawat.
Jadwal keberangkatan pesawat adalah pukul 00.40 WIB. Sekitar pukul 12 tengah malam, para penumpang sudah diminta untuk masuk ke dalam pesawat. Nah, disini tak perlu siapin passport lagi, cukup boarding-pass-nya aja. Ketika masuk ke pintu pesawat, pramugari akan menanyakan kursi (kita harus menunjukkan boarding-pass) agar dia bisa mengarahkan kita harus lewat ke sebelah mana.
Pesawat Emirates yang saya naiki lumayan besar. Satu deret ada 7 kursi (ABC-DEFG-HJK). Masing-masing 3 kursi dekat jendela dan 4 kursi tengah. Saya dapet kursi F. Agak kecewa sebenernya karena pengennya di deket jendela, tapi untungnya bangku sebelah saya (G) kosong, jadi saya 'menguasai' 2 kursi.
Ukuran kursi relatif hampir sama dengan maskapai nasional. Di masing-masing kursi sudah tersedia headset, selimut dan bantal kecil. Di depan masing-masing kursi (ditempel di punggung kursi depan) ada tv dengan ribuan channel plus game.
Biasanya sih favorit penumpang (saya maksudnya :D ) adalah channel film. Tinggal pilih banyak film terbaru, film seri, film anak-anak, film lama juga ada, dari hollywood, bollywood, film-film timur tengah atau eropa juga ada.
Selain itu, ada info tentang perjalanan juga. Di channel informasi tersedia semua info yang kira-kira dibutuhkan penumpang, seperti ketinggian pesawat, jarak tempuh, waktu tempuh, hingga temperatur. Kita juga bisa memilih view/penampakan sisi mana yang ingin kita lihat selama perjalanan. Di bagian-bagian tertentu di luar pesawat dipasang kamera sehingga penumpang bisa melihat langsung kondisinya. Ada yg dipasang tepat dihidung depan pesawat, di roda depan (untuk melihat pemandangan di bawah pesawat), dan di ekor pesawat. Kita bisa memilih view mana yang kita suka. (Ketika take-off dan landing saya lebih suka lihat channel ini. Setelah itu baru nonton film).
Jika ada pengumuman oleh pilot atau pramugari, layar akan langsung freeze.
Terakhir kali naik pesawat nasional, sebelum pesawat take-off, pramugari akan memeragakan hal-hal terkait keselamatan dalam pesawat. Kali ini, pramugari tinggal berdiri dengan manis di tempatnya masing-masing, dan hal-hal yang perlu diketahui penumpang cukup ditampilkan di layar depan kursi masing-masing. Lebih visual dan informatif (kalo kata saya hehehe).
Ketika pesawat sudah take-off dan pesawat sudah stabil lagi, biasanya pramugari akan membagikan handuk kecil basah. Mereka akan memberikannya 2 kali, setelah take-off dan sebelum landing. Untuk perjalanan Jakarta-Dubai handuk basahnya hangat. Saya menggunakan untuk membasuh wajah, leher, dan tangan. Tak lama pramugari akan mengambil lagi handuk tersebut, jadi jika sudah menggunakan pegang saja atau taruh di tempat yang mudah diambil (jangan dibuang atau disimpan ya :D )
Untuk penerbangan selama 7 jam, saya mendapatkan 2 kali makan. Biasanya akan lengkap, mulai dari appetizers, main course, dan desert, termasuk minuman. Selain itu mereka juga akan menawarkan minuman tambahan berupa teh, kopi, jus, atau air mineral. Ohya, sebelum membagikan makanan, mereka juga membagikan daftar menu yang akan dihidangkan. Hanya bersifat pemberitahuan (jangan bayangkan bisa milih kek di resto ya hehehe...)
Suhu udara selama dipesawat sangat dingin. Meski udah pake pakaian tebal dan jaket, tetep aja kedinginan. Selimut ga terlalu banyak membantu. Makanya saya ga bisa tidur selama perjalanan, meski sudah mencoba beberapa kali. Jadi, mending siapin jaket tebal, kaos kaki tebal, sarung tangan juga boleh. Ohya, bantal kepala juga sangat dianjurkan karena perjalanannya total 18 jam, jadi bawa bantal kepala worthed banget lah (saya ga bawa karena mikirnya ribet dan cuma dipake sebentar. The fact is 18 jam itu ga sebentar sodara-sodara :D )
Keknya tulisannya akan jadi terlalu panjang kalo saya ceritain semua.
Well, segitu dulu ya. Nantikan perjalanan jilid 2 nya ketika saya transit di Dubai dan landed di Manchester :)
Subscribe to:
Posts (Atom)

















