Setelah sebelumnya saya cerita tentang practise essay, kali ini saya pengen cerita tentang (nasib) essays saya, the real version. Maksudnya yang bener-bener dinilai dan menjadi penentu saya lulus atau tidak di term ini.
Essay pertama, saya disuruh memilih satu dari lima pertanyaan dan menjawabnya dalam 5000 kata. Saya kemudian memutuskan memilih pertanyaan tentang implementasi kebijakan, karena saya suka. Saya sudah menemukan jawabannya dan tinggal menuliskannya. Meski sudah practice sebelumnya, tapi menuliskan ide dalam bahasa inggris sungguh sulit bagi saya. Yang lebih sulit lagi (dan ternyata saya memang banyak salah disini) adalah mereferensikan sesuatu. Ketika kita menukil perkataan seseorang, banyak hal yang perlu diperhatikan. Bagaimana meng-quote langsung, bagaimana menuliskan kembali dengan bahasa sendiri alias paraphrase, dan sebagainya. Sebenernya saya lebih pede dengan essay yang ini, tapi dosen penilai menentukan lain.
Essay kedua, tentang perbandingan antarnegara. Jadi saya disuruh membuat kalkulasi atau suatu perhitungan dengan membandingkan keadaan di beberapa negara dan membuat analisa tentang hal tersebut. Topiknya terserah. Dan ini yang membuat saya galau. Saya ga terlalu suka milih ternyata :D hahaha. Ketika saya disuruh milih, malah terlalu banyak pertimbangan akhirnya susah banget untuk mutusin yang mana yang akan diambil. Finally, setelah minta advise dari seorang teman yang sudah menyelesaikan essaynya jauh hari sebelum due date, 4 hari sebelum deadline saya ambil topik tentang anak. Ga begitu pede dengan essay yang ini sebenernya, apalagi diakhir essay ada hipotesis yang 'perlu penelitian lanjutan' karena saya ga bisa ambil kesimpulan.
Well, surprisingly, ternyata begitu nilai keluar, essay kedua saya nilainya jauh diatas nilai essay pertama. Karena banyak kesalahan di referensing dan bad paraphrasing, dan terutama karena paragraf-paragrafnya kek berdiri sendiri alias ga terintegrasi dan ngga ngalir, saya harus rela dikasih nilai slightly diatas batas 'Pass'. But I am very happy though, yang penting pass lah hahaha :D :D :D
Kecewa? Ga juga sih...
Ya tentu saja saya pengen dapet nilai lebih tinggi, tapi harus legowo dengan nilai yang dikasih dosen. Ada banyak pelajaran yang semoga saya ga ulangin lagi di assessment berikutnya...
Nasib anak kost... eh maksudnya nasib student :D :)
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Friday, March 18, 2016
Saturday, November 14, 2015
(Practice) Essay Pertamaku
Di term pertama ini ada practice essay di salah satu mata kuliah yang harus
dikumpulkan di week 6. Setengah relax (toh cuma practice doang inih)
tapi intimidating juga (karena ini tugas bikin essay pertama). Di satu
sisi pengen ga terlalu serius-serius amat, tapi disisi lain ada
keinginan untuk perfect juga.
Ngerjain tugas pertama ini benar-benar membuat tegang. Pertanyaannya sebenernya cukup simpel, kita disuruh memilih 1 dari 3 pilihan dan buktikan kenapa itu yang kita pilih. Tapi ya itu, malah jadi susah, karena kita harus membandingkan ketiga-tiganya untuk membuktikan mana yang terbaik. Bahkan sampe sepekan sebelum deadline, saya masih bingung mau milih mana... hahaha... Meski kurang puas dengan hasilnya, alhamdulillah saya berhasil mengunggah hasil akhir sehari sebelum deadline.
Untuk menyelesaikan essay ini, saya harus membaca banyak sekali buku. Dan trus baru sadar bahwa membaca saja saya sulit hehehe... Pertama, keterbatasan perbendaharaan kata (vocabulary). Tiap kali buka buku, kamus oxford juga harus dibuka. Selain bahasanya yang tingkat tinggi, mereka juga banyak sekali menggunakan terminologi baru (yang ga ada di kamus). Hadeeuuuh...
Membaca satu paragraf saja bisa memakan waktu berjam-jam (karena berkali-kali nyari arti kata-kata yang sulit). Pun setelah selesai membaca, masih belum paham juga maksudnya. Akhirnya paragraf yang sama diulang berkali-kali.Waktu tinggal sedikit sementara buku yang harus dibaca masih banyak banget. Ngga (belum) bisa memisahkan mana yang penting/prioritas mana yang ga begitu penting. Akhirnya harus puas dengan bahan yang apa adanya.
Ketika mengerjakan juga sering seperti yang kehabisan ide. Tiap kali habis nulis selalu melihat sudah berapa kata yang dihasilkan. Baru 300... udah 1000... baru 2000... tinggal 500 kata lagi... masih 300 kata lagi... hadeeeeuh...
Kesalahan saya kemarin adalah ga bikin outline. Ya karena masih bingung tadi makanya bingung juga mau bikin outline yang seperti apa. Tapi yang paling utama adalah karena belum banyak baca. Intinya baca, baca, baca. Kalo ngga baca ya gitu, bingung terus. Semakin banyak yang dibaca kan akan semakin tergambar apa yang mau ditulis. Tapi trus balik lagi, membaca saja saya sulit hehehe...
Mungkin juga karena saya agak memaksakan seperti yang dosen mau. Dia membolehkan kami (misalnya) menjelaskan A, kemudian B, dan terakhir menjelaskan C dan kenapa kita memilih C. Tapi dia juga menyarankan untuk membandingkan masing-masing untuk topik tertentu. Jadi maksudnya, ambil satu topik kemudian banding ketiganya dan jelaskan mengapa C yang paling benar. Pilih lagi topik kedua lalu bandingkan lagi ketiganya, bagaimana argumen A dan B menjadi lemah dan C memberikan teori yang valid. Begitu seterusnya. Setidaknya ada 2 atau 3 topik yang bisa dibandingkan. Nah, saya berusaha membuat essay saya seperti yang diharapkan. Jadinya ya ribet sendiri... hahaha...
Ya, setidaknya jadi tau, pengalaman lah untuk tugas-tugas berikutnya. Berapa waktu yang dibutuhkan untuk menuntaskan essay sekian ribu kata itu, gimana menyiasati kesulitan membaca dan kemudian menuliskannya kembali.
Wish me luck :)
Ngerjain tugas pertama ini benar-benar membuat tegang. Pertanyaannya sebenernya cukup simpel, kita disuruh memilih 1 dari 3 pilihan dan buktikan kenapa itu yang kita pilih. Tapi ya itu, malah jadi susah, karena kita harus membandingkan ketiga-tiganya untuk membuktikan mana yang terbaik. Bahkan sampe sepekan sebelum deadline, saya masih bingung mau milih mana... hahaha... Meski kurang puas dengan hasilnya, alhamdulillah saya berhasil mengunggah hasil akhir sehari sebelum deadline.
Untuk menyelesaikan essay ini, saya harus membaca banyak sekali buku. Dan trus baru sadar bahwa membaca saja saya sulit hehehe... Pertama, keterbatasan perbendaharaan kata (vocabulary). Tiap kali buka buku, kamus oxford juga harus dibuka. Selain bahasanya yang tingkat tinggi, mereka juga banyak sekali menggunakan terminologi baru (yang ga ada di kamus). Hadeeuuuh...
Membaca satu paragraf saja bisa memakan waktu berjam-jam (karena berkali-kali nyari arti kata-kata yang sulit). Pun setelah selesai membaca, masih belum paham juga maksudnya. Akhirnya paragraf yang sama diulang berkali-kali.Waktu tinggal sedikit sementara buku yang harus dibaca masih banyak banget. Ngga (belum) bisa memisahkan mana yang penting/prioritas mana yang ga begitu penting. Akhirnya harus puas dengan bahan yang apa adanya.
Ketika mengerjakan juga sering seperti yang kehabisan ide. Tiap kali habis nulis selalu melihat sudah berapa kata yang dihasilkan. Baru 300... udah 1000... baru 2000... tinggal 500 kata lagi... masih 300 kata lagi... hadeeeeuh...
Kesalahan saya kemarin adalah ga bikin outline. Ya karena masih bingung tadi makanya bingung juga mau bikin outline yang seperti apa. Tapi yang paling utama adalah karena belum banyak baca. Intinya baca, baca, baca. Kalo ngga baca ya gitu, bingung terus. Semakin banyak yang dibaca kan akan semakin tergambar apa yang mau ditulis. Tapi trus balik lagi, membaca saja saya sulit hehehe...
Mungkin juga karena saya agak memaksakan seperti yang dosen mau. Dia membolehkan kami (misalnya) menjelaskan A, kemudian B, dan terakhir menjelaskan C dan kenapa kita memilih C. Tapi dia juga menyarankan untuk membandingkan masing-masing untuk topik tertentu. Jadi maksudnya, ambil satu topik kemudian banding ketiganya dan jelaskan mengapa C yang paling benar. Pilih lagi topik kedua lalu bandingkan lagi ketiganya, bagaimana argumen A dan B menjadi lemah dan C memberikan teori yang valid. Begitu seterusnya. Setidaknya ada 2 atau 3 topik yang bisa dibandingkan. Nah, saya berusaha membuat essay saya seperti yang diharapkan. Jadinya ya ribet sendiri... hahaha...
Ya, setidaknya jadi tau, pengalaman lah untuk tugas-tugas berikutnya. Berapa waktu yang dibutuhkan untuk menuntaskan essay sekian ribu kata itu, gimana menyiasati kesulitan membaca dan kemudian menuliskannya kembali.
Wish me luck :)
Labels:
Inggris,
Kuliah,
My Life,
Pendidikan,
S2,
Study Abroad,
UK,
York
Monday, October 12, 2015
Hari-hari Pertama di York
Tentu saja jalan-jalan... hahaha...
Sabtu nyampe rumah, hari Minggu udah jalan-jalan ke kampus. Kebetulan yang ngajakin mau ke perpustakaan, jadi sekalian diajakin ke beberapa gedung di kampus. Cuacanya dingin banget. Kalo di rumah masih agak mendingan, tapi begitu keluar langsung brrrrr....
Ini salah satu sudut kampus. Gambar diambil dari jembatan penyeberangan yang menuju ke perpustakaan.
Dan ini dia perpustakaan University of York. Ini pintu masuk ke perpus. Sebenernya perpus ada beberapa gedung yang saling tersambung. Yang dibawah ini gedung utamanya.
Sabtu nyampe rumah, hari Minggu udah jalan-jalan ke kampus. Kebetulan yang ngajakin mau ke perpustakaan, jadi sekalian diajakin ke beberapa gedung di kampus. Cuacanya dingin banget. Kalo di rumah masih agak mendingan, tapi begitu keluar langsung brrrrr....
Ini salah satu sudut kampus. Gambar diambil dari jembatan penyeberangan yang menuju ke perpustakaan.
Dan ini dia perpustakaan University of York. Ini pintu masuk ke perpus. Sebenernya perpus ada beberapa gedung yang saling tersambung. Yang dibawah ini gedung utamanya.
Ini rak bukunya
Berikut foto-foto beberapa tempat di kampus.
Di information center
Ini departemen saya ^_^
Di salah satu jembatan di kampus.
Tuesday, November 20, 2012
Standar nilai minimal
Ada banyak pemikiran yang ingin saya tuliskan di blog ini sejak lama, tapi...
Ah, banyak alasan yang bisa saya jabarkan di sini, tapi tak usahlah. Sesungguhnya hanya pembenaran semata demi kemalasan saya menulis kembali. Semoga tulisan pertama setelah sekian lama blog ini hening dari kata-kata menjadi trigger untuk meluncur derasnya tulisan-tulisan selanjutnya....
Aaaamiiiin...
Ada sebuah kegelisahan dalam diri saya kemarin (dulu) ketika menerima rapor si kembar untuk yang pertama kalinya. Berbeda dengan rapor TK-nya yang hanya berisi checklist-checklist pencapaian kemampuan-kemampuan seperti moral, sosial emosional, kognitif, komunikasi, dsb, kali ini sudah ada angka-angka di dalamnya. Semua angka bagus, jika kita mengkategorikan angka 8 dan 9 adalah angka yang bagus. Ya betul, semua angka di rapor si kembar berisi 'hanya' angka 8 dan 9.
Mungkin anda semua bertanya, bukankah seharusnya saya bangga, senang, bahagia, gembira, dengan angka-angka tersebut? Oya, tentu saja saya bangga, bahkan bangga sekali. Apalagi nilai Alifah termasuk yang tinggi di kelasnya. Iffah juga bagus, hanya saja karena dia memang belum lancar membaca, nilainya tidak setinggi Alifah. (Ah, saya pun akhirnya terjebak juga pada hal yang sangat saya hindari itu. Membandingkan)
Well, bukan itu yang ingin saya uraikan di sini. Kegelisahan saya justru muncul ketika saya tak sengaja melirik sekilas nilai teman-temannya yang lain. Ada selembar kertas di meja ibu guru, yang tak sengaja saya lihat. Berisi daftar nilai seluruh mata pelajaran, seluruh siswa, di kelas tersebut. Seharusnya saya tidak melihatnya, bukan konsumsi orang tua murid, tentu saja. Tidak ada yang salah dengan nilai-nilai di situ, semua berisi angka yang 'bagus' itu, angka 8 dan 9. Yang menggelitik saya kemudian adalah, kemana angka selain 8 dan 9. Tidak adakah yang mendapatkan angka 6 dan 7? Apakah semua anak begitu pintarnya? Iya sih, masuk ke sekolah ini ada tes-nya, banyak juga yang ditolak. Tapi apa iya semua anak se-pintar itu?
Dari ngobrol-ngobrol dengan ibu guru, saya pun kemudian mengetahui bahwa ada semacam standar penilaian yang diberikan oleh entah siapa (ah, saya lupa menanyakan hal ini. Yang jelas dari pihak yang berwenang memberikan kebijakan pendidikan di semua sekolah, entah itu regional atau nasional), bahwa batas nilai minimal -yang saya juga lupa istilahnya- adalah 7,5. Jadi, jika ketika ulangan harian atau ujian seorang anak memperoleh nilai dibawah 7,5, maka guru akan melakukan remedial (pengulangan). Nilai ulangan yang pertama dan kedua akan dijumlahkan dan kemudian dibagi 2, dengan batas nilai tertinggi adalah 7,5. (meskipun misalnya setelah dirata-rata ternyata nilainya diatas 7,5, maka nilai yang akan diperoleh adalah tetap 7,5. Untuk menjaga keadilan bagi teman-teman yang sudah duluan memperoleh nilai 7,5 dan tidak ikut remedial, begitu kata gurunya).
Ketika jaman saya sekolah dulu, nilai 6, 7, bahkan 5 adalah angka yang biasa muncul di rapor saya dan teman-teman. Batas nilai ketika itu adalah 5 (mungkin) atau 5,5. Jika kita mendapat nilai 5,6 maka masih selamat, masih bisa naik kelas. Tapi sekarang? Bahkan nilai 7 pun, sudah dikatakan rendah.
Ada pergeseran nilai tentang 'nilai'. Entah ini masalah psikologis atau apa saya tidak paham. Sesungguhnya bukan masalah angka 8 dan 9 yang saya permasalahkan. Jika ada target yang begitu tingginya, saya bisa bayangkan -jika saya menjadi ibu guru- maka saya akan berusaha -bagaimanapun caranya- agar nilai anak-anak didik saya berada diatas batas minimal itu. Apalagi jika nilai ini kemudian menjadi salah satu materi penilaian sekolah secara keseluruhan (sekolah akan dinilai bagus jika nilai rapornya sekian-sekian, jika tingkat kelulusan 100%, dst)
Ada banyak cara yang bisa saya lakukan. Mungkin saya akan membuat soal-soal yang mudah bagi anak-anak didik saya, sehingga nilai mereka akan menjadi tinggi. Atau saya akan menurunkan standar penilaian, seperti misalnya untuk jawaban yang 'mendekati' akan saya benarkan. Atau dengan mengkatrol nilai. Atau cara-cara lain, yang tidak berani saya bayangkan. Hal ini membuat saya gelisah... (ah, mungkin saya yang terlalu ber-su'uzon)
Belum lagi kegelisahan saya tentang beban pelajaran yang harus mereka ikuti setiap hari (jangankan beratnya beban pelajaran, beratnya tas sekolah mereka saja minta ampun. Saya bawa tas seberat itu baru ketika SMA.Sehari anak kelas 1 SD sudah dibebani dengan 5-6 mata pelajaran dengan buku cetak yang besar dan berat)
Ah, mungkin ini hanya kegelisahan saya. Toh mereka (kelihatannya) mereka enjoy-enjoy saja...
Mungkin ini hanya kegelisahan saya, karena saya tidak mengetahui mengapa dan bagaimana kebijakan standar nilai minimal ini dibuat. Ah, semoga ibu guru di sekolah masih memiliki tujuan pendidikan selain menuliskan nilai-nilai yang tinggi di rapor anak-anak...
Ah, banyak alasan yang bisa saya jabarkan di sini, tapi tak usahlah. Sesungguhnya hanya pembenaran semata demi kemalasan saya menulis kembali. Semoga tulisan pertama setelah sekian lama blog ini hening dari kata-kata menjadi trigger untuk meluncur derasnya tulisan-tulisan selanjutnya....
Aaaamiiiin...
Ada sebuah kegelisahan dalam diri saya kemarin (dulu) ketika menerima rapor si kembar untuk yang pertama kalinya. Berbeda dengan rapor TK-nya yang hanya berisi checklist-checklist pencapaian kemampuan-kemampuan seperti moral, sosial emosional, kognitif, komunikasi, dsb, kali ini sudah ada angka-angka di dalamnya. Semua angka bagus, jika kita mengkategorikan angka 8 dan 9 adalah angka yang bagus. Ya betul, semua angka di rapor si kembar berisi 'hanya' angka 8 dan 9.
Mungkin anda semua bertanya, bukankah seharusnya saya bangga, senang, bahagia, gembira, dengan angka-angka tersebut? Oya, tentu saja saya bangga, bahkan bangga sekali. Apalagi nilai Alifah termasuk yang tinggi di kelasnya. Iffah juga bagus, hanya saja karena dia memang belum lancar membaca, nilainya tidak setinggi Alifah. (Ah, saya pun akhirnya terjebak juga pada hal yang sangat saya hindari itu. Membandingkan)
Well, bukan itu yang ingin saya uraikan di sini. Kegelisahan saya justru muncul ketika saya tak sengaja melirik sekilas nilai teman-temannya yang lain. Ada selembar kertas di meja ibu guru, yang tak sengaja saya lihat. Berisi daftar nilai seluruh mata pelajaran, seluruh siswa, di kelas tersebut. Seharusnya saya tidak melihatnya, bukan konsumsi orang tua murid, tentu saja. Tidak ada yang salah dengan nilai-nilai di situ, semua berisi angka yang 'bagus' itu, angka 8 dan 9. Yang menggelitik saya kemudian adalah, kemana angka selain 8 dan 9. Tidak adakah yang mendapatkan angka 6 dan 7? Apakah semua anak begitu pintarnya? Iya sih, masuk ke sekolah ini ada tes-nya, banyak juga yang ditolak. Tapi apa iya semua anak se-pintar itu?
Dari ngobrol-ngobrol dengan ibu guru, saya pun kemudian mengetahui bahwa ada semacam standar penilaian yang diberikan oleh entah siapa (ah, saya lupa menanyakan hal ini. Yang jelas dari pihak yang berwenang memberikan kebijakan pendidikan di semua sekolah, entah itu regional atau nasional), bahwa batas nilai minimal -yang saya juga lupa istilahnya- adalah 7,5. Jadi, jika ketika ulangan harian atau ujian seorang anak memperoleh nilai dibawah 7,5, maka guru akan melakukan remedial (pengulangan). Nilai ulangan yang pertama dan kedua akan dijumlahkan dan kemudian dibagi 2, dengan batas nilai tertinggi adalah 7,5. (meskipun misalnya setelah dirata-rata ternyata nilainya diatas 7,5, maka nilai yang akan diperoleh adalah tetap 7,5. Untuk menjaga keadilan bagi teman-teman yang sudah duluan memperoleh nilai 7,5 dan tidak ikut remedial, begitu kata gurunya).
Ketika jaman saya sekolah dulu, nilai 6, 7, bahkan 5 adalah angka yang biasa muncul di rapor saya dan teman-teman. Batas nilai ketika itu adalah 5 (mungkin) atau 5,5. Jika kita mendapat nilai 5,6 maka masih selamat, masih bisa naik kelas. Tapi sekarang? Bahkan nilai 7 pun, sudah dikatakan rendah.
Ada pergeseran nilai tentang 'nilai'. Entah ini masalah psikologis atau apa saya tidak paham. Sesungguhnya bukan masalah angka 8 dan 9 yang saya permasalahkan. Jika ada target yang begitu tingginya, saya bisa bayangkan -jika saya menjadi ibu guru- maka saya akan berusaha -bagaimanapun caranya- agar nilai anak-anak didik saya berada diatas batas minimal itu. Apalagi jika nilai ini kemudian menjadi salah satu materi penilaian sekolah secara keseluruhan (sekolah akan dinilai bagus jika nilai rapornya sekian-sekian, jika tingkat kelulusan 100%, dst)
Ada banyak cara yang bisa saya lakukan. Mungkin saya akan membuat soal-soal yang mudah bagi anak-anak didik saya, sehingga nilai mereka akan menjadi tinggi. Atau saya akan menurunkan standar penilaian, seperti misalnya untuk jawaban yang 'mendekati' akan saya benarkan. Atau dengan mengkatrol nilai. Atau cara-cara lain, yang tidak berani saya bayangkan. Hal ini membuat saya gelisah... (ah, mungkin saya yang terlalu ber-su'uzon)
Belum lagi kegelisahan saya tentang beban pelajaran yang harus mereka ikuti setiap hari (jangankan beratnya beban pelajaran, beratnya tas sekolah mereka saja minta ampun. Saya bawa tas seberat itu baru ketika SMA.Sehari anak kelas 1 SD sudah dibebani dengan 5-6 mata pelajaran dengan buku cetak yang besar dan berat)
Ah, mungkin ini hanya kegelisahan saya. Toh mereka (kelihatannya) mereka enjoy-enjoy saja...
Mungkin ini hanya kegelisahan saya, karena saya tidak mengetahui mengapa dan bagaimana kebijakan standar nilai minimal ini dibuat. Ah, semoga ibu guru di sekolah masih memiliki tujuan pendidikan selain menuliskan nilai-nilai yang tinggi di rapor anak-anak...
Subscribe to:
Posts (Atom)







