Showing posts with label My Thought. Show all posts
Showing posts with label My Thought. Show all posts

Monday, January 2, 2017

Resolusi 2017?

Banyak berseliweran di wall facebook saya beberapa teman dan kenalan yang menuliskan resolusi 2017-nya seiring dimulainya hari pertama di tahun yang baru ini. Perlukah menuliskan resolusi?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, resolusi berarti putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal. Entah kenapa kata 'resolusi' kemudian sering digunakan ketika momentum tahun baru-an tiba, dengan embel-embel 'angka tahun' dibelakangnya.

Bagi saya menuliskan cita, mimpi, asa, sudah saya lakukan semenjak saya masih gadis. Sebagai seorang koleris melankolis yang teratur, saya biasa menuliskan dengan rapi apa saja (meski kebiasaan ini luruh ketika menikah dengan suami plegmatis yang 'ngalir aja' hehehe). Saya selalu punya agenda, dulu malah menyengaja membeli agenda yang bagus dan mahal. Ketika menikah, saya mengajak suami untuk menuliskan mimpi kami dalam sebuah buku khusus. Cita itu pun tidak lagi mimpi pribadi yang diperjuangkan sendiri. Mimpi itu menjadi mimpi kami, mimpi keluarga.

Di awal pernikahan kami menuliskan visi dan misi keluarga hingga action apa yang diperlukan untuk meraih mimpi itu. Buku mimpi ini kami revisi seiring waktu. Anak-anak yang dititipkan kepada kami, termasuk asisten rumah tangga yang ikut tinggal bersama kami pun menjadi bagian dalam hal-hal yang ingin kami raih.

Saya lupa tepatnya kapan. Sebenarnya saya biasa menuliskan mimpi, target, harapan sejak lama. Tapi kebiasaan menuliskan dengan detail setiap mimpi ini bermula ketika saya membaca buku Chicken Soup for the Soul versi meraih mimpi yang ini:

Saya tahu covernya tak semenarik buku-buku Chicken Soup versi lain, tapi isinya sungguh menginspirasi saya. Banyak kisah-kisah sukses orang-orang yang mimpinya terwujud dan yang lebih kerennya lagi, penulisnya merangkumkan untuk kita tips-tips, langkah demi langkah, bagaimana bisa berhasil meraih mimpi sebagaimana orang-orang yang sharing di buku tersebut. Buku ini sangat saya rekomendasikan sekali, highly recommended book. Keren banget!

Hidup dan sekolah di luar negeri juga adalah mimpi yang saya dan suami tuliskan di buku mimpi kami bertahun-tahun yang lalu. And now here we are...

Sangat menakjubkan ketika membuka lagi buku itu, ketika kita pada akhirnya berhasil meraih satu persatu apa yang kita citakan dahulu. Impian yang -saya masih ingat perasaan yang saya rasakan ketika menuliskannya- tampak mustahil, seperti bunga tidur yang kemudian lenyap ketika terbangun di pagi hari. Tapi ternyata Allah swt menjadikan mimpi itu hal yang baik dan dengan kehendakNya kami bisa menghirup dinginnya udara musim dingin di York, UK, ribuan kilometer jauhnya dari kampung halaman.

So, kembali ke resolusi 2017, perlukah?

Yup, menurut saya perlu sekali. Meskipun saya sendiri lebih memilih momentum hari lahir yang lebih personal dan private untuk mimpi personal saya, atau hari pernikahan untuk cita-cita keluarga. Di momen itu saya (atau kami) mereview kembali mana mimpi yang sudah dan belum terwujud, merevisi mimpi, membuat mimpi-mimpi baru, untuk anggota baru misalnya (harapan kami untuk si bungsu belum sempat kami tuliskan hehehe..), dan lain-lain. Apapun momentum yang kamu pilih, misalnya tahun baru ini, silakan menuliskan apa saja target, mimpi, cita, dan harapan (apapun namanya) untuk dirimu, keluarga, anak-anak, bahkan bangsa dan negara juga bisa (apa yang kamu bisa lakukan untuk itu).

Resolusi 2017 saya?
Banyaaaaaak...  :D

Ohya, satu lagi, tak perlu membandingkan mimpi kita dengan mimpi orang lain, capaian kita dengan capaian orang lain. Orang yang merugi adalah orang yang hari ini lebih buruk atau sama saja dengan hari kemarin, bukan lebih buruk dari orang lain. Tiap orang punya passion dan kelebihan masing-masing, bidang dimana kita bisa memberi manfaat untuk orang banyak yang berbeda-beda. Silakan mengambil pelajaran atau terinspirasi atas kesuksesan orang lain, tapi pastikan itu benar-benar mimpimu :)

Monday, March 30, 2015

Ekstrovert vs Introvert

Saya pikir, saya adalah seorang ekstrovert.

Saya bukan orang yang tertutup. Saya cukup senang berada di dekat orang banyak, meski saya tidak begitu supel. Saya bukan orang yang duduk di pojokan dan pendiam. 
Saya juga ga merasa punya rahasia yang saya simpan sendiri (saya selalu punya teman untuk berbagi).
Saya terbuka, senang berdiskusi (dan juga berdebat), senang berbagi info, membicarakan sesuatu dengan orang lain, kumpul-kumpul dengan teman, dan senang ngobrol.
Saya pikir saya ekstrovert.

Sampai pekan kemarin saya ikut sebuah presentasi tentang kepribadian, dan saya baru menyadari.

Saya mandiri. Teman-teman kuliah saya dulu pernah menjuluki saya "Independent Woman." Entah insiden apa yang membuat saya dapat julukan itu, saya lupa. Dan salah satu ciri orang introvert -menurut pembicaranya ketika itu- adalah independent. Karena orang introvert tak butuh orang lain untuk dimintai tolong, dia mampu dan dapat mengerjakan sesuatu sendiri, tanpa pertolongan orang lain. 
Kemudian saya teringat kalau saya memang senang kemana-mana sendiri. Pergi ke pasar, ke mall, membeli buku, atau kegiatan-kegiatan yang seharusnya dilakukan orang ekstrovert bersama orang lain atau beramai-ramai. Saya senang mendiskusikan sesuatu tapi saya lebih tidak suka membiarkan orang lain menunggu saya memilih barang-barang. Ya, saya senang kemana-mana sendiri, lebih bebas.

Saya suka bertemu dan ngobrol dengan teman-teman, tapi tidak dengan banyak orang. Satu atau dua orang mungkin sudah cukup banyak buat saya untuk saya ceritakan semua rahasia saya. Saya memang tidak punya terlalu banyak teman akrab tapi saya masih sanggup menyebutkan satu persatu teman-teman akrab saya mulai dari kelas 1 SD hingga sekarang. Satu tanda introvert lainnya...

Tidak senang basa-basi, ternyata juga tanda introvert. Ya, masuk akal. Berteman dengan banyak orang akan menyebabkan kita harus sering berbasa-basi.

Hobi saya? Membaca dan nonton film. Hal yang lebih nikmat dilakukan sendiri, meski setelahnya saya senang mendiskusikan isi buku atau film itu bersama orang lain. Jenis/genre yang saya sukai juga yang "mikir" (seperti science fiction, thriller, atau serial detektif), bukan yang lucu dan ringan... Katanya itu juga tanda introvert.

Tidak ekspresif mungkin hal yang paling mendasar. Saya bukan orang yang menyimpan kebahagiaan dalam hati saya sendiri, tapi saya juga bukan orang yang berteriak keras ketika terkejut atau terlalu senang. Jika orang ekstrovert itu panikan, maka saya tidak. Saya masih bisa berpikir ketika situasi darurat.

Well, ternyata selama ini saya salah menilai diri saya. Mungkin saya tidak sepenuhnya introvert, ada sisi ekstrovert juga dalam diri saya. Tapi sudah jelas bahwa saya dominan introvert.

Bukan masalah mana yang lebih baik dari mana. Hanya menyelami diri sendiri saja.
Bahkan setelah 33 tahun hidup dalam tubuh ini, saya masih bisa salah mengenali diri saya sendiri... hehehe...
Menarik bukan?

Sudah Anda mengenali diri Anda sendiri?


30 Maret 2015
Kontemplasi setelah tes kepribadian yang mencerahkan





Friday, September 7, 2012

Ulat

Barusan saya masak sayur sup (atau sup sayuran?). Dengan kentang, wortel (tentu saja), buncis, dan kembang kol, lengkap dengan irisan bakso biar enak dikit. Waktu lagi motong kembang kol, tiba-tiba ngelihat seekor ulat yang lumayan besar, dan masih hidup. Untungnya saya bukan tipe ibu-ibu yang takut ulat (hehe...) jadi ulatnya tinggal dimasukin ke tempat sampah pake ujung pisau.

Biasanya ketika menemukan hal yang tidak diinginkan, misalnya ulat dalam sayur, kita langsung melihat sayur menjadi jelek. Ulat memang bukan yang kita harapkan ada di sayur yang akan kita olah. Tapi setidaknya kita kemudian jadi tahu, bahwa sayur ini memiliki kadar racun pestisida yang kecil bahkan mungkin tidak ada (setidaknya masih dapat ditolerir oleh si ulat). Kalo ga ada ulat, bisa jadi pestisidanya udah kebanyakan sampe ulat pun ga bisa nemplok di sayurnya.

Juga ketika misalnya anak kita deket banget sama pembantu. Kebanyakan ibu bekerja, yang otomatis punya waktu yang terbatas, sering merasa sangat cemburu kepada pembantu yang memang sehari-hari bersama anak-anak. Menjadi yang pertama kali datang ketika ia menangis, mengurusi semua kebutuhannya, dsb. Pastilah tidak ada ibu yang suka dengan keadaan ini.

Tapi jika kita lihat lebih jauh, seharusnya kita bersyukur punya pembantu seperti itu. Pembantu yang sungguh-sungguh menyayangi anak-anak kita seperti anak/adiknya sendiri. Pembantu yang dapat kita amanahkan kepadanya anak-anak kita, yang dapat kita titipkan tanpa rasa waswas. Seharusnya kita menjaga hubungan baik dengannya, bukannya malah kemudian sering memarahinya karena rasa cemburu itu. Tinggal si ibu yang harus memperbaiki hubungan dengan anaknya sendiri. Meski tidak dapat menggantikan kuantitas kebersamaan, setidaknya anak merasakan kehadiran kita kapanpun, meski kita tidak bersamanya. Misalnya dengan menelponnya ketika di kantor, membacakan dongeng ketika akan tidur, dll...

Kadang kita salah memandang suatu masalah. Mungkin karena ketidakpahaman kita, ilmu yang kurang, atau karena assimetric information, memandang dari 'kacamata' yang sempit. Belajarlah dari pengalaman, jangan malas mencari ilmu, dan dewasalah.

Wallahu a'lam...

Apresiasi

Salah satu acara yang paling sering saya tonton belakangan adalah Zona Juara di MNC tv (eks TPI). Hampir tiap hari pukul 16.30. Aslinya sih acaranya TV Champion dari Jepang. Isinya tentang semua kejuaraan, perlombaan, yang diselenggarakan oleh tv chamion tersebut. Mulai dari lomba masak, membuat kue, istana pasir, patung es, patung lilin, keramik, kaca, gerabah, tanah liat, membuat replika, keterampilan dari balon, menyusun balok, mengingat sesuatu, cepet-cepetan membuat sekian porsi mie, sushi, dll, hampir semua jenis keterampilan/kemampuan yang dimiliki manusia.

Saya kagum dengan bagaimana orang jepang mengapresiasi kemampuan apapun, bahkan mungkin yang paling ngga penting menurut orang banyak sekalipun (misalnya menyusun 2000-an dadu kecil ukuran 5x5x5mm menjadi piramida yang tinggi).

Saya juga pernah mengagumi bagaimana orang barat/amerika mengapresiasi sesuatu. Ketika menonton Oprah misalnya. Begitu besarnya apresiasi terhadap hal-hal yang menurut kita -mungkin- kecil. Tepuk tangan, 'wow', 'amazing', bahkan standing aplause sering diberikan untuk hal-hal yang kecil itu. Di supermarket merek 'luar' (jika kita memperhatikan) akan kita lihat pengumuman "Best .... of the month" dengan foto seorang pegawai terpampang besar.

Ucapan 'terimakasih' misalnya. Orang indonesia jarang sekali melakukan hal ini. Setelah mengisi bensin, di supermarket, di bank, siapa yang berterimakasih? Pasti pelayannya, mungkin karena mereka dipaksa untuk demikian atas nama pelayanan prima. Tapi pernahkan si custumer berterimakasih kepada 'pelayan-pelayan' itu? Sepertinya masih jarang.

Jarang juga ditemui penghargaan-penghargaan atas apa yang telah dilakukan dengan baik. Jika seseorang berlaku baik, maka memang sudah seharusnya ia begitu. Tapi ketika ia melakukan kesalahan, jangan harap akan ada toleransi.

Di kantor misalnya. Kalo telat/ga masuk, potong gaji. Melanggar peraturan/kode etik, PP 30. Apalagi kalo ada yang sampe komplain terhadap apa yang kita sudah kerjakan, hmmm... tinggal tunggu ditegur atasan.
Pernahkah menerima penghargaan ketika tak pernah terlambat? Ketika bekerja profesional? ketika berhasil memuaskan wajib pajak atas pelayanan kita?
Mungkin jarang (kalo tidak boleh disebut tidak pernah). Karena itu memang tugas kita, dan untuk itu kita digaji.

Ketika anak nurut, patuh, bersikap baik, kita jarang mengapresiasi keberhasilannya. Tapi ketika dia rewel, tak patuh, maka kita langsung meradang, mengucapkan kata-kata yang mengkerdilkan ia, hukuman pun jatuh. Tak pernah ingat bagaimana ia merapikan mainannya sendiri, ketika ia menurut ketika disuruh bobo siang, ketika ia menghabiskan makanannya, dll...

Otak kita begitu cepat menangkap kesalahan, tidak secepat kita menangkap kebaikan.

Mengapresiasi memang belom biasa kita lakukan. Maka asahlah kepekaan terhadap hal-hal yang baik. Tidak ada lagi 'karena nila setitik rusak susu sebelanga'.

Mari kita hargai, apresiasi kerja-kerja orang lain, meski itu kecil. Belajar untuk terus mengingat kebaikan-kebaikannya ketika ia bersalah.

Wallahu a'lam.

Thursday, September 6, 2012

Maka Lepaskanlah

Alkisah, adalah seekor kera yang begitu tergiur melihat setoples kacang. Dengan asumsi si toples dalam keadaan terbuka, si kera pun segera memasukkan tangannya ke dalam toples yang pas sekali seukuran tangannya.

Dia pun mengambil satu biji untuk mencoba. Wah, ternyata enak sekali! Dia pun dengan semangat memasukkan kembali tangannya untuk mengambil sebanyak-banyaknya kacang dalam genggamannya.

Namun apa yang terjadi? Tangannya tidak bisa dikeluarkan! Genggamannya terlalu besar untuk bisa melewati mulut toples. Dan satu-satunya cara untuk bisa keluar adalah... dengan melepaskan genggamannya, melepaskan kacang-kacang menggiurkan, atau dia tidak akan dapat mengeluarkan tangannya apalagi menikmati kacangnya.

Ya, ini hanya cerita berhikmah. Mohon maaf jika redaksinya tidak begitu menarik :) Semoga hikmahnya bisa diambil.

Kadang untuk bisa melewati kesulitan, kita harus melepaskannya. Maka lepaskanlah, agar bisa lega.

Belakangan saya sedang merasa terkungkung oleh sesuatu. Punya keinginan yang besar, tapi saya harus bekerja sama dengan orang lain untuk mewujudkannya, tidak bisa sendiri. Dan ternyata menggambarkan visi kepada oranglain tidaklah mudah. Ketika saya begitu bersemangat ingin begini begitu, ternyata oranglain tidak, kemudian saya menjadi kecewa.

Maka saya harus melepaskannya. Membiarkan orang lain bekerja sebagaimana mereka mau. Saya sudah melakukan yang harus saya lakukan. Then let them do their best. Nanti tinggal mengapresiasi dan menghargai apapun hasilnya...

Mungkin saya yang terlalu 'ikut campur'... hehehe...

Saatnya untuk melepaskan ^_^

(sebenernya cerita di atas sering dipake untuk tema 'memaafkan', tapi gapapa lah, masih nyambung kayaknya)

Ketika jaman berganti

Ya, jaman telah berganti.
Waktu berjalan tak peduli kita berhenti, jalan di tempat, atau mundur.
Seringnya kita baru tersadar ketika ia meninggalkan kita, 
karena waktu tak pernah menunggu.

Ya, jaman berganti.
Banyak yang berubah...
Semua berubah.

Dulu, jaman saya kuliah, telepon seluler masih barang mewah. Cuma orang-orang mampu yang punya HP. Ga ada tuh yang namanya jarkom. Kelas juga ga pernah pindah, kalo dapet kelas itu ya pasti akan disitu terus. Kalo dosen ga dateng ya kecele sama-sama. Dulu taman CD masih jadi tempat nongkrong satu kelas, kalo dosen ga dateng langsung pada main bola. Pagi hingga siang hampir tak pernah kosong taman CD oleh mahasiswa yang main sepak bola. Sekarang? Belum pernah liat ada yang main bola di taman CD....

Dulu internet masih 'barang baru', sampe-sampe waktu Dinamika disuruh bikin email sendiri. Untuk pertama kalinya bikin email gara-gara tugas Dinamika. Diajarin chatting juga beberapa hari setelah hari-hari pertama masuk kuliah. Belum ada Facebook, twitter, blog, dimana ikhwan-akhwat bisa narsis dan komen-komen-an tanpa batas (kecuali malu). Ah, tentu saja setiap fasilitas dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemaslahatan atau juga kemudharatan, tinggal bagaimana yang menggunakan...

Mengingat kembali ketika pertama kali masuk STAN. Rambut yang masih terurai dengan celana panjang dan sepatu kets masuk ke kampus bertemu mba-mba yang jilbabnya lebar-lebar. Satu angkatan mahasiswinya tidak sampai 30 orang (semua spesialisasi).... hehe, lagi membayangkan harap-harap cemas mba-mba panitia menunggu adik kelasnya yang tidak datang-datang. Cuma 3 orang (kalo ga salah) yang pake jilbab, itu juga pendek. Belum ada yang sudah tarbiyah sebelumnya.Terbayang kebingungan kakak kelas gimana beratnya melakukan kaderisasi agar tongkat estafet da'wah dapat diberikan tepat pada waktunya...

Sekarang? Bahagia juga ketika menyaksikan keberhasilan da'wah di seluruh pelosok Indonesia sehingga memberikan aktivis-aktivis da'wah 'siap terjun' alias 'udah jadi' kepada STAN. Mereka masih muda sekali. Malu kalau membandingkan diri ini ketika masih seusia mereka... 'Ala kulli hal, selalu bersyukur menjadi seperti sekarang. Setidaknya saya lebih baik dari yang kemarin. InsyaAllah...

Banyak yang berubah, ya tentu saja semua berubah kecuali satu, ya perubahan itu sendiri.
InsyaAllah berubah ke arah yang lebih baik. Meski ada 'rasa yang berbeda' di banyak hal. Entah mungkin karena saya yang kolot dan tidak mau menerima perubahan itu sendiri. Wallahu a'lam.

Semoga kita selalu dapat beradaptasi dengan berubahan, dengan tetap mempertahankan prinsip-prinsip yang tentunya masih sama, tujuan yang sama, cuma mungkin caranya yang berbeda.

Ringankan yang Ringan, Mudahkan yang Mudah

Seorang ibu sedang hamil 8 minggu (masih trimester 1), dan ia bertekad terus berpuasa meski apa yang dimakan terus keluar (mual dan muntah)...

Ibu lainnya sedang menyusui anaknya yang belum lagi genap 4 bulan (masih ASI eksklusif), dan juga begitu bersemangat menyambut Ramadhan dengan terus berpuasa meski dengan begitu ia harus memberikan anaknya susu tambahan, meski dia sendiri mengakui ASInya berkurang bahkan anaknya diare ketika meminum ASI-sore hari-nya yang ia paksakan untuk ikut berpuasa Ramadhan.

Saya tidak menyangsikan semangat ibu-ibu ini yang begitu gembira menyambut Ramadhan, bulan penuh berkah ini, sehingga disambut dengan sukacita. Pastinya mereka berharap dengan keberkahan Ramadhan, insyaAllah akan membawa keberkahan dan anugrah juga untuk janin/bayi mereka.

Afwan, saya berpendapat lain.

Allah memberikan kemudahan, rukhsah, untuk ibu hamil dan menyusui ini. Mereka dapat berbuka dan kemudian membayar fidyah sebanyak hari yang ditinggalkan. Begitu menurut jumhur ulama, dalam buku Fiqh Puasa-nya Yusuf Qardhawy.

Maka ambillah kemudahan dari Allah tersebut, sesungguhnya Allah lebih menyukainya.

"Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu." (Al Baqarah:185)

"Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan."(Al-Hajj:78)

Juga sabda Rasulullah SAW,"Sesungguhnya agama itu mudah, dan tidaklah seseorang mempersulit diri dalam agama kecuali agama akan mengalahkannya."

"Permudahlah jangan kalian persulit, berilah kabar gembira dan janganlah membuat orang lari."

Atau Aisyah berkata saat menyifati sikap Rasulullah,"Tidaklah Rasulullah diberi dua pilihan kecuali dia memilih yang paling mudah diantaranya selama itu tidak mengandung dosa."

Maka sebaiknya lah juga kita mengambil kemudahan itu. Wallahu a'lam.

Teko yang Kosong

Sebuah teko merasa dirinya kosong. Di sisinya ada gelas-gelas yang siap diisi.

Namun si teko merasa tak bisa, tidak pantas, mengisi gelas-gelas yang kehausan minta diisi.

"Teko yang kosong mana mungkin bisa mengisi gelas?" dalihnya ketika ditanya kenapa gelas-gelas itu tidak diisi.

Ah, teko, jika merasa kosong, kenapa tidak diisi saja?

Menjadi teko mungkin sebuah konsekuensi. Merupakan tugasnya untuk mengisi gelas-gelas. Apa jadinya kalau teko tak mau menjalankan tugasnya?

Bisa saja gelas-gelas disisinya akhirnya diisi teko-teko lain yang ada isinya.

Ah, dari tadi ngomongin teko. Sebenernya saya hanya mau meng-analogi-kan teko dengan diri kita sendiri.

Ketika kita menolak untuk memberi, yang dalam hal ini, menolak untuk "membina", dengan alasan 'teko yang kosong tidak bisa mengisi gelas', maka saya kira jawabannya adalah 'kenapa tidak diisi saja tekonya?'

Sampai kapan kita akan menghindar dari tugas ini? Karena dalam tarbiyah, mengisi dan diisi adalah proses berkesinambungan, lingkaran yang tak pernah putus.

Kader yang baik adalah kader yang bisa menghasilkan kader-kader baru.
Murabbi yang baik adalah murabbi yang bisa menghasilkan murabbi-murabbi baru.
Sebuah halaqoh dikatakan muntijah, apabila mereka mampu menghasilkan halaqoh-halaqoh muntijah baru.
Dikatakan paham kita terhadap sesuatu, apabila kita bisa memahamkan orang lain.

Tidakkah kita merasa ilmu yang kita dapat juga bermanfaat bagi orang lain?
Tidakkah kita ingin orang lain merasakan indahnya Iman dan Islam sebagaimana yang kita rasakan?
Tidakkah kita merindukan syurga yang Allah janjikan jika hidayah Allah mengalir lewat kerja, kata-kata, dan tindakan kita?

Ah, pisau yang tajam hanya pisau yang sering diasah, saudaraku...
Maka asahlah pisau itu selalu, jika tidak maka sungguh, ia akan cepat berkarat.

Janganlah takut membina, jangan pernah merasa tidak pantas (baca:sempurna), karena sesungguhnya tidak ada yang pantas kecuali murabbi kita yang mulia, Rasulullah SAW.

"Sampaikanlah, meskipun satu ayat"

Mari kita isi teko-teko kita, kemudian mari kita isi gelas-gelas disekitar kita.
Bismillah...

dan biarkan hidayah menjadi urusan Allah semata...

Akhirnya, tentang Gayus

(Tulisan ini dibuat pertengahan 2010 ketika kasus Gayus mengemuka)

Setelah memutuskan untuk 'diam' tidak bicara tentang kasus Gayus di blog ini, akhirnya saya memutuskan untuk berpendapat.

Sejak pertama kali masuk instansi besar ini, Ditjen Pajak, saya tau langkah saya akan berat. Tapi sejak awal juga saya yakin saya akan bisa 'bertahan', tentunya dengan bekal dan pertolongan serta penjagaan dari Allah tempat saya bergantung.

Bahagia tak tertahankan ketika tau bahwa instansi ini sedang 'berubah'. Mulai dari tahun 2000 ketika LTO terbentuk, kantor khusus yang kemudian menjadi dambaan sebagian pegawai DJP yang masih punya integrasi dan itu jumlahnya -menurut saya- sangat besar, terbukti ketika dibuka lowongan menjadi AR yang akan ditempatkan di kantor-kantor 'besar' dan 'madya' yang jujur namun di'harga'i lebih, ada banyak sekali pegawai yang mendaftar. Saya tau tidak semua suka perubahan ini. Sebagian yang tidak suka itu mengeluh tidak lagi bisa mencari penghasilan 'tambahan' dari WP. Merekalah -mungkin- yang kemudian mencari celah agar tetap bisa 'hidup'. Yang salah satunya adalah mas Gayus ini.

Reformasi birokrasi digaungkan dimana-mana. Blue Print reformasi sudah dibuat sampai 10 tahun kedepan bahkan lebih. Betapa pajak bersikeras mengatakan bahwa 'kami tidak seperti yang dulu'. Iklan, juga proses bisnis, dan pelayanan di kantor-kantor pelayanan, semua mengatakan bahwa pajak benar-benar sudah berubah. Kerja keras ini tidaklah ringan. Ketika kontibusi pajak masyarakat memiliki porsi yang sangat besar dalam APBN, maka rakyat pun lebih kritis dan benar-benar mengawasi pajak. Pajak terus meyakinkan bahwa ia telah berubah.

Usaha keras ini langsung seperti tak berarti ketika kasus Gayus mengemuka. Tadinya saya agak tak acuh, merasa masyarakat sudah lebih 'bijak', lebih cerdas, tak akan menyalahkan satu instansi karena kesalahan satu orang. Ternyata saya salah. Hati saya sungguh sedih ketika mendengar Pak Tjip (dirjen Pajak) berkata di depan anggota dewan bagaimana imbas kasus Gayus terhadap semua, ya semua, pegawai pajak. Ia bercerita tentang teriakan sang kondektur kopaja/metri mini yang jika biasanya untuk berhenti di depan kantor pusat pajak gatot subroto, ia berteriak "Pajak! Pajak!" maka sekarang berubah menjadi "Gayus! Gayus!". Seorang pegawai yang ketika naik angkutan umum lupa menanggalkan nametag yang bertulisan "Direktorat Jenderal Pajak" diteriaki "Maling!" oleh penumpang yang lain. Lebih miris lagi, ketika ikut arisan di komplek tempat tinggalnya, seorang pegawai pajak dikatain "najis". Astaghfirullahal'adzim...

Saya terenyuh. Saya tidak merasakan euforia gayus karena sekarang -meskipun saya seorang pegawai pajak- saya sedang kuliah lagi di kampus STAN (yang belakangan juga di'goyang' terkait kasus Gayus). STAN sendiri, meski baru bersenang-senang dengan gedung baru yang megah dan kolam air mancur yang lumayan wah, harus menerima kabar pahit karena isu akan dibubarkan karena STAN adalah almamaternya Gayus. Wartawan mulai sering datang dan ingin tau bagaimana Gayus ketika menjadi mahasiswa. Kira-kira akan bertanya,"Apa sih diajarin STAN sehingga bisa menghasilkan lulusan semacam Gayus?" Ah, sungguh tuduhan yang sama sekali tak relevan, tak beralasan.

Saudara juga keluarga beberapa kali menelpon ketika kasus gayus ramai di televisi. Terakhir, seorang tante yang berkelakar,"Waktu tante ke Jakarta koq ngga diliatin rumah mewahnya?" maksudnya rumah mewah yang kayak punyanya gayus...

Ah, Gayus... Mungkin kasusmu hanya momentum, untuk perbaikan instansi yang lebih baik. Tapi kenapa begitu keras angin yang menerpa, sehingga menggoyang ujung daun hingga akar?

Ah, saya percaya instansi saya bisa. Kami sudah dicap miring sejak pertama, bahkan ketika kami terang-terangan menunjukkan perubahan itu. InsyaAllah kami sanggup menghadapi hal ini.

Saya juga percaya, pasti ada skenario besar Allah dibalik kesedihan yang kami rasakan saat ini. Bukan hanya Gayus, tapi juga oknum-oknum yang lain. Yakinlah, langkah kalian akan jaaauh lebih berat setelah ini. Saksikanlah reformasi birokrasi total yang akan dikawal seluruh masyarakat Indonesia. InsyaAllah, untuk Indonesia lebih baik. Semoga reformasi ini segera diikuti oleh POLRI, Kejaksaan, juga semua instansi di seluruh Indonesia, pusat maupun daerah.

Saya tahu mimpi saya terdengar muluk. Tidak tahukah kalian mimpi pioner-pioner reformasi dulunya juga terdengar tak masuk akal ketika mereka menciptakan LTO? Bahkan intern pegawaipun mencibir mengatakan 'tidak mungkin'. Tapi waktu membuktikan mereka berhasil. Saya yakin kami akan lebih baik. Saya yakin Indonesia akan lebih baik. InsyaAllah.

Membangun Persepsi

Jum'at kemarin saya kuliah gabungan sama kelas sebelah. Karena dosen kami sama, mungkin buat efisiensi waktu, sang dosen menggabung dua kelas yang diajarnya. Hampir semua penghuni kelas sebelah saya ngga kenal, nama pun tidak. Mereka rata-rata adik kelas 3 tahun di bawah saya (emang paling tua satu angkatan... Hiks!). Berkenalan dengan seorang teman yang duduk di depan, dia pun berkomentar,"Udah siap dibantai, mba?"

Well, memang dosen kami yang satu ini agak unik. Lulusan S2 Amerika ini punya kebiasaan suka 'membantai' mahasiswanya. Bukan marah, hanya nanya mendadak, dan apabila ngga bisa jawab, segera akan terdengar komentar-komentar agak sinis dari si Bapak. Ngga ada yang suka duduk di depan (padahal si Bapak nanyanya random koq, ngga suka nembak yang di depan aja).

Sebelum pertemuan pertama kami dalam kelas perkuliahan, saya udah survey ke beberapa orang (kakak kelas or yang pernah diajar oleh dosen tersebut). Istilah kerennya, membangun persepsi. Saya melakukannya untuk semua dosen. Ada yang baik, ada yang biasa-biasa aja, ada yang suka curhat, de el el. Untuk dosen yang satu ini, seorang teman mengaku tangannya berkeringat sepanjang pelajaran, bahkan udah deg-degan sebelum Pak Dosen masuk ke kelas (pas lagi nunggu dosen). Teman yang lain ngasih tau bahwa si Bapak suka membantai. Kata inilah yang paling sering digunakan orang-orang.

Bahkan setelah setengah semester kami lalui, saya ngga menyangka masih akan mendengar pertanyaan ini. "Udah siap dibantai, Mba?" Kebetulan saya orang yang memakai pendekatan "pembuktian terbalik", ketika saya diberi tau seseorang yang belum saya temui begini-begitu (yang jelek-jelek), maka saya selalu berniat membuktikan bahwa orang itu sebenarnya tidak demikian. Begitu juga dengan dosen satu ini. Dan saya berhasil membuktikan bahwa Pak Dosen enak sekali ngajarnya, tidak pernah saya stress, bahkan saya enjoy sekali. Kalo boleh dibilang, mungkin mata kuliah yang diajarnya adalah mata kuliah yang paling saya mengerti dibanding mata kuliah lain.

Membangun persepsi itu penting menurut saya sebelum kita menjalani sesuatu. Ibarat rambu, dia memberi tahu di depan akan ada apa. Begitu nama saya keluar sebagai salah satu yang lulus D4 STAN kemarin, saya langsung nanya-nanya ke mantan-mantan D4 atau yang sekarang sedang D4, apa dan bagaimana kuliah D4 yang tentunya sangat berbeda dengan ketika D3. Tentu saja saya mendapatkan jawaban yang berbeda-beda. Sebagian bilang, enak banyak liburnya, ga enak banyak tugasnya (nyampe rumah langsung nyalain komputer buat ngerjain tugas), dan sebagainya. Minimal dalam benak saya sudah tergambar -meskipun mungkin baru sebagian kecil- apa yang akan saya jalani nantinya. Kesiapan mental, itu yang dicari. Supaya kita siap menghadapi, pun ketika gambaran yang sudah ada ternyata tidak sama dengan yang terjadi kemudian.

Begitu juga dengan da'wah. Ketika saya pertama kali bergabung dengan da'wah, saya diberi gambaran bahwa da'wah itu jalan yang panjang, terjal, penuh onak dan duri (saya rasa sebagian besar kita diberi gambaran seperti ini. Betul?). Tapi tidak menurut Ust. Ahmad Ar-Rasyid. Dalam bukunya 'Hambatan di Jalan Da'wah', ustadz menggambarkan bahwa jalan da'wah adalah jalan yang luas dan tenang, hanya saja dalam perjalanan kadang ada rambu-rambu. (Ada yang pernah diberi tahu seperti ini?)

Mendapat gambaran yang berbeda tentang sebuah jalan yang sama adalah wajar, tergantung pandangan orang yang ditanya. Orang yang baru menjalani sebagian jalan, tentu akan berbeda pendapatnya dengan orang yang sudah menjalani semuanya, bahkan berkali-kali melaluinya. Bertanya pada orang yang tepat adalah kuncinya.

Tidak salah menggambarkan jalan yang 'susah' kepada calon yang terbiasa 'enak', dengan maksud agar kita tidak kaget, kecewa, mundur, ketika yang ditemui adalah yang ngga enak mlulu, karena kita sudah siap dengan keadaan itu sebelumnya, karena kita sudah diberi gambaran akan ke-tidakenak-an itu sebelumnya. Orang yang belum 'matang' apalagi masih new comer, biasanya akan diberi gambaran yang jelek-jelek dulu. Ketika dia memutuskan akan ikut dalam jalan ini, maka dia seharusnya siap dengan yang 'ngga enak' tadi.

Saya bersyukur mendapatkan 'pandangan lain' ketika saya sudah sekian tahun menjalani jalan ini. Persepsi saya juga berubah ketika mendengar ungkapan Ust. Rasyid di atas. Dalam hati saya membenarkan, sesungguhnya jalan ini luas dan tenang, hanya beberapa kali ada rambu. Dengan penggambaran seperti ini saya bisa merasakan ni'matnya berda'wah, meski saya belum ada apa-apanya dibanding dengan ikhwah yang lain, mungkin juga pembaca sekalian. Dengan pernyataan tadi, saya teringat betapa Allah begitu menyayangi saya sehingga berkenan memasukkan saya ke dalam kelompok orang-orang yang memilih jalan ini. Meski di awal saya memang menemukan onak dan duri, namun di sebagian besar perjalanan, sesungguhnya ada jalan yang luas dan tenang itu. Indahnya ukhuwah, bertambahnya keimanan, khusyu'nya shalat, air mata yang jatuh karena takut kepada Allah, cinta kepada saudara-saudara seiman, yang -mungkin- tidak akan saya temui jika saya tidak bergabung dengan jalan ini. Onak dan duri hanya sebagian kecil dari perjalanan, dibanding keni'matan ketika ada orang lain yang berubah ke arah yang lebih baik, ketika da'wah mencapai kemenangan, ketika titik-titik keshalihan semakin membesar dalam masyarakat.

Ah, saya lagi ngomongin apa sih?

I Have a Dream

Anda pernah bermimpi? Yang saya maksud bukan mimpi bunga tidur, tapi mimpi-keinginan-cita-asa-apapun namanya.

Saya pikir semua orang pasti punya mimpi, entah itu yang masuk akal atau tidak, entah untuk sekarang atau masa depan atau masa lalu (wish you could turn back the time?)...

Mimpi akhirat. Mungkin semua orang (muslim) punya impian yang sama, masuk syurga. Kalo saya lebih spesifik lagi, ingin punya istana untuk saya bersama suami, anak-anak, dan orang tua. Ingin menjadi tetangganya Rasulullah saw dan keluarganya dan para sahabatnya. Ingin mencium tangan Rasulullah ra (boleh ga ya? hehehe...), memeluk ibunda Khadijah ra, Ibunda Fathimah ra. Ingin satu halaqoh sama para sahabiyah dengan Bunda Khadijah ato Rasulullah sebagai Murabbinya ^_^. Ingin jalan-jalan bersama saudara satu lingkaran saya di dunia lengkap dengan murabbiyah-murabbiyah saya, bersama juga mujahid-mujahidah da'wah. Dan yang paling saya tunggu, saat-saat menatap wajah Kekasih abadi, Allah azza wa jalla, menikmati ridha-Nya, dalam naunganNya...

Aaaamiiiiiiiiin ya Rabb... kabulkanlah permohonan kami...

Selanjutnya mimpi dunia. Khusus anak-anak, saya pengen ada satu atau beberapa dari mereka nanti ada yang sekolah di Mesir (tidak harus Mesir sih) untuk memperdalam kafaah syar'i-nya berupa ilmu tentang islam. Entah itu nantinya jadi hafidzah, atau ahli fiqh, ahli hadist, pokoknya yang bermanfaat untuk mengembalikan akhlaq ummat agar kembali kepada Alquran dan sunnah... Amiiin...
Kenapa ngga semuanya aja?
Karena mereka kan juga punya cita-cita sendiri yang ingin dicapai. Kalo mereka pengen jadi ilmuwan juga ga masalah, toh ilmunya juga berguna untuk orang banyak. Atau mungkin ada yang mau jadi 'ibu' saja, a full time mother? Wow, saya akan dukung seratus persen peran yang mulia ini... Yang penting semua punya tujuan yang sama, yaitu ridha Allah. Masalah jalan boleh beda-beda, no problemo...

Dari dulu saya pengen banget punya toko muslim, menjual perlengkapan muslim, mulai dari jilbab, pakaian, mukena, sampai obat herbal, kosmetik, dan buku. Kadang juga kepengen punya minimarket khusus barang-barang halal, biar orang-orang ga perlu khawatir kalo beli apa-apa. Intinya pengen jadi pedagang lah gitu...

Untuk hari tua, saya pengen mengelola panti asuhan (atau yang sejenis). Anak-anak udah gede, mungkin udah punya kehidupan sendiri, daripada kesepian mending nabung amal sambil mengasuh anak orang lain yang 'kurang beruntung'. Nanti tokonya buat bagian dana usahanya. Gimana? Ada yang berminat gabung sama saya, jadi donatur panti asuhan saya ^_^ ?

Saya pikir tidak ada yang salah dengan bermimpi. Pesawat terbang ada karena orang bermimpi ingin seperti burung. Handphone ada karena orang bermimpi bisa berbicara dengan kekasihnya meskipun jauh. Bermimpilah, karena dengan mimpi hidup menjadi bermakna...

"Bermimpilah setinggi langit, karena meskipun tergelincir kau tetap berada bersama bintang-bintang..." (dari Chicken Soup, maaf kalo redaksinya tidak persis ^_^)

Kalo kamu, apa mimpimu? ^_^

Pe-nafi-an

Saya jadi ingat fenomena "Fahri"-nya Ayat-ayat Cinta-nya Habiburrahman El Syirazi...

Ketika Fahri digambarkan begitu sempurna, (hampir) semua orang menyanggah, menolak, tidak ada yang seperti itu, tidak ada yang sesempurna itu...
Padahal dibelahan dunia 'sana' betapa banyak yang se-sempurna Fahri bahkan yang lebih sempurna lagi.

Entah karena kita terbiasa dengan fakta yang 'buruk', media yang senantiasa menayangkan keburukan, kejahatan, setiap hari sehingga itulah yang direkam oleh otak kita. Wallahu a'lam.

Ketika kita diberi fakta yang 'tidak biasa', kita seketika menolak menerima, mengatakan 'tidak mungkin', 'munafik', 'tidak jujur', dan seterusnya... bahkan ketika fakta dijejalkan ke depan mata kita...

(Ah, maafkan saya... saya hanya sedang kesal...)

Betapa susahnya kita (kadang) menerima 'kebaikan' yang dilakukan orang lain. Karena kacamata kita berkabut, karena hati kita kotor.

Apa yang salah dari orang berduit yang tidak konsumtif ?
Apa yang salah dari wanita yang tidak suka belanja ?
Apa yang salah dari orang2 luar biasa yang melakukan yang tidak biasa ?

Tidak ada yang salah dengan mereka. Yang salah adalah hati kita...
Mereka insyaAllah selamat, sedangkan kita tidak.

Nastaghfirullaahal'adzhiim...

Selalu ada pengecualian untuk segala sesuatu...

Selalu ada yang tidak biasa dari yang biasa...