Showing posts with label Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Keluarga. Show all posts

Sunday, October 30, 2016

Terlalu asyik

Sudah hampir setahun semenjak anak-anak (dan abinya) mendarat di Inggris dan semenjak itu pula hidup saya 'penuh' dengan mereka. Jangan ditanya nilai-nilai (kuliah) saya, sangat jauh dari harapan... -_-"

Hidup di negeri orang pastinya jauh berbeda dengan hidup di kampung sendiri. Tidak hanya bahasa, tapi juga kebiasaan, makanan, suhu dan cuaca. Tak hanya itu, rutinitas sebagai ibu bekerja yang biasa pergi pagi pulang malam juga berubah drastis menjadi ibu rumah tangga yang nyambi jadi mahasiswa.

Tentunya saya sangat menikmati segala perubahan itu. Dapur yang dulu saya kunjungi hanya ketika weekend, sekarang hampir setiap saat saya selalu ada dan beraktivitas di dapur. Memasak menjadi keharusan dan sekaligus hobi baru. Cuaca yang dingin membuat perut selalu lapar dan waktu luang yang banyak (dan juga ke'hangat'an dapur ditengah suhu dibawah 10 derjat) membuat aktivitas memasak menjadi menyenangkan. Mencoba resep baru atau resep lama dengan bumbu yang 'seadanya' (baca: tersedia -soalnya rada susah nyari bumbu segar disini) menjadi rutinitas baru.

Antar-jemput sekolah anak juga menjadi rutinitas menyenangkan lainnya. Sungguh merupakan keistimewaan yang luar biasa ketika saya sempat (bahkan setiap hari) mengantarkan anak-anak ke sekolah, melepas mereka bermain dan menuntut ilmu. Ritual cium tangan dan peluk cium sebelum berpisah menjadi kebahagiaan dan kenikmatan tersendiri yang tak akan bisa saya lakukan ketika nanti balik ke Indonesia. Maka tiap pelukan dan kecupan selalu saya lakukan dengan sepenuh hati.

Aktivitas lain yang juga saya nikmati adalah shalat berjamaah dan 'obrolan' antara magrib dan isya. Di Indonesia saya biasa tiba di rumah sekitar jam 7 malam dengan kondisi letih penuh asap dan keringat. Nyampe rumah udah sisa-sisa tenaga. Tak pernah sempat shalat bersama anak-anak. Di sini, di masa ketika kuliah 'cuma' dari jam 9 sampe jam 3 atau 4 sore (itu pun ga tiap hari) dan jarak rumah-kampus cuma (paling lama) 30 menit jalan kaki (bisa lebih cepat lagi kalo naik sepeda), waktu luang bersama anak-anak berasa berlimpah. Tiap pagi ketika nganter sekolah bisa ngobrol, pun ketika sepulang sekolah di sepanjang jalan juga bisa nanya tadi ngapain aja dan mereka pun cerita segala macam. Sampai di rumah selalu kelaparan, biasanya saya buatkan 'cemilan berat' seperti pizza bikinna sendiri, bakwan, ubi goreng hangat, donat, kentang goreng, cake, dan lain-lain. Setelah itu shalat magrib, ngaji, trus shalat isya. Sebelum abinya dapat kerjaan, kami (hampir) selalu shalat bersama. Agak berat ternyata 'mengawal' tilawah dan hafalan anak-anak kalo diurus sendiri sebab sayanya juga ga disiplin. Nanti (kalo inget) akan saya ceritakan lain waktu.

Begitulah rutinitas saya sekarang yang menyebabkan saya 'lalai'. Lalai belajar, lalai menulis, lalai membaca... lalai semuanya. Saya terlalu asyik menikmati kebahagiaan langka ini...

Sekian dulu curcol dan 'pembenaran' kali ini. Mohon maklum dan terima kasih :D

Monday, May 30, 2016

Ke kampus umi

Ini kumpulan foto anak-anak yang saya ajak jalan-jalan ke kampus pas baru datang.

Di Cafe Library
Di lobby perpus

Ci luk baaa...!

Salah satu taman samping The Cafe Deli

Samping Alcuin Building

Taman dekat Alcuin Building
Pertama kali naik bus tingkat
Langsung pilih di atas paling depan

Welcome my love

Akhir Sepember 2015, saya berangkat meninggalkan orang-orang yang saya cintai. Suami, keempat bidadari, orang tua, sanak keluarga... Berpisah 15 ribu kilometer dari mereka sungguh berat untuk saya. Ini pertama kalinya saya bertualang sejauh dan selama ini...

Semenjak awal, sedari berniat ingin menimba ilmu di negeri seberang, saya sudah bertekad untuk membawa serta bidadari-bidadari tercinta. Mereka jualah sesungguhnya yang membuat saya berani melangkah, langkah yang teramat jauh ini. Mereka tak boleh tinggal lama.

Sebelum berangkat, saya dan suami akhirnya memutuskan mereka harus berangkat sesegera mungkin. 12 November adalah deadline pengajuan visa, sebab setelah tanggal itu aturan yang baru akan diberlakukan. Aturan yang membuat perjuangan untuk bersama akan menjadi semakin sulit (terutama karena ada tambahan deposit hingga hampir dua kali lipat dari yang sebelumnya), maka kamipun berusaha agar visa bisa keluar sebelum tanggal itu.

Mengurus visa tidak sulit sebenarnya, hanya saja aturan yang diterbitkan oleh negara tujuan membuat kita berhati-hati agar jangan sampai gagal (kalo gagal, untuk apply ulang membutuhkan biaya yang tidak sedikit). Ngisi form online juga tidak boleh sembarangan, karena negara maju punya basis data yang kuat. Salah input (apalagi sengaja) akan berbuntut panjang.

Submit berkas visa ke VFS center di Kuningan City
Setelah berkali-kali mengecek kelengkapan isian form, kadang agak ragu dengan isian (karena kurang paham atau takut salah mengerti data yang diminta), akhirnya submit juga. Untuk mengantisipasi deadline 12 November, kami mengusahakan agar visa sudah keluar sebelum tanggal itu (meskipun diaturan disebutkan tanggal itu adalah batas submit aplikasi) dengan meminta jalur "priority" (3 hari jadi). Alhamdulillah 10 November visa suami dan anak-anak granted.

5 Desember 2015, setelah segala tetek bengek, letih peluh dan air mata, alhamdulillah mereka selamat mendarat di Manchester Airport pukul 7 pagi waktu Inggris. Tak terlukiskan betapa bahagianya saya bisa memeluk mereka. Alhamdulillah ya Allah...

Baru nyampe di Manchester Airport, jaket dan syal udah saya siapin karena cuaca dingin banget
Di kereta dari Manchester menuju York


Friday, September 7, 2012

Diskusi Kemarin

 Tulisan ini terinspirasi dari diskusi saya kemarin.

Kami sedang membahas kata-kata Imam Syahid Hasan Al-Banna dalam Hadist Tsulasa hal 629, "Kehidupan rumah tangga adalah "hayatul 'amal". Ia diwarnai oleh beban-beban dan kewajiban. Landasan kehidupan rumah tangga bukan semata kesenangan dan romantika, melainkan tolong menolong dalam memikul beban kehidupan dan beban da'wah..."

Tentu berbeda kehidupan rumah tangga sepasang manusia yang menikah karena 'cinta' dengan mereka yang menikah karena Allah, yang dipertemukan di jalan da'wah, yang kalau boleh kita sebut mereka sepasang da'iyah. Seperti yang dikatakan Imam syahid, mereka punya beban tambahan, yakni beban da'wah. Inilah yang membedakannya dengan pasangan pada umumnya yang mungkin hanya memikirkan anak, istri, dan keluarganya saja, pasangan da'iyah juga harus memikirkan ummat.

Bersatunya dua orang mujahid seharusnya menjadikan rumah tangga itu menjadi rumah tangga yang produktif dengan kontribusi maksimal, yang insyaAllah juga menjadikan rumah tangga yang berberkah. Saling ta'awun menyebabkan orang tua yang sibuk mengurus ummat tidak mengabaikan da'wah kepada keluarga sendiri, terutama anak-anak. Berbagi tugas, saling mengerti dan memahami, saling bantu, wajib hukumnya agar da'wah keluarga dan da'wah masyarakat bisa berjalan seiring, tidak harus mengorbankan satu sama lain.

Baiklah, sebenernya bukan ini yang mau saya bahas ^_^ ...

Kemarin dalam diskusi, tiba-tiba kami menyadari sebuah fenomena yang mungkin banyak melanda keluarga da'iyah. Yang terjadi malah bertentangan dengan ungkapan Imam Syahid di atas. Entah karena terlalu memahami maksud ungkapan tersebut atau karena tidak memahaminya sama sekali.

Mereka tidak bermasalah dengan pembagian beban da'wah, namun justru berkendala dengan "kesenangan dan romantika". Saking sibuknya ngurusin ummat, ber-romantis-romantis ria dengan istri/suami malah sering terlupakan. Bagaimanapun istri/suami juga orang yang senang akan hal-hal yang romantis. Bukannya mereka tidak ridha akan sibuknya pasangannya dalam da'wah masyarakat, tapi sesekali perlu refreshing juga.

Suami/istri adalah orang yang akan menemani hidup kita sepanjang sisa umur kita. Anak mungkin hanya akan bersama kita ketika mereka kecil. Saat mulai sekolah maka dunianya sudah berpindah ke teman-temannya, begitu juga ketika menikah maka dunianya adalah suami/istri dan anak-anaknya. Tapi suami/istri akan menemani kita menghabiskan seluruh episode hidup kita.

Maka cinta itu harus dipelihara. Jangan biarkan ia berlalu seiring berlalunya waktu. Mungkin cinta bermetamorfosis menjadi 'tanggung jawab', 'kesetiaan', 'pengabdian', tapi tidak menjadikannya lelah untuk selalu dipupuk, disegarkan, diperbaharui.

Keromantisan tidak selalu berbentuk bunga, kata-kata puitis, atau candle light dinner. Dia bisa berupa ikut menemani masak di dapur, membuatkan secangkir teh, atau mendengarkan ceritanya tentang hal-hal yang tidak begitu penting. Perhatian kecil sangan berarti bagi pasangan.

Kadang dengan bertambahnya usia permikahan, psangan merasa tidak perlu lagi mengungkapkan rasa sayang seperti pasangan yang masih baru. Padahal justru itulah yang harus diusahakan, merasa selalu seperti pengantin baru.

Jangan pelit dengan kata 'sayang', jangan kikir dengan perhatian kecil, yang sungguh, jika ia senantiasa kita pelihara, maka semakin lama, semakin lanjut usia pernikahan, semakin berkobar juga cinta kita.

Kalau boleh saya meralat sedikit kata-kata di atas, "Landasan kahidupan rumah tangga bukan semata berbagi beban kehidupan dan beban da'wah, melainkan juga kesenangan dan romantika."

(Tulisan ini khusus untuk yang mungkin mulai layu cintanya, dan sungguh, sebenarnya saya juga masih terus belajar untuk menjadi romantis dan semoga mampu mampu terus memelihara cinta saya dan mengobarkannya. Wallahu a'lam)

Ketika Hati Tergoda

Waktu masih D3 dulu saya pernah diceritakan, seorang ikhwan D4 yang sudah menikah bertemu kembali dalam satu kelas dengan akhwat yang dulu pernah dicintainya. Akhwat tsb belum menikah (ketika itu). Diceritakan betapa kemudian si ikhwan 'tergoda', minta di-'ishlah', dan bersama-sama sahabat-sahabatnya 'menjaga'nya dengan membacakan ayat Alqur'an, tausiyah dan senantiasa mengingatkan.

Saya hampir lupa dengan cerita itu...

Hingga beberapa saat yang lalu, ada kisah yang hampir sama. Seorang ikhwan yang saya kenal bertemu kembali dengan akhwat yang dulu pernah ada dalam hatinya, dan ini mengganggunya. Padahal ia sudah punya 2 orang anak, si akhwat pun sudah menikah dengan ikhwan lain.

Entahlah... Sesungguhnya ini membuat saya sedih. Tapi itulah perasaan. Entahlah...

Makanya saya selalu mensugesti diri sendiri untuk tidak memelihara 'rasa' yang hadir ketika saya tidak tahu apakah dia memang untuk saya atau bukan. Hati saya benar-benar harus 'kosong' hingga seorang yang ditakdirkanNya mengisinya hingga penuh.

Ya, benar-benar penuh. Tidak ada lagi ruang, bahkan untuk masa lalu, karena sejatinya ia tak pernah ada...

Maka berhati-hatilah terhadap rasa yang muncul meski ia masih 'kecil'. Ketika ia kecillah harus dicabut hingga akarnya agar tak tumbuh mengilalang. Jika ia terlanjur besar, butuh usaha sangat besar untuk menghilangkannya. Karena ia memang harus hilang. Karena ia terlarang...

Persembahkan hatimu yang masih bersih, hingga keberkahan menyertai...

"Dan tundukkanlah sebagian daripada pandanganmu..."

Thursday, September 6, 2012

Ta'aruf

Adalah hal yang wajar ketika ingin menikah, seorang ikhwan/akhwat ingin mengenal calon pasangannya, baik fisik maupun sifatnya.
Mencari infomasi kemudian dilakukan agar memiliki gambaran yang cukup untuk kemudian menerima atau menolak calon.

Namun demikian tentu ada adab dalam mencari informasi.

Imam Al Ghazali menyatakan dalam kitab Al-Ihya',
"Tidak boleh mencari keterangan tentang akhlaq dan kecantikan wanita yang hendak dipinang kecuali dari orang yang bijak dan jujur;
berpengetahuan luas tentang masalah fisik dan mental;
tidak berat sebelah kepada  wanita sehingga akan menyanjungnya berlebihan;
tetapi tidak pule dengki kepadanya sehingga akan menjatuhkannya.
Emosi cenderung tidak objektif berkaitan dengan masalah-masalah menjelang pernikahan dan memberi keterangan tentang wanita yang akan dipinang, baik berupa memuji berlebihan atau menjatuhkan.
Jarang sekali orang yang jujur dan objektif dalam masalah ini, melainkan banyak penipuan dan subjektif.
Unsur hati-hati dalam masalah ini sangat penting bagi setiap orang yang khawatir dirinya akan terjerumus pada praktik mengidamkan sifat-sifat yang tidak dimiliki istrinya kelak"

Demikian versi Fiqh Sunnah-nya Sayyid Sabiq dalam bab Pernikahan.

Setiap orang punya kelemahan dan kelebihan masing-masing. Tak akan habis membaca testimoni dari semua orang, karena setiap orang punya pengalaman bersama yang bersangkutan sesuai apa yang dialaminya. Bisa pengalaman yang menyenangkan, tentu juga bisa yang tidak menyenangkan.

Maka sebaiknya mencari informasi dikhususkan kepada yang benar-benar kenal/mengetahui yang bersangkutan secara langsung, dalam waktu yang cukup lama, sehingga ketika memberi informasi dapat dipercaya. Misalnya ibunya, saudaranya, sahabat dekat, dll. Jangan kepada semua orang, nanti jadi bingung sendiri, sebab setiap orang pastilah subjektif.

Menurut saya, ketika mencari informasi, kita harus benar-benar paham apa yang ingin kita ketahui dari calon pasangan. Apa saja hal-hal prinsip (kalo bahasa akuntansinya: material) yang kira-kira dapat mengubah keputusan kita, entah kemudian menerima atau menolak.

Hal-hal prinsip bisa berupa, misalnya pemahaman keislaman, penyakit, riwayat penyakit dalam keluarga, masalah kesuburan, penghasilan, akan tinggal dimana nanti, dan lain sebagainya. Hal yang prinsip berbeda menurut setiap orang. Bisa jadi masalah bersih-tidak bersih menjadi prinsip, hingga ketika si akhwat kurang 'rapi' hal ini menjadi bahan pertimbangan. Bisa jadi suku menjadi hal prinsip, karena orang tua meminta harus dengan pasangan dengan suku tertentu.

Carilah informasi berdasarkan prioritas. Untuk kenal lebih jauh lagi (apakah soal ternyata pasangan suka ngorok, tidak suka kopi, jarang sarapan, suka makan soto, susah tidur, dan hal-hal lain yang kurang penting) bisa dilakukan setelah berumahtangga, tinggal dalam satu atap.

Tidak ada manusia yang sempurna, sebagaimana juga kita (ya bukan?). Maka dalam berumahtangga yang terpenting adalah bagaimana kemudian kita dapat menerima pasangan apa adanya. Seiring waktu akan ada penyesuaian-penyesuaian. Sepanjang sepasang manusia memiliki visi-misi hidup yang sama, tujuan dan cara pandang yang kurang-lebih sama, maka insyaAllah hal lain bisa dikompromikan.

Wallahu a'lam...

Jika Kemudian

Apa yang akan terjadi jika cinta timbul sebelum menikah?

Mungkin ada beberapa konsekuensi...

Ketika yang dicintai menjadi suami/istri, maka mungkin kita akan bahagia karena bisa hidup bersama yang dicintai.
Bisa memandang wajah yang kita kagumi setiap hari, wow... anugerah yang tiada tara.
Bisa mengarungi episode kehidupan selanjutnya dengan yang tercinta, tak ada yang lebih indah dari ini kan?

Jika ternyata ia seperti yang kita sangka (dengan segala imajinasi kita ketika belum menikah dengan segala impian dan ekspektasi yang saya yakin sangat sangat tinggi), maka barakallah buat anda berdua... Alhamdulillah...

Jika kemudian ternyata ekspektasi itu begitu tinggi, yang kita cintai ternyata tak seperti kelihatannya. Dia yang nyaris sempurna, ternyata punya banyak borok yang disembunyikan (atau sebenarnya tidak disembunyikan, hanya saja mata kita yang melihat apa yang kita inginkan = kelebihannya saja). Maka mungkin cinta itu akan berkurang, kekecewaan merebak. Cinta yang kita perjuangkan mati-matian (kemarin dulu) ternyata hanya memperjuangkan kepalsuan saja.

Atau jika ternyata yang kita cintai ternyata tidak menjadi pasangan kita, akankah kita sanggup mencintai orang lain yang Allah takdirkan untuk kita?
Akankah kita sanggup menjadikannya tempat berlabuh?
Benarkah anda sanggup?
Mungkin ya, tapi butuh waktu?
(kasihan sekali jodoh anda...)

Karena memang begitu karakteritiknya cinta, mata melihat apa yang ingin dilihat, telinga mendengar apa yang ingin di dengar, ia begitu sempurna untuk menjadi pasangan saya sehingga perlu dan harus saya usahakan, sebelum dia menjadi milik orang lain. Tak ada yang lebih baik daripada dia, dan seterusnya...

Ah, mungkin cinta itu ada banyak... mungkin ini hanya sebagian cinta yang menjerat, cinta buta? Cinta yang tidak tulus? Cinta yang tak ikhlas?

Anda pembaca mungkin lebih tau...

Jika dengan mencintai sebelum menikah, anda bisa membuat pernikahan dan keluarga menjadi lebih indah dan bermakna...
jika dengan menikahi yang dicintai membuat anda lebih produktif, lebih bergairah menjalani hidup, lebih bermanfaat bagi orang lain, lebih cepat dekat dengan keluarga besar, lebih bersemangat berda'wah kepada semua...
jika menikah dengannya menjadikan anda memandang hidup lebih indah dan layak untuk dijalani dengan sebaik-baiknya...
Maka lakukanlah!

tapi jika kita tidak tau siapa yang sesungguhnya baik untuk kita,
jika kita takut ekspektasi kita terhadap pasangan sebelum menikah bisa merusak kebersamaan,
jika kita takut mata kita melihat yang tidak sebenarnya, telinga tak mendengar yang seharusnya,
jika kita ingin memberikan hati yang suci hanya kepada yang berhak menerimanya,
Maka tahanlah cinta itu hingga sesaat setelah 'arsy berguncang ia menjadi halal untuk kita lakukan apapun kepadanya.

:)

Analogi

Masih segar diingatan kita, beberapa tahun yang lalu sempat isu tentang poligami menjadi pembicaraan terhangat di seantero nusantara. Semenjak sang Da’I fenomenal Aa Gym melakukannya hingga muncul klub poligami di Bandung, diikuti bermacam pembicaraan dan diskusi lebih jauh mengenai poligami di berbagai media dan seluruh kalangan pun ikut membicarakannya.

Latah poligamipun kemudian menjalar. Sebagian suami kemudian terinspirasi untuk melakukan poligami yang memang ada dalam syari’at, dilakukan oleh Rasulullah SAW, dengan segala maslahat yang ada didalamnya. Hal ini mungkin yang kemudian membuat Ustadz Cahyadi Takariyawan kemudian menulis sebuah buku yang tak kalah fenomenal, Membahagiakan Diri dengan Satu Istri, kala itu.

Saya yakin anda juga sependapat dengan saya, bahwa Ustadz Cah tidak sedang membuat tulisan tandingan atau mempertentangkan antara poligami dengan mempertahankan beristri satu. Pastilah tidak ada niatnya untuk menafikan kehalalan poligami, mengatakan satu istri lebih baik daripada banyak. Tentulah tidak. Beliau mungkin hanya membuat tulisan pembanding, agar poligami tidak dipahami secara parsial, dan kemudian melakukan (meneladani) apa yang Rasulullah lakukan dengan pemahaman yang tidak komprehensif. Hanya berharap ketika melakukan poligami adalah betul-betul dengan pemahaman yang benar sehingga memberikan maslahat sebagaimana yang diharapkan.

Ketika saya membaca tulisan seorang ak Akh yang mengatakan bahwa cinta adalah argumentasi yang shahih untuk menolak lelaki/wanita shalih yang datang kepadamu, sungguh mungkin perasaan saya lebih kurang sama dengan ustadz Cah ketika membuat buku bahagia dengan satu istri-nya. Ada kekhawatiran yang tiba-tiba muncul dalam diri saya ketika tulisan itu kemudian dipahami dengan parsial oleh orang yang membacanya. Bukannya saya menyalahkan, menafikan, semua dalil, sunnah, dan teladan para sahabat yang dikemukakan. Sungguh tidak. Saya hanya membayangkan sebagian pembaca berbondong-bondong menolak ikhwan/akhwat shalih yang datang kepadanya karena alasan cinta. Cinta yang tak pernah kita tahu itu cinta dari siapa (dari Allah atau ada campur tangan syaitan disitu? Na’udzubillah). Cinta yang belum tentu ia shahih untuk diberikan kepada yang belum berhak.

Lagi-lagi saya tidak faqih bicara cinta.
Saya tidak bisa tau bagaimana sesungguhnya cara seorang ikhwan mengetahui akhwat incarannya juga mencintainya?
Saya juga tidak bisa mengira bagaimana cara seorang akhwat bisa yakin dengan menolak ikhwan shalih yang datang kepadanya dengan harapan ikhwan yang dicintainya akan melamarnya?
Saya juga tidak tau bagaimana seorang lelaki bisa sedemikian cinta kepada seorang akhwat yang sesungguhnya tidak dikenalnya sehingga memperkenankannya menolak akhwat yang disodorkan biodatanya?
Mohon beribu maaf atas kenaifan pikiran-pikiran suudzon saya…

Mengajak pembaca untuk mengendalikan cintanya yang menggelora memang tujuan saya membuat beberapa tulisan ‘counter’. Hanya bermaksud mengajak para ikhwah untuk mengendalikan perasaan hingga ia halal dan siap untuk ditanam, dipupuk, disiram, hingga tumbuh dan berkembang dengan benar. Janganlah sampai menolak, meskipun itu boleh.
Sebagaimana Ust. Cah mengajak berbahagia dengan satu istri, tidak berarti ia melarang para suami berpoligami.

Berserah lebih selamat, bagi saya, karena saya – dan banyak ikhwah lainnya- telah membuktikan keselamatan ini. Memilih untuk tidak memilih, mengadukan cinta kepada Allah kemudian berserah ketika Allah memilihkan ia atau yang lebih baik untuk saya, bukannya menolaknya. Inilah yang saya lakukan kemudian saya tuliskan pengalaman ini, sepengetahuan dan sepemahaman saya. Maka tidak usah mengatakan bahwa seseorang tidak mampu mempertanggungjawabkan apa yang ditulisnya, sedangkan dirinya sendiri juga belum tentu mampu.

Sesungguhnya semua orang dapat diambil dan ditolak pendapatnya kecuali Rasulullah SAW.

Wallahu a’lam bishowab.

Samara atau Samarada?

(Samara = Sakinah mawaddah wa rahmah; Samarada = Sakinah mawaddah wa rahmah wa Da'wah)

Membicarakan tentang pernikahan, saya teringat sebuah fenomena yang terus terjadi. Seorang akhawat/ikhwan yang tadinya aktif berda'wah, kemudian 'tinggal kenangan' (aktifitas da'wahnya) sesaat setelah ia menikah dan punya anak. "Ga ada bekas-bekasnya," istilah suami saya. Seolah da'wah tidak pernah melekat dalam dirinya.

Ketika hendak menikah, semua orang pasti merindukan rumah tangga yang samara. Namun bagi da'i seharusnya samara saja tidaklah cukup. Ada impian menjadikan keluarganya menjadi keluarga da'wah. Namun tidak demikian ternyata bagi sebagian ikhwah, terutama ikhwah STAN yang ketika lulus, kemudian penempatan dan bekerja sebagai birokrat pagi hingga petang, menikah, berkeluarga dan punya anak, tampaknya lupa dengan keni'matan berda'wah. Senin hingga jumat tersita waktunya untuk pekerjaan. Sabtu Ahad kemudian menjadi waktu spesial untuk keluarga semata.

Apalagi bagi akhwat yang kemudian perannya bertambah menjadi istri dan ibu. Sibuk mengurus anak menjadi alasan yang pamungkas sekali untuk menghindari amanah-amanah da'wah yang ditawarkan padanya. Anak begitu menyita perhatian dan waktunya. Tidak ada lagi tempat untuk ummat. Ditambah lagi jika kemudian suamipun menitahkan untuk 'serius' mendidik anak saja.

Rumah tangga apa yang hendak dibangun seharusnya dikomunikasikan ketika hendak menikah. Saat taaruf dengan calon pendamping, kedua belah pihak hendaknya sepakat akan memilih keluarga yang samara atau samarada. Hal ini hendaknya disepakati kedua belah pihak. Da'wah akan menjadi berkah ketika dilakukan dengan keridhaan istri/suami. Terutama bagi istri, tidak mungkin ia berangkat berda'wah tanpa ijin sang suami.

Mungkin perlu digali ketika taaruf, apakah sang suami tipe samara atau samarada? -ini bagi akhwat yang mendamba keluarga samarada, kecuali jika ia memang berniat untuk menjadi keluarga samara saja- Apakah suami akan mengijinkan istrinya memberikan sebagian waktu, tenaga, pikiran, juga hartanya untuk ummat?

Makanya ketika menulis biodata, saya mencantumkan 2 kriteria yang harus dipenuhi calon suami saya. Pertama, ikhwah tarbiyah. Karena saya memilih jalan tarbiyah untuk menyebar kebaikan, dan tentunya menemukan orang yang memilih jalan yang sama akan mempercepat langkah dan sampai kepada tujuan. Kedua, mencintai da'wah. Ya, karena saya juga mencintainya. Mencintai hal yang sama bisa mendekatkan 2 orang asing, ya kan? Dan karena juga saya memimpikan untuk terus berda'wah sepanjang hayat dan masuk jannahNya melalui pintu jihad (amiiiiin...)

Teruslah berda'wah saudaraku, percayalah ia senantiasa memberi keberkahan.
Apa yang kita berikan untuk da'wah sesungguhnya adalah juga untuk keluarga kita.
Betapa banyak keberkahan yang saya rasakan meski sering 'meninggalkan' anak dan keluarga demi ummat. Banyak hal yang mungkin tidak bisa kita dapatkan ketika kita tidak berda'wah.

"Jagalah Allah niscaya Ia akan menjagamu..."

Percayakan yang kita tinggalkan pada yang Maha Menjaga, dan semoga Ia terus mengalirkan keberkahan kedalam keluarga kita.

Memilih untuk tidak memilih

Menyambung tulisan saya yang sebelumnya.

Di jaman saya bujang dulu, memilih calon istri/suami bukan sesuatu yang populer. Baik memilih beberapa alternatif apalagi ‘memilih sendiri’ (baca: mencari sendiri) calon istri/suami. Ketsiqohan terhadap murabbi dan jamaah tercermin lewat ketsiqohan kepada murabbi untuk mencarikan dan memilihkan calon istri/suami.

Bukannya tidak ada pilihan, kadang beberapa ikhwah ada yang memang disodori beberapa calon. Tapi memang dari awal memilih untuk tidak memilih, melainkan dipilihkan. Seolah tsiqoh kepada Allah untuk memilihkan melalui tangan murabbi.

“Saya akan berikan biodata akhwat hanya 3 kali. Jika pertama ditolak, saya akan berikan yang kedua. Jika yang kedua ditolak, saya akan carikan lagi yang ketiga. Namun jika yang ketiga ditolak, selanjutnya silakan cari sendiri.” Demikian kira-kira titah dari sang murabbi kepada binaannya ketika hendak berikhtiar mencarikan jodoh bagi mutarabbinya.

Ketika kita menyerahkan urusan jodoh ini ke tanganNya, maka insyaAllah Ia akan membersamai kita dalam proses itu. Jodoh bukan sesuatu yang ditentukanNya ketika ruh ditiupkan. Silakan lihat lagi hadist Arbain yang ke-4. “…Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya….”
Tidak kata-kata jodoh di hadist ini. Jodoh itu rizki. Ia harus dijemput. Ada ikhtiar disana.

Kembali ke tsiqoh. Tsiqoh kepada Allah untuk memilihkan kemudian di-ejawantah-kan dengan tsiqoh kepada murabbi. Memang dia bukan siapa-siapa kita. Bukan orang tua, saudara, tidak ada hubungan darah, bukan wali  kita. Kenal juga baru, mungkin juga tidak terlalu kenal akan diri kita begitu dalam, tidak tahu selera kita, apa mau kita. Dia tidak akan pernah tau kecuali kita memberitahukannya. Seberapa dekat kita dengan murabbi kita?

Jaman saya dulu, seperti inilah kira-kira gambarannya. Memilih akhwat (karena biasanya yang memilih itu kan ikhwan, akhwat relatif jadi pihak yang menunggu) seperti sudah menjadi hal yang tidak lagi tabu sekarang. Ketika ditawari akhwat shalihah, ia menolak karena kurang cantik. “Kalo tidak shalihah, saya akan mengusahakannya menjadi shalihah. Tapi kalo emang dari sononya tidak cantik?? ...” begitu kira-kira alasan ikhwan-ikhwan yang terus mencari istri cantik ini.

Padahal ia tidak tahu, ketika paras yang cantik bisa berubah menjadi jelek ketika ketidakshalihahan itu terlihat. Seandainya ia tahu, bukan cantik yang menyebabkan cinta, melainkan cinta yang menyebabkan cantik… (ini kata siapa ya?)

Namun tsiqoh juga bukan berarti taqlid buta. Apapun yang disodorkan kemudian tanpa dilihat, tidak usah taaruf, langsung akad saja, berserah dengan apa yang ada. Tidak sekaku itu juga. Ketika memang ada alasan yang syar’I, bukan nafsu semata, menjadi alasan sebuah penolakan, insyaAllah itu akan membawa maslahat. Ketika ada alasan yang kemudian menjadi penghalang keluarga yang akan dibangun menjadi sakinah mawaddah warahmah wadda’wah, maka proses boleh saja tidak dilanjutkan. Tentu penolakan dilakukan dengan cara yang ahsan, hingga meminimalisir ke-tidakberkanan-nya hati yang ditolak.

Tidak juga berarti ketika jodoh itu datang dari selain murabbi juga harus ditolak. Kitalah yang sebenarnya menentukan dari mana jodoh itu datang. Misalnya dengan tidak meminta dicarikan kepada orang selain murabbi. Namun ketika jodoh itu datang dari selain murabbi juga sesungguhnya tidak ada yang perlu dipermasalahkan, sepanjang proses menuju pernikahan itu juga syar’i. Murabbi tentu juga punya keterbatasan yang menyebabkan ia tidak bisa mencarikan jodoh semua mutarabbinya. Meski demikian, tidaklah sulit bukan jika kita tetap menghormatinya dengan meminta pendapatnya mengenai calon kita?

‘Ala kulli hal, semua tergantung diri kita sendiri. Kita yang akan menjalani episode bersama orang asing dalam satu kapal. Keputusan yang diambil adalah keputusan kita. Jangan menyalahkan murabbi atau siapapun yang membantu mencarikan jodoh kita ketika mungkin kapal itu dilanda badai. Meminta bantuan, berkonsultasi, tentunya sangat direkomendasikan, terutama karena biasanya mereka lebih lama berumahtangga dibanding kita yang masih baru. Namun tidak menyalahkannya…

Berserah adalah lebih selamat. Menyerahkan pilihan kepadaNya, kemudian memohon bantuanNya untuk memelihara dan menjalani keutuhan rumah tangga yang dibangun dengan berikhtiar dengan cara yang syar’i.

Wallahu a’lam.

(mohon maaf kalo idenya lompat-lompat… Isinya juga nggantung… masih ada sambungannya)

Menjelang Lima Tahun

Beberapa hari lagi (tak terasa) saya dan suami sudah menjelang lima tahun pernikahan kami. Kata orang (ni kata orang lho), lima tahun pertama pernikahan adalah masa adaptasi terberat. Jika 'lancar' melewati lima tahun pertama, insyaAllah lancar seterusnya. Begitupun sebaliknya.

Entahlah, mungkin benar mungkin juga tidak, tentunya tergantung masing-masing pasangan, dan setiap pasangan punya masalah dan kondisi masing-masing yang berbeda.

Lima tahun, bukan waktu yang sebentar, meskipun sekarang 'terasa' cepat berlalu. Rasanya baru kemarin cium tangannya waktu akad nikah, sekarang udah punya 3 bidadari kecil yang udah besar (apa sih?). Lima tahun berlalu, rasanya masih banyak dari dirinya (suami) yang belum saya kenal (selama ini kemane aje?). Ya begitulah... ta'aruf selalu. Saya kira saya telah mengenalnya, hingga suatu ketika saya terkejut atau tidak menduga tindakannya... Ya, namanya juga baru lima tahun...

Alhamdulillah, pada dasarnya kami punya banyak kesamaan, terutama masalah tujuan, visi dan misi hidup. Perbedaan hanya ditemukan untuk hal-hal yang tidak prinsip. Beberapa hari yang lalu kami melakukan evaluasi sekaligus planning keluarga, semacam raker keluarga lah (rapat kerja). Mulai dari mengingatkan kembali tujuan, visi-misi, rencana jangan pendek sampai panjang, tentang segala hal, mulai dari pendidikan, keuangan, sosial-kemasyarakatan, pengembangan individu (PSDM), rencana karier dan pendidikan umi-abi, sampai masalah yang paling penting dan sensitif, yaitu masalah komunikasi. (Alhamdulillah banyak ganjalan-ganjalan yang terselesaikan ketika membicarakannya dengan kepala dingin, hati tenang dan penuh cinta ^_^). Berhubung anak-anak masih kecil, jadi sementara raker kami lakukan berdua saja. InsyaAllah ketika anak-anak sudah bisa diajak dialog, kami akan mengikutkannya dalam rapat keluarga selanjutnya ^_^.

Banyak hal yang kemudian kami (saya dan suami) sepakati dan berazzam melakukannya, demi mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, dan da'wah. Semoga kami bisa istiqomah menjalaninya... Amiiin...

Menjelang lima tahun pernikahan, ada banyak harapan baru. Biarlah kesalahan yang telah lalu, peristiwa buruk masa silam, akan sirna seiring bergulirnya sang waktu.

Selamat datang masa depan...

Diskusi Kemarin

Tulisan ini terinspirasi dari diskusi saya kemarin.

Kami sedang membahas kata-kata Imam Syahid Hasan Al-Banna dalam Hadist Tsulasa hal 629, "Kehidupan rumah tangga adalah "hayatul 'amal". Ia diwarnai oleh beban-beban dan kewajiban. Landasan kehidupan rumah tangga bukan semata kesenangan dan romantika, melainkan tolong menolong dalam memikul beban kehidupan dan beban da'wah..."

Tentu berbeda kehidupan rumah tangga sepasang manusia yang menikah karena 'cinta' dengan mereka yang menikah karena Allah, yang dipertemukan di jalan da'wah, yang kalau boleh kita sebut mereka sepasang da'iyah. Seperti yang dikatakan Imam syahid, mereka punya beban tambahan, yakni beban da'wah. Inilah yang membedakannya dengan pasangan pada umumnya yang mungkin hanya memikirkan anak, istri, dan keluarganya saja, pasangan da'iyah juga harus memikirkan ummat.

Bersatunya dua orang mujahid seharusnya menjadikan rumah tangga itu menjadi rumah tangga yang produktif dengan kontribusi maksimal, yang insyaAllah juga menjadikan rumah tangga yang berberkah. Saling ta'awun menyebabkan orang tua yang sibuk mengurus ummat tidak mengabaikan da'wah kepada keluarga sendiri, terutama anak-anak. Berbagi tugas, saling mengerti dan memahami, saling bantu, wajib hukumnya agar da'wah keluarga dan da'wah masyarakat bisa berjalan seiring, tidak harus mengorbankan satu sama lain.

Baiklah, sebenernya bukan ini yang mau saya bahas ^_^ ...

Kemarin dalam diskusi, tiba-tiba kami menyadari sebuah fenomena yang mungkin banyak melanda keluarga da'iyah. Yang terjadi malah bertentangan dengan ungkapan Imam Syahid di atas. Entah karena terlalu memahami maksud ungkapan tersebut atau karena tidak memahaminya sama sekali.

Mereka tidak bermasalah dengan pembagian beban da'wah, namun justru berkendala dengan "kesenangan dan romantika". Saking sibuknya ngurusin ummat, ber-romantis-romantis ria dengan istri/suami malah sering terlupakan. Bagaimanapun istri/suami juga orang yang senang akan hal-hal yang romantis. Bukannya mereka tidak ridha akan sibuknya pasangannya dalam da'wah masyarakat, tapi sesekali perlu refreshing juga.

Suami/istri adalah orang yang akan menemani hidup kita sepanjang sisa umur kita. Anak mungkin hanya akan bersama kita ketika mereka kecil. Saat mulai sekolah maka dunianya sudah berpindah ke teman-temannya, begitu juga ketika menikah maka dunianya adalah suami/istri dan anak-anaknya. Tapi suami/istri akan menemani kita menghabiskan seluruh episode hidup kita.

Maka cinta itu harus dipelihara. Jangan biarkan ia berlalu seiring berlalunya waktu. Mungkin cinta bermetamorfosis menjadi 'tanggung jawab', 'kesetiaan', 'pengabdian', tapi tidak menjadikannya lelah untuk selalu dipupuk, disegarkan, diperbaharui.

Keromantisan tidak selalu berbentuk bunga, kata-kata puitis, atau candle light dinner. Dia bisa berupa ikut menemani masak di dapur, membuatkan secangkir teh, atau mendengarkan ceritanya tentang hal-hal yang tidak begitu penting. Perhatian kecil sangan berarti bagi pasangan.

Kadang dengan bertambahnya usia permikahan, psangan merasa tidak perlu lagi mengungkapkan rasa sayang seperti pasangan yang masih baru. Padahal justru itulah yang harus diusahakan, merasa selalu seperti pengantin baru.

Jangan pelit dengan kata 'sayang', jangan kikir dengan perhatian kecil, yang sungguh, jika ia senantiasa kita pelihara, maka semakin lama, semakin lanjut usia pernikahan, semakin berkobar juga cinta kita.

Kalau boleh saya meralat sedikit kata-kata di atas, "Landasan kahidupan rumah tangga bukan semata berbagi beban kehidupan dan beban da'wah, melainkan juga kesenangan dan romantika."

(Tulisan ini khusus untuk yang mungkin mulai layu cintanya, dan sungguh, sebenarnya saya juga masih terus belajar untuk menjadi romantis dan semoga mampu mampu terus memelihara cinta saya dan mengobarkannya. Wallahu a'lam)

Thursday, August 30, 2012

Episode Taat

“Apabila seorang istri sudah mengerjakan shalat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya, dan taat kepada suaminya, maka akan dikatakan padanya : masuklah engkau ke dalam syurga dari pintu mana saja yang engkau suka.” (HR Ahmad no.1573)
 
Pagi ini langit gelap dan mendung. Tadi malam hujan deras. Beberapa saat sebelum berangkat saya lihat langit masih gelap, namun sudah tidak hujan lagi. 

Si Abi ngingetin,”Umi bawa baju ganti aja”
Ku jawab sambil lalu,”Mmmm…”
Tapi tak kulakukan perintahnya. Cuma kaos kaki cadangan yang kumasukkan ke dalam tas. Ku pikir langit dan hujan akan bersahabat hari ini…

Keluar dari rumah hujan gerimis. Belum seperempat perjalanan, hujan pun mengguyur semakin deras.Meski sudah memakai jas hujan, tetap saja basah semua.

Sesampai di kantor…
Bagian bawah, jangan ditanya. Berkali-kali kena cipratan mobil/motor lain. Lutut ke bawah habis basah semua. Pas jas hujan kubuka, ternyata jilbabku ikut basah, padahal jas hujan sudah kututup sampai kepala… Terpaksa seharian ini memakai jilbab yang basah seharian…

Masih terngiang kata-kata lembut suami saat berboncengan di motor tadi pagi,”Ngga ada ruginya bawa baju ganti…”

Maafin umi ya bi…
Ampuni aku ya Allah…

Boleh nikah lagi, dengan syarat...

Lagi ada yang bahas poligami

Well... semenjak belum menikah, saya termasuk golongan pro-poligami.Bukannya saya tidak cemburu, apalagi tidak cinta. Tentu saja saya cemburu sekali jika suami saya punya istri lagi. Dan jangan ditanya besarnya cinta saya kepada suami saya...

Saya pernah bertanya kepada beberapa akhwat (banyak -sekalian saya survey), seandainya suatu saat anti sudah berumur -misalnya- 35 dan belum menikah, tiba-tiba ada seorang ikhwan yang melamar anti, sebagai istri kedua -dengan catatan istri pertama sudah setuju, apakah anti akan menerima?
Semua menjawab "Ya" (bersedia).

Alhamdulillah saya tidak berada pada posisi tsb (soalnya kalo saya berada di posisi itu, belum tentu saya akan mengatakan "ya" ). Tentu saja menjadi istri kedua tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi untuk menjadi istri pertama yang sudah merasakan indahnya hidup berdua, indahnya mencintai suami dan merasakan cinta suami yang penuh kepadanya, tiba-tiba harus berbagi dengan wanita lain... Ah, tentu saja tidak enak...

Tapi entah kenapa saya tidak pernah keberatan, bahkan memikirkan pun tidak. Tahukah dialog hari pertama saya dengan suami? Saya bilang tidak keberatan jika suatu saat abang menikah lagi. Suami bilang : "Belom juga diapa-apain udah mau dipoligami"  Saya : "Justru karena belom diapa-apain makanya bisa bilang ga apa-apa dipoligami."

Ditahun pertama pernikahan, saya pernah bilang,"Abi boleh poligami dengan satu syarat." Suami penasaran, "Emang apa syaratnya?" Saya bilang, "Nanti umi bilang kalo abi bener-bener nikah lagi. Yang jelas bukan 'langkahi dulu mayatku'."
Sampe sekarang suami saya ngga tau apa syaratnya, bahkan setelah saya bilang, "Abi boleh nikah lagi tanpa syarat."

Mau tahu syarat apa yang saya ajukan kemudian saya hilangkan?


Kasih tau ga ya?...


Dulu saya mau mengajukan syarat,

"Asal di syurga nanti hanya umi satu-satunya istri abi."
 hehe...

Tapi kemudian saya tiadakan, karena saya jadi kasihan sama istri kedua (atau istri berikutnya). Lagian saya kan juga bisa mendapatkan bidadara (halah!) ato saya mau sering2 'main' ke istananya Rasulullah aja... hehe... Pasti cintanya selalu ada untuk saya (lha saya kan ummatnya.) Mungkin saya juga dah lupa sama suami saya (saat saya bersama Rasulullah... ) hehe...



Dalam setiap geraknya ada cinta

Begitu judul tulisannya mba nailalhusna (afwan nyontek mba...)

Menceritakan bagaimana suaminya senantiasa berada disampingnya, melayaninya tatkala sakit. Ah, betapa indahnya... Betapa bahagianya sepasang manusia yang saling mencintai...

Selesai membaca, pikiran saya langsung terbang ke sesosok wajah ganteng milik suami saya (halah).

Hhhhh... selalu ada hela nafas panjang setiap kali mengingatnya. Entah apa yang sudah saya lakukan di masa lalu yang membuat saya begitu beruntung dipertemukan dengan beliau. Kepribadian yang bersahaja, romantis, ga neko-neko, kesabaran yang luar biasa (koq dia 'tahan' ya sama saya...?), dan kasih sayang yang selalu ada untuk saya. Dia juga abi yang luar biasa bagi 3 bidadarinya...

Betapa sering saya merasa telah membuat dia bersedih, kecewa, ga sholelah... Seriiiiing banget! Tapi dia begitu sabar dan selalu memaafkan saya.

Seringkali saya merasa tak sepadan dengan beliau. Seharusnya dia mendapatkan yang jauh lebih baik dari saya. Tapi Allah telah menentukan, sayalah wanita beruntung itu...

Ah, abi... Semoga aku bisa mendampingimu kelak dalam istana penuh bidadari jannah-Nya.

[abi di kantor jangan bersin2 ya...]

Protesnya Abi

Sepertinya saya harus mengoreksi tulisan saya mengenai keromatisan suami saya, terutama setelah beliau mem'protes' tulisan saya berjudul "Sebongkah Rindu Untuk Cinta" (beliau memang selalu saya suruh membaca semua tulisan saya, termasuk mengedit atau mendelete -bila perlu).

Sebenernya bukan keseluruhan tulisan yang dia protes, hanya sebuah kalimat tentang "standar romantis" beliau yang saya beri nilai "tidak terlalu romantis alias lumayan"...  karena menurut beliau, dia sudah romantis (kalo ga bisa dibilang "sangat".)

Setelah saya pikir-pikir lagi... Ternyata suami saya memang romantis, sangat malah... Hanya saja... (ada "hanya"nya) karena tipe (tipe apa ya yang pembagiannya ada -verbal, audio, dan kinestetik-?) kami berbeda, saya jadi agak ngga ngeh...

Saya orang verbal, lebih menghargai bentuk-bentuk kata-kata, tulisan, dan yang semacamnya. Pengennya dikirim puisi cinta atau sms mesra (taela...) Sedangkan suami orang kinestetik, cenderung memberikan "bahasa cinta"nya dalam bentuk perbuatan. Pernah suatu kali saya bikin surat khusus buat dia dalam sebuah momen (saya lupa ultah dia apa ultah pernikahan kami ya?) setelah di baca-komentar satu kalimat-trus kertas suratnya cuma ditaruh-ga diapa-apain. Padahal saya berharap -mbok ya disimpen kek- . Begitu juga sebaliknya. Seringnya saya ngga menangkap 'kalimat-kalimat" cinta yang sedang dilontarkan tidak dalam bentuk kata-kata. (Tidak untuk di ekspose disini , Ntar bapak-bapak pada pengen pulang ke rumah lagi...)

Memang Mars dan Venus kadang beda "bahasa", tapi tetap satu Cinta...

Btw, kalo kamu mengungkapkan bahasa cinta kira-kira tipe yang mana?

[setelah 3 setengah tahun bersama, masih begitu banyak dari dirimu yang misterius...
Maafin umi ya bi... Sebenernya yang ngga romantis itu umi... hehe...]



Jakarta, Oktober 2008

Sebongkah Rindu untuk Cinta

Cintaku sedang jauh di mata, untuk urusan dinas tentunya.

Kangen? Jangan ditanya deh...

Barusan buka DSH Forum Keluarga yang mbahas bahasa cinta (waduh!).

Hmmm... kalo boleh cerita dikit... Suami tidak terlalu romantis, tapi ya 'lumayan'lah.  Sering panggil "sayang", bilang "abi sayaaaaang banget sama umi" juga...  Tapi jangan coba minta bunga, puisi, hadiah, pengalaman kemaren-kemaren sih selalu "in proses" ato "on the way" terus.

Pernah suatu kali aku nyoba ngirim puisi via g-talk (alhamdulillah kalo siang kami tetep bisa komunikasi gratis via g-talk)... Lagi serius-serius nulis -waktu itu ada kata-kata "pangeran"nya... Eeehh, malah di bales,"Pangeran apa nih? Pengeran Kodok apa pangeran apa?" Halah, si abi... Abis itu langsung ngga tak lanjutin puisinya... Dah ilfil duluan... (ngambek mode on )

Ada satu hal yang aku inget sampe sekarang, yang menurutku romantis bintang lima deh...
Aku lupa kejadiannya apa, waktu itu kaya'nya kami mau pisah sementara. Trus suami bilang,"Abi kalo pisah sama anak-anak ngga papa deh, asal jangan pisah sama umi..." kira-kira begitu...

Duuh... terharu sekali mendengarnya waktu itu, palagi dengan mata memelas... (halah)

Ohya, ada satu lagi... waktu itu pernah membahas masalah poligami, si abi mengatakan dengan kesungguhan luar biasa,"Umi jangan pernah tinggalin abi ya..." Sebenernya waktu itu saya luluh banget dengernya, cuma saya jawabnya."Lho bukannya abi yang mo ninggalin umi, kan yang boleh beristri dua kan abi..." (soalnya saya ngga melarangnya jika suatu saat dia ingin membangun istana kedua-nya. Eh... si abi malah takut... hehe... )

Cintaku di seberang sana... tidakkah kau dengar jerit rinduku?

(halah! halah! halah! )

yang tak kusukai dari cinta

Cinta... Yang kebayang pasti yang indah-indah (ya tho?)

Ada satu hal yang tak kusukai dari "Cinta", yaitu khawatir.

Jadi gini... adalah wajar ketika kita mencintai seseorang maka kita akan mengkhawatirkan keadaannya, kesehatannya, khawatir jika dia kenapa-napa, cemas jika sesuatu yang buruk akan terjadi padanya, terutama jika dia berada jauh dari kita.

Ah, tapi aku ngga suka perasaan itu. Sangat ngga enak! Bukan sesuatu yang menyenangkan untuk dirasakan. Palagi untuk orang-orang melankolis seperti diriku (hiks... ) pasti pikirannya kemana-mana. Pulang telat sedikit dan pas ngga ngasi tau, pasti dah uring-uringan. Palagi kalo yang terkasih (taela...) lagi diperjalanan... duh...

Gimana biar tenang?

Titipin aja ama yang 'memiliki'. (lho bukannya yang memiliki itu kita? kekasihnya?)
Ngga dong!

Allahlah yang Maha Memiliki.

Titipkan saja pada Allah yang Maha Mengetahui, Maha Melihat, Maha Berkehendak, dan Maha Berkuasa... Dialah yang Maha Menjaga. Minta saja pada-Nya, insyaAllah tenang. Wong Dia yang memiliki koq, kalo Dia mau ambil ya silakan. Apapun yang terjadi pasti atas ketentuan-Nya. Jadi apapun pastilah merupakan hal yang paling baik untuk kita.


[Ya Allah yang Maha Melihat, jagalah suamiku yang sekarang jauh, Jagalah anak-anakku yang tidak ada bersamaku, Jagalah orang tuaku muliakanlah mereka, dan Ampunilah segala dosa kami. Amin]