Showing posts with label Pernikahan. Show all posts
Showing posts with label Pernikahan. Show all posts

Thursday, September 6, 2012

Ta'aruf

Adalah hal yang wajar ketika ingin menikah, seorang ikhwan/akhwat ingin mengenal calon pasangannya, baik fisik maupun sifatnya.
Mencari infomasi kemudian dilakukan agar memiliki gambaran yang cukup untuk kemudian menerima atau menolak calon.

Namun demikian tentu ada adab dalam mencari informasi.

Imam Al Ghazali menyatakan dalam kitab Al-Ihya',
"Tidak boleh mencari keterangan tentang akhlaq dan kecantikan wanita yang hendak dipinang kecuali dari orang yang bijak dan jujur;
berpengetahuan luas tentang masalah fisik dan mental;
tidak berat sebelah kepada  wanita sehingga akan menyanjungnya berlebihan;
tetapi tidak pule dengki kepadanya sehingga akan menjatuhkannya.
Emosi cenderung tidak objektif berkaitan dengan masalah-masalah menjelang pernikahan dan memberi keterangan tentang wanita yang akan dipinang, baik berupa memuji berlebihan atau menjatuhkan.
Jarang sekali orang yang jujur dan objektif dalam masalah ini, melainkan banyak penipuan dan subjektif.
Unsur hati-hati dalam masalah ini sangat penting bagi setiap orang yang khawatir dirinya akan terjerumus pada praktik mengidamkan sifat-sifat yang tidak dimiliki istrinya kelak"

Demikian versi Fiqh Sunnah-nya Sayyid Sabiq dalam bab Pernikahan.

Setiap orang punya kelemahan dan kelebihan masing-masing. Tak akan habis membaca testimoni dari semua orang, karena setiap orang punya pengalaman bersama yang bersangkutan sesuai apa yang dialaminya. Bisa pengalaman yang menyenangkan, tentu juga bisa yang tidak menyenangkan.

Maka sebaiknya mencari informasi dikhususkan kepada yang benar-benar kenal/mengetahui yang bersangkutan secara langsung, dalam waktu yang cukup lama, sehingga ketika memberi informasi dapat dipercaya. Misalnya ibunya, saudaranya, sahabat dekat, dll. Jangan kepada semua orang, nanti jadi bingung sendiri, sebab setiap orang pastilah subjektif.

Menurut saya, ketika mencari informasi, kita harus benar-benar paham apa yang ingin kita ketahui dari calon pasangan. Apa saja hal-hal prinsip (kalo bahasa akuntansinya: material) yang kira-kira dapat mengubah keputusan kita, entah kemudian menerima atau menolak.

Hal-hal prinsip bisa berupa, misalnya pemahaman keislaman, penyakit, riwayat penyakit dalam keluarga, masalah kesuburan, penghasilan, akan tinggal dimana nanti, dan lain sebagainya. Hal yang prinsip berbeda menurut setiap orang. Bisa jadi masalah bersih-tidak bersih menjadi prinsip, hingga ketika si akhwat kurang 'rapi' hal ini menjadi bahan pertimbangan. Bisa jadi suku menjadi hal prinsip, karena orang tua meminta harus dengan pasangan dengan suku tertentu.

Carilah informasi berdasarkan prioritas. Untuk kenal lebih jauh lagi (apakah soal ternyata pasangan suka ngorok, tidak suka kopi, jarang sarapan, suka makan soto, susah tidur, dan hal-hal lain yang kurang penting) bisa dilakukan setelah berumahtangga, tinggal dalam satu atap.

Tidak ada manusia yang sempurna, sebagaimana juga kita (ya bukan?). Maka dalam berumahtangga yang terpenting adalah bagaimana kemudian kita dapat menerima pasangan apa adanya. Seiring waktu akan ada penyesuaian-penyesuaian. Sepanjang sepasang manusia memiliki visi-misi hidup yang sama, tujuan dan cara pandang yang kurang-lebih sama, maka insyaAllah hal lain bisa dikompromikan.

Wallahu a'lam...

Analogi

Masih segar diingatan kita, beberapa tahun yang lalu sempat isu tentang poligami menjadi pembicaraan terhangat di seantero nusantara. Semenjak sang Da’I fenomenal Aa Gym melakukannya hingga muncul klub poligami di Bandung, diikuti bermacam pembicaraan dan diskusi lebih jauh mengenai poligami di berbagai media dan seluruh kalangan pun ikut membicarakannya.

Latah poligamipun kemudian menjalar. Sebagian suami kemudian terinspirasi untuk melakukan poligami yang memang ada dalam syari’at, dilakukan oleh Rasulullah SAW, dengan segala maslahat yang ada didalamnya. Hal ini mungkin yang kemudian membuat Ustadz Cahyadi Takariyawan kemudian menulis sebuah buku yang tak kalah fenomenal, Membahagiakan Diri dengan Satu Istri, kala itu.

Saya yakin anda juga sependapat dengan saya, bahwa Ustadz Cah tidak sedang membuat tulisan tandingan atau mempertentangkan antara poligami dengan mempertahankan beristri satu. Pastilah tidak ada niatnya untuk menafikan kehalalan poligami, mengatakan satu istri lebih baik daripada banyak. Tentulah tidak. Beliau mungkin hanya membuat tulisan pembanding, agar poligami tidak dipahami secara parsial, dan kemudian melakukan (meneladani) apa yang Rasulullah lakukan dengan pemahaman yang tidak komprehensif. Hanya berharap ketika melakukan poligami adalah betul-betul dengan pemahaman yang benar sehingga memberikan maslahat sebagaimana yang diharapkan.

Ketika saya membaca tulisan seorang ak Akh yang mengatakan bahwa cinta adalah argumentasi yang shahih untuk menolak lelaki/wanita shalih yang datang kepadamu, sungguh mungkin perasaan saya lebih kurang sama dengan ustadz Cah ketika membuat buku bahagia dengan satu istri-nya. Ada kekhawatiran yang tiba-tiba muncul dalam diri saya ketika tulisan itu kemudian dipahami dengan parsial oleh orang yang membacanya. Bukannya saya menyalahkan, menafikan, semua dalil, sunnah, dan teladan para sahabat yang dikemukakan. Sungguh tidak. Saya hanya membayangkan sebagian pembaca berbondong-bondong menolak ikhwan/akhwat shalih yang datang kepadanya karena alasan cinta. Cinta yang tak pernah kita tahu itu cinta dari siapa (dari Allah atau ada campur tangan syaitan disitu? Na’udzubillah). Cinta yang belum tentu ia shahih untuk diberikan kepada yang belum berhak.

Lagi-lagi saya tidak faqih bicara cinta.
Saya tidak bisa tau bagaimana sesungguhnya cara seorang ikhwan mengetahui akhwat incarannya juga mencintainya?
Saya juga tidak bisa mengira bagaimana cara seorang akhwat bisa yakin dengan menolak ikhwan shalih yang datang kepadanya dengan harapan ikhwan yang dicintainya akan melamarnya?
Saya juga tidak tau bagaimana seorang lelaki bisa sedemikian cinta kepada seorang akhwat yang sesungguhnya tidak dikenalnya sehingga memperkenankannya menolak akhwat yang disodorkan biodatanya?
Mohon beribu maaf atas kenaifan pikiran-pikiran suudzon saya…

Mengajak pembaca untuk mengendalikan cintanya yang menggelora memang tujuan saya membuat beberapa tulisan ‘counter’. Hanya bermaksud mengajak para ikhwah untuk mengendalikan perasaan hingga ia halal dan siap untuk ditanam, dipupuk, disiram, hingga tumbuh dan berkembang dengan benar. Janganlah sampai menolak, meskipun itu boleh.
Sebagaimana Ust. Cah mengajak berbahagia dengan satu istri, tidak berarti ia melarang para suami berpoligami.

Berserah lebih selamat, bagi saya, karena saya – dan banyak ikhwah lainnya- telah membuktikan keselamatan ini. Memilih untuk tidak memilih, mengadukan cinta kepada Allah kemudian berserah ketika Allah memilihkan ia atau yang lebih baik untuk saya, bukannya menolaknya. Inilah yang saya lakukan kemudian saya tuliskan pengalaman ini, sepengetahuan dan sepemahaman saya. Maka tidak usah mengatakan bahwa seseorang tidak mampu mempertanggungjawabkan apa yang ditulisnya, sedangkan dirinya sendiri juga belum tentu mampu.

Sesungguhnya semua orang dapat diambil dan ditolak pendapatnya kecuali Rasulullah SAW.

Wallahu a’lam bishowab.

Samara atau Samarada?

(Samara = Sakinah mawaddah wa rahmah; Samarada = Sakinah mawaddah wa rahmah wa Da'wah)

Membicarakan tentang pernikahan, saya teringat sebuah fenomena yang terus terjadi. Seorang akhawat/ikhwan yang tadinya aktif berda'wah, kemudian 'tinggal kenangan' (aktifitas da'wahnya) sesaat setelah ia menikah dan punya anak. "Ga ada bekas-bekasnya," istilah suami saya. Seolah da'wah tidak pernah melekat dalam dirinya.

Ketika hendak menikah, semua orang pasti merindukan rumah tangga yang samara. Namun bagi da'i seharusnya samara saja tidaklah cukup. Ada impian menjadikan keluarganya menjadi keluarga da'wah. Namun tidak demikian ternyata bagi sebagian ikhwah, terutama ikhwah STAN yang ketika lulus, kemudian penempatan dan bekerja sebagai birokrat pagi hingga petang, menikah, berkeluarga dan punya anak, tampaknya lupa dengan keni'matan berda'wah. Senin hingga jumat tersita waktunya untuk pekerjaan. Sabtu Ahad kemudian menjadi waktu spesial untuk keluarga semata.

Apalagi bagi akhwat yang kemudian perannya bertambah menjadi istri dan ibu. Sibuk mengurus anak menjadi alasan yang pamungkas sekali untuk menghindari amanah-amanah da'wah yang ditawarkan padanya. Anak begitu menyita perhatian dan waktunya. Tidak ada lagi tempat untuk ummat. Ditambah lagi jika kemudian suamipun menitahkan untuk 'serius' mendidik anak saja.

Rumah tangga apa yang hendak dibangun seharusnya dikomunikasikan ketika hendak menikah. Saat taaruf dengan calon pendamping, kedua belah pihak hendaknya sepakat akan memilih keluarga yang samara atau samarada. Hal ini hendaknya disepakati kedua belah pihak. Da'wah akan menjadi berkah ketika dilakukan dengan keridhaan istri/suami. Terutama bagi istri, tidak mungkin ia berangkat berda'wah tanpa ijin sang suami.

Mungkin perlu digali ketika taaruf, apakah sang suami tipe samara atau samarada? -ini bagi akhwat yang mendamba keluarga samarada, kecuali jika ia memang berniat untuk menjadi keluarga samara saja- Apakah suami akan mengijinkan istrinya memberikan sebagian waktu, tenaga, pikiran, juga hartanya untuk ummat?

Makanya ketika menulis biodata, saya mencantumkan 2 kriteria yang harus dipenuhi calon suami saya. Pertama, ikhwah tarbiyah. Karena saya memilih jalan tarbiyah untuk menyebar kebaikan, dan tentunya menemukan orang yang memilih jalan yang sama akan mempercepat langkah dan sampai kepada tujuan. Kedua, mencintai da'wah. Ya, karena saya juga mencintainya. Mencintai hal yang sama bisa mendekatkan 2 orang asing, ya kan? Dan karena juga saya memimpikan untuk terus berda'wah sepanjang hayat dan masuk jannahNya melalui pintu jihad (amiiiiin...)

Teruslah berda'wah saudaraku, percayalah ia senantiasa memberi keberkahan.
Apa yang kita berikan untuk da'wah sesungguhnya adalah juga untuk keluarga kita.
Betapa banyak keberkahan yang saya rasakan meski sering 'meninggalkan' anak dan keluarga demi ummat. Banyak hal yang mungkin tidak bisa kita dapatkan ketika kita tidak berda'wah.

"Jagalah Allah niscaya Ia akan menjagamu..."

Percayakan yang kita tinggalkan pada yang Maha Menjaga, dan semoga Ia terus mengalirkan keberkahan kedalam keluarga kita.

Memilih untuk tidak memilih

Menyambung tulisan saya yang sebelumnya.

Di jaman saya bujang dulu, memilih calon istri/suami bukan sesuatu yang populer. Baik memilih beberapa alternatif apalagi ‘memilih sendiri’ (baca: mencari sendiri) calon istri/suami. Ketsiqohan terhadap murabbi dan jamaah tercermin lewat ketsiqohan kepada murabbi untuk mencarikan dan memilihkan calon istri/suami.

Bukannya tidak ada pilihan, kadang beberapa ikhwah ada yang memang disodori beberapa calon. Tapi memang dari awal memilih untuk tidak memilih, melainkan dipilihkan. Seolah tsiqoh kepada Allah untuk memilihkan melalui tangan murabbi.

“Saya akan berikan biodata akhwat hanya 3 kali. Jika pertama ditolak, saya akan berikan yang kedua. Jika yang kedua ditolak, saya akan carikan lagi yang ketiga. Namun jika yang ketiga ditolak, selanjutnya silakan cari sendiri.” Demikian kira-kira titah dari sang murabbi kepada binaannya ketika hendak berikhtiar mencarikan jodoh bagi mutarabbinya.

Ketika kita menyerahkan urusan jodoh ini ke tanganNya, maka insyaAllah Ia akan membersamai kita dalam proses itu. Jodoh bukan sesuatu yang ditentukanNya ketika ruh ditiupkan. Silakan lihat lagi hadist Arbain yang ke-4. “…Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya….”
Tidak kata-kata jodoh di hadist ini. Jodoh itu rizki. Ia harus dijemput. Ada ikhtiar disana.

Kembali ke tsiqoh. Tsiqoh kepada Allah untuk memilihkan kemudian di-ejawantah-kan dengan tsiqoh kepada murabbi. Memang dia bukan siapa-siapa kita. Bukan orang tua, saudara, tidak ada hubungan darah, bukan wali  kita. Kenal juga baru, mungkin juga tidak terlalu kenal akan diri kita begitu dalam, tidak tahu selera kita, apa mau kita. Dia tidak akan pernah tau kecuali kita memberitahukannya. Seberapa dekat kita dengan murabbi kita?

Jaman saya dulu, seperti inilah kira-kira gambarannya. Memilih akhwat (karena biasanya yang memilih itu kan ikhwan, akhwat relatif jadi pihak yang menunggu) seperti sudah menjadi hal yang tidak lagi tabu sekarang. Ketika ditawari akhwat shalihah, ia menolak karena kurang cantik. “Kalo tidak shalihah, saya akan mengusahakannya menjadi shalihah. Tapi kalo emang dari sononya tidak cantik?? ...” begitu kira-kira alasan ikhwan-ikhwan yang terus mencari istri cantik ini.

Padahal ia tidak tahu, ketika paras yang cantik bisa berubah menjadi jelek ketika ketidakshalihahan itu terlihat. Seandainya ia tahu, bukan cantik yang menyebabkan cinta, melainkan cinta yang menyebabkan cantik… (ini kata siapa ya?)

Namun tsiqoh juga bukan berarti taqlid buta. Apapun yang disodorkan kemudian tanpa dilihat, tidak usah taaruf, langsung akad saja, berserah dengan apa yang ada. Tidak sekaku itu juga. Ketika memang ada alasan yang syar’I, bukan nafsu semata, menjadi alasan sebuah penolakan, insyaAllah itu akan membawa maslahat. Ketika ada alasan yang kemudian menjadi penghalang keluarga yang akan dibangun menjadi sakinah mawaddah warahmah wadda’wah, maka proses boleh saja tidak dilanjutkan. Tentu penolakan dilakukan dengan cara yang ahsan, hingga meminimalisir ke-tidakberkanan-nya hati yang ditolak.

Tidak juga berarti ketika jodoh itu datang dari selain murabbi juga harus ditolak. Kitalah yang sebenarnya menentukan dari mana jodoh itu datang. Misalnya dengan tidak meminta dicarikan kepada orang selain murabbi. Namun ketika jodoh itu datang dari selain murabbi juga sesungguhnya tidak ada yang perlu dipermasalahkan, sepanjang proses menuju pernikahan itu juga syar’i. Murabbi tentu juga punya keterbatasan yang menyebabkan ia tidak bisa mencarikan jodoh semua mutarabbinya. Meski demikian, tidaklah sulit bukan jika kita tetap menghormatinya dengan meminta pendapatnya mengenai calon kita?

‘Ala kulli hal, semua tergantung diri kita sendiri. Kita yang akan menjalani episode bersama orang asing dalam satu kapal. Keputusan yang diambil adalah keputusan kita. Jangan menyalahkan murabbi atau siapapun yang membantu mencarikan jodoh kita ketika mungkin kapal itu dilanda badai. Meminta bantuan, berkonsultasi, tentunya sangat direkomendasikan, terutama karena biasanya mereka lebih lama berumahtangga dibanding kita yang masih baru. Namun tidak menyalahkannya…

Berserah adalah lebih selamat. Menyerahkan pilihan kepadaNya, kemudian memohon bantuanNya untuk memelihara dan menjalani keutuhan rumah tangga yang dibangun dengan berikhtiar dengan cara yang syar’i.

Wallahu a’lam.

(mohon maaf kalo idenya lompat-lompat… Isinya juga nggantung… masih ada sambungannya)

Ketika jaman berganti 2

Baiklah…
Daripada nanti idenya keburu ilang, mending saya tulis aja.

Sungguh saya tidak berniat membahas masalah benar-salah. Ini masalah selera, berdasarkan pengalaman dan pemahaman saya yang sempit. Sama sekali tidak menyalahkan yang memilih sebaliknya. Sekali lagi, ini hanya masalah like and dislike, bukan masalah right and wrong.

Bismillah…

“Bila seorang laki-laki yang kamu ridhai agama dan akhlaknya meminang,” kata Rasulullah mengandaikan sebuah kejadian sebagaimana dinukil Imam At Tirmidzi, “Maka, nikahkanlah dia. Apabila engkau tidak menikahkannya, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas.”

Hadist ini menjadi salah satu hadist wajib (mungkin) bagi ikhwan-akhwat yang akan menikah. Jika tidak hafal, minimal tahu atau pernah membaca kata-kata Rasulullah ini. Juga saya dulu, hingga perkataan ini begitu ‘mendarahdaging’ dan tak pernah dilupakan. Ketika saat-saat itu sudah dekat, sudah lulus kuliah, dan –biasanya- langkah ke arah pernikahan insyaAllah akan dilalui, hadist ini semakin menjadi sebuah perintah bagi saya.

Maka saya pun berdoa kepadaNya agar tidak diperkenankan untuk menolak pria shalih manapun. “Jangan sampai ya Allah,” pinta saya ketika itu,”saya menolak lelaki shalih manapun yang meminang saya pertama kali.” Selanjutnya tentu saya berdoa agar Dia memilihkan seorang pria shalih untuk saya dan membiarkan pria itu datang sebelum pria lain. Pria yang mencintaiNya dan Ia mencintainya pula, yang mencintai RasulNya dan jihad-da’wah di jalanNya. Doa ini saya ulang berkali-kali. Tentu hingga pria pilihan itu akhirnya datang.

Saya begitu gembira, karena Allah begitu tau selera saya. Dengan sempurna sekali Ia memilihkan seorang pria yang tepat memenuhi seluruh kriteria suami idaman saya. Suami yang saya impikan, yang saya bayangkan akan begini begitu, datang tepat waktu. Proses, taaruf, khitbah, akad, dan walimah, semua persis seperti yang saya inginkan. Betul-betul seperti dreams come true.

Pun ketika sudah menikah, kemudian saya berhasil merasakan da’wah di kota kecil nan jauh seperti impian muda saya dulu –ketika semangat da’wah sedang begitu menggebu. Dan saya merasakan, melepas suami berangkat berda’wah. Juga merasakan ridha suami kepada saya ketika tiba saatnya saya malam-malam berangkat berda’wah ke tempat yang cukup jauh, meninggalkan suami, anak-anak, rumah. Demi ridhaNya. Semua demi Dia.

Tentu saya pernah simpati, menyukai, -kalau tidak bisa dibilang mencintai- seorang ikhwan. Beberapa  orang malah. Biasa lah, akhwat baru ghiroh ketemu ikhwan yang agak bagus penampakan berikut pemahamannya, ditambah agak sering berinteraksi, tentulah ada ‘rasa’. Saya termasuk yang rapuh sebenernya untuk urusan ‘hati’ ini. Ada ikhwan agak ‘bagus’ dikit, saya bisa langsung simpati. Karena kerapuhan itu, maka saya menbangun benteng cukup tinggi untuk hal-hal yang berbau VHMJ (virus hati merah jambu). Ghaddul bashar. Dan menghindari atau meminimalisir berkomunikasi dalam bentuk apapun dengan ikhwan, kecuali darurat. Hanya berikhtiar agar ‘rasa’ itu tidak tumbuh, sehingga saya bisa mempersembahkan hati saya yang masih suci kepada suami saya kelak. Juga supaya saya benar-benar bisa objektif dan memakai logika ketika proses menuju pernikahan itu kelak terjadi. Ketika saat untuk memilih itu tiba.

Saya sulit memilih. Saya takut jika pilihan saya salah. Lebih ringan jika Allah lah yang memilihkan. Maka saya minta agar Ia saja yang memilihkan untuk saya. Maka cinta-cinta tak hakiki itupun saya tebas habis. Bahkan ketika ia baru mau akan tumbuh sedikit dari benih yang entah siapa menanamnya, benih itu saya cabut habis hingga ke akarnya. Dengan pertolongan Allah, alhamdulillah saya bisa.

Bukannya saya ngga pernah jatuh cinta. Saya tau rasanya (tersiksanya) jatuh cinta. Pernah merasakan berdebar-debarnya ketika diajak ngobrol si dia, berbunga-bunganya ketika dia menelpon dari jauh, buku diary saya bahkan penuh dengan namanya, cerita tentangnya tak pernah henti menghiasi setiap halaman buku curhat saya, patah hati ketika ternyata ia ternyata lebih memilih sahabat saya, gembira ketika mereka putus, merindukan surat-suratnya datang ketika ia jauh, sampai akhirnya tau ia juga pernah menyukai saya. Picisan banget ya?

Ya, saya pernah merasakan cinta (monyet) itu. Sampai hidayah itu datang kepada saya, dan saya berhijrah dengan kesungguhan, termasuk ‘rasa’ yang pernah ada ini. Cinta ini saya pulangkan kepada pemiliknya. Saya tau Ia yang Maha Membolak-balikkan hati. Ia lah Sang Pemilik hati ini. Maka saya berserah, menyerahkan kepada siapa ‘rasa’ ini berlabuh pada akhirnya.

Maka saya memasungnya ketika ia menggeliat. Tak membiarkannya tumbuh barang sedikitpun. Memendamnya dalam-dalam hingga tiba waktu yang tepat untuk membiarkannya lari secepat kilat dan berkembang pesat.

Sekarang saya bahagia telah melakukannnya. Memberikannya kepada yang berhak, sungguh indah rasanya.

Saya tak menyalahkan yang pernah dan sedang jatuh cinta, untuk kemudian berikhtiar memperjuangkan cintanya. Sungguh saya tak hendak berkata itu adalah hal yang salah. Tapi boleh dong saya lebih memilih untuk sejak awal tidak jatuh cinta, hingga cinta dapat berlabuh ke dermaga yang seharusnya.

Ya, tulisan ini memang tentang saya, cara saya memandang cinta, dan bagaimana saya memperlakukan cinta. Tidak ada tendensi untuk menyalahkan yang lain yang tidak seperti saya. Sekali lagi, ini hanya masalah pemahaman saya, suka-tidak suka, bukan masalah benar-salah.

Mungkin cinta bisa menjadi argumentasi untuk menolak. Buat saya, mengendalikan jalannya cinta sejak awal lebih selamat. Sehingga tidak perlu menolak lelaki shalih manapun. Namun jika ia terlanjur ada, dan lelaki lain ternyata lebih dulu melamar, maka saya akan memilih untuk mematuhi hadist di awal tulisan ini, karena insyaAllah akan membawa keberkahan yang lebih besar.

Wallahu a’lam bishowab.

Pernah Dikisahkan...

Bagi orang yang baru pertama kali mengalami, maka pembelajaran terbaik -mungkin- adalah belajar dari yang pernah mengalaminya, belajar dari pengalaman. Seperti halnya orang lain, ketika akan menikah, saya sering bertanya kepada yang sudah menikah, mengenai pernak-pernik pernikahan (selain melahap buku-buku tentang pernikahan tentunya...)

Pernah dikisahkan kepada saya, kisah yang sampai sekarang masih membekas dalam benak dan hati saya, kisah yang cukup tragis -mungkin. Sebutlah seorang ikhwan dan seorang akhwat, yang berazzam hendak menggenapkan segenap dien-nya. Setelah menjalani proses ta'aruf, dan kemudian khitbah, tibalah saatnya hari pernikahan. Tidak diceritakan kepada saya apa penyebabnya, namun tak dinyana, tepat sebelum ijab qabul, dihadapan semua orang yang menghadiri akad nikah tersebut, sang ikhwan membatalkannya.

Dan tahukah anda apa yang dilakukan oleh si akhwat?

Mungkin dia bersedih, namun yang dilakukannya pertama kali adalah sujud syukur. Entahlah, mungkin bersyukur karena Allah menunjukkan jalan-Nya dengan indah...

Kisah ini begitu melekat dalam hati saya sehingga saya menahan dengan kuat perasaan saya kepada calon suami saya saat itu. Bahkan masih membatasi interaksi, karena khitbah sekalipun belum merubah 'status' kehalalan hubungan saya dengan dia.

Pun ketika suatu hari (calon) suami saya mengirim sms "Apa kabar imanmu hari ini?" ke hp saya (yang menurut saya itu statement yang 'romantis' sekali ^_^), langsung saya balas dengan kata-kata,"Afwan akhi, saya tidak ingin berbuka sebelum waktunya." (yang membuat dia terheran-heran, ada yang salahkah dengan kata-katanya? -tentu saja ini saya ketahui setelah menikah... hehehe)

Ini hanya masalah selera koq... Maksud saya, saya tipe yang konservatif, jadi agak-agak paranoid, ga mau main api. Kalo anda tipe yang nyante, mungkin tidak begitu menganggap ini hal yang serius, it's okay, no problemo...

Interaksi sebelum pernikahan, hmmm... memang agak-agak bikin bingung. Belum halal, tapi akan halal. Kadang memang butuh interaksi yang agak sering karena memang banyak yang harus diurus, banyak diskusi, tukar pendapat, yang berbeda dengan yang lain.

Ya sepanjang masih dalam koridor syar'i, insyaAllah ikhwah semua saya rasa bisa menjaga diri... Bersabarlah dengan yang 5 menit itu (ijab qabul) setelah itu dia menjadi halal bagimu ^_^V

Just sharing...

Monday, September 3, 2012

Catatan 4 Tahun Perjalanan



 

4 tahun yang lalu,

 Saat aku masih bertanya dalam hati ketika pertama kali melihatmu melalui pasfoto 3x4,”Inikah orangnya ya Allah?”
Saat mengenalmu dalam forum malu-malu tanpa pertanyaan itu…
Saat membawamu ke hadapan Papa yang kemudian bertanya,”Apa yang membuatmu memilih anakku?”
Saat Mitsaqan Ghalizha itu diiringi tangisku…
Saat pertama kali seumur hidupku dipanggil “Ade” dan “Sayang”
...
Dan hari-haripun berlalu…
Menyelami dalamnya hatimu
Menjalani hari-hari gila bersamamu
Merasakan indahnya cintamu
Hati cerah, penuh tawa, dan ceria
Kadang juga kelam menghampiri, air mata, dan pelukan
Dan 3 bidadari pun diamanahkan pada kita
Rumah yang penuh teriakan dan tawa
Kadang juga khawatir dan sedih dengan sakitnya
Alhamdulillah kita mampu menghadapinya bersama dengan senyuman
...
4 tahun bersamamu
Terimakasih Allah, telah menjadikanku tulang rusukmu
InsyaAllah aku bersedia menjalani seribu tahun lagi (asal) bersamamu…
 ^_^ 

Thursday, August 30, 2012

Episode Taat

“Apabila seorang istri sudah mengerjakan shalat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya, dan taat kepada suaminya, maka akan dikatakan padanya : masuklah engkau ke dalam syurga dari pintu mana saja yang engkau suka.” (HR Ahmad no.1573)
 
Pagi ini langit gelap dan mendung. Tadi malam hujan deras. Beberapa saat sebelum berangkat saya lihat langit masih gelap, namun sudah tidak hujan lagi. 

Si Abi ngingetin,”Umi bawa baju ganti aja”
Ku jawab sambil lalu,”Mmmm…”
Tapi tak kulakukan perintahnya. Cuma kaos kaki cadangan yang kumasukkan ke dalam tas. Ku pikir langit dan hujan akan bersahabat hari ini…

Keluar dari rumah hujan gerimis. Belum seperempat perjalanan, hujan pun mengguyur semakin deras.Meski sudah memakai jas hujan, tetap saja basah semua.

Sesampai di kantor…
Bagian bawah, jangan ditanya. Berkali-kali kena cipratan mobil/motor lain. Lutut ke bawah habis basah semua. Pas jas hujan kubuka, ternyata jilbabku ikut basah, padahal jas hujan sudah kututup sampai kepala… Terpaksa seharian ini memakai jilbab yang basah seharian…

Masih terngiang kata-kata lembut suami saat berboncengan di motor tadi pagi,”Ngga ada ruginya bawa baju ganti…”

Maafin umi ya bi…
Ampuni aku ya Allah…

Boleh nikah lagi, dengan syarat...

Lagi ada yang bahas poligami

Well... semenjak belum menikah, saya termasuk golongan pro-poligami.Bukannya saya tidak cemburu, apalagi tidak cinta. Tentu saja saya cemburu sekali jika suami saya punya istri lagi. Dan jangan ditanya besarnya cinta saya kepada suami saya...

Saya pernah bertanya kepada beberapa akhwat (banyak -sekalian saya survey), seandainya suatu saat anti sudah berumur -misalnya- 35 dan belum menikah, tiba-tiba ada seorang ikhwan yang melamar anti, sebagai istri kedua -dengan catatan istri pertama sudah setuju, apakah anti akan menerima?
Semua menjawab "Ya" (bersedia).

Alhamdulillah saya tidak berada pada posisi tsb (soalnya kalo saya berada di posisi itu, belum tentu saya akan mengatakan "ya" ). Tentu saja menjadi istri kedua tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi untuk menjadi istri pertama yang sudah merasakan indahnya hidup berdua, indahnya mencintai suami dan merasakan cinta suami yang penuh kepadanya, tiba-tiba harus berbagi dengan wanita lain... Ah, tentu saja tidak enak...

Tapi entah kenapa saya tidak pernah keberatan, bahkan memikirkan pun tidak. Tahukah dialog hari pertama saya dengan suami? Saya bilang tidak keberatan jika suatu saat abang menikah lagi. Suami bilang : "Belom juga diapa-apain udah mau dipoligami"  Saya : "Justru karena belom diapa-apain makanya bisa bilang ga apa-apa dipoligami."

Ditahun pertama pernikahan, saya pernah bilang,"Abi boleh poligami dengan satu syarat." Suami penasaran, "Emang apa syaratnya?" Saya bilang, "Nanti umi bilang kalo abi bener-bener nikah lagi. Yang jelas bukan 'langkahi dulu mayatku'."
Sampe sekarang suami saya ngga tau apa syaratnya, bahkan setelah saya bilang, "Abi boleh nikah lagi tanpa syarat."

Mau tahu syarat apa yang saya ajukan kemudian saya hilangkan?


Kasih tau ga ya?...


Dulu saya mau mengajukan syarat,

"Asal di syurga nanti hanya umi satu-satunya istri abi."
 hehe...

Tapi kemudian saya tiadakan, karena saya jadi kasihan sama istri kedua (atau istri berikutnya). Lagian saya kan juga bisa mendapatkan bidadara (halah!) ato saya mau sering2 'main' ke istananya Rasulullah aja... hehe... Pasti cintanya selalu ada untuk saya (lha saya kan ummatnya.) Mungkin saya juga dah lupa sama suami saya (saat saya bersama Rasulullah... ) hehe...



Taarufku

Ini tentang taaruf (proses perkenalan saya dan suami sebelum nikah)

So...itu adalah taaruf ku yang pertama dan terakhir. Masih inget waktu pertemuan pekanan di' tembak' sama pembina (waktu semua orang dah pulang), saya cuma jawab insyaAllah. Langsung disuruh bikin biodata (pekan depan kasih saya ya. Jangan lupa cantumin kriteria). Akhirnya saya bikin biodata di Blok M, pas lagi nunggu kopaja (waktu itu kost di Kampung Melayu dan liqo masih di pondok aren). Nulis sambil jongkok dan diliatin orang-orang

Beberapa hari kemudian saya dikasih biodata ikhwannya. Dalam amplop lebar, ada pasfotonya 2 lembar. Pas buka deg-degan. Pas liat fotonya langsung ketawa-ketawa sendiri. (lhaaaaa.... ini thoo?) Tulisannya lumayan juga, rada rapih...

Setelah istiqoroh, trus nelpon murabbi bilang oke lanjut mba...
Aku lupa hari sabtu apa ahad ya, waktu taarufku. Janjian jam 9 pagi. Sengaja dilama-lamain jalannya, biar ga nyampe-nyampe (perasaan waktu itu rasanya maluuuuuuuuu banget...). Jam setengah sepuluh baru nyampe di TKP. Sang ikhwan dah menunggu. Duh, jantung kaya mau melorot, maluuu banget, rasanya pengen pulang ajah... Sama yang punya rumah juga suka ditinggal-tinggal, berhubung istrinya (yang nemenin aku, soalnya murabbi lagi berhalangan ga bisa nemenin... hiks...) lagi mandiin anak bungsunya yang masih bayi...

Akhirnya jam 10-an, forum taarufnya dimulai juga. Diawali dengan taujih dari perantara (tadinya aku kirain itu pembinanya, ternyata temen seliqonya!), trus dilanjutkan dengan tanya-jawab (emang wawancara...).
Aku udah mikirin berhari-hari, kira-kira ntar mau nanya apa ya waktu taaruf? Dan sampe detik itu juga aku blom nemu pertanyaan yang tepat. Mau nanya tentang dia ato keluarganya bisa ntar pasca nikah (kalo jadi). Informasi lain udah ada di biodata. Aku bingung mau nanya apa, soalnya menurutku yang akan ditanyakan adalah hal-hal prinsip yang jawaban dari beliau akan membuatku semakin yakin ato malah menjadi semakin ragu. Dan... tidak satu pertanyaan pun yang muncul.

"Gimana mba, silakan kalo ada pertanyaan", si bapak perantara menawarkan.
"Ga ada pak", sesaat setelah berpikir keras dan mau nanya apa tetep ga nemu. Trus deg-degan, penasaran kira-kira pertanyaan dari ikhwannya apa ya?
 Ternyata eh ternyata, ikhwannya juga ga nanya apa-apa. Ah, ga seru dong... Ho-oh... Akhirnya malah si bapak-e yang nanya-nanya... (sebenernya yang taaruf siapa neh?)

Selanjutnya kita langsung mbahas masalah berikutnya yaitu masalah taaruf keluarga, khitbah, dan nikah + walimah... Dan ikhwannya secara sepihak (sebenernya dengan persetujuan saya siiy...) telah memutuskan waktu pernikahan adalah bulan depan (waduh!)

Pe-er selanjutnya adalah ngomong ke ortu di payakumbuh deh... Gimana menyusun kata-kata biar beliau ga kaget (pasti kaget sih..)

Beberapa hari kemudian aku datang ke rumah calon suami, kenalan sama ortunya. Selang beberapa hari, kami (dengan naik pesawat yang berbeda) pulang ke payakumbuh (padang), untuk kenalan sama ortuku. Plus... khitbah informal (maksut-e dari ikhwan ke papa, ga pake ortu dan tetek bengek lamaran pada umumnya. Khitbah benerannya baru diadain pas H-1)

Begitulah... akhirnya satu bulan kemudian resmilah saya menjadi istrinya...

Dan taaruf itupun berlanjut sampe sekarang...