Punya anak itu ngga gampang. Dengan karakter masing-masing yang pastinya berbeda, orang tua kadang terjebak dengan ekspektasi mereka terhadap anak-anaknya.
Saya berupaya sekuat tenaga agar tidak menjadi orang tua yang otoriter, mengarahkan tidak memaksa, memotivasi tidak menyuruh.
Tentu saya punya cita-cita yang ga kesampaian. Saya pengen jadi enterpreneur, saya juga pengen jadi guru, saya pengen jadi hafizah, pengen jadi ustazah (cita-cita koq banyak banget ya? hehehe). Dan seperti yang sering kita dengar, banyak orang tua yang cita-citanya ga kesampaian cenderung memaksa anak-anaknya menjadi apa yang mereka mau. Betapa banyak anak-anak yang mengorbankan cita-citanya demi mewujudkan cita-cita orang tuanya, meski biasanya ortu beralasan 'itu demi kebaikan kamu.'
Jadi inget film "3 Idiots", filmnya Aamir Khan yang berkisah tentang 3 mahasiswa dengan kisahnya masing-masing (yang tentu bukan mahasiswa idiot, bahkan sebaliknya). Salah satu tokohnya kuliah di jurusan teknik demi mewujudkan cita-cita ayahnya, sementara dia sendiri tergila-gila dengan fotografi (orang tua mana di jaman sekarang yang bakalan ngijinin anaknya yang hobi foto untuk kemudian berkarier di fotografi? Mungkin ga ada). Tapi di film itu, ortunya akhirnya mengijinkan anaknya berhenti kuliah untuk serius di fotografi (happy ending lah).
Ketiga anak saya unik, mereka semua berbeda. Hanya saja kali ini saya pengen khusus bercerita tentang Iffah.
Iffah bukan tipe anak yang seneng belajar baca tulis. Sampai selesai kelas 1, membacanya masih belum lancar. Pun belajar Iqro'-nya (huruf hijaiyah), sama lamanya. Di kelas 3 sekarang, ketika Alif sudah lama beralih ke (baca) Alqur'an (tidak lagi ngaji Iqro'), Iffah masih berjuang di Iqro' 4, padahal Icha yang masih kelas 1 sudah akan menyelesaikan Iqro' 3-nya hanya dalam 1 semester.
Kalo belajar mau ujian juga... hadeeeeuh... susah banget. Salah emaknya sih klo yang ini, harusnya dari awal dicicil dikit-dikit, bukan SKS (sistem kebut semalam). Alif dan Icha sih oke aja, sehari sebelum ujian belajar bahan 1 semester, cuma nge-refresh aja.
Kesulitan terbesar Iffah ada di bahasa. Kayaknya Iffah ga punya 'language intelligence', jadi ngafalin sepatu itu bahasa inggrisnya shoes susah banget. Meski udah 10 kali ulang, besoknya ditanya akan lupa lagi. Koleksi kata-katanya (baik bahasa Inggris atau bahasa Arab) minim banget. Salah satu usaha yang saya lakukan -sesuai instruksi Ms Wina, teacher saya ketika pre-departure training- adalah membuat kata dengan gambar dan ditempel di tempat-tempat yang mudah terlihat dan terus diulang tiap hari. Proyek liburan kali ini adalah menggambar. Saya sudah membeli 1 rim kertas. Di kertas yang masih kosong itu saya tuliskan kata dalam bahasa Inggris (misalnya book, shoes, bag, etc) di bagian bawah kemudian anak-anak saya tugaskan untuk menggambar dan mewarnai gambar itu. Setelah selesai, kertas saya tempelkan di dinding kamar. Malam hari sebelum tidur, saya suruh (terutama) Iffah untuk membaca dan membuat kalimat menggunakan kata sesuai gambar. Well, I hope it will help her...
Kesukaannya memang menggambar. Ketika menirukan gambar, hasilnya bisa mirip banget. Selain menggambar, dia juga kreatif membentuk apapun menjadi bentuk lain, bahkan yang ga pernah terpikir oleh kita (saya maksudnya). Buku-buku di rak misalnya, Alif mungkin akan membacanya, tapi Iffah bisa membangun istana besar dengan buku-buku itu. Bantal, bagi Alif hanya sebagai teman tidur, tapi Iffah bisa bikin tenda dalam rumah menggunakan bantal dan selimut. Kertas? Hanya akan ditulisi atau digambari oleh Alif, tapi Iffah bisa bikin dompet, keranjang, dan banyak hal lagi dari kertas-kertas itu.
Kalo ditanya mau jadi apa, dulu (ketika mereka masih bingung mau jadi apa) saya suka memprovokasi anak-anak supaya mau jadi ustadzah (ngajar baca qur'an atau ngisi pengajian, mengajarkan dan mendekatkan ummat kepada Allah, RasulNya dan Alqur'an). Tapi sekarang mereka sudah bisa menentukan sendiri apa maunya (meski masih sering berubah-ubah).
Saya sempet bingung juga, Iffah ini klo dah besar mau jadi apa ya?
Dia lemah di pelajaran, apalagi di bahasa, matematika juga biasa saja, cenderung ga teliti, juga ga rajin. Kalo disuruh belajar tuh kayaknya maleeees banget... Tapi dia sangat bersemangat klo disuruh mengkreasikan sesuatu.
Sampai suatu malam menjelang tidur, saya bertanya kepada Iffah, "Iffah kalo dah besar mau jadi apa?"
Iffah pun menjawab dengan gayanya yang cool seperti biasa,"Mau jadi arsitek."
Okay... Case closed!
Semoga kamu bisa mencapai apa yang kamu citakan ya nak... (Entah dari mana dia dapet ide itu... whatever)
Umi akan mendukung apapun cita-citamu sepanjang itu bermanfaat bagi dunia dan akhiratmu.
22 Desember 2014
Showing posts with label Parenting. Show all posts
Showing posts with label Parenting. Show all posts
Monday, December 22, 2014
Terima raport
Sabtu kemarin, anak-anak terima raport. Seperti biasa, saya ga matok ekspektasi. Nilainya berapapun, ranking berapapun, yang penting mereka enjoy di sekolah...
Perhentian pertama, kelas 1B, kelasnya kaka Rumaisha. Ketemu sama Bu Johan dan Bu Dona. Keduanya pernah jadi guru si kembar, jadi sudah akrab. Testimoni bu guru, Icha ga ada masalah akademik, hanya pedenya yang masih kurang.
Perhentian kedua, kelas 3B, kaka Alifah. Bu Ami juga pernah ngajar Afifah, jadi udah pernah ketemu juga sebelumnya. Cuma ngelirik sebentar kertas berwarna biru dengan angka 9 dimana-mana. Testimoni bu guru, nilainya bagus-bagus, no problem, excellent!
Finally, kelas 3A, kaka Afifah. Nah, kali ini gurunya baru saya kenal. Baru sadar saya ga pernah ke sekolah sebelumnya, jadi ini adalah kali pertama saya ketemu Bu Rani dan Bu Endang. Sesuai dugaan saya, pelajaran Keterampilan mendapat nilai tertinggi. Nilainya terpaut jauh dari kembarannya dan tentu saja juga rankingnya.
Acara terima raport adalah waktunya saya berkomunikasi dengan guru-guru. Ritual mengantri sekian lama hanya untuk dapat berbicara dengan bu guru (yang jarang saya temui karena saya jarang ke sekolah) sangat saya nikmati. Meski kadang sebel sama wali murid yang ngobrol panjang lebar tak mempedulikan antrian di belakangnya, tapi saya memahami, terima raport memang ajang 'konfirmasi' dan saling dukung ortu dan guru. Tempat kami saling share dan mungkin berbagi tips untuk yang lebih baik bagi anak-anak, terutama jika ada masalah dalam proses pembelajaran.
Saya menghindari pertanyaan mengenai nilai. Itu hak prerogatif guru. Saya hanya ingin memastikan mereka senang, menikmati proses belajar, sosialisasi oke dengan teman dan guru, sopan dan disiplin. Semoga nilai yang tertera di buku tidak mengubah cara pandang saya terhadap mereka.
Sebagus atau sejelek apapun angka yang ada disana, saya harus pastikan mereka tetap punya semangat yang tinggi meraih apa yang mereka citakan. Saya harus bisa menemukan 'berlian' yang ada dalam diri mereka, mengoptimalkannya, dan berupaya agar potensi itu dapat bermanfaat bagi mereka dan ummat. Ah, susahnya jadi orang tua...
Semoga saya bisa mengemban amanah yang super berat ini, membesarkan mereka hingga menjadi hamba dan manusia yang sukses dunia akhirat.... Aaaamiiiiin....
22 Desember 2014
Perhentian pertama, kelas 1B, kelasnya kaka Rumaisha. Ketemu sama Bu Johan dan Bu Dona. Keduanya pernah jadi guru si kembar, jadi sudah akrab. Testimoni bu guru, Icha ga ada masalah akademik, hanya pedenya yang masih kurang.
Perhentian kedua, kelas 3B, kaka Alifah. Bu Ami juga pernah ngajar Afifah, jadi udah pernah ketemu juga sebelumnya. Cuma ngelirik sebentar kertas berwarna biru dengan angka 9 dimana-mana. Testimoni bu guru, nilainya bagus-bagus, no problem, excellent!
Finally, kelas 3A, kaka Afifah. Nah, kali ini gurunya baru saya kenal. Baru sadar saya ga pernah ke sekolah sebelumnya, jadi ini adalah kali pertama saya ketemu Bu Rani dan Bu Endang. Sesuai dugaan saya, pelajaran Keterampilan mendapat nilai tertinggi. Nilainya terpaut jauh dari kembarannya dan tentu saja juga rankingnya.
Acara terima raport adalah waktunya saya berkomunikasi dengan guru-guru. Ritual mengantri sekian lama hanya untuk dapat berbicara dengan bu guru (yang jarang saya temui karena saya jarang ke sekolah) sangat saya nikmati. Meski kadang sebel sama wali murid yang ngobrol panjang lebar tak mempedulikan antrian di belakangnya, tapi saya memahami, terima raport memang ajang 'konfirmasi' dan saling dukung ortu dan guru. Tempat kami saling share dan mungkin berbagi tips untuk yang lebih baik bagi anak-anak, terutama jika ada masalah dalam proses pembelajaran.
Saya menghindari pertanyaan mengenai nilai. Itu hak prerogatif guru. Saya hanya ingin memastikan mereka senang, menikmati proses belajar, sosialisasi oke dengan teman dan guru, sopan dan disiplin. Semoga nilai yang tertera di buku tidak mengubah cara pandang saya terhadap mereka.
Sebagus atau sejelek apapun angka yang ada disana, saya harus pastikan mereka tetap punya semangat yang tinggi meraih apa yang mereka citakan. Saya harus bisa menemukan 'berlian' yang ada dalam diri mereka, mengoptimalkannya, dan berupaya agar potensi itu dapat bermanfaat bagi mereka dan ummat. Ah, susahnya jadi orang tua...
Semoga saya bisa mengemban amanah yang super berat ini, membesarkan mereka hingga menjadi hamba dan manusia yang sukses dunia akhirat.... Aaaamiiiiin....
22 Desember 2014
Monday, November 17, 2014
Defining Moment
Hampir
5 bulan saya mengikuti diklat persiapan ke luar negeri di kampus STAN.
Dua pekan lagi saya akan menyelesaikan diklat ini, and then I'm on my
own.
Banyak yang saya pikirkan, banyak yang telah terjadi, banyak juga yang telah berubah.
Selama di asrama, jangan pikir saya selalu bersemangat. Ada kalanya, saya merasa sedih, gundah, takut, dan gamang. Menerima beasiswa ini kayak makan kaviar (mungkin), begitu masuk mulut -meski ga suka rasanya- harus dimakan karena sayang harganya mahal banget. Saya ga punya pilihan untuk mundur, sekalinya masuk, harus terima segala konsekuensinya.
Nginap di asrama dan pulang 'hanya' dua kali seminggu itu berat buat saya. Saya punya 4 anak perempuan dan salah satunya masih bayi. Masih setahun umurnya tapi saya terpaksa menyapihnya. Saya juga harus merepotkan orang tua saya, yang saya minta untuk tinggal bersama saya, yang kemudian menjadi 'pengganti' saya di rumah. Setiap hari, bukan saya yang membangunkan mereka, yang menyiapkan bekal mereka, bukan saya juga yang nemenin mereka bikin pe-er, membacakan bed time stories, menuntun mereka baca doa sebelum tidur, menidurkan si baby, atau pergi ke sekolah ketika ada acara. Hal ini sering kali membuat saya sedih, terutama ketika tahu mereka -suatu kali- sakit, dan saya tidak ada di sisi mereka...
Ketika sedih saya sering berpikir, apakah ini worthed? Apakah kuliah ke luar negeri ini benar-benar keinginan saya demi mereka? Ataukah ini cuma mimpi egois saya untuk bisa dikenal sebagai lulusan luar negeri, demi karir, jabatan, uang, popularitas, ingin berbeda, ingin dikenal dan diingat sebagai seorang yang sukses, dll? Sukses bagi siapa? Sukses apa?
Pikiran-pikiran ini sering membuat saya ingin menyerah. Anak sakit dan saya tidak bisa pulang, yang ada di pikiran saya hanya ingin bersama mereka di rumah, jadi ibu rumah tangga yang baik, yang penting saya selalu ada buat mereka. Lepaskan saja semua ini, tak ada yang lebih penting bagi saya kecuali anak-anak! Lebih baik saya di rumah saja, bisa masak untuk mereka, nganter mereka sekolah, ada kapan saja untuk mereka...
...
(ketika sampai titik ini, komunikasi dengan suami, kadang juga beberapa teman, selalu membantu...)
Kemudian saya mencoba berpikir apa dibalik semua ini.
Allah lah yang Maha Menentukan, dan kita hambaNya tidak lain hanya melakukan semua kehendakNya. Allah yang menakdirkan nama saya ada di dalam daftar penerima beasiswa ini, tentu Allah juga telah menggariskan juga jalan dan cara menuju kesana. Allah juga yang telah memberikan segala kemudahan. Mama dan papa sudah pensiun dan ga keberatan untuk tinggal di rumah saya, dengan senang hati berdekatan dengan cucu-cucunya dan ngurusin anak-anak (dan semuanya). Rumah yang dekat dari asrama, jadi bisa pulang dua kali seminggu (atau kapan saja jika keadaan darurat, hanya butuh sekitar 60 menit naik angkot). Beberapa teman ada yang dari semarang, makassar, surabaya, dll yang hanya bisa pulang dua pekan bahkan dua bulan sekali dengan ongkos sendiri. Ah, betapa beruntungnya saya...
Kuliah di luar negeri juga berarti kesempatan bagi saya untuk bisa mengajak anak-anak merasakan tinggal di negeri orang. Pengalaman yang tak tergantikan dan -mungkin- sekali seumur hidup. Saya ga mungkin ngajak mereka jalan-jalan ke luar negeri karena jika punya uang pun saya akan gunakan untuk yang lain, dan kali ini bahkan gratis! Banyak hal yang bisa diambil anak-anak ketika berinteraksi dengan orang asing dan hidup di tempat asing. Bahasa -tentu saja- penting untuk menghadapi globalisasi, keberanian menghadapi sesuatu yang baru, latihan beradaptasi, kebiasaan (attitude) orang asing yang bermanfaat, petualangan yang mungkin ga bisa didapat di Indonesia, dan banyak lagi. Ga banyak orang diberi kesempatan seperti yang sedang saya alami sekarang...
Saya juga ingin anak-anak mencintai ilmu dan ini adalah salah satu kesempatan saya untuk memberitahu dengan efektif bagaimana sejatinya seorang yang mengejar cita-citanya. Saya ingin anak-anak semangat belajar dan pada akhirnya kelak jika saatnya tiba, mereka tidak akan ragu melanglang jauh mengejar ilmu dan mewujudkan cita-cita mulianya.
Kemudian saya sampai pada kesimpulan bahwa ini adalah takdir saya. Allah menakdirkan apa yang baik untuk saya menurutNya, dan saya harus percaya bahwa ini memang baik untuk saya dan keluarga saya. Allah juga telah membentangkan banyak sekali kemudahan untuk saya dan keluarga atas ketentuanNya ini. Maka kenapa kemudian saya harus mundur dan menyerah?
Takdir saya berada di jalan ini sekarang, dan ini yang terbaik. Takdir lain bukan untuk saya, dan saya ga perlu mengkhawatirkan apa tidak terjadi bagi saya. Saya hanya perlu menjalani peran ini dengan sebaik-baiknya hingga Allah menunjukkan hikmahNya bagi saya dan orang-orang yang saya sayangi...
Bintaro, 17 November 2014
Di tengah rinai hujan yang menginspirasi
Banyak yang saya pikirkan, banyak yang telah terjadi, banyak juga yang telah berubah.
Selama di asrama, jangan pikir saya selalu bersemangat. Ada kalanya, saya merasa sedih, gundah, takut, dan gamang. Menerima beasiswa ini kayak makan kaviar (mungkin), begitu masuk mulut -meski ga suka rasanya- harus dimakan karena sayang harganya mahal banget. Saya ga punya pilihan untuk mundur, sekalinya masuk, harus terima segala konsekuensinya.
Nginap di asrama dan pulang 'hanya' dua kali seminggu itu berat buat saya. Saya punya 4 anak perempuan dan salah satunya masih bayi. Masih setahun umurnya tapi saya terpaksa menyapihnya. Saya juga harus merepotkan orang tua saya, yang saya minta untuk tinggal bersama saya, yang kemudian menjadi 'pengganti' saya di rumah. Setiap hari, bukan saya yang membangunkan mereka, yang menyiapkan bekal mereka, bukan saya juga yang nemenin mereka bikin pe-er, membacakan bed time stories, menuntun mereka baca doa sebelum tidur, menidurkan si baby, atau pergi ke sekolah ketika ada acara. Hal ini sering kali membuat saya sedih, terutama ketika tahu mereka -suatu kali- sakit, dan saya tidak ada di sisi mereka...
Ketika sedih saya sering berpikir, apakah ini worthed? Apakah kuliah ke luar negeri ini benar-benar keinginan saya demi mereka? Ataukah ini cuma mimpi egois saya untuk bisa dikenal sebagai lulusan luar negeri, demi karir, jabatan, uang, popularitas, ingin berbeda, ingin dikenal dan diingat sebagai seorang yang sukses, dll? Sukses bagi siapa? Sukses apa?
Pikiran-pikiran ini sering membuat saya ingin menyerah. Anak sakit dan saya tidak bisa pulang, yang ada di pikiran saya hanya ingin bersama mereka di rumah, jadi ibu rumah tangga yang baik, yang penting saya selalu ada buat mereka. Lepaskan saja semua ini, tak ada yang lebih penting bagi saya kecuali anak-anak! Lebih baik saya di rumah saja, bisa masak untuk mereka, nganter mereka sekolah, ada kapan saja untuk mereka...
...
(ketika sampai titik ini, komunikasi dengan suami, kadang juga beberapa teman, selalu membantu...)
Kemudian saya mencoba berpikir apa dibalik semua ini.
Allah lah yang Maha Menentukan, dan kita hambaNya tidak lain hanya melakukan semua kehendakNya. Allah yang menakdirkan nama saya ada di dalam daftar penerima beasiswa ini, tentu Allah juga telah menggariskan juga jalan dan cara menuju kesana. Allah juga yang telah memberikan segala kemudahan. Mama dan papa sudah pensiun dan ga keberatan untuk tinggal di rumah saya, dengan senang hati berdekatan dengan cucu-cucunya dan ngurusin anak-anak (dan semuanya). Rumah yang dekat dari asrama, jadi bisa pulang dua kali seminggu (atau kapan saja jika keadaan darurat, hanya butuh sekitar 60 menit naik angkot). Beberapa teman ada yang dari semarang, makassar, surabaya, dll yang hanya bisa pulang dua pekan bahkan dua bulan sekali dengan ongkos sendiri. Ah, betapa beruntungnya saya...
Kuliah di luar negeri juga berarti kesempatan bagi saya untuk bisa mengajak anak-anak merasakan tinggal di negeri orang. Pengalaman yang tak tergantikan dan -mungkin- sekali seumur hidup. Saya ga mungkin ngajak mereka jalan-jalan ke luar negeri karena jika punya uang pun saya akan gunakan untuk yang lain, dan kali ini bahkan gratis! Banyak hal yang bisa diambil anak-anak ketika berinteraksi dengan orang asing dan hidup di tempat asing. Bahasa -tentu saja- penting untuk menghadapi globalisasi, keberanian menghadapi sesuatu yang baru, latihan beradaptasi, kebiasaan (attitude) orang asing yang bermanfaat, petualangan yang mungkin ga bisa didapat di Indonesia, dan banyak lagi. Ga banyak orang diberi kesempatan seperti yang sedang saya alami sekarang...
Saya juga ingin anak-anak mencintai ilmu dan ini adalah salah satu kesempatan saya untuk memberitahu dengan efektif bagaimana sejatinya seorang yang mengejar cita-citanya. Saya ingin anak-anak semangat belajar dan pada akhirnya kelak jika saatnya tiba, mereka tidak akan ragu melanglang jauh mengejar ilmu dan mewujudkan cita-cita mulianya.
Kemudian saya sampai pada kesimpulan bahwa ini adalah takdir saya. Allah menakdirkan apa yang baik untuk saya menurutNya, dan saya harus percaya bahwa ini memang baik untuk saya dan keluarga saya. Allah juga telah membentangkan banyak sekali kemudahan untuk saya dan keluarga atas ketentuanNya ini. Maka kenapa kemudian saya harus mundur dan menyerah?
Takdir saya berada di jalan ini sekarang, dan ini yang terbaik. Takdir lain bukan untuk saya, dan saya ga perlu mengkhawatirkan apa tidak terjadi bagi saya. Saya hanya perlu menjalani peran ini dengan sebaik-baiknya hingga Allah menunjukkan hikmahNya bagi saya dan orang-orang yang saya sayangi...
Bintaro, 17 November 2014
Di tengah rinai hujan yang menginspirasi
Wednesday, October 2, 2013
DUL
Tulisan yang mencerahkan dari Rhenald Kasali
DUL
KITA tentu tak menyangka bagaimana mungkin seorang bocah berusia 13 tahun sudah dilepas membawa mobil sendiri pada tengah malam.
Memang ia ditemani seseorang, tetapi ia juga masih terbilang bocah. Bukan mengemudi di dekat rumah dengan pengawasan orangtua, melainkan di jalan tol, menempuh jarak yang terbilang jauh. Dan apesnya, enam orang tewas, dan beberapa anak langsung menjadi yatim piatu.
Ini tentu sangat memprihatinkan. Namun setiap kali melihat bagaimana masyarakat mendidik anak-anak, saya sebenarnya sangat khawatir. Tak dapat dipungkiri, tumbuhnya kelas menengah telah menimbulkan gejolak perubahan yang sangat besar.
Namun reaksinya sangat ekstrem: Yang satu mengekang habis anak-anak dengan dogma, agama dan sekolah sehingga melahirkan anak-anak alim yang amat konservatif, yang satunya memberi materi dan servis tiada batas, sehingga menjadi amat liberal.
Di segmen atas anak-anak diberikan mobil, di bawah menuntut dibelikan sepeda motor meski usianya belum 17 tahun. Kebut-kebutan menjadi biasa, korban pun sudah sangat sering berjatuhan. Karena mereka bukan siapa-siapa maka kecelakaan dan kematian yang ditimbulkan tidak masuk dalam orbit media massa. Kematian yang ditimbulkan Dul mengirim sinyal penting bagi kita semua.
Business class
Di pesawat terbang, mungkin hanya di Indonesia, Anda bisa menyaksikan keluarga-keluarga muda membawa anak-anaknya duduk di kelas bisnis. Dua orang baby sitter, duduk sedikit di belakang, tak jauh dari batas kelas eksekutif mengawal anak-anak yang sudah bukan bayi lagi itu. Di masa liburan, bukan hal aneh menemukan keluarga menunggu di business lounge, dan naik pesawat dengan tiket termahal.
Sayang sekali, cara makan anak-anak belum dididik layaknya kelas menengah. Berteriak-teriak di antara kalangan bisnis, makan tercecer di jalan, dan di atas pesawat memperlakukan pramugari seperti pembantunya di rumah. Sebentar-sebentar bel dipijit, dan pramugari bolak-balik sibuk hanya melayani dua orang kakak-beradik yang minta segala layanan. Menjelang tiba di tujuan, orangtua baru mulai menyentuh anak-anaknya, dibantu baby sitter yang terlihat gelisah. Orangtua mereka umumnya adalah pemilik areal pertambangan, pedagang, atau ada juga seleb-seleb muda yang belakangan banyak bermunculan. Ayah dan ibu memilih tidur.
Jarang ditemui percakapan yang memotivasi, atau mengajarkan sikap hidup. Paling banter, mereka bermain video game, dari iPad yang dibawa anaknya. Padahal di luar negeri, iPad adalah alat kerja eksekutif yang dianggap barang mewah. Kesulitan orangtua tentu bukan hanya berlaku bagi kelas menengah saja. Di taman kanak-kanak yang diasuh istri saya di Rumah Perubahan, di tengah-tengah kampung di dekat Pondok Gede hal serupa juga kami temui. Belum lama ini sepasang suami-istri menitipkan anaknya untuk sekolah di tempat kami, dan setelah mengecek status sosial-ekonominya, anak itu pun diputuskan untuk diterima.
Namun ada yang menarik, setelah diobservasi, anak berusia lima tahun itu seperti belum tersentuh orangtuanya. Ia seperti rindu bermain, motorik halus dan kasarnya belum terbentuk, jauh tertinggal dari teman-teman sebayanya. Setelah dipelajari dan orangtua diajak dialog, kami menjadi benar-benar paham pergolakan apa yang tengah terjadi dalam masyarakat kita. Orangtua selalu mengatakan, “Saya bekerja keras untuk menyiapkan masa depan anak-anak. Saya juga sering mengajak mereka berlibur”. Namun, anak-anaknya menyangkal semua pemberian itu.
Faktanya, anak-anak tak terbentuk. Sikap sosialnya, termasuk modal dasar yang disebut para ahli pengembangan anak sebagai executive function dan self regulation tidak terbentuk. Orangtua hanya fokus pada kemampuan anak berhitung dan membaca. Padahal, mereka juga harus pandai mengelola “air traffic control” yang ada dalam pikiran anak-anaknya agar kelak mampu menjadi insan mandiri yang bertanggung jawab.
Executive function
Anak-anak kita menghadapi dunia baru yang benar-benar berbeda dengan kita, sehingga mudah sekali “berpaling” dari hal-hal rutin seperti sekolah dan belajar. Mereka hidup dalam dunia yang penuh dengan “gangguan” (distraction) seperti sosial media dan telekomunikasi yang saling bersahutan. Kita semua akan sangat kesulitan menjaga dan membimbing anak-anak kita bila modal dasar executive function tidak ditanam sejak dini. Apalagi bila sekolah hanya fokus pada angka dan huruf, seakan-akan pengetahuan dan rumus adalah segala-galanya.
Menurut berita yang saya baca, Dul ternyata sudah sejak Juni lalu tak sekolah. Saya tak tahu tentang kebenaran berita ini. Tetapi Minggu dini hari dia masih mengendarai mobil, mengantar pacar lewat jalan tol, tentu mengindikasikan anak itu (ini juga bisa terjadi pada anak-anak kita, bukan?) telah hidup dalam abad distraction, sulit untuk fokus sekolah dan belajar. Studi-studi tentang executive function dalam child development antara lain banyak bisa kita temui dalam buku dan video yang diberikan psikolog-psikolog terkemuka, seperti Ellen Galinsky dan Debora Philip.
Mereka menemukan, di abad ini, anak-anak perlu mendapat fondasi hidup yang jauh lebih penting dari sekadar tahu angka dan huruf. Anak-anak itu perlu dilatih tiga hal: Working memory, Inhibitory control, dan Mental flexibility. Ketiga hal itulah yang akan membentuk generasi emas yang bertanggung jawab dan produktif. Mereka sedari dini perlu dibentuk cara bekerja yang efektif, fokus, tahu dan bekerja dengan aturan, sikap positif terhadap orang lain, mengatasi ketidaknyamanan, dan permintaan yang beragam, serta cara mengelola informasi yang datang bertubi-tubi.
Pikiran mereka dapat diibaratkan menara Air Traffic Control di Bandara Cengkareng dengan ratusan pesawat yang datang dan pergi, semua berebut perhatian dengan sejuta masalah yang harus direspons cepat. Maka itu, masalah Dul bukanlah sekadar masalah Ahmad Dhani yang menjadi seleb, atau masalah keluarga broken home. Ini adalah masalah kita bersama, masalah yang dihadapi anak-anak kita. Dari kita yang tidak fokus dan sibuk mencari uang atau mengurus orang lain. Kita yang dibentuk oleh sistem pendidikan model revolusi industri yang masih berpikir cara lama.
Ditambah guru-guru yang juga banyak tidak fokus, tidak paham problem yang dihadapi generasi baru, yang punya ukuran kecerdasan menurut versi mereka sendiri, dalam model persekolahan yang materialistis dan old fashion. Sekolah yang menjenuhkan dan tidak membuka fondasi yang diperlukan anak-anak sehingga mereka lari dari rutinitas.
Ini pun sama masalahnya dengan orangtua yang lari dari dunia nyata dan berlindung dalam benteng-benteng dogma dengan menyembunyikan anak dari dunia riil ke tangan kaum konservatif yang menjadikan anak hidup dalam dunia yang gelap dan steril. Anak-anak kita perlu pendekatan baru untuk menjelajahi dunia baru. Mereka perlu dilatih keterampilan-keterampilan hidup, fokus dan selfregulations, menjelajahi hidup dalam aturan, yang ditanam sedari usia dini.
DUL
KITA tentu tak menyangka bagaimana mungkin seorang bocah berusia 13 tahun sudah dilepas membawa mobil sendiri pada tengah malam.
Memang ia ditemani seseorang, tetapi ia juga masih terbilang bocah. Bukan mengemudi di dekat rumah dengan pengawasan orangtua, melainkan di jalan tol, menempuh jarak yang terbilang jauh. Dan apesnya, enam orang tewas, dan beberapa anak langsung menjadi yatim piatu.
Ini tentu sangat memprihatinkan. Namun setiap kali melihat bagaimana masyarakat mendidik anak-anak, saya sebenarnya sangat khawatir. Tak dapat dipungkiri, tumbuhnya kelas menengah telah menimbulkan gejolak perubahan yang sangat besar.
Namun reaksinya sangat ekstrem: Yang satu mengekang habis anak-anak dengan dogma, agama dan sekolah sehingga melahirkan anak-anak alim yang amat konservatif, yang satunya memberi materi dan servis tiada batas, sehingga menjadi amat liberal.
Di segmen atas anak-anak diberikan mobil, di bawah menuntut dibelikan sepeda motor meski usianya belum 17 tahun. Kebut-kebutan menjadi biasa, korban pun sudah sangat sering berjatuhan. Karena mereka bukan siapa-siapa maka kecelakaan dan kematian yang ditimbulkan tidak masuk dalam orbit media massa. Kematian yang ditimbulkan Dul mengirim sinyal penting bagi kita semua.
Business class
Di pesawat terbang, mungkin hanya di Indonesia, Anda bisa menyaksikan keluarga-keluarga muda membawa anak-anaknya duduk di kelas bisnis. Dua orang baby sitter, duduk sedikit di belakang, tak jauh dari batas kelas eksekutif mengawal anak-anak yang sudah bukan bayi lagi itu. Di masa liburan, bukan hal aneh menemukan keluarga menunggu di business lounge, dan naik pesawat dengan tiket termahal.
Sayang sekali, cara makan anak-anak belum dididik layaknya kelas menengah. Berteriak-teriak di antara kalangan bisnis, makan tercecer di jalan, dan di atas pesawat memperlakukan pramugari seperti pembantunya di rumah. Sebentar-sebentar bel dipijit, dan pramugari bolak-balik sibuk hanya melayani dua orang kakak-beradik yang minta segala layanan. Menjelang tiba di tujuan, orangtua baru mulai menyentuh anak-anaknya, dibantu baby sitter yang terlihat gelisah. Orangtua mereka umumnya adalah pemilik areal pertambangan, pedagang, atau ada juga seleb-seleb muda yang belakangan banyak bermunculan. Ayah dan ibu memilih tidur.
Jarang ditemui percakapan yang memotivasi, atau mengajarkan sikap hidup. Paling banter, mereka bermain video game, dari iPad yang dibawa anaknya. Padahal di luar negeri, iPad adalah alat kerja eksekutif yang dianggap barang mewah. Kesulitan orangtua tentu bukan hanya berlaku bagi kelas menengah saja. Di taman kanak-kanak yang diasuh istri saya di Rumah Perubahan, di tengah-tengah kampung di dekat Pondok Gede hal serupa juga kami temui. Belum lama ini sepasang suami-istri menitipkan anaknya untuk sekolah di tempat kami, dan setelah mengecek status sosial-ekonominya, anak itu pun diputuskan untuk diterima.
Namun ada yang menarik, setelah diobservasi, anak berusia lima tahun itu seperti belum tersentuh orangtuanya. Ia seperti rindu bermain, motorik halus dan kasarnya belum terbentuk, jauh tertinggal dari teman-teman sebayanya. Setelah dipelajari dan orangtua diajak dialog, kami menjadi benar-benar paham pergolakan apa yang tengah terjadi dalam masyarakat kita. Orangtua selalu mengatakan, “Saya bekerja keras untuk menyiapkan masa depan anak-anak. Saya juga sering mengajak mereka berlibur”. Namun, anak-anaknya menyangkal semua pemberian itu.
Faktanya, anak-anak tak terbentuk. Sikap sosialnya, termasuk modal dasar yang disebut para ahli pengembangan anak sebagai executive function dan self regulation tidak terbentuk. Orangtua hanya fokus pada kemampuan anak berhitung dan membaca. Padahal, mereka juga harus pandai mengelola “air traffic control” yang ada dalam pikiran anak-anaknya agar kelak mampu menjadi insan mandiri yang bertanggung jawab.
Executive function
Anak-anak kita menghadapi dunia baru yang benar-benar berbeda dengan kita, sehingga mudah sekali “berpaling” dari hal-hal rutin seperti sekolah dan belajar. Mereka hidup dalam dunia yang penuh dengan “gangguan” (distraction) seperti sosial media dan telekomunikasi yang saling bersahutan. Kita semua akan sangat kesulitan menjaga dan membimbing anak-anak kita bila modal dasar executive function tidak ditanam sejak dini. Apalagi bila sekolah hanya fokus pada angka dan huruf, seakan-akan pengetahuan dan rumus adalah segala-galanya.
Menurut berita yang saya baca, Dul ternyata sudah sejak Juni lalu tak sekolah. Saya tak tahu tentang kebenaran berita ini. Tetapi Minggu dini hari dia masih mengendarai mobil, mengantar pacar lewat jalan tol, tentu mengindikasikan anak itu (ini juga bisa terjadi pada anak-anak kita, bukan?) telah hidup dalam abad distraction, sulit untuk fokus sekolah dan belajar. Studi-studi tentang executive function dalam child development antara lain banyak bisa kita temui dalam buku dan video yang diberikan psikolog-psikolog terkemuka, seperti Ellen Galinsky dan Debora Philip.
Mereka menemukan, di abad ini, anak-anak perlu mendapat fondasi hidup yang jauh lebih penting dari sekadar tahu angka dan huruf. Anak-anak itu perlu dilatih tiga hal: Working memory, Inhibitory control, dan Mental flexibility. Ketiga hal itulah yang akan membentuk generasi emas yang bertanggung jawab dan produktif. Mereka sedari dini perlu dibentuk cara bekerja yang efektif, fokus, tahu dan bekerja dengan aturan, sikap positif terhadap orang lain, mengatasi ketidaknyamanan, dan permintaan yang beragam, serta cara mengelola informasi yang datang bertubi-tubi.
Pikiran mereka dapat diibaratkan menara Air Traffic Control di Bandara Cengkareng dengan ratusan pesawat yang datang dan pergi, semua berebut perhatian dengan sejuta masalah yang harus direspons cepat. Maka itu, masalah Dul bukanlah sekadar masalah Ahmad Dhani yang menjadi seleb, atau masalah keluarga broken home. Ini adalah masalah kita bersama, masalah yang dihadapi anak-anak kita. Dari kita yang tidak fokus dan sibuk mencari uang atau mengurus orang lain. Kita yang dibentuk oleh sistem pendidikan model revolusi industri yang masih berpikir cara lama.
Ditambah guru-guru yang juga banyak tidak fokus, tidak paham problem yang dihadapi generasi baru, yang punya ukuran kecerdasan menurut versi mereka sendiri, dalam model persekolahan yang materialistis dan old fashion. Sekolah yang menjenuhkan dan tidak membuka fondasi yang diperlukan anak-anak sehingga mereka lari dari rutinitas.
Ini pun sama masalahnya dengan orangtua yang lari dari dunia nyata dan berlindung dalam benteng-benteng dogma dengan menyembunyikan anak dari dunia riil ke tangan kaum konservatif yang menjadikan anak hidup dalam dunia yang gelap dan steril. Anak-anak kita perlu pendekatan baru untuk menjelajahi dunia baru. Mereka perlu dilatih keterampilan-keterampilan hidup, fokus dan selfregulations, menjelajahi hidup dalam aturan, yang ditanam sedari usia dini.
Friday, December 7, 2012
Jualan demi Jajan
Si kembar, Iffah (afifah) dan Alif (alifah), baru kelas 1 SD. Belum lagi satu semester mereka 'nyobain' jadi anak SD. Dan saya (kadang) masih suka memperlakukan mereka seperti anak TK. Salah satunya: tiap pagi dibawakan bekal, tanpa uang jajan.
Tapi ada yang ternyata luput dari perhatian saya. Dulu ketika masih di TK, kepala sekolah memang tidak mengijinkan penjual apapun nangkring di wilayah sekitar sekolah. Kegiatan makan pagi pun dilakukan bersama-sama, dengan ritual membaca doa bersama, ada piring kosong di meja untuk yang ingin berbagi, guru-guru pun senantiasa menemani setiap anak dan siap membantu jika masih kesulitan membuka kotak makannya misalnya. Di SD tentu tidak lagi demikian perlakuannya. Saat istirahat makan pagi, anak-anak tidak lagi didampingi guru, paling banter ya mengawasi saja dari kejauhan. Tidak ada lagi "piring berbagi" dan ada kantin bahkan penjual yang diijinkan berjualan di sekitar sekolah. Ditambah lagi, menurut cerita Iffah (ketika saya ajak ngobrol), semua temannya ternyata diberi uang jajan oleh orang tua masing-masing meski tetap dibekali makanan dari rumah.
Sampai minggu kemarin, saya tidak pernah memberikan uang jajan kepada si kembar, kecuali sekali, saat mereka 'memohon'. Nah, ketika dikasih, si kembar pun langsung ngobrol -sambil make kaos kaki dan sepatu- tentang nanti akan jajan apa. Dalam pikiran saya, waduh pasti ntar belajar juga bakalan kepikiran jajan melulu nih...
Dan sejak saat itu saya tak pernah lagi memberikan uang jajan kepada si kembar.
Hingga pekan kemarin....
Pertama agak shock juga ketika diberi tahu bahwa Iffah jualan di sekolah, dan uang hasil jualannya dipake buat jajan. Yang saya lakukan berikutnya adalah tentu saja konfirmasi ke Iffah. Berikut petikan-petikan obrolan saya sama Iffah:
Saya : "Wah kaka Iffah pinter ya... Kemarin jualan ya si sekolah?"
Iffah : senyum sambil cengengesan
Saya : "Emang kaka Iffah jual apa?"
Iffah : "Jual kertas" --> kertas file yang bergambar warna warni
Saya : "Emang kenapa koq kaka Iffah jual? Kan kemarin dikumpul-kumpulin"
Iffah : "Ngga kenapa-napa"
Saya : "Uangnya dapet berapa ka?"
Iffah : "Ga tau, lupa"
Saya : "Uangnya kaka Iffah pake buat apa?"
Iffah : "Buat jajan"
Saya : "Kaka Iffah jajan apa aja"
Iffah : "Jajan permen"
Saya : "Trus apa lagi?"
Iffah : "Es (susu SoGood beku), batagor, mie (semacam mie remez yang diberi bumbu kemudian diremes)"
Kemudian saya menerangkan tidak baiknya mie remes untuk dimakan.
...
Di kesempatan lain...
Saya : "Emang temen-temen kaka Iffah semuanya jajan ya?"
Iffah : "Iya"
Saya : "Ada ngga yang ngga jajan?"
Iffah : "Ada... Eh, ga ada"
Saya : "Emang ga bawa bekal dari rumah ya temen-temennya?"
Iffah : "Bawa"
Saya : "Tapi dikasih uang jajan juga?"
Iffah : "Iya"
Saya : "Kertas yang kaka Iffah jual, emang kaka jual berapa?"
Iffah : "Ada yang gopek, ada yang seribu, ada yang dua ribu"
Saya : "Wah, koq macem-macem harganya? Kenapa ga gopek semua?"
Iffah : "Ga kenapa-napa" (jawabnya dengan wajah cool)
Saya : "Yang gopek yang kayak gimana?"
Iffah : "Yang biru"
Saya : "Kalo yang seribu?"
Iffah : "Yang pink, yang kuning..."
Saya : "Koq harga beda sama yang biru?"
Iffah : "Ga kenapa-napa" (jawabnya masih cool... terus terang saya ga bisa nebak...hahaha)
Saya : "Kalo yang dua ribu?"
Iffah : "Yang gambar miki"
Saya : "Emang ada yang beli yang dua ribu?"
Iffah : (dengan bangga) "Ada"
dst...
Itu tadi hasil investigasi sama terhadap Iffah, sang penjual. Sementara Alif, yang bertugas bawa kertas file itu (dalam binder) dan menikmati hasil penjualan Iffah, tidak (belum sempet) saya tanya-tanya. Menarik ya jawabannya? ^_^ (dia bahkan sudah bisa menentukan harga barang... ck..ck..ck...)
Mereka memang selalu antusias (terutama Iffah) jika di sekolah diselenggarakan acara Bussiness Day. Sejak TK, kegiatan Bussiness Day selalu diadakan setahun sekali. Waktu mereka masih di TK, saya masih nyempetin bungkusin hasil bikinan sendiri. Kemarin ketika Bussiness Day di SD beberapa pekan yang lalu, saya cuma bungkusin kripik singkong masing-masing 5 bungkus untuk Iffah dan Alif (padahal disuruh 10 bungkus). Dan selalu excited menceritakan kejadian di sekolah tadi setiap kali habis jualan. Entah karena yang dijual memang menarik (pernah jual popcorn, sate buah, atau kripik singkong) atau memang Iffah yang pinter jualan, setiap kali bawa makanan untuk dijual di acara itu selalu habis terjual (beberapa temen masih harus bawa kembali hasil jualan yang ga laku)
Langkah selanjutnya adalah tentu saja konsultasi sama suami. Dan kamipun akhirnya mengambil keputusan:
- Perlu mengapresiasi kemampuan jualan Iffah yang "wow" menurut saya (OMG, mereka baru kelas 1 SD!!! Saya dan suami juga jualan sebenernya, hanya saja ngga bakat alam kayak Iffah. Kami baru jualan setelah menikah. Memang Iffah sering liat saya bawa barang dan ketika ditanya saya sering jawab,"Ini untuk temen umi, untuk dijual" Saya ga sadar ternyata dia 'merekam' hal itu... deep inside di unconsius mind-nya)
- Ke depan, beberapa kali seminggu, kami akan memberinya uang jajan, dengan catatan, sebagiannya di tabung ya... (jajan juga mengajarkannya bertransaksi, mengenal nilai uang, banyak manfaat lainnya sebenarnya. Tapi overprotective membuat saya mengabaikan manfaat-manfaat itu...)
- Salah satu alasan tidak memberikan mereka uang jajan adalah kekhawatiran terhadap apa yang mereka beli. Salah satu solusi mungkin bisa dengan mengajak mereka memilih sendiri jajanannya di supermarket dekat rumah untuk dibawa ke sekolah. Dengan begitu kami bisa mengontrol jajanannnya.
Bapak/ibu, punya saran lain untuk saya?
Terima kasih sebelumnya :)
Tapi ada yang ternyata luput dari perhatian saya. Dulu ketika masih di TK, kepala sekolah memang tidak mengijinkan penjual apapun nangkring di wilayah sekitar sekolah. Kegiatan makan pagi pun dilakukan bersama-sama, dengan ritual membaca doa bersama, ada piring kosong di meja untuk yang ingin berbagi, guru-guru pun senantiasa menemani setiap anak dan siap membantu jika masih kesulitan membuka kotak makannya misalnya. Di SD tentu tidak lagi demikian perlakuannya. Saat istirahat makan pagi, anak-anak tidak lagi didampingi guru, paling banter ya mengawasi saja dari kejauhan. Tidak ada lagi "piring berbagi" dan ada kantin bahkan penjual yang diijinkan berjualan di sekitar sekolah. Ditambah lagi, menurut cerita Iffah (ketika saya ajak ngobrol), semua temannya ternyata diberi uang jajan oleh orang tua masing-masing meski tetap dibekali makanan dari rumah.
Sampai minggu kemarin, saya tidak pernah memberikan uang jajan kepada si kembar, kecuali sekali, saat mereka 'memohon'. Nah, ketika dikasih, si kembar pun langsung ngobrol -sambil make kaos kaki dan sepatu- tentang nanti akan jajan apa. Dalam pikiran saya, waduh pasti ntar belajar juga bakalan kepikiran jajan melulu nih...
Dan sejak saat itu saya tak pernah lagi memberikan uang jajan kepada si kembar.
Hingga pekan kemarin....
Pertama agak shock juga ketika diberi tahu bahwa Iffah jualan di sekolah, dan uang hasil jualannya dipake buat jajan. Yang saya lakukan berikutnya adalah tentu saja konfirmasi ke Iffah. Berikut petikan-petikan obrolan saya sama Iffah:
Saya : "Wah kaka Iffah pinter ya... Kemarin jualan ya si sekolah?"
Iffah : senyum sambil cengengesan
Saya : "Emang kaka Iffah jual apa?"
Iffah : "Jual kertas" --> kertas file yang bergambar warna warni
Saya : "Emang kenapa koq kaka Iffah jual? Kan kemarin dikumpul-kumpulin"
Iffah : "Ngga kenapa-napa"
Saya : "Uangnya dapet berapa ka?"
Iffah : "Ga tau, lupa"
Saya : "Uangnya kaka Iffah pake buat apa?"
Iffah : "Buat jajan"
Saya : "Kaka Iffah jajan apa aja"
Iffah : "Jajan permen"
Saya : "Trus apa lagi?"
Iffah : "Es (susu SoGood beku), batagor, mie (semacam mie remez yang diberi bumbu kemudian diremes)"
Kemudian saya menerangkan tidak baiknya mie remes untuk dimakan.
...
Di kesempatan lain...
Saya : "Emang temen-temen kaka Iffah semuanya jajan ya?"
Iffah : "Iya"
Saya : "Ada ngga yang ngga jajan?"
Iffah : "Ada... Eh, ga ada"
Saya : "Emang ga bawa bekal dari rumah ya temen-temennya?"
Iffah : "Bawa"
Saya : "Tapi dikasih uang jajan juga?"
Iffah : "Iya"
Saya : "Kertas yang kaka Iffah jual, emang kaka jual berapa?"
Iffah : "Ada yang gopek, ada yang seribu, ada yang dua ribu"
Saya : "Wah, koq macem-macem harganya? Kenapa ga gopek semua?"
Iffah : "Ga kenapa-napa" (jawabnya dengan wajah cool)
Saya : "Yang gopek yang kayak gimana?"
Iffah : "Yang biru"
Saya : "Kalo yang seribu?"
Iffah : "Yang pink, yang kuning..."
Saya : "Koq harga beda sama yang biru?"
Iffah : "Ga kenapa-napa" (jawabnya masih cool... terus terang saya ga bisa nebak...hahaha)
Saya : "Kalo yang dua ribu?"
Iffah : "Yang gambar miki"
Saya : "Emang ada yang beli yang dua ribu?"
Iffah : (dengan bangga) "Ada"
dst...
Itu tadi hasil investigasi sama terhadap Iffah, sang penjual. Sementara Alif, yang bertugas bawa kertas file itu (dalam binder) dan menikmati hasil penjualan Iffah, tidak (belum sempet) saya tanya-tanya. Menarik ya jawabannya? ^_^ (dia bahkan sudah bisa menentukan harga barang... ck..ck..ck...)
Mereka memang selalu antusias (terutama Iffah) jika di sekolah diselenggarakan acara Bussiness Day. Sejak TK, kegiatan Bussiness Day selalu diadakan setahun sekali. Waktu mereka masih di TK, saya masih nyempetin bungkusin hasil bikinan sendiri. Kemarin ketika Bussiness Day di SD beberapa pekan yang lalu, saya cuma bungkusin kripik singkong masing-masing 5 bungkus untuk Iffah dan Alif (padahal disuruh 10 bungkus). Dan selalu excited menceritakan kejadian di sekolah tadi setiap kali habis jualan. Entah karena yang dijual memang menarik (pernah jual popcorn, sate buah, atau kripik singkong) atau memang Iffah yang pinter jualan, setiap kali bawa makanan untuk dijual di acara itu selalu habis terjual (beberapa temen masih harus bawa kembali hasil jualan yang ga laku)
Langkah selanjutnya adalah tentu saja konsultasi sama suami. Dan kamipun akhirnya mengambil keputusan:
- Perlu mengapresiasi kemampuan jualan Iffah yang "wow" menurut saya (OMG, mereka baru kelas 1 SD!!! Saya dan suami juga jualan sebenernya, hanya saja ngga bakat alam kayak Iffah. Kami baru jualan setelah menikah. Memang Iffah sering liat saya bawa barang dan ketika ditanya saya sering jawab,"Ini untuk temen umi, untuk dijual" Saya ga sadar ternyata dia 'merekam' hal itu... deep inside di unconsius mind-nya)
- Ke depan, beberapa kali seminggu, kami akan memberinya uang jajan, dengan catatan, sebagiannya di tabung ya... (jajan juga mengajarkannya bertransaksi, mengenal nilai uang, banyak manfaat lainnya sebenarnya. Tapi overprotective membuat saya mengabaikan manfaat-manfaat itu...)
- Salah satu alasan tidak memberikan mereka uang jajan adalah kekhawatiran terhadap apa yang mereka beli. Salah satu solusi mungkin bisa dengan mengajak mereka memilih sendiri jajanannya di supermarket dekat rumah untuk dibawa ke sekolah. Dengan begitu kami bisa mengontrol jajanannnya.
Bapak/ibu, punya saran lain untuk saya?
Terima kasih sebelumnya :)
Tuesday, November 20, 2012
Standar nilai minimal
Ada banyak pemikiran yang ingin saya tuliskan di blog ini sejak lama, tapi...
Ah, banyak alasan yang bisa saya jabarkan di sini, tapi tak usahlah. Sesungguhnya hanya pembenaran semata demi kemalasan saya menulis kembali. Semoga tulisan pertama setelah sekian lama blog ini hening dari kata-kata menjadi trigger untuk meluncur derasnya tulisan-tulisan selanjutnya....
Aaaamiiiin...
Ada sebuah kegelisahan dalam diri saya kemarin (dulu) ketika menerima rapor si kembar untuk yang pertama kalinya. Berbeda dengan rapor TK-nya yang hanya berisi checklist-checklist pencapaian kemampuan-kemampuan seperti moral, sosial emosional, kognitif, komunikasi, dsb, kali ini sudah ada angka-angka di dalamnya. Semua angka bagus, jika kita mengkategorikan angka 8 dan 9 adalah angka yang bagus. Ya betul, semua angka di rapor si kembar berisi 'hanya' angka 8 dan 9.
Mungkin anda semua bertanya, bukankah seharusnya saya bangga, senang, bahagia, gembira, dengan angka-angka tersebut? Oya, tentu saja saya bangga, bahkan bangga sekali. Apalagi nilai Alifah termasuk yang tinggi di kelasnya. Iffah juga bagus, hanya saja karena dia memang belum lancar membaca, nilainya tidak setinggi Alifah. (Ah, saya pun akhirnya terjebak juga pada hal yang sangat saya hindari itu. Membandingkan)
Well, bukan itu yang ingin saya uraikan di sini. Kegelisahan saya justru muncul ketika saya tak sengaja melirik sekilas nilai teman-temannya yang lain. Ada selembar kertas di meja ibu guru, yang tak sengaja saya lihat. Berisi daftar nilai seluruh mata pelajaran, seluruh siswa, di kelas tersebut. Seharusnya saya tidak melihatnya, bukan konsumsi orang tua murid, tentu saja. Tidak ada yang salah dengan nilai-nilai di situ, semua berisi angka yang 'bagus' itu, angka 8 dan 9. Yang menggelitik saya kemudian adalah, kemana angka selain 8 dan 9. Tidak adakah yang mendapatkan angka 6 dan 7? Apakah semua anak begitu pintarnya? Iya sih, masuk ke sekolah ini ada tes-nya, banyak juga yang ditolak. Tapi apa iya semua anak se-pintar itu?
Dari ngobrol-ngobrol dengan ibu guru, saya pun kemudian mengetahui bahwa ada semacam standar penilaian yang diberikan oleh entah siapa (ah, saya lupa menanyakan hal ini. Yang jelas dari pihak yang berwenang memberikan kebijakan pendidikan di semua sekolah, entah itu regional atau nasional), bahwa batas nilai minimal -yang saya juga lupa istilahnya- adalah 7,5. Jadi, jika ketika ulangan harian atau ujian seorang anak memperoleh nilai dibawah 7,5, maka guru akan melakukan remedial (pengulangan). Nilai ulangan yang pertama dan kedua akan dijumlahkan dan kemudian dibagi 2, dengan batas nilai tertinggi adalah 7,5. (meskipun misalnya setelah dirata-rata ternyata nilainya diatas 7,5, maka nilai yang akan diperoleh adalah tetap 7,5. Untuk menjaga keadilan bagi teman-teman yang sudah duluan memperoleh nilai 7,5 dan tidak ikut remedial, begitu kata gurunya).
Ketika jaman saya sekolah dulu, nilai 6, 7, bahkan 5 adalah angka yang biasa muncul di rapor saya dan teman-teman. Batas nilai ketika itu adalah 5 (mungkin) atau 5,5. Jika kita mendapat nilai 5,6 maka masih selamat, masih bisa naik kelas. Tapi sekarang? Bahkan nilai 7 pun, sudah dikatakan rendah.
Ada pergeseran nilai tentang 'nilai'. Entah ini masalah psikologis atau apa saya tidak paham. Sesungguhnya bukan masalah angka 8 dan 9 yang saya permasalahkan. Jika ada target yang begitu tingginya, saya bisa bayangkan -jika saya menjadi ibu guru- maka saya akan berusaha -bagaimanapun caranya- agar nilai anak-anak didik saya berada diatas batas minimal itu. Apalagi jika nilai ini kemudian menjadi salah satu materi penilaian sekolah secara keseluruhan (sekolah akan dinilai bagus jika nilai rapornya sekian-sekian, jika tingkat kelulusan 100%, dst)
Ada banyak cara yang bisa saya lakukan. Mungkin saya akan membuat soal-soal yang mudah bagi anak-anak didik saya, sehingga nilai mereka akan menjadi tinggi. Atau saya akan menurunkan standar penilaian, seperti misalnya untuk jawaban yang 'mendekati' akan saya benarkan. Atau dengan mengkatrol nilai. Atau cara-cara lain, yang tidak berani saya bayangkan. Hal ini membuat saya gelisah... (ah, mungkin saya yang terlalu ber-su'uzon)
Belum lagi kegelisahan saya tentang beban pelajaran yang harus mereka ikuti setiap hari (jangankan beratnya beban pelajaran, beratnya tas sekolah mereka saja minta ampun. Saya bawa tas seberat itu baru ketika SMA.Sehari anak kelas 1 SD sudah dibebani dengan 5-6 mata pelajaran dengan buku cetak yang besar dan berat)
Ah, mungkin ini hanya kegelisahan saya. Toh mereka (kelihatannya) mereka enjoy-enjoy saja...
Mungkin ini hanya kegelisahan saya, karena saya tidak mengetahui mengapa dan bagaimana kebijakan standar nilai minimal ini dibuat. Ah, semoga ibu guru di sekolah masih memiliki tujuan pendidikan selain menuliskan nilai-nilai yang tinggi di rapor anak-anak...
Ah, banyak alasan yang bisa saya jabarkan di sini, tapi tak usahlah. Sesungguhnya hanya pembenaran semata demi kemalasan saya menulis kembali. Semoga tulisan pertama setelah sekian lama blog ini hening dari kata-kata menjadi trigger untuk meluncur derasnya tulisan-tulisan selanjutnya....
Aaaamiiiin...
Ada sebuah kegelisahan dalam diri saya kemarin (dulu) ketika menerima rapor si kembar untuk yang pertama kalinya. Berbeda dengan rapor TK-nya yang hanya berisi checklist-checklist pencapaian kemampuan-kemampuan seperti moral, sosial emosional, kognitif, komunikasi, dsb, kali ini sudah ada angka-angka di dalamnya. Semua angka bagus, jika kita mengkategorikan angka 8 dan 9 adalah angka yang bagus. Ya betul, semua angka di rapor si kembar berisi 'hanya' angka 8 dan 9.
Mungkin anda semua bertanya, bukankah seharusnya saya bangga, senang, bahagia, gembira, dengan angka-angka tersebut? Oya, tentu saja saya bangga, bahkan bangga sekali. Apalagi nilai Alifah termasuk yang tinggi di kelasnya. Iffah juga bagus, hanya saja karena dia memang belum lancar membaca, nilainya tidak setinggi Alifah. (Ah, saya pun akhirnya terjebak juga pada hal yang sangat saya hindari itu. Membandingkan)
Well, bukan itu yang ingin saya uraikan di sini. Kegelisahan saya justru muncul ketika saya tak sengaja melirik sekilas nilai teman-temannya yang lain. Ada selembar kertas di meja ibu guru, yang tak sengaja saya lihat. Berisi daftar nilai seluruh mata pelajaran, seluruh siswa, di kelas tersebut. Seharusnya saya tidak melihatnya, bukan konsumsi orang tua murid, tentu saja. Tidak ada yang salah dengan nilai-nilai di situ, semua berisi angka yang 'bagus' itu, angka 8 dan 9. Yang menggelitik saya kemudian adalah, kemana angka selain 8 dan 9. Tidak adakah yang mendapatkan angka 6 dan 7? Apakah semua anak begitu pintarnya? Iya sih, masuk ke sekolah ini ada tes-nya, banyak juga yang ditolak. Tapi apa iya semua anak se-pintar itu?
Dari ngobrol-ngobrol dengan ibu guru, saya pun kemudian mengetahui bahwa ada semacam standar penilaian yang diberikan oleh entah siapa (ah, saya lupa menanyakan hal ini. Yang jelas dari pihak yang berwenang memberikan kebijakan pendidikan di semua sekolah, entah itu regional atau nasional), bahwa batas nilai minimal -yang saya juga lupa istilahnya- adalah 7,5. Jadi, jika ketika ulangan harian atau ujian seorang anak memperoleh nilai dibawah 7,5, maka guru akan melakukan remedial (pengulangan). Nilai ulangan yang pertama dan kedua akan dijumlahkan dan kemudian dibagi 2, dengan batas nilai tertinggi adalah 7,5. (meskipun misalnya setelah dirata-rata ternyata nilainya diatas 7,5, maka nilai yang akan diperoleh adalah tetap 7,5. Untuk menjaga keadilan bagi teman-teman yang sudah duluan memperoleh nilai 7,5 dan tidak ikut remedial, begitu kata gurunya).
Ketika jaman saya sekolah dulu, nilai 6, 7, bahkan 5 adalah angka yang biasa muncul di rapor saya dan teman-teman. Batas nilai ketika itu adalah 5 (mungkin) atau 5,5. Jika kita mendapat nilai 5,6 maka masih selamat, masih bisa naik kelas. Tapi sekarang? Bahkan nilai 7 pun, sudah dikatakan rendah.
Ada pergeseran nilai tentang 'nilai'. Entah ini masalah psikologis atau apa saya tidak paham. Sesungguhnya bukan masalah angka 8 dan 9 yang saya permasalahkan. Jika ada target yang begitu tingginya, saya bisa bayangkan -jika saya menjadi ibu guru- maka saya akan berusaha -bagaimanapun caranya- agar nilai anak-anak didik saya berada diatas batas minimal itu. Apalagi jika nilai ini kemudian menjadi salah satu materi penilaian sekolah secara keseluruhan (sekolah akan dinilai bagus jika nilai rapornya sekian-sekian, jika tingkat kelulusan 100%, dst)
Ada banyak cara yang bisa saya lakukan. Mungkin saya akan membuat soal-soal yang mudah bagi anak-anak didik saya, sehingga nilai mereka akan menjadi tinggi. Atau saya akan menurunkan standar penilaian, seperti misalnya untuk jawaban yang 'mendekati' akan saya benarkan. Atau dengan mengkatrol nilai. Atau cara-cara lain, yang tidak berani saya bayangkan. Hal ini membuat saya gelisah... (ah, mungkin saya yang terlalu ber-su'uzon)
Belum lagi kegelisahan saya tentang beban pelajaran yang harus mereka ikuti setiap hari (jangankan beratnya beban pelajaran, beratnya tas sekolah mereka saja minta ampun. Saya bawa tas seberat itu baru ketika SMA.Sehari anak kelas 1 SD sudah dibebani dengan 5-6 mata pelajaran dengan buku cetak yang besar dan berat)
Ah, mungkin ini hanya kegelisahan saya. Toh mereka (kelihatannya) mereka enjoy-enjoy saja...
Mungkin ini hanya kegelisahan saya, karena saya tidak mengetahui mengapa dan bagaimana kebijakan standar nilai minimal ini dibuat. Ah, semoga ibu guru di sekolah masih memiliki tujuan pendidikan selain menuliskan nilai-nilai yang tinggi di rapor anak-anak...
Friday, September 7, 2012
Keterampilan Hidup
Si kembar sekarang sudah 5 tahun, dan si dede udah 3 tahun. Ketiga bidadari mungil saya bahkan sudah besar sekarang. Alif, si kembar yang lahir belakangan, tampaknya lebih dewasa dibanding Iffah kakaknya. Seperti pagi-pagi sebelumnnya, pagi ini pun ritual mandi pagi didahului oleh Alif.
“Udah jam setengah delapan sayang, mandi yuk!” ajak saya, dan tiba-tiba terpikir untuk memberi sedikit reward,”Kalo mandi nanti umi bikinin jus deh.”
“Asyiiiiik!” teriak Alif langsung ke belakang dan membuka bajunya.
“Mandi sendiri ya kaka…” tantang saya.
“Iyaaaa!” Alif berteriak dengan semangat.
“Dede ayo mandi juga,” saya menggandeng tangan dede ke belakang. Terlihat Alif sudah selesai memberi shampo rambutnya dan hampir selesai menyabuni seluruh badannya (kecuali sedikit bagian punggungnya). Sambil membuka baju dede, saya menyemangati Alif,”Wah, kaka alif pintar banget mandi sendiri! Sekalian mandiin dede juga ya kaka?”
“Iya!” jawabnya dengan senyuman.
Dengan cekatan dia langsung memandikan dede. “Mandiinnya pelan-pelan ya sayang…” kata saya mengingatkan, supaya dia ga langsung mengguyur semua badan dede.
Iffah akhirnya terpancing ikut mandi juga, segera mulai mandi sendiri, bahkan selesai sebelum Alif selesai memandikan dede. Mereka benar-benar mandi sendiri. Tak satu percik pun saya ikut serta, hanya mengamati dari jauh saja, sambil menyiapkan handuknya.
Selesai mandi saya melanjutkan delegasi tugas ini.
“Ayo langsung pake bajunya. Kaka Alif pakein baju dede juga ya…”
Tak menunggu lama, Alif langsung mengambil bajunya berikut baju dede, sementara Iffah masih dengan handuknya di depan tivi. Pertama Alif memakaikan bedak ke badan dan punggung dede, lanjut ke badannya sendiri. Kemudian memakaikan celana dalam dede lalu celananya sendiri. Untuk baju, dede kemudian memakainya sendiri juga Alif. Iffah juga memakai bajunya sendiri. Dan saya -sambil menyelesaikan jus mangga untuk mereka- hanya memberikan instruksi dari jauh.
“Punggungnya dibedakin tuh kaka… Dede pintar ya pake baju sendiri… Diputer sayang bajunya, gambarnya yang di depan… Yaa, bener itu di belakang…”
Untuk bagian sisir rambut, Alif bahkan tak perlu diingatkan. Setelah menyisir rambutnya sendiri, Alif langsung menyisir rambut dede. Dan Iffah… hmm… sampe sarapan pagi (yang suap sendiri juga), belum menyisir rambutnya… hehe…
Anak-anak gadis saya juga sudah lama bisa diajak membersihkan mainannya setelah puas bermain hingga ruang tengah seperti kapal pecah. Balok-balok dimasukkan lagi ke tempatnya, juga ke laci-laci, buku-buku kembali disusun di rak. Alif suka menyapu, maka setiap tiba giliran merapikan mainan, ia selalu mengambil sapu dan membersihkan sisa-sisa guntingan kertas, debu-debu dan kotoran, sampai bersih hingga saya tak perlu menyapu ulang ruang tengah.
Sebenernya mereka juga suka bantu-bantu masak di dapur, hanya saja untuk yang satu ini saya masih belum biarkan mereka banyak membantu, terutama yang berkaitan dengan pisau (potong memotong) dan yang deket-deket kompor. Nantilah, akan ada saatnya...
Mungkin saya jadi umi yang pemalas atau suka menyuruh? Semoga tidak. Kepada asisten saya pun saya suruh untuk menyuruh anak-anak membereskan sendiri mainannya hingga bersih, kami hanya membantu. Keterampilan hidup, salah satu bekal yang saya siapkan untuk mereka, hingga ketika nanti tiba saatnya mereka tidak lagi berada dalam pandangan mata saya, akan mampu menjaga diri mereka sendiri dimanapun mereka berada.
Masih banyak bekal yang harus saya siapkan. Mungkin akhlaq adalah yang terberat. Semoga saya bisa menjadikan bidadari-bidadari saya berakhlaq alqur’an, berani menghadapi tantangan hidup, bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat, menjadi anak-istri-ibu shalihat, dan sukses dunia akhirat.
Aaamiiiiiinnn….
Jadikanlah kami orang tua yang shalih ya Allah agar kami dapat mendidik anak-anak kami menjadi anak-anak yang shalihat, penegak agamaMu…
Pertengahan 2011
Thursday, September 6, 2012
Bekal
Menyiapkan
bekal si kembar membuat tantangan tersendiri. Sekarang tidak hanya
dipusingkan (ga segitu pusingnya siiih ^_^) dengan menu makanan di meja
makan, tapi juga harus kreatif menyiapkan bekal yang enak (dimakan dan
dilihat) dan bergizi supaya ga kelaperan di sekolah. Hmm... sebenarnya
pasti ga bakalan kelaperan kalo pun ga disiapin bekal, mungkin akan
dibagi oleh temen-temen kecilnya... (kadang pulang-pulang bawa biskuit
ato cokelat, katanya dikasih Nadya, ato Bintang, ato temennya yang
lain... meski udah punya bekal sendiri. Ceritanya tukeran bekal kali...
hehe)
Sejatinya, menurut saya, tugas seorang ibu adalah menyiapkan bekal yang cukup. Cukup hingga anak-anak siap menghadapi dunianya. Dunia bermain, dunia sekolah, dunia pertemanan, dunia kuliah, dunia kerja, hingga kelak dunia keluarga yang mereka bangun sendiri, ketika tanggung jawab ibu diserahkan sepenuhnya kepada suami mereka kelak.
Ya, hari itu akan tiba. Ketika anak-anak tidak lagi berada dalam jangkauan pandangan mata. Mampukah mereka menghadapi 'kerasnya' dunia? Akankah mereka kelak berhasil menjalani setiap episode kehidupan dengan sukses? Menjadi anak yang sukses, istri yang sukses, ibu yang sukses, pekerja yang sukses, dan anggota masyarakat yang sukses?
Termasuk juga 'anak-anak' dalam da'wah. Tugas saya adalah menyiapkan mereka agar mampu menjalani kehidupan selanjutnya ketika saya tak lagi bisa -secara langsung- mendampingi mereka. Memberikan bekal yang cukup sehingga mereka mampu menghadapi tantangan da'wah profesi (birokrasi), da'wah sya'biah, dan da'wah keluarga (menikah). Dunia yang pasti harus dijalani ketika keluar dari zona nyamannya, kehidupan kampus yang kondusif, menuju 'the real world', dunia yang sebenarnya.
Selalu ada kekhawatiran jika bekal yang sudah saya siapkan ternyata belum cukup, sehingga mereka terseok dan terpaksa berjuang lebih keras, melakukan kesalahan-kesalahan yang tak perlu seandainya saya menyiapkan bekal yang cukup...
Ah... Kepada Allah SWT aku menitipkan kalian, anak-anakku...
Dia yang Maha Menjaga, tidak pernah tidur dan tidak pernah lupa...
Ya Allah beri aku kekuatan dalam menyiapkan bekal mereka, sehingga mereka berhasil menjalani kehidupan dengan selamat. Jagalah mereka ya Allah...
Sejatinya, menurut saya, tugas seorang ibu adalah menyiapkan bekal yang cukup. Cukup hingga anak-anak siap menghadapi dunianya. Dunia bermain, dunia sekolah, dunia pertemanan, dunia kuliah, dunia kerja, hingga kelak dunia keluarga yang mereka bangun sendiri, ketika tanggung jawab ibu diserahkan sepenuhnya kepada suami mereka kelak.
Ya, hari itu akan tiba. Ketika anak-anak tidak lagi berada dalam jangkauan pandangan mata. Mampukah mereka menghadapi 'kerasnya' dunia? Akankah mereka kelak berhasil menjalani setiap episode kehidupan dengan sukses? Menjadi anak yang sukses, istri yang sukses, ibu yang sukses, pekerja yang sukses, dan anggota masyarakat yang sukses?
Termasuk juga 'anak-anak' dalam da'wah. Tugas saya adalah menyiapkan mereka agar mampu menjalani kehidupan selanjutnya ketika saya tak lagi bisa -secara langsung- mendampingi mereka. Memberikan bekal yang cukup sehingga mereka mampu menghadapi tantangan da'wah profesi (birokrasi), da'wah sya'biah, dan da'wah keluarga (menikah). Dunia yang pasti harus dijalani ketika keluar dari zona nyamannya, kehidupan kampus yang kondusif, menuju 'the real world', dunia yang sebenarnya.
Selalu ada kekhawatiran jika bekal yang sudah saya siapkan ternyata belum cukup, sehingga mereka terseok dan terpaksa berjuang lebih keras, melakukan kesalahan-kesalahan yang tak perlu seandainya saya menyiapkan bekal yang cukup...
Ah... Kepada Allah SWT aku menitipkan kalian, anak-anakku...
Dia yang Maha Menjaga, tidak pernah tidur dan tidak pernah lupa...
Ya Allah beri aku kekuatan dalam menyiapkan bekal mereka, sehingga mereka berhasil menjalani kehidupan dengan selamat. Jagalah mereka ya Allah...
Iffah dan Lagu
Minggu ini minggu terakhir saya ngantor di gatsu (gatot subroto). Saya sedang menikmati hari-hari terakhir saya, sebelum lebih kurang 2 tahun ke depan akan berkutat dengan segala sesuatu yang berbau kampus dan perkuliahan di jurangmangu.
Hhhh... antara sedih dan senang. Saya pasti akan merindukan hari-hari melayani wajib pajak via telepon di Kring Pajak. Kangen dengan rekan-rekan agent call center yang lucu-lucu. Kalo ditanya sekarang, setelah lulus kuliah nanti pengen penempatan dimana, mungkin saya akan jawab "Kalo boleh, di Kring Pajak lagi..." ^_^
Ngga akan menikmati pergi pagi-pulang malem lagi. Ngga ada boncengan tiap pergi dan pulang kantor lagi sama kekasih. Setidaknya untuk 2 tahun ke depan...
Tapi seneng juga, punya lebih banyak waktu dengan 3 bidadari cantikku. Meng-explore keterampilan memasak (halah... emang ga bisa masak juga... maksudnya belajar masak, gitu.. ^_^V). Pasti sibuk nih, soale si kembar insyaAllah masuk TK tahun depan. Bakalan pusing nyari TK yang pas (pas tempatnya, pas gurunya, pas di kantong juga... hehe). Selain menyelesaikan proyek gantungan pintu dan gantungan hp, juga bros, buat ngisi waktu luang... (karena si tangan yang ga bisa diem...)
Semangat !!!
Okay, sekarang tentang Iffah.
Well, mereka bertiga memang berbeda. Masing-masing punya karakter yang totally different. Kalo Alif cengeng dan gampang nangis, Iffah cenderung usil. Ya klop lah, yang satu usil yang satu diusilin ya nangis... hehehe... Kalo lagi berdua mesti berantem, tapi kalo ada temen yang lain baru deh kompak...
Iffah, sebenernya dibanding Alif, lebih cepat daya tangkapnya. Apalagi nyanyian/lagu, beberapa kali mendengar langsung hafal tiap katanya. Lagu 25 nabi-nya Raihan (buat menghafal nama-nama nabi) -bagian yang nama nabinya (Adam, Idris, Nuh, Hud, Sholeh, dst...) hafal hanya dalam 5 kali ulangan. Abinya nyanyi 5 kali, kali yang ke -6 Iffah sudah hafal semua nama Nabi... Wow... Saya juga yang denger agak sangsi waktu dia mengucapkan nama demi nama, tapi dia lancar sampai "Muhammad al Mustoffffa...". Sementara Alif masih baru hafal setengahnya ^_^.
Soal gunting menggunting Iffah juga lebih kreatif. Sampai sekarang belum pernah kegunting tangannya, sementara Alif udah 2 kali berdarah gara-gara jarinya kegunting. Dia sering menggunting sesuatu kemudian memperlihatkan kepada saya. Selalu ada saja bentuk yang memang rada mirip dengan apa yang dia maksud.
Iffah memang rada cuek dibanding Alif. Kurang telaten dibanding Alif. Lebih cepat bosan, pikirannya mudah terbagi. Untuk urusan belajar huruf Hijaiyah, Iffah memang ketinggalan, bukan karena dia ga bisa, hanya karena dia kurang suka berkutat dengan huruf-huruf dan buku dalam jangka waktu yang cukup lama. Tapi kalo soal hafalan doa dan surat-surat pendek, Iffah jagonya. Seperti nama Nabi, ketika Alif baru hafal setengah Al-Fatihah, Iffah sudah selesai.
Sepertinya Iffah lebih kuat audionya, sedang Alif lebih ke verbal... Akan lebih mudah ngajarin kalo kita tau tipe belajarnya ya kan?
Hmmm... (salah) satu cita saya dan suami, anak-anak kami menjadi hafizah-hafizah dan daiyah. Semoga mereka bisa mengantarkan dirinya, juga kami, orang tuanya, kepada jannah-Nya... Amiiiin... Seperti lagu hijaiyah yang diajarkan guru ngajinya.
"A ba ta tsa,
ja ha kho ya,
da dza ro za,
sa sho sya dho,
fa qo ka la,
ma na wa ha la,
tho zho 'a gho.
Kami belajar Alqur'an,
kami menghafal Alqur'an,
kami mau masuk syurga
dengan Qur'an..."
Aaamiiiiiiiin...
Alif dan Iqro
Biasanya kalo udah waktunya shalat maghrib, saya-Alif-Iffah shalat
berjamaah bertiga. Kadang kalo saya pulang telat, Alif dan Iffah shalat
berjamaah sama Nia, adik saya. Selesai shalat, dzikir (baca
subhanallah-alhamdulillah-allahu akbar semampunya), dan doa
(rabbighfirli waliwalidaiyya... dan rabbana aatina...), Alif dan Iffah
akan diajari baca Iqro.
Saya paling suka kalo nemenin Alif belajar (ngajarin Alif maksudnya). Dia lebih istiqomah dibanding Iffah. Dia sering 'bertahan' lebih dari 2 halaman, bahkan ketika saya bermaksud menyudahinya, dia minta ke halaman selanjutnya. Pernah suatu kali setelah habis shalat dan berdoa, saya langsung menyuruhnya melipat mukenanya. Tapi Alif langsung protes,"Kan belum belajar Iqro". Saya tersenyum, bahagia sekali mendengar kalimat itu. "Ya sudah, sana ambil bukunya." kata saya gembira. Sementara Iffah, saat itu langsung membuka mukena dan main lagi... hehehe...
Sekarang Alif sudah menamatkan Iqro 1-nya. meski masih suka lupa sama huruf sho-dho-'a-zho. Paling suka ngeliat dia melafazkan huruf 'Sya', mulutnya dimonyongin banget, lucu sekali (tapi saya ngga pernah menertawakannya). Saya betul-betul bangga padanya. Di usianya yang belum lagi 4 tahun (3 tahun 7 bulan), dia sudah bisa membaca huruf hijaiyah. (Saya dulu kelas 2 SD baru kenal huruf hijaiyah)
Satu hal lagi, tentang kedewasaannya. Dia lebih sabar bermain dengan si dede, sering mengajak dede bercanda, tidak seperti Iffah yang lebih sering usil. Dan dia bisa dengan sabar menunggu saya selesai shalat, menanti dalam diam di samping saya, dan mengutarakan maksudnya dengan kata-kata yang lembut setelah saya menyempurnakan salam ke kiri dan ke kanan.
Rabbana hablana min azwajina wadzurriyatina qurrata a'yun waj'alna lilmuttaqiina imaama.
Aamiiin...
Saya paling suka kalo nemenin Alif belajar (ngajarin Alif maksudnya). Dia lebih istiqomah dibanding Iffah. Dia sering 'bertahan' lebih dari 2 halaman, bahkan ketika saya bermaksud menyudahinya, dia minta ke halaman selanjutnya. Pernah suatu kali setelah habis shalat dan berdoa, saya langsung menyuruhnya melipat mukenanya. Tapi Alif langsung protes,"Kan belum belajar Iqro". Saya tersenyum, bahagia sekali mendengar kalimat itu. "Ya sudah, sana ambil bukunya." kata saya gembira. Sementara Iffah, saat itu langsung membuka mukena dan main lagi... hehehe...
Sekarang Alif sudah menamatkan Iqro 1-nya. meski masih suka lupa sama huruf sho-dho-'a-zho. Paling suka ngeliat dia melafazkan huruf 'Sya', mulutnya dimonyongin banget, lucu sekali (tapi saya ngga pernah menertawakannya). Saya betul-betul bangga padanya. Di usianya yang belum lagi 4 tahun (3 tahun 7 bulan), dia sudah bisa membaca huruf hijaiyah. (Saya dulu kelas 2 SD baru kenal huruf hijaiyah)
Satu hal lagi, tentang kedewasaannya. Dia lebih sabar bermain dengan si dede, sering mengajak dede bercanda, tidak seperti Iffah yang lebih sering usil. Dan dia bisa dengan sabar menunggu saya selesai shalat, menanti dalam diam di samping saya, dan mengutarakan maksudnya dengan kata-kata yang lembut setelah saya menyempurnakan salam ke kiri dan ke kanan.
Rabbana hablana min azwajina wadzurriyatina qurrata a'yun waj'alna lilmuttaqiina imaama.
Aamiiin...
Amanah
Setiap
kali memandang wajah mereka di desktop komputer kantor, setiap kali itu
pula saya menyadari betapa saya belum menunaikan tugas saya sebagai ibu
dengan optimal.
Begitu banyak kesalahan saya, waktu yang tidak
saya manfaatkan dengan baik, manajemen rumah tangga yang belum bisa
dibilang baik, peran pendidik yang belum saya laksanakan maksimal...
Bukannya
saya tidak bersyukur... MasyaAllah... Betapa saya bangga kepada mereka.
Usianya baru 3,5 tahun, tapi Alif Iffah sudah bisa beberapa doa pendek,
surat pendek, hampir selesai Iqro 1...
Ini bukan tentang mereka...
Ini tentang saya, ibunya, yang belum bisa memaksimalkan peran saya sebagai ibu mereka...
Hhhh... Semoga saya belum terlambat, sebelum mereka kenal dunia lain...
Ah, rasanya saya belum jadi 'dunia' mereka...
Banggakah mereka terhadap saya? (entah kenapa saya merasa jawabannya = 'tidak')
Entahlah...
(lagi nelangsa...)
Happy Working Mother
Jika
pilihan telah dibuat, keputusan telah dilaksanakan, maka mungkin ini
bukan lagi masalah benar atau salah, tetapi lebih ke konsekuensi dan
tanggung jawab.
Saya
yakin –sebagaimana dulu juga halnya saya- para ibu bekerja memilih
untuk tetap bekerja tentu dengan pertimbangan yang matang, dan tentunya
dengan persetujuan dan dukungan penuh dari suami.
Alasannya
bisa macam-macam. Bisa karena tuntutan ekonomi, biar bisa bantuin
suami, karena beban hidup juga semakin tinggi. Sebagian besar teman saya
yang lulusan STAN juga ‘terpaksa’ jadi PNS karena dulu kuliah disana.
Kuliah gratis, harapan orang tua yang sangat besar, juga karena ikatan
dinas, maka harus berpikir ratusan kali jika ingin eksodus (keluar dari
PNS). Juga alasan-alasan lain yang tiap-tiap orang pasti berbeda.
Perlu
tenaga dan pikiran ekstra bagi seorang ibu bekerja, tentu karena
statusnya sebagai wanita karir tidak menghilangkan tanggung jawabnya
terhadap pekerjaan rumah tangga dan pendidikan anak. Hanya
saja,pekerjaan-pekerjaan itu tidak dilakukannya dengan tangannya
sendiri. Mungkin di delegasikan kepada khadimat/pembantu, lebih
beruntung jika bisa menitipkan anak-anak kepada orang tua atau saudara.
Juga
kesabaran ekstra untuk ibu bekerja yang meskipun harus berpisah namun
mampu memberikan ASI eksklusif kepada si kecil yang baru lahir sudah
harus ditinggal. Sungguh bukan perkara mudah, harus berpisah dengan si
buah hati yang baru saja lahir. Belum lagi proses memerah ASI di kantor
sebagai bekal esok hari demi agar si kecil mendapatkan ASI alih-alih
susu formula yang jelas tidak sebanding kuailtasnya. Saya yakin, hanya
ibu luar biasa yang sanggup melakukannya.
Banyak
trips dan trik supaya semua bisa berjalan sebagaimana mestinya. Soal
masakan misalnya, ‘asisten’ bisa disuruh memotong, membersihkan, dsb,
pas masaknya si ibu deh yang ngerjain, jangan lupa bumbu doa dan
cintanya ^_^.
Sering
menelpon ke rumah, ngobrol dengan anak-anak sekaligus memantau apa yang
terjadi di rumah, supaya anak-anak tidak ‘merasa’ kehilangan ibunya.
‘Mencuri’
waktu yang tersedia, seperti menyempatkan memandikan anak di pagi hari,
kalo sempet sarapan bersama, bermain bersama sepulang kerja, juga makan
malam, mengantarnya tidur sambil membacakan dongeng dan mengelus
kepalanya, mengantar-jemput sekolah di akhir pekan, dsb. Waktu-waktu
sempit, namun berharga.
Usahakan
jangan memilah antara kantor dan rumah. Jangan jadikan rumah sebagai
tenaga ‘sisa’ setelah lelah seharian di kantor, tapi jadikan keduanya
sama berharganya. (Toh saat sampai di rumah, dengan penuh peluh dan
letih, insyaAllah akan hilang setelah mendengarkan celoteh riang dan
cerita anak-anak, ya kan ibu-ibu ? ) Jika suatu kali keluarga
membutuhkan, maka jangan merasa bersalah jika harus ijin dari kantor.
Toh tidak setiap hari anak/suami sakit.
Perasaan
bersalah adalah dilemma yang paling sering dirasakan ibu bekerja.
Bersalah karena telah meninggalkan anak di rumah. Bukan tidak boleh,
tapi jangan sampai perasaan bersalah ini malah mengganggu kinerja.
Profesinalisme di butuhkan di kedua tempat itu, rumah dan kantor secara
seimbang.
Terlepas
dari itu semua, baik full time mother maupun working mother, keduanya
tidak akan bisa memaksimalkan perannya jika tanpa ilmu dan iman. Baik
itu ilmu agama, ilmu parenting, ilmu kesehatan, juga ilmu pengetahuan,
yang merupakan modal utama dan mendidik anak-anaknya, cikal bakal
mujahid masa depan. Banyak ibu di rumah yang ternyata tidak mengerti
cara menghadapi anaknya padahal punya banyak waktu. Banyak juga ibu
bekerja yang akhirnya harus bersedih karena ternyata anaknya lebih dekat
dan sayang dengan pembantu dibanding dirinya sendiri, ibu kandungnya,
karena tidak menjaga kedekatan emosi dengan anak-anaknya.
Dan
akhirnya, setiap ibu punya senjata yang sama, yaitu doa. Hanya doa ibu
yang tidak terhijab. Dimanapun anda berada wahai ibu, berdoalah untuk si
buah hati. Titipkan mereka pada Yang Maha Menjaga, Maha Melihat, lagi
Maha Berkehendak.
“… Jagalah
Allah, maka pasti Allah menjagamu, jagalah Allah pasti kau akan
menjumpai-Nya dihadapanmu. Apabila engkau meminta maka mintalah kepada
Allah dan jika engkau meminta pertolongan maka mintalah pertolongan
kepada Allah….”(HR. Tirmidzi)
Bertawasul
dengan amal baik kita, baik di kantor maupun di masyarakat, untuk
kebaikan anak-anak. Berbuat baik dimana saja, dengan atasan dan rekan
sejawat, apalagi dengan kenalan yang relative lebih banyak dibanding ibu
di rumah, maka ladang amal juga terbentang luas. Jangan sampai waktu
yang telah dikorbankan tidak berjumpa dengan anak-anak tidak
dimanfaatkan dengan baik, malah sibuk menyesali keadaan dan menyalahkan
entah siapa.
Maka
dari itu wahai ibu, apapun keputusan Anda, menjadi ibu di rumah atau
ibu bekerja, pastikan Anda memiliki kesiapan dan ketenangan batin untuk
melakukan yang terbaik (seperti yang dikatakan ibu Lita). Sebab tidak semua ibu bekerja siap menjadi full time mother, begitu pun sebaliknya.
Dan
apapun keputusan Anda, tak ada satu alasanpun untuk tidak memberikan
yang terbaik untuk buah hati. Dan saya percaya, kita bisa melakukannya,
sebab Allah pasti mengamanahkan sesuatu yang Dia yakin kita mampu
menjaga amanahNya dengan baik.
La tahzan, innallaha ma’ana…
Wallahu a’lam.
Ibu Mana Lebih Baik?
Dilema.
Tidak
akan bisa dibandingkan keutamaan ibu yang mendidik anak-anaknya di
rumah, bersama mereka sepanjang hari, mendengarkan celoteh mereka,
menjadi yang pertama kali mendengar tangis mereka, yang pertama kali
disebut namanya saat terluka, menyediakan pelukan saat dibutuhkan,
meracik makanan penuh nutrisi dengan bumbu cinta dan doa… setiap hari,
sepanjang waktu…
Waktu dan kebersamaan, tak akan bisa terbayar dengan apapun.
Tak
kan terbayar dengan jalan-jalan ke Dufan sehari penuh, makan di mall,
main di taman bermain, berenang di waterboom, atau menginap di tempat
wisata berhari-hari.
Tak akan pernah terbayar. Tidak akan pernah…
Maka
bila ada yang memberikan sebuah teori tentang kuantitas vs kualitas
(yang saya tau dalam ilmu parenting tidak ada istilah “lebih
mengutamakan kualitas daripada kuantitas”) maka dengan terpaksa saya
harus memilih kualitas.
Bukan
karena saya tidak percaya kebenaran teori itu. Semata-mata karena saya
jelas-jelas tidak bisa memberikan kuantitas pertemuan kepada buah hati
saya. (jangan menyarankan sesuatu yang jelas-jelas tidak dapat kami
lakukan. Itu hanya membuat hati kami sedih)
Dalam
hati setiap ibu bekerja, saya yakin, dalam hati terdalam mereka, dalam
setiap kali perpisahan di pagi hari dengan buah hati –baik mereka dalam
keadaan terbangun maupun masih tertidur lelap- pasti ada perasaan
bersalah –sangat bersalah, tapi tak punya pilihan selain menjalani apa
yang sudah jadi keputusan bersama itu. Perasaan bersalah yang tak dapat
diredam dengan berapapun uang yang dibawa pulang…
Syukur, ekonomi, da’wah, semua bisa saja kami jadikan pembenaran, tapi tetap tak bisa menggantikan semua.
Tapi hanya doa ibu yang tanpa hijab, hanya doa ibu yang makbul. Bukan doa pembantu, doa nenek, doa budhe… Hanya doa ibu.
Dan kepada siapa lagi kami harus menitipkan selain kepada Yang Maha Menjaga, Maha Melihat, lagi Maha Memberi.
Dan tentang siapa yang lebih baik?
Biarlah
di hari akhir nanti kita buktikan, siapa ibu yang mendapatkan gelar
‘ibu shalihah’-‘ibu sukses’-‘ibu yang berhasil mendidik anaknya’-dan
yang paling penting ‘ibu yang bahagia bersama anak-anaknya menikmati
ridha Allah dalam istana megah syurgaNya’
Afwan jiddan wa jazakumullahu khairan katsira.
-teriring
doa saya untuk semua ibu shalihah yang bekerja, semoga Allah ridha
kepada kita dan menjaga anak-anak kita. Biarlah Allah saja yang tau niat
dan tujuan kita.
Monday, September 3, 2012
Susahnya Mendidik Anak
Saya berdiskusi dengan seorang al Akh di blognya ini
tentang pendidikan anak. Awalnya cerita tentang seorang Bapak
berprofesi guru yang 'lembut keluar, keras ke dalam". Lembut terhadap
anak orang lain (murid2nya) namun keras terhadap anak2nya sendiri.
Kemudian akhirnya berdiskusi mengenai cara mendidik anak.
Hmmm...
Saya sering membaca tulisan-tulisan Bunda Helvy Tiana Rosa diblognya ini. Memperhatikan bagaimana caranya mendidik Faiz yang kemudian menjadi sastrawan muda dengan hati yang luar biasa lembut sehingga menghasilkan tulisan, puisi, cerita, yang juga luar biasa, juga Nadya -anak keduanya-. Salah satu tulisan favorit saya ada di cerita tentang Nadya kecil ini.
Saya juga suka tulisannya Bunda Neno Warisman, di bukunya yang ini. Semoga segera terbit lanjutannya.
Mereka mendidik anak dengan caranya masing-masing dengan penuh kelembutan. Tanpa pukulan, juga kemarahan, meskipun diperbolehkan.
Meskipun secara islam dan sunnah diperbolehkan, alangkah baiknya kita para orangtua melihat kembali diri kita. Kenapa anak kita berbuat hal yang menyebabkannya dipukul?
Anggaplah anak kita -kita anggap- nakal, kemudian memukulnya.
'Anggapan' itu namanya 'Labeling', memberikan label/cap/vonis. Kita men-cap-nya nakal, menganggapnya bertabiat seperti itu, kemudian memukulnya. Fisiknya sakit, tapi hatinya jaaaaauh lebih sakit. Merasa dirinya 'nakal' dan akhirnya membuktikan dirinya memang nakal dan pantas dipukul.
Saya pengennya, kita menjadikan anak2 kita anak yang 'cukup' ditegur dengan cara berbicara, tidak dengan pukulan. Membangun komunikasi sejak dalam kandungan, terutama saat golden age-nya (0-5 tahun).
Saya pengennya tidak pernah ada pukulan, meskipun untuk sebagian orang dewasa pukulan2 yang diterimanya waktu kecil adalah pelajaran yang menjadikannya 'seperti sekarang ini'.
Tapi coba tanya hati terdalam Anda, apa yang Anda rasakan saat Anda menerima pukulan itu? Pukulannya kah atau pelajarannya yang Anda ingat sampai sekarang.
Ah, saya hanya yakin, seorang anak dapat dididik dengan baik tanpa pukulan.
Kalaupun itu pilihan terburuk, maka saya tidak akan melakukannya.
Kalau suatu saat (mudah2an jangan pernah) anak saya tidak lagi mempan dinasehati, saya akan menggunakan senjata terampuh saya, yaitu doa. (Anda pasti setuju, doa yang paling dahsyat adalah doanya seorang ibu ^_^ )
Wallahu a'lam...
Hmmm...
Saya sering membaca tulisan-tulisan Bunda Helvy Tiana Rosa diblognya ini. Memperhatikan bagaimana caranya mendidik Faiz yang kemudian menjadi sastrawan muda dengan hati yang luar biasa lembut sehingga menghasilkan tulisan, puisi, cerita, yang juga luar biasa, juga Nadya -anak keduanya-. Salah satu tulisan favorit saya ada di cerita tentang Nadya kecil ini.
Saya juga suka tulisannya Bunda Neno Warisman, di bukunya yang ini. Semoga segera terbit lanjutannya.
Mereka mendidik anak dengan caranya masing-masing dengan penuh kelembutan. Tanpa pukulan, juga kemarahan, meskipun diperbolehkan.
Meskipun secara islam dan sunnah diperbolehkan, alangkah baiknya kita para orangtua melihat kembali diri kita. Kenapa anak kita berbuat hal yang menyebabkannya dipukul?
Anggaplah anak kita -kita anggap- nakal, kemudian memukulnya.
'Anggapan' itu namanya 'Labeling', memberikan label/cap/vonis. Kita men-cap-nya nakal, menganggapnya bertabiat seperti itu, kemudian memukulnya. Fisiknya sakit, tapi hatinya jaaaaauh lebih sakit. Merasa dirinya 'nakal' dan akhirnya membuktikan dirinya memang nakal dan pantas dipukul.
Saya pengennya, kita menjadikan anak2 kita anak yang 'cukup' ditegur dengan cara berbicara, tidak dengan pukulan. Membangun komunikasi sejak dalam kandungan, terutama saat golden age-nya (0-5 tahun).
Saya pengennya tidak pernah ada pukulan, meskipun untuk sebagian orang dewasa pukulan2 yang diterimanya waktu kecil adalah pelajaran yang menjadikannya 'seperti sekarang ini'.
Tapi coba tanya hati terdalam Anda, apa yang Anda rasakan saat Anda menerima pukulan itu? Pukulannya kah atau pelajarannya yang Anda ingat sampai sekarang.
Ah, saya hanya yakin, seorang anak dapat dididik dengan baik tanpa pukulan.
Kalaupun itu pilihan terburuk, maka saya tidak akan melakukannya.
Kalau suatu saat (mudah2an jangan pernah) anak saya tidak lagi mempan dinasehati, saya akan menggunakan senjata terampuh saya, yaitu doa. (Anda pasti setuju, doa yang paling dahsyat adalah doanya seorang ibu ^_^ )
Wallahu a'lam...
Thursday, August 30, 2012
Apipaaa... mujaaa...ida!
"Ipah!"
"Nama lengkapnya siapa?"
"Mmm..." ragu sejenak, lupa keknya...
"Afifaaah..." saya mengingatkan.
"Apipaaaa... mujaaaa.... ida!!"setengah teriak dia menyebutkan namanya.
"Rumahnya dimana?" tanya saya lagi.
"Kompie biyyya cukkkaayyyy!" dia tersenyum senang bisa menjawab dengan benar.
"Kalo nama abinya siapa?"
Kali ini jawabnya cepet, udah hapal dan mudah jawabannya,"Abi Piman!"
"Kalo uminya?"
"Umi Nina"
Itu dialog saya dan Iffah beberapa minggu terakhir, mengajarkannya nama lengkap, rumah, dan nama umi -abinya. Buat jaga-jaga kalo suatu saat nyasar dan ditanya orang (mudah2an jangan pernah deh... Na'udzubillaaah...)
Sebenernya saya ngajarin Alif hal yang sama, cuma masih males dianya. Saya juga ga maksa. Kadang kalo saya lagi ngajarin Iffah, Alif ikut nimbrung ga mau kalah. Tapi kalo diajarin sendiri, suka ga mau. Juga kalo ngajarin doa atau salam, Iffah hampir selalu lebih cepat hapal dibanding Alif.
Iffah memang lebih gampang dimintai tolong ketimbang Alif, tapi agak cuek anaknya. Alif 'ringan tangan', cepet mukul/jambak kalo marah, meski udah sering dikasih tau, [tapi ga begitu parah sih...] tapi hatinya lembut dan perhatian. Kelihatan lebih sayang ke adiknya ketimbang Iffah, suka jagain dede, ngajak dede becanda.
Cepet terharu sama yang sedih-sedih juga. Beberapa kali cerita tentang kisah Rasulullah SAW, yang paling berbekas di ingatannya adalah pada saat Ibunda Aminah menangis saat diberi kabar bahwa suaminya meninggal.
"Uminya nangis, karena abinya meninggal" begitu kata saya menjelaskan gambar seorang wanita yang menangis di buku cerita Nabi Muhammad itu.
Keesokan harinya, Alif menggandeng tangan saya minta dibacain kisah Rasulullah lagi dan dengan cekatan membuka buku pas di halaman 'uminya nangis'.
"Ini Mi, umi na naniiis... abi na ketinggalaaan..." katanya menceritakan padaku.
"Bukan sayang, abinya meninggal" kata saya membenarkan.
"Iyaaa... abi na meninggaaal..." sahutnya lagi
Ah, dia belum tau bedanya "meninggal" dan "ketinggalan". Biarlah... ku jelaskan nanti-nanti saja... hehe...
Jakarta, Februari 2009
Ketemu Neno
Barusan kemaren cerita tentang bukunya, ternyata Allah mempertemukan saya langsung dengan penulisnya. Siang
ini saya pertama kalinya menyaksikan semangat Bunda Neno yang luar
biasa langsung dengan mata saya. Cara berpakaiannya yang cantik dengan
nuansa hijau membuat suasana sejuk meski tak ketinggalan kalimatnya yang
berapi-api.
"Smart Parent, Smart Children", begitu tema seminar yang diadakan Keputrian Masjid Shalahuddin KPDJP bekerja sama dengan Sygma Daya Insani. Banyak sekali fakta, ilmu, yang beberapanya membuat saya terperangah. Mengingatkan kembali tentang multiply inteligence, bahwa kecerdasan tidak hanya cerdas mathematics-logic seperti yang selama ini dijunjung tinggi banyak orang tua sehingga 'memaksa' semua anaknya harus 'pintar matematika', padahal ada 8 jenis kecerdasan -seperti yang sudah ditemukan oleh Howard Gardener, yaitu :
1. Kecerdasan lingustik (berbahasa baik lisan maupun tulisan)
2. Kecerdasan logika-matematika (ini yang sering disalahartikan oleh orang tua, dikatakan cerdas kalo dia cerdas yang satu ini, padahal ada banyak kecerdasan)
3. Kecerdasan visual dan spasial (visual = gambar, spasial = berkaitan dengan ruang dan tempat. Cermat akan warna, garis, bentuk, ruang, ukuran, dan hubungan akan elemen-elemen tsb)
4. Kecerdasan musik
5. Kecerdasan intrapersonal (kesadaran dan pengetahuan tentang diri sendiri)
6. Kecerdasan interpersonal (kemampuan untuk mengamati, mengerti maksud, motivasi, dan perasaan orang lain)
7. Kecerdasan kinestetik (keterampilan fisik)
8. Kecerdasan naturalistik (mengenali tanaman, hewan, dan alam semesta)
Bahwa jaman sekarang tidak cukup hanya cerdas, tapi harus tangguh!
Dan setiap adalah unik, tidak boleh disama-samakan (tantangan banget buat saya yang punya anak kembar...)
Bahwa yang menentukan keberhasilan seorang anak adalah KEPRIBADIANNYA. Inilah yang kita -sebagai orang tua, terutama ibu sebagai madrasah pertama- harus bangun bahkan sejak dia dalam kandungan. Memberikan stimulus-stimulus untuk semua jenis kecerdasan sedini mungkin, yang setiap harinya dijanjikan Allah menyambungkan 1,8 juta sambungan per detik untuk 100 juta milyar sel neuron yang ada di dalam otak buah hati kita.
Wow !!!
Betapa berat tantangan mendidik anak di jaman canggih seperti ini... Dengan segala fasilitas dan kemudahan... Apalagi di kota besar seperti Jakarta...
Ya Allah, jadikanlah kami orang tua yang shalih yang mampu mendidik anak-anak kami menjadi anak-anak yang shalih pula...
"Smart Parent, Smart Children", begitu tema seminar yang diadakan Keputrian Masjid Shalahuddin KPDJP bekerja sama dengan Sygma Daya Insani. Banyak sekali fakta, ilmu, yang beberapanya membuat saya terperangah. Mengingatkan kembali tentang multiply inteligence, bahwa kecerdasan tidak hanya cerdas mathematics-logic seperti yang selama ini dijunjung tinggi banyak orang tua sehingga 'memaksa' semua anaknya harus 'pintar matematika', padahal ada 8 jenis kecerdasan -seperti yang sudah ditemukan oleh Howard Gardener, yaitu :
1. Kecerdasan lingustik (berbahasa baik lisan maupun tulisan)
2. Kecerdasan logika-matematika (ini yang sering disalahartikan oleh orang tua, dikatakan cerdas kalo dia cerdas yang satu ini, padahal ada banyak kecerdasan)
3. Kecerdasan visual dan spasial (visual = gambar, spasial = berkaitan dengan ruang dan tempat. Cermat akan warna, garis, bentuk, ruang, ukuran, dan hubungan akan elemen-elemen tsb)
4. Kecerdasan musik
5. Kecerdasan intrapersonal (kesadaran dan pengetahuan tentang diri sendiri)
6. Kecerdasan interpersonal (kemampuan untuk mengamati, mengerti maksud, motivasi, dan perasaan orang lain)
7. Kecerdasan kinestetik (keterampilan fisik)
8. Kecerdasan naturalistik (mengenali tanaman, hewan, dan alam semesta)
Bahwa jaman sekarang tidak cukup hanya cerdas, tapi harus tangguh!
Dan setiap adalah unik, tidak boleh disama-samakan (tantangan banget buat saya yang punya anak kembar...)
Bahwa yang menentukan keberhasilan seorang anak adalah KEPRIBADIANNYA. Inilah yang kita -sebagai orang tua, terutama ibu sebagai madrasah pertama- harus bangun bahkan sejak dia dalam kandungan. Memberikan stimulus-stimulus untuk semua jenis kecerdasan sedini mungkin, yang setiap harinya dijanjikan Allah menyambungkan 1,8 juta sambungan per detik untuk 100 juta milyar sel neuron yang ada di dalam otak buah hati kita.
Wow !!!
Betapa berat tantangan mendidik anak di jaman canggih seperti ini... Dengan segala fasilitas dan kemudahan... Apalagi di kota besar seperti Jakarta...
Ya Allah, jadikanlah kami orang tua yang shalih yang mampu mendidik anak-anak kami menjadi anak-anak yang shalih pula...
Khadijah dan Neno
Dua orang yang menjadi inspirasi saya, yang sekarang sedang saya baca bukunya...
Buku pertama, Khadijah, The True Love Story of Muhammad. (Penulis : Abdul Mun'im Muhammad. Penerbit : Pena)
Meski belum selesai membacanya, tapi begitu banyak yang saya 'dapat'kan. Kedewasaannya, kecintaannya kepada Rasulullah SAW juga islam, pengorbanannya, kelemahlembutan sekaligus ketegasannya, ketabahan dan kesabaran, jiwa yang matang tak mudah panik bahkan penenang jiwa suami yang gundah dan takut, ibu yang bijaksana, istri yang sempurna.
Sebenarnya Khadijah sudah melihat tanda-tanda kenabian bahkan sebelum dia menikahi Muhammad. Tapi dia memilih resiko itu, resiko menjadi pendamping seorang yang akan menjadi nabi dan Rasul akhir jaman. Bukan hal yang menyenangkan, tentu saja, karena pasti dibalik amanah besar ada tanggung jawab besar. Tapi Khadijah mengambil kesempatan emas itu dengan segala konsekuensinya.
Dan dia berhasil ! Bahkan malaikat Jibril menitipkan salam padanya dan Allah menjanjikan sebuah rumah dari permata dalam jannahNya.
Buku kedua, Catatan Bunda Neno Warisman : Matahari Odi Bersinar karena Maghfi. (Penulis : Neno Warisman, Panerbit :Sygma Publishing)
Buku ini juga belum selesai saya baca, bahkan baru halaman-halaman pertama. Buku ini berisi kisah-kisah penuh makna dari seorang Bunda Neno tentang anak-anaknya. Begitu menginspirasi, karena begitu tergambar bagaimana perasaan seorang ibu, desah doanya dalam hati saat berinteraksi dengan buah hati dan dalam shalatnya. Juga banyak ilmu parenting alias bagaimana cara mendidik anak dengan sholeh agar bisa menjadi sholeh...
Dialog-dialognya dengan anak-anaknya, juga kisah lainnya, membuat pelajaran yang diberikan tidak berkesan menggurui. Tidak ada poin-poin, atau langkah-langkah yang harus dilakukan, hanya cerita yang mengalir dengan hikmah yang luar biasa dalam.
Banyak sekali ilmu -khususnya parenting- yang saya dapat dari membaca beberapa halaman awal buku ini. Mengingatkan, bahwa menunjukkan kasih sayang itu penting. Bahwa Allah adalah tempat bergantung dan mohon petunjuk dan pertolongan. Bahwa marah adalah hal yang paling wajib dihindari (meski untuk hal ini adalah termasuk kelemahan saya... Tetap berusaha! Semangat!). Bahwa meluangkan waktu untuk anak itu harus dimaksimalkan untuk menjaga kedekatan/keterikatan hati.
Ah, baru dua bab yang saya baca, saya menyadari begitu banyak yang belum saya lakukan untuk anak-anak saya...
Kesimpulan :
Dua buku di atas sangat saya rekomendasikan untuk dibaca, terutama untuk Anda yang sudah menjadi istri dan ibu, dan orang tua...
Selamat membaca...
Meski belum selesai membacanya, tapi begitu banyak yang saya 'dapat'kan. Kedewasaannya, kecintaannya kepada Rasulullah SAW juga islam, pengorbanannya, kelemahlembutan sekaligus ketegasannya, ketabahan dan kesabaran, jiwa yang matang tak mudah panik bahkan penenang jiwa suami yang gundah dan takut, ibu yang bijaksana, istri yang sempurna.
Sebenarnya Khadijah sudah melihat tanda-tanda kenabian bahkan sebelum dia menikahi Muhammad. Tapi dia memilih resiko itu, resiko menjadi pendamping seorang yang akan menjadi nabi dan Rasul akhir jaman. Bukan hal yang menyenangkan, tentu saja, karena pasti dibalik amanah besar ada tanggung jawab besar. Tapi Khadijah mengambil kesempatan emas itu dengan segala konsekuensinya.
Dan dia berhasil ! Bahkan malaikat Jibril menitipkan salam padanya dan Allah menjanjikan sebuah rumah dari permata dalam jannahNya.
Buku ini juga belum selesai saya baca, bahkan baru halaman-halaman pertama. Buku ini berisi kisah-kisah penuh makna dari seorang Bunda Neno tentang anak-anaknya. Begitu menginspirasi, karena begitu tergambar bagaimana perasaan seorang ibu, desah doanya dalam hati saat berinteraksi dengan buah hati dan dalam shalatnya. Juga banyak ilmu parenting alias bagaimana cara mendidik anak dengan sholeh agar bisa menjadi sholeh...
Dialog-dialognya dengan anak-anaknya, juga kisah lainnya, membuat pelajaran yang diberikan tidak berkesan menggurui. Tidak ada poin-poin, atau langkah-langkah yang harus dilakukan, hanya cerita yang mengalir dengan hikmah yang luar biasa dalam.
Banyak sekali ilmu -khususnya parenting- yang saya dapat dari membaca beberapa halaman awal buku ini. Mengingatkan, bahwa menunjukkan kasih sayang itu penting. Bahwa Allah adalah tempat bergantung dan mohon petunjuk dan pertolongan. Bahwa marah adalah hal yang paling wajib dihindari (meski untuk hal ini adalah termasuk kelemahan saya... Tetap berusaha! Semangat!). Bahwa meluangkan waktu untuk anak itu harus dimaksimalkan untuk menjaga kedekatan/keterikatan hati.
Ah, baru dua bab yang saya baca, saya menyadari begitu banyak yang belum saya lakukan untuk anak-anak saya...
Kesimpulan :
Dua buku di atas sangat saya rekomendasikan untuk dibaca, terutama untuk Anda yang sudah menjadi istri dan ibu, dan orang tua...
Selamat membaca...
Perempuanku...
Sore ini, di toilet lantai 4...
"Sini.. sini... jangan gerak-gerak!" seorang gadis berpakaian seragam SMA memegang maskara berhadapan dengan temannya yang dengan pasrah menyerahkan matanya untuk di 'poles'.
"Ati-ati..." sahutnya.
"Makanya kamu beli dong!" kata temennya satu lagi yang juga sedang bercermin 'merapikan' diri (alias dandan, yang ini dah ahli keliatannya)
[Dengan cermin sepenuh dinding memang puas kalo dandan di toilet]
Pikiran saya langsung terbang ke tiga bidadari kecilku di rumah, terutama si kembar...
Ah, mereka memang baru dua tahun lebih, tapi...
Saya memang jarang (hampir ga pernah) dandan, tapi saat oma/neneknya dandan (make lipstik) selalu diliatin dengan seksama. Pernah suatu hari omanya kelupaan masukin lipstik ke kotaknya. Begitu perlu, nyari-nyari, tiba-tiba liat ada yang merah-merah, tau-tau ketemu lipstiknya udah patah dua. Dengan bibir merah-merah tak keruan, si kembar dengan bangga ngeliatin 'hasil karya'nya ke omanya. (soalnya tiap kali minta "mmm...mmm..." sambil nunjuk-nunjuk bibirnya -biar dipakein juga, ga pernah dikasih)
Kali yang lain, pulang kantor seperti biasa disambut dengan teriakannya si kembar,"Aaaaabiiiiiiii.... Umi nana (umi mana?)"
"Tuh!" abi nunjuk saya yang lagi nutup pagar.
"Ummmiiiiiiiiiii...." Si kembar lari dan memeluk saya. Bibirnya merah-merah. Tak tanggung-tanggung, kuku tangan juga kakinya juga merah-merah berantakan. Setelah masuk rumah baru ketahuan yang dipake buat moles bibir dan kukunya, SPIDOL MERAH yang saya belikan untuk menggambar... Masya Allah... :D
[ah... anak umi udah gede
]
"Sini.. sini... jangan gerak-gerak!" seorang gadis berpakaian seragam SMA memegang maskara berhadapan dengan temannya yang dengan pasrah menyerahkan matanya untuk di 'poles'.
"Ati-ati..." sahutnya.
"Makanya kamu beli dong!" kata temennya satu lagi yang juga sedang bercermin 'merapikan' diri (alias dandan, yang ini dah ahli keliatannya)
[Dengan cermin sepenuh dinding memang puas kalo dandan di toilet]
Pikiran saya langsung terbang ke tiga bidadari kecilku di rumah, terutama si kembar...
Ah, mereka memang baru dua tahun lebih, tapi...
Saya memang jarang (hampir ga pernah) dandan, tapi saat oma/neneknya dandan (make lipstik) selalu diliatin dengan seksama. Pernah suatu hari omanya kelupaan masukin lipstik ke kotaknya. Begitu perlu, nyari-nyari, tiba-tiba liat ada yang merah-merah, tau-tau ketemu lipstiknya udah patah dua. Dengan bibir merah-merah tak keruan, si kembar dengan bangga ngeliatin 'hasil karya'nya ke omanya. (soalnya tiap kali minta "mmm...mmm..." sambil nunjuk-nunjuk bibirnya -biar dipakein juga, ga pernah dikasih)
Kali yang lain, pulang kantor seperti biasa disambut dengan teriakannya si kembar,"Aaaaabiiiiiiii.... Umi nana (umi mana?)"
"Tuh!" abi nunjuk saya yang lagi nutup pagar.
"Ummmiiiiiiiiiii...." Si kembar lari dan memeluk saya. Bibirnya merah-merah. Tak tanggung-tanggung, kuku tangan juga kakinya juga merah-merah berantakan. Setelah masuk rumah baru ketahuan yang dipake buat moles bibir dan kukunya, SPIDOL MERAH yang saya belikan untuk menggambar... Masya Allah... :D
[ah... anak umi udah gede
Subscribe to:
Posts (Atom)
