Showing posts with label Cinta. Show all posts
Showing posts with label Cinta. Show all posts

Thursday, September 6, 2012

Mereka yang Mencintai

"...Jaga adek ane nggeh... Syukron"
"...Ana sangat mengharapkan beliau tidak terputus tarbiyahnya di STAN, dan semoga beliau dapat menjadi lebih baik lagi. Jazakillah kheir katsiir ukhti, anak sangat berterima kasih atas bantuan antunna sekalian dalam mentarbiyah beliau."
"...Nitip ya dek..."

Begitu kira-kira beberapa pesan dari murabbi beberapa akhwat 'baru' ketika saya melakukan konfirmasi mengenai adik-adik kesayangan mereka.

Murabbi. Dia adalah orang lain. Bukan saudara, tidak ada ikatan darah. Hanya ikatan aqidah dan Allah berkenan mempertemukan kita dengan mereka dalam sebuah majelis ilmu guna meng-upgrade diri menuju keshalihan.

Murabbi. Orang asing yang kemudian menjadi guru kita, sahabat, kakak, orang tua, motivator, konsultan, syekh, psikolog, pemimpin, pembimbing, juga mak comblang :)

Murabbi. Orang yang kemudian begitu besar cintanya kepada kita -binaannya- yang mengingat kita dalam shalat-shalat malamnya, yang peduli dengan keshalihan kita, yang ikut menangis ketika kita menangis, yang khawatir ketika ada masalah dalam diri kita, yang ikut pusing mencarikan jodoh kita, yang senantiasa berdoa untuk kebaikan kita...

Saya merinding membaca pesan-pesan di atas. Pesan dari seorang murabbi yang begitu cintanya kepada mutarabbinya, yang peduli terhadap keberlangsungan proses tarbiyah mutarabbinya, yang tak peduli bagaimana perlakukan mutarabbinya terhadapnya selalu mengharapkan yang terbaik, menitipkan dengan kekhawatiran wajar layaknya orang tua yang akan melepas anaknya pergi jauh darinya...

"...Jaga adek ane nggeh... Syukron"

Dada saya bergetar, air mata menggenang ketika membaca pesan ini. Betapa besar cinta ukhti ini kepada binaannya.

InsyaAllah ukh, doakan kami juga agar mampu menjaga amanah ini dengan baik.

...

Memilih untuk tidak memilih

Menyambung tulisan saya yang sebelumnya.

Di jaman saya bujang dulu, memilih calon istri/suami bukan sesuatu yang populer. Baik memilih beberapa alternatif apalagi ‘memilih sendiri’ (baca: mencari sendiri) calon istri/suami. Ketsiqohan terhadap murabbi dan jamaah tercermin lewat ketsiqohan kepada murabbi untuk mencarikan dan memilihkan calon istri/suami.

Bukannya tidak ada pilihan, kadang beberapa ikhwah ada yang memang disodori beberapa calon. Tapi memang dari awal memilih untuk tidak memilih, melainkan dipilihkan. Seolah tsiqoh kepada Allah untuk memilihkan melalui tangan murabbi.

“Saya akan berikan biodata akhwat hanya 3 kali. Jika pertama ditolak, saya akan berikan yang kedua. Jika yang kedua ditolak, saya akan carikan lagi yang ketiga. Namun jika yang ketiga ditolak, selanjutnya silakan cari sendiri.” Demikian kira-kira titah dari sang murabbi kepada binaannya ketika hendak berikhtiar mencarikan jodoh bagi mutarabbinya.

Ketika kita menyerahkan urusan jodoh ini ke tanganNya, maka insyaAllah Ia akan membersamai kita dalam proses itu. Jodoh bukan sesuatu yang ditentukanNya ketika ruh ditiupkan. Silakan lihat lagi hadist Arbain yang ke-4. “…Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya….”
Tidak kata-kata jodoh di hadist ini. Jodoh itu rizki. Ia harus dijemput. Ada ikhtiar disana.

Kembali ke tsiqoh. Tsiqoh kepada Allah untuk memilihkan kemudian di-ejawantah-kan dengan tsiqoh kepada murabbi. Memang dia bukan siapa-siapa kita. Bukan orang tua, saudara, tidak ada hubungan darah, bukan wali  kita. Kenal juga baru, mungkin juga tidak terlalu kenal akan diri kita begitu dalam, tidak tahu selera kita, apa mau kita. Dia tidak akan pernah tau kecuali kita memberitahukannya. Seberapa dekat kita dengan murabbi kita?

Jaman saya dulu, seperti inilah kira-kira gambarannya. Memilih akhwat (karena biasanya yang memilih itu kan ikhwan, akhwat relatif jadi pihak yang menunggu) seperti sudah menjadi hal yang tidak lagi tabu sekarang. Ketika ditawari akhwat shalihah, ia menolak karena kurang cantik. “Kalo tidak shalihah, saya akan mengusahakannya menjadi shalihah. Tapi kalo emang dari sononya tidak cantik?? ...” begitu kira-kira alasan ikhwan-ikhwan yang terus mencari istri cantik ini.

Padahal ia tidak tahu, ketika paras yang cantik bisa berubah menjadi jelek ketika ketidakshalihahan itu terlihat. Seandainya ia tahu, bukan cantik yang menyebabkan cinta, melainkan cinta yang menyebabkan cantik… (ini kata siapa ya?)

Namun tsiqoh juga bukan berarti taqlid buta. Apapun yang disodorkan kemudian tanpa dilihat, tidak usah taaruf, langsung akad saja, berserah dengan apa yang ada. Tidak sekaku itu juga. Ketika memang ada alasan yang syar’I, bukan nafsu semata, menjadi alasan sebuah penolakan, insyaAllah itu akan membawa maslahat. Ketika ada alasan yang kemudian menjadi penghalang keluarga yang akan dibangun menjadi sakinah mawaddah warahmah wadda’wah, maka proses boleh saja tidak dilanjutkan. Tentu penolakan dilakukan dengan cara yang ahsan, hingga meminimalisir ke-tidakberkanan-nya hati yang ditolak.

Tidak juga berarti ketika jodoh itu datang dari selain murabbi juga harus ditolak. Kitalah yang sebenarnya menentukan dari mana jodoh itu datang. Misalnya dengan tidak meminta dicarikan kepada orang selain murabbi. Namun ketika jodoh itu datang dari selain murabbi juga sesungguhnya tidak ada yang perlu dipermasalahkan, sepanjang proses menuju pernikahan itu juga syar’i. Murabbi tentu juga punya keterbatasan yang menyebabkan ia tidak bisa mencarikan jodoh semua mutarabbinya. Meski demikian, tidaklah sulit bukan jika kita tetap menghormatinya dengan meminta pendapatnya mengenai calon kita?

‘Ala kulli hal, semua tergantung diri kita sendiri. Kita yang akan menjalani episode bersama orang asing dalam satu kapal. Keputusan yang diambil adalah keputusan kita. Jangan menyalahkan murabbi atau siapapun yang membantu mencarikan jodoh kita ketika mungkin kapal itu dilanda badai. Meminta bantuan, berkonsultasi, tentunya sangat direkomendasikan, terutama karena biasanya mereka lebih lama berumahtangga dibanding kita yang masih baru. Namun tidak menyalahkannya…

Berserah adalah lebih selamat. Menyerahkan pilihan kepadaNya, kemudian memohon bantuanNya untuk memelihara dan menjalani keutuhan rumah tangga yang dibangun dengan berikhtiar dengan cara yang syar’i.

Wallahu a’lam.

(mohon maaf kalo idenya lompat-lompat… Isinya juga nggantung… masih ada sambungannya)

Ketika jaman berganti 2

Baiklah…
Daripada nanti idenya keburu ilang, mending saya tulis aja.

Sungguh saya tidak berniat membahas masalah benar-salah. Ini masalah selera, berdasarkan pengalaman dan pemahaman saya yang sempit. Sama sekali tidak menyalahkan yang memilih sebaliknya. Sekali lagi, ini hanya masalah like and dislike, bukan masalah right and wrong.

Bismillah…

“Bila seorang laki-laki yang kamu ridhai agama dan akhlaknya meminang,” kata Rasulullah mengandaikan sebuah kejadian sebagaimana dinukil Imam At Tirmidzi, “Maka, nikahkanlah dia. Apabila engkau tidak menikahkannya, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas.”

Hadist ini menjadi salah satu hadist wajib (mungkin) bagi ikhwan-akhwat yang akan menikah. Jika tidak hafal, minimal tahu atau pernah membaca kata-kata Rasulullah ini. Juga saya dulu, hingga perkataan ini begitu ‘mendarahdaging’ dan tak pernah dilupakan. Ketika saat-saat itu sudah dekat, sudah lulus kuliah, dan –biasanya- langkah ke arah pernikahan insyaAllah akan dilalui, hadist ini semakin menjadi sebuah perintah bagi saya.

Maka saya pun berdoa kepadaNya agar tidak diperkenankan untuk menolak pria shalih manapun. “Jangan sampai ya Allah,” pinta saya ketika itu,”saya menolak lelaki shalih manapun yang meminang saya pertama kali.” Selanjutnya tentu saya berdoa agar Dia memilihkan seorang pria shalih untuk saya dan membiarkan pria itu datang sebelum pria lain. Pria yang mencintaiNya dan Ia mencintainya pula, yang mencintai RasulNya dan jihad-da’wah di jalanNya. Doa ini saya ulang berkali-kali. Tentu hingga pria pilihan itu akhirnya datang.

Saya begitu gembira, karena Allah begitu tau selera saya. Dengan sempurna sekali Ia memilihkan seorang pria yang tepat memenuhi seluruh kriteria suami idaman saya. Suami yang saya impikan, yang saya bayangkan akan begini begitu, datang tepat waktu. Proses, taaruf, khitbah, akad, dan walimah, semua persis seperti yang saya inginkan. Betul-betul seperti dreams come true.

Pun ketika sudah menikah, kemudian saya berhasil merasakan da’wah di kota kecil nan jauh seperti impian muda saya dulu –ketika semangat da’wah sedang begitu menggebu. Dan saya merasakan, melepas suami berangkat berda’wah. Juga merasakan ridha suami kepada saya ketika tiba saatnya saya malam-malam berangkat berda’wah ke tempat yang cukup jauh, meninggalkan suami, anak-anak, rumah. Demi ridhaNya. Semua demi Dia.

Tentu saya pernah simpati, menyukai, -kalau tidak bisa dibilang mencintai- seorang ikhwan. Beberapa  orang malah. Biasa lah, akhwat baru ghiroh ketemu ikhwan yang agak bagus penampakan berikut pemahamannya, ditambah agak sering berinteraksi, tentulah ada ‘rasa’. Saya termasuk yang rapuh sebenernya untuk urusan ‘hati’ ini. Ada ikhwan agak ‘bagus’ dikit, saya bisa langsung simpati. Karena kerapuhan itu, maka saya menbangun benteng cukup tinggi untuk hal-hal yang berbau VHMJ (virus hati merah jambu). Ghaddul bashar. Dan menghindari atau meminimalisir berkomunikasi dalam bentuk apapun dengan ikhwan, kecuali darurat. Hanya berikhtiar agar ‘rasa’ itu tidak tumbuh, sehingga saya bisa mempersembahkan hati saya yang masih suci kepada suami saya kelak. Juga supaya saya benar-benar bisa objektif dan memakai logika ketika proses menuju pernikahan itu kelak terjadi. Ketika saat untuk memilih itu tiba.

Saya sulit memilih. Saya takut jika pilihan saya salah. Lebih ringan jika Allah lah yang memilihkan. Maka saya minta agar Ia saja yang memilihkan untuk saya. Maka cinta-cinta tak hakiki itupun saya tebas habis. Bahkan ketika ia baru mau akan tumbuh sedikit dari benih yang entah siapa menanamnya, benih itu saya cabut habis hingga ke akarnya. Dengan pertolongan Allah, alhamdulillah saya bisa.

Bukannya saya ngga pernah jatuh cinta. Saya tau rasanya (tersiksanya) jatuh cinta. Pernah merasakan berdebar-debarnya ketika diajak ngobrol si dia, berbunga-bunganya ketika dia menelpon dari jauh, buku diary saya bahkan penuh dengan namanya, cerita tentangnya tak pernah henti menghiasi setiap halaman buku curhat saya, patah hati ketika ternyata ia ternyata lebih memilih sahabat saya, gembira ketika mereka putus, merindukan surat-suratnya datang ketika ia jauh, sampai akhirnya tau ia juga pernah menyukai saya. Picisan banget ya?

Ya, saya pernah merasakan cinta (monyet) itu. Sampai hidayah itu datang kepada saya, dan saya berhijrah dengan kesungguhan, termasuk ‘rasa’ yang pernah ada ini. Cinta ini saya pulangkan kepada pemiliknya. Saya tau Ia yang Maha Membolak-balikkan hati. Ia lah Sang Pemilik hati ini. Maka saya berserah, menyerahkan kepada siapa ‘rasa’ ini berlabuh pada akhirnya.

Maka saya memasungnya ketika ia menggeliat. Tak membiarkannya tumbuh barang sedikitpun. Memendamnya dalam-dalam hingga tiba waktu yang tepat untuk membiarkannya lari secepat kilat dan berkembang pesat.

Sekarang saya bahagia telah melakukannnya. Memberikannya kepada yang berhak, sungguh indah rasanya.

Saya tak menyalahkan yang pernah dan sedang jatuh cinta, untuk kemudian berikhtiar memperjuangkan cintanya. Sungguh saya tak hendak berkata itu adalah hal yang salah. Tapi boleh dong saya lebih memilih untuk sejak awal tidak jatuh cinta, hingga cinta dapat berlabuh ke dermaga yang seharusnya.

Ya, tulisan ini memang tentang saya, cara saya memandang cinta, dan bagaimana saya memperlakukan cinta. Tidak ada tendensi untuk menyalahkan yang lain yang tidak seperti saya. Sekali lagi, ini hanya masalah pemahaman saya, suka-tidak suka, bukan masalah benar-salah.

Mungkin cinta bisa menjadi argumentasi untuk menolak. Buat saya, mengendalikan jalannya cinta sejak awal lebih selamat. Sehingga tidak perlu menolak lelaki shalih manapun. Namun jika ia terlanjur ada, dan lelaki lain ternyata lebih dulu melamar, maka saya akan memilih untuk mematuhi hadist di awal tulisan ini, karena insyaAllah akan membawa keberkahan yang lebih besar.

Wallahu a’lam bishowab.

Pernah Dikisahkan...

Bagi orang yang baru pertama kali mengalami, maka pembelajaran terbaik -mungkin- adalah belajar dari yang pernah mengalaminya, belajar dari pengalaman. Seperti halnya orang lain, ketika akan menikah, saya sering bertanya kepada yang sudah menikah, mengenai pernak-pernik pernikahan (selain melahap buku-buku tentang pernikahan tentunya...)

Pernah dikisahkan kepada saya, kisah yang sampai sekarang masih membekas dalam benak dan hati saya, kisah yang cukup tragis -mungkin. Sebutlah seorang ikhwan dan seorang akhwat, yang berazzam hendak menggenapkan segenap dien-nya. Setelah menjalani proses ta'aruf, dan kemudian khitbah, tibalah saatnya hari pernikahan. Tidak diceritakan kepada saya apa penyebabnya, namun tak dinyana, tepat sebelum ijab qabul, dihadapan semua orang yang menghadiri akad nikah tersebut, sang ikhwan membatalkannya.

Dan tahukah anda apa yang dilakukan oleh si akhwat?

Mungkin dia bersedih, namun yang dilakukannya pertama kali adalah sujud syukur. Entahlah, mungkin bersyukur karena Allah menunjukkan jalan-Nya dengan indah...

Kisah ini begitu melekat dalam hati saya sehingga saya menahan dengan kuat perasaan saya kepada calon suami saya saat itu. Bahkan masih membatasi interaksi, karena khitbah sekalipun belum merubah 'status' kehalalan hubungan saya dengan dia.

Pun ketika suatu hari (calon) suami saya mengirim sms "Apa kabar imanmu hari ini?" ke hp saya (yang menurut saya itu statement yang 'romantis' sekali ^_^), langsung saya balas dengan kata-kata,"Afwan akhi, saya tidak ingin berbuka sebelum waktunya." (yang membuat dia terheran-heran, ada yang salahkah dengan kata-katanya? -tentu saja ini saya ketahui setelah menikah... hehehe)

Ini hanya masalah selera koq... Maksud saya, saya tipe yang konservatif, jadi agak-agak paranoid, ga mau main api. Kalo anda tipe yang nyante, mungkin tidak begitu menganggap ini hal yang serius, it's okay, no problemo...

Interaksi sebelum pernikahan, hmmm... memang agak-agak bikin bingung. Belum halal, tapi akan halal. Kadang memang butuh interaksi yang agak sering karena memang banyak yang harus diurus, banyak diskusi, tukar pendapat, yang berbeda dengan yang lain.

Ya sepanjang masih dalam koridor syar'i, insyaAllah ikhwah semua saya rasa bisa menjaga diri... Bersabarlah dengan yang 5 menit itu (ijab qabul) setelah itu dia menjadi halal bagimu ^_^V

Just sharing...

Monday, September 3, 2012

Catatan 4 Tahun Perjalanan



 

4 tahun yang lalu,

 Saat aku masih bertanya dalam hati ketika pertama kali melihatmu melalui pasfoto 3x4,”Inikah orangnya ya Allah?”
Saat mengenalmu dalam forum malu-malu tanpa pertanyaan itu…
Saat membawamu ke hadapan Papa yang kemudian bertanya,”Apa yang membuatmu memilih anakku?”
Saat Mitsaqan Ghalizha itu diiringi tangisku…
Saat pertama kali seumur hidupku dipanggil “Ade” dan “Sayang”
...
Dan hari-haripun berlalu…
Menyelami dalamnya hatimu
Menjalani hari-hari gila bersamamu
Merasakan indahnya cintamu
Hati cerah, penuh tawa, dan ceria
Kadang juga kelam menghampiri, air mata, dan pelukan
Dan 3 bidadari pun diamanahkan pada kita
Rumah yang penuh teriakan dan tawa
Kadang juga khawatir dan sedih dengan sakitnya
Alhamdulillah kita mampu menghadapinya bersama dengan senyuman
...
4 tahun bersamamu
Terimakasih Allah, telah menjadikanku tulang rusukmu
InsyaAllah aku bersedia menjalani seribu tahun lagi (asal) bersamamu…
 ^_^ 

Thursday, August 30, 2012

Lagu yang membuatku menangis

Ada lagu yang kalo anda dengar tiba-tiba air mata anda mengalir?

Lagu/nasyid ini membuat saya menangis sejak pertama kali saya mendengarnya.
Begitu menyentuh hati saya...

"Mengemis Kasih"-nya Raihan

Tuhan dulu pernah aku menagih simpati
kepada manusia yang alpa jua buta
lalu terheretlah aku di lorong gelisah
luka hati yang berdarah kian hari kian parah
Semalam sudah sampai  ke penghujungnya
kisah seribu duka kuharap jua berlalu
Tak ingin lagi kuulangi kembali
kisah duka yang mengiris hati
Tuhan, dosaku menggunung tinggi
tapi rahmat-Mu melangit luas
Harga selautan syukurku
tidaklah setitik ni'mat-Mu di bumi
Tuhan, meskip taubat sering ku mungkir
namun pengampunan-Mu tak pernah bertepi
Allah, selangkah ku rapat pada-Mu
Seribu langkah Kau rapat padaku
Allah...

Boleh nikah lagi, dengan syarat...

Lagi ada yang bahas poligami

Well... semenjak belum menikah, saya termasuk golongan pro-poligami.Bukannya saya tidak cemburu, apalagi tidak cinta. Tentu saja saya cemburu sekali jika suami saya punya istri lagi. Dan jangan ditanya besarnya cinta saya kepada suami saya...

Saya pernah bertanya kepada beberapa akhwat (banyak -sekalian saya survey), seandainya suatu saat anti sudah berumur -misalnya- 35 dan belum menikah, tiba-tiba ada seorang ikhwan yang melamar anti, sebagai istri kedua -dengan catatan istri pertama sudah setuju, apakah anti akan menerima?
Semua menjawab "Ya" (bersedia).

Alhamdulillah saya tidak berada pada posisi tsb (soalnya kalo saya berada di posisi itu, belum tentu saya akan mengatakan "ya" ). Tentu saja menjadi istri kedua tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi untuk menjadi istri pertama yang sudah merasakan indahnya hidup berdua, indahnya mencintai suami dan merasakan cinta suami yang penuh kepadanya, tiba-tiba harus berbagi dengan wanita lain... Ah, tentu saja tidak enak...

Tapi entah kenapa saya tidak pernah keberatan, bahkan memikirkan pun tidak. Tahukah dialog hari pertama saya dengan suami? Saya bilang tidak keberatan jika suatu saat abang menikah lagi. Suami bilang : "Belom juga diapa-apain udah mau dipoligami"  Saya : "Justru karena belom diapa-apain makanya bisa bilang ga apa-apa dipoligami."

Ditahun pertama pernikahan, saya pernah bilang,"Abi boleh poligami dengan satu syarat." Suami penasaran, "Emang apa syaratnya?" Saya bilang, "Nanti umi bilang kalo abi bener-bener nikah lagi. Yang jelas bukan 'langkahi dulu mayatku'."
Sampe sekarang suami saya ngga tau apa syaratnya, bahkan setelah saya bilang, "Abi boleh nikah lagi tanpa syarat."

Mau tahu syarat apa yang saya ajukan kemudian saya hilangkan?


Kasih tau ga ya?...


Dulu saya mau mengajukan syarat,

"Asal di syurga nanti hanya umi satu-satunya istri abi."
 hehe...

Tapi kemudian saya tiadakan, karena saya jadi kasihan sama istri kedua (atau istri berikutnya). Lagian saya kan juga bisa mendapatkan bidadara (halah!) ato saya mau sering2 'main' ke istananya Rasulullah aja... hehe... Pasti cintanya selalu ada untuk saya (lha saya kan ummatnya.) Mungkin saya juga dah lupa sama suami saya (saat saya bersama Rasulullah... ) hehe...



Cinta dari Ternate

"Rinduku menyapamu
mengharu biru di luasnya jiwa
jarak kita tak tersentuh
tapi ku yakin hati kita menyatu
dan terikat dalam cintaNya..."
Salam perjuangan, semoga Allah selalu memberi kemudahan pada setiap langkah kakimu.
Uhibbuki fillah filladzi ahbabtani...
(22-agust-2008, 5:58 pm)

Demikian bunyi sms dari ukhtiku tersayang yang nun jauh disana.
Kami bertemu di gorontalo. Orangnya manis, lembut, baik, semangatnya -jangan ditanya- luar biasa. Nyaris sempurna. Saya sering bertanya-tanya siapakah laki-laki beruntung yang berani meminangnya. Pasti lelaki luar biasa juga.

Cukup menghebohkan. Bukan ikhwannya yang jatuh cinta pada pandangan pertama atau dicomblangi sang pembina, tapi seorang ustadz besar di Ternate yang langsung 'melamar' kepada pembinanya. Entah dari mana ustadz tersebut mendengar nama akhwat super ini, tapi kelihatannya dari awal pembinanya tidak ada pilihan lain selain mengatakan "ya".

Dan terjadilah pernikahan barokah itu. Dari proses taaruf sampai walimahnya 'dikawal' orang-orang penting, berharap menjadi teladan bagi pasangan-pasangan berikutnya.

Dan bersedihlah gorontalo karena salah seorang mujahidah terdepannya berpindah ladang. Demi memajukan da'wah di Ternate -halmahera selatan pada khususnya- sang mujahidah pun segera berangkat memenuhi panggilan da'wah.

Alhamdulillah, sampai sekarang kami masih sering kontak. (malu rasanya, karena selalu dia yang memulai) Masih teringat hari ulang tahun terakhirku, dialah orang pertama yang mengirimkan doanya (suami aja kalah..)

[ Teruntuk ukhtiku tersayang -Dewi Rosliani- beserta keluarga tercinta
Ana uhibbuki fillah
Ahabbakalladzi ahbabtani lahu...
Semoga Allah mempertemukan kita kembali
dalam halaqoh yang sama
dengan Rasulullah SAW sebagai murabbinya
dalam jannah-Nya kelak...
Aamiiin...]

Dalam setiap geraknya ada cinta

Begitu judul tulisannya mba nailalhusna (afwan nyontek mba...)

Menceritakan bagaimana suaminya senantiasa berada disampingnya, melayaninya tatkala sakit. Ah, betapa indahnya... Betapa bahagianya sepasang manusia yang saling mencintai...

Selesai membaca, pikiran saya langsung terbang ke sesosok wajah ganteng milik suami saya (halah).

Hhhhh... selalu ada hela nafas panjang setiap kali mengingatnya. Entah apa yang sudah saya lakukan di masa lalu yang membuat saya begitu beruntung dipertemukan dengan beliau. Kepribadian yang bersahaja, romantis, ga neko-neko, kesabaran yang luar biasa (koq dia 'tahan' ya sama saya...?), dan kasih sayang yang selalu ada untuk saya. Dia juga abi yang luar biasa bagi 3 bidadarinya...

Betapa sering saya merasa telah membuat dia bersedih, kecewa, ga sholelah... Seriiiiing banget! Tapi dia begitu sabar dan selalu memaafkan saya.

Seringkali saya merasa tak sepadan dengan beliau. Seharusnya dia mendapatkan yang jauh lebih baik dari saya. Tapi Allah telah menentukan, sayalah wanita beruntung itu...

Ah, abi... Semoga aku bisa mendampingimu kelak dalam istana penuh bidadari jannah-Nya.

[abi di kantor jangan bersin2 ya...]

Protesnya Abi

Sepertinya saya harus mengoreksi tulisan saya mengenai keromatisan suami saya, terutama setelah beliau mem'protes' tulisan saya berjudul "Sebongkah Rindu Untuk Cinta" (beliau memang selalu saya suruh membaca semua tulisan saya, termasuk mengedit atau mendelete -bila perlu).

Sebenernya bukan keseluruhan tulisan yang dia protes, hanya sebuah kalimat tentang "standar romantis" beliau yang saya beri nilai "tidak terlalu romantis alias lumayan"...  karena menurut beliau, dia sudah romantis (kalo ga bisa dibilang "sangat".)

Setelah saya pikir-pikir lagi... Ternyata suami saya memang romantis, sangat malah... Hanya saja... (ada "hanya"nya) karena tipe (tipe apa ya yang pembagiannya ada -verbal, audio, dan kinestetik-?) kami berbeda, saya jadi agak ngga ngeh...

Saya orang verbal, lebih menghargai bentuk-bentuk kata-kata, tulisan, dan yang semacamnya. Pengennya dikirim puisi cinta atau sms mesra (taela...) Sedangkan suami orang kinestetik, cenderung memberikan "bahasa cinta"nya dalam bentuk perbuatan. Pernah suatu kali saya bikin surat khusus buat dia dalam sebuah momen (saya lupa ultah dia apa ultah pernikahan kami ya?) setelah di baca-komentar satu kalimat-trus kertas suratnya cuma ditaruh-ga diapa-apain. Padahal saya berharap -mbok ya disimpen kek- . Begitu juga sebaliknya. Seringnya saya ngga menangkap 'kalimat-kalimat" cinta yang sedang dilontarkan tidak dalam bentuk kata-kata. (Tidak untuk di ekspose disini , Ntar bapak-bapak pada pengen pulang ke rumah lagi...)

Memang Mars dan Venus kadang beda "bahasa", tapi tetap satu Cinta...

Btw, kalo kamu mengungkapkan bahasa cinta kira-kira tipe yang mana?

[setelah 3 setengah tahun bersama, masih begitu banyak dari dirimu yang misterius...
Maafin umi ya bi... Sebenernya yang ngga romantis itu umi... hehe...]



Jakarta, Oktober 2008

Sebongkah Rindu untuk Cinta

Cintaku sedang jauh di mata, untuk urusan dinas tentunya.

Kangen? Jangan ditanya deh...

Barusan buka DSH Forum Keluarga yang mbahas bahasa cinta (waduh!).

Hmmm... kalo boleh cerita dikit... Suami tidak terlalu romantis, tapi ya 'lumayan'lah.  Sering panggil "sayang", bilang "abi sayaaaaang banget sama umi" juga...  Tapi jangan coba minta bunga, puisi, hadiah, pengalaman kemaren-kemaren sih selalu "in proses" ato "on the way" terus.

Pernah suatu kali aku nyoba ngirim puisi via g-talk (alhamdulillah kalo siang kami tetep bisa komunikasi gratis via g-talk)... Lagi serius-serius nulis -waktu itu ada kata-kata "pangeran"nya... Eeehh, malah di bales,"Pangeran apa nih? Pengeran Kodok apa pangeran apa?" Halah, si abi... Abis itu langsung ngga tak lanjutin puisinya... Dah ilfil duluan... (ngambek mode on )

Ada satu hal yang aku inget sampe sekarang, yang menurutku romantis bintang lima deh...
Aku lupa kejadiannya apa, waktu itu kaya'nya kami mau pisah sementara. Trus suami bilang,"Abi kalo pisah sama anak-anak ngga papa deh, asal jangan pisah sama umi..." kira-kira begitu...

Duuh... terharu sekali mendengarnya waktu itu, palagi dengan mata memelas... (halah)

Ohya, ada satu lagi... waktu itu pernah membahas masalah poligami, si abi mengatakan dengan kesungguhan luar biasa,"Umi jangan pernah tinggalin abi ya..." Sebenernya waktu itu saya luluh banget dengernya, cuma saya jawabnya."Lho bukannya abi yang mo ninggalin umi, kan yang boleh beristri dua kan abi..." (soalnya saya ngga melarangnya jika suatu saat dia ingin membangun istana kedua-nya. Eh... si abi malah takut... hehe... )

Cintaku di seberang sana... tidakkah kau dengar jerit rinduku?

(halah! halah! halah! )

yang tak kusukai dari cinta

Cinta... Yang kebayang pasti yang indah-indah (ya tho?)

Ada satu hal yang tak kusukai dari "Cinta", yaitu khawatir.

Jadi gini... adalah wajar ketika kita mencintai seseorang maka kita akan mengkhawatirkan keadaannya, kesehatannya, khawatir jika dia kenapa-napa, cemas jika sesuatu yang buruk akan terjadi padanya, terutama jika dia berada jauh dari kita.

Ah, tapi aku ngga suka perasaan itu. Sangat ngga enak! Bukan sesuatu yang menyenangkan untuk dirasakan. Palagi untuk orang-orang melankolis seperti diriku (hiks... ) pasti pikirannya kemana-mana. Pulang telat sedikit dan pas ngga ngasi tau, pasti dah uring-uringan. Palagi kalo yang terkasih (taela...) lagi diperjalanan... duh...

Gimana biar tenang?

Titipin aja ama yang 'memiliki'. (lho bukannya yang memiliki itu kita? kekasihnya?)
Ngga dong!

Allahlah yang Maha Memiliki.

Titipkan saja pada Allah yang Maha Mengetahui, Maha Melihat, Maha Berkehendak, dan Maha Berkuasa... Dialah yang Maha Menjaga. Minta saja pada-Nya, insyaAllah tenang. Wong Dia yang memiliki koq, kalo Dia mau ambil ya silakan. Apapun yang terjadi pasti atas ketentuan-Nya. Jadi apapun pastilah merupakan hal yang paling baik untuk kita.


[Ya Allah yang Maha Melihat, jagalah suamiku yang sekarang jauh, Jagalah anak-anakku yang tidak ada bersamaku, Jagalah orang tuaku muliakanlah mereka, dan Ampunilah segala dosa kami. Amin]

Malam-malam Penuh Cinta

Mengenang tarbiyah berarti mengenang teman-teman akhwat satu liqo waktu di kampus.

Waktu itu kami satu kelompok cuma 5 orang. Untuk mengeratkan ukhuwah -ceritanya ta'aruf lebih 'dalam'- kami biasa nginep (ato bahasa kerennya 'mabit') di kost-an salah seorang dari kami. Satu kali nginep berarti satu episode. Episode A berarti malam itu akan kami habiskan untuk mengenal lebih dalam tentang A. Tentang dirinya, kesukaannya, juga yang tak disukainya, sifatnya, karakternya, keluarganya, juga bagaimana cara menegurnya, pokoknya semua tentang dirinya.

Biasanya kami janjian sekitar jam 8-an. Selesainya? Jangan ditanya... Kadang jam 2 atau jam 3 pagi. Padahal kami juga punya jadwal qiyamullail alias shalat malam bersama. Jadinya shalat malamnya kadang suka mepet-mepet subuh... Kadang malah kebablasan... hehe...

Hampir tiap pekan kami menghabiskan minimal satu malam bersama-sama. Biasanya kami membahas permasalahan tarbiyah kampus. Kadang agenda lain. Kalo situasi mendesak bisa 2 kali seminggu.
Seringnya interaksi menjadikan kami begitu dekat satu sama lain. Kalo ada yang lagi punya masalah, biasanya kami selesaikan bersama-sama. Tak jarang juga timbul konflik... Ya, namanya manusia. Kerja bareng pasti ngga rukun terus. Biasanya kami 'menyelesaikannya' juga dengan pertemuan malam kami. Aku ingat beberapa kali pertemuan kami habiskan dengan derai air mata dan pelukan.

Ah... betapa aku merindukan malam-malam penuh cinta itu...

Betapa aku merindukan kamar kost kecil berukuran 2,5 x 3 meter, markas kami, tempat kami berlima tidur (selalu) dalam kondisi letih, tugas kuliah menumpuk, agenda-agenda da'wah yang tak henti-henti, tapi bersama mereka yang punya semangat luar biasa aku selalu senang menjalani hari-hari sibuk itu...

Subhanallah... Senang sekali diberi kesempatan merasakan ukhuwah, cinta yang begitu indah dari saudara seiman yang sama-sama mencintai da'wah ini. Semoga Allah berkenan mempertemukan kami kembali untuk melanjutkan ukhuwah ini dalam jannah-Nya kelak... Amiiin...

Dedicated to : Henny di Jember, Baby di Medan, Ayu dan Hanik di Depok. Kangen berat sama kalian...