Showing posts with label Tarbiyah. Show all posts
Showing posts with label Tarbiyah. Show all posts

Thursday, September 6, 2012

Aku Rindu Zaman

Aku Rindu Dengan Zaman Itu

Aku rindu zaman
ketika “halaqoh” adalah kebutuhan,
bukan sekedar sambilan apalagi hiburan

Aku rindu zaman
ketika “membina” adalah kewajiban,
bukan pilihan apalagi beban dan paksaan

Aku rindu zaman
ketika “dauroh” menjadi kebiasaan,
bukan sekedar pelengkap pengisi program yang dipaksakan

Aku rindu zaman
ketika “tsiqoh” menjadi kekuatan,
bukan keraguan apalagi kecurigaan

Aku rindu zaman
ketika “tarbiyah” adalah pengorbanan,
bukan tuntutan dan hujatan

Aku rindu zaman
ketika “nasihat” menjadi kesenangan,
bukan su'udzon atau menjatuhkan

Aku rindu zaman
ketika kita semua memberikan segalanya untuk da'wah ini

Aku rindu zaman
ketika “nasyid ghuroba” menjadi lagu kebangsaan

Aku rindu zaman
ketika hadir di “liqo” adalah kerinduan,
dan terlambat adalah kelalaian

Aku rindu zaman
ketika malam gerimis pergi ke puncak mengisi dauroh
dengan ongkos ngepas dan peta tak jelas

Aku rindu zaman
ketika seorang ikhwah benar-benar jalan kaki 2 jam di malam buta
sepulang tabligh dawah di desa sebelah

Aku rindu zaman
ketika akan pergi liqo selalu membawa uang infak, alat tulis, buku catatan dan Qur'an terjemahan ditambah sedikit hafalan

Aku rindu zaman
ketika seorang binaan menangis karena tak bisa hadir di liqo

Aku rindu zaman
ketika tengah malam pintu depan diketok untuk mendapat berita kumpul subuh harinya

Aku rindu zaman
ketika seorang ikhwah berangkat liqo dengan ongkos jatah belanja esok hari untuk keluarganya

Aku rindu zaman
ketika seorang murobbi sakit dan harus dirawat, para binaan patungan mengumpulkan dana apa adanya

Aku rindu zaman itu,

Aku rindu...

Ya ALLAH,

Jangan Kau buang kenikmatan berda'wah dari hati-hati kami

Jangan Kau jadikan hidup ini hanya berjalan di tempat yang sama

[Rahmat Abdullah]


dan saya menangis untuk ke sekian kalinya setiap membaca lagi puisi ini
pun ketika posting ini
semoga diakhirat kelak kita bisa bertemu dengan beliau
aku mencintaimu karena Allah, ya ustadz...

Ikhlas

Sudah 2 pekan-an ini saya berusaha menyampaikan materi tentang ikhlas kepada hampir semua kelompok binaan. Materi dasar yang memang harus disampaikan, penting, bahkan sangat penting. Separuh syarat dari diterimanya amal, adalah ikhlas.

Betapa berat sebenarnya membahas materi ini. Alhamdulillah, semoga Allah tak henti memberikan taufikNya kepada DR Yusuf Al Qardhawy yang telah menulis buku sarat ilmu, Niat dan Ikhlas. Membaca buku ini memberikan gambaran yang sangat jelas dan terang mengenai apa itu ikhlas. Setiap kalimat dalam setiap halamannya adalah inti pokok dari pembahasannya. Setiap kata-katanya adalah hikmah. Hanya dengan membaca dan memahami setiap katanya baru kita bisa betul-betul memahami apa itu ikhlas. Buku ini sudah saya baca berulang kali, namun selalu setiap membaca selalu kemudian termenung, menghela nafas, berpikir, dan merasakan sedemikian beratnya materi ini.

'Ala kulli hal, dari semua hal, maka yang paaaaling sulit untuk dilakukan adalah mengamalkannya. Betapa sulitnya untuk menjadi ikhlas. Betapa sulitnya memurnikan niat dari hal-hal yang selain Allah SWT. Benar-benar sulit... (semoga saya tidak termasuk yang mendapat 'kaburo maqtan' ketika saya memberikan materi ikhlas sementara saya sendiri belum ikhlas...)

Ikhlas. Semakin paham, semakin sulit untuk melakukannya...
Terutama ketika harus berada di barisan depan. Meski tidak diminta, namun hal-hal duniawi begitu lekat mengganggu kemurnian niat. Ada saja niat untuk ingin di kenang, ingin diingat sebagai qiyadah yang baik, untuk meninggalkan hal-hal yang baik, ingin diingat manusia sebagai orang yang sukses membawa organisasi menuju kemajuan.

Yang sering menghinggapi, adalah keinginan 'meninggalkan sesuatu agar diingat'. (Ah, padahal pandangan manusia tidak ada artinya dibanding pandangan Allah. Cukuplah Allah ridha, tak perlu yang lain...). Ketika dulu masih D3, ketika akan meninggalkan gorontalo, juga sekarang saat kembali ke kampus. Ketenaran menjadi racun. Ingin rasanya menjadi yang di 'belakang layar' saja. Tak pernah disebut namanya, tak dianggap, tidak dicari, berkarya dari kejauhan saja.

Ya, Allah telah menakdirkan, maka tinggal kita berusaha untuk ridha atas semua ketentuannya, sembari senantiasa membersihkan hati dari ketidakmurnian keikhlasan, agar diakhir kelak kita mendapatkan keridhaanNya...

Hhhhh....

Ya Allah yang menguasai hati-hati kami, jadikanlah kami termasuk kedalam hamba-hambaMu yang mukhlis...

Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepadaMu untuk (tidak) menyekutukan sesuatu yang kami ketahui denganMu dan kami memohon kepadaMu dari sesuatu yang tidak kami ketahui...

Inconsistency

Ketika merasakan betapa indahnya kehidupan da'wah kampus, saya berkata dalam hati, tidak akan ada kehidupan lain yang lebih indah, kondusif, da'wah dengan semangat yang seperti di kampus. Tak akan kulupakan kenangan bersama akhawat dan semua penghuni kampus (kambing, ilalang, kebon tebu ponjay ^_^).

Menginjak bumi hulontalo (gorontalo) dan merasakan cinta yang tak terperi dari ikhwah disana, saya menemukan tambatan hati lain. Ternyata ada yang lebih indah, lingkungan yang lebih kondusif, da'wah yang lebih semarak, semangat yang begitu luar biasa, ukhuwah yang tiada dua. Saya pun berikrar tidak ada tempat seindah gorontalo.

Kuliah tidak serius, lulus dengan IP pas-pasan, dan senang dengan kehidupan kantor, membuat saya memproklamirkan diri 'lebih suka kerja ketimbang belajar'. Memutuskan kuliah D4 demi waktu dan kebersamaan dengan anak-anak menjadi alasan karena 'ketidaksukaan' akan aktivitas b-e-l-a-j-a-r.

Nyatanya?

Ah, sesungguhnya saya malu mengatakan saya (ternyata) suka sekali belajar. Suka berbagi ilmu lewat forum-forum diskusi di kelas, mempelajari ilmu-ilmu yang lebih 'make sense' dan aplikatif (ketimbang dulu waktu D3, ga ngerti melajarin apa), senang berbicara di depan kelas (presentasi) berbagi wawasan, membaca (dan beli) buku-buku akademis yang ga pernah disentuh, ilmu nambah, juga temen-temen...

Kuliah lagi membuat saya pengen kuliah terus (lanjut S2-S3). Motivasi dari dosen-dosen memang bikin pengen sekolah setinggi-tingginya. Pernyataan 'lebih seneng kerja ketimbang belajar' ga tau ilang kemana. Pengen belajar lebih banyak, untuk berbagi ke yang lain. Ternyata belajar lebih enak... hehehe...

Hmmm... ternyata saya sering ga konsisten ya.... ?

Mereka yang Mencintai

"...Jaga adek ane nggeh... Syukron"
"...Ana sangat mengharapkan beliau tidak terputus tarbiyahnya di STAN, dan semoga beliau dapat menjadi lebih baik lagi. Jazakillah kheir katsiir ukhti, anak sangat berterima kasih atas bantuan antunna sekalian dalam mentarbiyah beliau."
"...Nitip ya dek..."

Begitu kira-kira beberapa pesan dari murabbi beberapa akhwat 'baru' ketika saya melakukan konfirmasi mengenai adik-adik kesayangan mereka.

Murabbi. Dia adalah orang lain. Bukan saudara, tidak ada ikatan darah. Hanya ikatan aqidah dan Allah berkenan mempertemukan kita dengan mereka dalam sebuah majelis ilmu guna meng-upgrade diri menuju keshalihan.

Murabbi. Orang asing yang kemudian menjadi guru kita, sahabat, kakak, orang tua, motivator, konsultan, syekh, psikolog, pemimpin, pembimbing, juga mak comblang :)

Murabbi. Orang yang kemudian begitu besar cintanya kepada kita -binaannya- yang mengingat kita dalam shalat-shalat malamnya, yang peduli dengan keshalihan kita, yang ikut menangis ketika kita menangis, yang khawatir ketika ada masalah dalam diri kita, yang ikut pusing mencarikan jodoh kita, yang senantiasa berdoa untuk kebaikan kita...

Saya merinding membaca pesan-pesan di atas. Pesan dari seorang murabbi yang begitu cintanya kepada mutarabbinya, yang peduli terhadap keberlangsungan proses tarbiyah mutarabbinya, yang tak peduli bagaimana perlakukan mutarabbinya terhadapnya selalu mengharapkan yang terbaik, menitipkan dengan kekhawatiran wajar layaknya orang tua yang akan melepas anaknya pergi jauh darinya...

"...Jaga adek ane nggeh... Syukron"

Dada saya bergetar, air mata menggenang ketika membaca pesan ini. Betapa besar cinta ukhti ini kepada binaannya.

InsyaAllah ukh, doakan kami juga agar mampu menjaga amanah ini dengan baik.

...

Samara atau Samarada?

(Samara = Sakinah mawaddah wa rahmah; Samarada = Sakinah mawaddah wa rahmah wa Da'wah)

Membicarakan tentang pernikahan, saya teringat sebuah fenomena yang terus terjadi. Seorang akhawat/ikhwan yang tadinya aktif berda'wah, kemudian 'tinggal kenangan' (aktifitas da'wahnya) sesaat setelah ia menikah dan punya anak. "Ga ada bekas-bekasnya," istilah suami saya. Seolah da'wah tidak pernah melekat dalam dirinya.

Ketika hendak menikah, semua orang pasti merindukan rumah tangga yang samara. Namun bagi da'i seharusnya samara saja tidaklah cukup. Ada impian menjadikan keluarganya menjadi keluarga da'wah. Namun tidak demikian ternyata bagi sebagian ikhwah, terutama ikhwah STAN yang ketika lulus, kemudian penempatan dan bekerja sebagai birokrat pagi hingga petang, menikah, berkeluarga dan punya anak, tampaknya lupa dengan keni'matan berda'wah. Senin hingga jumat tersita waktunya untuk pekerjaan. Sabtu Ahad kemudian menjadi waktu spesial untuk keluarga semata.

Apalagi bagi akhwat yang kemudian perannya bertambah menjadi istri dan ibu. Sibuk mengurus anak menjadi alasan yang pamungkas sekali untuk menghindari amanah-amanah da'wah yang ditawarkan padanya. Anak begitu menyita perhatian dan waktunya. Tidak ada lagi tempat untuk ummat. Ditambah lagi jika kemudian suamipun menitahkan untuk 'serius' mendidik anak saja.

Rumah tangga apa yang hendak dibangun seharusnya dikomunikasikan ketika hendak menikah. Saat taaruf dengan calon pendamping, kedua belah pihak hendaknya sepakat akan memilih keluarga yang samara atau samarada. Hal ini hendaknya disepakati kedua belah pihak. Da'wah akan menjadi berkah ketika dilakukan dengan keridhaan istri/suami. Terutama bagi istri, tidak mungkin ia berangkat berda'wah tanpa ijin sang suami.

Mungkin perlu digali ketika taaruf, apakah sang suami tipe samara atau samarada? -ini bagi akhwat yang mendamba keluarga samarada, kecuali jika ia memang berniat untuk menjadi keluarga samara saja- Apakah suami akan mengijinkan istrinya memberikan sebagian waktu, tenaga, pikiran, juga hartanya untuk ummat?

Makanya ketika menulis biodata, saya mencantumkan 2 kriteria yang harus dipenuhi calon suami saya. Pertama, ikhwah tarbiyah. Karena saya memilih jalan tarbiyah untuk menyebar kebaikan, dan tentunya menemukan orang yang memilih jalan yang sama akan mempercepat langkah dan sampai kepada tujuan. Kedua, mencintai da'wah. Ya, karena saya juga mencintainya. Mencintai hal yang sama bisa mendekatkan 2 orang asing, ya kan? Dan karena juga saya memimpikan untuk terus berda'wah sepanjang hayat dan masuk jannahNya melalui pintu jihad (amiiiiin...)

Teruslah berda'wah saudaraku, percayalah ia senantiasa memberi keberkahan.
Apa yang kita berikan untuk da'wah sesungguhnya adalah juga untuk keluarga kita.
Betapa banyak keberkahan yang saya rasakan meski sering 'meninggalkan' anak dan keluarga demi ummat. Banyak hal yang mungkin tidak bisa kita dapatkan ketika kita tidak berda'wah.

"Jagalah Allah niscaya Ia akan menjagamu..."

Percayakan yang kita tinggalkan pada yang Maha Menjaga, dan semoga Ia terus mengalirkan keberkahan kedalam keluarga kita.

Gorontalo dalam kenangan

Entah kenapa tiba-tiba saya teringat akan gorontalo.

Dua tahun di bumi hulontalo memberikan kenangan yang tak terlupakan. KPP gorontalo berikut semua krunya berikut  kisah kaburnya saya untuk ngurus mutasi ke jakarta.

Kisah pertama kalinya saya berkeluarga, tinggal serumah dengan suami untuk yang pertama kalinya, hamil si kembar berikut lahirannya, suka duka jauh dari keluarga besar...

Ikhwahfillah gorontalo yang penuh semangat, berjumpa mereka untuk yang pertama kalinya seperti sudah mengenal mereka bertahun-tahun, bersama kisah-kisah da'wah saya disana, misalnya waktu ngisi kajian ibu-ibu malem-malem yang jauhnya setengah jam perjalanan naik motor sampe pernah dibilang aliran sesat di suatu kajian ta'lim keluarga gara-gara mbahas sesuatu yang kurang tepat cara penyampaiannya (masih trauma sama yang ini...hehehehe)
Ada pengalaman buruk juga, ketika pertama kalinya saya betul-betul ingin keluar dari tarbiyah. Alhamdulillah niat itu tidak terealisasi :)

Gorontalo, salah satu tempat ketika jiwa dan da'wah saya ditempa.
Banyak yang saya dapat dari gorontalo, tidak sepadan dengan apa yang sudah saya berikan untukmu, gorontalo...
Semoga rahmat dan barokah Allah senantiasa menaungimu...
I really miss you...

Semoga kita dipertemukan kembali dalam jannahNya kelak... Amiiin...

Dejavu

Rasanya seperti lebih dari 7 tahun yang lalu...

Merasakan lagi harap-harap cemas (peserta banyak yang dateng ga yaaa...?)
Melakukan lagi operasi gelar tiker di lobby gedung D
Cek perlengkapan, cek konsumsi, cek acara, cek persiapan pengisi acara...

Hhhhh...
Ada rasa yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata...
Kegembiraan kembali menjalani hari-hari yang penuh dengan hati dan pikiran yang bersemangat-menggelora-menggebu-gebu-excited-senang-puas, meski badan letih...
Ada rasa yang luar biasa berinteraksi dengan akhawat-akhawat yang luar biasa dengan semangat yang tak kalah luar biasa... Ikatkanlah hati-hati ini ya Allah...
Perasaan yang sama dengan ketika dulu saya pernah menginjakkan kaki dan meninggalkan jejak-jejak 'kerja' yang semoga bermanfaat...

Meski kondisi tak lagi sama...
Tubuh yang menua...
Amanah yang bertambah (rumah, anak-anak, juga anak mertua, merekalah pusat da'wah saya sekarang)
Akses ke kampus yang lumayan jauh (setengah jam kalo naik motor)
Semoga tidak menyurutkan langkah saya agar terus istiqomah...

Ini bukan dejavu -seolah-olah pernah mengalami,
sebab saya benar-benar pernah mengalaminya :)
Semoga masih bisa meninggalkan jejak-jejak kebaikan di kampus dan dimanapun..

Manusia yang paling baik adalah manusia yang paling memberi manfaat...

Kembali ke kampus, Kembali ke da'wah kampus

Satu lagi cerita untuk hari ini...

Sebagaimana kebanyakan anak D3 STAN yang kemudian masuk D4 rata-rata berazzam untuk SO alias study oriented alias pengen belajar-belajar-dan belajar aja. Berhubung juga dosen-dosen lebih 'galak' dibanding waktu D3, juga tugas yang bejibun, bikin waktu di rumah habis di depan komputer terus.

Pengen curhat dikit tentang awal-awal kuliah saya. Betapa saya stress dan... entahlah, pokoknya perjuangan saaaangat berat setelah 7 tahun ngga bertemu dengan dunia kampus. Tugas yang masyaAllah, membuat saya sering marah di rumah (emang dari dulu hobi marah ^_^), ga bisa tidur, capek, bahkan untuk pertama kalinya kena gejala typus (karena kecapekan dan bela-belain masuk kelas padahal lagi panas tinggi... hehehe...).

Beberapa minggu pertama saya berusaha sekuat tenaga melakukan semaksimal mungkin apa yang dosen minta. Saya merasa saya sudah berusaha saaaangat keras. Tapi ternyata...temen-temen saya berusaha lebih keras dibanding saya. Hiks! Akhirnya semangat pun menurun, karena merasa, well... saya emak-emak beranak 3 ga bakalan bisa menyamai hasil yang dikerjakan sama temen-temen saya yang bujangan. Mereka punya waktu seharian internetan, nyari bahan paper, dan sebagainya, sementara saya harus nyuri-nyuri waktu dengan intermezzo (anak-anak yang pengen main laptop juga) yang tiap 5 menit dateng... Terus terang saya memang menyerah. (maksudnya ngga se-ngoyo dulu... Yah, biasa-biasa aja lah... hehehe... Maaf ya bukan hal yang pantas untuk ditiru. Maaf karena dari 'sono'nya saya bukan orang 'akademis'... jadi untuk temen-temen yang 'akademis', maafkan saya ^_^)

Nah...
Sampai akhirnya panggilan itu tiba.
Apalagi kalo bukan panggilan da'wah?
Ketika ia memanggil, maka tak ada kata lain, selain "Labbaiiik..."

Hhhh... sebenernya kalo boleh memilih, pengennya mah ya ngga begitu ingin berkecimpung lagi terlalu 'dalam' di da'wah kampus. (emang pikiran emak-emak sama yang bujang jadi beda ya?) Tapi sepertinya realita tidak seperti keinginan kita. Sekarang meski libur jadi sering bolak balik kampus, sering syuro lagi, mikirin keputrian lagi, mikirin kajian lagi. Hmmm... Capek sih, sebel juga kalo ada perubahan jadwal (soalnya lebak bulus-bintaro kan lumayan jauh juga), tapi dijalani dengan enjoy aja... Kapan lagi punya kesempatan sebagus ini, ya ngga? Ikut serta dalam kaderisasi da'i nasional (ikhwah STAN kan tersebar di seluruh Indonesia ^_^).

Memang sudah menjadi konsekuensi ketika kita sudah terlibat dalam da'wah untuk memberikan semua yang kita punya (yang sebenernya adalah karena Allah jua yang memberikan) demi tegaknya kalimat Allah. Ketika kita mengucapkan kata,"Sungguh, saya mencintai da'wah." maka sekarang saya dituntut untuk membuktikan seberapa besar cinta saya kepadaNya. Lebih besar mana dengan cinta saya kepada IP yang tinggi? Atau kepada anak-anak yang Dia juga yang menjaga mereka?

"Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu..." (hadist)

"Berangkatlah kamu dalam keadaan ringan maupun berat ... yang demikian itu adalah lebih baik bagimu" (At Taubah:11)

"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul ... dan sesungguhnya kepadaNyalah kamu akan dikumpulkan" (Al Anfal:24)

"Katakanlah,"Jika ..., anak-anak, ..., adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya dan (dari) berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq (At Taubah: 24)

Perintah Allah dan Rasul di atas lah yang membuat saya kemudian bersemangat menyambut seruan da'wah. Meski berat, namun Allah akan membeli kerja-kerja saya dengan syurgaNya, insyaAllah -kalo saya ikhlas tentu saja ^_^

Buat temen-temen pencinta da'wah, sampe ketemu di syurga yaaa... ^_^ (gaya banget yak? Afwan, tapi Allah kan sesuai persangkaan hambaNya... ya ngga? hehehe...)

Mencintai Jalan Ini

"Jazakillah bu atas bantuan ibu selama ini"

Pesan ini saya di hp saya tadi siang. Beliau berterima kasih karena sudah lebih dari setahun saya dimintai tolong membina mahasiswi-mahasiswinya, dan insyaAllah akan terus berlanjut entah sampai kapan.

Tidak perlu berterima kasih pak. Seharusnya saya yang berterimakasih kepada bapak karena sudah mencarikan saya ladang amal untuk saya bina, menambah tabungan saya untuk akhirat saya.

Tidak perlu karena saya melakukannya karena saya mencintai jalan ini, mencintai da'wah, sejak kali pertama diperkenalkan dengannya. Love at the first sight, kata orang. Bahkan ketika mencari pasangan hidup pun, saya memilih orang yang juga sama-sama mencintai da'wah. Jika tidak, saya takut suatu saat harus berpisah dengan da'wah.

Tidak, saya takut menjadi orang yang kelak hanya memandang di kejauhan, dengan hati penuh penyesalan, hanya bisa bersedih hati ketika menyaksikan kereta da'wah penuh pejuang-pejuang yang istiqomah memasuki stasiun terakhir yang kekal, tak lain tak bukan adalah jannah-Nya.

Ah, jalan ini berat. Tapi tak mengapa. Karena cinta adalah memberi, karena cinta adalah berkorban...

Jika kemudian ada yang bertambah amalannya, berubah cara pandangnya, bertambah ilmunya, juga keimanannya, bahkan kemudian meneguhkan diri untuk berhijrah dan berhijab, maka itu adalah bayaran yang lebih besar dari uang berapapun. Kegembiraan yang tak kan dapat digambarkan dengan kata apapun. Meskipun saya tau itu semua bukan karena saya...

Hanya berharap Allah saja yang membalas semua yang saya lakukan untuk da'wah karena saya mencintaiNya, hanya karenaNya...

Ah, semoga saya dan ikhwah semua bisa menjalani jalan ini, bersama-sama dalam kereta da'wah ini, ikhlas dan istiqomah, hingga kelak kita bisa bergembira, berkumpul bersama Murabbi terbaik sepanjang masa, Rasulullah saw, serta para sahabat dan syuhada, dalam jannahNya kelak yang kekal...

Aaamiiiin ya Rabb...

Kabulkanlah doa kami...

Thursday, August 30, 2012

Cinta dari Gorontalo

Pertama kali saya mengenal da'wah itu di kampus. Sebagaimana orang yang menemukan mainan baru dan langsung menyukainya, saya sangat menikmati hal baru itu dengan semangat menggebu-gebu. Jadi pengurus masjid kampus, ikut ngurusin masjid di sekitar kos-kosan, sempet jadi guru TPA, membina adik-adik kelas, ikut ngajar di 'masjid yang jauh' (alumni ponjay pasti ngerti nih), amanah disini - amanah disitu, dst...

Saya pikir saya sudah melakukan suatu pekerjaan besar...
Lepas dari kampus, saya gamang. Dunia kerja dan masyarakat menanti saya... Terus terang saya belum siap. Saya terlalu nyaman dengan gemerlap da'wah kampus. Comfortable zone (zona nyaman) saya ada di kampus...

Tapi waktu tidak bisa menunggu.
Mati-matian saya berusaha menyesuaikan diri dengan da'wah profesi dan da'wah sya'bi. Dan seperti yang sudah saya duga semula, tantangannya jauh lebih besar. Apalagi saya memulai perjuangan ini di ujung sulawesi, di Bumi Hulontalo (Gorontalo). Karakter dan budaya yang berbeda, betul-betul penyesuaian yang tidak mudah.

Tahukah Anda apa yang membuat saya bisa melewatinya?
Ukhuwah, jawabannya.

Pernahkah Anda mendapatkan cinta dari orang yang sama sekali tidak Anda kenal, belum pernah berjumpa, berasal dari tempat yang jauh? Cinta itu saya dapat dari mereka, pejuang-pejuang da'wah Gorontalo. Berkenalan dengan mereka seperti sudah mengenal lama. Dekat seperti sahabat yang tak terpisahkan. Berbagi, memberi, itsar, hal yang hampir tiap hari ditemui...

Bahwa ikatan aqidah itu lebih kuat dari ikatan darah, saya sendiri sudah membuktikan!
Ah, sebetulnya saya belum 'berhasil' dalam menjalani da'wah ini. Masih belum bisa dibandingkan dengan ikhwah Gorontalo yang semangatnya luar biasa itu. Juga tidak bisa dibandingkan dengan ikhwah Jakarta yang subhanallah...

Ah, semakin saya mengenal para ikhwah, semakin saya merasa sangat kecil...

Semoga keberkahan selalu menaungi mereka semua, dimana pun mereka berada...
Semoga saya masih bisa berkumpul bersama mereka dalam jannah-Nya kelak...
Ana uhibbukum fillah...

Malam-malam Penuh Cinta

Mengenang tarbiyah berarti mengenang teman-teman akhwat satu liqo waktu di kampus.

Waktu itu kami satu kelompok cuma 5 orang. Untuk mengeratkan ukhuwah -ceritanya ta'aruf lebih 'dalam'- kami biasa nginep (ato bahasa kerennya 'mabit') di kost-an salah seorang dari kami. Satu kali nginep berarti satu episode. Episode A berarti malam itu akan kami habiskan untuk mengenal lebih dalam tentang A. Tentang dirinya, kesukaannya, juga yang tak disukainya, sifatnya, karakternya, keluarganya, juga bagaimana cara menegurnya, pokoknya semua tentang dirinya.

Biasanya kami janjian sekitar jam 8-an. Selesainya? Jangan ditanya... Kadang jam 2 atau jam 3 pagi. Padahal kami juga punya jadwal qiyamullail alias shalat malam bersama. Jadinya shalat malamnya kadang suka mepet-mepet subuh... Kadang malah kebablasan... hehe...

Hampir tiap pekan kami menghabiskan minimal satu malam bersama-sama. Biasanya kami membahas permasalahan tarbiyah kampus. Kadang agenda lain. Kalo situasi mendesak bisa 2 kali seminggu.
Seringnya interaksi menjadikan kami begitu dekat satu sama lain. Kalo ada yang lagi punya masalah, biasanya kami selesaikan bersama-sama. Tak jarang juga timbul konflik... Ya, namanya manusia. Kerja bareng pasti ngga rukun terus. Biasanya kami 'menyelesaikannya' juga dengan pertemuan malam kami. Aku ingat beberapa kali pertemuan kami habiskan dengan derai air mata dan pelukan.

Ah... betapa aku merindukan malam-malam penuh cinta itu...

Betapa aku merindukan kamar kost kecil berukuran 2,5 x 3 meter, markas kami, tempat kami berlima tidur (selalu) dalam kondisi letih, tugas kuliah menumpuk, agenda-agenda da'wah yang tak henti-henti, tapi bersama mereka yang punya semangat luar biasa aku selalu senang menjalani hari-hari sibuk itu...

Subhanallah... Senang sekali diberi kesempatan merasakan ukhuwah, cinta yang begitu indah dari saudara seiman yang sama-sama mencintai da'wah ini. Semoga Allah berkenan mempertemukan kami kembali untuk melanjutkan ukhuwah ini dalam jannah-Nya kelak... Amiiin...

Dedicated to : Henny di Jember, Baby di Medan, Ayu dan Hanik di Depok. Kangen berat sama kalian...

Awal Tarbiyahku

Pertama kali berkenalan dengan tarbiyah tahun 2000, waktu aku masuk STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara). Dulu namanya mentoring. Aku masih ingat mentor pertamaku namanya Mba Ita, mahasiswi tingkat III. Temen-teman satu kelompok juga mahasiswi baru semua satu angkatan.

Agak lupa-lupa ingat waktu itu membahas tentang apa saja, tapi yang jelas banyak ilmu tentang islam yang tadinya hanya 'teori' belaka mulai kucoba untuk mengerjakannya. Misalnya menutup aurat. Sekitar bulan ketiga kuliah kuputuskan untuk memakai pakaian taqwa alias jilbab. Terdorong pertanyaan 'sambil lalu' dari kakak kelas satu kost,"Koq belum pake jilbab?" Terus terang bingung mau jawab apa. Aku tidak bisa menemukan alasan apapun yang menyebabkan aku belum memutuskan untuk menutup auratku. Jadilah aku akhirnya menelepon orang tua di Payakumbuh yang dengan senang hati mengijinkan (dengan tambahan syarat : jangan buka-buka lagi).

Aku selalu menyempatkan datang di setiap pertemuan mentoringku. Mungkin memang dasar ngga betah diam di rumah, aku mengikuti banyak kegiatan (ekskul) kampus. Mulai dari english club, computer club, capital market club, termasuk juga mentoring ini, dan akhirnya Keputrian Masjid (karena diajak kakak kelas juga) saat semester II.

Jadi pengurus Keputrian masjid kampus inilah awal perkenalan pertamaku dengan da'wah. Mulai dari nge-set acara kajian, bikin pamflet untuk publikasi acara, mengundang pembicara, deg-degan menunggu peserta yang datang (banyak apa engga), pesertanya antusias apa engga, nyiapin konsumsi & peralatan, dll. Membahas da'wah di kampus, gimana supaya kampus menjadi lebih islami, khususnya para muslimahnya, menjadi suatu yang baru tapi aku senang sekali melakukannya. Senang bisa memberikan kontribusi -meskipun kecil- untuk da'wah.

Tarbiyah juga memperkenalkanku dengan ukhuwah. Awalnya kepada teman-teman satu kelompok mentoring. Pertemuan-pertemuan pertama kami habiskan untuk menjadi semakin dekat satu sama lain dengan Ta'aruf. Kemudian yang lebih terasa lagi, ukhuwah dengan teman-teman sesama pengurus Keputrian. Saat kerja bareng dan seringnya interaksi menjadikan keterikatan hati kami menjadi semakin erat.
Alhamdulillah... Allah berkenan memasukkan aku ke dalam gerbong da'wah, berukhuwah dengan orang-orang yang ada di dalamnya, sungguh keni'matan yang tiada terkira.

Semoga aku dapat berukhuwah kembali dengan mereka dalam jannah-Nya kelak. Aamiin...