Banyak berseliweran di wall facebook saya beberapa teman dan kenalan yang menuliskan resolusi 2017-nya seiring dimulainya hari pertama di tahun yang baru ini. Perlukah menuliskan resolusi?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, resolusi berarti putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang
ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis,
biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal. Entah kenapa kata 'resolusi' kemudian sering digunakan ketika momentum tahun baru-an tiba, dengan embel-embel 'angka tahun' dibelakangnya.
Bagi saya menuliskan cita, mimpi, asa, sudah saya lakukan semenjak saya masih gadis. Sebagai seorang koleris melankolis yang teratur, saya biasa menuliskan dengan rapi apa saja (meski kebiasaan ini luruh ketika menikah dengan suami plegmatis yang 'ngalir aja' hehehe). Saya selalu punya agenda, dulu malah menyengaja membeli agenda yang bagus dan mahal. Ketika menikah, saya mengajak suami untuk menuliskan mimpi kami dalam sebuah buku khusus. Cita itu pun tidak lagi mimpi pribadi yang diperjuangkan sendiri. Mimpi itu menjadi mimpi kami, mimpi keluarga.
Di awal pernikahan kami menuliskan visi dan misi keluarga hingga action apa yang diperlukan untuk meraih mimpi itu. Buku mimpi ini kami revisi seiring waktu. Anak-anak yang dititipkan kepada kami, termasuk asisten rumah tangga yang ikut tinggal bersama kami pun menjadi bagian dalam hal-hal yang ingin kami raih.
Saya lupa tepatnya kapan. Sebenarnya saya biasa menuliskan mimpi, target, harapan sejak lama. Tapi kebiasaan menuliskan dengan detail setiap mimpi ini bermula ketika saya membaca buku Chicken Soup for the Soul versi meraih mimpi yang ini:
Saya tahu covernya tak semenarik buku-buku Chicken Soup versi lain, tapi isinya sungguh menginspirasi saya. Banyak kisah-kisah sukses orang-orang yang mimpinya terwujud dan yang lebih kerennya lagi, penulisnya merangkumkan untuk kita tips-tips, langkah demi langkah, bagaimana bisa berhasil meraih mimpi sebagaimana orang-orang yang sharing di buku tersebut. Buku ini sangat saya rekomendasikan sekali, highly recommended book. Keren banget!
Hidup dan sekolah di luar negeri juga adalah mimpi yang saya dan suami tuliskan di buku mimpi kami bertahun-tahun yang lalu. And now here we are...
Sangat menakjubkan ketika membuka lagi buku itu, ketika kita pada akhirnya berhasil meraih satu persatu apa yang kita citakan dahulu. Impian yang -saya masih ingat perasaan yang saya rasakan ketika menuliskannya- tampak mustahil, seperti bunga tidur yang kemudian lenyap ketika terbangun di pagi hari. Tapi ternyata Allah swt menjadikan mimpi itu hal yang baik dan dengan kehendakNya kami bisa menghirup dinginnya udara musim dingin di York, UK, ribuan kilometer jauhnya dari kampung halaman.
So, kembali ke resolusi 2017, perlukah?
Yup, menurut saya perlu sekali. Meskipun saya sendiri lebih memilih momentum hari lahir yang lebih personal dan private untuk mimpi personal saya, atau hari pernikahan untuk cita-cita keluarga. Di momen itu saya (atau kami) mereview kembali mana mimpi yang sudah dan belum terwujud, merevisi mimpi, membuat mimpi-mimpi baru, untuk anggota baru misalnya (harapan kami untuk si bungsu belum sempat kami tuliskan hehehe..), dan lain-lain. Apapun momentum yang kamu pilih, misalnya tahun baru ini, silakan menuliskan apa saja target, mimpi, cita, dan harapan (apapun namanya) untuk dirimu, keluarga, anak-anak, bahkan bangsa dan negara juga bisa (apa yang kamu bisa lakukan untuk itu).
Resolusi 2017 saya?
Banyaaaaaak... :D
Ohya, satu lagi, tak perlu membandingkan mimpi kita dengan mimpi orang lain, capaian kita dengan capaian orang lain. Orang yang merugi adalah orang yang hari ini lebih buruk atau sama saja dengan hari kemarin, bukan lebih buruk dari orang lain. Tiap orang punya passion dan kelebihan masing-masing, bidang dimana kita bisa memberi manfaat untuk orang banyak yang berbeda-beda. Silakan mengambil pelajaran atau terinspirasi atas kesuksesan orang lain, tapi pastikan itu benar-benar mimpimu :)
Showing posts with label My Life. Show all posts
Showing posts with label My Life. Show all posts
Monday, January 2, 2017
Sunday, October 30, 2016
Terlalu asyik
Sudah hampir setahun semenjak anak-anak (dan abinya) mendarat di Inggris dan semenjak itu pula hidup saya 'penuh' dengan mereka. Jangan ditanya nilai-nilai (kuliah) saya, sangat jauh dari harapan... -_-"
Hidup di negeri orang pastinya jauh berbeda dengan hidup di kampung sendiri. Tidak hanya bahasa, tapi juga kebiasaan, makanan, suhu dan cuaca. Tak hanya itu, rutinitas sebagai ibu bekerja yang biasa pergi pagi pulang malam juga berubah drastis menjadi ibu rumah tangga yang nyambi jadi mahasiswa.
Tentunya saya sangat menikmati segala perubahan itu. Dapur yang dulu saya kunjungi hanya ketika weekend, sekarang hampir setiap saat saya selalu ada dan beraktivitas di dapur. Memasak menjadi keharusan dan sekaligus hobi baru. Cuaca yang dingin membuat perut selalu lapar dan waktu luang yang banyak (dan juga ke'hangat'an dapur ditengah suhu dibawah 10 derjat) membuat aktivitas memasak menjadi menyenangkan. Mencoba resep baru atau resep lama dengan bumbu yang 'seadanya' (baca: tersedia -soalnya rada susah nyari bumbu segar disini) menjadi rutinitas baru.
Antar-jemput sekolah anak juga menjadi rutinitas menyenangkan lainnya. Sungguh merupakan keistimewaan yang luar biasa ketika saya sempat (bahkan setiap hari) mengantarkan anak-anak ke sekolah, melepas mereka bermain dan menuntut ilmu. Ritual cium tangan dan peluk cium sebelum berpisah menjadi kebahagiaan dan kenikmatan tersendiri yang tak akan bisa saya lakukan ketika nanti balik ke Indonesia. Maka tiap pelukan dan kecupan selalu saya lakukan dengan sepenuh hati.
Aktivitas lain yang juga saya nikmati adalah shalat berjamaah dan 'obrolan' antara magrib dan isya. Di Indonesia saya biasa tiba di rumah sekitar jam 7 malam dengan kondisi letih penuh asap dan keringat. Nyampe rumah udah sisa-sisa tenaga. Tak pernah sempat shalat bersama anak-anak. Di sini, di masa ketika kuliah 'cuma' dari jam 9 sampe jam 3 atau 4 sore (itu pun ga tiap hari) dan jarak rumah-kampus cuma (paling lama) 30 menit jalan kaki (bisa lebih cepat lagi kalo naik sepeda), waktu luang bersama anak-anak berasa berlimpah. Tiap pagi ketika nganter sekolah bisa ngobrol, pun ketika sepulang sekolah di sepanjang jalan juga bisa nanya tadi ngapain aja dan mereka pun cerita segala macam. Sampai di rumah selalu kelaparan, biasanya saya buatkan 'cemilan berat' seperti pizza bikinna sendiri, bakwan, ubi goreng hangat, donat, kentang goreng, cake, dan lain-lain. Setelah itu shalat magrib, ngaji, trus shalat isya. Sebelum abinya dapat kerjaan, kami (hampir) selalu shalat bersama. Agak berat ternyata 'mengawal' tilawah dan hafalan anak-anak kalo diurus sendiri sebab sayanya juga ga disiplin. Nanti (kalo inget) akan saya ceritakan lain waktu.
Begitulah rutinitas saya sekarang yang menyebabkan saya 'lalai'. Lalai belajar, lalai menulis, lalai membaca... lalai semuanya. Saya terlalu asyik menikmati kebahagiaan langka ini...
Sekian dulu curcol dan 'pembenaran' kali ini. Mohon maklum dan terima kasih :D
Hidup di negeri orang pastinya jauh berbeda dengan hidup di kampung sendiri. Tidak hanya bahasa, tapi juga kebiasaan, makanan, suhu dan cuaca. Tak hanya itu, rutinitas sebagai ibu bekerja yang biasa pergi pagi pulang malam juga berubah drastis menjadi ibu rumah tangga yang nyambi jadi mahasiswa.
Tentunya saya sangat menikmati segala perubahan itu. Dapur yang dulu saya kunjungi hanya ketika weekend, sekarang hampir setiap saat saya selalu ada dan beraktivitas di dapur. Memasak menjadi keharusan dan sekaligus hobi baru. Cuaca yang dingin membuat perut selalu lapar dan waktu luang yang banyak (dan juga ke'hangat'an dapur ditengah suhu dibawah 10 derjat) membuat aktivitas memasak menjadi menyenangkan. Mencoba resep baru atau resep lama dengan bumbu yang 'seadanya' (baca: tersedia -soalnya rada susah nyari bumbu segar disini) menjadi rutinitas baru.
Antar-jemput sekolah anak juga menjadi rutinitas menyenangkan lainnya. Sungguh merupakan keistimewaan yang luar biasa ketika saya sempat (bahkan setiap hari) mengantarkan anak-anak ke sekolah, melepas mereka bermain dan menuntut ilmu. Ritual cium tangan dan peluk cium sebelum berpisah menjadi kebahagiaan dan kenikmatan tersendiri yang tak akan bisa saya lakukan ketika nanti balik ke Indonesia. Maka tiap pelukan dan kecupan selalu saya lakukan dengan sepenuh hati.Aktivitas lain yang juga saya nikmati adalah shalat berjamaah dan 'obrolan' antara magrib dan isya. Di Indonesia saya biasa tiba di rumah sekitar jam 7 malam dengan kondisi letih penuh asap dan keringat. Nyampe rumah udah sisa-sisa tenaga. Tak pernah sempat shalat bersama anak-anak. Di sini, di masa ketika kuliah 'cuma' dari jam 9 sampe jam 3 atau 4 sore (itu pun ga tiap hari) dan jarak rumah-kampus cuma (paling lama) 30 menit jalan kaki (bisa lebih cepat lagi kalo naik sepeda), waktu luang bersama anak-anak berasa berlimpah. Tiap pagi ketika nganter sekolah bisa ngobrol, pun ketika sepulang sekolah di sepanjang jalan juga bisa nanya tadi ngapain aja dan mereka pun cerita segala macam. Sampai di rumah selalu kelaparan, biasanya saya buatkan 'cemilan berat' seperti pizza bikinna sendiri, bakwan, ubi goreng hangat, donat, kentang goreng, cake, dan lain-lain. Setelah itu shalat magrib, ngaji, trus shalat isya. Sebelum abinya dapat kerjaan, kami (hampir) selalu shalat bersama. Agak berat ternyata 'mengawal' tilawah dan hafalan anak-anak kalo diurus sendiri sebab sayanya juga ga disiplin. Nanti (kalo inget) akan saya ceritakan lain waktu.
Begitulah rutinitas saya sekarang yang menyebabkan saya 'lalai'. Lalai belajar, lalai menulis, lalai membaca... lalai semuanya. Saya terlalu asyik menikmati kebahagiaan langka ini...Sekian dulu curcol dan 'pembenaran' kali ini. Mohon maklum dan terima kasih :D
Friday, March 18, 2016
(Masih) Tentang Essay
Setelah sebelumnya saya cerita tentang practise essay, kali ini saya pengen cerita tentang (nasib) essays saya, the real version. Maksudnya yang bener-bener dinilai dan menjadi penentu saya lulus atau tidak di term ini.
Essay pertama, saya disuruh memilih satu dari lima pertanyaan dan menjawabnya dalam 5000 kata. Saya kemudian memutuskan memilih pertanyaan tentang implementasi kebijakan, karena saya suka. Saya sudah menemukan jawabannya dan tinggal menuliskannya. Meski sudah practice sebelumnya, tapi menuliskan ide dalam bahasa inggris sungguh sulit bagi saya. Yang lebih sulit lagi (dan ternyata saya memang banyak salah disini) adalah mereferensikan sesuatu. Ketika kita menukil perkataan seseorang, banyak hal yang perlu diperhatikan. Bagaimana meng-quote langsung, bagaimana menuliskan kembali dengan bahasa sendiri alias paraphrase, dan sebagainya. Sebenernya saya lebih pede dengan essay yang ini, tapi dosen penilai menentukan lain.
Essay kedua, tentang perbandingan antarnegara. Jadi saya disuruh membuat kalkulasi atau suatu perhitungan dengan membandingkan keadaan di beberapa negara dan membuat analisa tentang hal tersebut. Topiknya terserah. Dan ini yang membuat saya galau. Saya ga terlalu suka milih ternyata :D hahaha. Ketika saya disuruh milih, malah terlalu banyak pertimbangan akhirnya susah banget untuk mutusin yang mana yang akan diambil. Finally, setelah minta advise dari seorang teman yang sudah menyelesaikan essaynya jauh hari sebelum due date, 4 hari sebelum deadline saya ambil topik tentang anak. Ga begitu pede dengan essay yang ini sebenernya, apalagi diakhir essay ada hipotesis yang 'perlu penelitian lanjutan' karena saya ga bisa ambil kesimpulan.
Well, surprisingly, ternyata begitu nilai keluar, essay kedua saya nilainya jauh diatas nilai essay pertama. Karena banyak kesalahan di referensing dan bad paraphrasing, dan terutama karena paragraf-paragrafnya kek berdiri sendiri alias ga terintegrasi dan ngga ngalir, saya harus rela dikasih nilai slightly diatas batas 'Pass'. But I am very happy though, yang penting pass lah hahaha :D :D :D
Kecewa? Ga juga sih...
Ya tentu saja saya pengen dapet nilai lebih tinggi, tapi harus legowo dengan nilai yang dikasih dosen. Ada banyak pelajaran yang semoga saya ga ulangin lagi di assessment berikutnya...
Nasib anak kost... eh maksudnya nasib student :D :)
Essay pertama, saya disuruh memilih satu dari lima pertanyaan dan menjawabnya dalam 5000 kata. Saya kemudian memutuskan memilih pertanyaan tentang implementasi kebijakan, karena saya suka. Saya sudah menemukan jawabannya dan tinggal menuliskannya. Meski sudah practice sebelumnya, tapi menuliskan ide dalam bahasa inggris sungguh sulit bagi saya. Yang lebih sulit lagi (dan ternyata saya memang banyak salah disini) adalah mereferensikan sesuatu. Ketika kita menukil perkataan seseorang, banyak hal yang perlu diperhatikan. Bagaimana meng-quote langsung, bagaimana menuliskan kembali dengan bahasa sendiri alias paraphrase, dan sebagainya. Sebenernya saya lebih pede dengan essay yang ini, tapi dosen penilai menentukan lain.
Essay kedua, tentang perbandingan antarnegara. Jadi saya disuruh membuat kalkulasi atau suatu perhitungan dengan membandingkan keadaan di beberapa negara dan membuat analisa tentang hal tersebut. Topiknya terserah. Dan ini yang membuat saya galau. Saya ga terlalu suka milih ternyata :D hahaha. Ketika saya disuruh milih, malah terlalu banyak pertimbangan akhirnya susah banget untuk mutusin yang mana yang akan diambil. Finally, setelah minta advise dari seorang teman yang sudah menyelesaikan essaynya jauh hari sebelum due date, 4 hari sebelum deadline saya ambil topik tentang anak. Ga begitu pede dengan essay yang ini sebenernya, apalagi diakhir essay ada hipotesis yang 'perlu penelitian lanjutan' karena saya ga bisa ambil kesimpulan.
Well, surprisingly, ternyata begitu nilai keluar, essay kedua saya nilainya jauh diatas nilai essay pertama. Karena banyak kesalahan di referensing dan bad paraphrasing, dan terutama karena paragraf-paragrafnya kek berdiri sendiri alias ga terintegrasi dan ngga ngalir, saya harus rela dikasih nilai slightly diatas batas 'Pass'. But I am very happy though, yang penting pass lah hahaha :D :D :D
Kecewa? Ga juga sih...
Ya tentu saja saya pengen dapet nilai lebih tinggi, tapi harus legowo dengan nilai yang dikasih dosen. Ada banyak pelajaran yang semoga saya ga ulangin lagi di assessment berikutnya...
Nasib anak kost... eh maksudnya nasib student :D :)
Labels:
Kuliah,
My Life,
Pendidikan,
S2,
Study Abroad,
UK,
Writing
Saturday, November 14, 2015
(Practice) Essay Pertamaku
Di term pertama ini ada practice essay di salah satu mata kuliah yang harus
dikumpulkan di week 6. Setengah relax (toh cuma practice doang inih)
tapi intimidating juga (karena ini tugas bikin essay pertama). Di satu
sisi pengen ga terlalu serius-serius amat, tapi disisi lain ada
keinginan untuk perfect juga.
Ngerjain tugas pertama ini benar-benar membuat tegang. Pertanyaannya sebenernya cukup simpel, kita disuruh memilih 1 dari 3 pilihan dan buktikan kenapa itu yang kita pilih. Tapi ya itu, malah jadi susah, karena kita harus membandingkan ketiga-tiganya untuk membuktikan mana yang terbaik. Bahkan sampe sepekan sebelum deadline, saya masih bingung mau milih mana... hahaha... Meski kurang puas dengan hasilnya, alhamdulillah saya berhasil mengunggah hasil akhir sehari sebelum deadline.
Untuk menyelesaikan essay ini, saya harus membaca banyak sekali buku. Dan trus baru sadar bahwa membaca saja saya sulit hehehe... Pertama, keterbatasan perbendaharaan kata (vocabulary). Tiap kali buka buku, kamus oxford juga harus dibuka. Selain bahasanya yang tingkat tinggi, mereka juga banyak sekali menggunakan terminologi baru (yang ga ada di kamus). Hadeeuuuh...
Membaca satu paragraf saja bisa memakan waktu berjam-jam (karena berkali-kali nyari arti kata-kata yang sulit). Pun setelah selesai membaca, masih belum paham juga maksudnya. Akhirnya paragraf yang sama diulang berkali-kali.Waktu tinggal sedikit sementara buku yang harus dibaca masih banyak banget. Ngga (belum) bisa memisahkan mana yang penting/prioritas mana yang ga begitu penting. Akhirnya harus puas dengan bahan yang apa adanya.
Ketika mengerjakan juga sering seperti yang kehabisan ide. Tiap kali habis nulis selalu melihat sudah berapa kata yang dihasilkan. Baru 300... udah 1000... baru 2000... tinggal 500 kata lagi... masih 300 kata lagi... hadeeeeuh...
Kesalahan saya kemarin adalah ga bikin outline. Ya karena masih bingung tadi makanya bingung juga mau bikin outline yang seperti apa. Tapi yang paling utama adalah karena belum banyak baca. Intinya baca, baca, baca. Kalo ngga baca ya gitu, bingung terus. Semakin banyak yang dibaca kan akan semakin tergambar apa yang mau ditulis. Tapi trus balik lagi, membaca saja saya sulit hehehe...
Mungkin juga karena saya agak memaksakan seperti yang dosen mau. Dia membolehkan kami (misalnya) menjelaskan A, kemudian B, dan terakhir menjelaskan C dan kenapa kita memilih C. Tapi dia juga menyarankan untuk membandingkan masing-masing untuk topik tertentu. Jadi maksudnya, ambil satu topik kemudian banding ketiganya dan jelaskan mengapa C yang paling benar. Pilih lagi topik kedua lalu bandingkan lagi ketiganya, bagaimana argumen A dan B menjadi lemah dan C memberikan teori yang valid. Begitu seterusnya. Setidaknya ada 2 atau 3 topik yang bisa dibandingkan. Nah, saya berusaha membuat essay saya seperti yang diharapkan. Jadinya ya ribet sendiri... hahaha...
Ya, setidaknya jadi tau, pengalaman lah untuk tugas-tugas berikutnya. Berapa waktu yang dibutuhkan untuk menuntaskan essay sekian ribu kata itu, gimana menyiasati kesulitan membaca dan kemudian menuliskannya kembali.
Wish me luck :)
Ngerjain tugas pertama ini benar-benar membuat tegang. Pertanyaannya sebenernya cukup simpel, kita disuruh memilih 1 dari 3 pilihan dan buktikan kenapa itu yang kita pilih. Tapi ya itu, malah jadi susah, karena kita harus membandingkan ketiga-tiganya untuk membuktikan mana yang terbaik. Bahkan sampe sepekan sebelum deadline, saya masih bingung mau milih mana... hahaha... Meski kurang puas dengan hasilnya, alhamdulillah saya berhasil mengunggah hasil akhir sehari sebelum deadline.
Untuk menyelesaikan essay ini, saya harus membaca banyak sekali buku. Dan trus baru sadar bahwa membaca saja saya sulit hehehe... Pertama, keterbatasan perbendaharaan kata (vocabulary). Tiap kali buka buku, kamus oxford juga harus dibuka. Selain bahasanya yang tingkat tinggi, mereka juga banyak sekali menggunakan terminologi baru (yang ga ada di kamus). Hadeeuuuh...
Membaca satu paragraf saja bisa memakan waktu berjam-jam (karena berkali-kali nyari arti kata-kata yang sulit). Pun setelah selesai membaca, masih belum paham juga maksudnya. Akhirnya paragraf yang sama diulang berkali-kali.Waktu tinggal sedikit sementara buku yang harus dibaca masih banyak banget. Ngga (belum) bisa memisahkan mana yang penting/prioritas mana yang ga begitu penting. Akhirnya harus puas dengan bahan yang apa adanya.
Ketika mengerjakan juga sering seperti yang kehabisan ide. Tiap kali habis nulis selalu melihat sudah berapa kata yang dihasilkan. Baru 300... udah 1000... baru 2000... tinggal 500 kata lagi... masih 300 kata lagi... hadeeeeuh...
Kesalahan saya kemarin adalah ga bikin outline. Ya karena masih bingung tadi makanya bingung juga mau bikin outline yang seperti apa. Tapi yang paling utama adalah karena belum banyak baca. Intinya baca, baca, baca. Kalo ngga baca ya gitu, bingung terus. Semakin banyak yang dibaca kan akan semakin tergambar apa yang mau ditulis. Tapi trus balik lagi, membaca saja saya sulit hehehe...
Mungkin juga karena saya agak memaksakan seperti yang dosen mau. Dia membolehkan kami (misalnya) menjelaskan A, kemudian B, dan terakhir menjelaskan C dan kenapa kita memilih C. Tapi dia juga menyarankan untuk membandingkan masing-masing untuk topik tertentu. Jadi maksudnya, ambil satu topik kemudian banding ketiganya dan jelaskan mengapa C yang paling benar. Pilih lagi topik kedua lalu bandingkan lagi ketiganya, bagaimana argumen A dan B menjadi lemah dan C memberikan teori yang valid. Begitu seterusnya. Setidaknya ada 2 atau 3 topik yang bisa dibandingkan. Nah, saya berusaha membuat essay saya seperti yang diharapkan. Jadinya ya ribet sendiri... hahaha...
Ya, setidaknya jadi tau, pengalaman lah untuk tugas-tugas berikutnya. Berapa waktu yang dibutuhkan untuk menuntaskan essay sekian ribu kata itu, gimana menyiasati kesulitan membaca dan kemudian menuliskannya kembali.
Wish me luck :)
Labels:
Inggris,
Kuliah,
My Life,
Pendidikan,
S2,
Study Abroad,
UK,
York
Wednesday, October 7, 2015
My First International Travel (2)
Kemarin sudah cerita mengenai perjalanan saya dari Jakarta ke Dubai. Well... belum nyampe Dubai sih ya :D
Okay,.. Sesaat sebelum landing, pramugari (as I said before) membagikan lagi handuk kecil basah hangat ke semua penumpang (ini tanda juga bahwa pesawat dah mau nyampe). Setelah itu, pramugari mulai ngingetin untuk menegakkan sandaran kursi, ngumpulin sampah-sampah, dan lain-lain. Saya lalu mengganti tampilan tv di depan saya dengan tampilan informasi pesawat.
Maka mendaratlah saya di Dubai. Turun melalui pintu belakang pesawat, di bawah tangga sudah menunggu bus tanpa kursi yang akan mengantar penumpang ke terminal.
Bandara Dubai gede banget. Bus yang mengantar kami melewati bagian pinggir bandara. Saya berharap dapat melihat gedung-gedung yang tinggi dan mewah kebanggaan Dubai seperti gambar di bawah ini, tapi apa daya ga bisa liat apa-apa :D
Okay,.. Sesaat sebelum landing, pramugari (as I said before) membagikan lagi handuk kecil basah hangat ke semua penumpang (ini tanda juga bahwa pesawat dah mau nyampe). Setelah itu, pramugari mulai ngingetin untuk menegakkan sandaran kursi, ngumpulin sampah-sampah, dan lain-lain. Saya lalu mengganti tampilan tv di depan saya dengan tampilan informasi pesawat.
Maka mendaratlah saya di Dubai. Turun melalui pintu belakang pesawat, di bawah tangga sudah menunggu bus tanpa kursi yang akan mengantar penumpang ke terminal.
Bandara Dubai gede banget. Bus yang mengantar kami melewati bagian pinggir bandara. Saya berharap dapat melihat gedung-gedung yang tinggi dan mewah kebanggaan Dubai seperti gambar di bawah ini, tapi apa daya ga bisa liat apa-apa :D
Ada sekitar 10-15 menit bus berjalan mengantar kami ke terminal. Turun dari bus, masuk ke terminal, ada layar besar yang berisi info penerbangan, di gate mana kami harus menunggu untuk penerbangan selanjutnya (ke Manchester). Kami pun mencari gate B21.
Ada 50-an gate hanya untuk kode B (B1 hingga B50). Ada A, C, D juga, saya ga perhatiin sampe huruf apa. Ya... semoga bisa menggambarkan betapa besarnya bandara Dubai ini... :D
Ga terlalu susah nyari gate-nya. Sign board dengan tanda panah ada dimana-mana.
Ohya, ga usah bingung ya kalo nemu toilet atau keran air yang ga ada tuas atau tombol atau puterannya. Banyak keran yang nyala sendiri ketika kita meletakkan tangan di bawahnya atau toilet yang menyiram sendiri. Mereka menggunakan sensor :D
Begitu menemukan ruang tunggu, kami pun duduk. Saya berusaha menghubungi suami dan keluarga di Jakarta untuk mengabarkan kalo saya sudah sampai di Dubai. Meski udah ngisi pulsa 200rb lebih, tapi cuma bisa dipake nelpon beberapa menit, trus pulsa abis :D
Teman-teman cowok saya mencoba melakukan setting ini-itu untuk panggilan internasional, tapi saya ga cukup sabar untuk itu. Biarin deh abis pulsa, yang penting orang rumah dah tenang saya dah nyampe... hehehe...
Teman-teman cowok saya mencoba melakukan setting ini-itu untuk panggilan internasional, tapi saya ga cukup sabar untuk itu. Biarin deh abis pulsa, yang penting orang rumah dah tenang saya dah nyampe... hehehe...
Next, speaker mulai mengumumkan section-section mana aja yang dipanggil untuk naik pesawat terlebih dahulu. Dan section saya dipanggil terakhir (entah karena kami ga denger waktu dipanggil, atau memang belum... ga tau hehehe). Jangan khawatir bakalan ditinggal karena ga dipanggil, karena panggilan terakhir adalah untuk 'sapu bersih'. Ya buat yang tadi ga denger atau telat dateng hahaha...
Naik pesawat, nyari tempat duduk, seperti penerbangan sebelumnya di tempat duduk sudah disediakan bantal kecil, selimut dan headset. Tak lama pesawat pun take-off.
Cerita perjalanan hampir sama seperti yang sebelumnya. Setelah take-off pramugari membagikan handuk kecil basah dingin (kali ini dingin karena suhu diluar ketika itu panas). Makan dua kali (kali ini saya nyobain menu mediteranian, salah satunya salad yang berisi buah zaitun yang bentuknya seperti anggur tapi rasanya asem pahit kecut ga jelas hehehe, keju warna oren yang ga berani saya coba, termasuk mayones yang dari baunya juga saya ga berani nyoba hahaha). Ada juga crackers dengan sambel (yang ketika saya coba asem bukan main) dan cokelat (yang ga saya makan, cuman dimasukin ke saku buat dimakan nanti). Ditawarin teh (saya minta tanpa susu, hanya gula) yang ternyata rasanya pahit banget (jauh lebih enak teh celup lah pokoknya -apalagi teh tubruk hehehe).
Mencoba tidur meski ga bisa (entah karena dingin atau posisi duduk yang kurang nyaman). Sekali lagi saya sangat merekomendasikan pake baju hangat double dan bantal duduk (yang bentuknya 'U' dipake di leher).
Alhamdulillah, meski jadwal penerbangan baru akan sampai 11.55 waktu setempat, kami sudah landing pukul 11.45.
Bandara Manchester tak sebesar Dubai tentunya. Bahkan sangat kecil, jika dibanding Dubai atau Soetta. Meski begitu, jalan turun dari pesawat hingga masuk ke terminal cukup jauh juga.
Ohya, ada form yang diberikan pramugari menjelang turun pesawat yang harus diisi. Meski ternyata ketika hendak masuk ke bagian imigrasi form ini disediakan lagi. Form ini berisi data diri yang nanti diberikan kepada petugas imigrasi.
Antrian di bagian imigrasi puanjang buanget. Antrian khusus students. Kami disuruh nyiapin form yang tadi disuruh isi, passport, dan CAS (tertulis juga di banner yang ada di tempat itu). Ketika tiba waktunya menuju loket, si petugas hanya meminta saya menempelkan ibu jari dan jari telunjuk di alat perekam untuk mengambil sidik jari saya, and done. Beberapa orang sempet diajak ngobrol dulu (baca: diinterogasi alias ditanya-tanya) sama petugas, seperti mau kemana, ngapain, ambil program apa, berapa lama, de el el.
Selanjutnya tentunya ngambil koper bagasi. Ga terlalu lama, koper ungu saya pun lewat. Kami bertiga pun beranjak keluar.
Seperti yang sudah diperkirakan, di luar sudah ada tim penjemputan dari University of York, para panitia dengan baju kaos berwarna kuning terang. Karena kami sudah booking penjemputan via web kampus, kami tinggal setor nama dan mereka tinggal cocokkan dengan list nama yang mereka pegang. Kami pun dipandu oleh salah seorang panitia ke sebuah tempat di salah satu sudut bandara tempat panitia lain sudah menunggu. Disediakan minuman dan permen/cokelat, juga kertas stiker berwarna yang ditempel di koper untuk memudahkan pengambilan koper nantinya.
Sekitar pukul 3 sore waktu setempat saya naik bus yang sudah disediakan panitia. Sempat foto di depan bandara selagi menunggu.
Well, cukup untuk perjalanan hingga Manchester ya. Perjalanan Manchester - York akan kembali setelah yang satu ini ^_^
Well, cukup untuk perjalanan hingga Manchester ya. Perjalanan Manchester - York akan kembali setelah yang satu ini ^_^
Wednesday, September 30, 2015
My First International Travel (1)
Alhamdulillah akhirnya bisa mulai nulis lagi...
Saya langsung kontak 2 orang rekan yang barengan berangkat ke York, Iskandar (alias Babeh) dan Nugie. Mereka tiba tak lama kemudian. Kami lalu memutuskan untuk check-in dulu (ngasih koper utk bagasi) dan dapat boarding-pass, baru kemudian keluar lagi untuk pamitan.
Sekitar pukul 10-an, akhirnya saya pamit ke suami dan ibu mertua. Masuk lagi ke Gate 1, dan memulai perjalanan bersama rekan seperjuangan.
Ukuran kursi relatif hampir sama dengan maskapai nasional. Di masing-masing kursi sudah tersedia headset, selimut dan bantal kecil. Di depan masing-masing kursi (ditempel di punggung kursi depan) ada tv dengan ribuan channel plus game.
Biasanya sih favorit penumpang (saya maksudnya :D ) adalah channel film. Tinggal pilih banyak film terbaru, film seri, film anak-anak, film lama juga ada, dari hollywood, bollywood, film-film timur tengah atau eropa juga ada.
Selain itu, ada info tentang perjalanan juga. Di channel informasi tersedia semua info yang kira-kira dibutuhkan penumpang, seperti ketinggian pesawat, jarak tempuh, waktu tempuh, hingga temperatur. Kita juga bisa memilih view/penampakan sisi mana yang ingin kita lihat selama perjalanan. Di bagian-bagian tertentu di luar pesawat dipasang kamera sehingga penumpang bisa melihat langsung kondisinya. Ada yg dipasang tepat dihidung depan pesawat, di roda depan (untuk melihat pemandangan di bawah pesawat), dan di ekor pesawat. Kita bisa memilih view mana yang kita suka. (Ketika take-off dan landing saya lebih suka lihat channel ini. Setelah itu baru nonton film).
Sangat banyak yang sudah terjadi sepekan terakhir. Hari-hari paling mengaduk emosi. Nanti mungkin akan saya ceritakan masa-masa galau itu :D
Tapi sekarang (sebelum lupa detail-detailnya), baiknya saya share dulu cerita perjalanan internasional pertama saya.
Jumat siang, 25 September 2015
Saya masih sibuk dengan bongkar-susun-bongkar-susun koper. Ada aja yang rasanya belum dimasukkan, ada juga yang -ketika dilihat-lihat lagi- harusnya ga perlu-perlu amat untuk dibawa nyebrang lautan. (tentunya karena kapasitas koper yang terbatas. Maskapai hanya mengizinkan berat maksimal untuk bagasi hanya 30 kg). Selain itu, juga baru sadar kalo belum print tiket. Akhirnya siang-siang itu terpaksa keluar lagi untuk print tiket dan beli gembok.
Sore, di rumah udah ngumpul adik-adik saya, ibu mertua, adik ipar, dan ponakan-ponakan. Jam 7 malam itu saya pun pamit ke semuanya. Pamitan, selalu jadi momen yang paling mengharukan. Terutama ke my little Shofi yang... (ah, kalo inget itu saya jadi pengen nangis lagi...)
So, jam 7 lewat taksi datang. Saya say goodbye ke semuanya dan malam itu diantar suami dan ibu mertua, saya berangkat ke bandara.
Jumat malam
Belum jam 9 dan kami sudah sampai Terminal 2D Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng, tempat keberangkatan saya. Saya dan teman-teman naik Emirates, maskapai milik Uni Emirat Arab, yang transit di Dubai (berharap bisa melihat sekilas kota Dubai yang fantastik, meski harus kecewa ga bisa lihat apa-apa dari bandaranya hehehe).
Saya langsung kontak 2 orang rekan yang barengan berangkat ke York, Iskandar (alias Babeh) dan Nugie. Mereka tiba tak lama kemudian. Kami lalu memutuskan untuk check-in dulu (ngasih koper utk bagasi) dan dapat boarding-pass, baru kemudian keluar lagi untuk pamitan.Sekitar pukul 10-an, akhirnya saya pamit ke suami dan ibu mertua. Masuk lagi ke Gate 1, dan memulai perjalanan bersama rekan seperjuangan.
(Mulai dari sini, akan sangat baik kalo passport dan boarding pass dipegang saja hingga ke ruang tunggu. Ga perlu dimasukkan ke tas.)
Oke, pertama, ngasih koper buat bagasi dan dapet boarding pass.
Selanjutnya, loket imigrasi. Seharusnya sebentar saja jika saya ga masukin passport dan boarding-pass ke tas -_-"
Kemudian passport akan dicap sama petugas imigrasi.
Next, jalan lumayan jauh ke Gate B-4 (kalo ga salah). Sebelum masuk Gate, petugas akan meminta lagi passport dan boarding pass. Disini juga saya merasa bodoh karena bawa aqua 2 botol yang akhirnya harus disita petugas karena memang tidak diperbolehkan dibawa ke dalam pesawat.
Jadwal keberangkatan pesawat adalah pukul 00.40 WIB. Sekitar pukul 12 tengah malam, para penumpang sudah diminta untuk masuk ke dalam pesawat. Nah, disini tak perlu siapin passport lagi, cukup boarding-pass-nya aja. Ketika masuk ke pintu pesawat, pramugari akan menanyakan kursi (kita harus menunjukkan boarding-pass) agar dia bisa mengarahkan kita harus lewat ke sebelah mana.
Pesawat Emirates yang saya naiki lumayan besar. Satu deret ada 7 kursi (ABC-DEFG-HJK). Masing-masing 3 kursi dekat jendela dan 4 kursi tengah. Saya dapet kursi F. Agak kecewa sebenernya karena pengennya di deket jendela, tapi untungnya bangku sebelah saya (G) kosong, jadi saya 'menguasai' 2 kursi.
Ukuran kursi relatif hampir sama dengan maskapai nasional. Di masing-masing kursi sudah tersedia headset, selimut dan bantal kecil. Di depan masing-masing kursi (ditempel di punggung kursi depan) ada tv dengan ribuan channel plus game.
Biasanya sih favorit penumpang (saya maksudnya :D ) adalah channel film. Tinggal pilih banyak film terbaru, film seri, film anak-anak, film lama juga ada, dari hollywood, bollywood, film-film timur tengah atau eropa juga ada.
Selain itu, ada info tentang perjalanan juga. Di channel informasi tersedia semua info yang kira-kira dibutuhkan penumpang, seperti ketinggian pesawat, jarak tempuh, waktu tempuh, hingga temperatur. Kita juga bisa memilih view/penampakan sisi mana yang ingin kita lihat selama perjalanan. Di bagian-bagian tertentu di luar pesawat dipasang kamera sehingga penumpang bisa melihat langsung kondisinya. Ada yg dipasang tepat dihidung depan pesawat, di roda depan (untuk melihat pemandangan di bawah pesawat), dan di ekor pesawat. Kita bisa memilih view mana yang kita suka. (Ketika take-off dan landing saya lebih suka lihat channel ini. Setelah itu baru nonton film).
Jika ada pengumuman oleh pilot atau pramugari, layar akan langsung freeze.
Terakhir kali naik pesawat nasional, sebelum pesawat take-off, pramugari akan memeragakan hal-hal terkait keselamatan dalam pesawat. Kali ini, pramugari tinggal berdiri dengan manis di tempatnya masing-masing, dan hal-hal yang perlu diketahui penumpang cukup ditampilkan di layar depan kursi masing-masing. Lebih visual dan informatif (kalo kata saya hehehe).
Ketika pesawat sudah take-off dan pesawat sudah stabil lagi, biasanya pramugari akan membagikan handuk kecil basah. Mereka akan memberikannya 2 kali, setelah take-off dan sebelum landing. Untuk perjalanan Jakarta-Dubai handuk basahnya hangat. Saya menggunakan untuk membasuh wajah, leher, dan tangan. Tak lama pramugari akan mengambil lagi handuk tersebut, jadi jika sudah menggunakan pegang saja atau taruh di tempat yang mudah diambil (jangan dibuang atau disimpan ya :D )
Untuk penerbangan selama 7 jam, saya mendapatkan 2 kali makan. Biasanya akan lengkap, mulai dari appetizers, main course, dan desert, termasuk minuman. Selain itu mereka juga akan menawarkan minuman tambahan berupa teh, kopi, jus, atau air mineral. Ohya, sebelum membagikan makanan, mereka juga membagikan daftar menu yang akan dihidangkan. Hanya bersifat pemberitahuan (jangan bayangkan bisa milih kek di resto ya hehehe...)
Suhu udara selama dipesawat sangat dingin. Meski udah pake pakaian tebal dan jaket, tetep aja kedinginan. Selimut ga terlalu banyak membantu. Makanya saya ga bisa tidur selama perjalanan, meski sudah mencoba beberapa kali. Jadi, mending siapin jaket tebal, kaos kaki tebal, sarung tangan juga boleh. Ohya, bantal kepala juga sangat dianjurkan karena perjalanannya total 18 jam, jadi bawa bantal kepala worthed banget lah (saya ga bawa karena mikirnya ribet dan cuma dipake sebentar. The fact is 18 jam itu ga sebentar sodara-sodara :D )
Keknya tulisannya akan jadi terlalu panjang kalo saya ceritain semua.
Well, segitu dulu ya. Nantikan perjalanan jilid 2 nya ketika saya transit di Dubai dan landed di Manchester :)
Wednesday, September 9, 2015
Monday, September 7, 2015
The Most Wanted Email
Ini dia, email yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Setelah menerima email dari Manila (yes, Manila yang di Philipina itu) yang mengatakan bahwa "a decision has been made on your application..." 4 hari yang lalu, akhirnya tiba juga email dari visa application center yang mengatakan berkas sudah bisa diambil...
Yipppiee...
Senang banget. Alhamdulillahirabbil'alamiin...
Akhirnya udah bisa ngurus surat bebas tugas, soalnya itungannya sih pekan ini adalah pekan terakhir ngantor sebelum berangkat. Kuliah mulai 28 September dan bebas tugas terhitung 2 pekan dari mulai kuliah, which means tanggal 14 September. Yang artinya lagi, Jumat ini, 11 September, adalah waktunya pamit ke temen-temen kantor.
Hari-hari menjelang keberangkatan ini menjadi hari-hari penuh emosi. Antara sedih, excited, ragu, senang juga, entahlah...
Suatu saat saya pengen quit, disaat yang bersamaan saya pengen terbang, disaat itu juga pengen diam saja merenung...
Sedih karena sementara waktu akan sendirian, meninggalkan anak-anak ribuan kilometer jauhnya...
Di ruang pikiran yang lain ada harap, bahwa tak lama setelah itu saya akan berkumpul bersama mereka dalam keadaan yang lebih menyenangkan.
Saya akan kuat menjalani hari-hari hingga momen itu datang. I'll wait you there, my angels, and then there'll be no one but us... Together...
Allah... beri aku kekuatan...
Depan komputer, 7 September 2015
Yipppiee...
Senang banget. Alhamdulillahirabbil'alamiin...
Akhirnya udah bisa ngurus surat bebas tugas, soalnya itungannya sih pekan ini adalah pekan terakhir ngantor sebelum berangkat. Kuliah mulai 28 September dan bebas tugas terhitung 2 pekan dari mulai kuliah, which means tanggal 14 September. Yang artinya lagi, Jumat ini, 11 September, adalah waktunya pamit ke temen-temen kantor.
Hari-hari menjelang keberangkatan ini menjadi hari-hari penuh emosi. Antara sedih, excited, ragu, senang juga, entahlah...
Suatu saat saya pengen quit, disaat yang bersamaan saya pengen terbang, disaat itu juga pengen diam saja merenung...
Sedih karena sementara waktu akan sendirian, meninggalkan anak-anak ribuan kilometer jauhnya...
Di ruang pikiran yang lain ada harap, bahwa tak lama setelah itu saya akan berkumpul bersama mereka dalam keadaan yang lebih menyenangkan.
Saya akan kuat menjalani hari-hari hingga momen itu datang. I'll wait you there, my angels, and then there'll be no one but us... Together...
Allah... beri aku kekuatan...
Depan komputer, 7 September 2015
Thursday, September 3, 2015
Ngurus Visa UK
Pengen cerita dikit soal ngurus Visa...Adalah pengalaman yang menyenangkan sekaligus menegangkan (that's the best part, rigth?) ngurusin visa ini. Mulai dari ngisi aplikasi online sampe mengirimkan berkas-berkas ke Visa Center plus (rencana) interview.
First of all, ngisi aplikasi visa online yang segambreng banyak bingits. Pemerintah sama bener-bener kepo tentang asal usul, mengapa, bagaimana, apa rencana detail yang akan kita lakukan di negaranya. (Sebenernya pengen tau juga gimana kalo orang luar negeri yang pengen masuk ke Indonesia, apakah seribet itu juga...).
Untuk bisa ngisi aplikasi visa kamu bisa baca-baca dulu panduannya di https://www.gov.uk/browse/visas-immigration atau kalo mau langsung pengen nyari info mengenai visa student bisa ke https://www.gov.uk/tier-4-general-visa
Kalo udah paham, silakan langsung apply online disini https://www.visa4uk.fco.gov.uk/home/welcome
Kita akan diminta untuk register dulu dan melakukan verifikasi email. Baru trus bisa ngisi data yang diminta. Saya lupa-lupa inget data yang diminta apa aja, tapi lebih kurang sih data-data mengenai personal (seperti tanggal lahir, alamat, nama suami/istri, anak, orang tua), data keberangkatan (maksud dan tujuan --> kalo kita ya kuliah, alamat disana, kontak yang bisa dihubungi disana), dan data kampus (yang berasal dari CAS - Confirmation of Acceptance for Studies dari kampus tempat kita akan belajar). Jadi, kita baru bisa apply Visa kalo sudah punya passport dan CAS.
Passport saya jadi hari Senin, 3 Agustus 2015. Hari jumat sebelumnya saya terima kabar kalo passport sudah jadi dan bisa diambil Senin. Senin pagi saya langsung meluncur ke PHRD di kampus STAN Jurangmangu. Next step, ngurus TB certificate ke RS Premier Bintaro. Just for your information, pemerintah UK mensyaratkan setiap orang dewasa yang kesana bebas tuberkolosis. TB Certificate menjadi syarat diberikannya visa. Rencana awal, saya mau ke RS esok harinya, tapi kebetulan ada temen yang sama-sama ngambil passport dan sepertinya ide the sooner the better is a great idea, saya pun ngikut ke RS right after selesai urusan passport.
Nyampe di RS Premier Bintaro sekitar jam 11 an, langsung daftar, ngisi formulir, ngasih passport asli. Ga lama dipanggil untuk rontgent, kemudian bayar. Sertifikat pun bisa diambil keesokan harinya. Alhamdulillah lancar, ga ada indikasi terinfeksi TB.
Next, minta CAS ke kampus. Kamis saya baru submit permintaan CAS. Jumat ada notifikasi di email untuk konfirmasi. Saya pun meluncur ke aplikasi kampus untuk konfirmasi bahwa data yang ada disitu adalah benar. Waktu yang dijanjikan 2 hari kerja. Oke berarti selasa udah keluar CAS-nya. Sepanjang hari Selasa itu saya bolak balik refresh email. Kenapa blom ada notif di email ya? Biasanya sih kampus selalu ngirim notifikasi ke email pribadi. Hingga Rabu siang saya nungguin ga ada email. Akhirnya iseng ngecek aplikasi kampus. Jeng... jeng... Ternyata udah ada disitu dari kemarin T_T
Begitu data CAS masuk, saya langsung input ke aplikasi visa. Karena data yang lain sudah duluan diinput kesana. Setelah berulang kali ngecek data yang ada disitu, akhirnya saya submit. Dan itu belum selesai...
Langkah selanjutnya adalah bayar-bayar. Ada 2 fee yang harus dibayar, yaitu IHS (Immigration Health Surcharge) semacam asuransi kesehatan gitu sama biaya/fee visanya sendiri. Bayarnya online ga bisa transfer. So, saya akhirnya minjem kartu kredit punya temen.
Setelah melakukan pembayaran online, saya kemudian memilih hari untuk menyerahkan berkas-berkas asli ke visa center (appoinment), pengambilan biometric, plus interview. Hari apa saja yang available akan muncul dilayar. Saya pun memilih Rabu, tanggal 19 Agustus 2015 pukul 10.00 pagi.
Well, mengenai interview, ternyata tidak semua applicants harus interview. Beberapa teman saya beruntung tidak perlu diinterview. Semenjak submit, saya selalu berdoa semoga tidak perlu interview (males aja sih ditanya-tanya in English, secara bahasa inggris saya udah blangbentong ga tau kayak apa).
Rabu pagi pukul 8 saya berangkat menuju VFS di Kuningan City. Tadi malam sudah cek semua berkas dan sudah lengkap. Sampai disana (yang ternyata sudah ramai dari pagi), saya langsung masuk sambil memegang lembaran appoinment confirmation. Saya tahu jadwal saya jam 10 tapi nekad masuk berharap sistemnya first come first serve. Seperti yang sudah diduga,"Maaf bu, jadwal ibu jam 10 ya. Nanti boleh masuk 10 menit sebelum jadwal. Jam 09.50." Baiklah, nunggu di luar saja.
Fortunately saya bertemu Sachy, rekan sesama SPIRIT Kemenkeu, yang juga appoinment di hari yang sama jam 14.00. Dia datang pagi sekali dan sama seperti saya, ditolak ketika akan masuk. Kami pun menghabiskan waktu dengan mengobrol dan mengecek berkas.
Jam 9 kurang 5 menit saya pamit ke Sachy untuk masuk ke ruangan visa center. Setelah menyerahkan lembaran appointment confirmation, saya diminta mematikan handphone dan diberikan lembar checklist berkas yang (katanya) diisi sendiri. Baru mau duduk, satpam bilang saya boleh langsung ke loket nomor 5 untuk nanti langsung dipandu pengisiannya oleh petugas. Saya pun langsung dilayani oleh mas-mas penjaga loket. Berkas-berkas dipisahkan antara yang asli dan fotokopi. Jangan lupa juga menandatangani berkas (lembar aplikasi visa yang sudah diprint) yang harus ditandatangan (yang mana lupa saya lakukan hehehe). Setelah selesai, saya disuruh menunggu untuk pengambilan biometric.
Tak sampai 2 menit (pokoknya sebentar banget lah, rasanya barusan duduk menunggu), terdengar panggilan dari speaker yang memanggil nama saya,"Ibu Nina Sabnita, ruangan Biometric 1!" Saya pun langsung berdiri membawa ransel dan celingak celinguk mencari dimanakah ruangan Biometric 1 berada, karena sepanjang mata memandang hanya ada deretan loket dengan nomor 1 hingga 24 (kalo ngga salah). Mata saya tidak melihat ruangan Biometric itu.
"Mba, itu ruangannya disitu mba!" kata seorang mas-mas yang sedang duduk menunggu giliran periksa berkas sambil menunjuk dinding putih disamping saya.
Sedetik kemudian saya melihat pintu putih di dinding yang putih dengan signboard kecil juga berwarna putih dengan tulisan "Biometric 1".
Damn. Merasa bodoh banget kala itu.
Saya lalu masuk ke ruangan kecil ukuran kira-kira 1,5 x 2 meter. Ada seorang petugas yang ramah sudah menunggu saya.
"Selamat pagi ibu,"sapanya.
Ternyata yang dilakukan didalam ruangan kecil itu adalah pengambilan foto, sidik jari, dan tanda tangan digital. Bentar banget. Begitu selesai, saya pun menanyakan kepada mas-mas yang ramah itu,"Habis ini saya tunggu diluar lagi ya mas?".
"Oh tidak ibu. Ibu sudah boleh langsung pulang."
Yes, yes, yes! Alhamdulillah... Senangnyaaaa....
"Makasih mas... Makasih."kata saya dengan wajah sangat sumringah dan senyum sangat lebar... hehehe...
Diluar saya langsung nyamperin Sachy yang masih menunggu dan kemudian dengan bangga bilang kalo tadi saya ga diinterview hahaha...
Sekarang sudah 2 pekan sejak ngasih berkas, harus hari ini sudah selesai. Semoga akan ada berita baik hari ini via email atau sms.
Well, that's it. Pengalaman ngurus visa. Semoga bermanfaat...
Tuesday, June 30, 2015
Kangen Kopi
Saya suka kopi -kalo ga salah- sejak 2008, waktu masih di call center. Ketika kuliah lagi, kopi jadi temen ngerjain tugas sampai larut malam.
Kopi yang biasa saya minum itu kopi yang ga sehat... hehehe... Kopi instan dengan gula dan creamernya. Kalo lagi pas ngantuk, kadang bisa membuat melek lagi. Tapi kadang juga ga ngaruh, apalagi kalo pas saya lagi rajin-rajinnya minum tiap hari.
Dulu sempat insyaf, target minum kopi hanya 3 kali seminggu. Tapi trus kebablasan lagi minum tiap hari di kantor, hari kerja maksudnya. Kalo ngga pagi sekitaran jam 9-10 -konon jam terefektif minum kopi adalah pada jam tersebut-, kalo ngga ya jam 2-3-an pas lagi ngantuk-ngantuknya. Kadang suka tergoda untuk seduh kopi lagi pas sorenya meski pagi udah minum kopi, tapi selalu berhasil diganti dengan ngemil (hadeeuuh... ga sehat semua kebiasaannya ya?). Kalo sabtu-minggu biasanya saya ga minum, karena memang sengaja ga nyetok di rumah.
Ramadhan ini bener-bener stop minum. Sehari-hari hanya minum air putih, sesekali sirup atau es buah. No tea, no coffee... Alhamdulillah sudah hampir separuh Ramadhan ini saya berhasil.
Tapi entah kenapa saya berniat melanjutkan kebiasaan ga sehat itu lagi nanti setelah lebaran. Memikirkan -mungkin- akan berpisah dengan kopi mulai September nanti membuat saya ingin memuaskan hasrat minum kopi. Di UK nanti mungkin akan susah nemuin kopi. Kalo pun bawa, paling cuma bisa berapa, harus hemat-hemat. Kalo beli kopi sana, belum tentu cocok seleranya, dan saya yakin pasti mahal beud...
Yang pasti sekarang saya lagi kangen banget ma niy minuman...
Meski tetap bertekad akan puasa kopi sampe lebaran... hehehe...
Monday, March 30, 2015
Ekstrovert vs Introvert
Saya pikir, saya adalah seorang ekstrovert.
Saya bukan orang yang tertutup. Saya cukup senang berada di dekat orang banyak, meski saya tidak begitu supel. Saya bukan orang yang duduk di pojokan dan pendiam.
Saya juga ga merasa punya rahasia yang saya simpan sendiri (saya selalu punya teman untuk berbagi).
Saya terbuka, senang berdiskusi (dan juga berdebat), senang berbagi info, membicarakan sesuatu dengan orang lain, kumpul-kumpul dengan teman, dan senang ngobrol.
Saya pikir saya ekstrovert.
Sampai pekan kemarin saya ikut sebuah presentasi tentang kepribadian, dan saya baru menyadari.
Saya mandiri. Teman-teman kuliah saya dulu pernah menjuluki saya "Independent Woman." Entah insiden apa yang membuat saya dapat julukan itu, saya lupa. Dan salah satu ciri orang introvert -menurut pembicaranya ketika itu- adalah independent. Karena orang introvert tak butuh orang lain untuk dimintai tolong, dia mampu dan dapat mengerjakan sesuatu sendiri, tanpa pertolongan orang lain.
Kemudian saya teringat kalau saya memang senang kemana-mana sendiri. Pergi ke pasar, ke mall, membeli buku, atau kegiatan-kegiatan yang seharusnya dilakukan orang ekstrovert bersama orang lain atau beramai-ramai. Saya senang mendiskusikan sesuatu tapi saya lebih tidak suka membiarkan orang lain menunggu saya memilih barang-barang. Ya, saya senang kemana-mana sendiri, lebih bebas.
Saya suka bertemu dan ngobrol dengan teman-teman, tapi tidak dengan banyak orang. Satu atau dua orang mungkin sudah cukup banyak buat saya untuk saya ceritakan semua rahasia saya. Saya memang tidak punya terlalu banyak teman akrab tapi saya masih sanggup menyebutkan satu persatu teman-teman akrab saya mulai dari kelas 1 SD hingga sekarang. Satu tanda introvert lainnya...
Tidak senang basa-basi, ternyata juga tanda introvert. Ya, masuk akal. Berteman dengan banyak orang akan menyebabkan kita harus sering berbasa-basi.
Hobi saya? Membaca dan nonton film. Hal yang lebih nikmat dilakukan sendiri, meski setelahnya saya senang mendiskusikan isi buku atau film itu bersama orang lain. Jenis/genre yang saya sukai juga yang "mikir" (seperti science fiction, thriller, atau serial detektif), bukan yang lucu dan ringan... Katanya itu juga tanda introvert.
Tidak ekspresif mungkin hal yang paling mendasar. Saya bukan orang yang menyimpan kebahagiaan dalam hati saya sendiri, tapi saya juga bukan orang yang berteriak keras ketika terkejut atau terlalu senang. Jika orang ekstrovert itu panikan, maka saya tidak. Saya masih bisa berpikir ketika situasi darurat.
Well, ternyata selama ini saya salah menilai diri saya. Mungkin saya tidak sepenuhnya introvert, ada sisi ekstrovert juga dalam diri saya. Tapi sudah jelas bahwa saya dominan introvert.
Bukan masalah mana yang lebih baik dari mana. Hanya menyelami diri sendiri saja.
Bahkan setelah 33 tahun hidup dalam tubuh ini, saya masih bisa salah mengenali diri saya sendiri... hehehe...
Menarik bukan?
Sudah Anda mengenali diri Anda sendiri?
30 Maret 2015
Kontemplasi setelah tes kepribadian yang mencerahkan
Saya bukan orang yang tertutup. Saya cukup senang berada di dekat orang banyak, meski saya tidak begitu supel. Saya bukan orang yang duduk di pojokan dan pendiam.
Saya juga ga merasa punya rahasia yang saya simpan sendiri (saya selalu punya teman untuk berbagi).
Saya terbuka, senang berdiskusi (dan juga berdebat), senang berbagi info, membicarakan sesuatu dengan orang lain, kumpul-kumpul dengan teman, dan senang ngobrol.
Saya pikir saya ekstrovert.
Sampai pekan kemarin saya ikut sebuah presentasi tentang kepribadian, dan saya baru menyadari.
Saya mandiri. Teman-teman kuliah saya dulu pernah menjuluki saya "Independent Woman." Entah insiden apa yang membuat saya dapat julukan itu, saya lupa. Dan salah satu ciri orang introvert -menurut pembicaranya ketika itu- adalah independent. Karena orang introvert tak butuh orang lain untuk dimintai tolong, dia mampu dan dapat mengerjakan sesuatu sendiri, tanpa pertolongan orang lain.
Kemudian saya teringat kalau saya memang senang kemana-mana sendiri. Pergi ke pasar, ke mall, membeli buku, atau kegiatan-kegiatan yang seharusnya dilakukan orang ekstrovert bersama orang lain atau beramai-ramai. Saya senang mendiskusikan sesuatu tapi saya lebih tidak suka membiarkan orang lain menunggu saya memilih barang-barang. Ya, saya senang kemana-mana sendiri, lebih bebas.
Saya suka bertemu dan ngobrol dengan teman-teman, tapi tidak dengan banyak orang. Satu atau dua orang mungkin sudah cukup banyak buat saya untuk saya ceritakan semua rahasia saya. Saya memang tidak punya terlalu banyak teman akrab tapi saya masih sanggup menyebutkan satu persatu teman-teman akrab saya mulai dari kelas 1 SD hingga sekarang. Satu tanda introvert lainnya...
Tidak senang basa-basi, ternyata juga tanda introvert. Ya, masuk akal. Berteman dengan banyak orang akan menyebabkan kita harus sering berbasa-basi.
Hobi saya? Membaca dan nonton film. Hal yang lebih nikmat dilakukan sendiri, meski setelahnya saya senang mendiskusikan isi buku atau film itu bersama orang lain. Jenis/genre yang saya sukai juga yang "mikir" (seperti science fiction, thriller, atau serial detektif), bukan yang lucu dan ringan... Katanya itu juga tanda introvert.
Tidak ekspresif mungkin hal yang paling mendasar. Saya bukan orang yang menyimpan kebahagiaan dalam hati saya sendiri, tapi saya juga bukan orang yang berteriak keras ketika terkejut atau terlalu senang. Jika orang ekstrovert itu panikan, maka saya tidak. Saya masih bisa berpikir ketika situasi darurat.
Well, ternyata selama ini saya salah menilai diri saya. Mungkin saya tidak sepenuhnya introvert, ada sisi ekstrovert juga dalam diri saya. Tapi sudah jelas bahwa saya dominan introvert.
Bukan masalah mana yang lebih baik dari mana. Hanya menyelami diri sendiri saja.
Bahkan setelah 33 tahun hidup dalam tubuh ini, saya masih bisa salah mengenali diri saya sendiri... hehehe...
Menarik bukan?
Sudah Anda mengenali diri Anda sendiri?
30 Maret 2015
Kontemplasi setelah tes kepribadian yang mencerahkan
Friday, September 7, 2012
Me and Coffee
Sampai suatu ketika, tubuh saya bereaksi. Saking ketagihannya, saya pernah minum kopi-mix ini dua kali sehari. Pagi pas sarapan udah seduh kopi, dan sore sambil menunggu jam pulang.
Satu bulan lebih saya ketagihan minum kopi pagi dan sore. Keputus gara-gara Ramadhan, sehingga saya tidak bisa meneruskan kebiasaan ini. Tidak lama, mulailah keluhan itu. Awalnya seperti salah makan (kebanyakan cabe, semacam itulah), sehingga (maaf) BAB-nya jadi encer, seperti diare. Hanya saja, tidak berhenti dalam beberapa hari. Keluhan ini berlanjut hingga sebulan lebih. Akhirnya saya memeriksakan diri ke dokter.
Ditanya macem-macem saya jawabnya selalu "Engga". Sampai konsul selesai, saya belum menemukan apa penyebabnya. Tapi tetep dikasih obat. Sesampai di rumah, ada satu pertanyaan dokter yang menggelitik saya, "Ibu suka makan karbohidrat kompleks ya?"
Karbohidrat kompleks maksudnya kalo kita makan nasi beserta lauk pauknya, tapi karbohidrat semua, misal: makan nasi, lauknya kentang dan mie goreng, sayurnya jagung. Nah, itu satu porsi kan karbohidrat semua, tanpa (atau sedikit) protein, vitamin, dll zat yang diperlukan tubuh.
Ketika ditanya saya jawabnya engga, karena saya suka sayur, lauk juga jarang pake kentang atau hanya mie (klo saya makan mie pasti tanpa nasi). Setelah menanyakan pada dokter, saya baru tahu ternyata kebanyakan karbohidrat (which means zat gula) bisa menyebabkan gula menumpuk di usus. Gula bersifat menyerap air. Itulah yang menyebabkan BAB menjadi encer.
Setelah berpikir, meskipun juga tidak begitu pasti bahwa penyebabnya adalah ini (bisa mecem-macem, hanya bisa menebak), saya mencoba menyimpulkan bahwa kegemaran saya minum kopi tiap hari itulah yang menyebabkan hal ini. Secara kita tahu sendiri, kopi instant banyak mengandung gula 'tingkat tinggi' alias sakarin (semacam itulah). Semenjak saya menghentikan kebiasaan minum kopi terlalu sering ini, keluhan ini tak pernah datang lagi. Ketika masuk D4, kebiasaan ini hilang sama sekali. Ya, paling sesekali kalo lagi kepengen aja, dan (lumayan agak sering) ketika ngerjain skripsi ^_^V hehe... (meski ga tiap hari)
Beberapa waktu lalu tak sengaja saya menemukan artikel kesehatan yang bilang bahwa kopi dapat menyebabkan iritasi kandung kemih juga. Mulai ngantor lagi menyebabkan keinginan minum kopi kembali menggoda. Ya, saya sempet beli satu pak kopi-mix lagi. Tapi, entah karena saya baca artikel itu atau memang lagi-lagi karena kopi ini, kandung kemih saya memang lagi sakit. Akhirnya sisa sachet-an kopi yang ada di laci saya kasih ke temen-temen. Sampai sekarang saya belum berani mencoba minum kopi lagi.
Well, saya tidak sedang menakuti anda supaya jangan minum kopi. Kondisi tubuh tiap orang berbeda-beda, hanya saya sepertinya tubuh saya agak tidak bersahabat dengan minuman yang satu ini.
Just sharing ^_^
Nostalgia
Kemarin
baru saja bongkar-bongkar lemari, nyari SK CPNS yang tiba-tiba saja
tidak ada di dalam tas berkas tempat saya biasa menyimpan berkas-berkas
penting. Alhamdulillah akhirnya nemu selembar SK CPNS yang meski udah
agak kumal, menyebabkan saya ga jadi ke kantor untuk minta berkas itu.
Nah, ga sengaja, saya menemukan buku diary saya dulu. Untuk nostalgia,
saya pun membacanya dengan khusyu' :P
Kebetulan
ini buku diary ini adalah buku yang saya tulis ketika saya dulu selesai
kuliah. Ada cerita magang, prajab, penempatan defenitif, masa-masa
penantian, masa-masa galau, dan yang paling menarik ada cerita taaruf,
nikah, dan beberapa saat setelah nikah, lebih dari enam tahun yang
lalu... (tulisan terhenti ketika saya akhirnya mengikuti suami ke kota
Gorontalo, dan sepertinya setelah itu saya ga punya buku diary lagi.
Hingga sekarang...)
Sambil membaca, teringat
kembali betapa masa-masa peralihan dari kuliah ke bekerja, mungkin
menjadi masa yang paling berat bagi saya. Saya merasa tidak cukup sukses
melaluinya, meskipun akhirnya saya masih bisa 'bertahan' hingga detik
ini. Adaptasi yang sangat sulit saya rasakan, karena karakteristik dunia
kampus dan dunia kerja yang begitu berbeda. Da'wah kampus VS da'wah
birokrasi + da'wah sya'biyah. Masa peralihan itu benar-benar sulit...
"Berbulan-bulan,
bahkan sampai sekarangpun aku masih dalam rangka beradaptasi. Adaptasi
yang buruk, menurutku. Sebab, sangat jauh menurun.
Semuanya... semuanya...
Seperti
orang yang ada dalam ruang hampa yang gelap, tak ada cahaya, tak ada
tempat bergantung, tidak pula untuk berpijak, hanya melayang tak tentu
arah... Tak jelas.
Sesekali aku terbangun. Tapi biasanya tak berlangsung lama. Sesekali tersadar, namun segera 'hilang' kembali."
(Whoa... parah juga ternyata saya dulu ya? hehe...)
Dan
tentu saja, yang paling menarik adalah ketika membuka kenangan kembali
masa-masa peralihan dari lajang ke 'menjadi istri orang'. Deg-degannya
ketika terima biodata, malunya taaruf, persiapan pernikahan yang
ternyata begitu complicated, iman yang naik turun, galau pranikah,
tangisan ketika akad nikah, percakapan pertama dengan suami, romantisme
pengantin baru, hingga cerita LDL sampe akhirnya mutasi ikut suami...
Ada
satu halaman yang membuat saya sedikit tercenung. Di halaman itu, saya
tersadar bahwa episode kehidupan saya akan segera berubah (bakti yang
selama ini diberikan kepada ortu beralih kepada seorang lelaki asing).
Sore itu, setelah shalat ashar, saya mengangis tersedu-sedu, sendirian,
lamaaaa sekali. Sebelumnya baru saya menelpon mama-papa tentang
pernikahan. Rasanya sedih sekali meninggalkan mama-papa yang baru saja
saya coba bahagiakan.
"Belum setitik apa
yang ingin kuberikan untuk membalas apa yang telah mereka berikan
padaku. Seandainya melajang seumur hidup itu diperbolehkan, mungkin aku
akan melakukannya biar aku bisa sekuat tenaga hanya untuk mereka dan
adik-adikku. Sungguh..."
Setelah enam tahun
lebih menikah, memang bakti itu tidak sepenuhnya terputus. Masih banyak
jalan untuk membahagiakan mereka. Namun harus saya akui, dalam banyak
hal, saya memang banyak melupakan mereka (pikiran penuh dengan suami dan
anak-anak). Di sisi lain, mama-papa merasa pintu rejekinya lebih
terbuka lebar ketika cucu pertamanya lahir. Semoga kita masih diberi
kesempatan untuk mencoba membahagiakan mereka, karena membalas apa yang
mereka telah mereka lakukan adalah hal yang mustahil. Setidaknya dengan
membuat mereka bahagia dan bangga (semoga) kita dapat memperoleh
ridha-Nya...
#masih melow dengan kenangan lama :)
Happy April
Saya dan suami menikah 21 April, bersamaan dengan maulid nabi (jadi versi hijriyahnya 12 rabiul awwal).
Si kembar lahir, tepat setahun pernikahan kami, tanggal 30 April (setahun nikah anak dua... hehe...)
Si dede lahir juga tepat 2 tahun setelah kaka-kakanya lahir, tanggal 11 April...
Papa saya juga lahirnya 2 April, diikuti adik bungsu saya di tanggal 9 april. Mama-papa juga nikahnya bulan april (saya lupa pasnya kapan...)
Jadi, tiap april, kami sibuk nyari hadiah untuk milad ketiga anak kami, yang biasanya dirayakan di hari lahir si kembar, 30 April.
April tahun ini menjadi istimewa, karena oma-datuknya anak-anak (mama-papa saya) juga lagi liburan di sini. Jadi kami semua ngumpul di rumah dan merayakan semua yang lahir di bulan April ini dengan blackforest yang yummmmy... ;P
Happy April !!! ^_^
(ditulis April 2011)
Thursday, September 6, 2012
Lebaran a la komplek
Hmm...
mengingat kembali udah berapa tahun saya engga lebaran di kampung. Kalo
ga salah terakhir lebaran di Payakumbuh itu tahun 2006... berarti sudah
4 tahun ga ngerasain ketupat, rendang, dan opor ayam nenek, udah 4
tahun ga nyobain jalan-jalan di pasa Pabukoan... hmmm...
Dua tahun terakhir saya lebaran di Jakarta, eh, maksud saya Tangsel...hehehe... Ada satu kebiasaan unik di kompleks Bea Cukai Cirendeu ini. Saya bilang unik, karena baru kali ini nemu yang begitu. Wallahu a'lam mungkin di tempat lain ada yang serupa.
Seperti biasa, pagi pasti pada shalat Ied di masjid terdekat. Biasanya di Masjid Al Ihsan di depan komplek. Selesai shalat, semua pada kembali ke rumah masing-masing. Kira-kira 15 menit kemudian, semua warga komplek serentak keluar rumah dan berkumpul di lapangan basket di tengah kompleks.
Untuk apa? Tentunya buat maaf-maafan :) hehe... Jadi ga usah keliling ke semua rumah buat salaman, cukup standby di lapangan, ntar tinggal salaman sama semua orang yang ada. Lumayan efektif dan efisien.
Setengah jam setelahnya, kompleks seperti kosong, pada keluar semua (silaturahim maksudnya). Ke mertua, ke sodara, ke mana-mana deh...
Kalo di kampung, salamannya ya cuma sama yang kenal aja, ato sodara-sodara. Kalo di komplek, ya pokoknya yang hadir di lapangan adalah warga komplek dan mereka adalah tetangga saya. Lumayan juga sih, ada sekitar 50 kepala keluarga, tapi seneng juga. Silaturahimnya terjaga dan hubungan makin erat.
Semoga tradisi ini terus terjaga selamanya, meski beda generasi.
Gimana di tempatmu?
Dua tahun terakhir saya lebaran di Jakarta, eh, maksud saya Tangsel...hehehe... Ada satu kebiasaan unik di kompleks Bea Cukai Cirendeu ini. Saya bilang unik, karena baru kali ini nemu yang begitu. Wallahu a'lam mungkin di tempat lain ada yang serupa.
Seperti biasa, pagi pasti pada shalat Ied di masjid terdekat. Biasanya di Masjid Al Ihsan di depan komplek. Selesai shalat, semua pada kembali ke rumah masing-masing. Kira-kira 15 menit kemudian, semua warga komplek serentak keluar rumah dan berkumpul di lapangan basket di tengah kompleks.
Untuk apa? Tentunya buat maaf-maafan :) hehe... Jadi ga usah keliling ke semua rumah buat salaman, cukup standby di lapangan, ntar tinggal salaman sama semua orang yang ada. Lumayan efektif dan efisien.
Setengah jam setelahnya, kompleks seperti kosong, pada keluar semua (silaturahim maksudnya). Ke mertua, ke sodara, ke mana-mana deh...
Kalo di kampung, salamannya ya cuma sama yang kenal aja, ato sodara-sodara. Kalo di komplek, ya pokoknya yang hadir di lapangan adalah warga komplek dan mereka adalah tetangga saya. Lumayan juga sih, ada sekitar 50 kepala keluarga, tapi seneng juga. Silaturahimnya terjaga dan hubungan makin erat.
Semoga tradisi ini terus terjaga selamanya, meski beda generasi.
Gimana di tempatmu?
Mudik 2010
Tahun ini kami sekeluarga ngga mudik ke Payakumbuh. Sempat ada rencana
mau mudik tahun ini karena mama begitu ingin bertemu cucu-cucunya. Tapi
ya... karena satu dan lain hal, akhirnya diputuskan tidak mudik tahun
ini. InsyaAllah tahun depan, semoga Allah memberikan rejeki yang banyak
dan kami bisa pulang kampung.
Waktu masih bujang, mudik adalah satu hal yang wajib (bagi saya). Nelangsa banget kaya'nya kalo lebaran sendirian. Tapi setelah berkeluarga, ada satu yang berubah -bagi saya tentunya, entah bagi yang lain. Mudik tidak lagi menjadi sesuatu yang penting menurut saya, karena keluarga saya ya disini, di rumah saya. Suami tercinta dan bidadari saya tersayang. Berkumpul bersama mereka ketika lebaran sudah menjadi kebahagiaan terbesar saya.
Bukannya saya ga rindu sama ortu yang ada di kampung, tapi entahlah... ya itu tadi, ada sesuatu yang bergeser posisinya...
Misalnya ketika hendak memutuskan siapa dan siapa aja yang berangkat, yang lain di jakarta saja... hmmm... no, no, no... berangkat satu berarti harus berangkat semua. Ada yang hilang, ada yang kurang, kalo keluarga ini tak lengkap. Tidak akan benar-benar fun dan menyenangkan jika ada anggota yang kurang.
Mudik bagi saya -sekarang- menjadi tidak terlalu penting lagi (bukannya tidak penting lho ya, hanya saya derajat ke-penting-annya bergeser...hehe). Yang penting kumpul bersama keluarga saya, kemudian silatuhrahim ke saudara-saudara yang dekat, itu saja sudah cukup.
Ya kalo ada rejeki, mudik ke Payakumbuh bisa diusahakan. Pesen tiket jauh-jauh hari, suami tunda cuti tahun ini dan tahun depan untuk lebaran tahun depan, nabung untuk beli oleh-oleh... Rencananya yang mateng lah pokoknya. Mudah-mudahan tahun depan kami bisa kumpul sama oma dan datuk di Payakumbuh dan bersilaturahim bersama keluarga besar saya di ranah minang.
Sekarang... lagi siap-siap beli bahan buat bikin rendang dan opor. Bikin ketupat susah sih, jadi pake nasi ajah...
oya, jangan lupa memanfaatkan menit-menit terakhir Ramadhan ini untuk dimanfaatkan seoptimal mungkin ya. Semoga Allah mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan penuh berkah tahun depan.
Untuk temen-temen yang mudik, semoga perjalanannya lancar, mudah, murah, selamat sampai tujuan, dan silaturahimnya terjalin erat. (Baliknya jangan lupa oleh-olehnya dibagi-bagi yaaaaa ^_^)
Waktu masih bujang, mudik adalah satu hal yang wajib (bagi saya). Nelangsa banget kaya'nya kalo lebaran sendirian. Tapi setelah berkeluarga, ada satu yang berubah -bagi saya tentunya, entah bagi yang lain. Mudik tidak lagi menjadi sesuatu yang penting menurut saya, karena keluarga saya ya disini, di rumah saya. Suami tercinta dan bidadari saya tersayang. Berkumpul bersama mereka ketika lebaran sudah menjadi kebahagiaan terbesar saya.
Bukannya saya ga rindu sama ortu yang ada di kampung, tapi entahlah... ya itu tadi, ada sesuatu yang bergeser posisinya...
Misalnya ketika hendak memutuskan siapa dan siapa aja yang berangkat, yang lain di jakarta saja... hmmm... no, no, no... berangkat satu berarti harus berangkat semua. Ada yang hilang, ada yang kurang, kalo keluarga ini tak lengkap. Tidak akan benar-benar fun dan menyenangkan jika ada anggota yang kurang.
Mudik bagi saya -sekarang- menjadi tidak terlalu penting lagi (bukannya tidak penting lho ya, hanya saya derajat ke-penting-annya bergeser...hehe). Yang penting kumpul bersama keluarga saya, kemudian silatuhrahim ke saudara-saudara yang dekat, itu saja sudah cukup.
Ya kalo ada rejeki, mudik ke Payakumbuh bisa diusahakan. Pesen tiket jauh-jauh hari, suami tunda cuti tahun ini dan tahun depan untuk lebaran tahun depan, nabung untuk beli oleh-oleh... Rencananya yang mateng lah pokoknya. Mudah-mudahan tahun depan kami bisa kumpul sama oma dan datuk di Payakumbuh dan bersilaturahim bersama keluarga besar saya di ranah minang.
Sekarang... lagi siap-siap beli bahan buat bikin rendang dan opor. Bikin ketupat susah sih, jadi pake nasi ajah...
oya, jangan lupa memanfaatkan menit-menit terakhir Ramadhan ini untuk dimanfaatkan seoptimal mungkin ya. Semoga Allah mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan penuh berkah tahun depan.
Untuk temen-temen yang mudik, semoga perjalanannya lancar, mudah, murah, selamat sampai tujuan, dan silaturahimnya terjalin erat. (Baliknya jangan lupa oleh-olehnya dibagi-bagi yaaaaa ^_^)
Di Payakumbuh
Alhamdulillah
kemarin baru balik dari Payakumbuh setelah lebih kurang satu minggu
silaturahim ke mama dan adik di sana. Mumpung lagi libur semester, mama
minta saya pulang liburan di kampung. Akhirnya Kamis tanggal 3 Juni
kemarin saya pulang kampung.
Berdua saja dengan si kecil Icha, saya naik pesawat pagi jam 7.45 dari bandara Soetta. Sampai di bandara Minangkabau, langsung disambut sama Omanya anak-anak (mama), Bundo (adik mama), Nenek, dan Bunda (adik saya) serta Fatih (anak Bunda). Siang itu kami sempatkan jalan-jalan sebentar keliling Padang, kemudian menikmati pemandangan lembah Anai yang ngangenin, hingga jam 4 sore menapakkan kaki ke rumah yang kurindukan.
Lima hari di kampung, cuma sempat jalan-jalan ke Bukittinggi, silaturahim ke nenek papa (cicitnya anak-anak) di Batu Hampar, ngajak Icha jalan-jalan ke sawah, sungai, papasan sama sapi, kerbau, nangkep capung, liat pohon kelapa berjejer, ya hal-hal sepele sebenernya tapi tidak bisa ditemui di Jakarta. Senang sekali melihat Icha teriak-teriak dan excited sekali melihat 'kampung' uminya.
Pengen jalan ke Harau tapi ga jadi, mungkin kapan-kapan lah. 5 hari di Payakumbuh saya gunakan untuk "malapeh salero" alias wisata kuliner. Menikmati makanan yang hanya bisa saya temui di kampung. Martabak mesir, sate danguang-danguang (ampe singgah 2 kali, hehehe), aie aka, padeh-padeh dan sala lauak, mie rebus khas payakumbuh (beda dong sama mie rebus jakarta), es tebak, dendeng batokok lado ijau, baluik lado ijau, gulai paku (dua terakhir khusus bikinan mama ^_^), rendang paru (bikinan nenek papa), dan lain-lain. Hmmm... pengen lagi...
Memang beda sih, jalan-jalan sendiri (berdua Icha maksudnya), rasanya ada yang kurang. Beda ketika jalan-jalan waktu masih 'bujang' dulu, ga ada beban. Sekarang rasanya kurang kalo jalan-jalan ngga ngajak anak-anak dan abinya anak-anak... hehehe... Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa ngajak semua ke kampung uminya...
Balik ke Jakarta sambil bawa oleh-oleh dari Oma buat cucu-cucunya sampe koper penuh. Alhamdulillah ketemu lagi sama si kembar dan abinya ^_^... Kangen sekali sama kalian...
Demikian liputan liburan di Payakumbuh. Sekian terima kasih...
:)
(sambil deg-degan nungguin keluar IP.. hehe)
Berdua saja dengan si kecil Icha, saya naik pesawat pagi jam 7.45 dari bandara Soetta. Sampai di bandara Minangkabau, langsung disambut sama Omanya anak-anak (mama), Bundo (adik mama), Nenek, dan Bunda (adik saya) serta Fatih (anak Bunda). Siang itu kami sempatkan jalan-jalan sebentar keliling Padang, kemudian menikmati pemandangan lembah Anai yang ngangenin, hingga jam 4 sore menapakkan kaki ke rumah yang kurindukan.
Lima hari di kampung, cuma sempat jalan-jalan ke Bukittinggi, silaturahim ke nenek papa (cicitnya anak-anak) di Batu Hampar, ngajak Icha jalan-jalan ke sawah, sungai, papasan sama sapi, kerbau, nangkep capung, liat pohon kelapa berjejer, ya hal-hal sepele sebenernya tapi tidak bisa ditemui di Jakarta. Senang sekali melihat Icha teriak-teriak dan excited sekali melihat 'kampung' uminya.
Pengen jalan ke Harau tapi ga jadi, mungkin kapan-kapan lah. 5 hari di Payakumbuh saya gunakan untuk "malapeh salero" alias wisata kuliner. Menikmati makanan yang hanya bisa saya temui di kampung. Martabak mesir, sate danguang-danguang (ampe singgah 2 kali, hehehe), aie aka, padeh-padeh dan sala lauak, mie rebus khas payakumbuh (beda dong sama mie rebus jakarta), es tebak, dendeng batokok lado ijau, baluik lado ijau, gulai paku (dua terakhir khusus bikinan mama ^_^), rendang paru (bikinan nenek papa), dan lain-lain. Hmmm... pengen lagi...
Memang beda sih, jalan-jalan sendiri (berdua Icha maksudnya), rasanya ada yang kurang. Beda ketika jalan-jalan waktu masih 'bujang' dulu, ga ada beban. Sekarang rasanya kurang kalo jalan-jalan ngga ngajak anak-anak dan abinya anak-anak... hehehe... Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa ngajak semua ke kampung uminya...
Balik ke Jakarta sambil bawa oleh-oleh dari Oma buat cucu-cucunya sampe koper penuh. Alhamdulillah ketemu lagi sama si kembar dan abinya ^_^... Kangen sekali sama kalian...
Demikian liputan liburan di Payakumbuh. Sekian terima kasih...
:)
(sambil deg-degan nungguin keluar IP.. hehe)
Tentang Menjadi Enterpreneur...
Mbahas yang ringan-ringan ajah ya...
Tentang enterpreneurship?
Menjadi seorang enterpreneur adalah impian saya. Punya usaha yang terus berkembang, mempekerjakan orang-orang, mengurangi kemiskinan, banyak sedekah, dan tentu saja punya uang banyak sehingga tak perlu 'mikir' lagi kalo mau nyekolahin anak ke sekolah yang bagus, pengen naik haji, meng-haji-kan orang tua dan mertua, mbantu orang lain....dan seterusnya (ga bakalan abis deh...)
Udah pernah nyoba usaha kecil-kecilan (bener-bener kecil lho!!). Memang berkah juga punya tangan yang ga bisa diem. Duluuuu banget waktu masih kuliah, ya sebagaimana kebanyakan anak STAN lainnya, saya ngajar privat yang penghasilannya lumayan lah. Suatu hari saya liat kertas daur ulang di Gramedia (tempat biasa nongkrong hehehe...) yang kemudian saya beli dari uang hasil ngajar untuk bikin pigura foto, untuk kemudian dijual di Payakumbuh (nitip di toko orang). Namun ga balik modal, soalnya bikinnya pas libur dan malah ga sempet dijual, malah di pake sendiri... Lupa juga, bahan-bahannya sekarang ada dimana ya? Hmmm...
Setelah menikah, beberapa tahun vakum dari dunia per-enterpreneur-an. Setelah punya anak 3 dan di kantor (waktu itu) ada jam-jam istirahat (sambil nunggu jadwal online njawab telepon di call center), maka otakpun mulai bekerja. Lupa awalnya dari jualan apa. Pernah jualan pulsa, jualan cemilan (yang ini lumayan laku juga, tapi kedua usaha ini kemudian ga jalan lagi karena untungnya sangat kecil...hehehe...). Trus berlanjut ke sulam jilbab, bikin gantungan pintu dari kain flanel, jualan mukena-sajadah, pernah juga jual VCD anak muslim dari NCR (tupi-pingping, Nadya-Syamil, dkk). Oiya, pernah juga ikut pelatihan dan jadi agennya buku-buku Syamil yang "Muhammad Teladanku, dkk" tapi yang ini cuma berhasil nyari satu pembeli... hehehe...
Sekarang lagi konsentrasi (taela..) sama usaha bikin bros. Ini juga gara-gara temen seruangan jual bros model begini dan saya langsung suka. Kemudian beli satu bros untuk dipreteli dan dipasang lagi -mengikuti alur pretelan tadi. Sekarang saya udah bikin ratusan bros dan alhamdulillah udah balik modal. Pemasaran pake channel mama, adik, suami, sodara-sodara, semua yang mau dah. Ami, adik saya yang kedua punya toko muslim, jadi naruh disana beberapa puluh. Selebihnya jual door-to-door ke temen-temen mama di rumah sakit, temen-temen dan dosen-dosen adik bungsu saya yang masih kuliah (alhamdulillah dia mau 'jalan' dan hasilnya lumayan, ternyata dia punya bakat marketing juga), dan ibu-ibu temen suami di kantor yang ternyata juga berminat dengan bros-bros buatan saya. Alhamdulillah...
Tadinya pengen punya toko sendiri, setelah diskusi sama suami, kaya'nya saya fokus di produksi aja dulu kali ya. Terus terang saya ga punya bakat marketing. Jadi konsentrasi produksi aja. Mungkin nanti sistemnya berdasarkan pemesanan aja. Jualan di internet, di temen-temen luar kota, jalan ke toko-toko busana muslim sambil ninggalin nomor telepon, sempet kepikiran juga mau ng-iklan di majalah Ummi, misalnya. Hehehe... namanya juga mimpi, harus diwujudkan, ya ngga?
Bros yang saya bikin harganya relatif murah. Dari yang 5000-an sampe paling tinggi 30rb. Sebenernya pengen bikin yang 'bagus-an' yang harganya diatas 100rb, tapi mau hunting dulu sambil cari-cari info di internet dan toko buku. Pengen bikin brand alias merek. Iffah Collection? Alif Collection? Raisha Collection? Anin Collection? Bagus yang mana nih...?
Selain bros, saya juga lagi melirik kaos anak-anak yang ada jahitan kain flanelnya. Berhubung stok kain flanel saya banyak banget, jadi gantungan pintu flanelnya di-diversifikasi ke kaos flanel. Mungkin bisa bikin gantungan kunci juga kali ya... hmmm...
Well, semua ini sih sebenernya proyek saya selama kuliah. Entah dua tahun lagi setelah masuk kerja lagi proyek ini bisa lanjut apa engga... Harus bisa lah ya! Optimis! Semangat!
Saya sih tetep pengen jadi PNS yang enterpreneur!
Bagaimana dengan Anda? ;-)
Tentang enterpreneurship?
Menjadi seorang enterpreneur adalah impian saya. Punya usaha yang terus berkembang, mempekerjakan orang-orang, mengurangi kemiskinan, banyak sedekah, dan tentu saja punya uang banyak sehingga tak perlu 'mikir' lagi kalo mau nyekolahin anak ke sekolah yang bagus, pengen naik haji, meng-haji-kan orang tua dan mertua, mbantu orang lain....dan seterusnya (ga bakalan abis deh...)
Udah pernah nyoba usaha kecil-kecilan (bener-bener kecil lho!!). Memang berkah juga punya tangan yang ga bisa diem. Duluuuu banget waktu masih kuliah, ya sebagaimana kebanyakan anak STAN lainnya, saya ngajar privat yang penghasilannya lumayan lah. Suatu hari saya liat kertas daur ulang di Gramedia (tempat biasa nongkrong hehehe...) yang kemudian saya beli dari uang hasil ngajar untuk bikin pigura foto, untuk kemudian dijual di Payakumbuh (nitip di toko orang). Namun ga balik modal, soalnya bikinnya pas libur dan malah ga sempet dijual, malah di pake sendiri... Lupa juga, bahan-bahannya sekarang ada dimana ya? Hmmm...
Setelah menikah, beberapa tahun vakum dari dunia per-enterpreneur-an. Setelah punya anak 3 dan di kantor (waktu itu) ada jam-jam istirahat (sambil nunggu jadwal online njawab telepon di call center), maka otakpun mulai bekerja. Lupa awalnya dari jualan apa. Pernah jualan pulsa, jualan cemilan (yang ini lumayan laku juga, tapi kedua usaha ini kemudian ga jalan lagi karena untungnya sangat kecil...hehehe...). Trus berlanjut ke sulam jilbab, bikin gantungan pintu dari kain flanel, jualan mukena-sajadah, pernah juga jual VCD anak muslim dari NCR (tupi-pingping, Nadya-Syamil, dkk). Oiya, pernah juga ikut pelatihan dan jadi agennya buku-buku Syamil yang "Muhammad Teladanku, dkk" tapi yang ini cuma berhasil nyari satu pembeli... hehehe...
Sekarang lagi konsentrasi (taela..) sama usaha bikin bros. Ini juga gara-gara temen seruangan jual bros model begini dan saya langsung suka. Kemudian beli satu bros untuk dipreteli dan dipasang lagi -mengikuti alur pretelan tadi. Sekarang saya udah bikin ratusan bros dan alhamdulillah udah balik modal. Pemasaran pake channel mama, adik, suami, sodara-sodara, semua yang mau dah. Ami, adik saya yang kedua punya toko muslim, jadi naruh disana beberapa puluh. Selebihnya jual door-to-door ke temen-temen mama di rumah sakit, temen-temen dan dosen-dosen adik bungsu saya yang masih kuliah (alhamdulillah dia mau 'jalan' dan hasilnya lumayan, ternyata dia punya bakat marketing juga), dan ibu-ibu temen suami di kantor yang ternyata juga berminat dengan bros-bros buatan saya. Alhamdulillah...
Tadinya pengen punya toko sendiri, setelah diskusi sama suami, kaya'nya saya fokus di produksi aja dulu kali ya. Terus terang saya ga punya bakat marketing. Jadi konsentrasi produksi aja. Mungkin nanti sistemnya berdasarkan pemesanan aja. Jualan di internet, di temen-temen luar kota, jalan ke toko-toko busana muslim sambil ninggalin nomor telepon, sempet kepikiran juga mau ng-iklan di majalah Ummi, misalnya. Hehehe... namanya juga mimpi, harus diwujudkan, ya ngga?
Bros yang saya bikin harganya relatif murah. Dari yang 5000-an sampe paling tinggi 30rb. Sebenernya pengen bikin yang 'bagus-an' yang harganya diatas 100rb, tapi mau hunting dulu sambil cari-cari info di internet dan toko buku. Pengen bikin brand alias merek. Iffah Collection? Alif Collection? Raisha Collection? Anin Collection? Bagus yang mana nih...?
Selain bros, saya juga lagi melirik kaos anak-anak yang ada jahitan kain flanelnya. Berhubung stok kain flanel saya banyak banget, jadi gantungan pintu flanelnya di-diversifikasi ke kaos flanel. Mungkin bisa bikin gantungan kunci juga kali ya... hmmm...
Well, semua ini sih sebenernya proyek saya selama kuliah. Entah dua tahun lagi setelah masuk kerja lagi proyek ini bisa lanjut apa engga... Harus bisa lah ya! Optimis! Semangat!
Saya sih tetep pengen jadi PNS yang enterpreneur!
Bagaimana dengan Anda? ;-)
I Have a Dream
Saya pikir semua orang pasti punya mimpi, entah itu yang masuk akal atau tidak, entah untuk sekarang atau masa depan atau masa lalu (wish you could turn back the time?)...
Mimpi akhirat. Mungkin semua orang (muslim) punya impian yang sama, masuk syurga. Kalo saya lebih spesifik lagi, ingin punya istana untuk saya bersama suami, anak-anak, dan orang tua. Ingin menjadi tetangganya Rasulullah saw dan keluarganya dan para sahabatnya. Ingin mencium tangan Rasulullah ra (boleh ga ya? hehehe...), memeluk ibunda Khadijah ra, Ibunda Fathimah ra. Ingin satu halaqoh sama para sahabiyah dengan Bunda Khadijah ato Rasulullah sebagai Murabbinya ^_^. Ingin jalan-jalan bersama saudara satu lingkaran saya di dunia lengkap dengan murabbiyah-murabbiyah saya, bersama juga mujahid-mujahidah da'wah. Dan yang paling saya tunggu, saat-saat menatap wajah Kekasih abadi, Allah azza wa jalla, menikmati ridha-Nya, dalam naunganNya...
Aaaamiiiiiiiiin ya Rabb... kabulkanlah permohonan kami...
Selanjutnya mimpi dunia. Khusus anak-anak, saya pengen ada satu atau beberapa dari mereka nanti ada yang sekolah di Mesir (tidak harus Mesir sih) untuk memperdalam kafaah syar'i-nya berupa ilmu tentang islam. Entah itu nantinya jadi hafidzah, atau ahli fiqh, ahli hadist, pokoknya yang bermanfaat untuk mengembalikan akhlaq ummat agar kembali kepada Alquran dan sunnah... Amiiin...
Kenapa ngga semuanya aja?
Karena mereka kan juga punya cita-cita sendiri yang ingin dicapai. Kalo mereka pengen jadi ilmuwan juga ga masalah, toh ilmunya juga berguna untuk orang banyak. Atau mungkin ada yang mau jadi 'ibu' saja, a full time mother? Wow, saya akan dukung seratus persen peran yang mulia ini... Yang penting semua punya tujuan yang sama, yaitu ridha Allah. Masalah jalan boleh beda-beda, no problemo...
Dari dulu saya pengen banget punya toko muslim, menjual perlengkapan muslim, mulai dari jilbab, pakaian, mukena, sampai obat herbal, kosmetik, dan buku. Kadang juga kepengen punya minimarket khusus barang-barang halal, biar orang-orang ga perlu khawatir kalo beli apa-apa. Intinya pengen jadi pedagang lah gitu...
Untuk hari tua, saya pengen mengelola panti asuhan (atau yang sejenis). Anak-anak udah gede, mungkin udah punya kehidupan sendiri, daripada kesepian mending nabung amal sambil mengasuh anak orang lain yang 'kurang beruntung'. Nanti tokonya buat bagian dana usahanya. Gimana? Ada yang berminat gabung sama saya, jadi donatur panti asuhan saya ^_^ ?
Saya pikir tidak ada yang salah dengan bermimpi. Pesawat terbang ada karena orang bermimpi ingin seperti burung. Handphone ada karena orang bermimpi bisa berbicara dengan kekasihnya meskipun jauh. Bermimpilah, karena dengan mimpi hidup menjadi bermakna...
"Bermimpilah setinggi langit, karena meskipun tergelincir kau tetap berada bersama bintang-bintang..." (dari Chicken Soup, maaf kalo redaksinya tidak persis ^_^)
Kalo kamu, apa mimpimu? ^_^
10 Things About Me
(Tulisan ini dibuat karena permintaan dari salah seorang temen ketika itu)
Sebenernya bingung mo nulis apa… (koq kesannya tuh mo ngomongin aib gitu ya?)
Sebenernya bingung mo nulis apa… (koq kesannya tuh mo ngomongin aib gitu ya?)
Ya udah, fakta ya…? Apa ya?
1. SD dan SMP saya lalui di sekolah yang berada di bawah yayasan Katholik.
Tapi
Alhamdulillah sampe sekarang saya belum pernah megang Injil, masuk
gereja, apalagi ikutan misa… FYI, ortu saya menyekolahkan saya di
sekolah tsb, karena mutu dan disiplinnya yang paling bagus.
2. Organisasi addicted (bahasa apa ini? Maksudnya : ga bisa kalo diem di rumah. Punya kebutuhan aktualisasi diri yang besar….)
Dari
SD dah ikut pramuka. SMP jadi pengurus OSIS, pramuka, dan drumband. SMU
ikut OSIS lagi, pramuka lagi, drumband lagi, tambah paskibra. Kuliah…
tambah banyak daftar. Mulai dari SPECC(english), SPCC(computer),
CMC(capital market), Immsi (akuntansi), MBM (masjid), UMMPonjay, dan
berbagai kepanitiaan (sampe skrg saya heran kenapa dulu ga ikutan BEM
ya? Kelewatan keknya….)
Itu dulu, kalo skrg pengen di rumah terus, sama anak2…
3. Dulu
saya pernah berangan-angan ‘nyobain’ da’wah di ‘daerah’. Ternyata saya
dipertemukan dengan ikhwan –yang pada saat menikah dengan saya- bertugas
(alias penempatan) di Gorontalo, ujung Sulawesi. Alhamdulillah
keinginan terwujud.
4. Sepertinya saya memang ditakdirkan untuk nomaden.
Tiga
tahun pertama hidup saya habiskan di Bangka, satu setengah tahun
kemudian di Payakumbuh, 6 bulan berikutnya di Wosu-Sulawesi Tenggara,
balik lagi ke Payakumbuh, ga nyampe dua tahun pindah lagi ke
Bukittinggi, pertengahan SMP pindah ke Payakumbuh lagi, lulus SMA ke
STAN Jakarta (eh salah, Banten ding!), pas nikah 4 tahun yang lalu ke
Gorontalo, dua tahun kemudian kembali ke Jakarta…
Pas
nge-kost waktu kuliah, saya pindah sampe 5 kali. Pertama di kalimongso,
trus ke ponjay, di ponjay pindah sampe 4 kali, pas udah kerja pindah
lagi ke Kampung Melayu, kost bareng adik yang kuliah di STIS.
Fyuuuhhh….!
5. Buku
pertama yang membuat saya ngga bisa berhenti baca sampe halaman
terakhir : Al Wala wal Bara-nya Sayyid Quthb-Said Hawwa (untuk non
fiksi). Kalo yang fiksinya… Harry Potter (hehe)
6. Sufi (alias suka film)
Saya
suka tipe film fiksi ilmiah yang kalo nonton ga bisa meleng barang 2
detik aja (kalo meleng dikit ketinggalan banyak, jalan ceritanya cepet).
Maksudnya film yang dari awal sampe akhir ngga ngerti ini film tentang
apa (nah lho). Misalnya film The Matrix (hayo, ga ngerti kan nih film
tentang apa?), ato film The Triangle (tentang segitiga bermuda). Tapi
film paling keren menurut saya, masih dipegang oleh The Lord of The Ring
7. Ini
tentang badan saya. Saya sering segera merasa kedinginan jika cuaca
dingin dibanding orang lain (ga tau sih ini cuma perasaan aja apa emang
begitu). Dari kecil, kalo udah sore menjelang maghrib, pasti saya sudah
siap dengan jaket dan celana panjang sementara saudara-saudara saya
masih tahan pake celana pendek. Begitu juga kalo gerah, baju langsung
basah keringet. Pengennya ngendon di ruangan AC ato puter kipas angin.
Kira-kira itu penyakit apa ya?
8. Too serious.
Orang-orang
yang pernah ketemu saya mesti udah ngerti. Jarang senyum, jarang
ngomong, kaku, to the point, tegas, cepat, terlalu serius,nyeremin, itu
‘Nina Bangeeeet’. Ngga harus test kepribadian semua teman saya langsung
tau kalo saya orang ‘Koleris’. Sebelum nikah sih oke-oke aja sama sifat
ini, malah menguntungkan karena sebagian besar ikhwan ‘takut’ kalo
negur/ngomong (hehe). Tapi sekarang itu jadi tantangan terbesar saya
untuk menjadi orang yang supel dan pinter bergaul…. Harus berubah, untuk
anak-anak, keluarga, dan masyarakat! Doain saya yaaah….
9. (Duh, mentok ampe 8 nih… yang kesembilan apa yah?)
Hmmm…. Pas baca novel “Ayat-Ayat Cinta” dan “Ketika Cinta Bertasbih”, saya pengeeeen banget anak-anak saya –salah satu atau beberapanya- ada yang Lc (lulusan ceger… hehe….) maksud saya lulusan al-Azhar Mesir (ga harus Al-Azhar Mesir siiih), balik ke Indonesia jadi ustadz/ustadzah menanam ilmu keislamannya kepada masyarakat, biar bisa ikut berjuang mengembalikan masyarakat ini kepada Islam yang kaffah dan Al-qur’an dan hadist…
Hmmm…. Pas baca novel “Ayat-Ayat Cinta” dan “Ketika Cinta Bertasbih”, saya pengeeeen banget anak-anak saya –salah satu atau beberapanya- ada yang Lc (lulusan ceger… hehe….) maksud saya lulusan al-Azhar Mesir (ga harus Al-Azhar Mesir siiih), balik ke Indonesia jadi ustadz/ustadzah menanam ilmu keislamannya kepada masyarakat, biar bisa ikut berjuang mengembalikan masyarakat ini kepada Islam yang kaffah dan Al-qur’an dan hadist…
Aaaaamiiiinnn………
10. The last one…
Fakta
yang terakhir… Saya pusing nyicil tulisan ini ampe beberapa hari
(biasanya tulisan-tulisan saya sehari jadi, ga ada yang ampe
berhari-hari gini…)
Maklum
lah, kalo udah emak-emak gini, isi kepala udah beda ma yang
bujang-bujang. Pikiran penuh sama anak-anak, suami, nyari duit buat
makan dan cicilan utang (halah lebaaaaayyyy….)
Bahkan
suka merasa bersalah kalo jalan-jalan sendiri ato beli sesuatu untuk
diri sendiri. Jadi kalo menulis tentang diri sendiri? Beraaat….
(tapi
bisa panjang gini tulisannya… hehe… kalo itu mah bawaan orok, kalo
disuruh bikin karangan pasti bingung tapi pas udah jadi bisa
berlembar-lembar… qeqeqeqe….)
But thanks a lot to Wipy anyway…
Subscribe to:
Posts (Atom)








