Showing posts with label My Family. Show all posts
Showing posts with label My Family. Show all posts

Sunday, October 30, 2016

Terlalu asyik

Sudah hampir setahun semenjak anak-anak (dan abinya) mendarat di Inggris dan semenjak itu pula hidup saya 'penuh' dengan mereka. Jangan ditanya nilai-nilai (kuliah) saya, sangat jauh dari harapan... -_-"

Hidup di negeri orang pastinya jauh berbeda dengan hidup di kampung sendiri. Tidak hanya bahasa, tapi juga kebiasaan, makanan, suhu dan cuaca. Tak hanya itu, rutinitas sebagai ibu bekerja yang biasa pergi pagi pulang malam juga berubah drastis menjadi ibu rumah tangga yang nyambi jadi mahasiswa.

Tentunya saya sangat menikmati segala perubahan itu. Dapur yang dulu saya kunjungi hanya ketika weekend, sekarang hampir setiap saat saya selalu ada dan beraktivitas di dapur. Memasak menjadi keharusan dan sekaligus hobi baru. Cuaca yang dingin membuat perut selalu lapar dan waktu luang yang banyak (dan juga ke'hangat'an dapur ditengah suhu dibawah 10 derjat) membuat aktivitas memasak menjadi menyenangkan. Mencoba resep baru atau resep lama dengan bumbu yang 'seadanya' (baca: tersedia -soalnya rada susah nyari bumbu segar disini) menjadi rutinitas baru.

Antar-jemput sekolah anak juga menjadi rutinitas menyenangkan lainnya. Sungguh merupakan keistimewaan yang luar biasa ketika saya sempat (bahkan setiap hari) mengantarkan anak-anak ke sekolah, melepas mereka bermain dan menuntut ilmu. Ritual cium tangan dan peluk cium sebelum berpisah menjadi kebahagiaan dan kenikmatan tersendiri yang tak akan bisa saya lakukan ketika nanti balik ke Indonesia. Maka tiap pelukan dan kecupan selalu saya lakukan dengan sepenuh hati.

Aktivitas lain yang juga saya nikmati adalah shalat berjamaah dan 'obrolan' antara magrib dan isya. Di Indonesia saya biasa tiba di rumah sekitar jam 7 malam dengan kondisi letih penuh asap dan keringat. Nyampe rumah udah sisa-sisa tenaga. Tak pernah sempat shalat bersama anak-anak. Di sini, di masa ketika kuliah 'cuma' dari jam 9 sampe jam 3 atau 4 sore (itu pun ga tiap hari) dan jarak rumah-kampus cuma (paling lama) 30 menit jalan kaki (bisa lebih cepat lagi kalo naik sepeda), waktu luang bersama anak-anak berasa berlimpah. Tiap pagi ketika nganter sekolah bisa ngobrol, pun ketika sepulang sekolah di sepanjang jalan juga bisa nanya tadi ngapain aja dan mereka pun cerita segala macam. Sampai di rumah selalu kelaparan, biasanya saya buatkan 'cemilan berat' seperti pizza bikinna sendiri, bakwan, ubi goreng hangat, donat, kentang goreng, cake, dan lain-lain. Setelah itu shalat magrib, ngaji, trus shalat isya. Sebelum abinya dapat kerjaan, kami (hampir) selalu shalat bersama. Agak berat ternyata 'mengawal' tilawah dan hafalan anak-anak kalo diurus sendiri sebab sayanya juga ga disiplin. Nanti (kalo inget) akan saya ceritakan lain waktu.

Begitulah rutinitas saya sekarang yang menyebabkan saya 'lalai'. Lalai belajar, lalai menulis, lalai membaca... lalai semuanya. Saya terlalu asyik menikmati kebahagiaan langka ini...

Sekian dulu curcol dan 'pembenaran' kali ini. Mohon maklum dan terima kasih :D

Monday, May 30, 2016

Ke kampus umi

Ini kumpulan foto anak-anak yang saya ajak jalan-jalan ke kampus pas baru datang.

Di Cafe Library
Di lobby perpus

Ci luk baaa...!

Salah satu taman samping The Cafe Deli

Samping Alcuin Building

Taman dekat Alcuin Building
Pertama kali naik bus tingkat
Langsung pilih di atas paling depan

Welcome my love

Akhir Sepember 2015, saya berangkat meninggalkan orang-orang yang saya cintai. Suami, keempat bidadari, orang tua, sanak keluarga... Berpisah 15 ribu kilometer dari mereka sungguh berat untuk saya. Ini pertama kalinya saya bertualang sejauh dan selama ini...

Semenjak awal, sedari berniat ingin menimba ilmu di negeri seberang, saya sudah bertekad untuk membawa serta bidadari-bidadari tercinta. Mereka jualah sesungguhnya yang membuat saya berani melangkah, langkah yang teramat jauh ini. Mereka tak boleh tinggal lama.

Sebelum berangkat, saya dan suami akhirnya memutuskan mereka harus berangkat sesegera mungkin. 12 November adalah deadline pengajuan visa, sebab setelah tanggal itu aturan yang baru akan diberlakukan. Aturan yang membuat perjuangan untuk bersama akan menjadi semakin sulit (terutama karena ada tambahan deposit hingga hampir dua kali lipat dari yang sebelumnya), maka kamipun berusaha agar visa bisa keluar sebelum tanggal itu.

Mengurus visa tidak sulit sebenarnya, hanya saja aturan yang diterbitkan oleh negara tujuan membuat kita berhati-hati agar jangan sampai gagal (kalo gagal, untuk apply ulang membutuhkan biaya yang tidak sedikit). Ngisi form online juga tidak boleh sembarangan, karena negara maju punya basis data yang kuat. Salah input (apalagi sengaja) akan berbuntut panjang.

Submit berkas visa ke VFS center di Kuningan City
Setelah berkali-kali mengecek kelengkapan isian form, kadang agak ragu dengan isian (karena kurang paham atau takut salah mengerti data yang diminta), akhirnya submit juga. Untuk mengantisipasi deadline 12 November, kami mengusahakan agar visa sudah keluar sebelum tanggal itu (meskipun diaturan disebutkan tanggal itu adalah batas submit aplikasi) dengan meminta jalur "priority" (3 hari jadi). Alhamdulillah 10 November visa suami dan anak-anak granted.

5 Desember 2015, setelah segala tetek bengek, letih peluh dan air mata, alhamdulillah mereka selamat mendarat di Manchester Airport pukul 7 pagi waktu Inggris. Tak terlukiskan betapa bahagianya saya bisa memeluk mereka. Alhamdulillah ya Allah...

Baru nyampe di Manchester Airport, jaket dan syal udah saya siapin karena cuaca dingin banget
Di kereta dari Manchester menuju York


Wednesday, June 4, 2014

My Great Motivator

Masih tentang perjuangan meraih beasiswa...

Momen semenjak saya memasukkan berkas permohonan beasiswa menjadi peristiwa yang menjadi titik balik bagi kami berdua, saya dan suami. Kami sudah memimpikan dan merencanakan akan mencoba mengambil beasiswa luar negeri sejak lama.

Rencana adalah langkah awal. Menuliskannya dalam kertas menjadi penegas dan bukti bahwa kami benar-benar, sungguh-sungguh berniat untuk mewujudkannya. Dan memasukkan berkas permohonan, mengantarkannya ke bagian penerimaan berkas beasiswa, adalah action, langkah awal, langkah pertama yang saya jejakkan demi meniti tangga menuju mimpi yang setinggi bintang itu.

Lebih dari itu semua, ada satu hal lagi yang saya sadari, dan kemudian sangat saya syukuri.

Orang yang paling mendukung saya, motivator terhebat sepanjang masa, yang memaksa saya melakukan ini itu segera, bahkan menemani saya, senantiasa berada di sisi saya dalam setiap langkah, adalah suami saya. 

Pertama kali melihat pengumuman penawaran di web internal pegawai, saya langsung chat sama suami. 
"Bi, ada penawaran nih. Daftar ga?"
"Daftar aja mi!"
Berbekal izinnya, saya segera print pengumuman itu, ngumpulin satu-satu persyaratan yang diminta.
Setelah pengumuman pemanggilan peserta tes tertulis keluar, dia juga yang memaksa saya mendaftar kursus TPA -yang saya malas ikut karena berarti harus meninggalkan dede bayi (lagi) seharian penuh. Dia bahkan menemani saya ikut kursus yang kemudian ternyata sangat membantu saya menghadapi soal tes di hari-H. Dia juga yang nyariin aplikasi soal TPA full versi Bappenas yang didapatnya entah darimana.

Alhamdulillah, ternyata saya dinyatakan lulus tes tertulis. Hal yang sangat mengejutkan bagi saya. Tak menyangka, meski sangat berharap. Pada hari pengumuman, suami juga yang jam 10 malam membangunkan saya yang sudah tertidur pulas sehabis menidurkan dede bayi. "Mi, nama umi ada mi." Saya pun langsung bangun dan melihat sendiri unduhan pengumuman dari web pemberi beasiswa. 

Berikutnya, persiapan wawancara. Suami juga yang sibuk nanya sana-sini, nyari info sana-sini, menyemangati tiap hari, jadi temen diskusi jawaban apa yang paling tepat untuk setiap pertanyaan, bahkan jadi pewawancara ketika kami simulasi wawancara malam hari sebelum hari-H. Dia forward email berisi pertanyaan-pertanyaan yang biasa ditanyakan ketika wawancara, menelpon atau chat sama teman-temannya yang sedang atau sudah kuliah di luar negeri, bahkan berhasil menemukan seorang pegawai satu instansi yang sedang kuliah di universitas yang saya incar. Saya juga berhasil chat sama mas itu dan menggali info untuk persiapan wawancara.

Kayaknya suami lebih semangat dari saya. Padahal dia sendiri belum lulus S1-nya. Sudah mau skripsi, tapi karena sesuatu hal, skripsinya baru bisa mulai September mendatang, insyaAllah lulus Maret tahun depan. Karena kuliah atas biaya sendiri, jadi dia bisa langsung bisa melanjutkan kuliah S2 setelah wisuda.

Betapa saya bersyukur memiliki suami yang mendukung impian-impian saya, impian-impian kami. Banyak rekan-rekan yang lebih pintar dan punya potensi luar biasa, tak bisa lanjut pendidikan karena suami ga mendukung (meskipun saya memahami, mereka pasti punya prioritas yang mungkin berbeda dengan keluarga kami.)

Above all, rangkaian peristiwa ini -sekali lagi- adalah titik balik bagi kami berdua. Impian mengejar beasiswa dan kuliah di Eropa tampak semakin dekat dan jelas. Dengan lulusnya saya di tes tertulis kemarin, suami dan saya jadi semangat untuk meng-upgrade diri kami terutama skor TOEFL/IELTS dan TPA, agar jika saya lulus nanti, suami bisa langsung nyusul.

Kami punya rencana untuk kuliah bareng di universitas yang sama sambil membawa anak-anak. Entah lewat beasiswa ini atau yang lain. Yah, idealnya sih begitu.
Entah kemana nasib ini akan membawa kami nanti. Yang pasti kami terus berjuang dan berdoa. 
Kami tak tahu apa yang terbaik untuk kami. Jika ini baik, semoga Allah memudahkan dan melancarkan ikhtiar kami. Aaaamiiin ya Rabb...

for my great motivator, my lovely husband
Love you more than anything...

Wednesday, December 18, 2013

Lagi, tentang 3 bidadariku

Pengen cerita tentang 3 bidadari saya. Meski udah punya 4, tapi berhubung yang kecil masih 'anak bawang', jadi blom dulu yah :D

Iffah, Alif, dan Raisha. Tiga anak perempuan dengan cerita masing-masing.

Iffah, si sulung punya sifat ceria, panikan, senang bersosialisasi, tapi cuek dan

susah berkonsentrasi untuk waktu yang cukup lama. Nilainya cukup baik, dia kurang menunjukkan minat pada kegiatan belajar. Meski demikian, pelajaran yang paling disukainya adalah matematika. Paling ga suka pelajaran bahasa. "Abis susah," katanya. Jika ditawarkan mau pakai baju apa, dia akan jawab,"Terserah ummi..." Anaknya sangat pengalah. Jika benda miliknya diambil atau dirinya tersakiti, dengan mudah akan memaafkan. Kalau adik-adiknya menangis, dia akan membujuknya dengan "nanti dibelikan es krim, nanti kaka bawain apa dari sekolah, nanti kaka kasih apa..." Entah dari mana dia mempelajari cara itu :)

Alif lain lagi, meski kembar, karakternya seolah kebalikan Iffah. Alif lebih pendiam, tidak mudah dekat dengan orang baru, jarang senyum, penurut, mudah dimintai tolong (membereskan mainan misalnya), dan suka belajar. Dia tahan belajar membaca sampai berlembar-lembar (yang dia minta sendiri) sementara Iffah sudah bosan dan mengantuk pada baris kedua-nya. Nilainya bagus-bagus. Sifatnya yang perlu diubah adalah obsesifnya terhadap benda-bendanya, juga sifat suka menang sendiri-nya. Maunya begini begitu, termasuk soal pakaian. Meski sudah disiapkan pakaian misalnya, jika dia tidak suka, maka dia akan mengacuhkannya. Sulit membujuknya, dia punya kemauan/ego yang kuat. Yang bikin saya suka ga sabar sama Alif adalah sifat cengengnya. Jika sedih atau ketika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya, maka dia akan menangis dengan keras. Juga ketika malam hari, Alif paling sering terbangun malam hari dan langsung menangis dengan suara kerasnya membangunkan semua orang, namun tak menjawab jika ditanya. Kecuali itu, dia anak yang manis dan patuh.

Raisha, tadinya anak bungsu, sebelum dede Shofi lahir. Bulan-bulan pertama kelahirannnya, Raisha tidak menunjukkan kecemburuan. Setelah lewat 3 bulan, Abinya mulai jadi sasaran. Sifat cengengnya menjadi-jadi, tapi hanya kepada Abinya, yang senantiasa sabar meladeni kemanjaannya. Dibanding Alif, Raisha lebih sulit bersosialisasi dan cenderung pemurung. Perlu satu semester untuk bisa membuatnya enjoy sekolah di TK. Dia tidak menangis atau minta pulang, hanya tidak bisa berbaur bermain dengan teman-temannya. Sampai sekarang (satu semester menjelang masuk SD) dia belum bisa membaca, tapi jangan ditanya jika menghafal qur'an, semangat sekali. Jika Abi minta setoran, dia akan melantunkan hafalan dengan setengah berteriak. Guru-guru di TK juga bilang, Raisha bagus hafalannya. Sementara teman-temannya sering lupa hafalan yang dulu, Raisha tidak. Semoga kelak bisa jadi yang terdepan dalam menghafal qur'an ya nak.

Dan semua punya selera yang berbeda.
Alif suka warna pink, Raisha kuning, sementara Iffah suka sisanya.(Jika yang lain telah memilih, dia akan pilih warna yang tersisa atau warna apapun yang diberikan padanya)
Iffah suka roti keju bakar, Alif suka roti cokelat tanpa dibakar, sedang Raisha suka roti cokelat-keju dan dibakar.
Jika makan nasi dengan ayam goreng, maka Alif akan minta pake kecap, Raisha minta pake saos tomat, dan Iffah ga pake apa-apa.
Semua suka telur dadar. Raisha tidak suka telur rebus, Iffah suka putihnya sedang Alif suka semua.
Iffah senang memakai sepatu yang simpel, Alif senang sepatu kets, kalau Raisha senang sepatu-sendal.

Tak pernah habis cerita tentang anak-anak.
Karena mereka semua unik, karena mereka semua spesial :)



Tuesday, December 10, 2013

Welcome Shofi

Udah lama ga ngeblog. Lamaaaa sekali...
Ini kepala mulai 'penuh'. Emang harus nulis lagi nih :D

Lapor. Setahun kemarin saya hamil dan melahirkan.
Berikut cerita lengkapnya...

Saya dan suami memang sepakat untuk 'nambah' lagi. Naluri keibuan saya juga udah nagih pengen nggendong anak lagi.

Info berikut mungkin berguna untuk beberapa orang, siapa tahu bermanfaat bagi anda.
Jadi, setelah melahirkan anak ke-3, dede Rumaisha, saya langsung KB. Dan pilihan jatuh kembali ke KB suntik, karena sepertinya badan saya cocok dengan KB jenis ini. Muka ga item-item, ASI tetep lancar, badan ga jadi gemuk. Sampe tahun kemarin itu, total sudah 5 tahun lebih saya memakai kontrasepsi ini.

Efek memakai KB ini adalah saya ga haid-haid. Haid datang kadang 3 bulan sekali, kadang 6 bulan sekali, itu pun 'sekadarnya'. Orang bilang rahimnya jadi kering. Banyak temen yang pake KB jenis ini susah kalo mau punya anak lagi. Bahkan setelah berhenti suntik,. sang 'bulan' baru datang 6-8 bulan kemudian, bahkan lebih.

Setelah tanya-tanya, saya tahu bahwa KB jenis pil membuat rahim jadi subur. Sekali lupa minum pil akan berakibat "langsung dung' (katanya iklan). Maka kemudian saya pun konsul ke bidan di slah satu klinik dekat rumah. Ketika bilang akan berhenti KB, bu bidan menyarankan untuk KB pil dulu sebelum berhenti sama sekali. Berarti cocok lah sama keinginan saya. Saya pun minum pil hingga haid tiba.

Agak mual ketika beberapa hari minum pil. Ragu antara mual karena masuk angin atau karena memang sudah hamil, saya sempat bolak balik melakukan testpack (tentu saja hasilnya negatif). Hingga kurang lebih dua pekan kemudian saya pun haid dan KB pun (baik pil maupun suntik) saya hentikan.

Kira-kira 2 bulan kemudian saya positif hamil. Tentu saja saya dan suami bahagia, termasuk kakak-kakaknya, semua menantikan kedatangannya. Hamil yang ketiga ini tak sesulit yang pertama, tapi juga tak segampang yang kedua. Mual (dan muntah) di trimester awal, tapi mereda di trimester berikutnya. Alhamdulillah hamil yang ketiga ini bisa saya lewati dengan sukses.

Hingga tiba waktu akan melahirkan. Karena sudah merasa pengalaman 2 kali melahirkan (yang alhamdulillah lancar), saya agak takabur (na'udzubillah) di kali yang ketiga ini. Allah menakdirkan lahiran yang ketiga ini adalah lahiran terlama dan tersulit dibanding 2 lahiran sebelumnya. 'Ala kulli hal, saya tetap bisa melahirakan dengan normal dan selamat.

So, welcome dede Shofiyah Mutmainah Firmansyah, demikian kami memberinya nama. Sekarang dede sudah 6 bulan. Semoga jadi mujahidah yang shalihah ya de ^_^


Friday, September 7, 2012

Celoteh



Si kembar Alif dan Iffah yang tahun ini masuk TK B, sering mengajukan pertanyaan dan pernyataan yang di luar dugaan.
Kadang pertanyaan mereka begitu lucu dan kritis, yang bikin pusing mikir jawabannya.

Seperti malam ini, setelah cerita tentang nabi Musa yang membelah laut...
Iffah : Umi waktu lahir tanggal berapa alif-iffah?
Umi  : Waktu kaka alif-iffah lahir?
Iffah : iyaa
Umi  : tanggal 30 april
Iffah : emangnya umi waktu itu perutnya gendut?
Umi  : iya, alif iffah kan masih di dalam perut umi...
Iffah : Trus keluarnya dari mana?
Umi  : Hahaha....
Iffah : Koq umi ketawa? emang iffah keluarnya dari mana?
Alif  : dari perut ya?
Umi (msh tertawa)
Iffah : emang keluarnya darimana umiii?
Umi  : iya, ada yang dari perut...
Alif  : Emang perutnya di robek?
umi  : hahahaha....
Umi : mmm... nanti aja ya kaka iffah, kalo kaka iffah udah besar nanti umi kasih tau (ngeles...)
Iffah : waktu esde?
Alif  : waktu kuliah?
Umi : ^_^

Atau percapakan barusan...

Alif  : Umi waktu penganten, alif diundang ga?
Umi : Waktu penganten sama abi?
Alif  : iyaaa...
Umi : Kan kaka Alif belum ada.
Alif  : Koq ga ada? Emang kaka Alif ga diundang?
Umi : Bukan, kaka Alifnya belum ada... (bingung nyari jawabannya)
Alif  : Kenapa belum ada? Emangnya kaka alif masih di perut?
Umi : Bukan
Alif  : Emang kaka Alif ilang?
Umi : Hahaha... kaka Alif belum ada...
Alif  : Koq umi ketawa? emang kaka Alif ilang?
Umi : bukan...
Iffah: Dimana umiiii?
Umi : ????
dan pertanyaan ini diajukan berkali-kali (sepertinya penasaran sekali) hingga saya mengalihkan pembicaraan ke yang lain, menyuruh mereka membaca doa sebelum tidur... ^_^

Selain pertanyaan lucu, ungkapan mereka juga sering lucu.
Saya termasuk yang sulit berimprovisasi, sehingga sering kali dongeng sebelum tidur saya bawakan sambil membaca buku. Tapi tampaknya iffah lebih suka kalo saya bercerita tanpa membaca buku. Mungkin bahasanya lebih fleksibel, ditambah ekspresi dan intonasi yang tak dibuat-buat, tidak seperti ketika membaca bahasa buku yang kaku.
Dan dia selalu meminta dengan,"Umi, iffah mau cerita yang dalam hati, tapi ga baca buku, tapi ada suaranya."
:)

Thursday, September 6, 2012

'Indonesia vs Laos' dan Menantu Papa

Tadi malam telah berlangsung pertandingan sepakbola piala AFF di Gelora Bung Karno Senayan. Dengan skor 6-0 Indonesia boleh bergembira dengan kemenangan telak ini.

Saya ngga mau membahas gimana jalannya pertandingan. Ngga nonton juga. Hanya suami yang teriak-teriak sendiri di depan teve ketika saya -seperti biasa- ngendon bobo'in anak-anak di kamar sampe mereka (dan seringnya saya juga) tertidur ^_^.

Hanya saja ketika balik ke kamar saya, tiba-tiba sudah ada tanda bergambar amplop di hp saya (tanda ada sms masuk). Ternyata dari papa. Isinya bikin saya bingung sebenernya, tapi kemudian baru ngeh setelah bertanya sama suami.

Mau tau isi sms-nya?
"Nina nonton bola ga? Mantu papa hebat-hebat ya, yang pertama tadi Firman menggolkan. Yang kedua Ridwan." (setelah ditranslet ke bahasa indonesia dari bahasa minang)

Sebagai informasi, di pertandingan tadi malam, gol pertama dilakukan oleh Firman (Utina) dan gol kedua oleh Ridwan, yang keduanya adalah juga nama menantu pertama dan kedua Papa... (suami saya dan suami adik saya) 

hehehehe....

2010

Mudik 2010

Tahun ini kami sekeluarga ngga mudik ke Payakumbuh. Sempat ada rencana mau mudik tahun ini karena mama begitu ingin bertemu cucu-cucunya. Tapi ya... karena satu dan lain hal, akhirnya diputuskan tidak mudik tahun ini. InsyaAllah tahun depan, semoga Allah memberikan rejeki yang banyak dan kami bisa pulang kampung.

Waktu masih bujang, mudik adalah satu hal yang wajib (bagi saya). Nelangsa banget kaya'nya kalo lebaran sendirian. Tapi setelah berkeluarga, ada satu yang berubah -bagi saya tentunya, entah bagi yang lain. Mudik tidak lagi menjadi sesuatu yang penting menurut saya, karena keluarga saya ya disini, di rumah saya. Suami tercinta dan bidadari saya tersayang. Berkumpul bersama mereka ketika lebaran sudah menjadi kebahagiaan terbesar saya.

Bukannya saya ga rindu sama ortu yang ada di kampung, tapi entahlah... ya itu tadi, ada sesuatu yang bergeser posisinya...
Misalnya ketika hendak memutuskan siapa dan siapa aja yang berangkat, yang lain di jakarta saja... hmmm... no, no, no... berangkat satu berarti harus berangkat semua. Ada yang hilang, ada yang kurang, kalo keluarga ini tak lengkap. Tidak akan benar-benar fun dan menyenangkan jika ada anggota yang kurang.

Mudik bagi saya -sekarang- menjadi tidak terlalu penting lagi (bukannya tidak penting lho ya, hanya saya derajat ke-penting-annya bergeser...hehe). Yang penting kumpul bersama keluarga saya, kemudian silatuhrahim ke saudara-saudara yang dekat, itu saja sudah cukup.
Ya kalo ada rejeki, mudik ke Payakumbuh bisa diusahakan. Pesen tiket jauh-jauh hari, suami tunda cuti tahun ini dan tahun depan untuk lebaran tahun depan, nabung untuk beli oleh-oleh... Rencananya yang mateng lah pokoknya. Mudah-mudahan tahun depan kami bisa kumpul sama oma dan datuk di Payakumbuh dan bersilaturahim bersama keluarga besar saya di ranah minang.

Sekarang... lagi siap-siap beli bahan buat bikin rendang dan opor. Bikin ketupat susah sih, jadi pake nasi ajah...

oya, jangan lupa memanfaatkan menit-menit terakhir Ramadhan ini untuk dimanfaatkan seoptimal mungkin ya. Semoga Allah mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan penuh berkah tahun depan.

Untuk temen-temen yang mudik, semoga perjalanannya lancar, mudah, murah, selamat sampai tujuan, dan silaturahimnya terjalin erat. (Baliknya jangan lupa oleh-olehnya dibagi-bagi yaaaaa ^_^)

My Happiness

Alhamdulillah...
Di sudut hati yang paling dalam saya amat bersyukur
Siang ini dosen yang harusnya memberi mata kuliah di kelas saya mengatakan (baca: ngirim sms ke ketua kelas) tidak bisa hadir lebih kurang 45 menit sebelum kuliah berlangsung, setelah 3 jam saya (dan beberapa teman) menunggu di kelas sambil searching bahan di internet, baca bahan materi yang memang disuruh baca oleh sang bapak, ato sekedar main game, blog walking, browsing, dan sekedar muter musik.
Karena ga enak ma temen-temen, saya ikut berpartisipasi mencak-mencak (hehehe...) dan ngedumel sekenanya.
Padahal sebenernya saya seneng banget.

Terbayang beberapa jam sore ini akan saya habiskan bersama anak-anak. Mandiin, make baju, siapin makan, nyuapin, mungkin juga bakalan ngajak main sambil belanja ke Superindo deket rumah (deterjen, susu, dll udah pada habis)...

Dengan hati riang saya segera menuju ke parkiran, memacu motor setengah ngebut menuju rumah (soalnya bensin menipis). Bayangan akan pulang sebelum maghrib langsung hilang, sekarang juga saya bisa bertemu mereka...

Sampe di rumah, saya disambut Dede di depan rumah. Rasanya rindu sekali bertemu dengan wajah lucunya. Begitu selesai parkir motor, buka jaket dan tas, saya langsung memeluk tubuh kecilnya dan menciuminya bertubi-tubi. Alhamdulillah... rinduku lepas sudah.

Si kembar masih tidur siang... Ah, apa yang mereka lakukan tadi di sekolah? Kangen sekali mendengar mereka bercerita dengan semangat. Biarlah, sabar sebentar...

Ah, saya tau ini terdengar lebay. Saya tidak habis pergi dinas luar atau habis dari luar kota. Tadi pagi saya masih sempat membuat Alif-Iffah bekal dan sarapan sebelum berangkat kuliah. Tapi kadang kita perlu mensyukuri apa yang ada. Seringkali, terutama minggu-minggu belakangan ini, saya (sok) sibuk sekali dengan kegiatan kampus. Entah itu kuliah yang ga jelas jadwalnya (kadang menunggu sekian lama di kampus untuk mendengar kabar dosen ga bisa datang), atau untuk rapat-rapat atas nama da'wah yang mengharuskan saya pergi jam 6 pulang jam 6. Saya berusaha menjalaninya dengan ikhlas.

Tapi tentu saja ikhlas tak selalu mudah. Ketika mewakafkan diri ini untuk da'wah terasa berat. Kadang memang godaan setan begitu besar diiringi iman yang sedang turun, membuat ikhlas terasa begitu sulit.

Ah, biarlah saya menikmati waktu yang ada ini bersama bidadari saya (nyambi ng-MP... hehe...)

Menjelang Lima Tahun

Beberapa hari lagi (tak terasa) saya dan suami sudah menjelang lima tahun pernikahan kami. Kata orang (ni kata orang lho), lima tahun pertama pernikahan adalah masa adaptasi terberat. Jika 'lancar' melewati lima tahun pertama, insyaAllah lancar seterusnya. Begitupun sebaliknya.

Entahlah, mungkin benar mungkin juga tidak, tentunya tergantung masing-masing pasangan, dan setiap pasangan punya masalah dan kondisi masing-masing yang berbeda.

Lima tahun, bukan waktu yang sebentar, meskipun sekarang 'terasa' cepat berlalu. Rasanya baru kemarin cium tangannya waktu akad nikah, sekarang udah punya 3 bidadari kecil yang udah besar (apa sih?). Lima tahun berlalu, rasanya masih banyak dari dirinya (suami) yang belum saya kenal (selama ini kemane aje?). Ya begitulah... ta'aruf selalu. Saya kira saya telah mengenalnya, hingga suatu ketika saya terkejut atau tidak menduga tindakannya... Ya, namanya juga baru lima tahun...

Alhamdulillah, pada dasarnya kami punya banyak kesamaan, terutama masalah tujuan, visi dan misi hidup. Perbedaan hanya ditemukan untuk hal-hal yang tidak prinsip. Beberapa hari yang lalu kami melakukan evaluasi sekaligus planning keluarga, semacam raker keluarga lah (rapat kerja). Mulai dari mengingatkan kembali tujuan, visi-misi, rencana jangan pendek sampai panjang, tentang segala hal, mulai dari pendidikan, keuangan, sosial-kemasyarakatan, pengembangan individu (PSDM), rencana karier dan pendidikan umi-abi, sampai masalah yang paling penting dan sensitif, yaitu masalah komunikasi. (Alhamdulillah banyak ganjalan-ganjalan yang terselesaikan ketika membicarakannya dengan kepala dingin, hati tenang dan penuh cinta ^_^). Berhubung anak-anak masih kecil, jadi sementara raker kami lakukan berdua saja. InsyaAllah ketika anak-anak sudah bisa diajak dialog, kami akan mengikutkannya dalam rapat keluarga selanjutnya ^_^.

Banyak hal yang kemudian kami (saya dan suami) sepakati dan berazzam melakukannya, demi mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, dan da'wah. Semoga kami bisa istiqomah menjalaninya... Amiiin...

Menjelang lima tahun pernikahan, ada banyak harapan baru. Biarlah kesalahan yang telah lalu, peristiwa buruk masa silam, akan sirna seiring bergulirnya sang waktu.

Selamat datang masa depan...

Amanah


Setiap kali memandang wajah mereka di desktop komputer kantor, setiap kali itu pula saya menyadari betapa saya belum menunaikan tugas saya sebagai ibu dengan optimal.

Begitu banyak kesalahan saya, waktu yang tidak saya manfaatkan dengan baik, manajemen rumah tangga yang belum bisa dibilang baik, peran pendidik yang belum saya laksanakan maksimal...

Bukannya saya tidak bersyukur... MasyaAllah... Betapa saya bangga kepada mereka. Usianya baru 3,5 tahun, tapi Alif Iffah sudah bisa beberapa doa pendek, surat pendek, hampir selesai Iqro 1...

Ini bukan tentang mereka...

Ini tentang saya, ibunya, yang belum bisa memaksimalkan peran saya sebagai ibu mereka... 

Hhhh... Semoga saya belum terlambat, sebelum mereka kenal dunia lain...

Ah, rasanya saya belum jadi 'dunia' mereka...

Banggakah mereka terhadap saya? (entah kenapa saya merasa jawabannya = 'tidak')

Entahlah...

(lagi nelangsa...)

Monday, September 3, 2012

Catatan 4 Tahun Perjalanan



 

4 tahun yang lalu,

 Saat aku masih bertanya dalam hati ketika pertama kali melihatmu melalui pasfoto 3x4,”Inikah orangnya ya Allah?”
Saat mengenalmu dalam forum malu-malu tanpa pertanyaan itu…
Saat membawamu ke hadapan Papa yang kemudian bertanya,”Apa yang membuatmu memilih anakku?”
Saat Mitsaqan Ghalizha itu diiringi tangisku…
Saat pertama kali seumur hidupku dipanggil “Ade” dan “Sayang”
...
Dan hari-haripun berlalu…
Menyelami dalamnya hatimu
Menjalani hari-hari gila bersamamu
Merasakan indahnya cintamu
Hati cerah, penuh tawa, dan ceria
Kadang juga kelam menghampiri, air mata, dan pelukan
Dan 3 bidadari pun diamanahkan pada kita
Rumah yang penuh teriakan dan tawa
Kadang juga khawatir dan sedih dengan sakitnya
Alhamdulillah kita mampu menghadapinya bersama dengan senyuman
...
4 tahun bersamamu
Terimakasih Allah, telah menjadikanku tulang rusukmu
InsyaAllah aku bersedia menjalani seribu tahun lagi (asal) bersamamu…
 ^_^ 

Thursday, August 30, 2012

Sabar yang berbuah manis

Ini cerita tentang si bungsu di keluarga saya, adik saya yang nomor tiga, Nia.
Lulus SMA tahun kemaren, seperti orang-orang pada umumnya dia ikut SPMB, ikut tes STAN juga, STIS juga (kalo ga salah). Tapi emang belom rejeki, tidak satu unversitas pun yang bisa dimasukinya.
Waktu tau ngga lulus mama bilang,"Ya ngga apa-apa. Masa Allah ngasih rejeki sampe 3 kali. Mama udah persiapan koq kalo pun Nia harus masuk swasta." Begitu kira-kira tanggapannya, soalnya dua kakaknya, saya dan adik saya Ami alhamdulillah masuk perguruan tinggi yang gratis dan langsung kerja pula (saya STAN, Ami STIS), makanya beliau tidak terlalu berharap Nia akan lulus juga.
Akhirnya, setelah berbagai pertimbangan dan keputusan yang terburu-buru (saya sih pengennya Nia masuk universitas yang lebih 'bagus', mumpung dah di Jakarta) Nia mendaftarkan diri ke UPN Pondok Labu. Memang relatif dekat dengan rumah saya, jadi bisa tinggal sama saya.
Jurusan yang dipilih adalah Akuntansi. Saya sudah bilang akuntansi cukup berat, dan saya tidak merekomendasikannya masuk jurusan itu. Tapi dia ngotot.
Akhirnya pas mau UTS semester satu ini, Nia stress berat, ngga ngerti akuntansi (karena SMA-nya dulu dari IPA) dan ngerasa ngga bisa ngerjain ujian nanti. Sampe minta berenti kuliahnya sama Mama.
Singkat cerita, Nia tetap bertahan setelah saya berjanji akan mengajarinya akuntansi (ya smt 1 masih bisa lah ^_^ kalo smt 3-4 saya nyerah deh hehe), dan juga nasehat dari berbagai pihak (hehe)
Selesai UTS, kaya'nya Nia mulai stabil. Mulai enjoy dengan kuliahnya, juga teman-temannya (agak sulit memang menyesuaikan diri dengan anak-anak jakarta yang beda kultur).
Dan... perjuangan berbuah manis.
Kemarin adalah pengumuman IP smt 1. Dan tahukah berapa IP Nia? 3,72 !
Wow, saya aja ngga pernah dapet IP setinggi itu. Tak lupa saya membalikannya hadiah sepulang saya dari kantor kemarin.
Semoga IP-nya minimal stabil-lah sampe lulus nanti.
Hmm... sebenernya rencananya Nia tetep pengen nyoba tes STAN lagi tahun ini. Pengennya sih lulus lah. Tapi kalo engga juga ngga papa. Yang ini dijalani dengan baik.
Sesuatu yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah, tapi baik menurut Allah pasti baik untuk kita.


Jakarta, Februari 2009

Episode Raisha


Sebenernya saya sendiri lebih seneng nama “Khadijah” atau “Fathimah” untuk namanya si dede waktu kami lagi nyari-nyari nama, tapi si abi lebih seneng sama “Rumaisha”, jadi sayanya ngalah. [Lagian alesannya karena nanti panggilannya pasti ‘icha’ atau ‘chacha’ yang notabene nama pasaran (ya kan?) dan biasanya nama begitu anaknya manja (ga semua sih ya…)] Lagian Rumaisha binti Milhan alias Ummu Sulaim, shahabiyah yang namanya kami ambil, profilnya luar biasa. Ngga kalah sama Ummul Mukminin Khadijah ra dan Fathimah az-Zahra. Lengkapnya baca di sini aja ya…

Kemudian untuk namanya keduanya kami pilih “Hanifah” sebagai doa baginya agar selalu di jalan yang hanif/lurus. Kemudian dinasabkanlah kepada abinya. Tadinya kami (saya dan suami) juga sempat sepakat akan menasabkan semua anak kami kepada “Mujahid/Mujahidah”, namun dengan saran dari berbagai pihak akhirnya dinasabkanlah kepada ayahnya. Memang seharusnya begitu…
Karena nama abinya adalah “Firmansyah” maka hampir semua kata anak-anak kami jadi punya akhiran ‘ta marbutho’ semua. Coba liat saja nama mereka :
AfifAH MujahidAH FirmansyAH
AlifAH ShalihAH FirmansyAH
Rumaisha HanifAH FirmansyAH
Tuh kan?!
^_^ Ga sengaja lho… hehe…
Oiya, tadi kan mau cerita tentang raisha…
Setiap anak pasti punya ke-khas-an masing-masing. Tidak bermaksud membandingkan satu sama lain. Semua anak unik dan punya memory sendiri, terutama bagi ibunya.
Awalnya saya ngga ngerasa hamil, karena tidak ada perubahan dalam tubuh saya, misalnya mual, muntah, pusing, seperti yang biasanya dialami orang yang sedang hamil muda. Cuma agak heran karena koq udah 3 minggu ngga haid (baru sadar waktu udah 3 minggu? Parah yak?!) Saya kemudian beli test pack dan ternyata positif. Beberapa hari kemudian -untuk meyakinkan- baru periksa USG ke dokter kandungan, dan ternyata memang sudah ada makhluk lain itu di dalam perut saya. Saat itu usianya sudah 9 minggu!
Tidak ada keluhan berarti selama kehamilan, Cuma kalo laper aja suka pusing. Lainnya? Ga ada. Bener-bener beda sama pas hamil si kembar (ceritanya puanjang… lain kali ya… sekarang giliran dede icha dulu). Sampe-sampe saya kuatir kenapa-napa pas lahiran (kata orang sih begitu… Kalo pas hamilnya ‘berat’ pas lahirannya lancar, kalo hamilnya lancar lahirannya yang ga ‘lancar’. Entahlah… Wallahu a’lam.)
Namun saya membuktikan mitos itu tidak benar. Si dede ‘hanya’ membuat saya sakit selama 4 jam saja (ya dibanding ibu lain yang sakit seharian bahkan ada yang berhari-hari, tentu saja saya "hanya ..... saja"). Lahiran juga normal, dengan berat 4 kg! Dan saya hanya dapet 2 jahitan saja!
Juga tidak ada keluhan setelah lahirnya, baik saya maupun Icha. Nilai APGAR 9/10, sehat, rambut tebal, semua oke, plus tambahan : cantik ^_^. Ini Icha umur 2 hari, udah kaya’ bayi 2 bulan ya?
ASI lancar sehingga saya bisa menggenapkan ASI eksklusif selama 6 bulan, dan insyaAllah akan menyapihnya di usianya yang kedua. Amiiiin…
Raisha juga bukan bayi yang cengeng, bahkan jarang menangis kecuali lapar atau pipis atau ada yang sakit, itu juga hanya merengek. Pernah datuknya (papa saya) nginep di rumah selama 3 hari dan komentar,”Koq datuk ngga pernah denger Raisha nangis ya?” Saking jarangnya dia menangis. Dia juga ngga pernah sakit. Dalam usianya yang sudah 9 bulan, Icha belum pernah muntah, sakit panas, atau masuk angin.
Semoga  Raisha selalu jadi anak yang menyenangkan mata dan hati umi dan abi ya nak…
Semoga Allah selalu menjagamu, memberi kesehatan, petunjuk, dan menjadikanmu anak yang shalilhah mujahidah hanifah, taat kepada Allah dan Rasulullah…
Amiiiinnn…

While you were sleeping

Salah satu hobi saya, mengabadikan momen-momen unik dengan hp.



Berikut hasil jepretan saya, khususnya wajah-wajah tidur bidadari saya.
Foto disamping, malam itu iffah dan alif baru aja nyobain baju batik yang baru saja saya belikan. Malamnya si kembar bobo dengan posisi yang pantas diabadikan... hehe...


 



Kalo yang ini, saya bingung, koq ga bisa diputer ya? (alias di 'rotate')
jadinya mohon maaf kalo kebalik.
(kepalanya jangan ikutan miring bu!...hehe...)







Ini Iffah bener-bener bobo lho!
Iffah memang suka tidur tengkurap, palagi kalo ada guling, pas ti dipeluk...




 

Korban berikutnya adalah Alif! Ga perlu dijelasin lah ya...
hehe...



Last but not least...

Dede Raisha lagi bobo. Mimpi lagi terbang ya de?







NB: Sebenernya juga ada foto bidadara saya (alias si abi tersayang lagi bobo), tapi buat konsumsi pribadi saya ajah yah... ^_^V

Ahlan wa Sahlan ya Rumaisha!

3 bulan sudah usia mujahidah ketigaku. Sekarang bidadariku sudah bisa tertawa, sudah bisa diajak ngobrol juga. 

10 April 2008.
Beberapa hari yang lalu perutku sempet mules, rasanya sakit sekali, persis seperti mau melahirkan. Awalnya panik, tapi segera kuatur napas, tenangkan pikiran. Tak sampai 5 menit sakit berkurang, kemudian hilang. Kutunggu berjam-jam kemudian tidak sakit lagi. Ternyata his (kontraksi) palsu –mungkin karena barusan aku nyuci baju tanpa mesin cuci.

Hari ini seharian di celana ada noda coklat (dulu waktu Iffah-Alif ga kaya’ gitu. Belakangan baru tau kalo ternyata itu memang tanda-tanda mau melahirkan). Jam setengah 9 sehabis makan malam bareng suami, terasa seperti pecah ketuban. Langsung kuberitahu si abi. Untungnya pecah ketubannya ngga langsung banyak. Aku langsung ganti baju, trus tiduran supaya air ketubannya tidak keluar, sementara abi beres-beres (barang-barang yang harus dibawa ke RS). 

Sekitar jam setengah 10 kami sampai di RS. Setelah itu perawat yang ada di ruang bersalin menyuruhku duduk di tempat tidur. Sempat menunggu agak lama –dengan baju basah penuh air ketuban- barulah aku dibawa ke ruang USG, setelah sebelumnya ditanyai dan diambil darahnya oleh perawat dan dokter yang sedang co-ass. Alhamdulillah dokter jaganya perempuan, orangnya cantik, lembut,  dan ramah sekali. Katanya bayinya masih sehat, air ketubannya masih bening dan masih cukup banyak. Setelah itu dipasangkan alat (aku lupa namanya) untuk mendengarkan denyut jantung dan pergerakan janinku (yang hasil print-annya seperti pencatat gempa alis seismograf). 

Ada hal lucu waktu itu. Jadi waktu pengambilan darah pertama kali oleh seorang dokter co-ass, ternyata darah yang dibutuhkan kurang. Akhirnya –setelah meminta maaf- darahku diambil lagi oleh temannya sesama co-ass di tempat yang berbeda. Dengan pasrah kuberikan tanganku untuk disuntik sekali lagi. Kejadian terulang lagi saat pencatatan denyut jantung memakai alat seperti seismograf tadi. Setelah semua selesai, ternyata sang dokter bilang bahwa waktunya kurang, harus ditambah 5 menit lagi. Akhirnya dengan menyesal si calon dokter ini –bukan co-ass yang tadi- memasangkan alat tsb lagi ke perutku. Ya, memang begitu resiko kalo menggunakan jasa RS yang bekerja sama dengan institusi pendidikan, pasti penuh dengan ‘calon-calon’ perawat dan dokter yang sedang co-ass yang tentunya tidak sepengalaman perawat/dokter aslinya.

Setelah semua pemeriksaan awal selesai, akhirnya aku di suruh masuk ke ruang bersalin, dan ganti baju yang basah penuh ari ketuban. Dokternya bilang udah bukaan 2. Belum terasa sakit waktu itu…

 11 April 2008
Jam 12-an kontraksinya mulai terasa.
Jam 1-an perutku mules sekitar 15-10 menit sekali (waduh, kaya’nya diinduksi nih…) Si abi selalu ada di sisi, nemenin ngobrol, nyuapin makan apa yang bisa dimakan (persiapan tenaga buat lahiran), menyerahkan dengan pasrah tangannya untuk diremas (dengan kuat sampe sakit) kalo kontraksinya mulai lagi…

Jam 2-an, kaya’nya udah 5 menit sekali. Baru ngatur nafas bentar udah kontraksi lagi. MasyaAllah… Sholeh sudah ngga sabar pengen ngeliat umminya. “Ya Allah, aku ridho atas sakit ini, asal Engkau ridho padaku ya Allah… Ampuni segala dosaku ya Allah…”

Jam 3, susternya meriksa karena aku sudah tak tahan lagi. Ku tahan sakit dengan menangis. “Sudah bukaan 7”, kata susternya. “Mungkin 2 atau 3 jam lagi keluar.” 2-3 jam lagi? Sakit sekali ya Allah… Ku kuatkan diriku. 

3.15, tak tahan sakitnya aku menangis. Kupegang tiang penopang botol infus sekuat-kuatnya. Terdengar suara ‘byur’ seperti kantong plastik penuh air pecah jatuh di lantai. Ya Allah… air ketuban sudah pecah. Segera si Abi memanggil suster dan dokter jaga. 

3.30, adiknya si kembar lahir. Hanya dengan 3-4 kali mengejan si dede keluar dengan tangis pertamanya. Setelah di potong ari-arinya dan dibersihkan cairan yang ada di mulut dan hidungnya, si dede langsung di tengkurapkan di dadaku. Biar nyari ASI sendiri, kata susternya. Masih berlumur ari ketuban si dede udah langsung mimik ASI. Beberapa saat kemudian barulah bayiku di bawa untuk dimandikan dan ditimbang, juga dinilai APGARnya  (Alhamdulillah nilainya 9/10)

Tidak seperti waktu lahiran si kembar dimana rahimku langsung bersih, sekarang rahimku masih banyak darahnya. Bahkan sampai jam 6 pagi, suster dan dokternya masih membersihkan rahimku yang darahnya belum keluar semua. Sakit sekali waktu dokternya ‘mengorek-ngorek’ rahimku. Tidak bisa langsung istirahat, padahal rasanya udah capeeek sekali…

Pagi-pagi akhirnya dokter bilang udah ngga ada perdarahan. Alhamdulillah…
Badan rasanya capeeeek sekali. Kucoba untuk tidur, kupejamkan mata, tapi ngga bisa. Terlalu capek. 

Si abi pulang buat ngambil perlengkapan bayi yang kemaren belum sempat dibawa. Suntuk, kemudian ku telpon adikku di Payakumbuh, nyari temen buat ngobrol…
Bahagia, senang, capek, excited, beban (amanah), takut, khawatir, semua perasaan campur aduk.

Setelah bertemu dengannya untuk yang kedua kalinya (ah… ummi udah kangen sekali nak…) dan menggendongnya untuk pertama kalinya, alhamdulillah dia cantik sekali, sehat (gemuk sekali karena beratnya 4 kg!), dan sempurna (lengkap fisik dan panca indranya).

Kami beri namanya RUMAISHA HANIFAH FIRMANSYAH.


Jakarta, Juli 2008

episode syukur

Ini sedikit cerita waktu Iffah dirawat 4 hari di rumah sakit bulan Januari lalu.

Waktu itu Iffah masuk ke kamar kelas 2 yang isinya ada 4 orang (maklum, untuk orang tuanya yang masih golongan II, jatah Askesnya ya di kelas 2). Waktu itu kamar terisi penuh, sudah ada 3 penghuni lainnya. Iffah dapet tempat tidur yang berada di belakang pintu masuk.
Anak yang tempat tidurnya persis di sebelah Iffah pulang pada hari yang sama saat Iffah masuk. tak sempat cerita-cerita.

Anak yang tempat tidurnya berhadapan dengan Iffah, laki-laki, umurnya sekitar dua setengah tahun. Selalu ditemani ayahnya. Ibunya lebih banyak di rumah karena baru saja melahirkan adiknya yang baru berumur satu bulan. Awalnya, hanya kejedot yang menyebabkan kepalanya memar membiru. Namun birunya ngga hilang-hilang, sehingga orang tuanya mencoba periksa ke dokter. Singkar cerita, setelah di periksa ini-itu, dokter mengatakan ada indikasi Ravi menderita leukimia (untuk memastikan dokter menyuruh Ravi melakukan pemeriksaan tertentu -saya lupa namanya apa). Masya Allah... Anak sekecil itu harus menderita penyakit seberat itu. Wallahu a'lam...

Di sebelah Ravi ada Rina yang sudah hampir 3 minggu berada di rumah sakit tsb, dan belum ada tanda-tanda akan pulang. Rina juga ditunggui oleh ayahnya yang sabar sekali. Tadinya Rina kena demam berdarah. Beberapa hari pertama suhu badannya hampir selalu di atas 40 derajat cekcius, selalu berada di ruang High Care. Setelah panasnya turun, beberapa hari kemudian dokter mengatakan ada infeksi di paru-paru Rina. Tak lama perut Rina membuncit, dan kata dokternya usus Rina bengkak. Terakhir -kata ayahnya- ada indikasi virus demam berdarahnya sudah sampai ke otak.  Tak seperti Ravi yang masih bermain, berlari kesana kemari, Rina selalu di tempat tidur. Kalo mau keluar juga harus di gendong ayahnya. Alhamdulillah -entah apa yang dokter katakan kepada orang tuanya- Riba pulang ke rumah pada hari yang sama dengan kepulangan Iffah.Tepat di depan Rina, seorang anak laki-laki masuk dua hari menjelang Iffah pulang. Kena sakit demam berdarah.

Waktu jalan-jalan di koridor (karena Iffah sering tidak betah di tempat tidur, maunya main di luar terus) aku juga bertemu dengan beberapa orang ibu yang anaknya ternyata juga masuk rumah sakit karena kejang demam. Anak yang menempati posisi sebelum Iffah juga kena kejang demam. Hanya saja (cerita dari ayahnya Ravi) si anak itu kejang lagi tak lama masuk rumah sakit. (Padahal dari perawat dan dokter rumah sakit, juga dari artikel-artikel yang aku baca, dalam jangka waktu 24 jam setelah kejang pertama sebaiknya si anak jangan sampai kejang lagi. Aku dan si abi juga di wanti-wanti supaya Iffah jangan sampai kejang lagi)
Ada juga seorang ibu yang menggendong anaknya yang belum berusia dua tahun. Setelah ditanya, ternyata anaknya menderita asma. (Duh... aku ngga bisa ngebayangin gimana waktu si anak ini sesak nafas... Ngga tega... Kalo aku jadi ibuya mungkin udah nangis terus). Dan banyak lagi cerita-cerita lainnya...

Cerita-cerita yang membuat aku terus bersyukur dan bersyukur. Alhamdulillah... Begitu banyak hikmah dan pelajaran yang Allah berikan melalui peristiwa ini. Semoga kita termasuk hamba-Nya yang senantiasa bersyukur...

Salah satu cara bersyukur atas kesehatan yang Allah berikan adalah dengan menjaganya. Namun jika Allah berkehendak menguji kita dengan mengambil ni'mat sehat itu, semoga kita termasuk ke dalam golongan hamba-Nya yang bersabar...

Jakarta, Februari 2008

Titik Balik

(Tulisan ini dibuat ketika Iffah, sulung saya, masuk rumah sakit karena kejang demam)

Buatku saat itu adalah sebuah titik balik.

Malam itu, sudah malam kedua Iffah panas. Aku ngga terlalu mengganggap hal itu serius karena siangnya Iffah udah main lagi. Kadang Iffah -juga Alif- suka panas tapi segera turun besoknya, jadi aku anggap itu hal yang biasa. Waktu itu, sepulang dari kantor, Iffah lagi di gendong sama neneknya (ibu mertuaku). Katanya Iffah panas. Malamnya Iffah tidur denganku, sedangkan Alif tidur sama neneknya.

Badannya memang panas sekali. Ngga mau ditaruh, maunya digendong terus. Aku ingat pernah baca bahwa salah satu cara uintuk mengurangi panas badan anak adalah dengan menempelkan kulitnya ke kulit kita (ibu) sehingga panasnya pindah ke tubuh kita. Maka malam itu beberapa kali kulakukan jika Iffah sedang kugendong. Badannya panas sekali.... tapi aku tidak begitu kuatir, hanya berharap panasnya segera turun (karena sekitar jam 8 malam itu sudah diberi minum obat penurun panas). Sekitar jam 4 lewat, aku merasa capek dan Iffah digendong abinya. Aku mencoba untuk tiduran sebentar. Sampai kulihat tiba-tiba Iffah kejang-kejang.

Ya Allah... Langsung aku berdiri, mengambil Iffah dari gendongan abinya...
Entahlah... Aku tak tahu harus bagaimana. Yang jelas waktu itu aku panik sekali. Kugendong Iffah sambil menangis, tak tau harus berbuat apa.

Berkali-kali aku bisikkan ke telinganya,"Astaghfirullah... Sayang... Iffah..." Perasaan bersalah yang begitu dalam, merasa ini semua kesalahanku. Wajah Iffah yang sedang tak sadar begitu terpatri dalam pikiranku.
Tak lama, kejangnya berhenti, tapi sepertinya Iffah masih belum sadar. Kupanggil-panggil namanya, tapi ia tetap membisu. Aku tak tahu harus bagaimana. Ku telpon mama di Payakumbuh. Bawa ke rumah sakit, katanya (kebetulan mama seorang bidan). Segera kuganti baju, masukkan ke tas apa2 yang kira-kira perlu, abi langsung ngeluarin mobil. Pagi itu, jam setengah 5 pagi aku langsung bawa Iffah ke RS terdekat.
Sepanjang perjalanan, kupanggil terus nama Iffah. Dia hanya diam, tak menyahut, juga tidak menangis... Aku bingung sekali.

Rumah sakit sudah dekat akhirnya Iffah merengek, menangis tapi tidak keras. Kupanggil namanya, ia melihat ke mataku. Waktu itu hatiku lega bukan main. Iffah juga melihat ke abinya waktu abinya yang lagi nyetir manggil namanya. Alhamdulillah ya Allah...

Sampai di pintu ICU sebuah rumah sakit swasta, aku berlari masuk sambil menggendong Iffah yang terkulai lemas di bahuku. Perawatnya langsung menanyakan kenapa dan memanggil dokter jaga yang berada di dalam. Setelah Iffah ditimbang dan dipasang oksigen, Iffah lalu diberi obat anti kejang (yang dimasukkan lewat anus). Ia tetap tak mau ditaruh. Selama di ruang ICU, ia kugendong terus sampai ia tertidur (kata dokter, obatnya memang bikin ngantuk)

Sementara abi pergi mengurus administrasi dan keperluan lainnya, aku pun bertanya ke dokter tentang keadaan Iffah. Kenapa, bagaimana, apa yang harus dilakukan kalo terjadi lagi, dan lain-lain. Tak lama abi kembali dengan membawa kabar kurang baik. Ruangan penuh. Iffah harus dibawa ke rumah sakit lain. Segera, mobilpun meluncur ke sebuah rumah sakit pemerintah dengan berharap semoga saja masih ada kamar untuk Iffah. (Karena ini kejang yang pertama kali untuk Iffah maka dokternya merekomendasikan untuk rawat inap dulu.)

Alhamdulillah, ada kamar untuk Iffah. Di Instalasi Gawat Darurat rumah sakit itu, Iffah diberi infus, diambil darahnya, dan di rontgent. Tetap tidak mau ditidurkan. Akhirnya digendong terus dengan aku duduk di lantai (karena botol infus harus tinggi, kalo duduk di kursi darahnya keluar lewat selang infus dan cairan infus tidak bisa masuk ke darah.) Pagi itu, sekitar pukul tujuh, aku -dengan Iffah tidur di bahuku- diantar ke ruangan rawat inap menggunakan kursi roda. Di kamar, barulah Iffah mau ditidurkan.

Peristiwa itu kuanggap sebuah teguran dari Allah buatku. Wajahnya yang tak sadar tak pernah lepas dari pelupuk mataku. Meskipun perut besar (karena hamil 6 bulan) kalo Iffah pengen digendong, selalu kugendong Iffah kemanapun pergi. Serewel apapun dia, secapek apapun badan ini, semua kuhadapi dengan sabar. Benar-benar tak lagi mampu untuk 'sekedar' ngomel apalagi marah. Yang ada hanya perasaan bersalah yang begitu mendalam... Ya Allah...

Alhamdulillah, hanya 4 hari di rumah sakit, Iffah sudah diijinkan pulang. Dokter juga tidak 'titip pesan' apa-apa, kecuali selalu siapin obat anti kejang di rumah karena kemungkinan kejangnya akan berulang sampai usia 5 tahun (artinya Iffah benar-benar 'hanya' kejang demam, tanpa penyakit lain, benar-benar hanya karena demam yang terlalu tinggi. Alhamdulillah...)

Sejak peritiwa itu, mungkin juga dengan bertambahnya usia kehamilan yang berarti semakin stabilnya emosi, aku tak pernah lagi memarahi Iffah juga Alif. Selalu sabar dengan kerewelannya... (ah, dia hanya minta perhatianku...) secapek apapun badan ini...

Iffah... Alif... Maafin ummi ya nak...

Ya Allah, ampuni aku... terimakasih telah menegurku...

(Allahummaghfirlii waliwaalidayya kama rabbayani shaghiiraa... Ya Allah, sayangilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil. Itu doa untuk orang tua yang diajarkan pada kita, juga anak-anak kita. Aku takut, seandainya Allah benar-benar menyayangiku sebagaimana aku menyayangi anak-anakku di waktu kecil, bagaimana jadinya nasibku kelak... Sedangkan sayangku kepada anak-anakku cuma sebatas itu...
Ampuni aku ya Allah... Engkau Maha Penyayang... Sayangilah kedua orangtuaku melebihi kasih sayang mereka diwaktu kecilku...)



Jakarta, Januari 2008