Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Monday, March 2, 2015

Sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil

Sepulang dari kantor, senin sore menjelang malam.
Seperti biasa aku sempatkan menggendong Sofi begitu masuk rumah. Kurasakan kepalanya agak panas ketika ia menempelkan keningnya di leherku. Tapi aku ngga begitu memperhatikan.

Senin malam.
Sofi masih ceria seperti biasa. Ia tidur pukul 8 seperti biasa di kamar anak-anak.
Pukul 11 malam pintu kamarku diketuk Nur, pengasuh Sofi, sambil menggendong Sofi.
"Umi, Sofi panas. Dari tadi bangun terus."
Ternyata tidurnya tidak nyenyak.
Sampai jam 2 malam Sofi ku gendong, ia tidur dibahuku. Malam itu aku tidur di sebelahnya hingga pagi.

Selasa pagi.
Sofi masih ceria seperti biasa, cuma badannya mulai anget. Aku ijin dari kantor dan pulang, lihat perkembangan. Sampai di rumah Sofi tambah panas. Ku minumkan paracetamol sirup yang memang selalu ada stoknya di rumah. Ku tambah juga dengan madu. Hingga sore panasnya naik turun. Sofi pun mulai rewel, maunya di gendong terus. Aku pun mulai khawatir.

Selasa malam Sofi ga mau tidur di kasur. Semalaman ia hanya mau ku gendong, tidur dibahuku. Sofi ga mau kalo aku pake kain gendongan. Ia juga marah jika aku duduk. Hanya tenang jika aku menggendongnya, memeluknya sambil berdiri. Ia selalu terbangun ketika aku mencoba menidurkannya di kasur. Jika Sofi sudah benar-benar lelap, pelan-pelan aku duduk di kasur dengan bersandarkan bantal, tidur memeluknya sambil duduk. Begitu terus sampai pagi.

Rabu aku putuskan untuk ambil cuti 3 hari. Sofi sedang membutuhkanku. Kebetulan kamis libur, jadi ada bonus satu hari untuk menjaganya.

Sofi tidak mau makan apapun, kecuali kerupuk kesukaannya, itu pun hanya sesekali. Perkedel yang biasanya dia suka, tak mampu membuatnya membuka mulutnya untuk makan. Sudah dua setengah hari Sofi panas dan rewel, hanya mau digendong, tak mau berjalan dan bermain. Rewelnya bertambah maunya, digendong terus. Sesekali ia mau digendong Nur atau abinya, tapi segera mencariku lagi. Badanku pegal sekali, tapi kuikuti semua kemauannya.

Terkadang entah kenapa ia jadi rewel sekali, menangis dan merajuk tahan berlama-lama. Digendong ke sini ga mau, ke sana dia teriak. Ditawari minum susu ga mau, minum air putih apalagi. Badanku letih dan pegal. Kadang tak sabar dan pengen marah, tapi aku selalu berusaha mengingat doa untuk orang tua.
"Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira.
Ya Rabb, ampunilah dosaku dan kedua orang tuaku dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil."


Alhamdulillah kamis siang Sofi terlihat agak ceria mulai mau jalan sendiri, tak lagi digendong. Pagi tadi masih agak anget, tapi setelah dzuhur hingga ashar, badannya mulai tak lagi panas. Kamis sore sudah mau main susun-susun balok sama kakak-kakaknya. Alhamdulillah, aku tak perlu membawanya ke dokter anak. Meski masih rewel dan masih pengen terus di gendong, kamis malam Sofi udah ga panas lagi.

Jika tak sabar dengan anak-anak, aku selalu mematrikan kalimat doa untuk orang tua itu ke dalam ingatanku. Aku tau kasih sayang Allah kepada hambaNya tak terbatas. Tapi doa itu membuatku tercenung. Aku tak dapat membayangkan jika Allah akan menyayangiku SEBAGAIMANA aku menyayangi anak-anakku. Betapa aku belum menjadi ibu yang shalihah, yang sabar atas semua tangisnya, yang tetap menyayanginya meski tingkah lakunya membuat kesal...
Aku masih sering marah kepada anak-anakku. Bukan karena aku tak menyayangi mereka tapi karena aku tak mampu mengontrol amarahku.

Sakitnya Sofi kemarin mungkin yang paling meletihkan dibanding ketiga kakaknya. Jika Iffah, Alif, atau Raisha sakit, mereka masih mau tidur di kasur, masih boleh menggendong dengan kain gendongan, masih mau digendong orang lain, masih boleh sambil duduk. Tapi sakitnya Sofi kemarin
betul-betul menghabiskan energiku. Tapi -karena sudah anak ke-4- emosiku sudah bisa diajak kompromi. Jika dulu masih ngga bisa kontrol amarah, sekarang -meski sedih, khawatir, dan letih- aku masih bisa menahan emosi jika ia sangat rewel.

Allah... sayangilah aku, meski aku belum menjadi ibu yang baik untuk anak-anakku...


2 Maret 2015
Edisi mellow jadi orang tua

Monday, November 17, 2014

Defining Moment

Hampir 5 bulan saya mengikuti diklat persiapan ke luar negeri di kampus STAN. Dua pekan lagi saya akan menyelesaikan diklat ini, and then I'm on my own.

Banyak yang saya pikirkan, banyak yang telah terjadi, banyak juga yang telah berubah. 
Selama di asrama, jangan pikir saya selalu bersemangat. Ada kalanya, saya merasa sedih, gundah, takut, dan gamang. Menerima beasiswa ini kayak makan kaviar (mungkin), begitu masuk mulut -meski ga suka rasanya- harus dimakan karena sayang harganya mahal banget. Saya ga punya pilihan untuk mundur, sekalinya masuk, harus terima segala konsekuensinya. 

Nginap di asrama dan pulang 'hanya' dua kali seminggu itu berat buat saya. Saya punya 4 anak perempuan dan salah satunya masih bayi. Masih setahun umurnya tapi saya terpaksa menyapihnya. Saya juga harus merepotkan orang tua saya, yang saya minta untuk tinggal bersama saya, yang kemudian menjadi 'pengganti' saya di rumah. Setiap hari, bukan saya yang membangunkan mereka, yang menyiapkan bekal mereka, bukan saya juga yang nemenin mereka bikin pe-er, membacakan bed time stories, menuntun mereka baca doa sebelum tidur, menidurkan si baby, atau pergi ke sekolah ketika ada acara. Hal ini sering kali membuat saya sedih, terutama ketika tahu mereka -suatu kali- sakit, dan saya tidak ada di sisi mereka...

Ketika sedih saya sering berpikir, apakah ini worthed? Apakah kuliah ke luar negeri ini benar-benar keinginan saya demi mereka? Ataukah ini cuma mimpi egois saya untuk bisa dikenal sebagai lulusan luar negeri, demi karir, jabatan, uang, popularitas, ingin berbeda, ingin dikenal dan diingat sebagai seorang yang sukses, dll? Sukses bagi siapa? Sukses apa? 

Pikiran-pikiran ini sering membuat saya ingin menyerah. Anak sakit dan saya tidak bisa pulang, yang ada di pikiran saya hanya ingin bersama mereka di rumah, jadi ibu rumah tangga yang baik, yang penting saya selalu ada buat mereka. Lepaskan saja semua ini, tak ada yang lebih penting bagi saya kecuali anak-anak! Lebih baik saya di rumah saja, bisa masak untuk mereka, nganter mereka sekolah, ada kapan saja untuk mereka... 

...

(ketika sampai titik ini, komunikasi dengan suami, kadang juga beberapa teman, selalu membantu...)

Kemudian saya mencoba berpikir apa dibalik semua ini. 

Allah lah yang Maha Menentukan, dan kita hambaNya tidak lain hanya melakukan semua kehendakNya. Allah yang menakdirkan nama saya ada di dalam daftar penerima beasiswa ini, tentu Allah juga telah menggariskan juga jalan dan cara menuju kesana. Allah juga yang telah memberikan segala kemudahan. Mama dan papa sudah pensiun dan ga keberatan untuk tinggal di rumah saya, dengan senang hati berdekatan dengan cucu-cucunya dan ngurusin anak-anak (dan semuanya). Rumah yang dekat dari asrama, jadi bisa pulang dua kali seminggu (atau kapan saja jika keadaan darurat, hanya butuh sekitar 60 menit naik angkot). Beberapa teman ada yang dari semarang, makassar, surabaya, dll yang hanya bisa pulang dua pekan bahkan dua bulan sekali dengan ongkos sendiri. Ah, betapa beruntungnya saya...

Kuliah di luar negeri juga berarti kesempatan bagi saya untuk bisa mengajak anak-anak merasakan tinggal di negeri orang. Pengalaman yang tak tergantikan dan -mungkin- sekali seumur hidup. Saya ga mungkin ngajak mereka jalan-jalan ke luar negeri karena jika punya uang pun saya akan gunakan untuk yang lain, dan kali ini bahkan gratis! Banyak hal yang bisa diambil anak-anak ketika berinteraksi dengan orang asing dan hidup di tempat asing. Bahasa -tentu saja- penting untuk menghadapi globalisasi, keberanian menghadapi sesuatu yang baru, latihan beradaptasi, kebiasaan (attitude) orang asing yang bermanfaat, petualangan yang mungkin ga bisa didapat di Indonesia, dan banyak lagi. Ga banyak orang diberi kesempatan seperti yang sedang saya alami sekarang...

Saya juga ingin anak-anak mencintai ilmu dan ini adalah salah satu kesempatan saya untuk memberitahu dengan efektif bagaimana sejatinya seorang yang mengejar cita-citanya. Saya ingin anak-anak semangat belajar dan pada akhirnya kelak jika saatnya tiba, mereka tidak akan ragu melanglang jauh mengejar ilmu dan mewujudkan cita-cita mulianya.

Kemudian saya sampai pada kesimpulan bahwa ini adalah takdir saya. Allah menakdirkan apa yang baik untuk saya menurutNya, dan saya harus percaya bahwa ini memang baik untuk saya dan keluarga saya. Allah juga telah membentangkan banyak sekali kemudahan untuk saya dan keluarga atas ketentuanNya ini. Maka kenapa kemudian saya harus mundur dan menyerah?

Takdir saya berada di jalan ini sekarang, dan ini yang terbaik. Takdir lain bukan untuk saya, dan saya ga perlu mengkhawatirkan apa tidak terjadi bagi saya. Saya hanya perlu menjalani peran ini dengan sebaik-baiknya hingga Allah menunjukkan hikmahNya bagi saya dan orang-orang yang saya sayangi...


Bintaro, 17 November 2014
Di tengah rinai hujan yang menginspirasi

Wednesday, June 11, 2014

Impianmu, bukan impianku...

Ada yang agak 'mengganjal' hati saya beberapa hari terakhir.

Banyak saudara, sahabat, teman, kenalan, yang tahu dan yang saya beritahu mengucapkan selamat kepada saya soal kelulusan saya. Bukan itu masalahnya.

Dari semua ucapan yang tulus itu, saya tiba-tiba tercenung dengan kata,"Mba menginspirasi sekali"

Saya akan senang-senang saja jika itu diucapkan teman-teman saya yang laki-laki (artinya dia terpacu dan menjadi bersemangat untuk belajar ke luar negeri). Tapi saya agak 'terganggu' jika kata itu keluar dari seorang ibu, seorang istri. 

Karena pengumuman itu (yang di-upload di web internal instansi saya sehingga semua pegawai bisa mengetahui), tiba-tiba semua orang mengatakan mereka ingin menyusul saya. Bukannya saya tidak ingin menjadi inspirasi banyak orang, tentu itu suatu penghargaan yang sangat tinggi bagi saya jika saya benar-benar menginspirasi orang lain -dalam hal yang baik tentunya. Bukan itu... 

Ini masalah impianku, bukan impianmu.

Mimpi saya memang kuliah di luar negeri, karena saya ingin jadi dosen kelak suatu hari nanti. Hanya dengan kuliah lagi saya bisa jadi dosen mahasiswa S1. Karena itu juga mimpi suami saya, maka kami klop, maka kami kemudian saling mendukung, tak peduli siapa duluan. Allah pasti akan memberikan jalan, petunjuk, juga kemudahan, jika kami meniatkannya untuk kebaikan.

Jika kuliah di luar negeri juga menjadi mimpimu, aku akan mendoakanmu semoga kamu dimudahkan dalam mencapainya. Pastikan itu benar-benar mimpimu, bukan mimpiku, bukan mimpi orang lain.

Kadang kita melihat mimpi orang lain begitu indah, begitu dekat, sehingga kita juga ingin seperti mereka. 

Saya agak ngeri membayangkan ibu-ibu muda itu kemudian tergesa-gesa memutuskan sesuatu yang kemudian akan mereka sesali di kemudian hari. 

Ini bukan tentang meraih impian. Ini tentang mendefinisikan impianmu.
Aku sudah mendefenisikan impianku, impian kami (saya dan suami).
Kalian harus mendefinikan impian kalian sendiri.

Menjadi lulusan luar negeri memang terlihat keren, tapi belum tentu cocok dengan passionmu.
Menjadi pejabat kadang terlihat luar biasa, tapi tak perlu menjadi pejabat untuk bisa jadi luar biasa.

Khusus saya tulis untuk teman-teman perempuan saya.
Banyak hal yang akan dikorbankan untuk meraih sebuah mimpi. 
Pastikan mimpi itu PANTAS kalian raih.
Pastikan juga, belahan jiwa kalian memiliki impian yang sama, karena ridhanya adalah kunci kebahagiaanmu. Ridhanya adalah syurgamu...

Friday, September 7, 2012

Nostalgia



Kemarin baru saja bongkar-bongkar lemari, nyari SK CPNS  yang tiba-tiba saja tidak ada di dalam tas berkas tempat saya biasa menyimpan berkas-berkas penting. Alhamdulillah akhirnya nemu selembar SK CPNS yang meski udah agak kumal, menyebabkan saya ga jadi ke kantor untuk minta berkas itu. Nah, ga sengaja, saya menemukan buku diary saya dulu. Untuk nostalgia, saya pun membacanya dengan khusyu' :P

Kebetulan ini buku diary ini adalah buku yang saya tulis ketika saya dulu selesai kuliah. Ada cerita magang, prajab, penempatan defenitif, masa-masa penantian, masa-masa galau, dan yang paling menarik ada cerita taaruf, nikah, dan beberapa saat setelah nikah, lebih dari enam tahun yang lalu... (tulisan terhenti ketika saya akhirnya mengikuti suami ke kota Gorontalo, dan sepertinya setelah itu saya ga punya buku diary lagi. Hingga sekarang...)

Sambil membaca, teringat kembali betapa masa-masa peralihan dari kuliah ke bekerja, mungkin menjadi masa yang paling berat bagi saya. Saya merasa tidak cukup sukses melaluinya, meskipun akhirnya saya masih bisa 'bertahan' hingga detik ini. Adaptasi yang sangat sulit saya rasakan, karena karakteristik dunia kampus dan dunia kerja yang begitu berbeda. Da'wah kampus VS da'wah birokrasi + da'wah sya'biyah. Masa peralihan itu benar-benar sulit... 

"Berbulan-bulan, bahkan sampai sekarangpun aku masih dalam rangka beradaptasi. Adaptasi yang buruk, menurutku. Sebab, sangat jauh menurun. 
Semuanya... semuanya... 
Seperti orang yang ada dalam ruang hampa yang gelap, tak ada cahaya, tak ada tempat bergantung, tidak pula untuk berpijak, hanya melayang tak tentu arah... Tak jelas.
Sesekali aku terbangun.  Tapi biasanya tak berlangsung lama. Sesekali tersadar, namun segera 'hilang' kembali."
(Whoa... parah juga ternyata saya dulu ya? hehe...)

Dan tentu saja, yang paling menarik adalah ketika membuka kenangan kembali masa-masa peralihan dari lajang ke 'menjadi istri orang'. Deg-degannya ketika terima biodata, malunya taaruf, persiapan pernikahan yang ternyata begitu complicated, iman yang naik turun, galau pranikah, tangisan ketika akad nikah, percakapan pertama dengan suami, romantisme pengantin baru, hingga cerita LDL sampe akhirnya mutasi ikut suami...

Ada satu halaman yang membuat saya sedikit tercenung. Di halaman itu, saya tersadar bahwa episode kehidupan saya akan segera berubah (bakti yang selama ini diberikan kepada ortu beralih kepada seorang lelaki asing). Sore itu, setelah shalat ashar, saya mengangis tersedu-sedu, sendirian, lamaaaa sekali. Sebelumnya baru saya menelpon mama-papa tentang pernikahan. Rasanya sedih sekali meninggalkan mama-papa yang baru saja saya coba bahagiakan.

"Belum setitik apa yang ingin kuberikan untuk membalas apa yang telah mereka berikan padaku. Seandainya melajang seumur hidup itu diperbolehkan, mungkin aku akan melakukannya biar aku bisa sekuat tenaga hanya untuk mereka dan adik-adikku. Sungguh..."

Setelah enam tahun lebih menikah, memang bakti itu tidak sepenuhnya terputus. Masih banyak jalan untuk membahagiakan mereka. Namun harus saya akui, dalam banyak hal, saya memang banyak melupakan mereka (pikiran penuh dengan suami dan anak-anak). Di sisi lain, mama-papa merasa pintu rejekinya lebih terbuka lebar ketika cucu pertamanya lahir. Semoga kita masih diberi kesempatan untuk mencoba membahagiakan mereka, karena membalas apa yang mereka telah mereka lakukan adalah hal yang mustahil. Setidaknya dengan membuat mereka bahagia dan bangga (semoga) kita dapat memperoleh ridha-Nya...

#masih melow dengan kenangan lama :)

Ulat

Barusan saya masak sayur sup (atau sup sayuran?). Dengan kentang, wortel (tentu saja), buncis, dan kembang kol, lengkap dengan irisan bakso biar enak dikit. Waktu lagi motong kembang kol, tiba-tiba ngelihat seekor ulat yang lumayan besar, dan masih hidup. Untungnya saya bukan tipe ibu-ibu yang takut ulat (hehe...) jadi ulatnya tinggal dimasukin ke tempat sampah pake ujung pisau.

Biasanya ketika menemukan hal yang tidak diinginkan, misalnya ulat dalam sayur, kita langsung melihat sayur menjadi jelek. Ulat memang bukan yang kita harapkan ada di sayur yang akan kita olah. Tapi setidaknya kita kemudian jadi tahu, bahwa sayur ini memiliki kadar racun pestisida yang kecil bahkan mungkin tidak ada (setidaknya masih dapat ditolerir oleh si ulat). Kalo ga ada ulat, bisa jadi pestisidanya udah kebanyakan sampe ulat pun ga bisa nemplok di sayurnya.

Juga ketika misalnya anak kita deket banget sama pembantu. Kebanyakan ibu bekerja, yang otomatis punya waktu yang terbatas, sering merasa sangat cemburu kepada pembantu yang memang sehari-hari bersama anak-anak. Menjadi yang pertama kali datang ketika ia menangis, mengurusi semua kebutuhannya, dsb. Pastilah tidak ada ibu yang suka dengan keadaan ini.

Tapi jika kita lihat lebih jauh, seharusnya kita bersyukur punya pembantu seperti itu. Pembantu yang sungguh-sungguh menyayangi anak-anak kita seperti anak/adiknya sendiri. Pembantu yang dapat kita amanahkan kepadanya anak-anak kita, yang dapat kita titipkan tanpa rasa waswas. Seharusnya kita menjaga hubungan baik dengannya, bukannya malah kemudian sering memarahinya karena rasa cemburu itu. Tinggal si ibu yang harus memperbaiki hubungan dengan anaknya sendiri. Meski tidak dapat menggantikan kuantitas kebersamaan, setidaknya anak merasakan kehadiran kita kapanpun, meski kita tidak bersamanya. Misalnya dengan menelponnya ketika di kantor, membacakan dongeng ketika akan tidur, dll...

Kadang kita salah memandang suatu masalah. Mungkin karena ketidakpahaman kita, ilmu yang kurang, atau karena assimetric information, memandang dari 'kacamata' yang sempit. Belajarlah dari pengalaman, jangan malas mencari ilmu, dan dewasalah.

Wallahu a'lam...

Thursday, September 6, 2012

Maka Lepaskanlah

Alkisah, adalah seekor kera yang begitu tergiur melihat setoples kacang. Dengan asumsi si toples dalam keadaan terbuka, si kera pun segera memasukkan tangannya ke dalam toples yang pas sekali seukuran tangannya.

Dia pun mengambil satu biji untuk mencoba. Wah, ternyata enak sekali! Dia pun dengan semangat memasukkan kembali tangannya untuk mengambil sebanyak-banyaknya kacang dalam genggamannya.

Namun apa yang terjadi? Tangannya tidak bisa dikeluarkan! Genggamannya terlalu besar untuk bisa melewati mulut toples. Dan satu-satunya cara untuk bisa keluar adalah... dengan melepaskan genggamannya, melepaskan kacang-kacang menggiurkan, atau dia tidak akan dapat mengeluarkan tangannya apalagi menikmati kacangnya.

Ya, ini hanya cerita berhikmah. Mohon maaf jika redaksinya tidak begitu menarik :) Semoga hikmahnya bisa diambil.

Kadang untuk bisa melewati kesulitan, kita harus melepaskannya. Maka lepaskanlah, agar bisa lega.

Belakangan saya sedang merasa terkungkung oleh sesuatu. Punya keinginan yang besar, tapi saya harus bekerja sama dengan orang lain untuk mewujudkannya, tidak bisa sendiri. Dan ternyata menggambarkan visi kepada oranglain tidaklah mudah. Ketika saya begitu bersemangat ingin begini begitu, ternyata oranglain tidak, kemudian saya menjadi kecewa.

Maka saya harus melepaskannya. Membiarkan orang lain bekerja sebagaimana mereka mau. Saya sudah melakukan yang harus saya lakukan. Then let them do their best. Nanti tinggal mengapresiasi dan menghargai apapun hasilnya...

Mungkin saya yang terlalu 'ikut campur'... hehehe...

Saatnya untuk melepaskan ^_^

(sebenernya cerita di atas sering dipake untuk tema 'memaafkan', tapi gapapa lah, masih nyambung kayaknya)

Tentang Berserah

Ada waktu-waktu dimana kita begitu bergantung kepada Allah
(meskipun sebenarnya setiap saat kita senantiasa bergantung padaNya).
Bergantung kepadaNya terhadap hal-hal yang diluar kuasa kita.
(meskipun sebenarnya juga, semua hal berada di luar kuasa kita ^_^)

Adalah wajar ketika kita, setelah berusaha sedemikian rupa terhadap sesuatu, ingin hasil yang seperti kita inginkan. Hasil yang –setidaknya menurut kita- pantas untuk kita dapatkan sebagai balasan atas ikhtiar kita.

Setelah berusaha belajar mati-matian dan berharap lulus dengan nilai terbaik…
Setelah bekerja banting-tulang mencari rejeki dan berharap mampu menghidupi keluarga dengan berkecukupan…
Setelah berikhtiar mencari suami/istri dan berharap mendapat suami/istri yang cantik wajah dan hatinya, yang shalih/ah, yang bersamanya berharap menjadi partner menggapai ridhaNya…

Namun adalah pula suatu kemestian, bahwa segala sesuatu tidak luput dari ketentuan Allah.

Semua telah Allah tuliskan dalam Lauh Mahfuz dan tinta telah mengering. Maka akan tenang hati seorang hamba jika setelah ia berikhtiar, ia berserah atas semua keputusan/hasil yang ditentukan Allah atasnya, kehidupannya…

 “Setiap bencana  yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikannya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.” (Q.S. Al-Hadiid: 22-23)

Ia Maha Mengetahui apa-apa yang baik untuk kita, sedangkan kita tidak. Kita hanya menduga bahwa itu baik untuk kita, seringnya kita ‘sok’ tahu, begitu yakin, bahwa apa yang kita lakukan/dapatkan itu baik untuk kita. Padahal sejatinya tidak.

Seringkali kita berdoa agar Allah memberikan  yang terbaik. Padahal Allah selalu memberikan yang terbaik. Hanya kita yang tidak atau belum ridha atas apa yang Dia tentukan untuk kita.

Ridha, adalah tingkatan yang lebih tinggi dari sekadar cinta. Keridhaan kita terhadap apa yang Ia tentukan untuk kita, adalah pembuktian cinta kita kepadaNya. Ridha terhadap apa yang yang paling baik untuk kita sesungguhnya, sebenar-benarnya, seandainya kita bisa ‘melihat’ hikmah dibalik ketentuannya, yang kadang tidak kita sukai.

Berserah, terhadap apa yang sesungguhnya baik untuk kita, kebaikan sejati itu, tidakkah sesungguhnya merupakan hal yang mudah?

:)

Ujian masing-masing

Hari ini baru saja bersilaturahim dengan seorang teman dan mendapat cerita tentang si kecilnya yang belum genap 4 bulan terpaksa pake susu tambahan. 
Seorang teman yang lain baru kehilangan janinnya yang berusia  8 minggu, inna lillahi wa inna ilaihi raaji'uun... 
Teringat juga teman yang lain yang masih menanti buah hati sembari terus berikhtiar agar ia segera hadir. 
Teman yang lain sedang menunggu kelahiran buah hati sementara kakaknya belum lagi genap satu tahun.

Setiap orang mendapat ujiannya masing-masing.

Dan Allah tidak pernah memberikan ujian di atas batas kemampuan kita.

Dia selalu memberikan yang terbaik untuk kita. Hanya kita yang seringkali tidak ridha atas pemberian itu.

Aku tahu Engkau pasti memberikan yang terbaik ya Allah, maka berilah aku kelapangan hati, kekuatan untuk menjalani ketentuanMu ya Rabb, kesabaran dan keikhlasan dalam setiap desah nafas, hingga Engkau meridhaiku...

Amiiiin....

(Teriring doa kepada ukhti fillah, semoga Allah senantiasa memberikan kesabaran dan keberkahan dalam setiap langkah...)

Thursday, August 30, 2012

Senandung Biduan Jalanan

Sejak si abi kuliah, dari hari senin sampe kamis aku tidak lagi pulang maik motor. Tidak ada cerita kantor, obrolan ringan (maupun berat) sepanjang perjalanan pulang, waktu dimana kami hanya berdua saja (soalnya kalo di rumah ada anak-anak... ^_^)

Well, bukan itu yang mau saya bahas...

Menu wajib kopaja dan metro mini, tidak lain adalah para pengamen. Mengais rejeki dengan mengumandangkan satu atau beberapa nyanyian demi mengharap rupiah dari penumpang yang mungkin lebih beruntung.

Polahnya juga bermacam-macam. Namanya juga jakarta, ide yang ga ada habisnya, demi bertahan hidup. Mulai dari yang suaranya memelas, lembut alias lemes menghiba, nyanyi seadanya dengan perlengkapan gitar, harmonika, plus drum-drum'an, ada yang pake rebana, atau hanya berbekal botol aqua kecil yang di isi beras. Yang agak 'serius' biasanya pake tape + speker + mic sehingga bisa denger musiknya lengkap (kaya' karaoke gitu). Nah, yang terakhir ini biasanya dapet banyak, karena suaranya bagus, ngga ngasal, kadang nyanyi beberapa lagu yang lagi "in"...

Seperti yang kutemui kemaren. Seorang gadis kecil dengan seorang bapak ngamen di bus yang kunaiki. Awalnya ga gitu perhatian. Mukaddimah seperti biasa (selamat siang, bapak2, ibu2, mohon maaf jika kami mengganggu... bla..bla...), terkejut begitu mendengar intro lagunya. Lagunya "Kaulah Segalanya" by Ruth Sahanaya (kebetulan pernah jadi lagu favoritku). Buset, nih orang lagunya boleh juga... Agak ragu dia bisa mencapai nada tinggi di reff-nya ngga ya? Dan ternyata berhasil saudara2... Tanpa kedengeran maksa, dia nyanyinya nyante banget... (udah sering kali ya...)

Masuk ke lagu kedua, langsung tau dari intronya, ni lagunya samson "Kenangan Terindah". Pertama si bapak yang nyanyi dengan suara bass-nya dan dilanjutkan dengan mulus oleh gadis itu pas di reff.

Lagu terakhir, juga enak didenger, salah satu lagu dari Ungu (saya lupa judulnya)... Dilanjutkan dengan mengedarkan kantong plastik untuk mengumpulkan receh demi receh sampai penumpang paling belakang. Kulihat hampir semua tangan mengambil kesempatan memasukkan koin atau seribuan ke dalam kantong si gadis, termasuk tanganku.

Persis saat bus keluar tol, si gadis dan bapaknya sampai di pintu keluar di belakang dan ikut turun untuk menjemput rejeki lagi di bus-bus berikutnya...

Pernah juga suatu kali naik metri mini jurusan blok M-lebak bulus (rute tiap hari) kali ini nyoba yang via pondok indah. Sudah sekian pengamen yang mencoba menyenandungkan lagu pamungkasnya namun hanya lambaian tangan yang di dapat, kalo beruntung kadang plus senyuman. Seorang anak laki-laki lumayan gemuk naik dengan botol berasnya. Awalnya agak suudzon juga sama anak ini karena badannya yang gemuk (artinya menurut saya tidak seharusnya dia minta2, karena gizi terpenuhi... hehe...) Tapi saya langsung terhibur dengan nyanyiannya karena demi Allah suaranya bagus banget. Pantes untuk ikut ajang kompetisi semacam Idola Cilik dan sejenisnya itulah... Lagunya Ungu yang terbaru yang jadi soundtrack "Para Pencari Tuhan" itu (saya lupa judulnya apa) enak banget didengernya, nyanyinya ga ngasal dari awal sampe akhir bagus... Pendengar puas, dan berpindahlah receh demi receh ke kantong dari tangan2 yang tadi hanya memberikan lambaian, termasuk juga tangan saya...

Begitu keras perjuangan mereka yang mengadu nasib di ibukota, demi sesuap nasi harus rela berpanas2 berhujan2 naik turun dari bis satu ke bis lain. Tapi kalo sungguh-sungguh insyaAllah rejeki akan datang...

Sedikit cerita tentang pengamen yang 'bagus'...
Pengamen juga manusia...

Selamat Jalan Mba Bunga

Pukul 3 dini hari telpon genggamku berbunyi, tanda ada pesan masuk. Siapa sih ng-sms jam segini? Mau ngebangunin tahajjud koq pake sms… Iseng banget sih… Penasaran, kuraih juga HP yang sengaja kutaruh persis di sebelah bantalku.
 
“Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un..” Begitu bunyi kalimat teratasnya. Jantungku berdetak kencang. Siapa yang meninggal? Kubaca baris selanjutnya…

“…Telah berpulang ke Rahmatullah kakak kita tercinta, mba Bunga Prihanande. Mohon dibukakan pintu maaf dan mendoakannya agar beliau mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.”
Innalillah… Tubuhku langsung lemas. Kaget, bingung, sedih, entah apalagi perasaan saat itu. Kenapa orang baik selalu cepat berlalu… Rabb-nya tak tahan berpisah lama-lama darinya… Ah, mba Bunga…

Teringat perjumpaan pertama kami, biasa saja, tidak ada yang istimewa. Menjadi penghuni baru di kost-anku dengan posisi kamar persis di depan kamarku. Hingga suatu hari (aku selalu bersyukur jika ingat peristiwa ini) kami bertengkar hebat. Tidak ada teriakan, bentakan, atau saling hujat, hanya muka masam dan bantingan pintu, tapi membuat hati ini sediiih sekali. Aku tak tahu harus berbuat apa. Padahal hanya kesalahpahaman biasa, yang masing-masing merasa ngga salah. 

Setelah beberapa hari tak bertegur sapa (serasa dunia sempit menghimpit) akhirnya kuberanikan diri meminta maaf kepadanya. Masih terbayang jelas dalam ingatanku bagaimana aku menghampirinya yang sedang menonton TV sendirian, tanpa basa basi langsung minta maaf (dengan suara lemah bersiap menerima marahnya atau apapun yang akan terjadi), dan beliau –tanpa menoleh sedikitpun, pandangan tetap ke layar TV- berkata,”Ngga apa2…” Aku lupa lanjutannya. Dengan lunglai aku kembali ke kamar, sepertinya usahaku gagal… Kemudian akupun melanjutkan beres-beres kamar. Sekejap kemudian (aku ingat sekali tak sampai 5 menit dari dialog barusan) tiba-tiba –dengan wajah cerianya yang biasa- menghampiriku ke kamar dan bilang,”Nin, mau lemariku ngga? Aku mau pindah nih, males bawa yang berat-berat.” Alhamudlillah…

Begitulah uniknya beliau. Sejak itu aku jadi deket sama mba Unga (panggilan sayang untuk beliau), sampe suatu hari datang khusus ke kamarku ngajakin ngekost bareng di Pondok Jaya. Jadilah kami satu kost lagi, dan ajakan inilah yang akhirnya menjadi jembatan keikutsertaanku dalam da’wah Pondok Jaya, kampus, dan tarbiyah sampai sekarang. 

Mba Bunga. Sifatnya yang supel dan namanya yang indah –mudah diingat- membuat banyak orang kenal dirinya. Dia bahkan lebih terkenal dibanding anak STAN manapun saat itu, padahal dia sendiri bukan mahasiswa atau alumni STAN. Kakaknya lah yang anak STAN, meskipun akhirnya eksodus (kemudian bekerja di salah satu perusahaan internasional). Mba Bunga sendiri juga sempat beberapa kali menjadi guru privat untuk anak Duta Besar … (aku lupa negara apa aja).

Tapi yang paling dikenang dari sosoknya, selain keramahan dan senyuman yang manis, adalah kepiawaiannya dalam mengolah masakan (karena memang pernah mendapat pendidikan di bidang Tata Boga). Jadinya hampir setiap kajian, rapat, pertemuan-pertemuan, juga kalo jalan-jalan, selalu dimasakin dan dijamin ngga bakalan mengecewakan. Yummy deh pokoknya… (yang pernah nyobain masakannya ga bakalan lupa, terutama ikhwan-akhwat penghuni kompleks Pondok Jaya. 

Pernah dalam sebuah kajian yang kami beri nama “Liqo Ukhuwah” kajian setiap malam Rabu, gabung ikhwan-akhwat, setelah dimasakin mba Unga semua makanan dibawa ke masjid Uswatun Hasanah oleh beberapa orang ikhwan. Sampai acara selesai, akhwat ga kebagian bahkan satu biji makanan pun! MasyaAllah… padahal kita yang masak… Mana tadi ga sempet nyicip lagi… hehe…)

Beliau juga yang pusing tujuh keliling mikirin rumah yang bisa dijadikan basecamp akhwat Pondok Jaya, Ngurus sana sini sampe nalangin dulu uang kontrakan demi keberlangsungan da’wah akhwat –khususnya- di kompleks Pondok Jaya. Terakhir ku dengar da’wah di sana mandeg, ga ada lagi markas akhwat. Wallahu a’lam…

Masih ku ingat betapa marahnya dia saat berita tentang akan menikahnya aku didengar dari mulut orang lain, bukan dari mulutku sendiri. Ah… Maafkan aku mba…

Juga masih kuingat betapa kagetnya aku saat membaca namanya tercantum sebagai istri seorang penulis muda berbakat di majalah Annida. Subhanallah…

Memang sejak berpisah saat lulus kuliah, komunikasi kami jadi terputus. Saat aku pindah ke Gorontalo, pun saat kembali ke Jakarta, tak sempat memberi kabar. Seringkali ingin silaturahim ke rumahnya yang di Graha Bunga Bintaro, tapi tetap tak sempat bertemu muka, bahkan untuk say hello via telpon. Ah…

Sampai akhirnya berita duka itu kuterima. Tak lagi sempat melihat wajah cantiknya untuk yang terakhir kalinya. Kata seorang teman yang kutanya penyebab kematiannya, karena mba Unga sudah 2 kali hamil di luar kandungan, yang ternyata menyebabkan gangguan di otak. Hari itu dilaksanakan operasi yang menjadi saat terakhirnya di dunia ini. Ingin ku susul ke Rumah Sakit Internasional Bintaro tempat beliau dioperasi, tapi kata temanku jenazahnya sudah dalam perjalanan ke Padeglang, kampung halamannya. 

Teriring doa untuk mba Unga tersayang, Semoga mba Unga mendapatkan kebahagiaan di sisi Rabb-nya, diampuni dosanya, diterima amalan-amalannya, mendapat tempat yang sebaik-baiknya. Aamiiin…

episode syukur

Ini sedikit cerita waktu Iffah dirawat 4 hari di rumah sakit bulan Januari lalu.

Waktu itu Iffah masuk ke kamar kelas 2 yang isinya ada 4 orang (maklum, untuk orang tuanya yang masih golongan II, jatah Askesnya ya di kelas 2). Waktu itu kamar terisi penuh, sudah ada 3 penghuni lainnya. Iffah dapet tempat tidur yang berada di belakang pintu masuk.
Anak yang tempat tidurnya persis di sebelah Iffah pulang pada hari yang sama saat Iffah masuk. tak sempat cerita-cerita.

Anak yang tempat tidurnya berhadapan dengan Iffah, laki-laki, umurnya sekitar dua setengah tahun. Selalu ditemani ayahnya. Ibunya lebih banyak di rumah karena baru saja melahirkan adiknya yang baru berumur satu bulan. Awalnya, hanya kejedot yang menyebabkan kepalanya memar membiru. Namun birunya ngga hilang-hilang, sehingga orang tuanya mencoba periksa ke dokter. Singkar cerita, setelah di periksa ini-itu, dokter mengatakan ada indikasi Ravi menderita leukimia (untuk memastikan dokter menyuruh Ravi melakukan pemeriksaan tertentu -saya lupa namanya apa). Masya Allah... Anak sekecil itu harus menderita penyakit seberat itu. Wallahu a'lam...

Di sebelah Ravi ada Rina yang sudah hampir 3 minggu berada di rumah sakit tsb, dan belum ada tanda-tanda akan pulang. Rina juga ditunggui oleh ayahnya yang sabar sekali. Tadinya Rina kena demam berdarah. Beberapa hari pertama suhu badannya hampir selalu di atas 40 derajat cekcius, selalu berada di ruang High Care. Setelah panasnya turun, beberapa hari kemudian dokter mengatakan ada infeksi di paru-paru Rina. Tak lama perut Rina membuncit, dan kata dokternya usus Rina bengkak. Terakhir -kata ayahnya- ada indikasi virus demam berdarahnya sudah sampai ke otak.  Tak seperti Ravi yang masih bermain, berlari kesana kemari, Rina selalu di tempat tidur. Kalo mau keluar juga harus di gendong ayahnya. Alhamdulillah -entah apa yang dokter katakan kepada orang tuanya- Riba pulang ke rumah pada hari yang sama dengan kepulangan Iffah.Tepat di depan Rina, seorang anak laki-laki masuk dua hari menjelang Iffah pulang. Kena sakit demam berdarah.

Waktu jalan-jalan di koridor (karena Iffah sering tidak betah di tempat tidur, maunya main di luar terus) aku juga bertemu dengan beberapa orang ibu yang anaknya ternyata juga masuk rumah sakit karena kejang demam. Anak yang menempati posisi sebelum Iffah juga kena kejang demam. Hanya saja (cerita dari ayahnya Ravi) si anak itu kejang lagi tak lama masuk rumah sakit. (Padahal dari perawat dan dokter rumah sakit, juga dari artikel-artikel yang aku baca, dalam jangka waktu 24 jam setelah kejang pertama sebaiknya si anak jangan sampai kejang lagi. Aku dan si abi juga di wanti-wanti supaya Iffah jangan sampai kejang lagi)
Ada juga seorang ibu yang menggendong anaknya yang belum berusia dua tahun. Setelah ditanya, ternyata anaknya menderita asma. (Duh... aku ngga bisa ngebayangin gimana waktu si anak ini sesak nafas... Ngga tega... Kalo aku jadi ibuya mungkin udah nangis terus). Dan banyak lagi cerita-cerita lainnya...

Cerita-cerita yang membuat aku terus bersyukur dan bersyukur. Alhamdulillah... Begitu banyak hikmah dan pelajaran yang Allah berikan melalui peristiwa ini. Semoga kita termasuk hamba-Nya yang senantiasa bersyukur...

Salah satu cara bersyukur atas kesehatan yang Allah berikan adalah dengan menjaganya. Namun jika Allah berkehendak menguji kita dengan mengambil ni'mat sehat itu, semoga kita termasuk ke dalam golongan hamba-Nya yang bersabar...

Jakarta, Februari 2008

Titik Balik

(Tulisan ini dibuat ketika Iffah, sulung saya, masuk rumah sakit karena kejang demam)

Buatku saat itu adalah sebuah titik balik.

Malam itu, sudah malam kedua Iffah panas. Aku ngga terlalu mengganggap hal itu serius karena siangnya Iffah udah main lagi. Kadang Iffah -juga Alif- suka panas tapi segera turun besoknya, jadi aku anggap itu hal yang biasa. Waktu itu, sepulang dari kantor, Iffah lagi di gendong sama neneknya (ibu mertuaku). Katanya Iffah panas. Malamnya Iffah tidur denganku, sedangkan Alif tidur sama neneknya.

Badannya memang panas sekali. Ngga mau ditaruh, maunya digendong terus. Aku ingat pernah baca bahwa salah satu cara uintuk mengurangi panas badan anak adalah dengan menempelkan kulitnya ke kulit kita (ibu) sehingga panasnya pindah ke tubuh kita. Maka malam itu beberapa kali kulakukan jika Iffah sedang kugendong. Badannya panas sekali.... tapi aku tidak begitu kuatir, hanya berharap panasnya segera turun (karena sekitar jam 8 malam itu sudah diberi minum obat penurun panas). Sekitar jam 4 lewat, aku merasa capek dan Iffah digendong abinya. Aku mencoba untuk tiduran sebentar. Sampai kulihat tiba-tiba Iffah kejang-kejang.

Ya Allah... Langsung aku berdiri, mengambil Iffah dari gendongan abinya...
Entahlah... Aku tak tahu harus bagaimana. Yang jelas waktu itu aku panik sekali. Kugendong Iffah sambil menangis, tak tau harus berbuat apa.

Berkali-kali aku bisikkan ke telinganya,"Astaghfirullah... Sayang... Iffah..." Perasaan bersalah yang begitu dalam, merasa ini semua kesalahanku. Wajah Iffah yang sedang tak sadar begitu terpatri dalam pikiranku.
Tak lama, kejangnya berhenti, tapi sepertinya Iffah masih belum sadar. Kupanggil-panggil namanya, tapi ia tetap membisu. Aku tak tahu harus bagaimana. Ku telpon mama di Payakumbuh. Bawa ke rumah sakit, katanya (kebetulan mama seorang bidan). Segera kuganti baju, masukkan ke tas apa2 yang kira-kira perlu, abi langsung ngeluarin mobil. Pagi itu, jam setengah 5 pagi aku langsung bawa Iffah ke RS terdekat.
Sepanjang perjalanan, kupanggil terus nama Iffah. Dia hanya diam, tak menyahut, juga tidak menangis... Aku bingung sekali.

Rumah sakit sudah dekat akhirnya Iffah merengek, menangis tapi tidak keras. Kupanggil namanya, ia melihat ke mataku. Waktu itu hatiku lega bukan main. Iffah juga melihat ke abinya waktu abinya yang lagi nyetir manggil namanya. Alhamdulillah ya Allah...

Sampai di pintu ICU sebuah rumah sakit swasta, aku berlari masuk sambil menggendong Iffah yang terkulai lemas di bahuku. Perawatnya langsung menanyakan kenapa dan memanggil dokter jaga yang berada di dalam. Setelah Iffah ditimbang dan dipasang oksigen, Iffah lalu diberi obat anti kejang (yang dimasukkan lewat anus). Ia tetap tak mau ditaruh. Selama di ruang ICU, ia kugendong terus sampai ia tertidur (kata dokter, obatnya memang bikin ngantuk)

Sementara abi pergi mengurus administrasi dan keperluan lainnya, aku pun bertanya ke dokter tentang keadaan Iffah. Kenapa, bagaimana, apa yang harus dilakukan kalo terjadi lagi, dan lain-lain. Tak lama abi kembali dengan membawa kabar kurang baik. Ruangan penuh. Iffah harus dibawa ke rumah sakit lain. Segera, mobilpun meluncur ke sebuah rumah sakit pemerintah dengan berharap semoga saja masih ada kamar untuk Iffah. (Karena ini kejang yang pertama kali untuk Iffah maka dokternya merekomendasikan untuk rawat inap dulu.)

Alhamdulillah, ada kamar untuk Iffah. Di Instalasi Gawat Darurat rumah sakit itu, Iffah diberi infus, diambil darahnya, dan di rontgent. Tetap tidak mau ditidurkan. Akhirnya digendong terus dengan aku duduk di lantai (karena botol infus harus tinggi, kalo duduk di kursi darahnya keluar lewat selang infus dan cairan infus tidak bisa masuk ke darah.) Pagi itu, sekitar pukul tujuh, aku -dengan Iffah tidur di bahuku- diantar ke ruangan rawat inap menggunakan kursi roda. Di kamar, barulah Iffah mau ditidurkan.

Peristiwa itu kuanggap sebuah teguran dari Allah buatku. Wajahnya yang tak sadar tak pernah lepas dari pelupuk mataku. Meskipun perut besar (karena hamil 6 bulan) kalo Iffah pengen digendong, selalu kugendong Iffah kemanapun pergi. Serewel apapun dia, secapek apapun badan ini, semua kuhadapi dengan sabar. Benar-benar tak lagi mampu untuk 'sekedar' ngomel apalagi marah. Yang ada hanya perasaan bersalah yang begitu mendalam... Ya Allah...

Alhamdulillah, hanya 4 hari di rumah sakit, Iffah sudah diijinkan pulang. Dokter juga tidak 'titip pesan' apa-apa, kecuali selalu siapin obat anti kejang di rumah karena kemungkinan kejangnya akan berulang sampai usia 5 tahun (artinya Iffah benar-benar 'hanya' kejang demam, tanpa penyakit lain, benar-benar hanya karena demam yang terlalu tinggi. Alhamdulillah...)

Sejak peritiwa itu, mungkin juga dengan bertambahnya usia kehamilan yang berarti semakin stabilnya emosi, aku tak pernah lagi memarahi Iffah juga Alif. Selalu sabar dengan kerewelannya... (ah, dia hanya minta perhatianku...) secapek apapun badan ini...

Iffah... Alif... Maafin ummi ya nak...

Ya Allah, ampuni aku... terimakasih telah menegurku...

(Allahummaghfirlii waliwaalidayya kama rabbayani shaghiiraa... Ya Allah, sayangilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil. Itu doa untuk orang tua yang diajarkan pada kita, juga anak-anak kita. Aku takut, seandainya Allah benar-benar menyayangiku sebagaimana aku menyayangi anak-anakku di waktu kecil, bagaimana jadinya nasibku kelak... Sedangkan sayangku kepada anak-anakku cuma sebatas itu...
Ampuni aku ya Allah... Engkau Maha Penyayang... Sayangilah kedua orangtuaku melebihi kasih sayang mereka diwaktu kecilku...)



Jakarta, Januari 2008