Showing posts with label My Angel. Show all posts
Showing posts with label My Angel. Show all posts

Monday, March 2, 2015

Sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil

Sepulang dari kantor, senin sore menjelang malam.
Seperti biasa aku sempatkan menggendong Sofi begitu masuk rumah. Kurasakan kepalanya agak panas ketika ia menempelkan keningnya di leherku. Tapi aku ngga begitu memperhatikan.

Senin malam.
Sofi masih ceria seperti biasa. Ia tidur pukul 8 seperti biasa di kamar anak-anak.
Pukul 11 malam pintu kamarku diketuk Nur, pengasuh Sofi, sambil menggendong Sofi.
"Umi, Sofi panas. Dari tadi bangun terus."
Ternyata tidurnya tidak nyenyak.
Sampai jam 2 malam Sofi ku gendong, ia tidur dibahuku. Malam itu aku tidur di sebelahnya hingga pagi.

Selasa pagi.
Sofi masih ceria seperti biasa, cuma badannya mulai anget. Aku ijin dari kantor dan pulang, lihat perkembangan. Sampai di rumah Sofi tambah panas. Ku minumkan paracetamol sirup yang memang selalu ada stoknya di rumah. Ku tambah juga dengan madu. Hingga sore panasnya naik turun. Sofi pun mulai rewel, maunya di gendong terus. Aku pun mulai khawatir.

Selasa malam Sofi ga mau tidur di kasur. Semalaman ia hanya mau ku gendong, tidur dibahuku. Sofi ga mau kalo aku pake kain gendongan. Ia juga marah jika aku duduk. Hanya tenang jika aku menggendongnya, memeluknya sambil berdiri. Ia selalu terbangun ketika aku mencoba menidurkannya di kasur. Jika Sofi sudah benar-benar lelap, pelan-pelan aku duduk di kasur dengan bersandarkan bantal, tidur memeluknya sambil duduk. Begitu terus sampai pagi.

Rabu aku putuskan untuk ambil cuti 3 hari. Sofi sedang membutuhkanku. Kebetulan kamis libur, jadi ada bonus satu hari untuk menjaganya.

Sofi tidak mau makan apapun, kecuali kerupuk kesukaannya, itu pun hanya sesekali. Perkedel yang biasanya dia suka, tak mampu membuatnya membuka mulutnya untuk makan. Sudah dua setengah hari Sofi panas dan rewel, hanya mau digendong, tak mau berjalan dan bermain. Rewelnya bertambah maunya, digendong terus. Sesekali ia mau digendong Nur atau abinya, tapi segera mencariku lagi. Badanku pegal sekali, tapi kuikuti semua kemauannya.

Terkadang entah kenapa ia jadi rewel sekali, menangis dan merajuk tahan berlama-lama. Digendong ke sini ga mau, ke sana dia teriak. Ditawari minum susu ga mau, minum air putih apalagi. Badanku letih dan pegal. Kadang tak sabar dan pengen marah, tapi aku selalu berusaha mengingat doa untuk orang tua.
"Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira.
Ya Rabb, ampunilah dosaku dan kedua orang tuaku dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil."


Alhamdulillah kamis siang Sofi terlihat agak ceria mulai mau jalan sendiri, tak lagi digendong. Pagi tadi masih agak anget, tapi setelah dzuhur hingga ashar, badannya mulai tak lagi panas. Kamis sore sudah mau main susun-susun balok sama kakak-kakaknya. Alhamdulillah, aku tak perlu membawanya ke dokter anak. Meski masih rewel dan masih pengen terus di gendong, kamis malam Sofi udah ga panas lagi.

Jika tak sabar dengan anak-anak, aku selalu mematrikan kalimat doa untuk orang tua itu ke dalam ingatanku. Aku tau kasih sayang Allah kepada hambaNya tak terbatas. Tapi doa itu membuatku tercenung. Aku tak dapat membayangkan jika Allah akan menyayangiku SEBAGAIMANA aku menyayangi anak-anakku. Betapa aku belum menjadi ibu yang shalihah, yang sabar atas semua tangisnya, yang tetap menyayanginya meski tingkah lakunya membuat kesal...
Aku masih sering marah kepada anak-anakku. Bukan karena aku tak menyayangi mereka tapi karena aku tak mampu mengontrol amarahku.

Sakitnya Sofi kemarin mungkin yang paling meletihkan dibanding ketiga kakaknya. Jika Iffah, Alif, atau Raisha sakit, mereka masih mau tidur di kasur, masih boleh menggendong dengan kain gendongan, masih mau digendong orang lain, masih boleh sambil duduk. Tapi sakitnya Sofi kemarin
betul-betul menghabiskan energiku. Tapi -karena sudah anak ke-4- emosiku sudah bisa diajak kompromi. Jika dulu masih ngga bisa kontrol amarah, sekarang -meski sedih, khawatir, dan letih- aku masih bisa menahan emosi jika ia sangat rewel.

Allah... sayangilah aku, meski aku belum menjadi ibu yang baik untuk anak-anakku...


2 Maret 2015
Edisi mellow jadi orang tua

Monday, December 22, 2014

Cita-cita Iffah

Punya anak itu ngga gampang. Dengan karakter masing-masing yang pastinya berbeda, orang tua kadang terjebak dengan ekspektasi mereka terhadap anak-anaknya.

Saya berupaya sekuat tenaga agar tidak menjadi orang tua yang otoriter, mengarahkan tidak memaksa, memotivasi tidak menyuruh.

Tentu saya punya cita-cita yang ga kesampaian. Saya pengen jadi enterpreneur, saya juga pengen jadi guru, saya pengen jadi hafizah, pengen jadi ustazah (cita-cita koq banyak banget ya? hehehe). Dan seperti yang sering kita dengar, banyak orang tua yang cita-citanya ga kesampaian cenderung memaksa anak-anaknya menjadi apa yang mereka mau. Betapa banyak anak-anak yang mengorbankan cita-citanya demi mewujudkan cita-cita orang tuanya, meski biasanya ortu beralasan 'itu demi kebaikan kamu.'

Jadi inget film "3 Idiots", filmnya Aamir Khan yang berkisah tentang 3 mahasiswa dengan kisahnya masing-masing (yang tentu bukan mahasiswa idiot, bahkan sebaliknya). Salah satu tokohnya kuliah di jurusan teknik demi mewujudkan cita-cita ayahnya, sementara dia sendiri tergila-gila dengan fotografi (orang tua mana di jaman sekarang yang bakalan ngijinin anaknya yang hobi foto untuk kemudian berkarier di fotografi? Mungkin ga ada). Tapi di film itu, ortunya akhirnya mengijinkan anaknya berhenti kuliah untuk serius di fotografi (happy ending lah).

Ketiga anak saya unik, mereka semua berbeda. Hanya saja kali ini saya pengen khusus bercerita tentang Iffah.

Iffah bukan tipe anak yang seneng belajar baca tulis. Sampai selesai kelas 1, membacanya masih belum lancar. Pun belajar Iqro'-nya (huruf hijaiyah), sama lamanya. Di kelas 3 sekarang, ketika Alif sudah lama beralih ke (baca) Alqur'an (tidak lagi ngaji Iqro'), Iffah masih berjuang di Iqro' 4, padahal Icha yang masih kelas 1 sudah akan menyelesaikan Iqro' 3-nya hanya dalam 1 semester.

Kalo belajar mau ujian juga... hadeeeeuh... susah banget. Salah emaknya sih klo yang ini, harusnya dari awal dicicil dikit-dikit, bukan SKS (sistem kebut semalam). Alif dan Icha sih oke aja, sehari sebelum ujian belajar bahan 1 semester, cuma nge-refresh aja.

Kesulitan terbesar Iffah ada di bahasa. Kayaknya Iffah ga punya 'language intelligence', jadi ngafalin sepatu itu bahasa inggrisnya shoes susah banget. Meski udah 10 kali ulang, besoknya ditanya akan lupa lagi. Koleksi kata-katanya (baik bahasa Inggris atau bahasa Arab) minim banget. Salah satu usaha yang saya lakukan -sesuai instruksi Ms Wina, teacher saya ketika pre-departure training- adalah membuat kata dengan gambar dan ditempel di tempat-tempat yang mudah terlihat dan terus diulang tiap hari. Proyek liburan kali ini adalah menggambar. Saya sudah membeli 1 rim kertas. Di kertas yang masih kosong itu saya tuliskan kata dalam bahasa Inggris (misalnya book, shoes, bag, etc) di bagian bawah kemudian anak-anak saya tugaskan untuk menggambar dan mewarnai gambar itu. Setelah selesai, kertas saya tempelkan di dinding kamar. Malam hari sebelum tidur, saya suruh (terutama) Iffah untuk membaca dan membuat kalimat menggunakan kata sesuai gambar. Well, I hope it will help her...

Kesukaannya memang menggambar. Ketika menirukan gambar, hasilnya bisa mirip banget. Selain menggambar, dia juga kreatif membentuk apapun menjadi bentuk lain, bahkan yang ga pernah terpikir oleh kita (saya maksudnya). Buku-buku di rak misalnya, Alif mungkin akan membacanya, tapi Iffah bisa membangun istana besar dengan buku-buku itu. Bantal, bagi Alif hanya sebagai teman tidur, tapi Iffah bisa bikin tenda dalam rumah menggunakan bantal dan selimut. Kertas? Hanya akan ditulisi atau digambari oleh Alif, tapi Iffah bisa bikin dompet, keranjang, dan banyak hal lagi dari kertas-kertas itu.

Kalo ditanya mau jadi apa, dulu (ketika mereka masih bingung mau jadi apa) saya suka memprovokasi anak-anak supaya mau jadi ustadzah (ngajar baca qur'an atau ngisi pengajian, mengajarkan dan mendekatkan ummat kepada Allah, RasulNya dan Alqur'an). Tapi sekarang mereka sudah bisa menentukan sendiri apa maunya (meski masih sering berubah-ubah).

Saya sempet bingung juga, Iffah ini klo dah besar mau jadi apa ya?
Dia lemah di pelajaran, apalagi di bahasa, matematika juga biasa saja, cenderung ga teliti, juga ga rajin. Kalo disuruh belajar tuh kayaknya maleeees banget... Tapi dia sangat bersemangat klo disuruh mengkreasikan sesuatu.
Sampai suatu malam menjelang tidur, saya bertanya kepada Iffah, "Iffah kalo dah besar mau jadi apa?"
Iffah pun menjawab dengan gayanya yang cool seperti biasa,"Mau jadi arsitek."

Okay... Case closed!

Semoga kamu bisa mencapai apa yang kamu citakan ya nak... (Entah dari mana dia dapet ide itu... whatever)
Umi akan mendukung apapun cita-citamu sepanjang itu bermanfaat bagi dunia dan akhiratmu.


22 Desember 2014

Terima raport

Sabtu kemarin, anak-anak terima raport. Seperti biasa, saya ga matok ekspektasi. Nilainya berapapun, ranking berapapun, yang penting mereka enjoy di sekolah...

Perhentian pertama, kelas 1B, kelasnya kaka Rumaisha. Ketemu sama Bu Johan dan Bu Dona. Keduanya pernah jadi guru si kembar, jadi sudah akrab. Testimoni bu guru, Icha ga ada masalah akademik, hanya pedenya yang masih kurang. 

Perhentian kedua, kelas 3B, kaka Alifah. Bu Ami juga pernah ngajar Afifah, jadi udah pernah ketemu juga sebelumnya. Cuma ngelirik sebentar kertas berwarna biru dengan angka 9 dimana-mana. Testimoni bu guru, nilainya bagus-bagus, no problem, excellent!

Finally, kelas 3A, kaka Afifah. Nah, kali ini gurunya baru saya kenal. Baru sadar saya ga pernah ke sekolah sebelumnya, jadi ini adalah kali pertama saya ketemu Bu Rani dan Bu Endang. Sesuai dugaan saya, pelajaran Keterampilan mendapat nilai tertinggi. Nilainya terpaut jauh dari kembarannya dan tentu saja juga rankingnya. 

Acara terima raport adalah waktunya saya berkomunikasi dengan guru-guru. Ritual mengantri sekian lama hanya untuk dapat berbicara dengan bu guru (yang jarang saya temui karena saya jarang ke sekolah) sangat saya nikmati. Meski kadang sebel sama wali murid yang ngobrol panjang lebar tak mempedulikan antrian di belakangnya, tapi saya memahami, terima raport memang ajang 'konfirmasi' dan saling dukung ortu dan guru. Tempat kami saling share dan mungkin berbagi tips untuk yang lebih baik bagi anak-anak, terutama jika ada masalah dalam proses pembelajaran.

Saya menghindari pertanyaan mengenai nilai. Itu hak prerogatif guru. Saya hanya ingin memastikan mereka senang, menikmati proses belajar, sosialisasi oke dengan teman dan guru, sopan dan disiplin. Semoga nilai yang tertera di buku tidak mengubah cara pandang saya terhadap mereka. 

Sebagus atau sejelek apapun angka yang ada disana, saya harus pastikan mereka tetap punya semangat yang tinggi meraih apa yang mereka citakan. Saya harus bisa menemukan 'berlian' yang ada dalam diri mereka, mengoptimalkannya, dan berupaya agar potensi itu dapat bermanfaat bagi mereka dan ummat. Ah, susahnya jadi orang tua...
Semoga saya bisa mengemban amanah yang super berat ini, membesarkan mereka hingga menjadi hamba dan manusia yang sukses dunia akhirat.... Aaaamiiiiin....


22 Desember 2014


Wednesday, December 18, 2013

Lagi, tentang 3 bidadariku

Pengen cerita tentang 3 bidadari saya. Meski udah punya 4, tapi berhubung yang kecil masih 'anak bawang', jadi blom dulu yah :D

Iffah, Alif, dan Raisha. Tiga anak perempuan dengan cerita masing-masing.

Iffah, si sulung punya sifat ceria, panikan, senang bersosialisasi, tapi cuek dan

susah berkonsentrasi untuk waktu yang cukup lama. Nilainya cukup baik, dia kurang menunjukkan minat pada kegiatan belajar. Meski demikian, pelajaran yang paling disukainya adalah matematika. Paling ga suka pelajaran bahasa. "Abis susah," katanya. Jika ditawarkan mau pakai baju apa, dia akan jawab,"Terserah ummi..." Anaknya sangat pengalah. Jika benda miliknya diambil atau dirinya tersakiti, dengan mudah akan memaafkan. Kalau adik-adiknya menangis, dia akan membujuknya dengan "nanti dibelikan es krim, nanti kaka bawain apa dari sekolah, nanti kaka kasih apa..." Entah dari mana dia mempelajari cara itu :)

Alif lain lagi, meski kembar, karakternya seolah kebalikan Iffah. Alif lebih pendiam, tidak mudah dekat dengan orang baru, jarang senyum, penurut, mudah dimintai tolong (membereskan mainan misalnya), dan suka belajar. Dia tahan belajar membaca sampai berlembar-lembar (yang dia minta sendiri) sementara Iffah sudah bosan dan mengantuk pada baris kedua-nya. Nilainya bagus-bagus. Sifatnya yang perlu diubah adalah obsesifnya terhadap benda-bendanya, juga sifat suka menang sendiri-nya. Maunya begini begitu, termasuk soal pakaian. Meski sudah disiapkan pakaian misalnya, jika dia tidak suka, maka dia akan mengacuhkannya. Sulit membujuknya, dia punya kemauan/ego yang kuat. Yang bikin saya suka ga sabar sama Alif adalah sifat cengengnya. Jika sedih atau ketika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya, maka dia akan menangis dengan keras. Juga ketika malam hari, Alif paling sering terbangun malam hari dan langsung menangis dengan suara kerasnya membangunkan semua orang, namun tak menjawab jika ditanya. Kecuali itu, dia anak yang manis dan patuh.

Raisha, tadinya anak bungsu, sebelum dede Shofi lahir. Bulan-bulan pertama kelahirannnya, Raisha tidak menunjukkan kecemburuan. Setelah lewat 3 bulan, Abinya mulai jadi sasaran. Sifat cengengnya menjadi-jadi, tapi hanya kepada Abinya, yang senantiasa sabar meladeni kemanjaannya. Dibanding Alif, Raisha lebih sulit bersosialisasi dan cenderung pemurung. Perlu satu semester untuk bisa membuatnya enjoy sekolah di TK. Dia tidak menangis atau minta pulang, hanya tidak bisa berbaur bermain dengan teman-temannya. Sampai sekarang (satu semester menjelang masuk SD) dia belum bisa membaca, tapi jangan ditanya jika menghafal qur'an, semangat sekali. Jika Abi minta setoran, dia akan melantunkan hafalan dengan setengah berteriak. Guru-guru di TK juga bilang, Raisha bagus hafalannya. Sementara teman-temannya sering lupa hafalan yang dulu, Raisha tidak. Semoga kelak bisa jadi yang terdepan dalam menghafal qur'an ya nak.

Dan semua punya selera yang berbeda.
Alif suka warna pink, Raisha kuning, sementara Iffah suka sisanya.(Jika yang lain telah memilih, dia akan pilih warna yang tersisa atau warna apapun yang diberikan padanya)
Iffah suka roti keju bakar, Alif suka roti cokelat tanpa dibakar, sedang Raisha suka roti cokelat-keju dan dibakar.
Jika makan nasi dengan ayam goreng, maka Alif akan minta pake kecap, Raisha minta pake saos tomat, dan Iffah ga pake apa-apa.
Semua suka telur dadar. Raisha tidak suka telur rebus, Iffah suka putihnya sedang Alif suka semua.
Iffah senang memakai sepatu yang simpel, Alif senang sepatu kets, kalau Raisha senang sepatu-sendal.

Tak pernah habis cerita tentang anak-anak.
Karena mereka semua unik, karena mereka semua spesial :)



Tuesday, December 10, 2013

Welcome Shofi

Udah lama ga ngeblog. Lamaaaa sekali...
Ini kepala mulai 'penuh'. Emang harus nulis lagi nih :D

Lapor. Setahun kemarin saya hamil dan melahirkan.
Berikut cerita lengkapnya...

Saya dan suami memang sepakat untuk 'nambah' lagi. Naluri keibuan saya juga udah nagih pengen nggendong anak lagi.

Info berikut mungkin berguna untuk beberapa orang, siapa tahu bermanfaat bagi anda.
Jadi, setelah melahirkan anak ke-3, dede Rumaisha, saya langsung KB. Dan pilihan jatuh kembali ke KB suntik, karena sepertinya badan saya cocok dengan KB jenis ini. Muka ga item-item, ASI tetep lancar, badan ga jadi gemuk. Sampe tahun kemarin itu, total sudah 5 tahun lebih saya memakai kontrasepsi ini.

Efek memakai KB ini adalah saya ga haid-haid. Haid datang kadang 3 bulan sekali, kadang 6 bulan sekali, itu pun 'sekadarnya'. Orang bilang rahimnya jadi kering. Banyak temen yang pake KB jenis ini susah kalo mau punya anak lagi. Bahkan setelah berhenti suntik,. sang 'bulan' baru datang 6-8 bulan kemudian, bahkan lebih.

Setelah tanya-tanya, saya tahu bahwa KB jenis pil membuat rahim jadi subur. Sekali lupa minum pil akan berakibat "langsung dung' (katanya iklan). Maka kemudian saya pun konsul ke bidan di slah satu klinik dekat rumah. Ketika bilang akan berhenti KB, bu bidan menyarankan untuk KB pil dulu sebelum berhenti sama sekali. Berarti cocok lah sama keinginan saya. Saya pun minum pil hingga haid tiba.

Agak mual ketika beberapa hari minum pil. Ragu antara mual karena masuk angin atau karena memang sudah hamil, saya sempat bolak balik melakukan testpack (tentu saja hasilnya negatif). Hingga kurang lebih dua pekan kemudian saya pun haid dan KB pun (baik pil maupun suntik) saya hentikan.

Kira-kira 2 bulan kemudian saya positif hamil. Tentu saja saya dan suami bahagia, termasuk kakak-kakaknya, semua menantikan kedatangannya. Hamil yang ketiga ini tak sesulit yang pertama, tapi juga tak segampang yang kedua. Mual (dan muntah) di trimester awal, tapi mereda di trimester berikutnya. Alhamdulillah hamil yang ketiga ini bisa saya lewati dengan sukses.

Hingga tiba waktu akan melahirkan. Karena sudah merasa pengalaman 2 kali melahirkan (yang alhamdulillah lancar), saya agak takabur (na'udzubillah) di kali yang ketiga ini. Allah menakdirkan lahiran yang ketiga ini adalah lahiran terlama dan tersulit dibanding 2 lahiran sebelumnya. 'Ala kulli hal, saya tetap bisa melahirakan dengan normal dan selamat.

So, welcome dede Shofiyah Mutmainah Firmansyah, demikian kami memberinya nama. Sekarang dede sudah 6 bulan. Semoga jadi mujahidah yang shalihah ya de ^_^


Friday, December 7, 2012

Jualan demi Jajan

Si kembar, Iffah (afifah) dan Alif (alifah), baru kelas 1 SD. Belum lagi satu semester mereka 'nyobain' jadi anak SD. Dan saya (kadang) masih suka memperlakukan mereka seperti anak TK. Salah satunya: tiap pagi dibawakan bekal, tanpa uang jajan.

Tapi ada yang ternyata luput dari perhatian saya. Dulu ketika masih di TK, kepala sekolah memang tidak mengijinkan penjual apapun nangkring di wilayah sekitar sekolah. Kegiatan makan pagi pun dilakukan bersama-sama, dengan ritual membaca doa bersama, ada piring kosong di meja untuk yang ingin berbagi, guru-guru pun senantiasa menemani setiap anak dan siap membantu jika masih kesulitan membuka kotak makannya misalnya. Di SD tentu tidak lagi demikian perlakuannya. Saat istirahat makan pagi, anak-anak tidak lagi didampingi guru, paling banter ya mengawasi saja dari kejauhan. Tidak ada lagi "piring berbagi" dan ada kantin bahkan penjual yang diijinkan berjualan di sekitar sekolah. Ditambah lagi, menurut cerita Iffah (ketika saya ajak ngobrol), semua temannya ternyata diberi uang jajan oleh orang tua masing-masing meski tetap dibekali makanan dari rumah.

Sampai minggu kemarin, saya tidak pernah memberikan uang jajan kepada si kembar, kecuali sekali, saat mereka 'memohon'. Nah, ketika dikasih, si kembar pun langsung ngobrol -sambil make kaos kaki dan sepatu- tentang nanti akan jajan apa. Dalam pikiran saya, waduh pasti ntar belajar juga bakalan kepikiran jajan melulu nih...

Dan sejak saat itu saya tak pernah lagi memberikan uang jajan kepada si kembar.

Hingga pekan kemarin....

Pertama agak shock juga ketika diberi tahu bahwa Iffah jualan di sekolah, dan uang hasil jualannya dipake buat jajan. Yang saya lakukan berikutnya adalah tentu saja konfirmasi ke Iffah. Berikut petikan-petikan obrolan saya sama Iffah:
Saya : "Wah kaka Iffah pinter ya... Kemarin jualan ya si sekolah?"
Iffah  : senyum sambil cengengesan
Saya  : "Emang kaka Iffah jual apa?"
Iffah  : "Jual kertas" --> kertas file yang bergambar warna warni
Saya  : "Emang kenapa koq kaka Iffah jual? Kan kemarin dikumpul-kumpulin"
Iffah  : "Ngga kenapa-napa"
Saya  : "Uangnya dapet berapa ka?"
Iffah  : "Ga tau, lupa"
Saya  : "Uangnya kaka Iffah pake buat apa?"
Iffah  : "Buat jajan"
Saya  : "Kaka Iffah jajan apa aja"
Iffah  : "Jajan permen"
Saya  : "Trus apa lagi?"
Iffah  : "Es (susu SoGood beku), batagor, mie (semacam mie remez yang diberi bumbu kemudian diremes)"
Kemudian saya menerangkan tidak baiknya mie remes untuk dimakan.
...
Di kesempatan lain...
Saya  : "Emang temen-temen kaka Iffah semuanya jajan ya?"
Iffah  : "Iya"
Saya  : "Ada ngga yang ngga jajan?"
Iffah  : "Ada... Eh, ga ada"
Saya  : "Emang ga bawa bekal dari rumah ya temen-temennya?"
Iffah  : "Bawa"
Saya  : "Tapi dikasih uang jajan juga?"
Iffah  : "Iya"
Saya  : "Kertas yang kaka Iffah jual, emang kaka jual berapa?"
Iffah  : "Ada yang gopek, ada yang seribu, ada yang dua ribu"
Saya  : "Wah, koq macem-macem harganya? Kenapa ga gopek semua?"
Iffah  : "Ga kenapa-napa" (jawabnya dengan wajah cool)
Saya  : "Yang gopek yang kayak gimana?"
Iffah  : "Yang biru"
Saya  : "Kalo yang seribu?"
Iffah  : "Yang pink, yang kuning..."
Saya  : "Koq harga beda sama yang biru?"
Iffah  : "Ga kenapa-napa" (jawabnya masih cool... terus terang saya ga bisa nebak...hahaha)
Saya  : "Kalo yang dua ribu?"
Iffah  : "Yang gambar miki"
Saya  : "Emang ada yang beli yang dua ribu?"
Iffah  : (dengan bangga) "Ada"
dst...

Itu tadi hasil investigasi sama terhadap Iffah, sang penjual. Sementara Alif, yang bertugas bawa kertas file itu (dalam binder) dan menikmati hasil penjualan Iffah, tidak (belum sempet) saya tanya-tanya. Menarik ya jawabannya? ^_^ (dia bahkan sudah bisa menentukan harga barang... ck..ck..ck...)

Mereka memang selalu antusias (terutama Iffah) jika di sekolah diselenggarakan acara Bussiness Day. Sejak TK, kegiatan Bussiness Day selalu diadakan setahun sekali. Waktu mereka masih di TK, saya masih nyempetin bungkusin hasil bikinan sendiri. Kemarin ketika Bussiness Day di SD beberapa pekan yang lalu, saya cuma bungkusin kripik singkong masing-masing 5 bungkus untuk Iffah dan Alif (padahal disuruh 10 bungkus). Dan selalu excited menceritakan kejadian di sekolah tadi setiap kali habis jualan. Entah karena yang dijual memang menarik (pernah jual popcorn, sate buah, atau kripik singkong) atau memang Iffah yang pinter jualan, setiap kali bawa makanan untuk dijual di acara itu selalu habis terjual (beberapa temen masih harus bawa kembali hasil jualan yang ga laku)

Langkah selanjutnya adalah tentu saja konsultasi sama suami. Dan kamipun akhirnya mengambil keputusan:
- Perlu mengapresiasi kemampuan jualan Iffah yang "wow" menurut saya (OMG, mereka baru kelas 1 SD!!! Saya dan suami juga jualan sebenernya, hanya saja ngga bakat alam kayak Iffah. Kami baru jualan setelah menikah. Memang Iffah sering liat saya bawa barang dan ketika ditanya saya sering jawab,"Ini untuk temen umi, untuk dijual" Saya ga sadar ternyata dia 'merekam' hal itu... deep inside di unconsius mind-nya)
- Ke depan, beberapa kali seminggu, kami akan memberinya uang jajan, dengan catatan, sebagiannya di tabung ya... (jajan juga mengajarkannya bertransaksi, mengenal nilai uang, banyak manfaat lainnya sebenarnya. Tapi overprotective membuat saya mengabaikan manfaat-manfaat itu...)
- Salah satu alasan tidak memberikan mereka uang jajan adalah kekhawatiran terhadap apa yang mereka beli. Salah satu solusi mungkin bisa dengan mengajak mereka memilih sendiri jajanannya di supermarket dekat rumah untuk dibawa ke sekolah. Dengan begitu kami bisa mengontrol jajanannnya.

Bapak/ibu, punya saran lain untuk saya?
Terima kasih sebelumnya :)

Friday, September 7, 2012

Celoteh



Si kembar Alif dan Iffah yang tahun ini masuk TK B, sering mengajukan pertanyaan dan pernyataan yang di luar dugaan.
Kadang pertanyaan mereka begitu lucu dan kritis, yang bikin pusing mikir jawabannya.

Seperti malam ini, setelah cerita tentang nabi Musa yang membelah laut...
Iffah : Umi waktu lahir tanggal berapa alif-iffah?
Umi  : Waktu kaka alif-iffah lahir?
Iffah : iyaa
Umi  : tanggal 30 april
Iffah : emangnya umi waktu itu perutnya gendut?
Umi  : iya, alif iffah kan masih di dalam perut umi...
Iffah : Trus keluarnya dari mana?
Umi  : Hahaha....
Iffah : Koq umi ketawa? emang iffah keluarnya dari mana?
Alif  : dari perut ya?
Umi (msh tertawa)
Iffah : emang keluarnya darimana umiii?
Umi  : iya, ada yang dari perut...
Alif  : Emang perutnya di robek?
umi  : hahahaha....
Umi : mmm... nanti aja ya kaka iffah, kalo kaka iffah udah besar nanti umi kasih tau (ngeles...)
Iffah : waktu esde?
Alif  : waktu kuliah?
Umi : ^_^

Atau percapakan barusan...

Alif  : Umi waktu penganten, alif diundang ga?
Umi : Waktu penganten sama abi?
Alif  : iyaaa...
Umi : Kan kaka Alif belum ada.
Alif  : Koq ga ada? Emang kaka Alif ga diundang?
Umi : Bukan, kaka Alifnya belum ada... (bingung nyari jawabannya)
Alif  : Kenapa belum ada? Emangnya kaka alif masih di perut?
Umi : Bukan
Alif  : Emang kaka Alif ilang?
Umi : Hahaha... kaka Alif belum ada...
Alif  : Koq umi ketawa? emang kaka Alif ilang?
Umi : bukan...
Iffah: Dimana umiiii?
Umi : ????
dan pertanyaan ini diajukan berkali-kali (sepertinya penasaran sekali) hingga saya mengalihkan pembicaraan ke yang lain, menyuruh mereka membaca doa sebelum tidur... ^_^

Selain pertanyaan lucu, ungkapan mereka juga sering lucu.
Saya termasuk yang sulit berimprovisasi, sehingga sering kali dongeng sebelum tidur saya bawakan sambil membaca buku. Tapi tampaknya iffah lebih suka kalo saya bercerita tanpa membaca buku. Mungkin bahasanya lebih fleksibel, ditambah ekspresi dan intonasi yang tak dibuat-buat, tidak seperti ketika membaca bahasa buku yang kaku.
Dan dia selalu meminta dengan,"Umi, iffah mau cerita yang dalam hati, tapi ga baca buku, tapi ada suaranya."
:)

Keterampilan Hidup

Memiliki 3 orang anak perempuan adalah berkah bagi saya (dan suami tentunya). Beberapa teman suka komentar,”Wah enaknya, banyak yang bantuin…” (maksudnya pekerjaan rumah sehari-hari, seperti memasak, mencuci, menyapu rumah, dll).

Si kembar sekarang sudah 5 tahun, dan si dede udah 3 tahun. Ketiga bidadari mungil saya bahkan sudah besar sekarang. Alif, si kembar yang lahir belakangan, tampaknya lebih dewasa dibanding Iffah kakaknya. Seperti pagi-pagi sebelumnnya, pagi ini pun ritual mandi pagi didahului oleh Alif.

“Udah jam setengah delapan sayang, mandi yuk!” ajak saya, dan tiba-tiba terpikir untuk memberi sedikit reward,”Kalo mandi nanti umi bikinin jus deh.”

“Asyiiiiik!” teriak Alif langsung ke belakang dan membuka bajunya.
“Mandi sendiri ya kaka…” tantang saya.
“Iyaaaa!” Alif berteriak dengan semangat.
“Dede ayo mandi juga,” saya menggandeng tangan dede ke belakang. Terlihat Alif sudah selesai memberi shampo rambutnya dan hampir selesai menyabuni seluruh badannya (kecuali sedikit bagian punggungnya). Sambil membuka baju dede, saya menyemangati Alif,”Wah, kaka alif pintar banget mandi sendiri! Sekalian mandiin dede juga ya kaka?”
“Iya!” jawabnya dengan senyuman.

Dengan cekatan dia langsung memandikan dede. “Mandiinnya pelan-pelan ya sayang…” kata saya mengingatkan, supaya dia ga langsung mengguyur semua badan dede.

Iffah akhirnya terpancing ikut mandi juga, segera mulai mandi sendiri, bahkan selesai sebelum Alif selesai memandikan dede. Mereka benar-benar mandi sendiri. Tak satu percik pun saya ikut serta, hanya mengamati dari jauh saja, sambil menyiapkan handuknya.

Selesai mandi saya melanjutkan delegasi tugas ini.
“Ayo langsung pake bajunya. Kaka Alif pakein baju dede juga ya…”
Tak menunggu lama, Alif langsung mengambil bajunya berikut baju dede, sementara Iffah masih dengan handuknya di depan tivi. Pertama Alif memakaikan bedak ke badan dan punggung dede, lanjut ke badannya sendiri. Kemudian memakaikan celana dalam dede lalu celananya sendiri. Untuk baju, dede kemudian memakainya sendiri juga Alif. Iffah juga memakai bajunya sendiri. Dan saya -sambil menyelesaikan jus mangga untuk mereka- hanya memberikan instruksi dari jauh.

“Punggungnya dibedakin tuh kaka… Dede pintar ya pake baju sendiri… Diputer sayang bajunya, gambarnya yang di depan… Yaa, bener itu di belakang…”

Untuk bagian sisir rambut, Alif bahkan tak perlu diingatkan. Setelah menyisir rambutnya sendiri, Alif langsung menyisir rambut dede. Dan Iffah… hmm… sampe sarapan pagi (yang suap sendiri juga), belum menyisir rambutnya… hehe…

Anak-anak gadis saya juga sudah lama bisa diajak membersihkan mainannya setelah puas bermain hingga ruang tengah seperti kapal pecah. Balok-balok dimasukkan lagi ke tempatnya, juga ke laci-laci, buku-buku kembali disusun di rak. Alif suka menyapu, maka setiap tiba giliran merapikan mainan, ia selalu mengambil sapu dan membersihkan sisa-sisa guntingan kertas, debu-debu dan kotoran, sampai bersih hingga saya tak perlu menyapu ulang ruang tengah.

Sebenernya mereka juga suka bantu-bantu masak di dapur, hanya saja untuk yang satu ini saya masih belum biarkan mereka banyak membantu, terutama yang berkaitan dengan pisau (potong memotong) dan yang deket-deket kompor. Nantilah, akan ada saatnya...

Mungkin saya jadi umi yang pemalas atau suka menyuruh? Semoga tidak. Kepada asisten saya pun saya suruh untuk menyuruh anak-anak membereskan sendiri mainannya hingga bersih, kami hanya membantu. Keterampilan hidup, salah satu bekal yang saya siapkan untuk mereka, hingga ketika nanti tiba saatnya mereka tidak lagi berada dalam pandangan mata saya, akan mampu menjaga diri mereka sendiri dimanapun mereka berada.

Masih banyak bekal yang harus saya siapkan. Mungkin akhlaq adalah yang terberat. Semoga saya bisa menjadikan bidadari-bidadari saya berakhlaq alqur’an, berani menghadapi tantangan hidup, bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat, menjadi anak-istri-ibu shalihat, dan sukses dunia akhirat.

Aaamiiiiiinnn….

Jadikanlah kami orang tua yang shalih ya Allah agar kami dapat mendidik anak-anak kami menjadi anak-anak yang shalihat, penegak agamaMu…


Pertengahan 2011

Thursday, September 6, 2012

Iffah dan Lagu

Udah lama pengen cerita tentang sulung saya setelah kembarannya dan si dede di halaman sebelah. Tapi sebelumnya pengen cerita tentang saya dulu (boleh kan? hehe)

Minggu ini minggu terakhir saya ngantor di gatsu (gatot subroto). Saya sedang menikmati hari-hari terakhir saya, sebelum lebih kurang 2 tahun ke depan akan berkutat dengan segala sesuatu yang berbau kampus dan perkuliahan di jurangmangu.

Hhhh... antara sedih dan senang. Saya pasti akan merindukan hari-hari melayani wajib pajak via telepon di Kring Pajak. Kangen dengan rekan-rekan agent call center yang lucu-lucu. Kalo ditanya sekarang, setelah lulus kuliah nanti pengen penempatan dimana, mungkin saya akan jawab "Kalo boleh, di Kring Pajak lagi..." ^_^

Ngga akan menikmati pergi pagi-pulang malem lagi. Ngga ada boncengan tiap pergi dan pulang kantor lagi sama kekasih. Setidaknya untuk 2 tahun ke depan...

Tapi seneng juga, punya lebih banyak waktu dengan 3 bidadari cantikku. Meng-explore keterampilan memasak (halah... emang ga bisa masak juga... maksudnya belajar masak, gitu.. ^_^V). Pasti sibuk nih, soale si kembar insyaAllah masuk TK tahun depan. Bakalan pusing nyari TK yang pas (pas tempatnya, pas gurunya, pas di kantong juga... hehe). Selain menyelesaikan proyek gantungan pintu dan gantungan hp, juga bros, buat ngisi waktu luang... (karena si tangan yang ga bisa diem...)

Semangat !!!

Okay, sekarang tentang Iffah.

Well, mereka bertiga memang berbeda. Masing-masing punya karakter yang totally different. Kalo Alif cengeng dan gampang nangis, Iffah cenderung usil. Ya klop lah, yang satu usil yang satu diusilin ya nangis... hehehe... Kalo lagi berdua mesti berantem, tapi kalo ada temen yang lain baru deh kompak...

Iffah, sebenernya dibanding Alif, lebih cepat daya tangkapnya. Apalagi nyanyian/lagu, beberapa kali mendengar langsung hafal tiap katanya. Lagu 25 nabi-nya Raihan (buat menghafal nama-nama nabi) -bagian yang nama nabinya (Adam, Idris, Nuh, Hud, Sholeh, dst...) hafal hanya dalam 5 kali ulangan. Abinya nyanyi 5 kali, kali yang ke -6 Iffah sudah hafal semua nama Nabi... Wow... Saya juga yang denger agak sangsi waktu dia mengucapkan nama demi nama, tapi dia lancar sampai "Muhammad al Mustoffffa...". Sementara Alif masih baru hafal setengahnya ^_^.

Soal gunting menggunting Iffah juga lebih kreatif. Sampai sekarang belum pernah kegunting tangannya, sementara Alif udah 2 kali berdarah gara-gara jarinya kegunting. Dia sering menggunting sesuatu kemudian memperlihatkan kepada saya. Selalu ada saja bentuk yang memang rada mirip dengan apa yang dia maksud.

Iffah memang rada cuek dibanding Alif. Kurang telaten dibanding Alif. Lebih cepat bosan, pikirannya mudah terbagi. Untuk urusan belajar huruf Hijaiyah, Iffah memang ketinggalan, bukan karena dia ga bisa, hanya karena dia kurang suka berkutat dengan huruf-huruf dan buku dalam jangka waktu yang cukup lama. Tapi kalo soal hafalan doa dan surat-surat pendek, Iffah jagonya. Seperti nama Nabi, ketika Alif baru hafal setengah Al-Fatihah, Iffah sudah selesai.

Sepertinya Iffah lebih kuat audionya, sedang Alif lebih ke verbal... Akan lebih mudah ngajarin kalo kita tau tipe belajarnya ya kan?

Hmmm... (salah) satu cita saya dan suami, anak-anak kami menjadi hafizah-hafizah dan daiyah. Semoga mereka bisa mengantarkan dirinya, juga kami, orang tuanya, kepada jannah-Nya... Amiiiin... Seperti lagu hijaiyah yang diajarkan guru ngajinya.

"A ba ta tsa,
ja ha kho ya,
da dza ro za,
sa sho sya dho,
fa qo ka la,
ma na wa ha la,
tho zho 'a gho.

Kami belajar Alqur'an,
kami menghafal Alqur'an,
kami mau masuk syurga
dengan Qur'an..."

Aaamiiiiiiiin...

Alif dan Iqro

Biasanya kalo udah waktunya shalat maghrib, saya-Alif-Iffah shalat berjamaah bertiga. Kadang kalo saya pulang telat, Alif dan Iffah shalat berjamaah sama Nia, adik saya. Selesai shalat, dzikir (baca subhanallah-alhamdulillah-allahu akbar semampunya), dan doa (rabbighfirli waliwalidaiyya... dan rabbana aatina...), Alif dan Iffah akan diajari baca Iqro.

Saya paling suka kalo nemenin Alif belajar (ngajarin Alif maksudnya). Dia lebih istiqomah dibanding Iffah. Dia sering 'bertahan' lebih dari 2 halaman, bahkan ketika saya bermaksud menyudahinya, dia minta ke halaman selanjutnya. Pernah suatu kali setelah habis shalat dan berdoa, saya langsung menyuruhnya melipat mukenanya. Tapi Alif langsung protes,"Kan belum belajar Iqro". Saya tersenyum, bahagia sekali mendengar kalimat itu. "Ya sudah, sana ambil bukunya." kata saya gembira. Sementara Iffah, saat itu langsung membuka mukena dan main lagi... hehehe...

Sekarang Alif sudah menamatkan Iqro 1-nya. meski masih suka lupa sama huruf sho-dho-'a-zho. Paling suka ngeliat dia melafazkan huruf 'Sya', mulutnya dimonyongin banget, lucu sekali (tapi saya ngga pernah menertawakannya). Saya betul-betul bangga padanya. Di usianya yang belum lagi 4 tahun (3 tahun 7 bulan), dia sudah bisa membaca huruf hijaiyah. (Saya dulu kelas 2 SD baru kenal huruf hijaiyah)

Satu hal lagi, tentang kedewasaannya. Dia lebih sabar bermain dengan si dede, sering mengajak dede bercanda, tidak seperti Iffah yang lebih sering usil. Dan dia bisa dengan sabar menunggu saya selesai shalat, menanti dalam diam di samping saya, dan mengutarakan maksudnya dengan kata-kata yang lembut setelah saya menyempurnakan salam ke kiri dan ke kanan.

Rabbana hablana min azwajina wadzurriyatina qurrata a'yun waj'alna lilmuttaqiina imaama.

Aamiiin...

Raisha dan Pedes

Kalo dirunut-runut, sepertinya ini memang kesalahan saya. Sejak dia masih di dalam perut hingga sekarang saat saya masih menyusuinya, saya cuek soal makanan. Yang penting makan banyak, kurang teliti soal rasa.

Dari kecil saya memang suka pedes (kalo yang ini ga tau deh salah siapa... hehehe). Tingkat tahan pedes saya -menurut orang-orang di sekitar saya- termasuk lebih dari biasanya. Sementara yang lain udah kepedesan, saya masih nyante-nyante aja makannya.

Pun ketika saya hamil dan menyusui si dede Raisha, saya tidak menahan selera saya akan makanan pedas. Tancap terus... Hantam semua... Untungnya si dede punya perut yang 'kuat', sehingga kalo pun saya makan pedes, dia ngga diare. (soalnya adik saya juga beberapa kenalan pas mereka makan pedes anaknya langsung diare)

Sekarang, saya juga heran, dia suka cemilan yang saya suka, termasuk yang pedes-pedes. Pernah abinya beli kerupuk yang banyak ladanya, saya pun merasa pedes, tapi si dede malah doyan, minta tambah berkali-kali. Sementara kaka-kaka-nya bahkan ga nyentuh kerupuk itu sama sekali. Waktu pulang dinas luar, abinya bawa kripik bayam khas gresik yang juga pedes. Seperti kasus sebelumnya, cuma saya dan si dede yang doyan. Yang paling menakjubkan itu kemarin, di rumah bikin kripik kentang balado, warnanya merah (yang kripik sebelumnya warnanya kuning). Bahkan untuk yang satu ini, meski udah di bilang kalo ini pedes, dengan santainya Raisha makan dengan lahapnya, minta tambah lagi...

Masya Allah...

Sebenernya saya agak kuatir, tapi saya belum nyari juga apa ada dampak buruk kalo sering makan cabe. Saya taunya cabe itu kaya vitamin C ^_^, tapi kaya'nya kurang bagus buat lambung... Bener ga sih?

Amanah


Setiap kali memandang wajah mereka di desktop komputer kantor, setiap kali itu pula saya menyadari betapa saya belum menunaikan tugas saya sebagai ibu dengan optimal.

Begitu banyak kesalahan saya, waktu yang tidak saya manfaatkan dengan baik, manajemen rumah tangga yang belum bisa dibilang baik, peran pendidik yang belum saya laksanakan maksimal...

Bukannya saya tidak bersyukur... MasyaAllah... Betapa saya bangga kepada mereka. Usianya baru 3,5 tahun, tapi Alif Iffah sudah bisa beberapa doa pendek, surat pendek, hampir selesai Iqro 1...

Ini bukan tentang mereka...

Ini tentang saya, ibunya, yang belum bisa memaksimalkan peran saya sebagai ibu mereka... 

Hhhh... Semoga saya belum terlambat, sebelum mereka kenal dunia lain...

Ah, rasanya saya belum jadi 'dunia' mereka...

Banggakah mereka terhadap saya? (entah kenapa saya merasa jawabannya = 'tidak')

Entahlah...

(lagi nelangsa...)

Tak Gendong


Suatu malam saya bermain bersama si kembar. Kali ini main 'sembunyi kertas'. Caranya (tentunya setelah hompimpah yang ga jelas cara nentuin siapa yang 'jaga'... intinya ya terserah mereka... hehe...) berbekal secarik kertas kecil yang di'untel-untel' (apa ya istilahnya, pokoknya dibuat sedemikian rupa sehingga berbentuk seperti kelereng kecil) yang giliran jaga harus menunduk sehingga nanti di atas punggungnya diletakkan telapak tangan pemain lain. 

Salah satu pemain akan bernyanyi sambil kelereng kertas itu dipergilirkan dari satu tangan ke tangan lain sampai lagu selesai. Nanti yang 'jaga' akan menebak di tangan siapa kelerang kertas tadi berada. (Seharusnya) kalo tertebak maka pemain di tangannya ada kertas akan gantian menjadi yang 'jaga' (tapi kalo main sama si kembar, terserah mereka yang jaga siapa, kalo yang jaga udah capek diganti sama yang lain... hehe...)

Nah, yang ingin saya ceritakan adalah, biasanya lagu yang dinyanyikan saat mempergilirkan kertas itu adalah lagu anak-anak, seperti balonku, pelangi, naik kereta api, dll. Tapi entah kenapa pada malam itu, Iffah yang giliran bernyanyi menyanyikan lagu yang membuat kening saya berkerut dan telinga saya protes. Tak lain tak bukan lagu populer "Tak Gendong" dari Mbah Surip. 

"Tak gendong kemana-mana... tak gendong kemana-mana... enak dong... mantep dong... daripada kamu naik ojek kesasar..." (nyanyinya lancar banget lagi)

Refleks saya langsung minta ganti lagu sambil heran sekali, koq bisa-bisanya Iffah memilih lagu itu.
"Koq, kaka Iffah nyanyi lagu itu? Umi ngga mau kalo lagu itu. Lagu yang lain aja. Balonku aja..." sahutku meng-interupsi lagu yang sedang dinyanyikannya dengan semangat.

"Ooo... balonku ajah? Ya udah... Balonku ada dua... Lima-lima jarinya... Kuangkat keduanya... bila aku berdoa... " untung Iffahnya ngga protes waktu saya minta ganti lagu dan ngga bertanya kenapa, kalo ditanya saya juga bingung jawabnya...

Btw, itu lagu sebenernya yang bener "tanganku ada dua" dengan nada "balonku" yang diajarin di TPA deket rumah. Tapi tiap kali dikasih tau yang bener "tanganku" bukan "balonku" si kembar protes, "Yang bener balonku!!!" makanya sampe sekarang tetep aja nyanyinya gitu... 
"Balonku ada dua...
Lima-lima jarinya...
Kuangkat keduanya...
Bila aku berdoa..."

Qurrata a'yun (2)


Tahukah Anda apa yang membuat saya begitu bahagia kalo pulang kantor?

Tiap kali melihat sosok saya masuk gerbang kompleks -yang udah bisa dilihat dari pintu rumah- ketiga bidadari saya langsung melompat-lompat sambil berteriak,"Ummmiiiiii!!! Ummmiiii!!!"

Belum saya sentuh pagar rumah, mereka sudah ribut bercerita tentang aaaapa saja.

"Ummi, ummi... Tadi kakak Iffah ngambek... " Alif langsung memulai cerita.
"Ummi, ummi... Tadi dede jatuh. Lututnya bedarah..." Iffah ngga mau ketinggalan.
"Baaah... Baaaa...!!" si dede pun ikutan... (berhubung kosa kata dede masih sedikit, baru bisa 'baaa' dan 'neeee', jadi ya gitu deh...)

Satu lagi kebiasaan baru si kembar yang bikin capek saya langsung ilang. Kalo saya udah duduk di kursi depan pintu, mereka langsung rebutan mau buka sepatu + kaos kaki saya.

"Ummi, biar Alif aja yang bukain." kata Alif yang tangannya langsung meraih kaki saya. Biasanya abis itu langsung Iffah juga datang dan pengen bukain sepatu saya juga. Trus mereka pun berlomba cepet-cepetan.
"Weee... Alif menaaaang..." 

Dulu, tak pernah terbayang dalam pikiran saya bahwa suatu saat ketika saya menjadi orang tua maka anak-anak saya akan berlomba membukakan sepatu saya.

Ah, sungguh kenikmatan yang tidak bisa dinilai dengan apapun...

Alhamdulillah, semoga kalian semua menjadi anak-anak yang shalihah ya nak... 
Doa ummi selalu bersama kalian, insyaAllah...

Sepatu dede


^_^
Ini cerita tentang sepatu si dede.

Dari umur (sekitar) 8-9 bulan, dede Raisha udah suka jalan. Lebih tepatnya lari, sambil berpegangan pada tangan kita (hmm... bukan berpegangan tapi 'menarik' tangan kita dan memaksa kita mengikuti kecepatan larinya...). Sejak saat itu udah ngga suka lagi di taruh duduk di stroller (kereta dorong)-nya. Jadi tiap pagi (saat saya dan suami siap-siap ke kantor), dede ditemani si Mba selalu jalan pagi keliling kompleks menghirup udara pagi.

Menimbang hal di atas, maka saya pun berinisiatif membelikannya sepatu baru (berhubung sepatu merahnya -yg ada di foto ini- udah kekecilan...). Sebuah sepatu merah muda berukuran 18 yang waktu belinya saya ngga ngajak si dede (jadi waktu itu kira-kira aja ukurannya). Dan seperti yang sudah saya duga, sepatunya kekecilan!

Berhubung saya ngga tahan melihat si dede make sepatu kekecilan, meskipun dia suka sekali sepatu itu -karena ada bunyinya- (keliatannya sempit banget gitu, meskipun dianya 'kaya'nya' enjoy aja pake sepatu itu), akhirnya saya kembali ke toko lagi dan membelikan sepatu lagi buat dede.

Pernah denger slogan "cuma orang bodoh yag jatuh ke lobang yang sama"? Tampaknya saya termasuk orang bodoh itu. Sekali lagi saya beli sepatu si dede TANPA mengajaknya serta. Bermodal 'perasaan' dan 'kira-kira' saya berani-beraninya beliin sepatu dede ukuran 22.

Nyampe rumah, dengan bangganya saya menunjukkan sepatu baru dede untuk dipakai esok pagi, dan... eng ing eng... saudara-saudara... sepatunya gueeeeedheee banget! Kaya' make sepatu kakaknya... duh... Kalo mo make mesti disempilin tisu ato kain, tapi tetep aja ga seimbang besarnya sepatu dan besar kakinya...
Baru bulan kemaren, akhirnya saya berhasil membelikan si dede sepatu yang pas di kakinya. Ah, senang sekali rasanya melihat si dede berlari dengan sepatu yang ngga kekecilan dan ngga kegedean... hehe... (meskipun larinya masih sambil narik-narik tangan saya/si mba, soalnya si dede blom berani jalan sendiri... hehehe...)

Sepatu-sepatu besarnya akhirnya disimpen aja, buat nanti dipake setahun lagi... (lumayan nabung sepatu ya de ^_^)

Oya, emang dasar rejekinya si dede, baru Sabtu kemaren salah satu tantenya (adik suami) bagi-bagi rejeki dari gaji pertamanya. Si kakak Alif-Iffah dibeliin tas boneka beruang (yang dari dulu pengen saya beliin, akhirnya dibeliin tantenya), dan si dede... (bisa nebak ga?)... dapet SEPATU! (persis seperti yang saya belikan, cuma dengan warna dan ukuran yang lebih besar...hehehe...)

(nanti dede bikin lemari aja buat koleksi sepatunya ya de? ^_^)

Monday, September 3, 2012

Qurrota a'yun


Suatu malam, di sebuah kamar...
"Umi sakit?" anak yang belum genap 3 tahun itu sedang memijit kaki abinya, melihat uminya tiduran -yang mungkin dimatanya terlihat sakit.
"Engga sayang, umi ngga sakit. Umi cuma capek." jawab si umi.
Tiba-tiba melihat ke abinya dan berkata,"Abi udah dong! Gantian... Alif mau pijitin umi."

Si abi yang sedang asyik-asyiknya menikmati pijitan tangan kecilnya ngga rela."Yang kanan dulu dong..."
Dengan cepat dia berpindah dari kaki kiri ke kaki kanan. Cukup beberapa pijitan saja, tangan kecilnya berpindah ke kaki uminya.

Subhanallaaahhh... pegelnya langsung ilang-lang-lang.
Tak terkatakan betapa bahagianya saya.

"Umi seneeeeeng banget punya anak kaya' Alif." kata saya.
"Alif juga punya dede... Dede Icha..." katanya menimpali.

Si abi mengingatkan,"Belum ngerti Alifnya mi, bilang aja umi sayang Alif." Oiya, ternyata bahasa saya belum bisa dimengerti, perlu disederhanakan lagi.

"Umi sayaaaaang banget sama Alif."sambil menghadiahkan bertubi-tubi ciuman ke wajahnya.

Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyatinaa qurrota a'yuniw waj'alnaa lil muttaqiina imaama.

Ke IBF bareng si Kembar


Wah, seru deh pokoknya.

Saya, Iffah-Alif, di temani adik saya, Nia, hari Sabtu kemaren jalan-jalan ke Islamic Book Fair. Tadinya rencananya mau sama si Abi, tapi berhubung abinya lagi ke Surabaya, jadinya sama Nia aja. (Soalnya jarang2 saya ada waktu seharian, seringnya sabtu-ahad ada acara, makanya saya sempatkan hari itu menghabiskan waktu bersama si kembar)

Tadinya saya ragu karena jarak yang jauh dan takut mereka bosan. Dengan perjuangan paaaaanjang dan laaaama akhirnya kami sampai juga ke Istora.
Setelah shalat dan makan siang, aku langsung mengajak si kembar ke gundukan buku yang bikin laper mata ( kepengen beli semua ^_^ ). Jalan-jalan, liat sana sini, akhirnya sampai di stand Syamil yang punya segunung buku anak-anak yang di tumpuk sembarangan (kaya' obral baju gitu). Harganya lima ribu rupiah saja perbuku.
Langsung saja saya ajak mereka memilih sendiri buku yang mereka mau.
"Ambil sayang, Alif mau yang mana?"
"Kalo kaka Iffah mau yang mana?"
"Yang ini udah sayang, ambil lagi yang lain."
(wah, kaya'nya yang semangat saya ya? hehehe... ^_^ )

Seneng banget mereka memilih buku yang full-colour dengan gambar2 lucu. Ada buku cerita si lebah won-won, ada kisah nabi, ashabul kahfi, tentang Rasulullah saw, wah, macem-macem...
Setelah terkumpul 10 buku, saya ajak mereka bayar ke kasir.

Sambil menggandeng keduanya saya terus ke lantai 2, tempat kaset-kaset dan baju/jilbab. kebetulan ada acara memasak bersama Rudi Choiruddin dan Teh Rina Gunawan.

Oya, salah satu tips memasak oleh Rudi : Sebaiknya yang memasak harus si ibu (jangan pembantu). Pembantu boleh membantu bagian cuci-potong dan persiapan. Bagian "kompor"  dan bumbu, itu bagian ibu, supaya ibu bisa menambahkan bumbu "cinta" dan "doa" di dalam masakannya. Nice tips! ;-)

Kebetulan ruangan yang dipakai luas sekali, beralas karpet tebal, dan kursi penonton hanya beberapa baris di bagian depan, jadi saya bisa selonjoran bersama si kembar di belakang (ruangannya juga adem, ada ACnya). Iffah langsung mengeluarkan semua buku yang baru saya dia beli dan ditenteng dari tadi, kemudian di jejer (ga tau maksudnya apa).

Kalo Alif, ga bisa ngeliat 'tanah lapang' langsung berlari keliling2. Tak lama kemudian udah kejar-kejaran sama iffah sambil ketawa-ketawa.
Senang sekali melihat wajah gembiranya.

Setelah acara usai, kamipun keluar dan langsung menjumpai stand jilbab "Nun" Bandung. Saya tanya jilbab untuk anak2, dan dikeluarkanlah jilbab model "mawar" berwarna pink. Waktu saya pakein ke Alif, subhanallah, Alif terlihat cantik sekali. Saya tanya harganya... (duh mahal juga, tapi membayangkan cantiknya si kembarku dengan jilbab itu, saya 'menyerah' ^_^)

Akhirnya saya turun setelah membeli 2 buah jilbab dan dua buah boneka (yang juga mahal -menurut saya-, tapi sekali lagi saya 'menyerah') karena masing2 udah gendong satu, warna biru untuk Iffah dan -tentu saja- merah untuk Alif (dia suka sekali merah).

Setelah shalat Ashar, kami pun pulang naik busway, trus kopaja, trus angkot (lengkap dah...)
Dari gerbang komplek sampai rumah dua-duanya di gendong, keliatannya dah capeeek banget...

Selesai mandi, dan makan, saya pikir mereka akan langsung tidur karena udah capek. Ternyata tidak saudara-saudara... Dua-duanya sibuk memamerkan buku-buku barunya, juga boneka dan jilbabnya ke kaka Nur dan si Mbak (khadimat kami) juga si dede. Buku-bukunya di susun jejeran trus diinjek-injek sambil jalan bolak-balik, sambil nyanyi "Naik keyeta api, tut..tut...tuuuut.. ciapa ida tuyuuuutt... ke badung... cuyabaya..." hehehe... ^_^

Jam 9 lewat, akhirnya tidur.

(dan salah satu buku udah jadi berlembar-lembar keesokan harinya ^_^ )

Thursday, August 30, 2012

Apipaaa... mujaaa...ida!



"Namanya siapa?"
"Ipah!"
"Nama lengkapnya siapa?"
"Mmm..." ragu sejenak, lupa keknya...
"Afifaaah..." saya mengingatkan.
"Apipaaaa... mujaaaa.... ida!!"setengah teriak dia menyebutkan namanya.
"Rumahnya dimana?" tanya saya lagi.
"Kompie biyyya cukkkaayyyy!" dia tersenyum senang bisa menjawab dengan benar.
"Kalo nama abinya siapa?"
Kali ini jawabnya cepet, udah hapal dan mudah jawabannya,"Abi Piman!"
"Kalo uminya?"
"Umi Nina"

Itu dialog saya dan Iffah beberapa minggu terakhir, mengajarkannya nama lengkap, rumah, dan nama umi -abinya. Buat jaga-jaga kalo suatu saat nyasar dan ditanya orang (mudah2an jangan pernah deh... Na'udzubillaaah...)

Sebenernya saya ngajarin Alif hal yang sama, cuma masih males dianya. Saya juga ga maksa. Kadang kalo saya lagi ngajarin Iffah, Alif ikut nimbrung ga mau kalah. Tapi kalo diajarin sendiri, suka ga mau. Juga kalo ngajarin doa atau salam, Iffah hampir selalu lebih cepat hapal dibanding Alif.

Iffah memang lebih gampang dimintai tolong ketimbang Alif, tapi agak cuek anaknya. Alif 'ringan tangan', cepet mukul/jambak kalo marah, meski udah sering dikasih tau, [tapi ga begitu parah sih...] tapi hatinya lembut dan perhatian. Kelihatan lebih sayang ke adiknya ketimbang Iffah, suka jagain dede, ngajak dede becanda.

Cepet terharu sama yang sedih-sedih juga. Beberapa kali cerita tentang kisah Rasulullah SAW, yang paling berbekas di ingatannya adalah pada saat Ibunda Aminah menangis saat diberi kabar bahwa suaminya meninggal.

"Uminya nangis, karena abinya meninggal" begitu kata saya menjelaskan gambar seorang wanita yang menangis di buku cerita Nabi Muhammad itu.
Keesokan harinya, Alif menggandeng tangan saya minta dibacain kisah Rasulullah lagi dan dengan cekatan membuka buku pas di halaman 'uminya nangis'.
"Ini Mi, umi na naniiis... abi na ketinggalaaan..." katanya menceritakan padaku.
"Bukan sayang, abinya meninggal" kata saya membenarkan.
"Iyaaa... abi na meninggaaal..." sahutnya lagi

Ah, dia belum tau bedanya "meninggal" dan "ketinggalan". Biarlah... ku jelaskan nanti-nanti saja... hehe...


Jakarta, Februari 2009

Episode Raisha


Sebenernya saya sendiri lebih seneng nama “Khadijah” atau “Fathimah” untuk namanya si dede waktu kami lagi nyari-nyari nama, tapi si abi lebih seneng sama “Rumaisha”, jadi sayanya ngalah. [Lagian alesannya karena nanti panggilannya pasti ‘icha’ atau ‘chacha’ yang notabene nama pasaran (ya kan?) dan biasanya nama begitu anaknya manja (ga semua sih ya…)] Lagian Rumaisha binti Milhan alias Ummu Sulaim, shahabiyah yang namanya kami ambil, profilnya luar biasa. Ngga kalah sama Ummul Mukminin Khadijah ra dan Fathimah az-Zahra. Lengkapnya baca di sini aja ya…

Kemudian untuk namanya keduanya kami pilih “Hanifah” sebagai doa baginya agar selalu di jalan yang hanif/lurus. Kemudian dinasabkanlah kepada abinya. Tadinya kami (saya dan suami) juga sempat sepakat akan menasabkan semua anak kami kepada “Mujahid/Mujahidah”, namun dengan saran dari berbagai pihak akhirnya dinasabkanlah kepada ayahnya. Memang seharusnya begitu…
Karena nama abinya adalah “Firmansyah” maka hampir semua kata anak-anak kami jadi punya akhiran ‘ta marbutho’ semua. Coba liat saja nama mereka :
AfifAH MujahidAH FirmansyAH
AlifAH ShalihAH FirmansyAH
Rumaisha HanifAH FirmansyAH
Tuh kan?!
^_^ Ga sengaja lho… hehe…
Oiya, tadi kan mau cerita tentang raisha…
Setiap anak pasti punya ke-khas-an masing-masing. Tidak bermaksud membandingkan satu sama lain. Semua anak unik dan punya memory sendiri, terutama bagi ibunya.
Awalnya saya ngga ngerasa hamil, karena tidak ada perubahan dalam tubuh saya, misalnya mual, muntah, pusing, seperti yang biasanya dialami orang yang sedang hamil muda. Cuma agak heran karena koq udah 3 minggu ngga haid (baru sadar waktu udah 3 minggu? Parah yak?!) Saya kemudian beli test pack dan ternyata positif. Beberapa hari kemudian -untuk meyakinkan- baru periksa USG ke dokter kandungan, dan ternyata memang sudah ada makhluk lain itu di dalam perut saya. Saat itu usianya sudah 9 minggu!
Tidak ada keluhan berarti selama kehamilan, Cuma kalo laper aja suka pusing. Lainnya? Ga ada. Bener-bener beda sama pas hamil si kembar (ceritanya puanjang… lain kali ya… sekarang giliran dede icha dulu). Sampe-sampe saya kuatir kenapa-napa pas lahiran (kata orang sih begitu… Kalo pas hamilnya ‘berat’ pas lahirannya lancar, kalo hamilnya lancar lahirannya yang ga ‘lancar’. Entahlah… Wallahu a’lam.)
Namun saya membuktikan mitos itu tidak benar. Si dede ‘hanya’ membuat saya sakit selama 4 jam saja (ya dibanding ibu lain yang sakit seharian bahkan ada yang berhari-hari, tentu saja saya "hanya ..... saja"). Lahiran juga normal, dengan berat 4 kg! Dan saya hanya dapet 2 jahitan saja!
Juga tidak ada keluhan setelah lahirnya, baik saya maupun Icha. Nilai APGAR 9/10, sehat, rambut tebal, semua oke, plus tambahan : cantik ^_^. Ini Icha umur 2 hari, udah kaya’ bayi 2 bulan ya?
ASI lancar sehingga saya bisa menggenapkan ASI eksklusif selama 6 bulan, dan insyaAllah akan menyapihnya di usianya yang kedua. Amiiiin…
Raisha juga bukan bayi yang cengeng, bahkan jarang menangis kecuali lapar atau pipis atau ada yang sakit, itu juga hanya merengek. Pernah datuknya (papa saya) nginep di rumah selama 3 hari dan komentar,”Koq datuk ngga pernah denger Raisha nangis ya?” Saking jarangnya dia menangis. Dia juga ngga pernah sakit. Dalam usianya yang sudah 9 bulan, Icha belum pernah muntah, sakit panas, atau masuk angin.
Semoga  Raisha selalu jadi anak yang menyenangkan mata dan hati umi dan abi ya nak…
Semoga Allah selalu menjagamu, memberi kesehatan, petunjuk, dan menjadikanmu anak yang shalilhah mujahidah hanifah, taat kepada Allah dan Rasulullah…
Amiiiinnn…

While you were sleeping

Salah satu hobi saya, mengabadikan momen-momen unik dengan hp.



Berikut hasil jepretan saya, khususnya wajah-wajah tidur bidadari saya.
Foto disamping, malam itu iffah dan alif baru aja nyobain baju batik yang baru saja saya belikan. Malamnya si kembar bobo dengan posisi yang pantas diabadikan... hehe...


 



Kalo yang ini, saya bingung, koq ga bisa diputer ya? (alias di 'rotate')
jadinya mohon maaf kalo kebalik.
(kepalanya jangan ikutan miring bu!...hehe...)







Ini Iffah bener-bener bobo lho!
Iffah memang suka tidur tengkurap, palagi kalo ada guling, pas ti dipeluk...




 

Korban berikutnya adalah Alif! Ga perlu dijelasin lah ya...
hehe...



Last but not least...

Dede Raisha lagi bobo. Mimpi lagi terbang ya de?







NB: Sebenernya juga ada foto bidadara saya (alias si abi tersayang lagi bobo), tapi buat konsumsi pribadi saya ajah yah... ^_^V