Friday, December 7, 2012

Jualan demi Jajan

Si kembar, Iffah (afifah) dan Alif (alifah), baru kelas 1 SD. Belum lagi satu semester mereka 'nyobain' jadi anak SD. Dan saya (kadang) masih suka memperlakukan mereka seperti anak TK. Salah satunya: tiap pagi dibawakan bekal, tanpa uang jajan.

Tapi ada yang ternyata luput dari perhatian saya. Dulu ketika masih di TK, kepala sekolah memang tidak mengijinkan penjual apapun nangkring di wilayah sekitar sekolah. Kegiatan makan pagi pun dilakukan bersama-sama, dengan ritual membaca doa bersama, ada piring kosong di meja untuk yang ingin berbagi, guru-guru pun senantiasa menemani setiap anak dan siap membantu jika masih kesulitan membuka kotak makannya misalnya. Di SD tentu tidak lagi demikian perlakuannya. Saat istirahat makan pagi, anak-anak tidak lagi didampingi guru, paling banter ya mengawasi saja dari kejauhan. Tidak ada lagi "piring berbagi" dan ada kantin bahkan penjual yang diijinkan berjualan di sekitar sekolah. Ditambah lagi, menurut cerita Iffah (ketika saya ajak ngobrol), semua temannya ternyata diberi uang jajan oleh orang tua masing-masing meski tetap dibekali makanan dari rumah.

Sampai minggu kemarin, saya tidak pernah memberikan uang jajan kepada si kembar, kecuali sekali, saat mereka 'memohon'. Nah, ketika dikasih, si kembar pun langsung ngobrol -sambil make kaos kaki dan sepatu- tentang nanti akan jajan apa. Dalam pikiran saya, waduh pasti ntar belajar juga bakalan kepikiran jajan melulu nih...

Dan sejak saat itu saya tak pernah lagi memberikan uang jajan kepada si kembar.

Hingga pekan kemarin....

Pertama agak shock juga ketika diberi tahu bahwa Iffah jualan di sekolah, dan uang hasil jualannya dipake buat jajan. Yang saya lakukan berikutnya adalah tentu saja konfirmasi ke Iffah. Berikut petikan-petikan obrolan saya sama Iffah:
Saya : "Wah kaka Iffah pinter ya... Kemarin jualan ya si sekolah?"
Iffah  : senyum sambil cengengesan
Saya  : "Emang kaka Iffah jual apa?"
Iffah  : "Jual kertas" --> kertas file yang bergambar warna warni
Saya  : "Emang kenapa koq kaka Iffah jual? Kan kemarin dikumpul-kumpulin"
Iffah  : "Ngga kenapa-napa"
Saya  : "Uangnya dapet berapa ka?"
Iffah  : "Ga tau, lupa"
Saya  : "Uangnya kaka Iffah pake buat apa?"
Iffah  : "Buat jajan"
Saya  : "Kaka Iffah jajan apa aja"
Iffah  : "Jajan permen"
Saya  : "Trus apa lagi?"
Iffah  : "Es (susu SoGood beku), batagor, mie (semacam mie remez yang diberi bumbu kemudian diremes)"
Kemudian saya menerangkan tidak baiknya mie remes untuk dimakan.
...
Di kesempatan lain...
Saya  : "Emang temen-temen kaka Iffah semuanya jajan ya?"
Iffah  : "Iya"
Saya  : "Ada ngga yang ngga jajan?"
Iffah  : "Ada... Eh, ga ada"
Saya  : "Emang ga bawa bekal dari rumah ya temen-temennya?"
Iffah  : "Bawa"
Saya  : "Tapi dikasih uang jajan juga?"
Iffah  : "Iya"
Saya  : "Kertas yang kaka Iffah jual, emang kaka jual berapa?"
Iffah  : "Ada yang gopek, ada yang seribu, ada yang dua ribu"
Saya  : "Wah, koq macem-macem harganya? Kenapa ga gopek semua?"
Iffah  : "Ga kenapa-napa" (jawabnya dengan wajah cool)
Saya  : "Yang gopek yang kayak gimana?"
Iffah  : "Yang biru"
Saya  : "Kalo yang seribu?"
Iffah  : "Yang pink, yang kuning..."
Saya  : "Koq harga beda sama yang biru?"
Iffah  : "Ga kenapa-napa" (jawabnya masih cool... terus terang saya ga bisa nebak...hahaha)
Saya  : "Kalo yang dua ribu?"
Iffah  : "Yang gambar miki"
Saya  : "Emang ada yang beli yang dua ribu?"
Iffah  : (dengan bangga) "Ada"
dst...

Itu tadi hasil investigasi sama terhadap Iffah, sang penjual. Sementara Alif, yang bertugas bawa kertas file itu (dalam binder) dan menikmati hasil penjualan Iffah, tidak (belum sempet) saya tanya-tanya. Menarik ya jawabannya? ^_^ (dia bahkan sudah bisa menentukan harga barang... ck..ck..ck...)

Mereka memang selalu antusias (terutama Iffah) jika di sekolah diselenggarakan acara Bussiness Day. Sejak TK, kegiatan Bussiness Day selalu diadakan setahun sekali. Waktu mereka masih di TK, saya masih nyempetin bungkusin hasil bikinan sendiri. Kemarin ketika Bussiness Day di SD beberapa pekan yang lalu, saya cuma bungkusin kripik singkong masing-masing 5 bungkus untuk Iffah dan Alif (padahal disuruh 10 bungkus). Dan selalu excited menceritakan kejadian di sekolah tadi setiap kali habis jualan. Entah karena yang dijual memang menarik (pernah jual popcorn, sate buah, atau kripik singkong) atau memang Iffah yang pinter jualan, setiap kali bawa makanan untuk dijual di acara itu selalu habis terjual (beberapa temen masih harus bawa kembali hasil jualan yang ga laku)

Langkah selanjutnya adalah tentu saja konsultasi sama suami. Dan kamipun akhirnya mengambil keputusan:
- Perlu mengapresiasi kemampuan jualan Iffah yang "wow" menurut saya (OMG, mereka baru kelas 1 SD!!! Saya dan suami juga jualan sebenernya, hanya saja ngga bakat alam kayak Iffah. Kami baru jualan setelah menikah. Memang Iffah sering liat saya bawa barang dan ketika ditanya saya sering jawab,"Ini untuk temen umi, untuk dijual" Saya ga sadar ternyata dia 'merekam' hal itu... deep inside di unconsius mind-nya)
- Ke depan, beberapa kali seminggu, kami akan memberinya uang jajan, dengan catatan, sebagiannya di tabung ya... (jajan juga mengajarkannya bertransaksi, mengenal nilai uang, banyak manfaat lainnya sebenarnya. Tapi overprotective membuat saya mengabaikan manfaat-manfaat itu...)
- Salah satu alasan tidak memberikan mereka uang jajan adalah kekhawatiran terhadap apa yang mereka beli. Salah satu solusi mungkin bisa dengan mengajak mereka memilih sendiri jajanannya di supermarket dekat rumah untuk dibawa ke sekolah. Dengan begitu kami bisa mengontrol jajanannnya.

Bapak/ibu, punya saran lain untuk saya?
Terima kasih sebelumnya :)

Tuesday, November 20, 2012

Akhirnya, saya menemukannya

Ada satu hal yang saya masih raba-raba dari blogspot ini adalah mengenai bagaimana cara mem-follow blog-blog orang lain untuk bisa saya baca update-annya. Dulu ketika terbiasa dengan Multiply, tombol "Add as friend" selalu ada di halaman 'Home', dan selalu ada di bawah foto dan profil si empunya blog.

Di beberapa blog milik teman di blogspot, saya menemukan juga tombol ini, meski setelah mencari-cari kesana kemari. Namun banyak blog lain tidak ada tanda "follow" di sana. Masa' saya harus ngafalin satu-satu nama blognya, kemudian mengetikkan alamat itu di tempat pencarian web di atas untuk bisa menikmati tulisan-tulisan terbarunya? Kan lebih enak kalo saya tinggal baca di 'inbox' saya aja...

Sampai akhirnya saya memperhatikan bahwa di dasbor saya, di bagian setengah ke bawah, ada tulisan besar "Daftar Bacaan" dan ada tombol "Tambah" di sana. Saya pun membuka blog-blog yang ingin saya ikut untuk kemudian saya copy-paste alamatnya ketika dialog box-nya meminta alamat URL. Dan sekarang, saya sudah bisa menikmati tulisan-tulisan teman-teman yang lain di dasbor saya sendiri ^_^

Alhamdulillah... satu persatu mulai kebuka nih...
Sabar ya blogspot, lama-lama saya pasti ga kagok lagi :)

Standar nilai minimal

Ada banyak pemikiran yang ingin saya tuliskan di blog ini sejak lama, tapi...
Ah, banyak alasan yang bisa saya jabarkan di sini, tapi tak usahlah. Sesungguhnya hanya pembenaran semata demi kemalasan saya menulis kembali. Semoga tulisan pertama setelah sekian lama blog ini hening dari kata-kata menjadi trigger untuk meluncur derasnya tulisan-tulisan selanjutnya....
Aaaamiiiin...

Ada sebuah kegelisahan dalam diri saya kemarin (dulu) ketika menerima rapor si kembar untuk yang pertama kalinya. Berbeda dengan rapor TK-nya yang hanya berisi checklist-checklist pencapaian kemampuan-kemampuan seperti moral, sosial emosional, kognitif, komunikasi, dsb, kali ini sudah ada angka-angka di dalamnya. Semua angka bagus, jika kita mengkategorikan angka 8 dan 9 adalah angka yang bagus. Ya betul, semua angka di rapor si kembar berisi 'hanya' angka 8 dan 9.

Mungkin anda semua bertanya, bukankah seharusnya saya bangga, senang, bahagia, gembira, dengan angka-angka tersebut? Oya, tentu saja saya bangga, bahkan bangga sekali. Apalagi nilai Alifah termasuk yang tinggi di kelasnya. Iffah juga bagus, hanya saja karena dia memang belum lancar membaca, nilainya tidak setinggi Alifah. (Ah, saya pun akhirnya terjebak juga pada hal yang sangat saya hindari itu. Membandingkan)

Well, bukan itu yang ingin saya uraikan di sini. Kegelisahan saya justru muncul ketika saya tak sengaja melirik sekilas nilai teman-temannya yang lain. Ada selembar kertas di meja ibu guru, yang tak sengaja saya lihat. Berisi daftar nilai seluruh mata pelajaran, seluruh siswa, di kelas tersebut. Seharusnya saya tidak melihatnya, bukan konsumsi orang tua murid, tentu saja. Tidak ada yang salah dengan nilai-nilai di situ, semua berisi angka yang 'bagus' itu, angka 8 dan 9. Yang menggelitik saya kemudian adalah, kemana angka selain 8 dan 9. Tidak adakah yang mendapatkan angka 6 dan 7? Apakah semua anak begitu pintarnya? Iya sih, masuk ke sekolah ini ada tes-nya, banyak juga yang ditolak. Tapi apa iya semua anak se-pintar itu?

Dari ngobrol-ngobrol dengan ibu guru, saya pun kemudian mengetahui bahwa ada semacam standar penilaian yang diberikan oleh entah siapa (ah, saya lupa menanyakan hal ini. Yang jelas dari pihak yang berwenang memberikan kebijakan pendidikan di semua sekolah, entah itu regional atau nasional), bahwa batas nilai minimal -yang saya juga lupa istilahnya- adalah 7,5. Jadi, jika ketika ulangan harian atau ujian seorang anak memperoleh nilai dibawah 7,5, maka guru akan melakukan remedial (pengulangan). Nilai ulangan yang pertama dan kedua akan dijumlahkan dan kemudian dibagi 2, dengan batas nilai tertinggi adalah 7,5. (meskipun misalnya setelah dirata-rata ternyata nilainya diatas 7,5, maka nilai yang akan diperoleh adalah tetap 7,5. Untuk menjaga keadilan bagi teman-teman yang sudah duluan memperoleh nilai 7,5 dan tidak ikut remedial, begitu kata gurunya).

Ketika jaman saya sekolah dulu, nilai 6, 7, bahkan 5 adalah angka yang biasa muncul di rapor saya dan teman-teman. Batas nilai ketika itu adalah 5 (mungkin) atau 5,5. Jika kita mendapat nilai 5,6 maka masih selamat, masih bisa naik kelas. Tapi sekarang? Bahkan nilai 7 pun, sudah dikatakan rendah.

Ada pergeseran nilai tentang 'nilai'. Entah ini masalah psikologis atau apa saya tidak paham. Sesungguhnya bukan masalah angka 8 dan 9 yang saya permasalahkan. Jika ada target yang begitu tingginya, saya bisa bayangkan -jika saya menjadi ibu guru- maka saya akan berusaha -bagaimanapun caranya- agar nilai anak-anak didik saya berada diatas batas minimal itu. Apalagi jika nilai ini kemudian menjadi salah satu materi penilaian sekolah secara keseluruhan (sekolah akan dinilai bagus jika nilai rapornya sekian-sekian, jika tingkat kelulusan 100%, dst)

Ada banyak cara yang bisa saya lakukan. Mungkin saya akan membuat soal-soal yang mudah bagi anak-anak didik saya, sehingga nilai mereka akan menjadi tinggi. Atau saya akan menurunkan standar penilaian, seperti misalnya untuk jawaban yang 'mendekati' akan saya benarkan. Atau dengan mengkatrol nilai. Atau cara-cara lain, yang tidak berani saya bayangkan. Hal ini membuat saya gelisah... (ah, mungkin saya yang terlalu ber-su'uzon)

Belum lagi kegelisahan saya tentang beban pelajaran yang harus mereka ikuti setiap hari (jangankan beratnya beban pelajaran, beratnya tas sekolah mereka saja minta ampun. Saya bawa tas seberat itu baru ketika SMA.Sehari anak kelas 1 SD sudah dibebani dengan 5-6 mata pelajaran dengan buku cetak yang besar dan berat)

Ah, mungkin ini hanya kegelisahan saya. Toh mereka (kelihatannya) mereka enjoy-enjoy saja...
Mungkin ini hanya kegelisahan saya, karena saya tidak mengetahui mengapa dan bagaimana kebijakan standar nilai minimal ini dibuat. Ah, semoga ibu guru di sekolah masih memiliki tujuan pendidikan selain menuliskan nilai-nilai yang tinggi di rapor anak-anak...

Thursday, September 27, 2012

Kagok

Semenjak pindahan blog, saya jadi berasa kagok lagi kalau menulis. Seperti pindah ke kamar baru dan belum 'kerasan' dengan suasana baru... Padahal -honestly- saya sepertinya lebih menyukai suasana 'kamar baru' ini.

Mungkin saya merindukan komen-komen dari temen-temen yang mengapresiasi tulisan-tulisan saya di blog terdahulu. Jika sudah banyak teman, tentu banyak juga yang 'liat' dan berkomentar. Kalau disini, karena masih 'anak baru', jadi saya juga masih punya sangat sedikit teman.

Di blog terdahulu, saya bisa melihat tulisan semua orang yang saya suka di menu "Inbox". Saya tinggal membuat checklist siapa yang ingin saya lihat tulisan-tulisannya, apakah hanya 'friend' saya, bisa juga 'friend of friend', atau bisa juga 'all' (semua). Di blogger ini, saya masih nyari-nyari gimana cara ngeliat tulisan-tulisan orang lain, selain yang sudah saya "follow" tentunya. Any suggestion?

Semoga saya bisa secepatnya beradaptasi dengan kamar baru yang lebih bagus ini...

^_^

Friday, September 7, 2012

Diskusi Kemarin

 Tulisan ini terinspirasi dari diskusi saya kemarin.

Kami sedang membahas kata-kata Imam Syahid Hasan Al-Banna dalam Hadist Tsulasa hal 629, "Kehidupan rumah tangga adalah "hayatul 'amal". Ia diwarnai oleh beban-beban dan kewajiban. Landasan kehidupan rumah tangga bukan semata kesenangan dan romantika, melainkan tolong menolong dalam memikul beban kehidupan dan beban da'wah..."

Tentu berbeda kehidupan rumah tangga sepasang manusia yang menikah karena 'cinta' dengan mereka yang menikah karena Allah, yang dipertemukan di jalan da'wah, yang kalau boleh kita sebut mereka sepasang da'iyah. Seperti yang dikatakan Imam syahid, mereka punya beban tambahan, yakni beban da'wah. Inilah yang membedakannya dengan pasangan pada umumnya yang mungkin hanya memikirkan anak, istri, dan keluarganya saja, pasangan da'iyah juga harus memikirkan ummat.

Bersatunya dua orang mujahid seharusnya menjadikan rumah tangga itu menjadi rumah tangga yang produktif dengan kontribusi maksimal, yang insyaAllah juga menjadikan rumah tangga yang berberkah. Saling ta'awun menyebabkan orang tua yang sibuk mengurus ummat tidak mengabaikan da'wah kepada keluarga sendiri, terutama anak-anak. Berbagi tugas, saling mengerti dan memahami, saling bantu, wajib hukumnya agar da'wah keluarga dan da'wah masyarakat bisa berjalan seiring, tidak harus mengorbankan satu sama lain.

Baiklah, sebenernya bukan ini yang mau saya bahas ^_^ ...

Kemarin dalam diskusi, tiba-tiba kami menyadari sebuah fenomena yang mungkin banyak melanda keluarga da'iyah. Yang terjadi malah bertentangan dengan ungkapan Imam Syahid di atas. Entah karena terlalu memahami maksud ungkapan tersebut atau karena tidak memahaminya sama sekali.

Mereka tidak bermasalah dengan pembagian beban da'wah, namun justru berkendala dengan "kesenangan dan romantika". Saking sibuknya ngurusin ummat, ber-romantis-romantis ria dengan istri/suami malah sering terlupakan. Bagaimanapun istri/suami juga orang yang senang akan hal-hal yang romantis. Bukannya mereka tidak ridha akan sibuknya pasangannya dalam da'wah masyarakat, tapi sesekali perlu refreshing juga.

Suami/istri adalah orang yang akan menemani hidup kita sepanjang sisa umur kita. Anak mungkin hanya akan bersama kita ketika mereka kecil. Saat mulai sekolah maka dunianya sudah berpindah ke teman-temannya, begitu juga ketika menikah maka dunianya adalah suami/istri dan anak-anaknya. Tapi suami/istri akan menemani kita menghabiskan seluruh episode hidup kita.

Maka cinta itu harus dipelihara. Jangan biarkan ia berlalu seiring berlalunya waktu. Mungkin cinta bermetamorfosis menjadi 'tanggung jawab', 'kesetiaan', 'pengabdian', tapi tidak menjadikannya lelah untuk selalu dipupuk, disegarkan, diperbaharui.

Keromantisan tidak selalu berbentuk bunga, kata-kata puitis, atau candle light dinner. Dia bisa berupa ikut menemani masak di dapur, membuatkan secangkir teh, atau mendengarkan ceritanya tentang hal-hal yang tidak begitu penting. Perhatian kecil sangan berarti bagi pasangan.

Kadang dengan bertambahnya usia permikahan, psangan merasa tidak perlu lagi mengungkapkan rasa sayang seperti pasangan yang masih baru. Padahal justru itulah yang harus diusahakan, merasa selalu seperti pengantin baru.

Jangan pelit dengan kata 'sayang', jangan kikir dengan perhatian kecil, yang sungguh, jika ia senantiasa kita pelihara, maka semakin lama, semakin lanjut usia pernikahan, semakin berkobar juga cinta kita.

Kalau boleh saya meralat sedikit kata-kata di atas, "Landasan kahidupan rumah tangga bukan semata berbagi beban kehidupan dan beban da'wah, melainkan juga kesenangan dan romantika."

(Tulisan ini khusus untuk yang mungkin mulai layu cintanya, dan sungguh, sebenarnya saya juga masih terus belajar untuk menjadi romantis dan semoga mampu mampu terus memelihara cinta saya dan mengobarkannya. Wallahu a'lam)

Mba Atiya

Tak seperti Ramadhan-ramadhan sebelumnya, Ramadhan tahun ini di kompleks kami tidak lagi ada tenda dadakan yang dipakai untuk shalat tarwih. Biasanya disamping aula kompleks kami selalu ada tenda yang akan dipakai untuk shalat tarwih bagi warga kompleks, meskipun di depan kompleks ada masjid. Pesertanya ya semua warga kompleks yang pengen shalat deket rumah, baik bapak-bapak maupun ibu-ibu. Yang paling banyak adalah ibu-ibu tua (karena susah jalan ke masjid) atau ibu-ibu muda yang ga bisa shalat tanpa buntut (anak-anak kecil, yang kadang suka lari-larian atau ribut di masjid). Untuk tahun ini, dengan berbagai pertimbangan akhirnya diputuskan bahwa hanya aula yang dipakai untuk shalat tarwih, dan hanya diikuti oleh ibu-ibu. Untuk yang bapak-bapak, silakan shalat di masjid saja.

Sehubungan dengan itu, ada sebuah pe-er yang tidak sengaja diberikan ke saya, yaitu mencari imam tarwih perempuan. Nah, kalo ini sih, sebenernya, ada banyak temen yang bisa dimintai tolong. Alhamdulillah sebulan ini sudah ada banyak imam tarwih yang bersedia datang ke kompleks kami.

Malam ke-3 Ramadhan, kompleks kami kedatangan imam tarwih yang istimewa. Ketika diimami beliau, ada yang berbeda rasanya. Tibalah waktu kultum (tausiyah singkat) yang biasa dilakukan setelah tarwih sebelum witir. Dan seperti imam-imam sebelumnya, sang imam diminta untuk memperkenalkan diri.

Namanya Atiya, umurnya baru 26 tahun (masih tua-an saya ^_^), asal Banjarmasin. Ternyata beliau sudah hafidz 30 juz, lulusan universitas Mesir (tidak dikatakan universitas apa), dan sekarang sedang lanjut S2-nya di perguruan tinggi di bilangan Ciputat. Aktifitas sekarang (selain kuliah) adalah ngajar qur’an dan tahfidz di salah satu lembaga tahfidz di pondok cabe. “Silakan bu yang mau belajar ngaji sama saya. Gratis bu. Karena saya dulu juga sekolahnya gratis.” Begitu katanya sambil tersenyum. Beliau juga belajar ngajinya dengan metode … (klo ga salah ‘al ashim’, saya lupa namanya) dari ustadz yang ‘tersambung’ hingga ke Rasulullah saw.

Saya memandangnya dengan takjub ketika dia memperkenalkan diri. Selama ini orang-orang seperti mba ini hanya ada dalam imajinasi saya ketika saya membaca novel-novelnya Kang Abik (seperti Ana Althafunnisa ‘Ketika Cinta Bertasbih’). Tapi sekarang saya bertemu muka langsung. Bacaan ketika ia mengimami kami pun berbeda. ‘Lagu’-nya tak mendayu-dayu seperti Ghomidi, tapi lancar seperti dia membaca alqur’an di depan matanya. Dibanding saya, yang surat pendek saya kadang ada ayat-ayat yang masih tertukar, atau harus diam sebentar untuk mengingatkan lanjutan ayat. Dia sudah hafal 30 juz, sedang saya? Juz 30 saja masih sering hilang timbul… hehehe…

Ada api membara yang ada dalam dada saya ketika pulang ke rumah. Selain ingin memperbaiki bacaan dan hafalan saya, ingin sekali rasanya ada anak-anak saya yang mengikuti jejaknya. Sekolah di universitas islam tertua di dunia, universitas Al-Azhar di Mesir, kemudian pulang untuk membagi gratis ilmu-ilmu agamanya untuk ummat ini… Seperti Ana Althafunnisa atau Atiya :)

Aamiiin ya Rabb…

Me and Coffee

Saya ga tau kapan tepatnya mulai suka kopi. Bukan kopi hitam, tapi kopi plus-plus... Plus susu, plus creamer, ya semacam coffemix gitu lah...

Sampai suatu ketika, tubuh saya bereaksi. Saking ketagihannya, saya pernah minum kopi-mix ini dua kali sehari. Pagi pas sarapan udah seduh kopi, dan sore sambil menunggu jam pulang.

Satu bulan lebih saya ketagihan minum kopi pagi dan sore. Keputus gara-gara Ramadhan, sehingga saya tidak bisa meneruskan kebiasaan ini. Tidak lama, mulailah keluhan itu. Awalnya seperti salah makan (kebanyakan cabe, semacam itulah), sehingga (maaf) BAB-nya jadi encer, seperti diare. Hanya saja, tidak berhenti dalam beberapa hari. Keluhan ini berlanjut hingga sebulan lebih. Akhirnya saya memeriksakan diri ke dokter.

Ditanya macem-macem saya jawabnya selalu "Engga". Sampai konsul selesai, saya belum menemukan apa penyebabnya. Tapi tetep dikasih obat. Sesampai di rumah, ada satu pertanyaan dokter yang menggelitik saya, "Ibu suka makan karbohidrat kompleks ya?"

Karbohidrat kompleks maksudnya kalo kita makan nasi beserta lauk pauknya, tapi karbohidrat semua, misal: makan nasi, lauknya kentang dan mie goreng, sayurnya jagung. Nah, itu satu porsi kan karbohidrat semua, tanpa (atau sedikit) protein, vitamin, dll zat yang diperlukan tubuh.

Ketika ditanya saya jawabnya engga, karena saya suka sayur, lauk juga jarang pake kentang atau hanya mie (klo saya makan mie pasti tanpa nasi). Setelah menanyakan pada dokter, saya baru tahu ternyata kebanyakan karbohidrat (which means zat gula) bisa menyebabkan gula menumpuk di usus. Gula bersifat menyerap air. Itulah yang menyebabkan BAB menjadi encer.

Setelah berpikir, meskipun juga tidak begitu pasti bahwa penyebabnya adalah ini (bisa mecem-macem, hanya bisa menebak), saya mencoba menyimpulkan bahwa kegemaran saya minum kopi tiap hari itulah yang menyebabkan hal ini. Secara kita tahu sendiri, kopi instant banyak mengandung gula 'tingkat tinggi' alias sakarin (semacam itulah). Semenjak saya menghentikan kebiasaan minum kopi terlalu sering ini, keluhan ini tak pernah datang lagi. Ketika masuk D4, kebiasaan ini hilang sama sekali. Ya, paling sesekali kalo lagi kepengen aja, dan (lumayan agak sering) ketika ngerjain skripsi ^_^V hehe... (meski ga tiap hari)

Beberapa waktu lalu tak sengaja saya menemukan artikel kesehatan yang bilang bahwa kopi dapat menyebabkan iritasi kandung kemih juga. Mulai ngantor lagi menyebabkan keinginan minum kopi kembali menggoda. Ya, saya sempet beli satu pak kopi-mix lagi. Tapi, entah karena saya baca artikel itu atau memang lagi-lagi karena kopi ini, kandung kemih saya memang lagi sakit. Akhirnya sisa sachet-an kopi yang ada di laci saya kasih ke temen-temen. Sampai sekarang saya belum berani mencoba minum kopi lagi.

Well, saya tidak sedang menakuti anda supaya jangan minum kopi. Kondisi tubuh tiap orang berbeda-beda, hanya saya sepertinya tubuh saya agak tidak bersahabat dengan minuman yang satu ini. 

Just sharing ^_^

Nulis Buku


Tadi pagi ada liputan mengenai situs nulisbuku(dot)com.

Hmm... Menarik sekali mendengar penjelasan dari si empunya situs mengenai bagaimana cara biar punya buku sendiri. Tinggal upload naskah, ga usah nunggu berbulan-bulan nunggu apakah naskahnya diterima ato malah ditolak oleh penerbit. Cover-pun bisa desain sendiri... Wow!!! 
(teknisnya ga terlalu merhatiin tadi, yang jelas masalah kualitas tulisan tidak ditentukan penerbit, melainkan masyarakat penikmat tulisan itu. Penerbit akan selalu menerbitkan buku yang diminta, sesuai demand)

Sebenernya saya hanya seneng nulis aja, sekedar hobi, tapi ga serius. Sebagian besar tulisan tidak dimaksudkan untuk apa-apa, kecuali hanya pengen nulis aja. Menuangkan teriakan-teriakan yang berputar dan memekakkan kepala aja...

Tapi punya buku sendiri, dengan nama "Nina Sabnita" (apa mungkin lebih baik pake nama pena gitu?) adalah impian saya dari dulu. Sebenernya ga pede dengan tulisan-tulisan saya, tapi who knows? Seperti Chicken Soup for The Soul yang ditolak sekian ratus penerbit, ternyata sekarang... luar biasa... (yaaah, setidaknya ini jadi pemicu untuk menghasilkan tulisan yang agak mutu lah)

Tulisan-tulisan di blog ini, menurut saya sih, ga terlalu mutu untuk dinikmati banyak orang. Dulu pengen bikin cerpen, tapi terus terang saya juga ga jago nulis fiksi. Tulisan ilmiah? Ntar dulu deh (bisa kena di metodologi penelitian ntar... hehe...) Jadi apa dong? (ga jelas nih)

Intinya adalah cuma mau bilang bahwa entah kenapa liputan tadi pagi itu begitu menggugah saya. Ada sesuatu yang menggeliat dalam hati kecil saya, keinginan bahwa tulisan-tulisan saya bisa dinikmati banyak orang, bisa memberikan inspirasi dan ilmu bagi orang lain, berda'wah lewat tulisan (meski masih merasa kerdil).

Publish my dream? Bismillah aja deh :)

Unstoppable


Ini memang tentang film berjudul "Unstoppable" (2010) yang dibintangi aktor favorit saya :) Denzel Washington.  Jadi ceritanya, film ini mengisahkan tentang kereta api sepanjang lebih kurang 800 meter berisi bahan kimia berbahaya yang berjalan dengan kecepatan maksimal tanpa pengemudi (masinis). Wow! Btw, kisah ini memang diinspirasi oleh kisah nyata (juga salah satu genre favorit saya ^_^)

Adalah Frank Barnes (Denzel Washington) supir kereta dengan dedikasi 28 tahun, bersama Will Colson (Chris Pine) konduktor yang baru masuk mengendarai kereta bernomor 1206 yang membawa sekitar 750 meter gerbong dibelakangnya. Kereta lain bernomor 777 yang tanpa masinis ini, bergerak berlawanan arah dengan kecepatan penuh yang kemudian menjadi tokoh utama cerita. Singkat cerita, setelah berhasil menyelamatkan keretanya sendiri agar tidak bertabrakan dengan 777 (menepi di rel 2 jalur), Frank dan Will melepaskan ikatan lokomotif dengan gerbongnya dan kemudian mengejar kereta 777 dari belakang untuk mengurangi kecepatan kereta tsb agar tidak terjatuh ketika melalui lintasan rel berbentuk kurva di sebuah kawasan industri. Bisa ditebak, kedua orang yang tidak mendapatkan restu ketika ingin menyelamatkan kereta tsb, akhirnya menjadi pahlawan.

Tidak ingin me-review film ini (makanya saya ngga nulis di kategori review). Alur cerita mudah ditebak, tapi dikemas dengan apik sekali sehingga tidak membosankan, justru semakin tegang hingga akhir cerita.

Saya suka sekali cerita tentang kepahlawanan, khususnya pahlawan-pahlawan real disekitar kita. Pernah nonton "Unbreakable"? Cerita ini masih membekas dalam ingatan saya, selain karena dimainkan oleh Bruce Willis dan Michael L. Jackson (favorit saya), tapi jalan cerita yang menarik, tentang kepahlawanan. 

"Die Hard" (1 sampai 4) belum bosen saya tonton. Tiap kali tayang di tv, kalo sempet, pasti saya usahain nonton. Jalan ceritanya mungkin muluk2 ya (how come? Satu orang ngelawan komplotan?) The point is, bagaimana yang satu orang ini 'peduli' dan berjuang. Di Die Hard 4, salah satu dialog yang masih saya ingat,"kenapa kamu mau melakukan semua ini?" dan John Mc.Clane (Bruce Willis) menjawab,"Karena orang lain ga ada yang mau melakukannya." 

Well, that's make someone a hero, right?

"A Few Good Man" (Tom Cruise dan Demi Moore) juga bagus. Ohya, inget film ini, inget barusan juga saya nonton film "Puncture" (Chris Evans). Kedua film ini tentang pengacara yang membela sesuatu yang ia yakini meski mustahil menang. Tidak terlalu suka jalan cerita film Puncture ini, tapi pesennya dapet banget. Kisahnya berawal dari seorang perawat yang terinfeksi AIDS karena menggunakan jarum suntik yang tidak aman, yang digunakan oleh semua rumah sakit di AS sana, padahal ada jarum suntik yang aman -hanya saja harganya lebih mahal. Kasus menjadi kompleks karena yang dilawan adalah penyedia produk kesehatan besar (yaaa... tau sendiri lah birokrasi penyediaan barang dan jasa...). Si perawat akhirnya meninggal karena AIDS, si pengacara pun (menurut ceritanya) meninggal dibunuh, meskipun akhirnya kasus ini dimenangkan oleh partnernya, sehingga seluruh perawat di AS bisa tenang bertugas karena sudah menggunakan jarum suntik yang aman.

Sebenernya ada satu lagi film pengacara sejenis, membela seorang pemuda yang sakit melawan perusahaan asuransi besar (ah, saya lupa judul dan pemainnya). Mereka adalah pahlawan.

Hmm.... Sepertinya kita bisa mengambil kesimpulan ya, ada beberapa hal yang dipunyai oleh seorang pahlawan. Dan salah satunya adalah never give up, terus berjuang, hingga takdir menentukan apakah ia akan menang atau mati dalam perjuangannya...

:)

Episode Sidang


Sidang ternyata tak se’seram’ kelihatannya…

Begini ceritanya…

Seperti yang sudah saya janjikan sebelumnya, sekarang saya akan menceritakan pengalaman sidang pertama saya (semoga masih ada sidang kedua, ketiga…  untuk ‘S’ – ‘S’ selanjutnya ^_^)

Well, hari-hari menjelang sidang, mungkin hari paling ‘horrible’. Stress dan kawan-kawannya bener-bener ngumpul jadi satu. Nervous, panik, takut, gugup, semua nyampur. Meski segala upaya sudah dilakukan, belum bisa mengurangi tingkat stress menjelang sidang. Beberapa upaya itu antara lain:

1.       1. (Tentu saja) Belajar!
Sejak pengumuman jadwal sidang launching, saya juga mulai menjadwal pola belajar saya. Berhubung saya dapet pekan kedua (yang berarti 2 pekan lebih dari pengumpulan skripsi) berarti masih cukup waktu untuk membaca kembali pelajaran-pelajaran semester kemarin. Saya sudah setting untuk mempelajari pelajaran yang saya kurang saya kuasai di satu pekan sebelum sidang, yang cukup saya kuasai beberapa hari menjelang sidang, dan review skripsi sehari menjelang sidang. Saya sedang puncak-puncaknya stress di H-2, dan ketika H-1 pengumuman jadwal sidang saya diundur, stress langsung melorot ke titik paling bawah (buku, modul, print-an yang udah dikumpulin, beberapa hari tak tersentuh gara-gara pengunduran itu ^^) Bagusnya, ketika mood sudah balik lagi, belajarnya jauh lebih tenang

2.       2. Nyari-nyari informasi
Alhamdulillah saya seangkatan dengan orang-orang yang sangat care dengan temannya. Prinsip kami, masuk bareng-bareng, lulus bareng-bareng. Angkatan saya bikin group di fb untuk memudahkan komunikasi , semua pengumuman, informasi, segala hal yang terjadi diinformasikan disana. Kami juga bikin docs untuk data-data tertentu, seperti profil dosen penguji (testimoni maksudnya ^^ biar siap menghadapi karakter dosen), permasalahan skripsi, sampe kumpulan pertanyaan dosen penguji lengkap dengan jawabannya (jadi setiap orang yang sudah menjalani sidang wajib ngisi docs pertanyaan apa saja yang ditanyakan dosen). Ini sangat membantu sekali untuk yang akan menjalani sidang lho, minimal ketika bisa mengira-ngira pertanyaan apa yang akan ditanyakan (karena kadang dosen ‘kurang’ kreatif sehingga pertanyaan yang diajukan sama) tingkat stress sedikit berkurang. Tapi group ini juga kadang bikin tambah stress, karena tiap hari temen-temen pasti lapor “alhamdulillah gan, ane udah lulus!”, “ xxx, SST, PTB sertified by Mr. PTB”, “aku lulus maak!”, “alhamdulillah ya, sekarang sudah jadi SeSuaTu”, “hari ini sapu bersih. A, B, C, lulus dengan sukses”, dan kalimat senada lainnya. Bikin geregetan dan ngiri juga, mereka udah pada lega dan saya masih berkutat dengan stress…

3.       3. Jaga kesehatan
Beberapa hari menjelang sidang saya rutin minum habbassauda, redoxon, cerebrovit, bahkan air zamzam oleh-oleh naik haji ibu mertua pun saya habiskan.

4.       4. Berdoa
Klo yang ini, jauh-jauh hari sudah jadi kebiasaan. Bahkan Ramadhan tahun ini, mungkin porsi terbesar doa-doa saya adalah tentang skripsi dan sidang. Seperti biasa klo ujian atau stress, mesti ibadahnya mengalami peningkatan (kebiasaan manusia ya, kalo butuh sama Allah baru rajin ibadah :P )

Hari-H pun tiba. Alhamdulillah ada suami tersayang yang bersedia meluangkan waktunya untuk nemenin sidang (tadinya saya malu, “ga usah lah bi, umi sendiri juga gapapa”. Tapi sebagian besar temen-temen saya yang udah punya suami ternyata ditemenin suaminya juga, jadi saya pun mengijinkan ^_^)

Jadwal sidang saya jam 15.00 sebenernya, kloter terakhir di hari itu (nungguin 1 dosen yang juga menguji 3 kloter sebelumnya). Setelah sarapan, minum habbassauda, cerebrovit, dan air zamzam, membawa semua yang diperlukan di tas, saya dan suami pun berangkat. Sekitar jam 11 saya sudah sampai di Student Center, jaga-jaga siapa tau ada perubahan jadwal (seperti temen saya beberapa hari sebelumnya, jadwal jam 3 sore dimajukan jadi jam 1). 

Ruangan sidang berdinding kaca, jadi bisa dilihat dari luar. Posisi dosen menghadap ke luar dan mahasiswa menghadap ke dosen, membelakangi pintu dan dinding kaca. Posisi yang cukup bagus, tidak memecah konsentrasi. Pengunjung di luar bisa melihat apa yang terjadi di dalam. Ngobrol sebentar dengan calon SST yang lagi nunggu pengumuman, ternyata baru 1 kloter yang akan selesai. Berarti jadwal sidang sepertinya tidak berubah, jam 15.00.

Setelah shalat di masjid kampus dan makan siang di warung, kami kembali ke tempat sidang. Sambil review apa-apa yang sudah dipelajari, saya jalan-jalan melihat Student Center yang ternyata tidak sebesar yang saya bayangkan, hanya lebih besar sedikit dibanding gedung G, hanya saja dengan parkiran lebih luas. Berusaha menurunkan stress dengan mensugesti diri (membayangkan ini hanya diskusi biasa dengan atasan di kantor), hingga tiba waktunya masuk ke ruangan sidang.

Akhirnya waktunya pun tiba. Diawali dengan presentasi 5 menit (yang sudah saya latih dengan suami tadi malam) sambil memberikan resume skripsi kepada setiap dosen (yang ternyata hanya dilihat sekilas). Pertanyaan pun dimulai. Well, secara keseluruhan saya bisa menjawab hampir semua pertanyaan (yang semua berkisar SIM, audit SIBK, dan TI, tidak ada teori akun, pajak, pasar modal, akpem, akmen, keuangan publik dll … fyuh!). Ada 1 pertanyaan yang saya tidak bisa jawab sama sekali dan beberapa jawaban tidak tepat. Secara keseluruhan, oke lah. Dan ketika sidang selesai, saya pun bisa keluar dengan hati cukup tenang dan pasrah dengan berapa pun nilainya (meski masih berharap dapet A ^^).

Akhirnya saya pun dipanggil untuk yang kedua kalinya (pengumuman hasil sidang). 

“Baiklah nina…
Karena ada beberapa pertanyaan yang tidak terjawab,
Maka, mohon maaf ya,
Kami tidak bisa meluluskan anda…

dengan nilai A!
Jadi A- ya… “

“Alhamdulillah, terima kasih pak!”

Kata-kata ini masih lekat dalam ingatan saya sampai sekarang. 
Ya Allah, alhamdulillah, akhirnya saya lulus  juga. 

Ada banyak revisi sebenernya, tapi semua tentang penulisan. Banyak kalimat janda (itu sebutan pak dosen untuk poin yang berada di posisi paling bawah kertas sementara penjelasannya ada di halaman berikutnya), margin (waktu ngeprint, properties printernya ngga saya ganti ke A4, masih letter, jadi margin bawah yang harusnya 1,5’’ jadi kelebihan), dan teknis-teknis lain. Terakhir, masing-masing dosen gantian memberikan tausiyah, dan yang paling saya ingat (karena diulang berkali-kali) adalah “Jaga nama baik almamater!”.
Keluar ruangan membawa 4 bundel skripsi, hati saya lega setengah mati. Dengan wajah cerah dan senyuman, saya pun lapor ke suami yang masih setia menunggu,”A min (A-) bi”

Tadinya udah ngerencanain makan dimana untuk merayakan kelulusan saya, tapi entah kenapa hati yang plong dan pikiran lega udah ga kepengen apa-apa lagi. Cuma pengen cepet-cepet nyampe rumah dan rebahan. Seperti batu segede gunung yang biasa saya pikul di punggung tiba-tiba hilang. Hari berikutnya, sebagian besar waktu saya habiskan dengan rebahan di tempat tidur (mencoba tidur meski ga bisa –biasalah ributnya anak-anak). 

Well, that’s it. Cerita sidang saya. Istimewa, mungkin karena pertama, mungkin karena di STAN (soalnya denger testimoni beberapa lulusan D4 STAN dan sudah S2 bilang, kuliah paling berat di STAN!). Sidang memang tak se’seram’ kelihatannya, ‘serem’ itu nungguinnya, begitu masuk ruangan udah pasrah dan enjoy aja…

Semoga bermanfaat ^_^

November 2011