Thursday, September 6, 2012

Inconsistency

Ketika merasakan betapa indahnya kehidupan da'wah kampus, saya berkata dalam hati, tidak akan ada kehidupan lain yang lebih indah, kondusif, da'wah dengan semangat yang seperti di kampus. Tak akan kulupakan kenangan bersama akhawat dan semua penghuni kampus (kambing, ilalang, kebon tebu ponjay ^_^).

Menginjak bumi hulontalo (gorontalo) dan merasakan cinta yang tak terperi dari ikhwah disana, saya menemukan tambatan hati lain. Ternyata ada yang lebih indah, lingkungan yang lebih kondusif, da'wah yang lebih semarak, semangat yang begitu luar biasa, ukhuwah yang tiada dua. Saya pun berikrar tidak ada tempat seindah gorontalo.

Kuliah tidak serius, lulus dengan IP pas-pasan, dan senang dengan kehidupan kantor, membuat saya memproklamirkan diri 'lebih suka kerja ketimbang belajar'. Memutuskan kuliah D4 demi waktu dan kebersamaan dengan anak-anak menjadi alasan karena 'ketidaksukaan' akan aktivitas b-e-l-a-j-a-r.

Nyatanya?

Ah, sesungguhnya saya malu mengatakan saya (ternyata) suka sekali belajar. Suka berbagi ilmu lewat forum-forum diskusi di kelas, mempelajari ilmu-ilmu yang lebih 'make sense' dan aplikatif (ketimbang dulu waktu D3, ga ngerti melajarin apa), senang berbicara di depan kelas (presentasi) berbagi wawasan, membaca (dan beli) buku-buku akademis yang ga pernah disentuh, ilmu nambah, juga temen-temen...

Kuliah lagi membuat saya pengen kuliah terus (lanjut S2-S3). Motivasi dari dosen-dosen memang bikin pengen sekolah setinggi-tingginya. Pernyataan 'lebih seneng kerja ketimbang belajar' ga tau ilang kemana. Pengen belajar lebih banyak, untuk berbagi ke yang lain. Ternyata belajar lebih enak... hehehe...

Hmmm... ternyata saya sering ga konsisten ya.... ?

Jika Kemudian

Apa yang akan terjadi jika cinta timbul sebelum menikah?

Mungkin ada beberapa konsekuensi...

Ketika yang dicintai menjadi suami/istri, maka mungkin kita akan bahagia karena bisa hidup bersama yang dicintai.
Bisa memandang wajah yang kita kagumi setiap hari, wow... anugerah yang tiada tara.
Bisa mengarungi episode kehidupan selanjutnya dengan yang tercinta, tak ada yang lebih indah dari ini kan?

Jika ternyata ia seperti yang kita sangka (dengan segala imajinasi kita ketika belum menikah dengan segala impian dan ekspektasi yang saya yakin sangat sangat tinggi), maka barakallah buat anda berdua... Alhamdulillah...

Jika kemudian ternyata ekspektasi itu begitu tinggi, yang kita cintai ternyata tak seperti kelihatannya. Dia yang nyaris sempurna, ternyata punya banyak borok yang disembunyikan (atau sebenarnya tidak disembunyikan, hanya saja mata kita yang melihat apa yang kita inginkan = kelebihannya saja). Maka mungkin cinta itu akan berkurang, kekecewaan merebak. Cinta yang kita perjuangkan mati-matian (kemarin dulu) ternyata hanya memperjuangkan kepalsuan saja.

Atau jika ternyata yang kita cintai ternyata tidak menjadi pasangan kita, akankah kita sanggup mencintai orang lain yang Allah takdirkan untuk kita?
Akankah kita sanggup menjadikannya tempat berlabuh?
Benarkah anda sanggup?
Mungkin ya, tapi butuh waktu?
(kasihan sekali jodoh anda...)

Karena memang begitu karakteritiknya cinta, mata melihat apa yang ingin dilihat, telinga mendengar apa yang ingin di dengar, ia begitu sempurna untuk menjadi pasangan saya sehingga perlu dan harus saya usahakan, sebelum dia menjadi milik orang lain. Tak ada yang lebih baik daripada dia, dan seterusnya...

Ah, mungkin cinta itu ada banyak... mungkin ini hanya sebagian cinta yang menjerat, cinta buta? Cinta yang tidak tulus? Cinta yang tak ikhlas?

Anda pembaca mungkin lebih tau...

Jika dengan mencintai sebelum menikah, anda bisa membuat pernikahan dan keluarga menjadi lebih indah dan bermakna...
jika dengan menikahi yang dicintai membuat anda lebih produktif, lebih bergairah menjalani hidup, lebih bermanfaat bagi orang lain, lebih cepat dekat dengan keluarga besar, lebih bersemangat berda'wah kepada semua...
jika menikah dengannya menjadikan anda memandang hidup lebih indah dan layak untuk dijalani dengan sebaik-baiknya...
Maka lakukanlah!

tapi jika kita tidak tau siapa yang sesungguhnya baik untuk kita,
jika kita takut ekspektasi kita terhadap pasangan sebelum menikah bisa merusak kebersamaan,
jika kita takut mata kita melihat yang tidak sebenarnya, telinga tak mendengar yang seharusnya,
jika kita ingin memberikan hati yang suci hanya kepada yang berhak menerimanya,
Maka tahanlah cinta itu hingga sesaat setelah 'arsy berguncang ia menjadi halal untuk kita lakukan apapun kepadanya.

:)

Tentang Berserah

Ada waktu-waktu dimana kita begitu bergantung kepada Allah
(meskipun sebenarnya setiap saat kita senantiasa bergantung padaNya).
Bergantung kepadaNya terhadap hal-hal yang diluar kuasa kita.
(meskipun sebenarnya juga, semua hal berada di luar kuasa kita ^_^)

Adalah wajar ketika kita, setelah berusaha sedemikian rupa terhadap sesuatu, ingin hasil yang seperti kita inginkan. Hasil yang –setidaknya menurut kita- pantas untuk kita dapatkan sebagai balasan atas ikhtiar kita.

Setelah berusaha belajar mati-matian dan berharap lulus dengan nilai terbaik…
Setelah bekerja banting-tulang mencari rejeki dan berharap mampu menghidupi keluarga dengan berkecukupan…
Setelah berikhtiar mencari suami/istri dan berharap mendapat suami/istri yang cantik wajah dan hatinya, yang shalih/ah, yang bersamanya berharap menjadi partner menggapai ridhaNya…

Namun adalah pula suatu kemestian, bahwa segala sesuatu tidak luput dari ketentuan Allah.

Semua telah Allah tuliskan dalam Lauh Mahfuz dan tinta telah mengering. Maka akan tenang hati seorang hamba jika setelah ia berikhtiar, ia berserah atas semua keputusan/hasil yang ditentukan Allah atasnya, kehidupannya…

 “Setiap bencana  yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikannya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.” (Q.S. Al-Hadiid: 22-23)

Ia Maha Mengetahui apa-apa yang baik untuk kita, sedangkan kita tidak. Kita hanya menduga bahwa itu baik untuk kita, seringnya kita ‘sok’ tahu, begitu yakin, bahwa apa yang kita lakukan/dapatkan itu baik untuk kita. Padahal sejatinya tidak.

Seringkali kita berdoa agar Allah memberikan  yang terbaik. Padahal Allah selalu memberikan yang terbaik. Hanya kita yang tidak atau belum ridha atas apa yang Dia tentukan untuk kita.

Ridha, adalah tingkatan yang lebih tinggi dari sekadar cinta. Keridhaan kita terhadap apa yang Ia tentukan untuk kita, adalah pembuktian cinta kita kepadaNya. Ridha terhadap apa yang yang paling baik untuk kita sesungguhnya, sebenar-benarnya, seandainya kita bisa ‘melihat’ hikmah dibalik ketentuannya, yang kadang tidak kita sukai.

Berserah, terhadap apa yang sesungguhnya baik untuk kita, kebaikan sejati itu, tidakkah sesungguhnya merupakan hal yang mudah?

:)

'Indonesia vs Laos' dan Menantu Papa

Tadi malam telah berlangsung pertandingan sepakbola piala AFF di Gelora Bung Karno Senayan. Dengan skor 6-0 Indonesia boleh bergembira dengan kemenangan telak ini.

Saya ngga mau membahas gimana jalannya pertandingan. Ngga nonton juga. Hanya suami yang teriak-teriak sendiri di depan teve ketika saya -seperti biasa- ngendon bobo'in anak-anak di kamar sampe mereka (dan seringnya saya juga) tertidur ^_^.

Hanya saja ketika balik ke kamar saya, tiba-tiba sudah ada tanda bergambar amplop di hp saya (tanda ada sms masuk). Ternyata dari papa. Isinya bikin saya bingung sebenernya, tapi kemudian baru ngeh setelah bertanya sama suami.

Mau tau isi sms-nya?
"Nina nonton bola ga? Mantu papa hebat-hebat ya, yang pertama tadi Firman menggolkan. Yang kedua Ridwan." (setelah ditranslet ke bahasa indonesia dari bahasa minang)

Sebagai informasi, di pertandingan tadi malam, gol pertama dilakukan oleh Firman (Utina) dan gol kedua oleh Ridwan, yang keduanya adalah juga nama menantu pertama dan kedua Papa... (suami saya dan suami adik saya) 

hehehehe....

2010

Mereka yang Mencintai

"...Jaga adek ane nggeh... Syukron"
"...Ana sangat mengharapkan beliau tidak terputus tarbiyahnya di STAN, dan semoga beliau dapat menjadi lebih baik lagi. Jazakillah kheir katsiir ukhti, anak sangat berterima kasih atas bantuan antunna sekalian dalam mentarbiyah beliau."
"...Nitip ya dek..."

Begitu kira-kira beberapa pesan dari murabbi beberapa akhwat 'baru' ketika saya melakukan konfirmasi mengenai adik-adik kesayangan mereka.

Murabbi. Dia adalah orang lain. Bukan saudara, tidak ada ikatan darah. Hanya ikatan aqidah dan Allah berkenan mempertemukan kita dengan mereka dalam sebuah majelis ilmu guna meng-upgrade diri menuju keshalihan.

Murabbi. Orang asing yang kemudian menjadi guru kita, sahabat, kakak, orang tua, motivator, konsultan, syekh, psikolog, pemimpin, pembimbing, juga mak comblang :)

Murabbi. Orang yang kemudian begitu besar cintanya kepada kita -binaannya- yang mengingat kita dalam shalat-shalat malamnya, yang peduli dengan keshalihan kita, yang ikut menangis ketika kita menangis, yang khawatir ketika ada masalah dalam diri kita, yang ikut pusing mencarikan jodoh kita, yang senantiasa berdoa untuk kebaikan kita...

Saya merinding membaca pesan-pesan di atas. Pesan dari seorang murabbi yang begitu cintanya kepada mutarabbinya, yang peduli terhadap keberlangsungan proses tarbiyah mutarabbinya, yang tak peduli bagaimana perlakukan mutarabbinya terhadapnya selalu mengharapkan yang terbaik, menitipkan dengan kekhawatiran wajar layaknya orang tua yang akan melepas anaknya pergi jauh darinya...

"...Jaga adek ane nggeh... Syukron"

Dada saya bergetar, air mata menggenang ketika membaca pesan ini. Betapa besar cinta ukhti ini kepada binaannya.

InsyaAllah ukh, doakan kami juga agar mampu menjaga amanah ini dengan baik.

...

Langgam Kenangan

  Tiba-tiba pengen posting tentang nasyid lawas dari Suara Persaudaraan.
Nasyid yang kami (tim nasyid Alfi Zahr) tampilkan ketika kajian tentang 'cinta' kala itu.
Nasyid yang 'jawa' banget. Iramanya seperti 'nembang'.

Judulnya "Langgam Kenangan"

Duhai kawan aku punya cerita
Kisah tentang dua anak manusia
Yang terhunjam sebatang panah asmara
Kemudian mendapat hidayah Rabbnya

Keduanya kini harus memilih
Antara sahabat dan Rabbnya terkasih
Sahabat lama pun kini ditinggalkan
Cinta suci hanyalah milik Tuhan

Aduh segere banyune ing sendang
Ilang susahe wes mari rak mriyang
Banyune bening
Nyenyeger ati
Uge rak lali mring Allah kang suci

Allah... Allah... Allah...
Allah... Alllah... Allah...

Allah, Allah, Allah ghayatuna
Muhammad qudwatunna
Alqur'an dusturuna
Jihad, jihad, jihad sabiluna
Almautu fi sabilillah asma amanina

Allah, Allah, tujuan hidup kami
Muhammad tauladan kami
Alqur'an penuntun kami
Jihad, jihad, jihad jalan kami
Syahid di jalan Allah cita kami tertinggi

Allah adalah muara segala cinta.
Kepada siapa atau apa pun cnta kita labuhkan, tak akan ada artinya jika tidak ada Allah disana.
Tidak tahukah engkau bahwa Ia Maha Pencemburu?

Maka tanyakanlah apakah cinta yang sedang bersemayam dalam diri kita, sudahkah atas seijin Sang Pemilik sejatinya?
Pantaskah yang selain Dia mendapatkan perhatian lebih melebihi cinta kita kepadaNya, RasulNya, Alqur'an, da'wah dan jihad dijalanNya?
Apalagi ia yang belum tentu dipilihkan untuk kita?

Wallahu a'lam bisshowab...

Analogi

Masih segar diingatan kita, beberapa tahun yang lalu sempat isu tentang poligami menjadi pembicaraan terhangat di seantero nusantara. Semenjak sang Da’I fenomenal Aa Gym melakukannya hingga muncul klub poligami di Bandung, diikuti bermacam pembicaraan dan diskusi lebih jauh mengenai poligami di berbagai media dan seluruh kalangan pun ikut membicarakannya.

Latah poligamipun kemudian menjalar. Sebagian suami kemudian terinspirasi untuk melakukan poligami yang memang ada dalam syari’at, dilakukan oleh Rasulullah SAW, dengan segala maslahat yang ada didalamnya. Hal ini mungkin yang kemudian membuat Ustadz Cahyadi Takariyawan kemudian menulis sebuah buku yang tak kalah fenomenal, Membahagiakan Diri dengan Satu Istri, kala itu.

Saya yakin anda juga sependapat dengan saya, bahwa Ustadz Cah tidak sedang membuat tulisan tandingan atau mempertentangkan antara poligami dengan mempertahankan beristri satu. Pastilah tidak ada niatnya untuk menafikan kehalalan poligami, mengatakan satu istri lebih baik daripada banyak. Tentulah tidak. Beliau mungkin hanya membuat tulisan pembanding, agar poligami tidak dipahami secara parsial, dan kemudian melakukan (meneladani) apa yang Rasulullah lakukan dengan pemahaman yang tidak komprehensif. Hanya berharap ketika melakukan poligami adalah betul-betul dengan pemahaman yang benar sehingga memberikan maslahat sebagaimana yang diharapkan.

Ketika saya membaca tulisan seorang ak Akh yang mengatakan bahwa cinta adalah argumentasi yang shahih untuk menolak lelaki/wanita shalih yang datang kepadamu, sungguh mungkin perasaan saya lebih kurang sama dengan ustadz Cah ketika membuat buku bahagia dengan satu istri-nya. Ada kekhawatiran yang tiba-tiba muncul dalam diri saya ketika tulisan itu kemudian dipahami dengan parsial oleh orang yang membacanya. Bukannya saya menyalahkan, menafikan, semua dalil, sunnah, dan teladan para sahabat yang dikemukakan. Sungguh tidak. Saya hanya membayangkan sebagian pembaca berbondong-bondong menolak ikhwan/akhwat shalih yang datang kepadanya karena alasan cinta. Cinta yang tak pernah kita tahu itu cinta dari siapa (dari Allah atau ada campur tangan syaitan disitu? Na’udzubillah). Cinta yang belum tentu ia shahih untuk diberikan kepada yang belum berhak.

Lagi-lagi saya tidak faqih bicara cinta.
Saya tidak bisa tau bagaimana sesungguhnya cara seorang ikhwan mengetahui akhwat incarannya juga mencintainya?
Saya juga tidak bisa mengira bagaimana cara seorang akhwat bisa yakin dengan menolak ikhwan shalih yang datang kepadanya dengan harapan ikhwan yang dicintainya akan melamarnya?
Saya juga tidak tau bagaimana seorang lelaki bisa sedemikian cinta kepada seorang akhwat yang sesungguhnya tidak dikenalnya sehingga memperkenankannya menolak akhwat yang disodorkan biodatanya?
Mohon beribu maaf atas kenaifan pikiran-pikiran suudzon saya…

Mengajak pembaca untuk mengendalikan cintanya yang menggelora memang tujuan saya membuat beberapa tulisan ‘counter’. Hanya bermaksud mengajak para ikhwah untuk mengendalikan perasaan hingga ia halal dan siap untuk ditanam, dipupuk, disiram, hingga tumbuh dan berkembang dengan benar. Janganlah sampai menolak, meskipun itu boleh.
Sebagaimana Ust. Cah mengajak berbahagia dengan satu istri, tidak berarti ia melarang para suami berpoligami.

Berserah lebih selamat, bagi saya, karena saya – dan banyak ikhwah lainnya- telah membuktikan keselamatan ini. Memilih untuk tidak memilih, mengadukan cinta kepada Allah kemudian berserah ketika Allah memilihkan ia atau yang lebih baik untuk saya, bukannya menolaknya. Inilah yang saya lakukan kemudian saya tuliskan pengalaman ini, sepengetahuan dan sepemahaman saya. Maka tidak usah mengatakan bahwa seseorang tidak mampu mempertanggungjawabkan apa yang ditulisnya, sedangkan dirinya sendiri juga belum tentu mampu.

Sesungguhnya semua orang dapat diambil dan ditolak pendapatnya kecuali Rasulullah SAW.

Wallahu a’lam bishowab.

Mendadak Vegetarian

Beberapa bulan terakhir saya dan keluarga diuji Allah dengan ujian kesehatan. Berawal dari gatal-gatal di seluruh tubuh yang saya rasakan dari bulan Agustus kemarin. Saya kira gara-gara ganti deterjen. Ternyata gatal berlanjut meski deterjen kembali ke asal. Diikuti dengan bentol merah (biduran) yang memenuhi hampir seluruh tubuh kecuali wajah saya. Sampe kalo malem ga bisa tidur. Gatal berasa dari dalam, terutama jika abis mandi air dingin, lagi hujan, dan malam hari, yang kemudian saya akhirnya berkesimpulan mungkin saya kena alergi dingin.

Tadinya hanya saya sendiri, saya pikir karena efek cuaca aja tambah kondisi badan yang ga fit (semenjak kuliah berat badan turun terus). Kemudian saya curiga dengan si dede yang ikutan gatal-gatal juga, berikut abinya, adik saya, trus juga salah satu asisten saya, terakhir Alif. Paling kasihan si Dede, karena ga bisa ngira-ngira apakah kalo nggaruk akan luka ato tidak. Alhasil hampir seluruh badannya penuh luka. Oh, tidak...

Si dede pun segera saya sapih. Alhamdulillah, salah satu hikmah saya kena alergi ini adalah disapihnya si dede yang sudah 2,5 tahun. Saya tinggal perlihatkan bentol-bentol saya dan bilang,"Dede, jangan mimik umi lagi ya, nanti jadi kaya' gini. Kan kasian kalo dede gatel-gatel juga." Alhamdulillah dia ngerti. Ga rewel, cuma agak kolokan 1-2 hari, setelah itu sapihnya sukses total.

Kemudian kami pun ke dokter, juga minta saran dari orang-orang. Semua obat dari dokter, berikut suplemen (mulai redoxon, imboost force, stimuno untuk kekebalan tubuh), habassauda, coscinium plus (dari HPA), salep, herocyn, bedak calicyl, caladin lotion, mandi PK (obat warna ungu untuk dicampur ke air mandi), dettol, pokoknya semua cara dilakukan. Sampe kami sekeluarga mendadak vegetarian...hehehe... (soalnya dilarang dokter makan yang amis-amis, termasuk daging, ikan dan telur)

Hikmah kedua dari ujian sakit ini adalah, saya bisa improvisasi masakan tanpa 'lauk' ini. Tadinya saya bingung mau masak apa? Cuma sayur dan buah? Ternyata masih banyak masakan yang bisa diolah dari sayur. Ada jamur, terung, tahu-tempe (tentunya), kentang, dan lainnya. Pertama kalinya bikin kroket kentang yang alhamdulillah berhasil. Kemarin improvisasi dengan isi wortel dan jagung, sekarang bikin kroket makaroni-jamur. Alhamdulillah pada doyan. Masih ada macam-macam perkedel yang bisa di mix and match (kentang, tahu, jagung, dll). Anak-anak juga mulai doyan bayam. Hmmm...

Beberapa hari terakhir, terutama setelah kunjungan terakhir dari dokter, luka-luka bekas garukan di badan dede juga Alif mulai kering dan berangsur sembuh. Begitu juga bekas-bekas alergi di seluruh badan dan tangan saya juga udah ga gatal lagi. InsyaAllah dalam beberapa hari ini kami sekeluarga bisa sembuh dari penyakit ini. Amiiiin...

Satu hal yang menjadi kecurigaan kami, ada kemungkinan gatal ini dari air. Baru mau nyoba periksa ke Sucoffindo (tapi belum tau nih, sepertinya ribet dan jauh). Mudah-mudahan bukan karena airnya.

Buat temen-temen yang lain, jaga kesehatan ya. Alergi bisa muncul ketika stamina tubuh menurun. (saya pikir dulu alergi itu turunan, ternyata stamina ngefek juga) Palagi bulan-bulan mendatang cuaca masih akan terus hujan dan virus/bakteri cepat menyerang kalo tubuh ngga fit.

Makan bergizi, dan jaga kesehatan yaaa....

Samara atau Samarada?

(Samara = Sakinah mawaddah wa rahmah; Samarada = Sakinah mawaddah wa rahmah wa Da'wah)

Membicarakan tentang pernikahan, saya teringat sebuah fenomena yang terus terjadi. Seorang akhawat/ikhwan yang tadinya aktif berda'wah, kemudian 'tinggal kenangan' (aktifitas da'wahnya) sesaat setelah ia menikah dan punya anak. "Ga ada bekas-bekasnya," istilah suami saya. Seolah da'wah tidak pernah melekat dalam dirinya.

Ketika hendak menikah, semua orang pasti merindukan rumah tangga yang samara. Namun bagi da'i seharusnya samara saja tidaklah cukup. Ada impian menjadikan keluarganya menjadi keluarga da'wah. Namun tidak demikian ternyata bagi sebagian ikhwah, terutama ikhwah STAN yang ketika lulus, kemudian penempatan dan bekerja sebagai birokrat pagi hingga petang, menikah, berkeluarga dan punya anak, tampaknya lupa dengan keni'matan berda'wah. Senin hingga jumat tersita waktunya untuk pekerjaan. Sabtu Ahad kemudian menjadi waktu spesial untuk keluarga semata.

Apalagi bagi akhwat yang kemudian perannya bertambah menjadi istri dan ibu. Sibuk mengurus anak menjadi alasan yang pamungkas sekali untuk menghindari amanah-amanah da'wah yang ditawarkan padanya. Anak begitu menyita perhatian dan waktunya. Tidak ada lagi tempat untuk ummat. Ditambah lagi jika kemudian suamipun menitahkan untuk 'serius' mendidik anak saja.

Rumah tangga apa yang hendak dibangun seharusnya dikomunikasikan ketika hendak menikah. Saat taaruf dengan calon pendamping, kedua belah pihak hendaknya sepakat akan memilih keluarga yang samara atau samarada. Hal ini hendaknya disepakati kedua belah pihak. Da'wah akan menjadi berkah ketika dilakukan dengan keridhaan istri/suami. Terutama bagi istri, tidak mungkin ia berangkat berda'wah tanpa ijin sang suami.

Mungkin perlu digali ketika taaruf, apakah sang suami tipe samara atau samarada? -ini bagi akhwat yang mendamba keluarga samarada, kecuali jika ia memang berniat untuk menjadi keluarga samara saja- Apakah suami akan mengijinkan istrinya memberikan sebagian waktu, tenaga, pikiran, juga hartanya untuk ummat?

Makanya ketika menulis biodata, saya mencantumkan 2 kriteria yang harus dipenuhi calon suami saya. Pertama, ikhwah tarbiyah. Karena saya memilih jalan tarbiyah untuk menyebar kebaikan, dan tentunya menemukan orang yang memilih jalan yang sama akan mempercepat langkah dan sampai kepada tujuan. Kedua, mencintai da'wah. Ya, karena saya juga mencintainya. Mencintai hal yang sama bisa mendekatkan 2 orang asing, ya kan? Dan karena juga saya memimpikan untuk terus berda'wah sepanjang hayat dan masuk jannahNya melalui pintu jihad (amiiiiin...)

Teruslah berda'wah saudaraku, percayalah ia senantiasa memberi keberkahan.
Apa yang kita berikan untuk da'wah sesungguhnya adalah juga untuk keluarga kita.
Betapa banyak keberkahan yang saya rasakan meski sering 'meninggalkan' anak dan keluarga demi ummat. Banyak hal yang mungkin tidak bisa kita dapatkan ketika kita tidak berda'wah.

"Jagalah Allah niscaya Ia akan menjagamu..."

Percayakan yang kita tinggalkan pada yang Maha Menjaga, dan semoga Ia terus mengalirkan keberkahan kedalam keluarga kita.

Memilih untuk tidak memilih

Menyambung tulisan saya yang sebelumnya.

Di jaman saya bujang dulu, memilih calon istri/suami bukan sesuatu yang populer. Baik memilih beberapa alternatif apalagi ‘memilih sendiri’ (baca: mencari sendiri) calon istri/suami. Ketsiqohan terhadap murabbi dan jamaah tercermin lewat ketsiqohan kepada murabbi untuk mencarikan dan memilihkan calon istri/suami.

Bukannya tidak ada pilihan, kadang beberapa ikhwah ada yang memang disodori beberapa calon. Tapi memang dari awal memilih untuk tidak memilih, melainkan dipilihkan. Seolah tsiqoh kepada Allah untuk memilihkan melalui tangan murabbi.

“Saya akan berikan biodata akhwat hanya 3 kali. Jika pertama ditolak, saya akan berikan yang kedua. Jika yang kedua ditolak, saya akan carikan lagi yang ketiga. Namun jika yang ketiga ditolak, selanjutnya silakan cari sendiri.” Demikian kira-kira titah dari sang murabbi kepada binaannya ketika hendak berikhtiar mencarikan jodoh bagi mutarabbinya.

Ketika kita menyerahkan urusan jodoh ini ke tanganNya, maka insyaAllah Ia akan membersamai kita dalam proses itu. Jodoh bukan sesuatu yang ditentukanNya ketika ruh ditiupkan. Silakan lihat lagi hadist Arbain yang ke-4. “…Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya….”
Tidak kata-kata jodoh di hadist ini. Jodoh itu rizki. Ia harus dijemput. Ada ikhtiar disana.

Kembali ke tsiqoh. Tsiqoh kepada Allah untuk memilihkan kemudian di-ejawantah-kan dengan tsiqoh kepada murabbi. Memang dia bukan siapa-siapa kita. Bukan orang tua, saudara, tidak ada hubungan darah, bukan wali  kita. Kenal juga baru, mungkin juga tidak terlalu kenal akan diri kita begitu dalam, tidak tahu selera kita, apa mau kita. Dia tidak akan pernah tau kecuali kita memberitahukannya. Seberapa dekat kita dengan murabbi kita?

Jaman saya dulu, seperti inilah kira-kira gambarannya. Memilih akhwat (karena biasanya yang memilih itu kan ikhwan, akhwat relatif jadi pihak yang menunggu) seperti sudah menjadi hal yang tidak lagi tabu sekarang. Ketika ditawari akhwat shalihah, ia menolak karena kurang cantik. “Kalo tidak shalihah, saya akan mengusahakannya menjadi shalihah. Tapi kalo emang dari sononya tidak cantik?? ...” begitu kira-kira alasan ikhwan-ikhwan yang terus mencari istri cantik ini.

Padahal ia tidak tahu, ketika paras yang cantik bisa berubah menjadi jelek ketika ketidakshalihahan itu terlihat. Seandainya ia tahu, bukan cantik yang menyebabkan cinta, melainkan cinta yang menyebabkan cantik… (ini kata siapa ya?)

Namun tsiqoh juga bukan berarti taqlid buta. Apapun yang disodorkan kemudian tanpa dilihat, tidak usah taaruf, langsung akad saja, berserah dengan apa yang ada. Tidak sekaku itu juga. Ketika memang ada alasan yang syar’I, bukan nafsu semata, menjadi alasan sebuah penolakan, insyaAllah itu akan membawa maslahat. Ketika ada alasan yang kemudian menjadi penghalang keluarga yang akan dibangun menjadi sakinah mawaddah warahmah wadda’wah, maka proses boleh saja tidak dilanjutkan. Tentu penolakan dilakukan dengan cara yang ahsan, hingga meminimalisir ke-tidakberkanan-nya hati yang ditolak.

Tidak juga berarti ketika jodoh itu datang dari selain murabbi juga harus ditolak. Kitalah yang sebenarnya menentukan dari mana jodoh itu datang. Misalnya dengan tidak meminta dicarikan kepada orang selain murabbi. Namun ketika jodoh itu datang dari selain murabbi juga sesungguhnya tidak ada yang perlu dipermasalahkan, sepanjang proses menuju pernikahan itu juga syar’i. Murabbi tentu juga punya keterbatasan yang menyebabkan ia tidak bisa mencarikan jodoh semua mutarabbinya. Meski demikian, tidaklah sulit bukan jika kita tetap menghormatinya dengan meminta pendapatnya mengenai calon kita?

‘Ala kulli hal, semua tergantung diri kita sendiri. Kita yang akan menjalani episode bersama orang asing dalam satu kapal. Keputusan yang diambil adalah keputusan kita. Jangan menyalahkan murabbi atau siapapun yang membantu mencarikan jodoh kita ketika mungkin kapal itu dilanda badai. Meminta bantuan, berkonsultasi, tentunya sangat direkomendasikan, terutama karena biasanya mereka lebih lama berumahtangga dibanding kita yang masih baru. Namun tidak menyalahkannya…

Berserah adalah lebih selamat. Menyerahkan pilihan kepadaNya, kemudian memohon bantuanNya untuk memelihara dan menjalani keutuhan rumah tangga yang dibangun dengan berikhtiar dengan cara yang syar’i.

Wallahu a’lam.

(mohon maaf kalo idenya lompat-lompat… Isinya juga nggantung… masih ada sambungannya)