Thursday, September 27, 2012

Kagok

Semenjak pindahan blog, saya jadi berasa kagok lagi kalau menulis. Seperti pindah ke kamar baru dan belum 'kerasan' dengan suasana baru... Padahal -honestly- saya sepertinya lebih menyukai suasana 'kamar baru' ini.

Mungkin saya merindukan komen-komen dari temen-temen yang mengapresiasi tulisan-tulisan saya di blog terdahulu. Jika sudah banyak teman, tentu banyak juga yang 'liat' dan berkomentar. Kalau disini, karena masih 'anak baru', jadi saya juga masih punya sangat sedikit teman.

Di blog terdahulu, saya bisa melihat tulisan semua orang yang saya suka di menu "Inbox". Saya tinggal membuat checklist siapa yang ingin saya lihat tulisan-tulisannya, apakah hanya 'friend' saya, bisa juga 'friend of friend', atau bisa juga 'all' (semua). Di blogger ini, saya masih nyari-nyari gimana cara ngeliat tulisan-tulisan orang lain, selain yang sudah saya "follow" tentunya. Any suggestion?

Semoga saya bisa secepatnya beradaptasi dengan kamar baru yang lebih bagus ini...

^_^

Friday, September 7, 2012

Diskusi Kemarin

 Tulisan ini terinspirasi dari diskusi saya kemarin.

Kami sedang membahas kata-kata Imam Syahid Hasan Al-Banna dalam Hadist Tsulasa hal 629, "Kehidupan rumah tangga adalah "hayatul 'amal". Ia diwarnai oleh beban-beban dan kewajiban. Landasan kehidupan rumah tangga bukan semata kesenangan dan romantika, melainkan tolong menolong dalam memikul beban kehidupan dan beban da'wah..."

Tentu berbeda kehidupan rumah tangga sepasang manusia yang menikah karena 'cinta' dengan mereka yang menikah karena Allah, yang dipertemukan di jalan da'wah, yang kalau boleh kita sebut mereka sepasang da'iyah. Seperti yang dikatakan Imam syahid, mereka punya beban tambahan, yakni beban da'wah. Inilah yang membedakannya dengan pasangan pada umumnya yang mungkin hanya memikirkan anak, istri, dan keluarganya saja, pasangan da'iyah juga harus memikirkan ummat.

Bersatunya dua orang mujahid seharusnya menjadikan rumah tangga itu menjadi rumah tangga yang produktif dengan kontribusi maksimal, yang insyaAllah juga menjadikan rumah tangga yang berberkah. Saling ta'awun menyebabkan orang tua yang sibuk mengurus ummat tidak mengabaikan da'wah kepada keluarga sendiri, terutama anak-anak. Berbagi tugas, saling mengerti dan memahami, saling bantu, wajib hukumnya agar da'wah keluarga dan da'wah masyarakat bisa berjalan seiring, tidak harus mengorbankan satu sama lain.

Baiklah, sebenernya bukan ini yang mau saya bahas ^_^ ...

Kemarin dalam diskusi, tiba-tiba kami menyadari sebuah fenomena yang mungkin banyak melanda keluarga da'iyah. Yang terjadi malah bertentangan dengan ungkapan Imam Syahid di atas. Entah karena terlalu memahami maksud ungkapan tersebut atau karena tidak memahaminya sama sekali.

Mereka tidak bermasalah dengan pembagian beban da'wah, namun justru berkendala dengan "kesenangan dan romantika". Saking sibuknya ngurusin ummat, ber-romantis-romantis ria dengan istri/suami malah sering terlupakan. Bagaimanapun istri/suami juga orang yang senang akan hal-hal yang romantis. Bukannya mereka tidak ridha akan sibuknya pasangannya dalam da'wah masyarakat, tapi sesekali perlu refreshing juga.

Suami/istri adalah orang yang akan menemani hidup kita sepanjang sisa umur kita. Anak mungkin hanya akan bersama kita ketika mereka kecil. Saat mulai sekolah maka dunianya sudah berpindah ke teman-temannya, begitu juga ketika menikah maka dunianya adalah suami/istri dan anak-anaknya. Tapi suami/istri akan menemani kita menghabiskan seluruh episode hidup kita.

Maka cinta itu harus dipelihara. Jangan biarkan ia berlalu seiring berlalunya waktu. Mungkin cinta bermetamorfosis menjadi 'tanggung jawab', 'kesetiaan', 'pengabdian', tapi tidak menjadikannya lelah untuk selalu dipupuk, disegarkan, diperbaharui.

Keromantisan tidak selalu berbentuk bunga, kata-kata puitis, atau candle light dinner. Dia bisa berupa ikut menemani masak di dapur, membuatkan secangkir teh, atau mendengarkan ceritanya tentang hal-hal yang tidak begitu penting. Perhatian kecil sangan berarti bagi pasangan.

Kadang dengan bertambahnya usia permikahan, psangan merasa tidak perlu lagi mengungkapkan rasa sayang seperti pasangan yang masih baru. Padahal justru itulah yang harus diusahakan, merasa selalu seperti pengantin baru.

Jangan pelit dengan kata 'sayang', jangan kikir dengan perhatian kecil, yang sungguh, jika ia senantiasa kita pelihara, maka semakin lama, semakin lanjut usia pernikahan, semakin berkobar juga cinta kita.

Kalau boleh saya meralat sedikit kata-kata di atas, "Landasan kahidupan rumah tangga bukan semata berbagi beban kehidupan dan beban da'wah, melainkan juga kesenangan dan romantika."

(Tulisan ini khusus untuk yang mungkin mulai layu cintanya, dan sungguh, sebenarnya saya juga masih terus belajar untuk menjadi romantis dan semoga mampu mampu terus memelihara cinta saya dan mengobarkannya. Wallahu a'lam)

Mba Atiya

Tak seperti Ramadhan-ramadhan sebelumnya, Ramadhan tahun ini di kompleks kami tidak lagi ada tenda dadakan yang dipakai untuk shalat tarwih. Biasanya disamping aula kompleks kami selalu ada tenda yang akan dipakai untuk shalat tarwih bagi warga kompleks, meskipun di depan kompleks ada masjid. Pesertanya ya semua warga kompleks yang pengen shalat deket rumah, baik bapak-bapak maupun ibu-ibu. Yang paling banyak adalah ibu-ibu tua (karena susah jalan ke masjid) atau ibu-ibu muda yang ga bisa shalat tanpa buntut (anak-anak kecil, yang kadang suka lari-larian atau ribut di masjid). Untuk tahun ini, dengan berbagai pertimbangan akhirnya diputuskan bahwa hanya aula yang dipakai untuk shalat tarwih, dan hanya diikuti oleh ibu-ibu. Untuk yang bapak-bapak, silakan shalat di masjid saja.

Sehubungan dengan itu, ada sebuah pe-er yang tidak sengaja diberikan ke saya, yaitu mencari imam tarwih perempuan. Nah, kalo ini sih, sebenernya, ada banyak temen yang bisa dimintai tolong. Alhamdulillah sebulan ini sudah ada banyak imam tarwih yang bersedia datang ke kompleks kami.

Malam ke-3 Ramadhan, kompleks kami kedatangan imam tarwih yang istimewa. Ketika diimami beliau, ada yang berbeda rasanya. Tibalah waktu kultum (tausiyah singkat) yang biasa dilakukan setelah tarwih sebelum witir. Dan seperti imam-imam sebelumnya, sang imam diminta untuk memperkenalkan diri.

Namanya Atiya, umurnya baru 26 tahun (masih tua-an saya ^_^), asal Banjarmasin. Ternyata beliau sudah hafidz 30 juz, lulusan universitas Mesir (tidak dikatakan universitas apa), dan sekarang sedang lanjut S2-nya di perguruan tinggi di bilangan Ciputat. Aktifitas sekarang (selain kuliah) adalah ngajar qur’an dan tahfidz di salah satu lembaga tahfidz di pondok cabe. “Silakan bu yang mau belajar ngaji sama saya. Gratis bu. Karena saya dulu juga sekolahnya gratis.” Begitu katanya sambil tersenyum. Beliau juga belajar ngajinya dengan metode … (klo ga salah ‘al ashim’, saya lupa namanya) dari ustadz yang ‘tersambung’ hingga ke Rasulullah saw.

Saya memandangnya dengan takjub ketika dia memperkenalkan diri. Selama ini orang-orang seperti mba ini hanya ada dalam imajinasi saya ketika saya membaca novel-novelnya Kang Abik (seperti Ana Althafunnisa ‘Ketika Cinta Bertasbih’). Tapi sekarang saya bertemu muka langsung. Bacaan ketika ia mengimami kami pun berbeda. ‘Lagu’-nya tak mendayu-dayu seperti Ghomidi, tapi lancar seperti dia membaca alqur’an di depan matanya. Dibanding saya, yang surat pendek saya kadang ada ayat-ayat yang masih tertukar, atau harus diam sebentar untuk mengingatkan lanjutan ayat. Dia sudah hafal 30 juz, sedang saya? Juz 30 saja masih sering hilang timbul… hehehe…

Ada api membara yang ada dalam dada saya ketika pulang ke rumah. Selain ingin memperbaiki bacaan dan hafalan saya, ingin sekali rasanya ada anak-anak saya yang mengikuti jejaknya. Sekolah di universitas islam tertua di dunia, universitas Al-Azhar di Mesir, kemudian pulang untuk membagi gratis ilmu-ilmu agamanya untuk ummat ini… Seperti Ana Althafunnisa atau Atiya :)

Aamiiin ya Rabb…

Me and Coffee

Saya ga tau kapan tepatnya mulai suka kopi. Bukan kopi hitam, tapi kopi plus-plus... Plus susu, plus creamer, ya semacam coffemix gitu lah...

Sampai suatu ketika, tubuh saya bereaksi. Saking ketagihannya, saya pernah minum kopi-mix ini dua kali sehari. Pagi pas sarapan udah seduh kopi, dan sore sambil menunggu jam pulang.

Satu bulan lebih saya ketagihan minum kopi pagi dan sore. Keputus gara-gara Ramadhan, sehingga saya tidak bisa meneruskan kebiasaan ini. Tidak lama, mulailah keluhan itu. Awalnya seperti salah makan (kebanyakan cabe, semacam itulah), sehingga (maaf) BAB-nya jadi encer, seperti diare. Hanya saja, tidak berhenti dalam beberapa hari. Keluhan ini berlanjut hingga sebulan lebih. Akhirnya saya memeriksakan diri ke dokter.

Ditanya macem-macem saya jawabnya selalu "Engga". Sampai konsul selesai, saya belum menemukan apa penyebabnya. Tapi tetep dikasih obat. Sesampai di rumah, ada satu pertanyaan dokter yang menggelitik saya, "Ibu suka makan karbohidrat kompleks ya?"

Karbohidrat kompleks maksudnya kalo kita makan nasi beserta lauk pauknya, tapi karbohidrat semua, misal: makan nasi, lauknya kentang dan mie goreng, sayurnya jagung. Nah, itu satu porsi kan karbohidrat semua, tanpa (atau sedikit) protein, vitamin, dll zat yang diperlukan tubuh.

Ketika ditanya saya jawabnya engga, karena saya suka sayur, lauk juga jarang pake kentang atau hanya mie (klo saya makan mie pasti tanpa nasi). Setelah menanyakan pada dokter, saya baru tahu ternyata kebanyakan karbohidrat (which means zat gula) bisa menyebabkan gula menumpuk di usus. Gula bersifat menyerap air. Itulah yang menyebabkan BAB menjadi encer.

Setelah berpikir, meskipun juga tidak begitu pasti bahwa penyebabnya adalah ini (bisa mecem-macem, hanya bisa menebak), saya mencoba menyimpulkan bahwa kegemaran saya minum kopi tiap hari itulah yang menyebabkan hal ini. Secara kita tahu sendiri, kopi instant banyak mengandung gula 'tingkat tinggi' alias sakarin (semacam itulah). Semenjak saya menghentikan kebiasaan minum kopi terlalu sering ini, keluhan ini tak pernah datang lagi. Ketika masuk D4, kebiasaan ini hilang sama sekali. Ya, paling sesekali kalo lagi kepengen aja, dan (lumayan agak sering) ketika ngerjain skripsi ^_^V hehe... (meski ga tiap hari)

Beberapa waktu lalu tak sengaja saya menemukan artikel kesehatan yang bilang bahwa kopi dapat menyebabkan iritasi kandung kemih juga. Mulai ngantor lagi menyebabkan keinginan minum kopi kembali menggoda. Ya, saya sempet beli satu pak kopi-mix lagi. Tapi, entah karena saya baca artikel itu atau memang lagi-lagi karena kopi ini, kandung kemih saya memang lagi sakit. Akhirnya sisa sachet-an kopi yang ada di laci saya kasih ke temen-temen. Sampai sekarang saya belum berani mencoba minum kopi lagi.

Well, saya tidak sedang menakuti anda supaya jangan minum kopi. Kondisi tubuh tiap orang berbeda-beda, hanya saya sepertinya tubuh saya agak tidak bersahabat dengan minuman yang satu ini. 

Just sharing ^_^

Nulis Buku


Tadi pagi ada liputan mengenai situs nulisbuku(dot)com.

Hmm... Menarik sekali mendengar penjelasan dari si empunya situs mengenai bagaimana cara biar punya buku sendiri. Tinggal upload naskah, ga usah nunggu berbulan-bulan nunggu apakah naskahnya diterima ato malah ditolak oleh penerbit. Cover-pun bisa desain sendiri... Wow!!! 
(teknisnya ga terlalu merhatiin tadi, yang jelas masalah kualitas tulisan tidak ditentukan penerbit, melainkan masyarakat penikmat tulisan itu. Penerbit akan selalu menerbitkan buku yang diminta, sesuai demand)

Sebenernya saya hanya seneng nulis aja, sekedar hobi, tapi ga serius. Sebagian besar tulisan tidak dimaksudkan untuk apa-apa, kecuali hanya pengen nulis aja. Menuangkan teriakan-teriakan yang berputar dan memekakkan kepala aja...

Tapi punya buku sendiri, dengan nama "Nina Sabnita" (apa mungkin lebih baik pake nama pena gitu?) adalah impian saya dari dulu. Sebenernya ga pede dengan tulisan-tulisan saya, tapi who knows? Seperti Chicken Soup for The Soul yang ditolak sekian ratus penerbit, ternyata sekarang... luar biasa... (yaaah, setidaknya ini jadi pemicu untuk menghasilkan tulisan yang agak mutu lah)

Tulisan-tulisan di blog ini, menurut saya sih, ga terlalu mutu untuk dinikmati banyak orang. Dulu pengen bikin cerpen, tapi terus terang saya juga ga jago nulis fiksi. Tulisan ilmiah? Ntar dulu deh (bisa kena di metodologi penelitian ntar... hehe...) Jadi apa dong? (ga jelas nih)

Intinya adalah cuma mau bilang bahwa entah kenapa liputan tadi pagi itu begitu menggugah saya. Ada sesuatu yang menggeliat dalam hati kecil saya, keinginan bahwa tulisan-tulisan saya bisa dinikmati banyak orang, bisa memberikan inspirasi dan ilmu bagi orang lain, berda'wah lewat tulisan (meski masih merasa kerdil).

Publish my dream? Bismillah aja deh :)

Unstoppable


Ini memang tentang film berjudul "Unstoppable" (2010) yang dibintangi aktor favorit saya :) Denzel Washington.  Jadi ceritanya, film ini mengisahkan tentang kereta api sepanjang lebih kurang 800 meter berisi bahan kimia berbahaya yang berjalan dengan kecepatan maksimal tanpa pengemudi (masinis). Wow! Btw, kisah ini memang diinspirasi oleh kisah nyata (juga salah satu genre favorit saya ^_^)

Adalah Frank Barnes (Denzel Washington) supir kereta dengan dedikasi 28 tahun, bersama Will Colson (Chris Pine) konduktor yang baru masuk mengendarai kereta bernomor 1206 yang membawa sekitar 750 meter gerbong dibelakangnya. Kereta lain bernomor 777 yang tanpa masinis ini, bergerak berlawanan arah dengan kecepatan penuh yang kemudian menjadi tokoh utama cerita. Singkat cerita, setelah berhasil menyelamatkan keretanya sendiri agar tidak bertabrakan dengan 777 (menepi di rel 2 jalur), Frank dan Will melepaskan ikatan lokomotif dengan gerbongnya dan kemudian mengejar kereta 777 dari belakang untuk mengurangi kecepatan kereta tsb agar tidak terjatuh ketika melalui lintasan rel berbentuk kurva di sebuah kawasan industri. Bisa ditebak, kedua orang yang tidak mendapatkan restu ketika ingin menyelamatkan kereta tsb, akhirnya menjadi pahlawan.

Tidak ingin me-review film ini (makanya saya ngga nulis di kategori review). Alur cerita mudah ditebak, tapi dikemas dengan apik sekali sehingga tidak membosankan, justru semakin tegang hingga akhir cerita.

Saya suka sekali cerita tentang kepahlawanan, khususnya pahlawan-pahlawan real disekitar kita. Pernah nonton "Unbreakable"? Cerita ini masih membekas dalam ingatan saya, selain karena dimainkan oleh Bruce Willis dan Michael L. Jackson (favorit saya), tapi jalan cerita yang menarik, tentang kepahlawanan. 

"Die Hard" (1 sampai 4) belum bosen saya tonton. Tiap kali tayang di tv, kalo sempet, pasti saya usahain nonton. Jalan ceritanya mungkin muluk2 ya (how come? Satu orang ngelawan komplotan?) The point is, bagaimana yang satu orang ini 'peduli' dan berjuang. Di Die Hard 4, salah satu dialog yang masih saya ingat,"kenapa kamu mau melakukan semua ini?" dan John Mc.Clane (Bruce Willis) menjawab,"Karena orang lain ga ada yang mau melakukannya." 

Well, that's make someone a hero, right?

"A Few Good Man" (Tom Cruise dan Demi Moore) juga bagus. Ohya, inget film ini, inget barusan juga saya nonton film "Puncture" (Chris Evans). Kedua film ini tentang pengacara yang membela sesuatu yang ia yakini meski mustahil menang. Tidak terlalu suka jalan cerita film Puncture ini, tapi pesennya dapet banget. Kisahnya berawal dari seorang perawat yang terinfeksi AIDS karena menggunakan jarum suntik yang tidak aman, yang digunakan oleh semua rumah sakit di AS sana, padahal ada jarum suntik yang aman -hanya saja harganya lebih mahal. Kasus menjadi kompleks karena yang dilawan adalah penyedia produk kesehatan besar (yaaa... tau sendiri lah birokrasi penyediaan barang dan jasa...). Si perawat akhirnya meninggal karena AIDS, si pengacara pun (menurut ceritanya) meninggal dibunuh, meskipun akhirnya kasus ini dimenangkan oleh partnernya, sehingga seluruh perawat di AS bisa tenang bertugas karena sudah menggunakan jarum suntik yang aman.

Sebenernya ada satu lagi film pengacara sejenis, membela seorang pemuda yang sakit melawan perusahaan asuransi besar (ah, saya lupa judul dan pemainnya). Mereka adalah pahlawan.

Hmm.... Sepertinya kita bisa mengambil kesimpulan ya, ada beberapa hal yang dipunyai oleh seorang pahlawan. Dan salah satunya adalah never give up, terus berjuang, hingga takdir menentukan apakah ia akan menang atau mati dalam perjuangannya...

:)

Episode Sidang


Sidang ternyata tak se’seram’ kelihatannya…

Begini ceritanya…

Seperti yang sudah saya janjikan sebelumnya, sekarang saya akan menceritakan pengalaman sidang pertama saya (semoga masih ada sidang kedua, ketiga…  untuk ‘S’ – ‘S’ selanjutnya ^_^)

Well, hari-hari menjelang sidang, mungkin hari paling ‘horrible’. Stress dan kawan-kawannya bener-bener ngumpul jadi satu. Nervous, panik, takut, gugup, semua nyampur. Meski segala upaya sudah dilakukan, belum bisa mengurangi tingkat stress menjelang sidang. Beberapa upaya itu antara lain:

1.       1. (Tentu saja) Belajar!
Sejak pengumuman jadwal sidang launching, saya juga mulai menjadwal pola belajar saya. Berhubung saya dapet pekan kedua (yang berarti 2 pekan lebih dari pengumpulan skripsi) berarti masih cukup waktu untuk membaca kembali pelajaran-pelajaran semester kemarin. Saya sudah setting untuk mempelajari pelajaran yang saya kurang saya kuasai di satu pekan sebelum sidang, yang cukup saya kuasai beberapa hari menjelang sidang, dan review skripsi sehari menjelang sidang. Saya sedang puncak-puncaknya stress di H-2, dan ketika H-1 pengumuman jadwal sidang saya diundur, stress langsung melorot ke titik paling bawah (buku, modul, print-an yang udah dikumpulin, beberapa hari tak tersentuh gara-gara pengunduran itu ^^) Bagusnya, ketika mood sudah balik lagi, belajarnya jauh lebih tenang

2.       2. Nyari-nyari informasi
Alhamdulillah saya seangkatan dengan orang-orang yang sangat care dengan temannya. Prinsip kami, masuk bareng-bareng, lulus bareng-bareng. Angkatan saya bikin group di fb untuk memudahkan komunikasi , semua pengumuman, informasi, segala hal yang terjadi diinformasikan disana. Kami juga bikin docs untuk data-data tertentu, seperti profil dosen penguji (testimoni maksudnya ^^ biar siap menghadapi karakter dosen), permasalahan skripsi, sampe kumpulan pertanyaan dosen penguji lengkap dengan jawabannya (jadi setiap orang yang sudah menjalani sidang wajib ngisi docs pertanyaan apa saja yang ditanyakan dosen). Ini sangat membantu sekali untuk yang akan menjalani sidang lho, minimal ketika bisa mengira-ngira pertanyaan apa yang akan ditanyakan (karena kadang dosen ‘kurang’ kreatif sehingga pertanyaan yang diajukan sama) tingkat stress sedikit berkurang. Tapi group ini juga kadang bikin tambah stress, karena tiap hari temen-temen pasti lapor “alhamdulillah gan, ane udah lulus!”, “ xxx, SST, PTB sertified by Mr. PTB”, “aku lulus maak!”, “alhamdulillah ya, sekarang sudah jadi SeSuaTu”, “hari ini sapu bersih. A, B, C, lulus dengan sukses”, dan kalimat senada lainnya. Bikin geregetan dan ngiri juga, mereka udah pada lega dan saya masih berkutat dengan stress…

3.       3. Jaga kesehatan
Beberapa hari menjelang sidang saya rutin minum habbassauda, redoxon, cerebrovit, bahkan air zamzam oleh-oleh naik haji ibu mertua pun saya habiskan.

4.       4. Berdoa
Klo yang ini, jauh-jauh hari sudah jadi kebiasaan. Bahkan Ramadhan tahun ini, mungkin porsi terbesar doa-doa saya adalah tentang skripsi dan sidang. Seperti biasa klo ujian atau stress, mesti ibadahnya mengalami peningkatan (kebiasaan manusia ya, kalo butuh sama Allah baru rajin ibadah :P )

Hari-H pun tiba. Alhamdulillah ada suami tersayang yang bersedia meluangkan waktunya untuk nemenin sidang (tadinya saya malu, “ga usah lah bi, umi sendiri juga gapapa”. Tapi sebagian besar temen-temen saya yang udah punya suami ternyata ditemenin suaminya juga, jadi saya pun mengijinkan ^_^)

Jadwal sidang saya jam 15.00 sebenernya, kloter terakhir di hari itu (nungguin 1 dosen yang juga menguji 3 kloter sebelumnya). Setelah sarapan, minum habbassauda, cerebrovit, dan air zamzam, membawa semua yang diperlukan di tas, saya dan suami pun berangkat. Sekitar jam 11 saya sudah sampai di Student Center, jaga-jaga siapa tau ada perubahan jadwal (seperti temen saya beberapa hari sebelumnya, jadwal jam 3 sore dimajukan jadi jam 1). 

Ruangan sidang berdinding kaca, jadi bisa dilihat dari luar. Posisi dosen menghadap ke luar dan mahasiswa menghadap ke dosen, membelakangi pintu dan dinding kaca. Posisi yang cukup bagus, tidak memecah konsentrasi. Pengunjung di luar bisa melihat apa yang terjadi di dalam. Ngobrol sebentar dengan calon SST yang lagi nunggu pengumuman, ternyata baru 1 kloter yang akan selesai. Berarti jadwal sidang sepertinya tidak berubah, jam 15.00.

Setelah shalat di masjid kampus dan makan siang di warung, kami kembali ke tempat sidang. Sambil review apa-apa yang sudah dipelajari, saya jalan-jalan melihat Student Center yang ternyata tidak sebesar yang saya bayangkan, hanya lebih besar sedikit dibanding gedung G, hanya saja dengan parkiran lebih luas. Berusaha menurunkan stress dengan mensugesti diri (membayangkan ini hanya diskusi biasa dengan atasan di kantor), hingga tiba waktunya masuk ke ruangan sidang.

Akhirnya waktunya pun tiba. Diawali dengan presentasi 5 menit (yang sudah saya latih dengan suami tadi malam) sambil memberikan resume skripsi kepada setiap dosen (yang ternyata hanya dilihat sekilas). Pertanyaan pun dimulai. Well, secara keseluruhan saya bisa menjawab hampir semua pertanyaan (yang semua berkisar SIM, audit SIBK, dan TI, tidak ada teori akun, pajak, pasar modal, akpem, akmen, keuangan publik dll … fyuh!). Ada 1 pertanyaan yang saya tidak bisa jawab sama sekali dan beberapa jawaban tidak tepat. Secara keseluruhan, oke lah. Dan ketika sidang selesai, saya pun bisa keluar dengan hati cukup tenang dan pasrah dengan berapa pun nilainya (meski masih berharap dapet A ^^).

Akhirnya saya pun dipanggil untuk yang kedua kalinya (pengumuman hasil sidang). 

“Baiklah nina…
Karena ada beberapa pertanyaan yang tidak terjawab,
Maka, mohon maaf ya,
Kami tidak bisa meluluskan anda…

dengan nilai A!
Jadi A- ya… “

“Alhamdulillah, terima kasih pak!”

Kata-kata ini masih lekat dalam ingatan saya sampai sekarang. 
Ya Allah, alhamdulillah, akhirnya saya lulus  juga. 

Ada banyak revisi sebenernya, tapi semua tentang penulisan. Banyak kalimat janda (itu sebutan pak dosen untuk poin yang berada di posisi paling bawah kertas sementara penjelasannya ada di halaman berikutnya), margin (waktu ngeprint, properties printernya ngga saya ganti ke A4, masih letter, jadi margin bawah yang harusnya 1,5’’ jadi kelebihan), dan teknis-teknis lain. Terakhir, masing-masing dosen gantian memberikan tausiyah, dan yang paling saya ingat (karena diulang berkali-kali) adalah “Jaga nama baik almamater!”.
Keluar ruangan membawa 4 bundel skripsi, hati saya lega setengah mati. Dengan wajah cerah dan senyuman, saya pun lapor ke suami yang masih setia menunggu,”A min (A-) bi”

Tadinya udah ngerencanain makan dimana untuk merayakan kelulusan saya, tapi entah kenapa hati yang plong dan pikiran lega udah ga kepengen apa-apa lagi. Cuma pengen cepet-cepet nyampe rumah dan rebahan. Seperti batu segede gunung yang biasa saya pikul di punggung tiba-tiba hilang. Hari berikutnya, sebagian besar waktu saya habiskan dengan rebahan di tempat tidur (mencoba tidur meski ga bisa –biasalah ributnya anak-anak). 

Well, that’s it. Cerita sidang saya. Istimewa, mungkin karena pertama, mungkin karena di STAN (soalnya denger testimoni beberapa lulusan D4 STAN dan sudah S2 bilang, kuliah paling berat di STAN!). Sidang memang tak se’seram’ kelihatannya, ‘serem’ itu nungguinnya, begitu masuk ruangan udah pasrah dan enjoy aja…

Semoga bermanfaat ^_^

November 2011

Episode Skripsi



Berawal dari -bahkan- sebelum saya belajar di kelas bersama temen-teman D4, bahwa saya akan bikin skripsi tentang call center. Apapun, tentang call center.

Semester 7-8-9 pun dilalui dengan lancar jaya, IP juga diatas ekspektasi. Enjoy the learning process...

Semester pamungkas, semester 10.
Pertama, bikin outline. Well, sebenernya bingung juga mau ngambil apa. Sempet kepengen ngambil keuangan publik atau manajemen instansi pemerintah berbasis kinerja. But i hate SPSS or eviews (ga mau bergantung kepada sesuatu yang saya ga bisa kontrol, karena bahkan setelah mata kuliah metodologi penelitian saya tetep ga bisa mengoperasikan aplikasi ini). Jadi pilihan tinggal desain. Dan desain berarti mata kuliah sistem informasi manajemen. 
Okay, ada sistem informasi pengaduan pajak yang bisa diteliti. 

Maju ke dosen pembimbing dengan outline ala kadar, deg-degan karena sebelum saya sudah 2-3 orang temen yang meminta beliau untuk menjadi dosbing dan ditolak. Beliau bilang,"Menarik!" dengan sedikit revisi di sana sini.

Lanjut ke Komite Penilai Outline. Ketemu dosen yang ngerti SIM, sudah menerbitkan banyak buku, dan menemukan bahwa saya terlalu nekad ngambil materi ini (bahasanya ga begitu sih... dia bilang: saya belum terlalu jelas mba ini mau bikin apa... -dan dia menjelaskan 'kejelasan' yang diminta. Mba baca buku ini dulu -sambil menyebutkan salah satu buku yang tercantum dalam daftar pustaka, abis itu balik ke saya lagi ya...)
Dengan perjuangan yang dimudahkan Allah, saya akhirnya dapatkan buku yang dimaksud. Membaca sekilas sambil membolak balik buku "Desain dan analisis SI ...." setebal 7-10 cm itu membuat saya 'tercerahkan'. Beneran, semua ada di buku itu. Ga perlu buku lain, cukup ini aja cukup.
Kembali ke bapak dosen KPO dan outline pun di ttd. Terima kasih pak, tanpa berdiskusi denganmu, entah bagaimana jadinya skripsi saya...

Penyusunan skripsi pun dimulai. Ramadhan menjelang. Ah, pilihan yang sulit. Akhirnya keputusan pun diambil. Liburan dulu, pulang ke Payakumbuh, lupakan skripsi dulu. Baru bab 1 dan separuh bab 2, skripsi pun break dulu. (Lebaran sambil mikirin skripsi? hmmm... klo dibawa pulang pun, yakin ga bakalan dikerjain, mending ditinggal sambil persiapan 'kerja keras' setelahnya)

Kembali ke jakarta, kembali ke skripsi. Seminggu baru bisa menyelesaikan bab 2 yang ternyata jadi terlalu banyak. Takut kena proporsi, tapi jalan terus.

Konsul pertama, dosen ngingetin tenggat waktu yang tinggal kurang dari sebulan...

Kemudian baru sadar bahwa surat ijin riset belum diserahkan ke objek (karena objeknya instansi sendiri, jadi lalai). Ketika menghadap ke kepala seksi terkait, something bad happen. Ibu kasi ga setuju dengan materi skripsi saya. "Kami juga sedang mengerjakan hal ini, kalo kamu bikin materi ini, seolah-oleh saya ga kerja apa-apa"... something like that... "Tapi bu, waktu saya terbatas. Saya ga mungkin ganti objek atau ganti judul untuk waktu yang sempit ini". "Ya saya sebenarnya ga masalah dengan ini... (jawaban diplomatis)... tapi kamu cari kelemahan yang lain aja, jangan yang itu!"

Saya stuck. Sekian jam beradu argumen dengan ibu kasi, tanpa hasil. Kembali ke temen-temen call center, minta solusi. Akhirnya 3 alternatif pun dikonsultasikan kepada dosbing esok harinya. Tetep jalan terus dengan rencana yang kemarin (dengan resiko 'berurusan' dengan ibu kasi di kemudian hari), cari kelemahan lain (seperti yang diinginkan bu kasi), atau ganti judul. Saya sudah konsul dengan banyak orang di call center, termasuk kasi lain yang mau saya garap sistem informasinnya. Adalah sistem informasi kring pajak, yang masih berupa konsep (bahkan direktur pun belum tau), yang akhirnya saya jadikan objek menggantikan sistem informasi pengaduan pajak. Memang hanya mengganti 1 kata saja, tapi... you know lah...

Tiga minggu, waktu yang saya butuhkan untuk menyelesaikan bab 3 dan bab 4, juga bab 5 yang hampir kelupaan (karena bab 2-nya sama persis, alhamdulillah), plus merevisi sedikit bab 1.
Konsul ke dosbing, komennya,"Ini beneran kamu yang bikin?" 
hehehe... waktu itu pengen jawab,"masa sih pak sebagus itu?" 
tapi yang keluar,"100% bikin sendiri pak :)"

Masih lancar jaya, hingga langkah selanjutnya, dosen penilai teknis. Mungkin ini yang paling menghabiskan energi. Pikiran mungkin ga terlalu, karena dari sisi substansi tulisan sudah ga ada masalah. Tinggal tulisan, paragraf, huruf besar, huruf miring, gambar, posisi, dan teknis-teknis lainnya. Datang kamis, disuruh ngambil senin. Senin ke ruangannya dan tidak menemukannya di sana (lagi ke lapangan banteng, kata mba satpam yang baik itu). Esok paginya kesana lagi, juga tidak menemukannya (ke Purnawarman, kata mba yang cantik). Rabu pagi ke sana lagi, akhirnya ketemu. Skripsi belum di'sentuh', akhirnya minta ttd surat permohonan penundaan. Diminta kembali besok sore. Kamis sore ke sana, good news; bapaknya ada, bad news: bapaknya kaget "Bukannya saya suruh besok sore ya?". "Bukan pak, sore ini, besok saya janji ke sekre udah ngumpulin skripsinya". Akhirnya jumat pagi, benar-benar diperiksa. Kena di proporsi dan harus mengurangi 30 halaman skripsi (sebagiannya pindah ke lampiran).
Tiga hari setelah deadline, akhirnya saya berhasil mengumpulkan skripsi rangkap 4 ke sekre dan bersiap untuk sidang.

Tadinya masih lancar-lancar saja, hingga pagi ini menemukan di jadwal sidang terbaru (yang harusnya saya sidang besok kamis, 24 november 2011, pukul 10.30), di kolom hari, tanggal, dan tempat sidang untuk saya kosong melompong.

Usut punya usut, ternyata bapak dosbing tercinta ga bisa nguji pekan ini. Akhirnya harus bersabar hingga pekan depan. (tadinya sudah punya segudang rencana setelah 'lulus' sidang, membayangkan hati dan pikiran yang stress akan lega dan tenang tinggal 1 hari lagi... ternyata Allah menentukan lain...)

Abis ini pengen cerita episode sidang yang (pastinya) menegangkan yang penuh cerita. Tunggu kisah selanjutnya :)

Nostalgia



Kemarin baru saja bongkar-bongkar lemari, nyari SK CPNS  yang tiba-tiba saja tidak ada di dalam tas berkas tempat saya biasa menyimpan berkas-berkas penting. Alhamdulillah akhirnya nemu selembar SK CPNS yang meski udah agak kumal, menyebabkan saya ga jadi ke kantor untuk minta berkas itu. Nah, ga sengaja, saya menemukan buku diary saya dulu. Untuk nostalgia, saya pun membacanya dengan khusyu' :P

Kebetulan ini buku diary ini adalah buku yang saya tulis ketika saya dulu selesai kuliah. Ada cerita magang, prajab, penempatan defenitif, masa-masa penantian, masa-masa galau, dan yang paling menarik ada cerita taaruf, nikah, dan beberapa saat setelah nikah, lebih dari enam tahun yang lalu... (tulisan terhenti ketika saya akhirnya mengikuti suami ke kota Gorontalo, dan sepertinya setelah itu saya ga punya buku diary lagi. Hingga sekarang...)

Sambil membaca, teringat kembali betapa masa-masa peralihan dari kuliah ke bekerja, mungkin menjadi masa yang paling berat bagi saya. Saya merasa tidak cukup sukses melaluinya, meskipun akhirnya saya masih bisa 'bertahan' hingga detik ini. Adaptasi yang sangat sulit saya rasakan, karena karakteristik dunia kampus dan dunia kerja yang begitu berbeda. Da'wah kampus VS da'wah birokrasi + da'wah sya'biyah. Masa peralihan itu benar-benar sulit... 

"Berbulan-bulan, bahkan sampai sekarangpun aku masih dalam rangka beradaptasi. Adaptasi yang buruk, menurutku. Sebab, sangat jauh menurun. 
Semuanya... semuanya... 
Seperti orang yang ada dalam ruang hampa yang gelap, tak ada cahaya, tak ada tempat bergantung, tidak pula untuk berpijak, hanya melayang tak tentu arah... Tak jelas.
Sesekali aku terbangun.  Tapi biasanya tak berlangsung lama. Sesekali tersadar, namun segera 'hilang' kembali."
(Whoa... parah juga ternyata saya dulu ya? hehe...)

Dan tentu saja, yang paling menarik adalah ketika membuka kenangan kembali masa-masa peralihan dari lajang ke 'menjadi istri orang'. Deg-degannya ketika terima biodata, malunya taaruf, persiapan pernikahan yang ternyata begitu complicated, iman yang naik turun, galau pranikah, tangisan ketika akad nikah, percakapan pertama dengan suami, romantisme pengantin baru, hingga cerita LDL sampe akhirnya mutasi ikut suami...

Ada satu halaman yang membuat saya sedikit tercenung. Di halaman itu, saya tersadar bahwa episode kehidupan saya akan segera berubah (bakti yang selama ini diberikan kepada ortu beralih kepada seorang lelaki asing). Sore itu, setelah shalat ashar, saya mengangis tersedu-sedu, sendirian, lamaaaa sekali. Sebelumnya baru saya menelpon mama-papa tentang pernikahan. Rasanya sedih sekali meninggalkan mama-papa yang baru saja saya coba bahagiakan.

"Belum setitik apa yang ingin kuberikan untuk membalas apa yang telah mereka berikan padaku. Seandainya melajang seumur hidup itu diperbolehkan, mungkin aku akan melakukannya biar aku bisa sekuat tenaga hanya untuk mereka dan adik-adikku. Sungguh..."

Setelah enam tahun lebih menikah, memang bakti itu tidak sepenuhnya terputus. Masih banyak jalan untuk membahagiakan mereka. Namun harus saya akui, dalam banyak hal, saya memang banyak melupakan mereka (pikiran penuh dengan suami dan anak-anak). Di sisi lain, mama-papa merasa pintu rejekinya lebih terbuka lebar ketika cucu pertamanya lahir. Semoga kita masih diberi kesempatan untuk mencoba membahagiakan mereka, karena membalas apa yang mereka telah mereka lakukan adalah hal yang mustahil. Setidaknya dengan membuat mereka bahagia dan bangga (semoga) kita dapat memperoleh ridha-Nya...

#masih melow dengan kenangan lama :)

Celoteh



Si kembar Alif dan Iffah yang tahun ini masuk TK B, sering mengajukan pertanyaan dan pernyataan yang di luar dugaan.
Kadang pertanyaan mereka begitu lucu dan kritis, yang bikin pusing mikir jawabannya.

Seperti malam ini, setelah cerita tentang nabi Musa yang membelah laut...
Iffah : Umi waktu lahir tanggal berapa alif-iffah?
Umi  : Waktu kaka alif-iffah lahir?
Iffah : iyaa
Umi  : tanggal 30 april
Iffah : emangnya umi waktu itu perutnya gendut?
Umi  : iya, alif iffah kan masih di dalam perut umi...
Iffah : Trus keluarnya dari mana?
Umi  : Hahaha....
Iffah : Koq umi ketawa? emang iffah keluarnya dari mana?
Alif  : dari perut ya?
Umi (msh tertawa)
Iffah : emang keluarnya darimana umiii?
Umi  : iya, ada yang dari perut...
Alif  : Emang perutnya di robek?
umi  : hahahaha....
Umi : mmm... nanti aja ya kaka iffah, kalo kaka iffah udah besar nanti umi kasih tau (ngeles...)
Iffah : waktu esde?
Alif  : waktu kuliah?
Umi : ^_^

Atau percapakan barusan...

Alif  : Umi waktu penganten, alif diundang ga?
Umi : Waktu penganten sama abi?
Alif  : iyaaa...
Umi : Kan kaka Alif belum ada.
Alif  : Koq ga ada? Emang kaka Alif ga diundang?
Umi : Bukan, kaka Alifnya belum ada... (bingung nyari jawabannya)
Alif  : Kenapa belum ada? Emangnya kaka alif masih di perut?
Umi : Bukan
Alif  : Emang kaka Alif ilang?
Umi : Hahaha... kaka Alif belum ada...
Alif  : Koq umi ketawa? emang kaka Alif ilang?
Umi : bukan...
Iffah: Dimana umiiii?
Umi : ????
dan pertanyaan ini diajukan berkali-kali (sepertinya penasaran sekali) hingga saya mengalihkan pembicaraan ke yang lain, menyuruh mereka membaca doa sebelum tidur... ^_^

Selain pertanyaan lucu, ungkapan mereka juga sering lucu.
Saya termasuk yang sulit berimprovisasi, sehingga sering kali dongeng sebelum tidur saya bawakan sambil membaca buku. Tapi tampaknya iffah lebih suka kalo saya bercerita tanpa membaca buku. Mungkin bahasanya lebih fleksibel, ditambah ekspresi dan intonasi yang tak dibuat-buat, tidak seperti ketika membaca bahasa buku yang kaku.
Dan dia selalu meminta dengan,"Umi, iffah mau cerita yang dalam hati, tapi ga baca buku, tapi ada suaranya."
:)