Wednesday, June 11, 2014

Impianmu, bukan impianku...

Ada yang agak 'mengganjal' hati saya beberapa hari terakhir.

Banyak saudara, sahabat, teman, kenalan, yang tahu dan yang saya beritahu mengucapkan selamat kepada saya soal kelulusan saya. Bukan itu masalahnya.

Dari semua ucapan yang tulus itu, saya tiba-tiba tercenung dengan kata,"Mba menginspirasi sekali"

Saya akan senang-senang saja jika itu diucapkan teman-teman saya yang laki-laki (artinya dia terpacu dan menjadi bersemangat untuk belajar ke luar negeri). Tapi saya agak 'terganggu' jika kata itu keluar dari seorang ibu, seorang istri. 

Karena pengumuman itu (yang di-upload di web internal instansi saya sehingga semua pegawai bisa mengetahui), tiba-tiba semua orang mengatakan mereka ingin menyusul saya. Bukannya saya tidak ingin menjadi inspirasi banyak orang, tentu itu suatu penghargaan yang sangat tinggi bagi saya jika saya benar-benar menginspirasi orang lain -dalam hal yang baik tentunya. Bukan itu... 

Ini masalah impianku, bukan impianmu.

Mimpi saya memang kuliah di luar negeri, karena saya ingin jadi dosen kelak suatu hari nanti. Hanya dengan kuliah lagi saya bisa jadi dosen mahasiswa S1. Karena itu juga mimpi suami saya, maka kami klop, maka kami kemudian saling mendukung, tak peduli siapa duluan. Allah pasti akan memberikan jalan, petunjuk, juga kemudahan, jika kami meniatkannya untuk kebaikan.

Jika kuliah di luar negeri juga menjadi mimpimu, aku akan mendoakanmu semoga kamu dimudahkan dalam mencapainya. Pastikan itu benar-benar mimpimu, bukan mimpiku, bukan mimpi orang lain.

Kadang kita melihat mimpi orang lain begitu indah, begitu dekat, sehingga kita juga ingin seperti mereka. 

Saya agak ngeri membayangkan ibu-ibu muda itu kemudian tergesa-gesa memutuskan sesuatu yang kemudian akan mereka sesali di kemudian hari. 

Ini bukan tentang meraih impian. Ini tentang mendefinisikan impianmu.
Aku sudah mendefenisikan impianku, impian kami (saya dan suami).
Kalian harus mendefinikan impian kalian sendiri.

Menjadi lulusan luar negeri memang terlihat keren, tapi belum tentu cocok dengan passionmu.
Menjadi pejabat kadang terlihat luar biasa, tapi tak perlu menjadi pejabat untuk bisa jadi luar biasa.

Khusus saya tulis untuk teman-teman perempuan saya.
Banyak hal yang akan dikorbankan untuk meraih sebuah mimpi. 
Pastikan mimpi itu PANTAS kalian raih.
Pastikan juga, belahan jiwa kalian memiliki impian yang sama, karena ridhanya adalah kunci kebahagiaanmu. Ridhanya adalah syurgamu...

And the real struggle just begin

Kamis sore itu saya lagi agak santai di meja kantor, ketika mendengar bunyi khas notifikasi japri di hp (saya ngga menyetel bunyi untuk notifikasi grup, hanya bbm atau wa japri saja). Dari seorang teman yang mengatakan,"Barakallah ya mba Nina..."

Jantung saya berdegup kencang ketika membaca sepintas pesan itu. Feeling saya mengatakan apakah mungkin pengumuman sudah keluar? Tapi otak saya bilang, ga mungkin, pengumuman masih 4 hari lagi, tanggal 8 Juni.

Tapi di salah satu grup WA, teman-teman mengucapkan "barakallah", "selamat ya bu"...
dan di grup satunya lagi, "congrats ya mba Nina", "you're rock mba Nin", dst...

Eh, kayaknya bener nih...

Dengan terburu-buru saya langsung buka web yang bikin pengumuman... dan lamaaaa kemudian, baru saya benar-benar yakin bahwa nama saya memang ada di pengumuman kelulusan hasil tes wawancara.

Teman-teman kantor begitu senang dan ikut bahagia ketika saya memberi tahu. Saya juga langsung menelpon suami tercinta, juga orang tua di rumah. Mereka juga sangat bahagia ketika saya menyampaikan berita itu.

Hingga malam hari, euforia kelulusan saya masih terasa. Sampai menjelang tidur, seluruh tubuh saya masih gemetar. 
Ya Allah... begitu indah skenario Engkau untukku. Berilah aku petunjukmu dan jadikan aku hambaMu yang senantiasa bersyukur dan bersabar.

Keesokan harinya, otak saya baru bisa diajak mikir lagi. Surat pengumuman yang sudah saya download saya buka di layar komputer dan saya baca perlahan. Isinya lebih kurang begini: bahwa kira-kira 2 pekan dari sekarang saya akan menjalani diklat persiapan (pre departure training) hingga 5 bulan ke depan dan saya diharuskan masuk asrama yang telah disediakan dan mengikuti diklat 5 hari seminggu full.

Kemudian panik... 
(Oh, no! Saya harus ninggalin dede bayi? Tidaaaaak...)*

Kemudian terbayang pusingnya menjalani diklat yang ternyata ga main-main, repotnya ngurus pasport, visa, mencapai skor IELTS yang cukup tinggi, mendaftar ke universitas yang diincer (klo ga diterima, daftar ke universitas lain, dst)...

Kemudian terbayang nanti harus hidup sendiri di negeri orang meninggalkan anak-anak dan suami untuk impian itu, susahnya mengatasi shock culture, pusingnya kuliah nanti, tugas-tugasnya, ujiannya, gimana kalo nilainya jelek, gimana klo ga lulus.... (dan pikiran negatif lainnya berseliweran di kepala)

Dan kemudian menyadari bahwa inilah awal dari perjuangan sesungguhnya. Tes ini hanya bagian permulaan dari pengorbanan dan kerja keras panjang. Banyak hal yang nanti akan menjadi tantangan (bukan hambatan), tapi banyak juga peluang yang bisa dimanfaatkan, belum lagi pengalaman yang mungkin tak kan tergantikan dan terlupakan...

Saya sedang keluar dari zona nyaman, dan saya sedang berusaha. Saya tau sejak awal, ini konsekuensi yang harus saya hadapi. Ini harga yang harus dibayar demi sebuah cita.

Ya Allah kuatkan saya, kuatkan kami. 
Berilah kami petunjuk agar dapat menjalani semua dengan sukses dan bahagia.
Ya Rabb... ridhai aku...

Wednesday, June 4, 2014

My Great Motivator

Masih tentang perjuangan meraih beasiswa...

Momen semenjak saya memasukkan berkas permohonan beasiswa menjadi peristiwa yang menjadi titik balik bagi kami berdua, saya dan suami. Kami sudah memimpikan dan merencanakan akan mencoba mengambil beasiswa luar negeri sejak lama.

Rencana adalah langkah awal. Menuliskannya dalam kertas menjadi penegas dan bukti bahwa kami benar-benar, sungguh-sungguh berniat untuk mewujudkannya. Dan memasukkan berkas permohonan, mengantarkannya ke bagian penerimaan berkas beasiswa, adalah action, langkah awal, langkah pertama yang saya jejakkan demi meniti tangga menuju mimpi yang setinggi bintang itu.

Lebih dari itu semua, ada satu hal lagi yang saya sadari, dan kemudian sangat saya syukuri.

Orang yang paling mendukung saya, motivator terhebat sepanjang masa, yang memaksa saya melakukan ini itu segera, bahkan menemani saya, senantiasa berada di sisi saya dalam setiap langkah, adalah suami saya. 

Pertama kali melihat pengumuman penawaran di web internal pegawai, saya langsung chat sama suami. 
"Bi, ada penawaran nih. Daftar ga?"
"Daftar aja mi!"
Berbekal izinnya, saya segera print pengumuman itu, ngumpulin satu-satu persyaratan yang diminta.
Setelah pengumuman pemanggilan peserta tes tertulis keluar, dia juga yang memaksa saya mendaftar kursus TPA -yang saya malas ikut karena berarti harus meninggalkan dede bayi (lagi) seharian penuh. Dia bahkan menemani saya ikut kursus yang kemudian ternyata sangat membantu saya menghadapi soal tes di hari-H. Dia juga yang nyariin aplikasi soal TPA full versi Bappenas yang didapatnya entah darimana.

Alhamdulillah, ternyata saya dinyatakan lulus tes tertulis. Hal yang sangat mengejutkan bagi saya. Tak menyangka, meski sangat berharap. Pada hari pengumuman, suami juga yang jam 10 malam membangunkan saya yang sudah tertidur pulas sehabis menidurkan dede bayi. "Mi, nama umi ada mi." Saya pun langsung bangun dan melihat sendiri unduhan pengumuman dari web pemberi beasiswa. 

Berikutnya, persiapan wawancara. Suami juga yang sibuk nanya sana-sini, nyari info sana-sini, menyemangati tiap hari, jadi temen diskusi jawaban apa yang paling tepat untuk setiap pertanyaan, bahkan jadi pewawancara ketika kami simulasi wawancara malam hari sebelum hari-H. Dia forward email berisi pertanyaan-pertanyaan yang biasa ditanyakan ketika wawancara, menelpon atau chat sama teman-temannya yang sedang atau sudah kuliah di luar negeri, bahkan berhasil menemukan seorang pegawai satu instansi yang sedang kuliah di universitas yang saya incar. Saya juga berhasil chat sama mas itu dan menggali info untuk persiapan wawancara.

Kayaknya suami lebih semangat dari saya. Padahal dia sendiri belum lulus S1-nya. Sudah mau skripsi, tapi karena sesuatu hal, skripsinya baru bisa mulai September mendatang, insyaAllah lulus Maret tahun depan. Karena kuliah atas biaya sendiri, jadi dia bisa langsung bisa melanjutkan kuliah S2 setelah wisuda.

Betapa saya bersyukur memiliki suami yang mendukung impian-impian saya, impian-impian kami. Banyak rekan-rekan yang lebih pintar dan punya potensi luar biasa, tak bisa lanjut pendidikan karena suami ga mendukung (meskipun saya memahami, mereka pasti punya prioritas yang mungkin berbeda dengan keluarga kami.)

Above all, rangkaian peristiwa ini -sekali lagi- adalah titik balik bagi kami berdua. Impian mengejar beasiswa dan kuliah di Eropa tampak semakin dekat dan jelas. Dengan lulusnya saya di tes tertulis kemarin, suami dan saya jadi semangat untuk meng-upgrade diri kami terutama skor TOEFL/IELTS dan TPA, agar jika saya lulus nanti, suami bisa langsung nyusul.

Kami punya rencana untuk kuliah bareng di universitas yang sama sambil membawa anak-anak. Entah lewat beasiswa ini atau yang lain. Yah, idealnya sih begitu.
Entah kemana nasib ini akan membawa kami nanti. Yang pasti kami terus berjuang dan berdoa. 
Kami tak tahu apa yang terbaik untuk kami. Jika ini baik, semoga Allah memudahkan dan melancarkan ikhtiar kami. Aaaamiiin ya Rabb...

for my great motivator, my lovely husband
Love you more than anything...

Tuesday, June 3, 2014

The Next Step - Wawancara

Pada hari seharusnya pengumuman keluar, dari pagi saya mantengin web. Tapi yang dicari tak jua muncul. Refresh dan refresh lagi, hingga sore hari tampilan web tak juga berubah.

Sampe tiba di rumah, saya akhirnya lupa karena sibuk dengan anak-anak. Sekitar jam 10 malam, ketika saya sudah tertidur pas bobo-in dede bayi, tiba-tiba suami membangunkan saya dan berkata,"Mi, nama umi ada!" Suaranya pelan ketika memberitahu saya, tapi begitu menggelegar di telinga saya.

Suami kemudian menunjukkan nama saya di pengumuman yang tampil di web via tablet. Alhamdulillaaaah... 
(dari kemarin sebenarnya sudah uring-uringan tapi berita ini mengejutkan sekaligus menggembirakan)

Hari-hari berikutnya dipenuhi dengan hunting pertanyaan wawancara. Kami, saya dan suami, sibuk menghubungi semua pihak yang kira-kira bisa membantu. Teman-teman yang sudah dan sedang kuliah di luar negeri, searching internet, minta bahan-bahan ke kenalan yang sudah pengalaman, dan seterusnya. Email pun berdatangan, informasi juga semakin banyak saya kumpulkan demi mempersiapkan diri untuk tampil prima ketika wawancara.

Tiba di tempat wawancara satu jam sebelum wawancara mulai, saya menemukan ruangan masih kosong. Saya pun langsung ke toilet untuk bersiap. Kembali ke ruang tunggu, ternyata panitia sudah datang dan rekan-rekan sesama interviewee sudah memenuhi ruangan. 

Sembari menunggu giliran dipanggil, saya sempetin ngobrol dengan interviewee yang lain (sekalian observasi saingan hehehe). Interviewee pertama masuk ruangan. Setengah jam kemudian keluar dengan wajah lega. Untungnya dia mau sharing mengenai pertanyaan yang ditanyakan tadi.

Jam 11 lewat, nama saya pun dipanggil untuk masuk ke ruang wawancara, dimana tiga interviewer sudah menunggu. Pertanyaan demi pertanyaan saya coba jawab dengan baik, sebaik yang saya bisa (meski kadang saya tidak begitu yakin -melalui gesture misalnya- apakah jawaban saya memuaskan mereka). 

Hampir semua pertanyaan sudah saya prediksi sebelumnya sesuai informasi yang saya kumpulkan bersama suami. Kami memilih jawaban mana yang kira-kira paling baik untuk tiap pertanyaan. Kami bahkan simulasi wawancara 2 malam berturut-turut sebelum hari wawancara, in english dan bahasa Indonesia, karena beasiswanya full luar negeri.

Kalau boleh saya simpulkan, pertanyaan wawancara biasanya tidak akan jauh-jauh membahas mengenai:

  • motivasi, mengapa mengikuti beasiswa ini
  • alasan pemilihan program studi dan universitas/negara yang dituju, termasuk rencana tesis
  • dukungan keluarga, termasuk apakah keluarga akan dibawa atau tidak
  • apa saja kontribusi yang sudah diberikan dalam pekerjaan di unit yang sekarang, kaitannya dengan program studi yang diambil
  • apa yang akan dilakukan setelah lulus, rencana kontribusi untuk institusi, termasuk career path
  • kelebihan dan kelemahan kita
  • dan mengapa kita berhak menerima beasiswa ini

Selesai wawancara, rasanya lega tapi ngga plong. Langkah selanjutnya akan ditentukan oleh subjektivitas pewawancara. Jika mereka oke, saya mungkin bisa kuliah ke Inggris tahun depan. Tapi jika saya tidak berhasil meyakinkan mereka, artinya saya harus mencari pemberi beasiswa lain hehehe...

Monday, May 26, 2014

A step ahead to reach the dream

Momentum itu dimulai ketika jatuh tempo 2 tahun saya hampir terlewati. Dua tahun adalah waktu yang harus saya lalui sebelum diperkenankan untuk melanjutkan pendidikan. Demikian memang yang dipersyaratkan oleh institusi saya, sebuah institusi pemerintah. Dua tahun sejak penempatan defenitif, itulah syaratnya,

Dan bulan Februari lalu jangka waktu itu telah lewat. Saya mulai mencari program beasiswa mana yang mau diikuti. Begitu juga dengan teman-teman seangkatan D IV lain, kami saling berbagi informasi.

Masalah mau lanjut S2 ini juga sudah pernah saya bicarakan dengan suami. Bahkan dia sangat mendukung. Dan ketika kesempatan itu tiba, saya pun segera memulai pertarungan.
Sebenarnya ada 2 program yang ditawarkan, satu dibiayai pemerintah Australia, satunya lagi dari World Bank. Penawaran dari Australia mensyaratkan sertifikat TOEFL-ITP dengan skor minimal 500. Apa mau dikata, sudah mencari kemana-mana lembaga yang bisa memberikan sertifikat dalam waktu yang ditentukan tapi tidak ada. Malangnya saya, soalnya dari tengah tahun kemarin sebenernya si abi sudah menyarankan saya untuk segera ikut tes TOEFL-ITP, tapi saya abai.

But then, masih ada peluang kedua. Tawaran yang ini tidak mensyaratkan nilai TOEFL karena dia menyelenggarakan sendiri tes TOEFL-nya. Akhirnya saya mencoba peruntungan untuk bertarung dalam laga ini.

Berkas sudah dimasukkan dan alhamdulillah nama saya ada dalam daftar peserta tes tertulis. Tes ini terdiri dari 3 jenis tes yang diselenggarakan selama 2 hari. Hari pertama, Tes Potensi Akademik (TPA) dan TOEFL, dilanjutnya psikotes di hari kedua.

Semenjak pengumuman pemanggilan peserta tes tertulis, saya langsung searching soal-soal TPA, Toefl, dan psikotes. Mau valid atau engga, yang penting latihan. Ya, untuk ngencerin lagi otak yang udah lama ngga diajak mantengin soal-soal matematika. Sabtu sebelum hari-H, saya ditemani suami ikut kursus TPA seharian di daerah Lebak Bulus. Yang ngajar dari Bappenas (atau mantan pegawai Bappenas?), seharian belajar TPA sangat membantu saya menyegarkan ingatan. Ia memberikan tips-tips, tak hanya cara mengerjakan soal-soal logika matematika yang diujikan, tapi juga tips psikotes bahkan wawancara. Ada prediksi skor juga, dan inilah yang kemudian menaikkan pede saya karena skor saya adalah yang tertinggi dari 75 peserta kursus pada hari itu.

Hari tes-pun akhirnya tiba. Sudah sampai di tempat tes sebelum jam 7, saya masih sempat istirahat sejenak dan sarapan pagi. Agak kurang fit sebenarnya karena 2 malam sebelumnya si dede Sofi sering bangun malam karena kurang enak badan. Dua malam kurang tidur, saya pasrah saja dengan ujian kali ini, padahal menurut saran dari teman-teman, kondisi badan harus fit banget ketika tes, supaya bisa konsen dan cepat mengerjakan soal. 
Selesai tes TPA di pagi hari, saya langsung curhat via grup WA bahwa soalnya susah banget. Hampir separuh soal matematika saya lewatkan karena kurangnya waktu. Saya pikir saya salah strategi (padahal pak dosen yang ngajarin TPA sudah memberi tahu bahwa soal-soal awal memang disetting sulit dikerjakan dan membutuhkan waktu lama), harusnya saya mengerjakan soal yang saya suka dulu (misalnya deret) baru yang lain. 10 soal pertama saya kerjakan hampir setengah jam, padahal masih ada 80 soal lagi yang harus dikerjakan setengah jam berikutnya. Saya pasrah. Tapi saya tetap berusaha mengerjakan soal Toefl (yang mana audionya ketika itu juga very very bad... Couldn't hear any word) dan psikotes dengan sebaik-baiknya.

Not so sure, but nothing imposible. Keep positive thinking. 

Wednesday, December 18, 2013

Lagi, tentang 3 bidadariku

Pengen cerita tentang 3 bidadari saya. Meski udah punya 4, tapi berhubung yang kecil masih 'anak bawang', jadi blom dulu yah :D

Iffah, Alif, dan Raisha. Tiga anak perempuan dengan cerita masing-masing.

Iffah, si sulung punya sifat ceria, panikan, senang bersosialisasi, tapi cuek dan

susah berkonsentrasi untuk waktu yang cukup lama. Nilainya cukup baik, dia kurang menunjukkan minat pada kegiatan belajar. Meski demikian, pelajaran yang paling disukainya adalah matematika. Paling ga suka pelajaran bahasa. "Abis susah," katanya. Jika ditawarkan mau pakai baju apa, dia akan jawab,"Terserah ummi..." Anaknya sangat pengalah. Jika benda miliknya diambil atau dirinya tersakiti, dengan mudah akan memaafkan. Kalau adik-adiknya menangis, dia akan membujuknya dengan "nanti dibelikan es krim, nanti kaka bawain apa dari sekolah, nanti kaka kasih apa..." Entah dari mana dia mempelajari cara itu :)

Alif lain lagi, meski kembar, karakternya seolah kebalikan Iffah. Alif lebih pendiam, tidak mudah dekat dengan orang baru, jarang senyum, penurut, mudah dimintai tolong (membereskan mainan misalnya), dan suka belajar. Dia tahan belajar membaca sampai berlembar-lembar (yang dia minta sendiri) sementara Iffah sudah bosan dan mengantuk pada baris kedua-nya. Nilainya bagus-bagus. Sifatnya yang perlu diubah adalah obsesifnya terhadap benda-bendanya, juga sifat suka menang sendiri-nya. Maunya begini begitu, termasuk soal pakaian. Meski sudah disiapkan pakaian misalnya, jika dia tidak suka, maka dia akan mengacuhkannya. Sulit membujuknya, dia punya kemauan/ego yang kuat. Yang bikin saya suka ga sabar sama Alif adalah sifat cengengnya. Jika sedih atau ketika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya, maka dia akan menangis dengan keras. Juga ketika malam hari, Alif paling sering terbangun malam hari dan langsung menangis dengan suara kerasnya membangunkan semua orang, namun tak menjawab jika ditanya. Kecuali itu, dia anak yang manis dan patuh.

Raisha, tadinya anak bungsu, sebelum dede Shofi lahir. Bulan-bulan pertama kelahirannnya, Raisha tidak menunjukkan kecemburuan. Setelah lewat 3 bulan, Abinya mulai jadi sasaran. Sifat cengengnya menjadi-jadi, tapi hanya kepada Abinya, yang senantiasa sabar meladeni kemanjaannya. Dibanding Alif, Raisha lebih sulit bersosialisasi dan cenderung pemurung. Perlu satu semester untuk bisa membuatnya enjoy sekolah di TK. Dia tidak menangis atau minta pulang, hanya tidak bisa berbaur bermain dengan teman-temannya. Sampai sekarang (satu semester menjelang masuk SD) dia belum bisa membaca, tapi jangan ditanya jika menghafal qur'an, semangat sekali. Jika Abi minta setoran, dia akan melantunkan hafalan dengan setengah berteriak. Guru-guru di TK juga bilang, Raisha bagus hafalannya. Sementara teman-temannya sering lupa hafalan yang dulu, Raisha tidak. Semoga kelak bisa jadi yang terdepan dalam menghafal qur'an ya nak.

Dan semua punya selera yang berbeda.
Alif suka warna pink, Raisha kuning, sementara Iffah suka sisanya.(Jika yang lain telah memilih, dia akan pilih warna yang tersisa atau warna apapun yang diberikan padanya)
Iffah suka roti keju bakar, Alif suka roti cokelat tanpa dibakar, sedang Raisha suka roti cokelat-keju dan dibakar.
Jika makan nasi dengan ayam goreng, maka Alif akan minta pake kecap, Raisha minta pake saos tomat, dan Iffah ga pake apa-apa.
Semua suka telur dadar. Raisha tidak suka telur rebus, Iffah suka putihnya sedang Alif suka semua.
Iffah senang memakai sepatu yang simpel, Alif senang sepatu kets, kalau Raisha senang sepatu-sendal.

Tak pernah habis cerita tentang anak-anak.
Karena mereka semua unik, karena mereka semua spesial :)



Tuesday, December 10, 2013

Welcome Shofi

Udah lama ga ngeblog. Lamaaaa sekali...
Ini kepala mulai 'penuh'. Emang harus nulis lagi nih :D

Lapor. Setahun kemarin saya hamil dan melahirkan.
Berikut cerita lengkapnya...

Saya dan suami memang sepakat untuk 'nambah' lagi. Naluri keibuan saya juga udah nagih pengen nggendong anak lagi.

Info berikut mungkin berguna untuk beberapa orang, siapa tahu bermanfaat bagi anda.
Jadi, setelah melahirkan anak ke-3, dede Rumaisha, saya langsung KB. Dan pilihan jatuh kembali ke KB suntik, karena sepertinya badan saya cocok dengan KB jenis ini. Muka ga item-item, ASI tetep lancar, badan ga jadi gemuk. Sampe tahun kemarin itu, total sudah 5 tahun lebih saya memakai kontrasepsi ini.

Efek memakai KB ini adalah saya ga haid-haid. Haid datang kadang 3 bulan sekali, kadang 6 bulan sekali, itu pun 'sekadarnya'. Orang bilang rahimnya jadi kering. Banyak temen yang pake KB jenis ini susah kalo mau punya anak lagi. Bahkan setelah berhenti suntik,. sang 'bulan' baru datang 6-8 bulan kemudian, bahkan lebih.

Setelah tanya-tanya, saya tahu bahwa KB jenis pil membuat rahim jadi subur. Sekali lupa minum pil akan berakibat "langsung dung' (katanya iklan). Maka kemudian saya pun konsul ke bidan di slah satu klinik dekat rumah. Ketika bilang akan berhenti KB, bu bidan menyarankan untuk KB pil dulu sebelum berhenti sama sekali. Berarti cocok lah sama keinginan saya. Saya pun minum pil hingga haid tiba.

Agak mual ketika beberapa hari minum pil. Ragu antara mual karena masuk angin atau karena memang sudah hamil, saya sempat bolak balik melakukan testpack (tentu saja hasilnya negatif). Hingga kurang lebih dua pekan kemudian saya pun haid dan KB pun (baik pil maupun suntik) saya hentikan.

Kira-kira 2 bulan kemudian saya positif hamil. Tentu saja saya dan suami bahagia, termasuk kakak-kakaknya, semua menantikan kedatangannya. Hamil yang ketiga ini tak sesulit yang pertama, tapi juga tak segampang yang kedua. Mual (dan muntah) di trimester awal, tapi mereda di trimester berikutnya. Alhamdulillah hamil yang ketiga ini bisa saya lewati dengan sukses.

Hingga tiba waktu akan melahirkan. Karena sudah merasa pengalaman 2 kali melahirkan (yang alhamdulillah lancar), saya agak takabur (na'udzubillah) di kali yang ketiga ini. Allah menakdirkan lahiran yang ketiga ini adalah lahiran terlama dan tersulit dibanding 2 lahiran sebelumnya. 'Ala kulli hal, saya tetap bisa melahirakan dengan normal dan selamat.

So, welcome dede Shofiyah Mutmainah Firmansyah, demikian kami memberinya nama. Sekarang dede sudah 6 bulan. Semoga jadi mujahidah yang shalihah ya de ^_^


Flanel itu menyihirku


Tau ga, kenapa saya pengen banget nulis kali ini? Karena benda bernama kain "Flanel" ini. Kadang orang-orang menyebutkan kain felt.

Entah sejak kapan, saya begitu tergila-gila sama kain ini. Tapi saya memang suka membuat sesuatu (baca: prakarya) dengan tangan. Paling seneng pas pelajaran keterampilan, apapun itu bentuknya, entah yang dari kertas, kain-benang, apapun.

Sampai suatu kali saya menemukan kain flanel ini. Lucu banget kelihatannya, bisa dibikin apa saja. Mulai dari gantungan kunci yang kecil sampai boneka yang cukup besar. Saya langsung hunting perlengkapan flanel ke tempat-tempat grosiran dan membeli bermeter-meter kain plus berwarna-warni benang, jarum, dan kelengkapan lain.

Ketika sedang kecanduan jahit flanel itu, saya pernah membawa peralatan flanel saya ke kantor. Saat tiba waktunya istirahat, maka saya langsung mengeluarkan prakarya saya. Meja kantorpun penuh dengan tumpukan guntingan flanel lengkap dengan benang dan jarumnya. Saya masih ingat ketika itu membuat gantungan pintu dengan nama, untuk anak-anak saya tentunya. Tak disangka, teman-teman juga pengen pesan. Akhirnya saya pun harus rela membuatkan pesanan mereka.

Hobi ini agak terhenti ketika saya memutuskan kuliah lagi. Ketika itu, selain karena sibuk kuliah, saya teralihkan dengan prakarya baru, bros akrilik/manik-manik. Saya sempat bikin ratusan bros akrilik dan manik-manik, dan sempat dijual juga. Meski tak sepadan dengan kerjanya, tapi cukup puas membuat begitu banyak bros ketika itu. Namanya hobi, memang hanya mencari kepuasan batin saja. Laba, adalah hal yang kesekian.

Sekarang ketika sudah ngantor lagi (dan mulai bosan dengan bros ^_^ hehehe), saya CLBK lagi sama si flanel ini. Dalam sebuah kesempatan saya browsing flanel dan menemukan blog seorang ibu yang menggeluti bisnis flanel yang kemudian menginspirasi saya. Nama blognya nupinupi.com. Sebuah tulisannya menghapus kegalauan saya tentang bisnis flanel. Bisnis yang berdasarkan hobi, bukan produk massal. Saya menjadi lebih serius sekarang, karena setelah saya pikir-pikir lagi, sepertinya passion saya ada di si flanel ini. Mulai membicarakan hal-hal yang serius dengan suami, seperti masalah modal (baik uang maupun barang), rekrutmen karyawan, dimana akan bikin 'bengkel' flanel untuk produksi, membuat toko offline dan online, dan lain-lain. Meskipun demikian, rencana tak semudah bermimpi. Tapi saya tetap semangat.

Ngomong-ngomong soal passion, dari dulu saya terus mencari, dimana passion saya. Saya suka mengerjakan apa? Saya senang saat apa? Rene Suhardono bilang (dalam bukunya "Your Job is not Your Career"), passion itu: it is (not) what you're good at. It is what you enjoy the most! Saya selalu berbinar tiap kali melihat sesuatu yang berhubungan dengan flanel.

Beberapa minggu terakhir saya menyempatkan untuk hunting gambar yang berkaitan dengan flanel, felt, craft, dll. Dan saya merasa enjoy banget melihat gambar-gambar itu :) Mungkin ini memang passion saya.

Impian saya untuk flanel ini, saya pengen someday punya toko flanel offline dan online yang menjual kaos flanel (pesanan dengan nama), gantungan pintu (pesanan dengan nama), perlengkapan edukasi dan mainan untuk anak, juga pernak-pernik flanel lainnya. Pertama mungkin akan fokus di beberapa jenis barang saja. Dengan desain yang unik, semoga produk-produk saya bisa laku dan mendatangkan keuntungan.

Pertama, saya akan bikin desain awal sebanyak-banyaknya, produk-produk 'dummy'. Kemudian beli bahan-bahan baku di tempat termurah. Selanjutnya mencari karyawan. Tantangan terbesar adalah yang terakhir. Untuk produk homemade, kualitas produk sangat ditentukan oleh pembuat. Mungkin saya bisa menjamin kualitas produk-produk saya jika saya yang membuat sendiri produk-produknya. Tapi ngga mungkin kan membuat sekian banyak barang (apalagi dengan konsep job order alias pesanan) dalam jangka waktu sangat terbatas. Saya harus mencari rekan kerja. Semoga saya segera menemukan crafter yang rapi jahitannya dan cepat dalam bekerja. Sebenarnya saya pengen memberdayakan ibu-ibu rumah tangga dekat rumah yang masih punya waktu luang untuk nyari-nyari tambahan penghasilan. Selain menjalin hubungan silaturahim, berbagi rejeki, juga dalam rangka da'wah (siapa tau mereka mau saya ajak ngaji juga).

Oke, itu (salah satu) mimpi saya yang sekarang sedang menggebu. Saya ingin mengikatnya dengan menuliskannya. Semoga suatu hari, di blog ini, saya bisa bercerita tentang progress mimpi saya yang ini. Aaaaamiiiiin....


Wednesday, October 2, 2013

DUL

Tulisan yang mencerahkan dari Rhenald Kasali

DUL

KITA tentu tak menyangka bagaimana mungkin seorang bocah berusia 13 tahun sudah dilepas membawa mobil sendiri pada tengah malam.

Memang ia ditemani seseorang, tetapi ia juga masih terbilang bocah. Bukan mengemudi di dekat rumah dengan pengawasan orangtua, melainkan di jalan tol, menempuh jarak yang terbilang jauh. Dan apesnya, enam orang tewas, dan beberapa anak langsung menjadi yatim piatu.

Ini tentu sangat memprihatinkan. Namun setiap kali melihat bagaimana masyarakat mendidik anak-anak, saya sebenarnya sangat khawatir. Tak dapat dipungkiri, tumbuhnya kelas menengah telah menimbulkan gejolak perubahan yang sangat besar.

Namun reaksinya sangat ekstrem: Yang satu mengekang habis anak-anak dengan dogma, agama dan sekolah sehingga melahirkan anak-anak alim yang amat konservatif, yang satunya memberi materi dan servis tiada batas, sehingga menjadi amat liberal.

Di segmen atas anak-anak diberikan mobil, di bawah menuntut dibelikan sepeda motor meski usianya belum 17 tahun. Kebut-kebutan menjadi biasa, korban pun sudah sangat sering berjatuhan. Karena mereka bukan siapa-siapa maka kecelakaan dan kematian yang ditimbulkan tidak masuk dalam orbit media massa. Kematian yang ditimbulkan Dul mengirim sinyal penting bagi kita semua.

Business class

Di pesawat terbang, mungkin hanya di Indonesia, Anda bisa menyaksikan keluarga-keluarga muda membawa anak-anaknya duduk di kelas bisnis. Dua orang baby sitter, duduk sedikit di belakang, tak jauh dari batas kelas eksekutif mengawal anak-anak yang sudah bukan bayi lagi itu. Di masa liburan, bukan hal aneh menemukan keluarga menunggu di business lounge, dan naik pesawat dengan tiket termahal.

Sayang sekali, cara makan anak-anak belum dididik layaknya kelas menengah. Berteriak-teriak di antara kalangan bisnis, makan tercecer di jalan, dan di atas pesawat memperlakukan pramugari seperti pembantunya di rumah. Sebentar-sebentar bel dipijit, dan pramugari bolak-balik sibuk hanya melayani dua orang kakak-beradik yang minta segala layanan. Menjelang tiba di tujuan, orangtua baru mulai menyentuh anak-anaknya, dibantu baby sitter yang terlihat gelisah. Orangtua mereka umumnya adalah pemilik areal pertambangan, pedagang, atau ada juga seleb-seleb muda yang belakangan banyak bermunculan. Ayah dan ibu memilih tidur.

Jarang ditemui percakapan yang memotivasi, atau mengajarkan sikap hidup. Paling banter, mereka bermain video game, dari iPad yang dibawa anaknya. Padahal di luar negeri, iPad adalah alat kerja eksekutif yang dianggap barang mewah. Kesulitan orangtua tentu bukan hanya berlaku bagi kelas menengah saja. Di taman kanak-kanak yang diasuh istri saya di Rumah Perubahan, di tengah-tengah kampung di dekat Pondok Gede hal serupa juga kami temui. Belum lama ini sepasang suami-istri menitipkan anaknya untuk sekolah di tempat kami, dan setelah mengecek status sosial-ekonominya, anak itu pun diputuskan untuk diterima.

Namun ada yang menarik, setelah diobservasi, anak berusia lima tahun itu seperti belum tersentuh orangtuanya. Ia seperti rindu bermain, motorik halus dan kasarnya belum terbentuk, jauh tertinggal dari teman-teman sebayanya. Setelah dipelajari dan orangtua diajak dialog, kami menjadi benar-benar paham pergolakan apa yang tengah terjadi dalam masyarakat kita. Orangtua selalu mengatakan, “Saya bekerja keras untuk menyiapkan masa depan anak-anak. Saya juga sering mengajak mereka berlibur”. Namun, anak-anaknya menyangkal semua pemberian itu.

Faktanya, anak-anak tak terbentuk. Sikap sosialnya, termasuk modal dasar yang disebut para ahli pengembangan anak sebagai executive function dan self regulation tidak terbentuk. Orangtua hanya fokus pada kemampuan anak berhitung dan membaca. Padahal, mereka juga harus pandai mengelola “air traffic control” yang ada dalam pikiran anak-anaknya agar kelak mampu menjadi insan mandiri yang bertanggung jawab.

Executive function

Anak-anak kita menghadapi dunia baru yang benar-benar berbeda dengan kita, sehingga mudah sekali “berpaling” dari hal-hal rutin seperti sekolah dan belajar. Mereka hidup dalam dunia yang penuh dengan “gangguan” (distraction) seperti sosial media dan telekomunikasi yang saling bersahutan. Kita semua akan sangat kesulitan menjaga dan membimbing anak-anak kita bila modal dasar executive function tidak ditanam sejak dini. Apalagi bila sekolah hanya fokus pada angka dan huruf, seakan-akan pengetahuan dan rumus adalah segala-galanya.

Menurut berita yang saya baca, Dul ternyata sudah sejak Juni lalu tak sekolah. Saya tak tahu tentang kebenaran berita ini. Tetapi Minggu dini hari dia masih mengendarai mobil, mengantar pacar lewat jalan tol, tentu mengindikasikan anak itu (ini juga bisa terjadi pada anak-anak kita, bukan?) telah hidup dalam abad distraction, sulit untuk fokus sekolah dan belajar. Studi-studi tentang executive function dalam child development antara lain banyak bisa kita temui dalam buku dan video yang diberikan psikolog-psikolog terkemuka, seperti Ellen Galinsky dan Debora Philip.

Mereka menemukan, di abad ini, anak-anak perlu mendapat fondasi hidup yang jauh lebih penting dari sekadar tahu angka dan huruf. Anak-anak itu perlu dilatih tiga hal: Working memory, Inhibitory control, dan Mental flexibility. Ketiga hal itulah yang akan membentuk generasi emas yang bertanggung jawab dan produktif. Mereka sedari dini perlu dibentuk cara bekerja yang efektif, fokus, tahu dan bekerja dengan aturan, sikap positif terhadap orang lain, mengatasi ketidaknyamanan, dan permintaan yang beragam, serta cara mengelola informasi yang datang bertubi-tubi.

Pikiran mereka dapat diibaratkan menara Air Traffic Control di Bandara Cengkareng dengan ratusan pesawat yang datang dan pergi, semua berebut perhatian dengan sejuta masalah yang harus direspons cepat. Maka itu, masalah Dul bukanlah sekadar masalah Ahmad Dhani yang menjadi seleb, atau masalah keluarga broken home. Ini adalah masalah kita bersama, masalah yang dihadapi anak-anak kita. Dari kita yang tidak fokus dan sibuk mencari uang atau mengurus orang lain. Kita yang dibentuk oleh sistem pendidikan model revolusi industri yang masih berpikir cara lama.

Ditambah guru-guru yang juga banyak tidak fokus, tidak paham problem yang dihadapi generasi baru, yang punya ukuran kecerdasan menurut versi mereka sendiri, dalam model persekolahan yang materialistis dan old fashion. Sekolah yang menjenuhkan dan tidak membuka fondasi yang diperlukan anak-anak sehingga mereka lari dari rutinitas.

Ini pun sama masalahnya dengan orangtua yang lari dari dunia nyata dan berlindung dalam benteng-benteng dogma dengan menyembunyikan anak dari dunia riil ke tangan kaum konservatif yang menjadikan anak hidup dalam dunia yang gelap dan steril. Anak-anak kita perlu pendekatan baru untuk menjelajahi dunia baru. Mereka perlu dilatih keterampilan-keterampilan hidup, fokus dan selfregulations, menjelajahi hidup dalam aturan, yang ditanam sedari usia dini.

Friday, December 7, 2012

Jualan demi Jajan

Si kembar, Iffah (afifah) dan Alif (alifah), baru kelas 1 SD. Belum lagi satu semester mereka 'nyobain' jadi anak SD. Dan saya (kadang) masih suka memperlakukan mereka seperti anak TK. Salah satunya: tiap pagi dibawakan bekal, tanpa uang jajan.

Tapi ada yang ternyata luput dari perhatian saya. Dulu ketika masih di TK, kepala sekolah memang tidak mengijinkan penjual apapun nangkring di wilayah sekitar sekolah. Kegiatan makan pagi pun dilakukan bersama-sama, dengan ritual membaca doa bersama, ada piring kosong di meja untuk yang ingin berbagi, guru-guru pun senantiasa menemani setiap anak dan siap membantu jika masih kesulitan membuka kotak makannya misalnya. Di SD tentu tidak lagi demikian perlakuannya. Saat istirahat makan pagi, anak-anak tidak lagi didampingi guru, paling banter ya mengawasi saja dari kejauhan. Tidak ada lagi "piring berbagi" dan ada kantin bahkan penjual yang diijinkan berjualan di sekitar sekolah. Ditambah lagi, menurut cerita Iffah (ketika saya ajak ngobrol), semua temannya ternyata diberi uang jajan oleh orang tua masing-masing meski tetap dibekali makanan dari rumah.

Sampai minggu kemarin, saya tidak pernah memberikan uang jajan kepada si kembar, kecuali sekali, saat mereka 'memohon'. Nah, ketika dikasih, si kembar pun langsung ngobrol -sambil make kaos kaki dan sepatu- tentang nanti akan jajan apa. Dalam pikiran saya, waduh pasti ntar belajar juga bakalan kepikiran jajan melulu nih...

Dan sejak saat itu saya tak pernah lagi memberikan uang jajan kepada si kembar.

Hingga pekan kemarin....

Pertama agak shock juga ketika diberi tahu bahwa Iffah jualan di sekolah, dan uang hasil jualannya dipake buat jajan. Yang saya lakukan berikutnya adalah tentu saja konfirmasi ke Iffah. Berikut petikan-petikan obrolan saya sama Iffah:
Saya : "Wah kaka Iffah pinter ya... Kemarin jualan ya si sekolah?"
Iffah  : senyum sambil cengengesan
Saya  : "Emang kaka Iffah jual apa?"
Iffah  : "Jual kertas" --> kertas file yang bergambar warna warni
Saya  : "Emang kenapa koq kaka Iffah jual? Kan kemarin dikumpul-kumpulin"
Iffah  : "Ngga kenapa-napa"
Saya  : "Uangnya dapet berapa ka?"
Iffah  : "Ga tau, lupa"
Saya  : "Uangnya kaka Iffah pake buat apa?"
Iffah  : "Buat jajan"
Saya  : "Kaka Iffah jajan apa aja"
Iffah  : "Jajan permen"
Saya  : "Trus apa lagi?"
Iffah  : "Es (susu SoGood beku), batagor, mie (semacam mie remez yang diberi bumbu kemudian diremes)"
Kemudian saya menerangkan tidak baiknya mie remes untuk dimakan.
...
Di kesempatan lain...
Saya  : "Emang temen-temen kaka Iffah semuanya jajan ya?"
Iffah  : "Iya"
Saya  : "Ada ngga yang ngga jajan?"
Iffah  : "Ada... Eh, ga ada"
Saya  : "Emang ga bawa bekal dari rumah ya temen-temennya?"
Iffah  : "Bawa"
Saya  : "Tapi dikasih uang jajan juga?"
Iffah  : "Iya"
Saya  : "Kertas yang kaka Iffah jual, emang kaka jual berapa?"
Iffah  : "Ada yang gopek, ada yang seribu, ada yang dua ribu"
Saya  : "Wah, koq macem-macem harganya? Kenapa ga gopek semua?"
Iffah  : "Ga kenapa-napa" (jawabnya dengan wajah cool)
Saya  : "Yang gopek yang kayak gimana?"
Iffah  : "Yang biru"
Saya  : "Kalo yang seribu?"
Iffah  : "Yang pink, yang kuning..."
Saya  : "Koq harga beda sama yang biru?"
Iffah  : "Ga kenapa-napa" (jawabnya masih cool... terus terang saya ga bisa nebak...hahaha)
Saya  : "Kalo yang dua ribu?"
Iffah  : "Yang gambar miki"
Saya  : "Emang ada yang beli yang dua ribu?"
Iffah  : (dengan bangga) "Ada"
dst...

Itu tadi hasil investigasi sama terhadap Iffah, sang penjual. Sementara Alif, yang bertugas bawa kertas file itu (dalam binder) dan menikmati hasil penjualan Iffah, tidak (belum sempet) saya tanya-tanya. Menarik ya jawabannya? ^_^ (dia bahkan sudah bisa menentukan harga barang... ck..ck..ck...)

Mereka memang selalu antusias (terutama Iffah) jika di sekolah diselenggarakan acara Bussiness Day. Sejak TK, kegiatan Bussiness Day selalu diadakan setahun sekali. Waktu mereka masih di TK, saya masih nyempetin bungkusin hasil bikinan sendiri. Kemarin ketika Bussiness Day di SD beberapa pekan yang lalu, saya cuma bungkusin kripik singkong masing-masing 5 bungkus untuk Iffah dan Alif (padahal disuruh 10 bungkus). Dan selalu excited menceritakan kejadian di sekolah tadi setiap kali habis jualan. Entah karena yang dijual memang menarik (pernah jual popcorn, sate buah, atau kripik singkong) atau memang Iffah yang pinter jualan, setiap kali bawa makanan untuk dijual di acara itu selalu habis terjual (beberapa temen masih harus bawa kembali hasil jualan yang ga laku)

Langkah selanjutnya adalah tentu saja konsultasi sama suami. Dan kamipun akhirnya mengambil keputusan:
- Perlu mengapresiasi kemampuan jualan Iffah yang "wow" menurut saya (OMG, mereka baru kelas 1 SD!!! Saya dan suami juga jualan sebenernya, hanya saja ngga bakat alam kayak Iffah. Kami baru jualan setelah menikah. Memang Iffah sering liat saya bawa barang dan ketika ditanya saya sering jawab,"Ini untuk temen umi, untuk dijual" Saya ga sadar ternyata dia 'merekam' hal itu... deep inside di unconsius mind-nya)
- Ke depan, beberapa kali seminggu, kami akan memberinya uang jajan, dengan catatan, sebagiannya di tabung ya... (jajan juga mengajarkannya bertransaksi, mengenal nilai uang, banyak manfaat lainnya sebenarnya. Tapi overprotective membuat saya mengabaikan manfaat-manfaat itu...)
- Salah satu alasan tidak memberikan mereka uang jajan adalah kekhawatiran terhadap apa yang mereka beli. Salah satu solusi mungkin bisa dengan mengajak mereka memilih sendiri jajanannya di supermarket dekat rumah untuk dibawa ke sekolah. Dengan begitu kami bisa mengontrol jajanannnya.

Bapak/ibu, punya saran lain untuk saya?
Terima kasih sebelumnya :)