Saturday, February 4, 2017

We're moving

Agak berat sebenarnya memutuskan hal ini... tapi keputusan saya sudah bulat.
Mohon maaf ya blogspot yang tercinta, dirimu terpaksa kutinggalkan...
Berat rasanya, tapi apa daya sulit sekali memelihara dua (bahkan tiga) blog sekaligus. Setelah mempertimbangkan beberapa hal, saya akhirnya memilih untuk meneruskan blog pribadi (ninasabnita.wordpress.com) dan blog keluarga (abahshofi.com) yang di wordpress. Jadi, sementara ini, hingga waktu yang tidak ditentukan, blog ini akan saya non-aktif-kan. Tidak ada postingan terbaru dan nina's stories lagi. Beberapa postingan mungkin akan teman-teman temukan di blog sana. Saya tunggu kunjungannya di dua blog di atas yaaaa.

Sekali lagi saya mohon maaf...

This is not a good bye, just moving :)
So, see you there friends...

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokaatuh...
Nina aka ummu Iffah aka ummu Shofi

Monday, January 2, 2017

Resolusi 2017?

Banyak berseliweran di wall facebook saya beberapa teman dan kenalan yang menuliskan resolusi 2017-nya seiring dimulainya hari pertama di tahun yang baru ini. Perlukah menuliskan resolusi?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, resolusi berarti putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal. Entah kenapa kata 'resolusi' kemudian sering digunakan ketika momentum tahun baru-an tiba, dengan embel-embel 'angka tahun' dibelakangnya.

Bagi saya menuliskan cita, mimpi, asa, sudah saya lakukan semenjak saya masih gadis. Sebagai seorang koleris melankolis yang teratur, saya biasa menuliskan dengan rapi apa saja (meski kebiasaan ini luruh ketika menikah dengan suami plegmatis yang 'ngalir aja' hehehe). Saya selalu punya agenda, dulu malah menyengaja membeli agenda yang bagus dan mahal. Ketika menikah, saya mengajak suami untuk menuliskan mimpi kami dalam sebuah buku khusus. Cita itu pun tidak lagi mimpi pribadi yang diperjuangkan sendiri. Mimpi itu menjadi mimpi kami, mimpi keluarga.

Di awal pernikahan kami menuliskan visi dan misi keluarga hingga action apa yang diperlukan untuk meraih mimpi itu. Buku mimpi ini kami revisi seiring waktu. Anak-anak yang dititipkan kepada kami, termasuk asisten rumah tangga yang ikut tinggal bersama kami pun menjadi bagian dalam hal-hal yang ingin kami raih.

Saya lupa tepatnya kapan. Sebenarnya saya biasa menuliskan mimpi, target, harapan sejak lama. Tapi kebiasaan menuliskan dengan detail setiap mimpi ini bermula ketika saya membaca buku Chicken Soup for the Soul versi meraih mimpi yang ini:

Saya tahu covernya tak semenarik buku-buku Chicken Soup versi lain, tapi isinya sungguh menginspirasi saya. Banyak kisah-kisah sukses orang-orang yang mimpinya terwujud dan yang lebih kerennya lagi, penulisnya merangkumkan untuk kita tips-tips, langkah demi langkah, bagaimana bisa berhasil meraih mimpi sebagaimana orang-orang yang sharing di buku tersebut. Buku ini sangat saya rekomendasikan sekali, highly recommended book. Keren banget!

Hidup dan sekolah di luar negeri juga adalah mimpi yang saya dan suami tuliskan di buku mimpi kami bertahun-tahun yang lalu. And now here we are...

Sangat menakjubkan ketika membuka lagi buku itu, ketika kita pada akhirnya berhasil meraih satu persatu apa yang kita citakan dahulu. Impian yang -saya masih ingat perasaan yang saya rasakan ketika menuliskannya- tampak mustahil, seperti bunga tidur yang kemudian lenyap ketika terbangun di pagi hari. Tapi ternyata Allah swt menjadikan mimpi itu hal yang baik dan dengan kehendakNya kami bisa menghirup dinginnya udara musim dingin di York, UK, ribuan kilometer jauhnya dari kampung halaman.

So, kembali ke resolusi 2017, perlukah?

Yup, menurut saya perlu sekali. Meskipun saya sendiri lebih memilih momentum hari lahir yang lebih personal dan private untuk mimpi personal saya, atau hari pernikahan untuk cita-cita keluarga. Di momen itu saya (atau kami) mereview kembali mana mimpi yang sudah dan belum terwujud, merevisi mimpi, membuat mimpi-mimpi baru, untuk anggota baru misalnya (harapan kami untuk si bungsu belum sempat kami tuliskan hehehe..), dan lain-lain. Apapun momentum yang kamu pilih, misalnya tahun baru ini, silakan menuliskan apa saja target, mimpi, cita, dan harapan (apapun namanya) untuk dirimu, keluarga, anak-anak, bahkan bangsa dan negara juga bisa (apa yang kamu bisa lakukan untuk itu).

Resolusi 2017 saya?
Banyaaaaaak...  :D

Ohya, satu lagi, tak perlu membandingkan mimpi kita dengan mimpi orang lain, capaian kita dengan capaian orang lain. Orang yang merugi adalah orang yang hari ini lebih buruk atau sama saja dengan hari kemarin, bukan lebih buruk dari orang lain. Tiap orang punya passion dan kelebihan masing-masing, bidang dimana kita bisa memberi manfaat untuk orang banyak yang berbeda-beda. Silakan mengambil pelajaran atau terinspirasi atas kesuksesan orang lain, tapi pastikan itu benar-benar mimpimu :)

Sunday, October 30, 2016

Terlalu asyik

Sudah hampir setahun semenjak anak-anak (dan abinya) mendarat di Inggris dan semenjak itu pula hidup saya 'penuh' dengan mereka. Jangan ditanya nilai-nilai (kuliah) saya, sangat jauh dari harapan... -_-"

Hidup di negeri orang pastinya jauh berbeda dengan hidup di kampung sendiri. Tidak hanya bahasa, tapi juga kebiasaan, makanan, suhu dan cuaca. Tak hanya itu, rutinitas sebagai ibu bekerja yang biasa pergi pagi pulang malam juga berubah drastis menjadi ibu rumah tangga yang nyambi jadi mahasiswa.

Tentunya saya sangat menikmati segala perubahan itu. Dapur yang dulu saya kunjungi hanya ketika weekend, sekarang hampir setiap saat saya selalu ada dan beraktivitas di dapur. Memasak menjadi keharusan dan sekaligus hobi baru. Cuaca yang dingin membuat perut selalu lapar dan waktu luang yang banyak (dan juga ke'hangat'an dapur ditengah suhu dibawah 10 derjat) membuat aktivitas memasak menjadi menyenangkan. Mencoba resep baru atau resep lama dengan bumbu yang 'seadanya' (baca: tersedia -soalnya rada susah nyari bumbu segar disini) menjadi rutinitas baru.

Antar-jemput sekolah anak juga menjadi rutinitas menyenangkan lainnya. Sungguh merupakan keistimewaan yang luar biasa ketika saya sempat (bahkan setiap hari) mengantarkan anak-anak ke sekolah, melepas mereka bermain dan menuntut ilmu. Ritual cium tangan dan peluk cium sebelum berpisah menjadi kebahagiaan dan kenikmatan tersendiri yang tak akan bisa saya lakukan ketika nanti balik ke Indonesia. Maka tiap pelukan dan kecupan selalu saya lakukan dengan sepenuh hati.

Aktivitas lain yang juga saya nikmati adalah shalat berjamaah dan 'obrolan' antara magrib dan isya. Di Indonesia saya biasa tiba di rumah sekitar jam 7 malam dengan kondisi letih penuh asap dan keringat. Nyampe rumah udah sisa-sisa tenaga. Tak pernah sempat shalat bersama anak-anak. Di sini, di masa ketika kuliah 'cuma' dari jam 9 sampe jam 3 atau 4 sore (itu pun ga tiap hari) dan jarak rumah-kampus cuma (paling lama) 30 menit jalan kaki (bisa lebih cepat lagi kalo naik sepeda), waktu luang bersama anak-anak berasa berlimpah. Tiap pagi ketika nganter sekolah bisa ngobrol, pun ketika sepulang sekolah di sepanjang jalan juga bisa nanya tadi ngapain aja dan mereka pun cerita segala macam. Sampai di rumah selalu kelaparan, biasanya saya buatkan 'cemilan berat' seperti pizza bikinna sendiri, bakwan, ubi goreng hangat, donat, kentang goreng, cake, dan lain-lain. Setelah itu shalat magrib, ngaji, trus shalat isya. Sebelum abinya dapat kerjaan, kami (hampir) selalu shalat bersama. Agak berat ternyata 'mengawal' tilawah dan hafalan anak-anak kalo diurus sendiri sebab sayanya juga ga disiplin. Nanti (kalo inget) akan saya ceritakan lain waktu.

Begitulah rutinitas saya sekarang yang menyebabkan saya 'lalai'. Lalai belajar, lalai menulis, lalai membaca... lalai semuanya. Saya terlalu asyik menikmati kebahagiaan langka ini...

Sekian dulu curcol dan 'pembenaran' kali ini. Mohon maklum dan terima kasih :D

Monday, May 30, 2016

Ke kampus umi

Ini kumpulan foto anak-anak yang saya ajak jalan-jalan ke kampus pas baru datang.

Di Cafe Library
Di lobby perpus

Ci luk baaa...!

Salah satu taman samping The Cafe Deli

Samping Alcuin Building

Taman dekat Alcuin Building
Pertama kali naik bus tingkat
Langsung pilih di atas paling depan

Welcome my love

Akhir Sepember 2015, saya berangkat meninggalkan orang-orang yang saya cintai. Suami, keempat bidadari, orang tua, sanak keluarga... Berpisah 15 ribu kilometer dari mereka sungguh berat untuk saya. Ini pertama kalinya saya bertualang sejauh dan selama ini...

Semenjak awal, sedari berniat ingin menimba ilmu di negeri seberang, saya sudah bertekad untuk membawa serta bidadari-bidadari tercinta. Mereka jualah sesungguhnya yang membuat saya berani melangkah, langkah yang teramat jauh ini. Mereka tak boleh tinggal lama.

Sebelum berangkat, saya dan suami akhirnya memutuskan mereka harus berangkat sesegera mungkin. 12 November adalah deadline pengajuan visa, sebab setelah tanggal itu aturan yang baru akan diberlakukan. Aturan yang membuat perjuangan untuk bersama akan menjadi semakin sulit (terutama karena ada tambahan deposit hingga hampir dua kali lipat dari yang sebelumnya), maka kamipun berusaha agar visa bisa keluar sebelum tanggal itu.

Mengurus visa tidak sulit sebenarnya, hanya saja aturan yang diterbitkan oleh negara tujuan membuat kita berhati-hati agar jangan sampai gagal (kalo gagal, untuk apply ulang membutuhkan biaya yang tidak sedikit). Ngisi form online juga tidak boleh sembarangan, karena negara maju punya basis data yang kuat. Salah input (apalagi sengaja) akan berbuntut panjang.

Submit berkas visa ke VFS center di Kuningan City
Setelah berkali-kali mengecek kelengkapan isian form, kadang agak ragu dengan isian (karena kurang paham atau takut salah mengerti data yang diminta), akhirnya submit juga. Untuk mengantisipasi deadline 12 November, kami mengusahakan agar visa sudah keluar sebelum tanggal itu (meskipun diaturan disebutkan tanggal itu adalah batas submit aplikasi) dengan meminta jalur "priority" (3 hari jadi). Alhamdulillah 10 November visa suami dan anak-anak granted.

5 Desember 2015, setelah segala tetek bengek, letih peluh dan air mata, alhamdulillah mereka selamat mendarat di Manchester Airport pukul 7 pagi waktu Inggris. Tak terlukiskan betapa bahagianya saya bisa memeluk mereka. Alhamdulillah ya Allah...

Baru nyampe di Manchester Airport, jaket dan syal udah saya siapin karena cuaca dingin banget
Di kereta dari Manchester menuju York


Friday, March 18, 2016

(Masih) Tentang Essay

Setelah sebelumnya saya cerita tentang practise essay, kali ini saya pengen cerita tentang (nasib) essays saya, the real version. Maksudnya yang bener-bener dinilai dan menjadi penentu saya lulus atau tidak di term ini.

Essay pertama, saya disuruh memilih satu dari lima pertanyaan dan menjawabnya dalam 5000 kata. Saya kemudian memutuskan memilih pertanyaan tentang implementasi kebijakan, karena saya suka. Saya sudah menemukan jawabannya dan tinggal menuliskannya. Meski sudah practice sebelumnya, tapi menuliskan ide dalam bahasa inggris sungguh sulit bagi saya. Yang lebih sulit lagi (dan ternyata saya memang banyak salah disini) adalah mereferensikan sesuatu. Ketika kita menukil perkataan seseorang, banyak hal yang perlu diperhatikan. Bagaimana meng-quote langsung, bagaimana menuliskan kembali dengan bahasa sendiri alias paraphrase, dan sebagainya. Sebenernya saya lebih pede dengan essay yang ini, tapi dosen penilai menentukan lain.

Essay kedua, tentang perbandingan antarnegara. Jadi saya disuruh membuat kalkulasi atau suatu perhitungan dengan membandingkan keadaan di beberapa negara dan membuat analisa tentang hal tersebut. Topiknya terserah. Dan ini yang membuat saya galau. Saya ga terlalu suka milih ternyata :D hahaha. Ketika saya disuruh milih, malah terlalu banyak pertimbangan akhirnya susah banget untuk mutusin yang mana yang akan diambil. Finally, setelah minta advise dari seorang teman yang sudah menyelesaikan essaynya jauh hari sebelum due date, 4 hari sebelum deadline saya ambil topik tentang anak. Ga begitu pede dengan essay yang ini sebenernya, apalagi diakhir essay ada hipotesis yang 'perlu penelitian lanjutan' karena saya ga bisa ambil kesimpulan.

Well, surprisingly, ternyata begitu nilai keluar, essay kedua saya nilainya jauh diatas nilai essay pertama. Karena banyak kesalahan di referensing dan bad paraphrasing, dan terutama karena paragraf-paragrafnya kek berdiri sendiri alias ga terintegrasi dan ngga ngalir, saya harus rela dikasih nilai slightly diatas batas 'Pass'. But I am very happy though, yang penting pass lah hahaha :D :D :D

Kecewa? Ga juga sih... 
Ya tentu saja saya pengen dapet nilai lebih tinggi, tapi harus legowo dengan nilai yang dikasih dosen. Ada banyak pelajaran yang semoga saya ga ulangin lagi di assessment berikutnya...

Nasib anak kost... eh maksudnya nasib student :D :)

 

Saturday, November 14, 2015

(Practice) Essay Pertamaku

Di term pertama ini ada practice essay di salah satu mata kuliah yang harus dikumpulkan di week 6. Setengah relax (toh cuma practice doang inih) tapi intimidating juga (karena ini tugas bikin essay pertama). Di satu sisi pengen ga terlalu serius-serius amat, tapi disisi lain ada keinginan untuk perfect juga.

Ngerjain tugas pertama ini benar-benar membuat tegang. Pertanyaannya sebenernya cukup simpel, kita disuruh memilih 1 dari 3 pilihan dan buktikan kenapa itu yang kita pilih. Tapi ya itu, malah jadi susah, karena kita harus membandingkan ketiga-tiganya untuk membuktikan mana yang terbaik. Bahkan sampe sepekan sebelum deadline, saya masih bingung mau milih mana... hahaha... Meski kurang puas dengan hasilnya, alhamdulillah saya berhasil mengunggah hasil akhir sehari sebelum deadline.

Untuk menyelesaikan essay ini, saya harus membaca banyak sekali buku. Dan trus baru sadar bahwa membaca saja saya sulit hehehe... Pertama, keterbatasan perbendaharaan kata (vocabulary). Tiap kali buka buku, kamus oxford juga harus dibuka. Selain bahasanya yang tingkat tinggi, mereka juga banyak sekali menggunakan terminologi baru (yang ga ada di kamus). Hadeeuuuh...

Membaca satu paragraf saja bisa memakan waktu berjam-jam (karena berkali-kali nyari arti kata-kata yang sulit). Pun setelah selesai membaca, masih belum paham juga maksudnya. Akhirnya paragraf yang sama diulang berkali-kali.Waktu tinggal sedikit sementara buku yang harus dibaca masih banyak banget. Ngga (belum) bisa memisahkan mana yang penting/prioritas mana yang ga begitu penting. Akhirnya harus puas dengan bahan yang apa adanya.

Ketika mengerjakan juga sering seperti yang kehabisan ide. Tiap kali habis nulis selalu melihat sudah berapa kata yang dihasilkan. Baru 300... udah 1000... baru 2000... tinggal 500 kata lagi... masih 300 kata lagi... hadeeeeuh...

Kesalahan saya kemarin adalah ga bikin outline. Ya karena masih bingung tadi makanya bingung juga mau bikin outline yang seperti apa. Tapi yang paling utama adalah karena belum banyak baca. Intinya baca, baca, baca. Kalo ngga baca ya gitu, bingung terus. Semakin banyak yang dibaca kan akan semakin tergambar apa yang mau ditulis. Tapi trus balik lagi, membaca saja saya sulit hehehe...

Mungkin juga karena saya agak memaksakan seperti yang dosen mau. Dia membolehkan kami  (misalnya) menjelaskan A, kemudian B, dan terakhir menjelaskan C dan kenapa kita memilih C. Tapi dia juga menyarankan untuk membandingkan masing-masing untuk topik tertentu. Jadi maksudnya, ambil satu topik kemudian banding ketiganya dan jelaskan mengapa C yang paling benar. Pilih lagi topik kedua lalu bandingkan lagi ketiganya, bagaimana argumen A dan B menjadi lemah dan C memberikan teori yang valid. Begitu seterusnya. Setidaknya ada 2 atau 3 topik yang bisa dibandingkan. Nah, saya berusaha membuat essay saya seperti yang diharapkan. Jadinya ya ribet sendiri... hahaha...

Ya, setidaknya jadi tau, pengalaman lah untuk tugas-tugas berikutnya. Berapa waktu yang dibutuhkan untuk menuntaskan essay sekian ribu kata itu, gimana menyiasati kesulitan membaca dan kemudian menuliskannya kembali.

Wish me luck :)


Tentang kuliah di York

Sekarang sudah masuk week 7 autumn term dan saya baru sempet (halah) nulis lagi.

Ohya, mengenai term. Term (week) adalah sebutan untuk waktu (minggu-minggu) perkuliahan. Di UK (dan sepertinya di kebanyakan universitas di luar negeri juga) terdapat 3 term dalam setahun. Autumn Term, Spring Term, dan Summer Term. Khususnya di University of York, tiap term terdiri dari 10 weeks. (So, dari total 52 pekan dalam setahun kita 'hanya' kuliah 30 pekan).

Di week 1 kemarin jadwalnya 'hanya' induction alias orientasi. Jadi kita mahasiswa baru diperkenalkan dengan lingkungan kampus. Tak hanya itu, dipertemuan pertama, kita juga diperkenankan saling kenalan dengan mahasiswa yang mengambil departemen yang sama. Jadi saya setidaknya kenal minimal teman-teman jurusan lain dari Departemen of Social Policy and Social Work (SPSW).

Selain lingkungan kampus, seperti gedung perkuliahan, perpustakaan, dan fasilitas-fasilitas fisik lainnya, kami juga dikenalkan dengan 'aplikasi mahasiswa' yang berisi segala macam informasi terkait perkuliahan. Mulai dari overview modul, bahan slide presentasi dosen tiap pekan yang bisa dilihat bahkan sebelum kelas dimulai, bahan bacaan terkait modul dimaksud (baik buku maupun jurnal yang bisa diakses via perpustakaan atau elektronik/ebook), panduan tugas (assessment/assignment), info dosen terkait, hingga peng-unggah-an tugas (disini semua tugas diunggah di aplikasi tersebut, tidak dikumpulkan ke dosen atau hardcopy. Enak ga usah print dan ngabisin kertas). Saya sangat takjub dengan aplikasi ini. Tiap pekan daftar bahan bacaan sudah tersedia, ga perlu nyari sendiri bacaan terkait karena yang disediakan sudah lebih dari cukup. Meski ada yang harus rebutan buku perpus dengan mahasiswa lain, tapi resourse dalam bentuk elektronik juga melimpah. Tinggal download, trus baca. Itu juga ga habis-habis...

Dalam setiap term, saya dikasih 2 mata kuliah (module). Setiap modul ada lecture (dimana dosennya menjelaskan materi di depan kelas) dan seminar (presentasi mahasiswa). Jadi total sepekan ada 4 kali pertemuan. Di akhir setiap mata kuliah ada tugas, yang kali ini dua-duanya berupa essay (ga ada exam). Essay itu tulisan sekian ribu kata. Kalo exam itu seperti ujian seperti pas di S1, hanya saja dengan jawaban yang lebih panjang lebar.

Sementara itu dulu ya...
Yang lain nanti nyusul ceritanya :)

Sunday, October 18, 2015

Jalan-jalan ke York City Center

Setelah hari pertama keliling kampus, hari berikutnya saya dan teman jalan ke City Center. Jalan beneran, on foot. Sekalian mau ngambil biometric yang lokasinya di kantor pos di tengah kota, sekalian mau meng-explore York (ceileee...). Berbekal peta York yang kami dapat dari Information Center di kampus, kami pun jalan kaki ke city center.

Tampaknya semua kota di UK punya city center. Mungkin semacam alun-alun atau pusat kota kalo di Indonesia. York city center memang seperti pusat perbelanjaan kota York. Tak hanya perbelanjaan, city center juga pusat wisata (karena tempat-tempat wisata paling terkenal di York berada di city center). Selain itu, city center juga tempat (hampir) semua bus berhenti. York memang tak punya bus station, tapi semua bus mampir ke city center.

Berikut beberapa foto yang sempat saya ambil selama perjalanan dari kampus ke city center.




Rumah-rumah disini mirip-mirip bentuknya, bahkan boleh dibilang sama persis. Dindingnya selalu bata merah. Menarik sekali...

Ohya, orang sini juga senang nanem bunga beraneka warna, seperti rumah yang ini...


York dilalui sungai. Ada beberapa jembatan. Ini salah satu jembatan yang unik berada di dekat city center. 


Ada lampu dengan deretan bunga warna-warni di bawahnya (seperti yang terlihat di belakang saya).
Sayang saya ga pinter ngambil foto hehehe...


Kalo yang ini lagi foto di depan castil yang ada di tengah kota, hanya saja belum sempet masuk dan lihat-lihat ke dalamnya.


Ini dia, lokasi pertokoan di city center. 
(Tulisan nama toko terbalik karena saya pake kamera depan hehehe)




Kalo yang ini bus no 66, salah satu bus dengan rute kampus. Di sini puas deh kalo mau naik bus tingkat. Banyak soalnya :D




*maaf, terlalu banyak foto selfienya. Lain kali saya ambil pemandangannya aja deh hehehe

Monday, October 12, 2015

Hari-hari Pertama di York

Tentu saja jalan-jalan... hahaha...

Sabtu nyampe rumah, hari Minggu udah jalan-jalan ke kampus. Kebetulan yang ngajakin mau ke perpustakaan, jadi sekalian diajakin ke beberapa gedung di kampus. Cuacanya dingin banget. Kalo di rumah masih agak mendingan, tapi begitu keluar langsung brrrrr....

Ini salah satu sudut kampus. Gambar diambil dari jembatan penyeberangan yang menuju ke perpustakaan.


Dan ini dia perpustakaan University of York. Ini pintu masuk ke perpus. Sebenernya perpus ada beberapa gedung yang saling tersambung. Yang dibawah ini gedung utamanya.


Ini rak bukunya


Berikut foto-foto beberapa tempat di kampus.

 Di information center

 
 Ini departemen saya ^_^

 
Di salah satu jembatan di kampus.






Wednesday, October 7, 2015

Perjalanan Manchester - York

Tim penjemputan dari kampus sudah menyediakan bus jemputan, sebuah coach. Coach tampaknya adalah sebuah semi-bus, bus tapi ukurannya lebih kecil. Perjalanan Manchester - York ditempuh dalam waktu kurang dari 2 jam. Kami berangkat pukul 15.15 waktu setempat dan tiba di lingkungan kampus pukul 17.00.

 

Saya memilih duduk di bangku paling depan di sebelah kiri supir. Yang menarik perhatian saya, selain pemandangan di luar -tentu saja, adalah supir coach ini. Kalian bisa melihat tempat duduk supir tidak seperti tempat duduk supir di Indonesia. Ada per dibawahnya sehingga bangku bisa naik-turun menyesuaikan dengan kondisi jalan, terlihat sangat nyaman.

Selain itu, tepat di depan setir mobil, ada layar GPS untuk memandu supir selama perjalanan. Saya selalu memperhatikan jalur bus di layar tampak berwarna pink terang. Supir tinggal mengikuti kemana jalur pink di depan itu memandunya. Very interesting, right?

Sepanjang perjalanan banyak lampu merah, tapi tidak pernah macet (hahaha... maklum biasa kena macet di Jakarta :P )

Sepanjang perjalanan, saya terkagum-kagum dengan pemandangannya. Terlihat begitu rapi, bersih, seperti ga ada sampah. Ini beberapa gambar yang sempat saya ambil...



Hampir di sepanjang perjalanan, selalu ada pepohonan di kiri dan kanan jalan. Asri dan hijau. Jarang ketemu daerah perumahan juga, hanya beberapa rumah yang bentuknya hampir sama dengan bata coklat atau merah.


Saya juga menjumpai beberapa danau di sepanjang perjalanan.

  


 Kalian bisa lihat di foto di atas, dipinggir danau hanya ada beberapa rumah saja. Bukitnya juga rapi, bukan? Tidak terlalu banyak pohon, tapi sudah menjadi ladang atau area persawahan. Bukan sawah maksudnya. Saya juga kurang tau mereka menanam apa disana, seperti baru saja panen. Mungkin gandum, mungkin juga jagung. Well... ini musim gugur tentu saja. Masa tanam sudah usai...

Saya juga melihat sapi atau domba yang sedang merumput, Terlihat jelas dari kejauhan. Tidak sempat terfoto, karena saya mengambil foto dari bus yang sedang melaju kencang.

Mohon maaf jika pengambilan gambarnya tidak memuaskan. Maklum belum pernah ikut kelas fotografi hehehe...

My First International Travel (2)

Kemarin sudah cerita mengenai perjalanan saya dari Jakarta ke Dubai. Well... belum nyampe Dubai sih ya :D

Okay,.. Sesaat sebelum landing, pramugari (as I said before) membagikan lagi handuk kecil basah hangat ke semua penumpang (ini tanda juga bahwa pesawat dah mau nyampe). Setelah itu, pramugari mulai ngingetin untuk menegakkan sandaran kursi, ngumpulin sampah-sampah, dan lain-lain. Saya lalu mengganti tampilan tv di depan saya dengan tampilan informasi pesawat.

Maka mendaratlah saya di Dubai. Turun melalui pintu belakang pesawat, di bawah tangga sudah menunggu bus tanpa kursi yang akan mengantar penumpang ke terminal.

Bandara Dubai gede banget. Bus yang mengantar kami melewati bagian pinggir bandara. Saya berharap dapat melihat gedung-gedung yang tinggi dan mewah kebanggaan Dubai seperti gambar di bawah ini, tapi apa daya ga bisa liat apa-apa :D


Ada sekitar 10-15 menit bus berjalan mengantar kami ke terminal. Turun dari bus, masuk ke terminal, ada layar besar yang berisi info penerbangan, di gate mana kami harus menunggu untuk penerbangan selanjutnya (ke Manchester). Kami pun mencari gate B21. 

Ada 50-an gate hanya untuk kode B (B1 hingga B50). Ada A, C, D juga, saya ga perhatiin sampe huruf apa. Ya... semoga bisa menggambarkan betapa besarnya bandara Dubai ini... :D

Ga terlalu susah nyari gate-nya. Sign board dengan tanda panah ada dimana-mana.

Ohya, ga usah bingung ya kalo nemu toilet atau keran air yang ga ada tuas atau tombol atau puterannya. Banyak keran yang nyala sendiri ketika kita meletakkan tangan di bawahnya atau toilet yang menyiram sendiri. Mereka menggunakan sensor :D

Begitu menemukan ruang tunggu, kami pun duduk. Saya berusaha menghubungi suami dan keluarga di Jakarta untuk mengabarkan kalo saya sudah sampai di Dubai. Meski udah ngisi pulsa 200rb lebih, tapi cuma bisa dipake nelpon beberapa menit, trus pulsa abis :D 
Teman-teman cowok saya mencoba melakukan setting ini-itu untuk panggilan internasional, tapi saya ga cukup sabar untuk itu. Biarin deh abis pulsa, yang penting orang rumah dah tenang saya dah nyampe... hehehe...

Next, speaker mulai mengumumkan section-section mana aja yang dipanggil untuk naik pesawat terlebih dahulu. Dan section saya dipanggil terakhir (entah karena kami ga denger waktu dipanggil, atau memang belum... ga tau hehehe). Jangan khawatir bakalan ditinggal karena ga dipanggil, karena panggilan terakhir adalah untuk 'sapu bersih'. Ya buat yang tadi ga denger atau telat dateng hahaha...

Naik pesawat, nyari tempat duduk, seperti penerbangan sebelumnya di tempat duduk sudah disediakan bantal kecil, selimut dan headset. Tak lama pesawat pun take-off.

Cerita perjalanan hampir sama seperti yang sebelumnya. Setelah take-off pramugari membagikan handuk kecil basah dingin (kali ini dingin karena suhu diluar ketika itu panas). Makan dua kali (kali ini saya nyobain menu mediteranian, salah satunya salad yang berisi buah zaitun yang bentuknya seperti anggur tapi rasanya asem pahit kecut ga jelas hehehe, keju warna oren yang ga berani saya coba, termasuk mayones yang dari baunya juga saya ga berani nyoba hahaha). Ada juga crackers dengan sambel (yang ketika saya coba asem bukan main) dan cokelat (yang ga saya makan, cuman dimasukin ke saku buat dimakan nanti). Ditawarin teh (saya minta tanpa susu, hanya gula) yang ternyata rasanya pahit banget (jauh lebih enak teh celup lah pokoknya -apalagi teh tubruk hehehe).

Mencoba tidur meski ga bisa (entah karena dingin atau posisi duduk yang kurang nyaman). Sekali lagi saya sangat merekomendasikan pake baju hangat double dan bantal duduk (yang bentuknya 'U' dipake di leher).

Alhamdulillah, meski jadwal penerbangan baru akan sampai 11.55 waktu setempat, kami sudah landing pukul 11.45. 

Bandara Manchester tak sebesar Dubai tentunya. Bahkan sangat kecil, jika dibanding Dubai atau Soetta. Meski begitu, jalan turun dari pesawat hingga masuk ke terminal cukup jauh juga.

Ohya, ada form yang diberikan pramugari menjelang turun pesawat yang harus diisi. Meski ternyata ketika hendak masuk ke bagian imigrasi form ini disediakan lagi. Form ini berisi data diri yang nanti diberikan kepada petugas imigrasi.

Antrian di bagian imigrasi puanjang buanget. Antrian khusus students. Kami disuruh nyiapin form yang tadi disuruh isi, passport, dan CAS (tertulis juga di banner yang ada di tempat itu). Ketika tiba waktunya menuju loket, si petugas hanya meminta saya menempelkan ibu jari dan jari telunjuk di alat perekam untuk mengambil sidik jari saya, and done. Beberapa orang sempet diajak ngobrol dulu (baca: diinterogasi alias ditanya-tanya) sama petugas, seperti mau kemana, ngapain, ambil program apa, berapa lama, de el el.

Selanjutnya tentunya ngambil koper bagasi. Ga terlalu lama, koper ungu saya pun lewat. Kami bertiga pun beranjak keluar.

Seperti yang sudah diperkirakan, di luar sudah ada tim penjemputan dari University of York, para panitia dengan baju kaos berwarna kuning terang. Karena kami sudah booking penjemputan via web kampus, kami tinggal setor nama dan mereka tinggal cocokkan dengan list nama yang mereka pegang. Kami pun dipandu oleh salah seorang panitia ke sebuah tempat di salah satu sudut bandara tempat panitia lain sudah menunggu. Disediakan minuman dan permen/cokelat, juga kertas stiker berwarna yang ditempel di koper untuk memudahkan pengambilan koper nantinya.

Sekitar pukul 3 sore waktu setempat saya naik bus yang sudah disediakan panitia. Sempat foto di depan bandara selagi menunggu.

Well, cukup untuk perjalanan hingga Manchester ya. Perjalanan Manchester - York akan kembali setelah yang satu ini ^_^






Wednesday, September 30, 2015

My First International Travel (1)

Alhamdulillah akhirnya bisa mulai nulis lagi...

Sangat banyak yang sudah terjadi sepekan terakhir. Hari-hari paling mengaduk emosi. Nanti mungkin akan saya ceritakan masa-masa galau itu :D
Tapi sekarang (sebelum lupa detail-detailnya), baiknya saya share dulu cerita perjalanan internasional pertama saya.

Jumat siang, 25 September 2015

Saya masih sibuk dengan bongkar-susun-bongkar-susun koper. Ada aja yang rasanya belum dimasukkan, ada juga yang -ketika dilihat-lihat lagi- harusnya ga perlu-perlu amat untuk dibawa nyebrang lautan. (tentunya karena kapasitas koper yang terbatas. Maskapai hanya mengizinkan berat maksimal untuk bagasi hanya 30 kg). Selain itu, juga baru sadar kalo belum print tiket. Akhirnya siang-siang itu terpaksa keluar lagi untuk print tiket dan beli gembok.

Sore, di rumah udah ngumpul adik-adik saya, ibu mertua, adik ipar, dan ponakan-ponakan. Jam 7 malam itu saya pun pamit ke semuanya. Pamitan, selalu jadi momen yang paling mengharukan. Terutama ke my little Shofi yang... (ah, kalo inget itu saya jadi pengen nangis lagi...)
So, jam 7 lewat taksi datang. Saya say goodbye ke semuanya dan malam itu diantar suami dan ibu mertua, saya berangkat ke bandara.

Jumat malam

Belum jam 9 dan kami sudah sampai Terminal 2D Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng, tempat keberangkatan saya. Saya dan teman-teman naik Emirates, maskapai milik Uni Emirat Arab, yang transit di Dubai (berharap bisa melihat sekilas kota Dubai yang fantastik, meski harus kecewa ga bisa lihat apa-apa dari bandaranya hehehe).

Saya langsung kontak 2 orang rekan yang barengan berangkat ke York, Iskandar (alias Babeh) dan Nugie. Mereka tiba tak lama kemudian. Kami lalu memutuskan untuk check-in dulu (ngasih koper utk bagasi) dan dapat boarding-pass, baru kemudian keluar lagi untuk pamitan.

Sekitar pukul 10-an, akhirnya saya pamit ke suami dan ibu mertua. Masuk lagi ke Gate 1, dan memulai perjalanan bersama rekan seperjuangan. 
(Mulai dari sini, akan sangat baik kalo passport dan boarding pass dipegang saja hingga ke ruang tunggu. Ga perlu dimasukkan ke tas.)

Oke, pertama, ngasih koper buat bagasi dan dapet boarding pass.
Selanjutnya, loket imigrasi. Seharusnya sebentar saja jika saya ga masukin passport dan boarding-pass ke tas -_-"
Kemudian passport akan dicap sama petugas imigrasi.
Next, jalan lumayan jauh ke Gate B-4 (kalo ga salah). Sebelum masuk Gate, petugas akan meminta lagi passport dan boarding pass. Disini juga saya merasa bodoh karena bawa aqua 2 botol yang akhirnya harus disita petugas karena memang tidak diperbolehkan dibawa ke dalam pesawat.

Jadwal keberangkatan pesawat adalah pukul 00.40 WIB. Sekitar pukul 12 tengah malam, para penumpang sudah diminta untuk masuk ke dalam pesawat. Nah, disini tak perlu siapin passport lagi, cukup boarding-pass-nya aja. Ketika masuk ke pintu pesawat, pramugari akan menanyakan kursi (kita harus menunjukkan boarding-pass) agar dia bisa mengarahkan kita harus lewat ke sebelah mana.

Pesawat Emirates yang saya naiki lumayan besar. Satu deret ada 7 kursi (ABC-DEFG-HJK). Masing-masing 3 kursi dekat jendela dan 4 kursi tengah. Saya dapet kursi F. Agak kecewa sebenernya karena pengennya di deket jendela, tapi untungnya bangku sebelah saya (G) kosong, jadi saya 'menguasai' 2 kursi.

Ukuran kursi relatif hampir sama dengan maskapai nasional. Di masing-masing kursi sudah tersedia headset, selimut dan bantal kecil. Di depan masing-masing kursi (ditempel di punggung kursi depan) ada tv dengan ribuan channel plus game.

Biasanya sih favorit penumpang (saya maksudnya :D ) adalah channel film. Tinggal pilih banyak film terbaru, film seri, film anak-anak, film lama juga ada, dari hollywood, bollywood, film-film timur tengah atau eropa juga ada.

Selain itu, ada info tentang perjalanan juga. Di channel informasi tersedia semua info yang kira-kira dibutuhkan penumpang, seperti ketinggian pesawat, jarak tempuh, waktu tempuh, hingga temperatur. Kita juga bisa memilih view/penampakan sisi mana yang ingin kita lihat selama perjalanan. Di bagian-bagian tertentu di luar pesawat dipasang kamera sehingga penumpang bisa melihat langsung kondisinya. Ada yg dipasang tepat dihidung depan pesawat, di roda depan (untuk melihat pemandangan di bawah pesawat), dan di ekor pesawat. Kita bisa memilih view mana yang kita suka. (Ketika take-off dan landing saya lebih suka lihat channel ini. Setelah itu baru nonton film).
Jika ada pengumuman oleh pilot atau pramugari, layar akan langsung freeze. 

Terakhir kali naik pesawat nasional, sebelum pesawat take-off, pramugari akan memeragakan hal-hal terkait keselamatan dalam pesawat. Kali ini, pramugari tinggal berdiri dengan manis di tempatnya masing-masing, dan hal-hal yang perlu diketahui penumpang cukup ditampilkan di layar depan kursi masing-masing. Lebih visual dan informatif (kalo kata saya hehehe).

Ketika pesawat sudah take-off dan pesawat sudah stabil lagi, biasanya pramugari akan membagikan handuk kecil basah. Mereka akan memberikannya 2 kali, setelah take-off dan sebelum landing. Untuk perjalanan Jakarta-Dubai handuk basahnya hangat. Saya menggunakan untuk membasuh wajah, leher, dan tangan. Tak lama pramugari akan mengambil lagi handuk tersebut, jadi jika sudah menggunakan pegang saja atau taruh di tempat yang mudah diambil (jangan dibuang atau disimpan ya :D )

Untuk penerbangan selama 7 jam, saya mendapatkan 2 kali makan. Biasanya akan lengkap, mulai dari appetizers, main course, dan desert, termasuk minuman. Selain itu mereka juga akan menawarkan minuman tambahan berupa teh, kopi, jus, atau air mineral. Ohya, sebelum membagikan makanan, mereka juga membagikan daftar menu yang akan dihidangkan. Hanya bersifat pemberitahuan (jangan bayangkan bisa milih kek di resto ya hehehe...)

Suhu udara selama dipesawat sangat dingin. Meski udah pake pakaian tebal dan jaket, tetep aja kedinginan. Selimut ga terlalu banyak membantu. Makanya saya ga bisa tidur selama perjalanan, meski sudah mencoba beberapa kali. Jadi, mending siapin jaket tebal, kaos kaki tebal, sarung tangan juga boleh. Ohya, bantal kepala juga sangat dianjurkan karena perjalanannya total 18 jam, jadi bawa bantal kepala worthed banget lah (saya ga bawa karena mikirnya ribet dan cuma dipake sebentar. The fact is 18 jam itu ga sebentar sodara-sodara :D )

Keknya tulisannya akan jadi terlalu panjang kalo saya ceritain semua.
Well, segitu dulu ya. Nantikan perjalanan jilid 2 nya ketika saya transit di Dubai dan landed di Manchester :)

Wednesday, September 9, 2015

Monday, September 7, 2015

The Most Wanted Email

Ini dia, email yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Setelah menerima email dari Manila (yes, Manila yang di Philipina itu) yang mengatakan bahwa "a decision has been made on your application..." 4 hari yang lalu, akhirnya tiba juga email dari visa application center yang mengatakan berkas sudah bisa diambil...

Yipppiee...

Senang banget. Alhamdulillahirabbil'alamiin...

Akhirnya udah bisa ngurus surat bebas tugas, soalnya itungannya sih pekan ini adalah pekan terakhir ngantor sebelum berangkat. Kuliah mulai 28 September dan bebas tugas terhitung 2 pekan dari mulai kuliah, which means tanggal 14 September. Yang artinya lagi, Jumat ini, 11 September, adalah waktunya pamit ke temen-temen kantor.

 Hari-hari menjelang keberangkatan ini menjadi hari-hari penuh emosi. Antara sedih, excited, ragu, senang juga, entahlah...
Suatu saat saya pengen quit, disaat yang bersamaan saya pengen terbang, disaat itu juga pengen diam saja merenung...

Sedih karena sementara waktu akan sendirian, meninggalkan anak-anak ribuan kilometer jauhnya...
Di ruang pikiran yang lain ada harap, bahwa tak lama setelah itu saya akan berkumpul bersama mereka dalam keadaan yang lebih menyenangkan.
Saya akan kuat menjalani hari-hari hingga momen itu datang. I'll wait you there, my angels, and then there'll be no one but us... Together...

Allah... beri aku kekuatan...



Depan komputer, 7 September 2015

Thursday, September 3, 2015

Ngurus Visa UK

Pengen cerita dikit soal ngurus Visa...

Adalah pengalaman yang menyenangkan sekaligus menegangkan (that's the best part, rigth?) ngurusin visa ini. Mulai dari ngisi aplikasi online sampe mengirimkan berkas-berkas ke Visa Center plus (rencana) interview.

First of all, ngisi aplikasi visa online yang segambreng banyak bingits. Pemerintah sama bener-bener kepo tentang asal usul, mengapa, bagaimana, apa rencana detail yang akan kita lakukan di negaranya. (Sebenernya pengen tau juga gimana kalo orang luar negeri yang pengen masuk ke Indonesia, apakah seribet itu juga...).


Untuk bisa ngisi aplikasi visa kamu bisa baca-baca dulu panduannya di https://www.gov.uk/browse/visas-immigration atau kalo mau langsung pengen nyari info mengenai visa student bisa ke https://www.gov.uk/tier-4-general-visa
Kalo udah paham, silakan langsung apply online disini https://www.visa4uk.fco.gov.uk/home/welcome

Kita akan diminta untuk register dulu dan melakukan verifikasi email. Baru trus bisa ngisi data yang diminta. Saya lupa-lupa inget data yang diminta apa aja, tapi lebih kurang sih data-data mengenai personal (seperti tanggal lahir, alamat, nama suami/istri, anak, orang tua), data keberangkatan (maksud dan tujuan --> kalo kita ya kuliah, alamat disana, kontak yang bisa dihubungi disana), dan data kampus (yang berasal dari CAS - Confirmation of Acceptance for Studies dari kampus tempat kita akan belajar). Jadi, kita baru bisa apply Visa kalo sudah punya passport dan CAS.

Passport saya jadi hari Senin, 3 Agustus 2015. Hari jumat sebelumnya saya terima kabar kalo passport sudah jadi dan bisa diambil Senin. Senin pagi saya langsung meluncur ke PHRD di kampus STAN Jurangmangu. Next step, ngurus TB certificate ke RS Premier Bintaro. Just for your information, pemerintah UK mensyaratkan setiap orang dewasa yang kesana bebas tuberkolosis. TB Certificate menjadi syarat diberikannya visa. Rencana awal, saya mau ke RS esok harinya, tapi kebetulan ada temen yang sama-sama ngambil passport dan sepertinya ide the sooner the better is a great idea, saya pun ngikut ke RS right after selesai urusan passport.

Nyampe di RS Premier Bintaro sekitar jam 11 an, langsung daftar, ngisi formulir, ngasih passport asli. Ga lama dipanggil untuk rontgent, kemudian bayar. Sertifikat pun bisa diambil keesokan harinya. Alhamdulillah lancar, ga ada indikasi terinfeksi TB.

Next, minta CAS ke kampus. Kamis saya baru submit permintaan CAS. Jumat ada notifikasi di email untuk konfirmasi. Saya pun meluncur ke aplikasi kampus untuk konfirmasi bahwa data yang ada disitu adalah benar. Waktu yang dijanjikan 2 hari kerja. Oke berarti selasa udah keluar CAS-nya. Sepanjang hari Selasa itu saya bolak balik refresh email. Kenapa blom ada notif di email ya? Biasanya sih kampus selalu ngirim notifikasi ke email pribadi. Hingga Rabu siang saya nungguin ga ada email. Akhirnya iseng ngecek aplikasi kampus. Jeng... jeng... Ternyata udah ada disitu dari kemarin T_T

Begitu data CAS masuk, saya langsung input ke aplikasi visa. Karena data yang lain sudah duluan diinput kesana. Setelah berulang kali ngecek data yang ada disitu, akhirnya saya submit. Dan itu belum selesai...

Langkah selanjutnya adalah bayar-bayar. Ada 2 fee yang harus dibayar, yaitu IHS (Immigration Health Surcharge) semacam asuransi kesehatan gitu sama biaya/fee visanya sendiri. Bayarnya online ga bisa transfer. So, saya akhirnya minjem kartu kredit punya temen.

Setelah melakukan pembayaran online, saya kemudian memilih hari untuk menyerahkan berkas-berkas asli ke visa center (appoinment), pengambilan biometric, plus interview. Hari apa saja yang available akan muncul dilayar. Saya pun memilih Rabu, tanggal 19 Agustus 2015 pukul 10.00 pagi.

Well, mengenai interview, ternyata tidak semua applicants harus interview. Beberapa teman saya beruntung tidak perlu diinterview. Semenjak submit, saya selalu berdoa semoga tidak perlu interview (males aja sih ditanya-tanya in English, secara bahasa inggris saya udah blangbentong ga tau kayak apa).

Rabu pagi pukul 8 saya berangkat menuju VFS di Kuningan City. Tadi malam sudah cek semua berkas dan sudah lengkap. Sampai disana (yang ternyata sudah ramai dari pagi), saya langsung masuk sambil memegang lembaran appoinment confirmation. Saya tahu jadwal saya jam 10 tapi nekad masuk berharap sistemnya first come first serve. Seperti yang sudah diduga,"Maaf bu, jadwal ibu jam 10 ya. Nanti boleh masuk 10 menit sebelum jadwal. Jam 09.50." Baiklah, nunggu di luar saja.

Fortunately saya bertemu Sachy, rekan sesama SPIRIT Kemenkeu, yang juga appoinment di hari yang sama jam 14.00. Dia datang pagi sekali dan sama seperti saya, ditolak ketika akan masuk. Kami pun menghabiskan waktu dengan mengobrol dan mengecek berkas.

Jam 9 kurang 5 menit saya pamit ke Sachy untuk masuk ke ruangan visa center. Setelah menyerahkan lembaran appointment confirmation, saya diminta mematikan handphone dan diberikan lembar checklist berkas yang (katanya) diisi sendiri. Baru mau duduk, satpam bilang saya boleh langsung ke loket nomor 5 untuk nanti langsung dipandu pengisiannya oleh petugas. Saya pun langsung dilayani oleh mas-mas penjaga loket. Berkas-berkas dipisahkan antara yang asli dan fotokopi. Jangan lupa juga menandatangani berkas (lembar aplikasi visa yang sudah diprint) yang harus ditandatangan (yang mana lupa saya lakukan hehehe). Setelah selesai, saya disuruh menunggu untuk pengambilan biometric.

Tak sampai 2 menit (pokoknya sebentar banget lah, rasanya barusan duduk menunggu), terdengar panggilan dari speaker yang memanggil nama saya,"Ibu Nina Sabnita, ruangan Biometric 1!" Saya pun langsung berdiri membawa ransel dan celingak celinguk mencari dimanakah ruangan Biometric 1 berada, karena sepanjang mata memandang hanya ada deretan loket dengan nomor 1 hingga 24 (kalo ngga salah). Mata saya tidak melihat ruangan Biometric itu.
"Mba, itu ruangannya disitu mba!" kata seorang mas-mas yang sedang duduk menunggu giliran periksa berkas sambil menunjuk dinding putih disamping saya.
Sedetik kemudian saya melihat pintu putih di dinding yang putih dengan signboard kecil juga berwarna putih dengan tulisan "Biometric 1".
Damn. Merasa bodoh banget kala itu.

Saya lalu masuk ke ruangan kecil ukuran kira-kira 1,5 x 2 meter. Ada seorang petugas yang ramah sudah menunggu saya.
"Selamat pagi ibu,"sapanya.
Ternyata yang dilakukan didalam ruangan kecil itu adalah pengambilan foto, sidik jari, dan tanda tangan digital. Bentar banget. Begitu selesai, saya pun menanyakan kepada mas-mas yang ramah itu,"Habis ini saya tunggu diluar lagi ya mas?".
"Oh tidak ibu. Ibu sudah boleh langsung pulang."
Yes, yes, yes! Alhamdulillah... Senangnyaaaa....
"Makasih mas... Makasih."kata saya dengan wajah sangat sumringah dan senyum sangat lebar... hehehe...

Diluar saya langsung nyamperin Sachy yang masih menunggu dan kemudian dengan bangga bilang kalo tadi saya ga diinterview hahaha...

Sekarang sudah 2 pekan sejak ngasih berkas, harus hari ini sudah selesai. Semoga akan ada berita baik hari ini via email atau sms. 

Well, that's it. Pengalaman ngurus visa. Semoga bermanfaat...

Tuesday, June 30, 2015

Kangen Kopi


Saya suka kopi -kalo ga salah- sejak 2008, waktu masih di call center. Ketika kuliah lagi, kopi jadi temen ngerjain tugas sampai larut malam. 

Kopi yang biasa saya minum itu kopi yang ga sehat... hehehe... Kopi instan dengan gula dan creamernya. Kalo lagi pas ngantuk, kadang bisa membuat melek lagi. Tapi kadang juga ga ngaruh, apalagi kalo pas saya lagi rajin-rajinnya minum tiap hari.

Dulu sempat insyaf, target minum kopi hanya 3 kali seminggu. Tapi trus kebablasan lagi minum tiap hari di kantor, hari kerja maksudnya. Kalo ngga pagi sekitaran jam 9-10 -konon jam terefektif minum kopi adalah pada jam tersebut-, kalo ngga ya jam 2-3-an pas lagi ngantuk-ngantuknya. Kadang suka tergoda untuk seduh kopi lagi pas sorenya meski pagi udah minum kopi, tapi selalu berhasil diganti dengan ngemil (hadeeuuh... ga sehat semua kebiasaannya ya?). Kalo sabtu-minggu biasanya saya ga minum, karena memang sengaja ga nyetok di rumah.

Ramadhan ini bener-bener stop minum. Sehari-hari hanya minum air putih, sesekali sirup atau es buah. No tea, no coffee... Alhamdulillah sudah hampir separuh Ramadhan ini saya berhasil. 

Tapi entah kenapa saya berniat melanjutkan kebiasaan ga sehat itu lagi nanti setelah lebaran. Memikirkan -mungkin- akan berpisah dengan kopi mulai September nanti membuat saya ingin memuaskan hasrat minum kopi. Di UK nanti mungkin akan susah nemuin kopi. Kalo pun bawa, paling cuma bisa berapa, harus hemat-hemat. Kalo beli kopi sana, belum tentu cocok seleranya, dan saya yakin pasti mahal beud... 

Yang pasti sekarang saya lagi kangen banget ma niy minuman...
Meski tetap bertekad akan puasa kopi sampe lebaran... hehehe...

Wednesday, May 20, 2015

Shofiya Shop

Ramadhan menjelang...

Dalam hitungan hari kita akan bertemu kembali dengan bulan yang penuh berkah. Bulan yang senantiasa ditunggu-tunggu hamba shalih yang berharap mendulang pahala di bulan yang luar biasa ini.

Tak hendak membahas keistimewaan Ramadhan kali ini. Hanya saja, tahun ini kami (saya dan suami) berikhtiar untuk meraih berkah Ramadhan (salah satunya) dalam bentuk menjemput rejeki melalui pintu dagang. Kebetulan beberapa hari yang lalu teman si abi menawarkan produknya berupa mukena katun jepang yang diproduksinya sendiri (maksudnya oleh istrinya). Suami kemudian menawari saya, dan bismillah, kami mencoba peruntungan.

Saya pun membuat blog jualan supaya customer bisa pilah-pilih warna dan motif.
Untuk nama, saya pilih nama krucil terakhir, Shofiyah. Kayaknya enak dengernya kalo disandingkan dengan kata "shop" hehehe. Jadilah kami setuju dengan nama "Shofiya Shop" untuk toko online ini.

Shofiya Shop menjual mukena katun jepang homemade berkualitas.
Bahan katun jepang memang bagus, adem dan nyaman, tidak panas cocok dengan cuaca Indonesia.
Warna dan motif juga beragam dan semuanya cantik-cantik ^_^
Tak hanya menjual mukena dewasa, kami juga menjual mukena untuk anak-anak ukuran S hingga L (usia 4 hingga 11 tahun)

Monggo...
Untuk info detail, silakan berkunjung ke blog kami di www.shofiyashop.blogspot.com

Berikut beberapa warna dan motif yang tersedia