Thursday, August 30, 2012

Awal Tarbiyahku

Pertama kali berkenalan dengan tarbiyah tahun 2000, waktu aku masuk STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara). Dulu namanya mentoring. Aku masih ingat mentor pertamaku namanya Mba Ita, mahasiswi tingkat III. Temen-teman satu kelompok juga mahasiswi baru semua satu angkatan.

Agak lupa-lupa ingat waktu itu membahas tentang apa saja, tapi yang jelas banyak ilmu tentang islam yang tadinya hanya 'teori' belaka mulai kucoba untuk mengerjakannya. Misalnya menutup aurat. Sekitar bulan ketiga kuliah kuputuskan untuk memakai pakaian taqwa alias jilbab. Terdorong pertanyaan 'sambil lalu' dari kakak kelas satu kost,"Koq belum pake jilbab?" Terus terang bingung mau jawab apa. Aku tidak bisa menemukan alasan apapun yang menyebabkan aku belum memutuskan untuk menutup auratku. Jadilah aku akhirnya menelepon orang tua di Payakumbuh yang dengan senang hati mengijinkan (dengan tambahan syarat : jangan buka-buka lagi).

Aku selalu menyempatkan datang di setiap pertemuan mentoringku. Mungkin memang dasar ngga betah diam di rumah, aku mengikuti banyak kegiatan (ekskul) kampus. Mulai dari english club, computer club, capital market club, termasuk juga mentoring ini, dan akhirnya Keputrian Masjid (karena diajak kakak kelas juga) saat semester II.

Jadi pengurus Keputrian masjid kampus inilah awal perkenalan pertamaku dengan da'wah. Mulai dari nge-set acara kajian, bikin pamflet untuk publikasi acara, mengundang pembicara, deg-degan menunggu peserta yang datang (banyak apa engga), pesertanya antusias apa engga, nyiapin konsumsi & peralatan, dll. Membahas da'wah di kampus, gimana supaya kampus menjadi lebih islami, khususnya para muslimahnya, menjadi suatu yang baru tapi aku senang sekali melakukannya. Senang bisa memberikan kontribusi -meskipun kecil- untuk da'wah.

Tarbiyah juga memperkenalkanku dengan ukhuwah. Awalnya kepada teman-teman satu kelompok mentoring. Pertemuan-pertemuan pertama kami habiskan untuk menjadi semakin dekat satu sama lain dengan Ta'aruf. Kemudian yang lebih terasa lagi, ukhuwah dengan teman-teman sesama pengurus Keputrian. Saat kerja bareng dan seringnya interaksi menjadikan keterikatan hati kami menjadi semakin erat.
Alhamdulillah... Allah berkenan memasukkan aku ke dalam gerbong da'wah, berukhuwah dengan orang-orang yang ada di dalamnya, sungguh keni'matan yang tiada terkira.

Semoga aku dapat berukhuwah kembali dengan mereka dalam jannah-Nya kelak. Aamiin...

episode syukur

Ini sedikit cerita waktu Iffah dirawat 4 hari di rumah sakit bulan Januari lalu.

Waktu itu Iffah masuk ke kamar kelas 2 yang isinya ada 4 orang (maklum, untuk orang tuanya yang masih golongan II, jatah Askesnya ya di kelas 2). Waktu itu kamar terisi penuh, sudah ada 3 penghuni lainnya. Iffah dapet tempat tidur yang berada di belakang pintu masuk.
Anak yang tempat tidurnya persis di sebelah Iffah pulang pada hari yang sama saat Iffah masuk. tak sempat cerita-cerita.

Anak yang tempat tidurnya berhadapan dengan Iffah, laki-laki, umurnya sekitar dua setengah tahun. Selalu ditemani ayahnya. Ibunya lebih banyak di rumah karena baru saja melahirkan adiknya yang baru berumur satu bulan. Awalnya, hanya kejedot yang menyebabkan kepalanya memar membiru. Namun birunya ngga hilang-hilang, sehingga orang tuanya mencoba periksa ke dokter. Singkar cerita, setelah di periksa ini-itu, dokter mengatakan ada indikasi Ravi menderita leukimia (untuk memastikan dokter menyuruh Ravi melakukan pemeriksaan tertentu -saya lupa namanya apa). Masya Allah... Anak sekecil itu harus menderita penyakit seberat itu. Wallahu a'lam...

Di sebelah Ravi ada Rina yang sudah hampir 3 minggu berada di rumah sakit tsb, dan belum ada tanda-tanda akan pulang. Rina juga ditunggui oleh ayahnya yang sabar sekali. Tadinya Rina kena demam berdarah. Beberapa hari pertama suhu badannya hampir selalu di atas 40 derajat cekcius, selalu berada di ruang High Care. Setelah panasnya turun, beberapa hari kemudian dokter mengatakan ada infeksi di paru-paru Rina. Tak lama perut Rina membuncit, dan kata dokternya usus Rina bengkak. Terakhir -kata ayahnya- ada indikasi virus demam berdarahnya sudah sampai ke otak.  Tak seperti Ravi yang masih bermain, berlari kesana kemari, Rina selalu di tempat tidur. Kalo mau keluar juga harus di gendong ayahnya. Alhamdulillah -entah apa yang dokter katakan kepada orang tuanya- Riba pulang ke rumah pada hari yang sama dengan kepulangan Iffah.Tepat di depan Rina, seorang anak laki-laki masuk dua hari menjelang Iffah pulang. Kena sakit demam berdarah.

Waktu jalan-jalan di koridor (karena Iffah sering tidak betah di tempat tidur, maunya main di luar terus) aku juga bertemu dengan beberapa orang ibu yang anaknya ternyata juga masuk rumah sakit karena kejang demam. Anak yang menempati posisi sebelum Iffah juga kena kejang demam. Hanya saja (cerita dari ayahnya Ravi) si anak itu kejang lagi tak lama masuk rumah sakit. (Padahal dari perawat dan dokter rumah sakit, juga dari artikel-artikel yang aku baca, dalam jangka waktu 24 jam setelah kejang pertama sebaiknya si anak jangan sampai kejang lagi. Aku dan si abi juga di wanti-wanti supaya Iffah jangan sampai kejang lagi)
Ada juga seorang ibu yang menggendong anaknya yang belum berusia dua tahun. Setelah ditanya, ternyata anaknya menderita asma. (Duh... aku ngga bisa ngebayangin gimana waktu si anak ini sesak nafas... Ngga tega... Kalo aku jadi ibuya mungkin udah nangis terus). Dan banyak lagi cerita-cerita lainnya...

Cerita-cerita yang membuat aku terus bersyukur dan bersyukur. Alhamdulillah... Begitu banyak hikmah dan pelajaran yang Allah berikan melalui peristiwa ini. Semoga kita termasuk hamba-Nya yang senantiasa bersyukur...

Salah satu cara bersyukur atas kesehatan yang Allah berikan adalah dengan menjaganya. Namun jika Allah berkehendak menguji kita dengan mengambil ni'mat sehat itu, semoga kita termasuk ke dalam golongan hamba-Nya yang bersabar...

Jakarta, Februari 2008

Titik Balik

(Tulisan ini dibuat ketika Iffah, sulung saya, masuk rumah sakit karena kejang demam)

Buatku saat itu adalah sebuah titik balik.

Malam itu, sudah malam kedua Iffah panas. Aku ngga terlalu mengganggap hal itu serius karena siangnya Iffah udah main lagi. Kadang Iffah -juga Alif- suka panas tapi segera turun besoknya, jadi aku anggap itu hal yang biasa. Waktu itu, sepulang dari kantor, Iffah lagi di gendong sama neneknya (ibu mertuaku). Katanya Iffah panas. Malamnya Iffah tidur denganku, sedangkan Alif tidur sama neneknya.

Badannya memang panas sekali. Ngga mau ditaruh, maunya digendong terus. Aku ingat pernah baca bahwa salah satu cara uintuk mengurangi panas badan anak adalah dengan menempelkan kulitnya ke kulit kita (ibu) sehingga panasnya pindah ke tubuh kita. Maka malam itu beberapa kali kulakukan jika Iffah sedang kugendong. Badannya panas sekali.... tapi aku tidak begitu kuatir, hanya berharap panasnya segera turun (karena sekitar jam 8 malam itu sudah diberi minum obat penurun panas). Sekitar jam 4 lewat, aku merasa capek dan Iffah digendong abinya. Aku mencoba untuk tiduran sebentar. Sampai kulihat tiba-tiba Iffah kejang-kejang.

Ya Allah... Langsung aku berdiri, mengambil Iffah dari gendongan abinya...
Entahlah... Aku tak tahu harus bagaimana. Yang jelas waktu itu aku panik sekali. Kugendong Iffah sambil menangis, tak tau harus berbuat apa.

Berkali-kali aku bisikkan ke telinganya,"Astaghfirullah... Sayang... Iffah..." Perasaan bersalah yang begitu dalam, merasa ini semua kesalahanku. Wajah Iffah yang sedang tak sadar begitu terpatri dalam pikiranku.
Tak lama, kejangnya berhenti, tapi sepertinya Iffah masih belum sadar. Kupanggil-panggil namanya, tapi ia tetap membisu. Aku tak tahu harus bagaimana. Ku telpon mama di Payakumbuh. Bawa ke rumah sakit, katanya (kebetulan mama seorang bidan). Segera kuganti baju, masukkan ke tas apa2 yang kira-kira perlu, abi langsung ngeluarin mobil. Pagi itu, jam setengah 5 pagi aku langsung bawa Iffah ke RS terdekat.
Sepanjang perjalanan, kupanggil terus nama Iffah. Dia hanya diam, tak menyahut, juga tidak menangis... Aku bingung sekali.

Rumah sakit sudah dekat akhirnya Iffah merengek, menangis tapi tidak keras. Kupanggil namanya, ia melihat ke mataku. Waktu itu hatiku lega bukan main. Iffah juga melihat ke abinya waktu abinya yang lagi nyetir manggil namanya. Alhamdulillah ya Allah...

Sampai di pintu ICU sebuah rumah sakit swasta, aku berlari masuk sambil menggendong Iffah yang terkulai lemas di bahuku. Perawatnya langsung menanyakan kenapa dan memanggil dokter jaga yang berada di dalam. Setelah Iffah ditimbang dan dipasang oksigen, Iffah lalu diberi obat anti kejang (yang dimasukkan lewat anus). Ia tetap tak mau ditaruh. Selama di ruang ICU, ia kugendong terus sampai ia tertidur (kata dokter, obatnya memang bikin ngantuk)

Sementara abi pergi mengurus administrasi dan keperluan lainnya, aku pun bertanya ke dokter tentang keadaan Iffah. Kenapa, bagaimana, apa yang harus dilakukan kalo terjadi lagi, dan lain-lain. Tak lama abi kembali dengan membawa kabar kurang baik. Ruangan penuh. Iffah harus dibawa ke rumah sakit lain. Segera, mobilpun meluncur ke sebuah rumah sakit pemerintah dengan berharap semoga saja masih ada kamar untuk Iffah. (Karena ini kejang yang pertama kali untuk Iffah maka dokternya merekomendasikan untuk rawat inap dulu.)

Alhamdulillah, ada kamar untuk Iffah. Di Instalasi Gawat Darurat rumah sakit itu, Iffah diberi infus, diambil darahnya, dan di rontgent. Tetap tidak mau ditidurkan. Akhirnya digendong terus dengan aku duduk di lantai (karena botol infus harus tinggi, kalo duduk di kursi darahnya keluar lewat selang infus dan cairan infus tidak bisa masuk ke darah.) Pagi itu, sekitar pukul tujuh, aku -dengan Iffah tidur di bahuku- diantar ke ruangan rawat inap menggunakan kursi roda. Di kamar, barulah Iffah mau ditidurkan.

Peristiwa itu kuanggap sebuah teguran dari Allah buatku. Wajahnya yang tak sadar tak pernah lepas dari pelupuk mataku. Meskipun perut besar (karena hamil 6 bulan) kalo Iffah pengen digendong, selalu kugendong Iffah kemanapun pergi. Serewel apapun dia, secapek apapun badan ini, semua kuhadapi dengan sabar. Benar-benar tak lagi mampu untuk 'sekedar' ngomel apalagi marah. Yang ada hanya perasaan bersalah yang begitu mendalam... Ya Allah...

Alhamdulillah, hanya 4 hari di rumah sakit, Iffah sudah diijinkan pulang. Dokter juga tidak 'titip pesan' apa-apa, kecuali selalu siapin obat anti kejang di rumah karena kemungkinan kejangnya akan berulang sampai usia 5 tahun (artinya Iffah benar-benar 'hanya' kejang demam, tanpa penyakit lain, benar-benar hanya karena demam yang terlalu tinggi. Alhamdulillah...)

Sejak peritiwa itu, mungkin juga dengan bertambahnya usia kehamilan yang berarti semakin stabilnya emosi, aku tak pernah lagi memarahi Iffah juga Alif. Selalu sabar dengan kerewelannya... (ah, dia hanya minta perhatianku...) secapek apapun badan ini...

Iffah... Alif... Maafin ummi ya nak...

Ya Allah, ampuni aku... terimakasih telah menegurku...

(Allahummaghfirlii waliwaalidayya kama rabbayani shaghiiraa... Ya Allah, sayangilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil. Itu doa untuk orang tua yang diajarkan pada kita, juga anak-anak kita. Aku takut, seandainya Allah benar-benar menyayangiku sebagaimana aku menyayangi anak-anakku di waktu kecil, bagaimana jadinya nasibku kelak... Sedangkan sayangku kepada anak-anakku cuma sebatas itu...
Ampuni aku ya Allah... Engkau Maha Penyayang... Sayangilah kedua orangtuaku melebihi kasih sayang mereka diwaktu kecilku...)



Jakarta, Januari 2008

me, my self, my family

My name is Nina, orang-orang biasa memanggil begitu. Mama Papa memberi nama Nina Sabnita di akte kelahiran saya, the one and only Sabnita in the world. Actually, sabnita ga punya arti apapun, hanya gabungan dari nama mama dan papa, that's it! Keluarga dekat memanggil saya, Anin (cara saya memanggil diri saya sendiri ketika kecil, seperti Tetsuya yang memanggil dirinya Totto-chan ^_^). Tapi kebanyakan orang memanggil saya nina...

Dilahirkan sebagai anak pertama dari tiga anak perempuan. Asli minang, asal Payakumbuh Sumatera Barat. Tapi saya lahir di Bangka (ketika itu masih sumatera selatan), tiga tahun kemudian ke Payakumbuh. Saya sempat tinggal di Wosu, Sulawesi Tenggara ngikut papa yang kerja disitu (pertambangan). Trus balik ke Payakumbuh lagi. Masuk SD disana, tapi trus pindah lagi ke Bukittinggi, ngikut mama yang kerja sebagai bidan di salah satu rumah sakit disana. Selama tujuh tahun menetap di Bukittinggi, akhirnya mama bikin rumah di depan rumah nenek di Payakumbuh, sehingga saya pindah untuk yang kesekian kalinya ke Payakumbuh. Menghabiskan masa remaja di sana, hingga ketika UMPTN diterima di Unpad, Bandung. Namun takdir berkata saya harus di Jakarta saya, meneruskan pendidikan di STAN, Jurangmangu. Lulus STAN saya ditempatkan di Direktorat Jenderal Pajak. So, here i am, a tax officer :)

Saya menikah tahun 2005 dengan seorang laki-laki idaman saya. Setahun kemudian, Allah mengkaruniakan kepada kami dua bidadari kembar, Afifah Mujahidah dan Alifah Sholihah. Dua tahun berselang, bidadari ketiga pun ikut menemani cerianya rumah kami, Rumaisha Hanifah. Semua diberi nama belakang seperti nama abinya, Firmansyah. Here it is, my lovely family!

Tahun ini, 2012, usia saya sudah 30 tahun. Not too old, but also not too young. Disebut dewasa sepertinya juga masih jauh, karena dewasa buat saya berarti bijak, arif, ngemong, tidak emosional, dan saya masih jauh dari sifat-sifat itu. Hanya terus berusaha menjadi dewasa, shalihah, menjadi orang yang bermanfaat...

So, salam kenal ^_^



Jakarta, 30 Agustus 2012

Welcome!

Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Welcome to my blog!
Selamat datang di ruang catatan kecil saya. Berharap tulisan-tulisan ini dapat bermanfaat bagi Anda :)
Just sharing my life and my thought...

Mohon maaf jika beberapa tulisan awal adalah copy-paste dari tulisan-tulisan saya terdahulu di multiply (ada 'perubahan' -kalo tidak boleh dibilang akan 'almarhum'- di multiply sehingga saya memindahkannya ke sini. Kenapa pake multiply, karena sebagian besar teman yang saya kenal ada disana, that's it. Jika kamu menemukan blog dengan nama sama di Wordpress, nah, yang itu juga punya saya... hehe) Pengennya sih blog yang ini bisa langgeng sampe lamaaaaa...

Terimakasih sebelumnya jika temen-temen berkenan meninggalkan jejak, masukan, kritikan, untuk kebaikan.

So, welcome!
Semoga bermanfaat ^^

Jakarta, 30 Agustus 2012