Thursday, August 30, 2012

Sabar yang berbuah manis

Ini cerita tentang si bungsu di keluarga saya, adik saya yang nomor tiga, Nia.
Lulus SMA tahun kemaren, seperti orang-orang pada umumnya dia ikut SPMB, ikut tes STAN juga, STIS juga (kalo ga salah). Tapi emang belom rejeki, tidak satu unversitas pun yang bisa dimasukinya.
Waktu tau ngga lulus mama bilang,"Ya ngga apa-apa. Masa Allah ngasih rejeki sampe 3 kali. Mama udah persiapan koq kalo pun Nia harus masuk swasta." Begitu kira-kira tanggapannya, soalnya dua kakaknya, saya dan adik saya Ami alhamdulillah masuk perguruan tinggi yang gratis dan langsung kerja pula (saya STAN, Ami STIS), makanya beliau tidak terlalu berharap Nia akan lulus juga.
Akhirnya, setelah berbagai pertimbangan dan keputusan yang terburu-buru (saya sih pengennya Nia masuk universitas yang lebih 'bagus', mumpung dah di Jakarta) Nia mendaftarkan diri ke UPN Pondok Labu. Memang relatif dekat dengan rumah saya, jadi bisa tinggal sama saya.
Jurusan yang dipilih adalah Akuntansi. Saya sudah bilang akuntansi cukup berat, dan saya tidak merekomendasikannya masuk jurusan itu. Tapi dia ngotot.
Akhirnya pas mau UTS semester satu ini, Nia stress berat, ngga ngerti akuntansi (karena SMA-nya dulu dari IPA) dan ngerasa ngga bisa ngerjain ujian nanti. Sampe minta berenti kuliahnya sama Mama.
Singkat cerita, Nia tetap bertahan setelah saya berjanji akan mengajarinya akuntansi (ya smt 1 masih bisa lah ^_^ kalo smt 3-4 saya nyerah deh hehe), dan juga nasehat dari berbagai pihak (hehe)
Selesai UTS, kaya'nya Nia mulai stabil. Mulai enjoy dengan kuliahnya, juga teman-temannya (agak sulit memang menyesuaikan diri dengan anak-anak jakarta yang beda kultur).
Dan... perjuangan berbuah manis.
Kemarin adalah pengumuman IP smt 1. Dan tahukah berapa IP Nia? 3,72 !
Wow, saya aja ngga pernah dapet IP setinggi itu. Tak lupa saya membalikannya hadiah sepulang saya dari kantor kemarin.
Semoga IP-nya minimal stabil-lah sampe lulus nanti.
Hmm... sebenernya rencananya Nia tetep pengen nyoba tes STAN lagi tahun ini. Pengennya sih lulus lah. Tapi kalo engga juga ngga papa. Yang ini dijalani dengan baik.
Sesuatu yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah, tapi baik menurut Allah pasti baik untuk kita.


Jakarta, Februari 2009

Apipaaa... mujaaa...ida!



"Namanya siapa?"
"Ipah!"
"Nama lengkapnya siapa?"
"Mmm..." ragu sejenak, lupa keknya...
"Afifaaah..." saya mengingatkan.
"Apipaaaa... mujaaaa.... ida!!"setengah teriak dia menyebutkan namanya.
"Rumahnya dimana?" tanya saya lagi.
"Kompie biyyya cukkkaayyyy!" dia tersenyum senang bisa menjawab dengan benar.
"Kalo nama abinya siapa?"
Kali ini jawabnya cepet, udah hapal dan mudah jawabannya,"Abi Piman!"
"Kalo uminya?"
"Umi Nina"

Itu dialog saya dan Iffah beberapa minggu terakhir, mengajarkannya nama lengkap, rumah, dan nama umi -abinya. Buat jaga-jaga kalo suatu saat nyasar dan ditanya orang (mudah2an jangan pernah deh... Na'udzubillaaah...)

Sebenernya saya ngajarin Alif hal yang sama, cuma masih males dianya. Saya juga ga maksa. Kadang kalo saya lagi ngajarin Iffah, Alif ikut nimbrung ga mau kalah. Tapi kalo diajarin sendiri, suka ga mau. Juga kalo ngajarin doa atau salam, Iffah hampir selalu lebih cepat hapal dibanding Alif.

Iffah memang lebih gampang dimintai tolong ketimbang Alif, tapi agak cuek anaknya. Alif 'ringan tangan', cepet mukul/jambak kalo marah, meski udah sering dikasih tau, [tapi ga begitu parah sih...] tapi hatinya lembut dan perhatian. Kelihatan lebih sayang ke adiknya ketimbang Iffah, suka jagain dede, ngajak dede becanda.

Cepet terharu sama yang sedih-sedih juga. Beberapa kali cerita tentang kisah Rasulullah SAW, yang paling berbekas di ingatannya adalah pada saat Ibunda Aminah menangis saat diberi kabar bahwa suaminya meninggal.

"Uminya nangis, karena abinya meninggal" begitu kata saya menjelaskan gambar seorang wanita yang menangis di buku cerita Nabi Muhammad itu.
Keesokan harinya, Alif menggandeng tangan saya minta dibacain kisah Rasulullah lagi dan dengan cekatan membuka buku pas di halaman 'uminya nangis'.
"Ini Mi, umi na naniiis... abi na ketinggalaaan..." katanya menceritakan padaku.
"Bukan sayang, abinya meninggal" kata saya membenarkan.
"Iyaaa... abi na meninggaaal..." sahutnya lagi

Ah, dia belum tau bedanya "meninggal" dan "ketinggalan". Biarlah... ku jelaskan nanti-nanti saja... hehe...


Jakarta, Februari 2009

Lagu yang membuatku menangis

Ada lagu yang kalo anda dengar tiba-tiba air mata anda mengalir?

Lagu/nasyid ini membuat saya menangis sejak pertama kali saya mendengarnya.
Begitu menyentuh hati saya...

"Mengemis Kasih"-nya Raihan

Tuhan dulu pernah aku menagih simpati
kepada manusia yang alpa jua buta
lalu terheretlah aku di lorong gelisah
luka hati yang berdarah kian hari kian parah
Semalam sudah sampai  ke penghujungnya
kisah seribu duka kuharap jua berlalu
Tak ingin lagi kuulangi kembali
kisah duka yang mengiris hati
Tuhan, dosaku menggunung tinggi
tapi rahmat-Mu melangit luas
Harga selautan syukurku
tidaklah setitik ni'mat-Mu di bumi
Tuhan, meskip taubat sering ku mungkir
namun pengampunan-Mu tak pernah bertepi
Allah, selangkah ku rapat pada-Mu
Seribu langkah Kau rapat padaku
Allah...

Ketika harus berpisah jalan

Beberapa bulan yang lalu, saya dan suami berkesempatan menghadiri pernikahan seorang teman SMA suami yang dulunya sama-sama 'anak rohis'. Permikahannya cukup 'megah', karena teman suami yang sudah bergelar dokter menikah dengan dokter (juga) yang anak profesor (keliatan dari undangannya). Bukan resepsinya yang akan saya bahas. Cuma komentar suami saya yang membuat saya sesaat tertegun,”Ngga ada sisa-sisa (tarbiyah)nya.”

Well, istrinya tidak berkerudung (menutup aurat), mungkin itu yang membuat suami saya berkomentar demikian, selain juga informasi bahwa sahabatnya itu sudah tidak tarbiyah lagi. Setelah peristiwa itu suami cerita bahwa dulu sahabatnya itu termasuk ikhwan tangguh yang sama-sama berjuang di da’wah sekolah, membuat tim nasyid bersama-sama, dan kenangan-kenangan lain bersama ikhwan-ikhwan lainnya.

Saya jadi teringat beberapa sahabat saya yang dulu saat di kampus bersama-sama bekerja untuk da’wah (semoga memang begitu). Kerja-kerja da’wah yang membuat kami yang berasal dari daerah yang berbeda menjadi dekat, bahkan saaangat dekat. Hampir setiap minggu menginap di kamar salah satu dari kami, untuk bertaaruf dan mengeratkan ta’liful qulb (selain membahas masalah tarbiyah di kampus tentunya). Pernah saya ceritakan di sini. Tidur seperti sarden, shalat bersama, makan disatu piring, tertawa dan menangis juga bersama.
Sampai saat harus berpisah karena kelulusan dan penempatan di tempat yang berbeda. Sebagian masih istiqomah, namun sayang sebagian lainnya memilih ‘jalan’ lain.

Masih terpatri dalam pikiran saya, saat salah seorang ukhti tercinta saya mengucapkan kalimat itu,”Kavling surga bukan hanya milik orang tarbiyah”

Ah, saya memang harus menghargai keputusannya. Apapun itu. Meskipun tentu saya tidak menginginkannya. Saya masih rindu membicarakan strategi da’wah bersama mereka. Saya masih kangen bertukar pikiran tentang apa yang bisa kita lakukan untuk da’wah ini.

Ah, kereta da’wah akan berjalan terus menuju syurga, tak peduli orang-orang di dalamnya masuk dan keluar.
Tentu saja anti 100% benar ukhti, kavling surga (tentu saja) bukan hanya milik pejuang-pejuang tarbiyah. 

Mari kita kejar ridha Allah dengan cara masing-masing. Semoga kita bisa berkumpul kembali dalam syurgaNya kelak meski sudah berpisah jalan.

Ala kulli hal, ana uhibbuki fillah ukhtiy...

Episode Taat

“Apabila seorang istri sudah mengerjakan shalat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya, dan taat kepada suaminya, maka akan dikatakan padanya : masuklah engkau ke dalam syurga dari pintu mana saja yang engkau suka.” (HR Ahmad no.1573)
 
Pagi ini langit gelap dan mendung. Tadi malam hujan deras. Beberapa saat sebelum berangkat saya lihat langit masih gelap, namun sudah tidak hujan lagi. 

Si Abi ngingetin,”Umi bawa baju ganti aja”
Ku jawab sambil lalu,”Mmmm…”
Tapi tak kulakukan perintahnya. Cuma kaos kaki cadangan yang kumasukkan ke dalam tas. Ku pikir langit dan hujan akan bersahabat hari ini…

Keluar dari rumah hujan gerimis. Belum seperempat perjalanan, hujan pun mengguyur semakin deras.Meski sudah memakai jas hujan, tetap saja basah semua.

Sesampai di kantor…
Bagian bawah, jangan ditanya. Berkali-kali kena cipratan mobil/motor lain. Lutut ke bawah habis basah semua. Pas jas hujan kubuka, ternyata jilbabku ikut basah, padahal jas hujan sudah kututup sampai kepala… Terpaksa seharian ini memakai jilbab yang basah seharian…

Masih terngiang kata-kata lembut suami saat berboncengan di motor tadi pagi,”Ngga ada ruginya bawa baju ganti…”

Maafin umi ya bi…
Ampuni aku ya Allah…

Episode Raisha


Sebenernya saya sendiri lebih seneng nama “Khadijah” atau “Fathimah” untuk namanya si dede waktu kami lagi nyari-nyari nama, tapi si abi lebih seneng sama “Rumaisha”, jadi sayanya ngalah. [Lagian alesannya karena nanti panggilannya pasti ‘icha’ atau ‘chacha’ yang notabene nama pasaran (ya kan?) dan biasanya nama begitu anaknya manja (ga semua sih ya…)] Lagian Rumaisha binti Milhan alias Ummu Sulaim, shahabiyah yang namanya kami ambil, profilnya luar biasa. Ngga kalah sama Ummul Mukminin Khadijah ra dan Fathimah az-Zahra. Lengkapnya baca di sini aja ya…

Kemudian untuk namanya keduanya kami pilih “Hanifah” sebagai doa baginya agar selalu di jalan yang hanif/lurus. Kemudian dinasabkanlah kepada abinya. Tadinya kami (saya dan suami) juga sempat sepakat akan menasabkan semua anak kami kepada “Mujahid/Mujahidah”, namun dengan saran dari berbagai pihak akhirnya dinasabkanlah kepada ayahnya. Memang seharusnya begitu…
Karena nama abinya adalah “Firmansyah” maka hampir semua kata anak-anak kami jadi punya akhiran ‘ta marbutho’ semua. Coba liat saja nama mereka :
AfifAH MujahidAH FirmansyAH
AlifAH ShalihAH FirmansyAH
Rumaisha HanifAH FirmansyAH
Tuh kan?!
^_^ Ga sengaja lho… hehe…
Oiya, tadi kan mau cerita tentang raisha…
Setiap anak pasti punya ke-khas-an masing-masing. Tidak bermaksud membandingkan satu sama lain. Semua anak unik dan punya memory sendiri, terutama bagi ibunya.
Awalnya saya ngga ngerasa hamil, karena tidak ada perubahan dalam tubuh saya, misalnya mual, muntah, pusing, seperti yang biasanya dialami orang yang sedang hamil muda. Cuma agak heran karena koq udah 3 minggu ngga haid (baru sadar waktu udah 3 minggu? Parah yak?!) Saya kemudian beli test pack dan ternyata positif. Beberapa hari kemudian -untuk meyakinkan- baru periksa USG ke dokter kandungan, dan ternyata memang sudah ada makhluk lain itu di dalam perut saya. Saat itu usianya sudah 9 minggu!
Tidak ada keluhan berarti selama kehamilan, Cuma kalo laper aja suka pusing. Lainnya? Ga ada. Bener-bener beda sama pas hamil si kembar (ceritanya puanjang… lain kali ya… sekarang giliran dede icha dulu). Sampe-sampe saya kuatir kenapa-napa pas lahiran (kata orang sih begitu… Kalo pas hamilnya ‘berat’ pas lahirannya lancar, kalo hamilnya lancar lahirannya yang ga ‘lancar’. Entahlah… Wallahu a’lam.)
Namun saya membuktikan mitos itu tidak benar. Si dede ‘hanya’ membuat saya sakit selama 4 jam saja (ya dibanding ibu lain yang sakit seharian bahkan ada yang berhari-hari, tentu saja saya "hanya ..... saja"). Lahiran juga normal, dengan berat 4 kg! Dan saya hanya dapet 2 jahitan saja!
Juga tidak ada keluhan setelah lahirnya, baik saya maupun Icha. Nilai APGAR 9/10, sehat, rambut tebal, semua oke, plus tambahan : cantik ^_^. Ini Icha umur 2 hari, udah kaya’ bayi 2 bulan ya?
ASI lancar sehingga saya bisa menggenapkan ASI eksklusif selama 6 bulan, dan insyaAllah akan menyapihnya di usianya yang kedua. Amiiiin…
Raisha juga bukan bayi yang cengeng, bahkan jarang menangis kecuali lapar atau pipis atau ada yang sakit, itu juga hanya merengek. Pernah datuknya (papa saya) nginep di rumah selama 3 hari dan komentar,”Koq datuk ngga pernah denger Raisha nangis ya?” Saking jarangnya dia menangis. Dia juga ngga pernah sakit. Dalam usianya yang sudah 9 bulan, Icha belum pernah muntah, sakit panas, atau masuk angin.
Semoga  Raisha selalu jadi anak yang menyenangkan mata dan hati umi dan abi ya nak…
Semoga Allah selalu menjagamu, memberi kesehatan, petunjuk, dan menjadikanmu anak yang shalilhah mujahidah hanifah, taat kepada Allah dan Rasulullah…
Amiiiinnn…

Cinta dari Gorontalo

Pertama kali saya mengenal da'wah itu di kampus. Sebagaimana orang yang menemukan mainan baru dan langsung menyukainya, saya sangat menikmati hal baru itu dengan semangat menggebu-gebu. Jadi pengurus masjid kampus, ikut ngurusin masjid di sekitar kos-kosan, sempet jadi guru TPA, membina adik-adik kelas, ikut ngajar di 'masjid yang jauh' (alumni ponjay pasti ngerti nih), amanah disini - amanah disitu, dst...

Saya pikir saya sudah melakukan suatu pekerjaan besar...
Lepas dari kampus, saya gamang. Dunia kerja dan masyarakat menanti saya... Terus terang saya belum siap. Saya terlalu nyaman dengan gemerlap da'wah kampus. Comfortable zone (zona nyaman) saya ada di kampus...

Tapi waktu tidak bisa menunggu.
Mati-matian saya berusaha menyesuaikan diri dengan da'wah profesi dan da'wah sya'bi. Dan seperti yang sudah saya duga semula, tantangannya jauh lebih besar. Apalagi saya memulai perjuangan ini di ujung sulawesi, di Bumi Hulontalo (Gorontalo). Karakter dan budaya yang berbeda, betul-betul penyesuaian yang tidak mudah.

Tahukah Anda apa yang membuat saya bisa melewatinya?
Ukhuwah, jawabannya.

Pernahkah Anda mendapatkan cinta dari orang yang sama sekali tidak Anda kenal, belum pernah berjumpa, berasal dari tempat yang jauh? Cinta itu saya dapat dari mereka, pejuang-pejuang da'wah Gorontalo. Berkenalan dengan mereka seperti sudah mengenal lama. Dekat seperti sahabat yang tak terpisahkan. Berbagi, memberi, itsar, hal yang hampir tiap hari ditemui...

Bahwa ikatan aqidah itu lebih kuat dari ikatan darah, saya sendiri sudah membuktikan!
Ah, sebetulnya saya belum 'berhasil' dalam menjalani da'wah ini. Masih belum bisa dibandingkan dengan ikhwah Gorontalo yang semangatnya luar biasa itu. Juga tidak bisa dibandingkan dengan ikhwah Jakarta yang subhanallah...

Ah, semakin saya mengenal para ikhwah, semakin saya merasa sangat kecil...

Semoga keberkahan selalu menaungi mereka semua, dimana pun mereka berada...
Semoga saya masih bisa berkumpul bersama mereka dalam jannah-Nya kelak...
Ana uhibbukum fillah...

While you were sleeping

Salah satu hobi saya, mengabadikan momen-momen unik dengan hp.



Berikut hasil jepretan saya, khususnya wajah-wajah tidur bidadari saya.
Foto disamping, malam itu iffah dan alif baru aja nyobain baju batik yang baru saja saya belikan. Malamnya si kembar bobo dengan posisi yang pantas diabadikan... hehe...


 



Kalo yang ini, saya bingung, koq ga bisa diputer ya? (alias di 'rotate')
jadinya mohon maaf kalo kebalik.
(kepalanya jangan ikutan miring bu!...hehe...)







Ini Iffah bener-bener bobo lho!
Iffah memang suka tidur tengkurap, palagi kalo ada guling, pas ti dipeluk...




 

Korban berikutnya adalah Alif! Ga perlu dijelasin lah ya...
hehe...



Last but not least...

Dede Raisha lagi bobo. Mimpi lagi terbang ya de?







NB: Sebenernya juga ada foto bidadara saya (alias si abi tersayang lagi bobo), tapi buat konsumsi pribadi saya ajah yah... ^_^V

Ketemu Neno

Barusan kemaren cerita tentang bukunya, ternyata Allah mempertemukan saya langsung dengan penulisnya. Siang ini saya pertama kalinya menyaksikan semangat Bunda Neno yang luar biasa langsung dengan mata saya. Cara berpakaiannya yang cantik dengan nuansa hijau membuat suasana sejuk meski tak ketinggalan kalimatnya yang berapi-api.

"Smart Parent, Smart Children", begitu tema seminar yang diadakan Keputrian Masjid Shalahuddin KPDJP bekerja sama dengan Sygma Daya Insani. Banyak sekali fakta, ilmu, yang beberapanya membuat saya terperangah. Mengingatkan kembali tentang multiply inteligence, bahwa kecerdasan tidak hanya cerdas mathematics-logic seperti yang selama ini dijunjung tinggi banyak orang tua sehingga 'memaksa' semua anaknya harus 'pintar matematika', padahal ada 8 jenis kecerdasan -seperti yang sudah ditemukan oleh Howard Gardener, yaitu :
1. Kecerdasan lingustik (berbahasa baik lisan maupun tulisan)
2. Kecerdasan logika-matematika (ini yang sering disalahartikan oleh orang tua, dikatakan cerdas kalo dia cerdas yang satu ini, padahal ada banyak kecerdasan)
3. Kecerdasan visual dan spasial (visual = gambar, spasial = berkaitan dengan ruang dan tempat. Cermat akan warna, garis, bentuk, ruang, ukuran, dan hubungan akan elemen-elemen tsb)
4. Kecerdasan musik
5. Kecerdasan intrapersonal (kesadaran dan pengetahuan tentang diri sendiri)
6. Kecerdasan interpersonal (kemampuan untuk mengamati, mengerti maksud, motivasi, dan perasaan orang lain)
7. Kecerdasan kinestetik (keterampilan fisik)
8. Kecerdasan naturalistik (mengenali tanaman, hewan, dan alam semesta)

Bahwa jaman sekarang tidak cukup hanya cerdas, tapi harus tangguh!

Dan setiap adalah unik, tidak boleh disama-samakan (tantangan banget buat saya yang punya anak kembar...)

Bahwa yang menentukan keberhasilan seorang anak adalah KEPRIBADIANNYA. Inilah yang kita -sebagai orang tua, terutama ibu sebagai madrasah pertama- harus bangun bahkan sejak dia dalam kandungan. Memberikan stimulus-stimulus untuk semua jenis kecerdasan sedini mungkin, yang setiap harinya dijanjikan Allah menyambungkan 1,8 juta sambungan per detik untuk 100 juta milyar sel neuron yang ada di dalam otak buah hati kita.

Wow !!!

Betapa berat tantangan mendidik anak di jaman canggih seperti ini... Dengan segala fasilitas dan kemudahan... Apalagi di kota besar seperti Jakarta...

Ya Allah, jadikanlah kami orang tua yang shalih yang mampu mendidik anak-anak kami menjadi anak-anak yang shalih pula...

Khadijah dan Neno

Dua orang yang menjadi inspirasi saya, yang sekarang sedang saya baca bukunya...

Buku pertama, Khadijah, The True Love Story of Muhammad. (Penulis : Abdul Mun'im Muhammad. Penerbit : Pena)

Meski belum selesai membacanya, tapi begitu banyak yang saya 'dapat'kan. Kedewasaannya, kecintaannya kepada Rasulullah SAW juga islam, pengorbanannya, kelemahlembutan sekaligus ketegasannya, ketabahan dan kesabaran, jiwa yang matang tak mudah panik bahkan penenang jiwa suami yang gundah dan takut, ibu yang bijaksana, istri yang sempurna.

Sebenarnya Khadijah sudah melihat tanda-tanda kenabian bahkan sebelum dia menikahi Muhammad. Tapi dia memilih resiko itu, resiko menjadi pendamping seorang yang akan menjadi nabi dan Rasul akhir jaman. Bukan hal yang menyenangkan, tentu saja, karena pasti dibalik amanah besar ada tanggung jawab besar. Tapi Khadijah mengambil kesempatan emas itu dengan segala konsekuensinya.
Dan dia berhasil ! Bahkan malaikat Jibril menitipkan salam padanya dan Allah menjanjikan sebuah rumah dari permata dalam jannahNya.

Buku kedua, Catatan Bunda Neno Warisman : Matahari Odi Bersinar karena Maghfi. (Penulis : Neno Warisman, Panerbit :Sygma Publishing)

Buku ini juga belum selesai saya baca, bahkan baru halaman-halaman pertama. Buku ini berisi kisah-kisah penuh makna dari seorang Bunda Neno tentang anak-anaknya. Begitu menginspirasi, karena begitu tergambar bagaimana perasaan seorang ibu, desah doanya dalam hati saat berinteraksi dengan buah hati dan dalam shalatnya. Juga banyak ilmu parenting alias bagaimana cara mendidik anak dengan sholeh agar bisa menjadi sholeh...

Dialog-dialognya dengan anak-anaknya, juga kisah lainnya, membuat pelajaran yang diberikan tidak berkesan menggurui. Tidak ada poin-poin, atau langkah-langkah yang harus dilakukan, hanya cerita yang mengalir dengan hikmah yang luar biasa dalam.

Banyak sekali ilmu -khususnya parenting- yang saya dapat dari membaca beberapa halaman awal buku ini. Mengingatkan, bahwa menunjukkan kasih sayang itu penting. Bahwa Allah adalah tempat bergantung dan mohon petunjuk dan pertolongan. Bahwa marah adalah hal yang paling wajib dihindari (meski untuk hal ini adalah termasuk kelemahan saya... Tetap berusaha! Semangat!). Bahwa meluangkan waktu untuk anak itu harus dimaksimalkan untuk menjaga kedekatan/keterikatan hati.

Ah, baru dua bab yang saya baca, saya menyadari begitu banyak yang belum saya lakukan untuk anak-anak saya...

Kesimpulan :
Dua buku di atas sangat saya rekomendasikan untuk dibaca, terutama untuk Anda yang sudah menjadi istri dan ibu, dan orang tua...
Selamat membaca...

Ukhti yang luar biasa

Baru kali ini saya dapet temen yang demikian luar biasa (menurut saya).

Sebelum menamatkan S1-nya di UI, dia sudah mengantongi beasiswa S2-nya di Jepang. Lulus S2 Jepang, dia melanjutkan S3 juga di Jepang. Menikah dengan ikhwan yang juga belajar di Jepang (suaminya juga S3 Jepang). Melahirkan anak pertama dan keduanya di Jepang.

Pertengahan tahun ini, dia kembali ke Indonesia. Bergabung dengan lingkaranku. Orangnya sangat ramah dan kelihatan cerdasnya. Memilih tempat tinggal yang dekat dengan sekolah anaknya (yang sudah di-hunting sejak dia masih di Jepang).

Mau tau kegiatan sehari-harinya sekarang? Selain Ibu rumah tangga, dia juga kuliah di 2 tempat, bahasa Arab di Universitas Muhammadiyah Ciputat 5 hari seminggu dan Mahad Al-Hikmah 3 hari seminggu...
Subhanallah... Lebih surprise lagi, saat saya berkunjung ke blog salah satu penulis favorit saya, Helvy Tiana Rosa, saya menemukan foto-fotonya (saat Helvy berkunjung ke Jepang). Ternyata ukhtiku ini menjadi Dosen di salah satu universitas di Jepang, sebelum kepulangannya ke Indonesia...

Subhanallah... Terima kasih telah mempertemukanku dengan ukhtiku ini ya Allah...

( teruntuk saudariku Femina Sagita, selamat bergabung dengan barisan dawah Indonesia...)

Senandung Biduan Jalanan

Sejak si abi kuliah, dari hari senin sampe kamis aku tidak lagi pulang maik motor. Tidak ada cerita kantor, obrolan ringan (maupun berat) sepanjang perjalanan pulang, waktu dimana kami hanya berdua saja (soalnya kalo di rumah ada anak-anak... ^_^)

Well, bukan itu yang mau saya bahas...

Menu wajib kopaja dan metro mini, tidak lain adalah para pengamen. Mengais rejeki dengan mengumandangkan satu atau beberapa nyanyian demi mengharap rupiah dari penumpang yang mungkin lebih beruntung.

Polahnya juga bermacam-macam. Namanya juga jakarta, ide yang ga ada habisnya, demi bertahan hidup. Mulai dari yang suaranya memelas, lembut alias lemes menghiba, nyanyi seadanya dengan perlengkapan gitar, harmonika, plus drum-drum'an, ada yang pake rebana, atau hanya berbekal botol aqua kecil yang di isi beras. Yang agak 'serius' biasanya pake tape + speker + mic sehingga bisa denger musiknya lengkap (kaya' karaoke gitu). Nah, yang terakhir ini biasanya dapet banyak, karena suaranya bagus, ngga ngasal, kadang nyanyi beberapa lagu yang lagi "in"...

Seperti yang kutemui kemaren. Seorang gadis kecil dengan seorang bapak ngamen di bus yang kunaiki. Awalnya ga gitu perhatian. Mukaddimah seperti biasa (selamat siang, bapak2, ibu2, mohon maaf jika kami mengganggu... bla..bla...), terkejut begitu mendengar intro lagunya. Lagunya "Kaulah Segalanya" by Ruth Sahanaya (kebetulan pernah jadi lagu favoritku). Buset, nih orang lagunya boleh juga... Agak ragu dia bisa mencapai nada tinggi di reff-nya ngga ya? Dan ternyata berhasil saudara2... Tanpa kedengeran maksa, dia nyanyinya nyante banget... (udah sering kali ya...)

Masuk ke lagu kedua, langsung tau dari intronya, ni lagunya samson "Kenangan Terindah". Pertama si bapak yang nyanyi dengan suara bass-nya dan dilanjutkan dengan mulus oleh gadis itu pas di reff.

Lagu terakhir, juga enak didenger, salah satu lagu dari Ungu (saya lupa judulnya)... Dilanjutkan dengan mengedarkan kantong plastik untuk mengumpulkan receh demi receh sampai penumpang paling belakang. Kulihat hampir semua tangan mengambil kesempatan memasukkan koin atau seribuan ke dalam kantong si gadis, termasuk tanganku.

Persis saat bus keluar tol, si gadis dan bapaknya sampai di pintu keluar di belakang dan ikut turun untuk menjemput rejeki lagi di bus-bus berikutnya...

Pernah juga suatu kali naik metri mini jurusan blok M-lebak bulus (rute tiap hari) kali ini nyoba yang via pondok indah. Sudah sekian pengamen yang mencoba menyenandungkan lagu pamungkasnya namun hanya lambaian tangan yang di dapat, kalo beruntung kadang plus senyuman. Seorang anak laki-laki lumayan gemuk naik dengan botol berasnya. Awalnya agak suudzon juga sama anak ini karena badannya yang gemuk (artinya menurut saya tidak seharusnya dia minta2, karena gizi terpenuhi... hehe...) Tapi saya langsung terhibur dengan nyanyiannya karena demi Allah suaranya bagus banget. Pantes untuk ikut ajang kompetisi semacam Idola Cilik dan sejenisnya itulah... Lagunya Ungu yang terbaru yang jadi soundtrack "Para Pencari Tuhan" itu (saya lupa judulnya apa) enak banget didengernya, nyanyinya ga ngasal dari awal sampe akhir bagus... Pendengar puas, dan berpindahlah receh demi receh ke kantong dari tangan2 yang tadi hanya memberikan lambaian, termasuk juga tangan saya...

Begitu keras perjuangan mereka yang mengadu nasib di ibukota, demi sesuap nasi harus rela berpanas2 berhujan2 naik turun dari bis satu ke bis lain. Tapi kalo sungguh-sungguh insyaAllah rejeki akan datang...

Sedikit cerita tentang pengamen yang 'bagus'...
Pengamen juga manusia...

I'tikafku

Ramadhan tahun ini kamu sudah i'tikaf?

Untuk para akhawat, i'tikaf mungkin sesuatu yang agak susah dilaksanakan, terutama bagi yang sudah menyandang predikat istri atau ibu. Ya, saya memang sudah 5 tahun tidak lagi pernah i'tikaf di masjid. Tapi saya akan ceritakan tentang i'tikaf pertama saya -mudah-mudahan bukan yang terakhir.

5 tahun yang lalu, (saya lupa ramadhan waktu saya tingkat 3 STAN itu tahun 2003 atau akhir 2002 ya? Kaya'nya akhir 2002 deh...) tahun terakhir saya di STAN. Saya bersama seorang yang sangat saya cintai memutuskan untuk melakukan i'tikaf sebelum pulang ke kampung halaman. Akhirnya kami janjian akan i'tikaf sehari sebelum saya mudik (karena dia sendiri mudiknya ke Tangerang... hehe... -sementara saya ke Payakumbuh).

Siangnya, tak lupa saya memberitahukan kepada panitia i'tikaf masjid Baitul Maal (ah, masjid penuh kenangan... Begitu berkesannya masjid ini bagi saya sampe-sampe saya pernah bercita-cita ingin taa'ruf dan menikah di masjid ini... ^_^) bahwa akan ada 2 akhwat yang akan beri'tikaf malam ini. (mohon maaf jika para pembaca kecewa, ternyata seorang yang saya cintai adalah seorang akhwat juga...)

Malamnya saya pun shalat isya dan tarwih di MBM, kemudian mendengarkan tausiyah penyejuk qalbu dari seorang ustadz, dan dilanjutkan dengan tasmi' Alqur'an (kalo ngga salah, saya lupa). Tiba saatnya untuk istirahat. Dan panitia memutuskan kami akan tidur ruangan sekretariat Keputrian MBM (juga ruangan penuh kenangan ). Karena jendela yang hanya dibatasi kaca sehingga panitia harus menutup kaca-kaca tersebut dengan koran supaya tidak kelihatan dari luar. Kemudian kami pun beristirahat.

Lebih kurang pukul 2.30 dini hari (pasang alarm) kami bangun dan langsung menuju kamar mandi akhwat untuk sikat gigi dan berwudhu (ceritanya mau tahajjud). Kamar mandi akhwat pada saat itu memang kuncinya sedang rusak, sehingga tidak bisa dikunci dari dalam. Namun saya tenang saja karena menyangka tidak akan ada ikhwan yang berani masuk (orang ini kamar mandi akhwat!).

Dugaan saya salah! Sedang asyiknya sikat gigi, tiba-tiba masuk seorang bapak yang -seketika menyadari ada orang di dalamnya- langsung istighfar dan segera menutup pintu lagi dan pergi. Astaghfirullaah... Saat itu jilbab sedang saya buka. Entah bapak itu melihat saya atau tidak, saya juga ngga inget wajah bapak tsb, tapi sumpah serapah langsung keluar dari mulut saya (ngga segitunya sih. Hanya kata-kata kekecewaan, juga malu karena aurat yang -mungkin- kelihatan) 'Gimana sih, ini kan jelas-jelas toilet akhwat. Koq berani-beraninya masuk. Meskipun jarang ada akhwat yang i'tikaf tapi kan... bla...bla...'

Bahkan sampai setelah berwudhu, kekesalan itu masih saja melanda. Omelan-omelan dengan suara rendah masih saja keluar dari bibir saya. Ukhti yang saya cintai yang dari tadi hanya diam saja kemudian berkata kepada saya,

"Udah. Sabar ukhtiy... Jangan rusak malam yang penuh berkah ini dengan kekesalan kecil. Yuk tahajjud..."

Kira-kira begitu kalimatnya. Yang jelas sehabis dia berkata seperti itu, saya tak bisa membendung air mata. Saya pun menangis tersedu-sedu di bahunya...

Ya Allah... mengapa saya begitu naif... Saya tahu pasti bapak itu ngga sengaja. Aurat saya juga belum tentu kelihatan, karena kejadian itu begitu cepatnya, bahkan saya juga ga sempet melihat wajah si bapak yang pasti penuh rasa bersalah...

Malam ini begitu mulia untuk diganggu dengan insiden 'kecil' yang ga penting. Ya, saya sudah merusak malam ini. Saya pun kemudian menebusnya dengan mencoba berlama-lama berkhalwat dengan-Nya.
Begitulah, peristiwa itikaf saya 5 tahun yang lalu yang insyaAllah tak kan terlupakan. Mudah-mudahan suatu saat saya bisa merasakan indahnya malam penuh berkah di ramadhan tahun mendatang. Aamiiin...

 [ Salam sayang untuk ukhtiku Henny di Jember
Kisah cinta bersamamu terlalu indah untuk dilupakan
Miss you sooooo much... ]



Jakarta, Ramadhan 2008

Boleh nikah lagi, dengan syarat...

Lagi ada yang bahas poligami

Well... semenjak belum menikah, saya termasuk golongan pro-poligami.Bukannya saya tidak cemburu, apalagi tidak cinta. Tentu saja saya cemburu sekali jika suami saya punya istri lagi. Dan jangan ditanya besarnya cinta saya kepada suami saya...

Saya pernah bertanya kepada beberapa akhwat (banyak -sekalian saya survey), seandainya suatu saat anti sudah berumur -misalnya- 35 dan belum menikah, tiba-tiba ada seorang ikhwan yang melamar anti, sebagai istri kedua -dengan catatan istri pertama sudah setuju, apakah anti akan menerima?
Semua menjawab "Ya" (bersedia).

Alhamdulillah saya tidak berada pada posisi tsb (soalnya kalo saya berada di posisi itu, belum tentu saya akan mengatakan "ya" ). Tentu saja menjadi istri kedua tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi untuk menjadi istri pertama yang sudah merasakan indahnya hidup berdua, indahnya mencintai suami dan merasakan cinta suami yang penuh kepadanya, tiba-tiba harus berbagi dengan wanita lain... Ah, tentu saja tidak enak...

Tapi entah kenapa saya tidak pernah keberatan, bahkan memikirkan pun tidak. Tahukah dialog hari pertama saya dengan suami? Saya bilang tidak keberatan jika suatu saat abang menikah lagi. Suami bilang : "Belom juga diapa-apain udah mau dipoligami"  Saya : "Justru karena belom diapa-apain makanya bisa bilang ga apa-apa dipoligami."

Ditahun pertama pernikahan, saya pernah bilang,"Abi boleh poligami dengan satu syarat." Suami penasaran, "Emang apa syaratnya?" Saya bilang, "Nanti umi bilang kalo abi bener-bener nikah lagi. Yang jelas bukan 'langkahi dulu mayatku'."
Sampe sekarang suami saya ngga tau apa syaratnya, bahkan setelah saya bilang, "Abi boleh nikah lagi tanpa syarat."

Mau tahu syarat apa yang saya ajukan kemudian saya hilangkan?


Kasih tau ga ya?...


Dulu saya mau mengajukan syarat,

"Asal di syurga nanti hanya umi satu-satunya istri abi."
 hehe...

Tapi kemudian saya tiadakan, karena saya jadi kasihan sama istri kedua (atau istri berikutnya). Lagian saya kan juga bisa mendapatkan bidadara (halah!) ato saya mau sering2 'main' ke istananya Rasulullah aja... hehe... Pasti cintanya selalu ada untuk saya (lha saya kan ummatnya.) Mungkin saya juga dah lupa sama suami saya (saat saya bersama Rasulullah... ) hehe...



Taarufku

Ini tentang taaruf (proses perkenalan saya dan suami sebelum nikah)

So...itu adalah taaruf ku yang pertama dan terakhir. Masih inget waktu pertemuan pekanan di' tembak' sama pembina (waktu semua orang dah pulang), saya cuma jawab insyaAllah. Langsung disuruh bikin biodata (pekan depan kasih saya ya. Jangan lupa cantumin kriteria). Akhirnya saya bikin biodata di Blok M, pas lagi nunggu kopaja (waktu itu kost di Kampung Melayu dan liqo masih di pondok aren). Nulis sambil jongkok dan diliatin orang-orang

Beberapa hari kemudian saya dikasih biodata ikhwannya. Dalam amplop lebar, ada pasfotonya 2 lembar. Pas buka deg-degan. Pas liat fotonya langsung ketawa-ketawa sendiri. (lhaaaaa.... ini thoo?) Tulisannya lumayan juga, rada rapih...

Setelah istiqoroh, trus nelpon murabbi bilang oke lanjut mba...
Aku lupa hari sabtu apa ahad ya, waktu taarufku. Janjian jam 9 pagi. Sengaja dilama-lamain jalannya, biar ga nyampe-nyampe (perasaan waktu itu rasanya maluuuuuuuuu banget...). Jam setengah sepuluh baru nyampe di TKP. Sang ikhwan dah menunggu. Duh, jantung kaya mau melorot, maluuu banget, rasanya pengen pulang ajah... Sama yang punya rumah juga suka ditinggal-tinggal, berhubung istrinya (yang nemenin aku, soalnya murabbi lagi berhalangan ga bisa nemenin... hiks...) lagi mandiin anak bungsunya yang masih bayi...

Akhirnya jam 10-an, forum taarufnya dimulai juga. Diawali dengan taujih dari perantara (tadinya aku kirain itu pembinanya, ternyata temen seliqonya!), trus dilanjutkan dengan tanya-jawab (emang wawancara...).
Aku udah mikirin berhari-hari, kira-kira ntar mau nanya apa ya waktu taaruf? Dan sampe detik itu juga aku blom nemu pertanyaan yang tepat. Mau nanya tentang dia ato keluarganya bisa ntar pasca nikah (kalo jadi). Informasi lain udah ada di biodata. Aku bingung mau nanya apa, soalnya menurutku yang akan ditanyakan adalah hal-hal prinsip yang jawaban dari beliau akan membuatku semakin yakin ato malah menjadi semakin ragu. Dan... tidak satu pertanyaan pun yang muncul.

"Gimana mba, silakan kalo ada pertanyaan", si bapak perantara menawarkan.
"Ga ada pak", sesaat setelah berpikir keras dan mau nanya apa tetep ga nemu. Trus deg-degan, penasaran kira-kira pertanyaan dari ikhwannya apa ya?
 Ternyata eh ternyata, ikhwannya juga ga nanya apa-apa. Ah, ga seru dong... Ho-oh... Akhirnya malah si bapak-e yang nanya-nanya... (sebenernya yang taaruf siapa neh?)

Selanjutnya kita langsung mbahas masalah berikutnya yaitu masalah taaruf keluarga, khitbah, dan nikah + walimah... Dan ikhwannya secara sepihak (sebenernya dengan persetujuan saya siiy...) telah memutuskan waktu pernikahan adalah bulan depan (waduh!)

Pe-er selanjutnya adalah ngomong ke ortu di payakumbuh deh... Gimana menyusun kata-kata biar beliau ga kaget (pasti kaget sih..)

Beberapa hari kemudian aku datang ke rumah calon suami, kenalan sama ortunya. Selang beberapa hari, kami (dengan naik pesawat yang berbeda) pulang ke payakumbuh (padang), untuk kenalan sama ortuku. Plus... khitbah informal (maksut-e dari ikhwan ke papa, ga pake ortu dan tetek bengek lamaran pada umumnya. Khitbah benerannya baru diadain pas H-1)

Begitulah... akhirnya satu bulan kemudian resmilah saya menjadi istrinya...

Dan taaruf itupun berlanjut sampe sekarang...

Cinta dari Ternate

"Rinduku menyapamu
mengharu biru di luasnya jiwa
jarak kita tak tersentuh
tapi ku yakin hati kita menyatu
dan terikat dalam cintaNya..."
Salam perjuangan, semoga Allah selalu memberi kemudahan pada setiap langkah kakimu.
Uhibbuki fillah filladzi ahbabtani...
(22-agust-2008, 5:58 pm)

Demikian bunyi sms dari ukhtiku tersayang yang nun jauh disana.
Kami bertemu di gorontalo. Orangnya manis, lembut, baik, semangatnya -jangan ditanya- luar biasa. Nyaris sempurna. Saya sering bertanya-tanya siapakah laki-laki beruntung yang berani meminangnya. Pasti lelaki luar biasa juga.

Cukup menghebohkan. Bukan ikhwannya yang jatuh cinta pada pandangan pertama atau dicomblangi sang pembina, tapi seorang ustadz besar di Ternate yang langsung 'melamar' kepada pembinanya. Entah dari mana ustadz tersebut mendengar nama akhwat super ini, tapi kelihatannya dari awal pembinanya tidak ada pilihan lain selain mengatakan "ya".

Dan terjadilah pernikahan barokah itu. Dari proses taaruf sampai walimahnya 'dikawal' orang-orang penting, berharap menjadi teladan bagi pasangan-pasangan berikutnya.

Dan bersedihlah gorontalo karena salah seorang mujahidah terdepannya berpindah ladang. Demi memajukan da'wah di Ternate -halmahera selatan pada khususnya- sang mujahidah pun segera berangkat memenuhi panggilan da'wah.

Alhamdulillah, sampai sekarang kami masih sering kontak. (malu rasanya, karena selalu dia yang memulai) Masih teringat hari ulang tahun terakhirku, dialah orang pertama yang mengirimkan doanya (suami aja kalah..)

[ Teruntuk ukhtiku tersayang -Dewi Rosliani- beserta keluarga tercinta
Ana uhibbuki fillah
Ahabbakalladzi ahbabtani lahu...
Semoga Allah mempertemukan kita kembali
dalam halaqoh yang sama
dengan Rasulullah SAW sebagai murabbinya
dalam jannah-Nya kelak...
Aamiiin...]

Perempuanku...

Sore ini, di toilet lantai 4...

"Sini.. sini... jangan gerak-gerak!" seorang gadis berpakaian seragam SMA memegang maskara berhadapan dengan temannya yang dengan pasrah menyerahkan matanya untuk di 'poles'.
 "Ati-ati..." sahutnya.
 "Makanya kamu beli dong!" kata temennya satu lagi yang juga sedang bercermin 'merapikan' diri (alias dandan, yang ini dah ahli keliatannya)
 [Dengan cermin sepenuh dinding memang puas kalo dandan di toilet]

Pikiran saya langsung terbang ke tiga bidadari kecilku di rumah, terutama si kembar...
Ah, mereka memang baru dua tahun lebih, tapi...

Saya memang jarang (hampir ga pernah) dandan, tapi saat oma/neneknya dandan (make lipstik) selalu diliatin dengan seksama. Pernah suatu hari omanya kelupaan masukin lipstik ke kotaknya. Begitu perlu, nyari-nyari, tiba-tiba liat ada yang merah-merah, tau-tau ketemu lipstiknya udah patah dua. Dengan bibir merah-merah tak keruan, si kembar dengan bangga ngeliatin 'hasil karya'nya ke omanya. (soalnya tiap kali minta "mmm...mmm..." sambil nunjuk-nunjuk bibirnya -biar dipakein juga, ga pernah dikasih)

Kali yang lain, pulang kantor seperti biasa disambut dengan teriakannya si kembar,"Aaaaabiiiiiiii.... Umi nana (umi mana?)"
"Tuh!" abi nunjuk saya yang lagi nutup pagar.
"Ummmiiiiiiiiiii...." Si kembar lari dan memeluk saya. Bibirnya merah-merah. Tak tanggung-tanggung, kuku tangan juga kakinya juga merah-merah berantakan. Setelah masuk rumah baru ketahuan yang dipake buat moles bibir dan kukunya, SPIDOL MERAH yang saya belikan untuk menggambar... Masya Allah... :D

[ah... anak umi udah gede  ]

Dalam setiap geraknya ada cinta

Begitu judul tulisannya mba nailalhusna (afwan nyontek mba...)

Menceritakan bagaimana suaminya senantiasa berada disampingnya, melayaninya tatkala sakit. Ah, betapa indahnya... Betapa bahagianya sepasang manusia yang saling mencintai...

Selesai membaca, pikiran saya langsung terbang ke sesosok wajah ganteng milik suami saya (halah).

Hhhhh... selalu ada hela nafas panjang setiap kali mengingatnya. Entah apa yang sudah saya lakukan di masa lalu yang membuat saya begitu beruntung dipertemukan dengan beliau. Kepribadian yang bersahaja, romantis, ga neko-neko, kesabaran yang luar biasa (koq dia 'tahan' ya sama saya...?), dan kasih sayang yang selalu ada untuk saya. Dia juga abi yang luar biasa bagi 3 bidadarinya...

Betapa sering saya merasa telah membuat dia bersedih, kecewa, ga sholelah... Seriiiiing banget! Tapi dia begitu sabar dan selalu memaafkan saya.

Seringkali saya merasa tak sepadan dengan beliau. Seharusnya dia mendapatkan yang jauh lebih baik dari saya. Tapi Allah telah menentukan, sayalah wanita beruntung itu...

Ah, abi... Semoga aku bisa mendampingimu kelak dalam istana penuh bidadari jannah-Nya.

[abi di kantor jangan bersin2 ya...]

Protesnya Abi

Sepertinya saya harus mengoreksi tulisan saya mengenai keromatisan suami saya, terutama setelah beliau mem'protes' tulisan saya berjudul "Sebongkah Rindu Untuk Cinta" (beliau memang selalu saya suruh membaca semua tulisan saya, termasuk mengedit atau mendelete -bila perlu).

Sebenernya bukan keseluruhan tulisan yang dia protes, hanya sebuah kalimat tentang "standar romantis" beliau yang saya beri nilai "tidak terlalu romantis alias lumayan"...  karena menurut beliau, dia sudah romantis (kalo ga bisa dibilang "sangat".)

Setelah saya pikir-pikir lagi... Ternyata suami saya memang romantis, sangat malah... Hanya saja... (ada "hanya"nya) karena tipe (tipe apa ya yang pembagiannya ada -verbal, audio, dan kinestetik-?) kami berbeda, saya jadi agak ngga ngeh...

Saya orang verbal, lebih menghargai bentuk-bentuk kata-kata, tulisan, dan yang semacamnya. Pengennya dikirim puisi cinta atau sms mesra (taela...) Sedangkan suami orang kinestetik, cenderung memberikan "bahasa cinta"nya dalam bentuk perbuatan. Pernah suatu kali saya bikin surat khusus buat dia dalam sebuah momen (saya lupa ultah dia apa ultah pernikahan kami ya?) setelah di baca-komentar satu kalimat-trus kertas suratnya cuma ditaruh-ga diapa-apain. Padahal saya berharap -mbok ya disimpen kek- . Begitu juga sebaliknya. Seringnya saya ngga menangkap 'kalimat-kalimat" cinta yang sedang dilontarkan tidak dalam bentuk kata-kata. (Tidak untuk di ekspose disini , Ntar bapak-bapak pada pengen pulang ke rumah lagi...)

Memang Mars dan Venus kadang beda "bahasa", tapi tetap satu Cinta...

Btw, kalo kamu mengungkapkan bahasa cinta kira-kira tipe yang mana?

[setelah 3 setengah tahun bersama, masih begitu banyak dari dirimu yang misterius...
Maafin umi ya bi... Sebenernya yang ngga romantis itu umi... hehe...]



Jakarta, Oktober 2008

Sebongkah Rindu untuk Cinta

Cintaku sedang jauh di mata, untuk urusan dinas tentunya.

Kangen? Jangan ditanya deh...

Barusan buka DSH Forum Keluarga yang mbahas bahasa cinta (waduh!).

Hmmm... kalo boleh cerita dikit... Suami tidak terlalu romantis, tapi ya 'lumayan'lah.  Sering panggil "sayang", bilang "abi sayaaaaang banget sama umi" juga...  Tapi jangan coba minta bunga, puisi, hadiah, pengalaman kemaren-kemaren sih selalu "in proses" ato "on the way" terus.

Pernah suatu kali aku nyoba ngirim puisi via g-talk (alhamdulillah kalo siang kami tetep bisa komunikasi gratis via g-talk)... Lagi serius-serius nulis -waktu itu ada kata-kata "pangeran"nya... Eeehh, malah di bales,"Pangeran apa nih? Pengeran Kodok apa pangeran apa?" Halah, si abi... Abis itu langsung ngga tak lanjutin puisinya... Dah ilfil duluan... (ngambek mode on )

Ada satu hal yang aku inget sampe sekarang, yang menurutku romantis bintang lima deh...
Aku lupa kejadiannya apa, waktu itu kaya'nya kami mau pisah sementara. Trus suami bilang,"Abi kalo pisah sama anak-anak ngga papa deh, asal jangan pisah sama umi..." kira-kira begitu...

Duuh... terharu sekali mendengarnya waktu itu, palagi dengan mata memelas... (halah)

Ohya, ada satu lagi... waktu itu pernah membahas masalah poligami, si abi mengatakan dengan kesungguhan luar biasa,"Umi jangan pernah tinggalin abi ya..." Sebenernya waktu itu saya luluh banget dengernya, cuma saya jawabnya."Lho bukannya abi yang mo ninggalin umi, kan yang boleh beristri dua kan abi..." (soalnya saya ngga melarangnya jika suatu saat dia ingin membangun istana kedua-nya. Eh... si abi malah takut... hehe... )

Cintaku di seberang sana... tidakkah kau dengar jerit rinduku?

(halah! halah! halah! )

yang tak kusukai dari cinta

Cinta... Yang kebayang pasti yang indah-indah (ya tho?)

Ada satu hal yang tak kusukai dari "Cinta", yaitu khawatir.

Jadi gini... adalah wajar ketika kita mencintai seseorang maka kita akan mengkhawatirkan keadaannya, kesehatannya, khawatir jika dia kenapa-napa, cemas jika sesuatu yang buruk akan terjadi padanya, terutama jika dia berada jauh dari kita.

Ah, tapi aku ngga suka perasaan itu. Sangat ngga enak! Bukan sesuatu yang menyenangkan untuk dirasakan. Palagi untuk orang-orang melankolis seperti diriku (hiks... ) pasti pikirannya kemana-mana. Pulang telat sedikit dan pas ngga ngasi tau, pasti dah uring-uringan. Palagi kalo yang terkasih (taela...) lagi diperjalanan... duh...

Gimana biar tenang?

Titipin aja ama yang 'memiliki'. (lho bukannya yang memiliki itu kita? kekasihnya?)
Ngga dong!

Allahlah yang Maha Memiliki.

Titipkan saja pada Allah yang Maha Mengetahui, Maha Melihat, Maha Berkehendak, dan Maha Berkuasa... Dialah yang Maha Menjaga. Minta saja pada-Nya, insyaAllah tenang. Wong Dia yang memiliki koq, kalo Dia mau ambil ya silakan. Apapun yang terjadi pasti atas ketentuan-Nya. Jadi apapun pastilah merupakan hal yang paling baik untuk kita.


[Ya Allah yang Maha Melihat, jagalah suamiku yang sekarang jauh, Jagalah anak-anakku yang tidak ada bersamaku, Jagalah orang tuaku muliakanlah mereka, dan Ampunilah segala dosa kami. Amin]

Selamat Jalan Mba Bunga

Pukul 3 dini hari telpon genggamku berbunyi, tanda ada pesan masuk. Siapa sih ng-sms jam segini? Mau ngebangunin tahajjud koq pake sms… Iseng banget sih… Penasaran, kuraih juga HP yang sengaja kutaruh persis di sebelah bantalku.
 
“Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un..” Begitu bunyi kalimat teratasnya. Jantungku berdetak kencang. Siapa yang meninggal? Kubaca baris selanjutnya…

“…Telah berpulang ke Rahmatullah kakak kita tercinta, mba Bunga Prihanande. Mohon dibukakan pintu maaf dan mendoakannya agar beliau mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.”
Innalillah… Tubuhku langsung lemas. Kaget, bingung, sedih, entah apalagi perasaan saat itu. Kenapa orang baik selalu cepat berlalu… Rabb-nya tak tahan berpisah lama-lama darinya… Ah, mba Bunga…

Teringat perjumpaan pertama kami, biasa saja, tidak ada yang istimewa. Menjadi penghuni baru di kost-anku dengan posisi kamar persis di depan kamarku. Hingga suatu hari (aku selalu bersyukur jika ingat peristiwa ini) kami bertengkar hebat. Tidak ada teriakan, bentakan, atau saling hujat, hanya muka masam dan bantingan pintu, tapi membuat hati ini sediiih sekali. Aku tak tahu harus berbuat apa. Padahal hanya kesalahpahaman biasa, yang masing-masing merasa ngga salah. 

Setelah beberapa hari tak bertegur sapa (serasa dunia sempit menghimpit) akhirnya kuberanikan diri meminta maaf kepadanya. Masih terbayang jelas dalam ingatanku bagaimana aku menghampirinya yang sedang menonton TV sendirian, tanpa basa basi langsung minta maaf (dengan suara lemah bersiap menerima marahnya atau apapun yang akan terjadi), dan beliau –tanpa menoleh sedikitpun, pandangan tetap ke layar TV- berkata,”Ngga apa2…” Aku lupa lanjutannya. Dengan lunglai aku kembali ke kamar, sepertinya usahaku gagal… Kemudian akupun melanjutkan beres-beres kamar. Sekejap kemudian (aku ingat sekali tak sampai 5 menit dari dialog barusan) tiba-tiba –dengan wajah cerianya yang biasa- menghampiriku ke kamar dan bilang,”Nin, mau lemariku ngga? Aku mau pindah nih, males bawa yang berat-berat.” Alhamudlillah…

Begitulah uniknya beliau. Sejak itu aku jadi deket sama mba Unga (panggilan sayang untuk beliau), sampe suatu hari datang khusus ke kamarku ngajakin ngekost bareng di Pondok Jaya. Jadilah kami satu kost lagi, dan ajakan inilah yang akhirnya menjadi jembatan keikutsertaanku dalam da’wah Pondok Jaya, kampus, dan tarbiyah sampai sekarang. 

Mba Bunga. Sifatnya yang supel dan namanya yang indah –mudah diingat- membuat banyak orang kenal dirinya. Dia bahkan lebih terkenal dibanding anak STAN manapun saat itu, padahal dia sendiri bukan mahasiswa atau alumni STAN. Kakaknya lah yang anak STAN, meskipun akhirnya eksodus (kemudian bekerja di salah satu perusahaan internasional). Mba Bunga sendiri juga sempat beberapa kali menjadi guru privat untuk anak Duta Besar … (aku lupa negara apa aja).

Tapi yang paling dikenang dari sosoknya, selain keramahan dan senyuman yang manis, adalah kepiawaiannya dalam mengolah masakan (karena memang pernah mendapat pendidikan di bidang Tata Boga). Jadinya hampir setiap kajian, rapat, pertemuan-pertemuan, juga kalo jalan-jalan, selalu dimasakin dan dijamin ngga bakalan mengecewakan. Yummy deh pokoknya… (yang pernah nyobain masakannya ga bakalan lupa, terutama ikhwan-akhwat penghuni kompleks Pondok Jaya. 

Pernah dalam sebuah kajian yang kami beri nama “Liqo Ukhuwah” kajian setiap malam Rabu, gabung ikhwan-akhwat, setelah dimasakin mba Unga semua makanan dibawa ke masjid Uswatun Hasanah oleh beberapa orang ikhwan. Sampai acara selesai, akhwat ga kebagian bahkan satu biji makanan pun! MasyaAllah… padahal kita yang masak… Mana tadi ga sempet nyicip lagi… hehe…)

Beliau juga yang pusing tujuh keliling mikirin rumah yang bisa dijadikan basecamp akhwat Pondok Jaya, Ngurus sana sini sampe nalangin dulu uang kontrakan demi keberlangsungan da’wah akhwat –khususnya- di kompleks Pondok Jaya. Terakhir ku dengar da’wah di sana mandeg, ga ada lagi markas akhwat. Wallahu a’lam…

Masih ku ingat betapa marahnya dia saat berita tentang akan menikahnya aku didengar dari mulut orang lain, bukan dari mulutku sendiri. Ah… Maafkan aku mba…

Juga masih kuingat betapa kagetnya aku saat membaca namanya tercantum sebagai istri seorang penulis muda berbakat di majalah Annida. Subhanallah…

Memang sejak berpisah saat lulus kuliah, komunikasi kami jadi terputus. Saat aku pindah ke Gorontalo, pun saat kembali ke Jakarta, tak sempat memberi kabar. Seringkali ingin silaturahim ke rumahnya yang di Graha Bunga Bintaro, tapi tetap tak sempat bertemu muka, bahkan untuk say hello via telpon. Ah…

Sampai akhirnya berita duka itu kuterima. Tak lagi sempat melihat wajah cantiknya untuk yang terakhir kalinya. Kata seorang teman yang kutanya penyebab kematiannya, karena mba Unga sudah 2 kali hamil di luar kandungan, yang ternyata menyebabkan gangguan di otak. Hari itu dilaksanakan operasi yang menjadi saat terakhirnya di dunia ini. Ingin ku susul ke Rumah Sakit Internasional Bintaro tempat beliau dioperasi, tapi kata temanku jenazahnya sudah dalam perjalanan ke Padeglang, kampung halamannya. 

Teriring doa untuk mba Unga tersayang, Semoga mba Unga mendapatkan kebahagiaan di sisi Rabb-nya, diampuni dosanya, diterima amalan-amalannya, mendapat tempat yang sebaik-baiknya. Aamiiin…

Ahlan wa Sahlan ya Rumaisha!

3 bulan sudah usia mujahidah ketigaku. Sekarang bidadariku sudah bisa tertawa, sudah bisa diajak ngobrol juga. 

10 April 2008.
Beberapa hari yang lalu perutku sempet mules, rasanya sakit sekali, persis seperti mau melahirkan. Awalnya panik, tapi segera kuatur napas, tenangkan pikiran. Tak sampai 5 menit sakit berkurang, kemudian hilang. Kutunggu berjam-jam kemudian tidak sakit lagi. Ternyata his (kontraksi) palsu –mungkin karena barusan aku nyuci baju tanpa mesin cuci.

Hari ini seharian di celana ada noda coklat (dulu waktu Iffah-Alif ga kaya’ gitu. Belakangan baru tau kalo ternyata itu memang tanda-tanda mau melahirkan). Jam setengah 9 sehabis makan malam bareng suami, terasa seperti pecah ketuban. Langsung kuberitahu si abi. Untungnya pecah ketubannya ngga langsung banyak. Aku langsung ganti baju, trus tiduran supaya air ketubannya tidak keluar, sementara abi beres-beres (barang-barang yang harus dibawa ke RS). 

Sekitar jam setengah 10 kami sampai di RS. Setelah itu perawat yang ada di ruang bersalin menyuruhku duduk di tempat tidur. Sempat menunggu agak lama –dengan baju basah penuh air ketuban- barulah aku dibawa ke ruang USG, setelah sebelumnya ditanyai dan diambil darahnya oleh perawat dan dokter yang sedang co-ass. Alhamdulillah dokter jaganya perempuan, orangnya cantik, lembut,  dan ramah sekali. Katanya bayinya masih sehat, air ketubannya masih bening dan masih cukup banyak. Setelah itu dipasangkan alat (aku lupa namanya) untuk mendengarkan denyut jantung dan pergerakan janinku (yang hasil print-annya seperti pencatat gempa alis seismograf). 

Ada hal lucu waktu itu. Jadi waktu pengambilan darah pertama kali oleh seorang dokter co-ass, ternyata darah yang dibutuhkan kurang. Akhirnya –setelah meminta maaf- darahku diambil lagi oleh temannya sesama co-ass di tempat yang berbeda. Dengan pasrah kuberikan tanganku untuk disuntik sekali lagi. Kejadian terulang lagi saat pencatatan denyut jantung memakai alat seperti seismograf tadi. Setelah semua selesai, ternyata sang dokter bilang bahwa waktunya kurang, harus ditambah 5 menit lagi. Akhirnya dengan menyesal si calon dokter ini –bukan co-ass yang tadi- memasangkan alat tsb lagi ke perutku. Ya, memang begitu resiko kalo menggunakan jasa RS yang bekerja sama dengan institusi pendidikan, pasti penuh dengan ‘calon-calon’ perawat dan dokter yang sedang co-ass yang tentunya tidak sepengalaman perawat/dokter aslinya.

Setelah semua pemeriksaan awal selesai, akhirnya aku di suruh masuk ke ruang bersalin, dan ganti baju yang basah penuh ari ketuban. Dokternya bilang udah bukaan 2. Belum terasa sakit waktu itu…

 11 April 2008
Jam 12-an kontraksinya mulai terasa.
Jam 1-an perutku mules sekitar 15-10 menit sekali (waduh, kaya’nya diinduksi nih…) Si abi selalu ada di sisi, nemenin ngobrol, nyuapin makan apa yang bisa dimakan (persiapan tenaga buat lahiran), menyerahkan dengan pasrah tangannya untuk diremas (dengan kuat sampe sakit) kalo kontraksinya mulai lagi…

Jam 2-an, kaya’nya udah 5 menit sekali. Baru ngatur nafas bentar udah kontraksi lagi. MasyaAllah… Sholeh sudah ngga sabar pengen ngeliat umminya. “Ya Allah, aku ridho atas sakit ini, asal Engkau ridho padaku ya Allah… Ampuni segala dosaku ya Allah…”

Jam 3, susternya meriksa karena aku sudah tak tahan lagi. Ku tahan sakit dengan menangis. “Sudah bukaan 7”, kata susternya. “Mungkin 2 atau 3 jam lagi keluar.” 2-3 jam lagi? Sakit sekali ya Allah… Ku kuatkan diriku. 

3.15, tak tahan sakitnya aku menangis. Kupegang tiang penopang botol infus sekuat-kuatnya. Terdengar suara ‘byur’ seperti kantong plastik penuh air pecah jatuh di lantai. Ya Allah… air ketuban sudah pecah. Segera si Abi memanggil suster dan dokter jaga. 

3.30, adiknya si kembar lahir. Hanya dengan 3-4 kali mengejan si dede keluar dengan tangis pertamanya. Setelah di potong ari-arinya dan dibersihkan cairan yang ada di mulut dan hidungnya, si dede langsung di tengkurapkan di dadaku. Biar nyari ASI sendiri, kata susternya. Masih berlumur ari ketuban si dede udah langsung mimik ASI. Beberapa saat kemudian barulah bayiku di bawa untuk dimandikan dan ditimbang, juga dinilai APGARnya  (Alhamdulillah nilainya 9/10)

Tidak seperti waktu lahiran si kembar dimana rahimku langsung bersih, sekarang rahimku masih banyak darahnya. Bahkan sampai jam 6 pagi, suster dan dokternya masih membersihkan rahimku yang darahnya belum keluar semua. Sakit sekali waktu dokternya ‘mengorek-ngorek’ rahimku. Tidak bisa langsung istirahat, padahal rasanya udah capeeek sekali…

Pagi-pagi akhirnya dokter bilang udah ngga ada perdarahan. Alhamdulillah…
Badan rasanya capeeeek sekali. Kucoba untuk tidur, kupejamkan mata, tapi ngga bisa. Terlalu capek. 

Si abi pulang buat ngambil perlengkapan bayi yang kemaren belum sempat dibawa. Suntuk, kemudian ku telpon adikku di Payakumbuh, nyari temen buat ngobrol…
Bahagia, senang, capek, excited, beban (amanah), takut, khawatir, semua perasaan campur aduk.

Setelah bertemu dengannya untuk yang kedua kalinya (ah… ummi udah kangen sekali nak…) dan menggendongnya untuk pertama kalinya, alhamdulillah dia cantik sekali, sehat (gemuk sekali karena beratnya 4 kg!), dan sempurna (lengkap fisik dan panca indranya).

Kami beri namanya RUMAISHA HANIFAH FIRMANSYAH.


Jakarta, Juli 2008

Malam-malam Penuh Cinta

Mengenang tarbiyah berarti mengenang teman-teman akhwat satu liqo waktu di kampus.

Waktu itu kami satu kelompok cuma 5 orang. Untuk mengeratkan ukhuwah -ceritanya ta'aruf lebih 'dalam'- kami biasa nginep (ato bahasa kerennya 'mabit') di kost-an salah seorang dari kami. Satu kali nginep berarti satu episode. Episode A berarti malam itu akan kami habiskan untuk mengenal lebih dalam tentang A. Tentang dirinya, kesukaannya, juga yang tak disukainya, sifatnya, karakternya, keluarganya, juga bagaimana cara menegurnya, pokoknya semua tentang dirinya.

Biasanya kami janjian sekitar jam 8-an. Selesainya? Jangan ditanya... Kadang jam 2 atau jam 3 pagi. Padahal kami juga punya jadwal qiyamullail alias shalat malam bersama. Jadinya shalat malamnya kadang suka mepet-mepet subuh... Kadang malah kebablasan... hehe...

Hampir tiap pekan kami menghabiskan minimal satu malam bersama-sama. Biasanya kami membahas permasalahan tarbiyah kampus. Kadang agenda lain. Kalo situasi mendesak bisa 2 kali seminggu.
Seringnya interaksi menjadikan kami begitu dekat satu sama lain. Kalo ada yang lagi punya masalah, biasanya kami selesaikan bersama-sama. Tak jarang juga timbul konflik... Ya, namanya manusia. Kerja bareng pasti ngga rukun terus. Biasanya kami 'menyelesaikannya' juga dengan pertemuan malam kami. Aku ingat beberapa kali pertemuan kami habiskan dengan derai air mata dan pelukan.

Ah... betapa aku merindukan malam-malam penuh cinta itu...

Betapa aku merindukan kamar kost kecil berukuran 2,5 x 3 meter, markas kami, tempat kami berlima tidur (selalu) dalam kondisi letih, tugas kuliah menumpuk, agenda-agenda da'wah yang tak henti-henti, tapi bersama mereka yang punya semangat luar biasa aku selalu senang menjalani hari-hari sibuk itu...

Subhanallah... Senang sekali diberi kesempatan merasakan ukhuwah, cinta yang begitu indah dari saudara seiman yang sama-sama mencintai da'wah ini. Semoga Allah berkenan mempertemukan kami kembali untuk melanjutkan ukhuwah ini dalam jannah-Nya kelak... Amiiin...

Dedicated to : Henny di Jember, Baby di Medan, Ayu dan Hanik di Depok. Kangen berat sama kalian...

Awal Tarbiyahku

Pertama kali berkenalan dengan tarbiyah tahun 2000, waktu aku masuk STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara). Dulu namanya mentoring. Aku masih ingat mentor pertamaku namanya Mba Ita, mahasiswi tingkat III. Temen-teman satu kelompok juga mahasiswi baru semua satu angkatan.

Agak lupa-lupa ingat waktu itu membahas tentang apa saja, tapi yang jelas banyak ilmu tentang islam yang tadinya hanya 'teori' belaka mulai kucoba untuk mengerjakannya. Misalnya menutup aurat. Sekitar bulan ketiga kuliah kuputuskan untuk memakai pakaian taqwa alias jilbab. Terdorong pertanyaan 'sambil lalu' dari kakak kelas satu kost,"Koq belum pake jilbab?" Terus terang bingung mau jawab apa. Aku tidak bisa menemukan alasan apapun yang menyebabkan aku belum memutuskan untuk menutup auratku. Jadilah aku akhirnya menelepon orang tua di Payakumbuh yang dengan senang hati mengijinkan (dengan tambahan syarat : jangan buka-buka lagi).

Aku selalu menyempatkan datang di setiap pertemuan mentoringku. Mungkin memang dasar ngga betah diam di rumah, aku mengikuti banyak kegiatan (ekskul) kampus. Mulai dari english club, computer club, capital market club, termasuk juga mentoring ini, dan akhirnya Keputrian Masjid (karena diajak kakak kelas juga) saat semester II.

Jadi pengurus Keputrian masjid kampus inilah awal perkenalan pertamaku dengan da'wah. Mulai dari nge-set acara kajian, bikin pamflet untuk publikasi acara, mengundang pembicara, deg-degan menunggu peserta yang datang (banyak apa engga), pesertanya antusias apa engga, nyiapin konsumsi & peralatan, dll. Membahas da'wah di kampus, gimana supaya kampus menjadi lebih islami, khususnya para muslimahnya, menjadi suatu yang baru tapi aku senang sekali melakukannya. Senang bisa memberikan kontribusi -meskipun kecil- untuk da'wah.

Tarbiyah juga memperkenalkanku dengan ukhuwah. Awalnya kepada teman-teman satu kelompok mentoring. Pertemuan-pertemuan pertama kami habiskan untuk menjadi semakin dekat satu sama lain dengan Ta'aruf. Kemudian yang lebih terasa lagi, ukhuwah dengan teman-teman sesama pengurus Keputrian. Saat kerja bareng dan seringnya interaksi menjadikan keterikatan hati kami menjadi semakin erat.
Alhamdulillah... Allah berkenan memasukkan aku ke dalam gerbong da'wah, berukhuwah dengan orang-orang yang ada di dalamnya, sungguh keni'matan yang tiada terkira.

Semoga aku dapat berukhuwah kembali dengan mereka dalam jannah-Nya kelak. Aamiin...